Sunday, June 16, 2019

Sinopsis K- Drama : Angel’s Last Mission Love Episode 14 - part 3

0 comments
Sinopsis Angel’s Last Mission : Love  Episode 14 – Part 3
Network : KBS2

***
Yeon Seo berlari memakai payung. Dia menghampiri anak Pria yang sedang kehujanan, dan berdiri ditepi tebing sambil mengulurkan satu kakinya ke arah laut.
“Hei, kau! Hati- hati!” teriak Yeon Seo.


Mendengar teriakan itu, si anak Pria merasa terkejut, dan tanpa sengaja dia malah kehilangan keseimbangan nya dan hampir saja jatuh ke dalam laut. Tapi untungnya, Yeon Seo sempat menariknya dan menyelamatkannya, sehingga dia pun tidak terjatuh ke dalam laut.
Hujan telah berhenti. Yeon Seo bersama anak Pria itu berjalan ke arah taman bunga. Yeon Seo menanyakan, apakah anak itu baik- baik saja. Dan si anak Pria tersebut mengangguk mengiyakan.

“Aku Yeon Seo. Lee Yeon Seo. Kamu?”
“Aku…”
***
Kim Dan terbangun dengan kaget. “Mimpi lagi? Apa ini?” gumamnya dengan heran. Lalu dia pun turun dari atas tempat tidurnya.
Dini hari. Kim Dan berlari ke gereja untuk mencari Hoo. Lalu ketika telah ketemu, ternyata Hoo sedang berdoa, dan tidak mau di ganggu dulu.

Jadi karena merasa tidak sabaran menunggu Hoo yang sedang berdoa, maka Kim Dan pun bergerak dengan gelisah didalam ruangan. Menyadari hal itu, Hoo pun merasa kesal, dan bertanya ada apa dengan Kim Dan.
“Bisakah manusia menjadi malaikat?” tanya Kim Dan langsung. “Maksudku, mereka mungkin manusia dan mereka mungkin mati, kan? Jadi apa jiwa mereka bisa menjadi malaikat?” tanya Kim Dan dengan bingung.

“Kenapa kamu tiba2 ingin tahu soal rahasia dunia?” balas Hoo, bertanya.
Kim Dan menjelaskan mengenai anak Pria yang terus dimimpikannya akhir2 ini. Tapi anehnya, dia tidak pernah melihat anak Pria itu, atau bahkan melihatnya didalam foto. Jadi intinya dia tidak mengenal anak Pria itu. Lalu siapa anak Pria tersebut, itulah yang menjadi pertanyaan Kim Dan.

“Oh, Tuhan. Tubuh ini punya cacat serius,” jelas Hoo sambil memperhatikan tubuh manusia Kim Dan. “Kamu mulai memimpikan apa yang kamu harapkan.”
“Apa yang aku harapkan?” tanya Kim Dan, tidak mengerti.

“Ketika manusia memiliki keinginan, mereka mulai merenungkannya berulang- ulang. Kemudian sel2 otak mereka mulai bingung. Apa ini masa depan? Masa lalu? Atau hanya harapan mereka? Itu hanya efek samping. Lupakan saja,” jelas Hoo.
“Lalu, apa aku ingin jadi manusia? Apa itu pernah terjadi? Malaikat jadi manusia?” tanya Kim Dan dengan polos. Dan mendengar itu, Hoo langsung melotot lebar, lalu memukuli kepalanya.
Kim Dan berteriak mengeluh, kenapa Hoo memukul kepalanya. Dan dengan ekspresi serius, Hoo menyuruh Kim Dan untuk mengikutinya.

Hoo membawa Kim Dan ke panti. Dan disana ketika Kim Dan bertemu dengan Mi Ok serta suaminya, Kim Dan pun langsung melambaikan tangan kepada mereka dan menyapa mereka berdua.
Tapi anehnya, suami Mi Ok malah tampak seperti ketakutan. “Tidak, kita harus pergi. Ayo pergi. Kita harus pergi. Kita harus pergi!” kata si suami, dia membawa Mi Ok bersama dengannya.

Melihat itu, Kim Dan merasa bingung. Tapi dia diam, dan mengikuti Hoo yang berjalan mengikuti mereka berdua.
Dipadang rumput yang luas. Disana Suami Mi Ok terpojokan, karena dia tidak bisa kabur kemanapun. Dan Hoo menghampirinya, Hoo memanggilnya dengan sebutan ‘Malaikat Noel’, dan Hoo berkata agar Noel menerima penghakimannya.
Mendengar itu, Kim Dan merasa sedikit kaget. “Malaikat?”

Mi Ok melindungin suaminya, “Selamatkan hidupnya. Kumohon,” pintanya dengan sikap takut- takut pada Hoo yang tidak bisa dilihatnya.
“Dasar bodoh.”

“Aku tidak peduli jika aku menghilang seperti ini. Tapi tolong biarkan dia hidup,” pinta Noel dengan tegas.
“Kematian bukan hukuman. Beraninya seorang malaikat menolak membawanya ke surga, dan membicarakan soal kehidupan dan kematian manusia?” balas Hoo, lalu dia mengulurkan tangannya. Dan menggunakan kekuatannya, dia menarik Noel mendekat dan berlutut di dekatnya.

Merasakan itu, Mi Ok mengulurkan tangannya, dan menanyakan dengan cemas dimana Noel berada. “Dimana kamu? Dimana kamu?”
“Lalu… setidaknya biarkan aku berpamitan untuk terakhir kali. Ini akan memakan waktu satu menit,” pinta Noel. Dan Hoo pun mengangguk, lalu melepaskannya.

Noel mendekati Mi Ok dan memeluknya. Merasakan itu Mi Ok langsung memeluk Noel dengan erat, dan menangis memohon agar Noel jangan pergi meninggalkannya. Dan Noel pun menjawab bahwa dia telah disini untuk waktu yang lama, dan dia senang bertemu dengan Mi Ok, dia tidak akan melupakan Mi Ok.
Satu menit telah berlalu. Dan Hoo berjalan mendekati mereka berdua. Melihat itu, Kim Dan segera maju dan menghalanginnya. “Sedikit lagi. Beri mereka waktu sedikit lagi,” pinta Kim Dan. Tapi Hoo tidak mau, dan mendorongnya menjauh menggunakan kekuatannya.

Noel menutup matanya, dia tampak sudah pasrah menerima kematiannya. Dan Hoo mengulurkan tangannya, lalu secara perlahan Noel berubah menjadi debu dan asap. Noel menghilang dari sana untuk selama- lamanya.
Sapu tangan Noel terjatuh ditanah. Dan disapu tangan tersebut, gambar bulu yang awalnya berwarna biru berubah menjadi hitam seperti terbakar.
Kim Dan terkejut melihat kejadian itu.
Hoo berjalan mendekati Kim Dan. “Jika kamu tidak mau mendengarkan kataku, aku harus menunjuk kan kepadamu. Dasar bodoh, aku harap kamu akan tercerahkan,” jelas Hoo, lalu dia menghilang darisana.

Kim Dan diam memperhatikan Mi Ok yang menangis meraung- raung karena kehilangan suaminya, Noel. Dan semakin lama Kim Dan memperhatikannya, dia mulai membayangkan seandainya Yeon Seo yang berada diposisi Mi Ok, dan kehilangan orang yang dicintainya.
Setelah menangis agak lama, Mi Ok pun kehilangan kekuatannya. Dia pingsan tidak sadarkan diri. Dan melihat itu, Kim Dan langsung berlari menghampirinya.

Kim Dan membawa Mi Ok ke rumah sakit. Dan disana, ketika Kim Dan melihat sapu tangan milik Noel yang dipegang oleh Mi Ok. Dia menggeleng- gelengkan kepalanya, dia menolak mempercayai apa yang barusan dilihatnya.

Kim Dan berlari pulang. Dia terus mengingat bayangan seandainya Yeon Seo yang berada diposisi Mi Ok. Dia tidak ingin Yeon Seo terluka dan menderita seperti itu.

“Kamu sudah pulang. Mari sarapan. Lebih enak dari kemarin,” kata Yeon Seo dengan ramah, ketika Kim Dan pulang. “Kamu keluar sepagi ini untuk olahraga? Kamu mau air?” tanya Yeon Seo, saat menyadari Kim Dan tampak habis berlari.
“Nona. Ada sesuatu yang ingin kukatakan. Ini sangat penting,” sela Kim Dan dengan raut wajah serius.
“Apa?”

“Aku ingin berhenti dari pekerjaanku. Aku ingin pindah dari rumah ini.”
Mendengar itu, Yeon Seo tampak sangat terkejut.

No comments:

Post a Comment