Friday, June 21, 2019

Sinopsis K- Drama : Angel’s Last Mission Love Episode 17 - part 1

0 comments

Sinopsis Angel’s Last Mission : Love  Episode 17 – Part 1
Network : KBS2

Kim Dan : Aku ingin tetap bersamanya. Terlebih lagi, karena kini aku meninggalkan dia. Jika ada satu alasan untuk aku tetap disini, maka kumohon, bantulah aku mencarinya. Aku tidak peduli ke arah mana jalan itu menuntunku. Aku bersedia menempuh jalan itu.”

Kang Woo memarahi Yeon Seo yang bilang akan menunjukan ‘Giselle’ yang bagus. Tapi Yeon Seo malah menyimpang. Dan Yeon Seo membalas bahwa dia hanya mengikuti hatinya, karena ada orang yang tidak bisa di bencinya meskipun dia berusaha keras untuk membenci mereka.

 “Ini masih tentang Kim Dan? Dia masalahnya? Kendalikan dirimu! Aku juga pernah putus cinta. Aku harus berpisah dengan orang yang kusayangin, dan pernah menggila. Semua emosi yang kamu rasakan saat ini bukanlah hal yang istimewa,” jelas Kang Woo, menegur Yeon Seo.

“Maka, kamu pasti memahami ini. Aku yakin ini benar. Meski marah dan membenci dia, pada akhirnya aku merindukan dia. Itulah sebabnya aku sedih,” balas Yeon Seo.

Kang Woo berteriak, menurutnya kesedihan tidak akan menyelesaikan apapun. Seandainya Giselle dan Albrecht sungguh jatuh cinta, seharusnya mereka akhirnya mati bersama.
“Pasti dia. Orang yang dimakamkan di kuil. Sang balerina,” tebak Yeon Seo.
“Tidak perlu membahas itu. Itu tidak berkaitan dengan pertunjukan. Kumohon, jangan mengecewakan ku lagi,” balas Kang Woo. Lalu dia pergi.
Yeon Seo masuk ke dalam kamar Kim Dan. Dia mengelus tempat tidur kecil yang tiduri oleh Kim Dan. Lalu dia mengeluarkan hapenya, dan menghubungin Kim Dan. Tapi dia malah mendengar suara hape Kim Dan di dalam kamar.

Ternyata hape Kim Dan ditinggalkan didalam laci meja. Dan didalam hape itu, kontak milik Yeon Seo diberikan nama ‘Berisik’ oleh Kim Dan. Melihat itu, Yeon Seo teringat mengenai perkataan Kim Dan dulu yang memanggilnya berisik.
“Hei, berisik. Sekarang kamu bebas. Mulailah menari dan luapkan rasa amarahmu.”
“Berani sekali kamu menyimpan namaku sebagai ‘Berisik’?” gumam Yeon Seo dengan pelan, mengeluh. Lalu dia teringat tentang Kim Dan lagi.

“Fokuslah padaku. Anggaplah didunia ini hanya ada kita berdua. Setuju?”
Ketika Kim Dan mengatakan hal itu kepadanya dulu. Yeon Seo merasa bahwa dia seperti sedang berada di kebun bunga yang sangat luas. Dan Yeon Seo teringat tentang kenangan masa kecilnya.

“Hidungmu beringus,” kata Seong Woo dari belakang sambil tersenyum.

Yeon Seo terbangun dari tidurnya. Dan merasa heran kenapa dia bisa memimpikan itu.

Ny. Jung berjalan- jalan dihalaman sambil mengeluh, karena dia kesulitan tidur setiap kali berada ditempat yang berbeda, sehingga dia ingin sekali pulang.
Kemudian tanpa sengaja, disaat itu Ny. Jung melihat lampu ruangan latihan Yeon Seo yang masih menyala. “Bukankah ini terlalu larut?” gumamnya, heran.
Ny. Jung masuk ke dalam ruangan, dan dia merasa sangat terkejut saat melihat Yeon Seo sedang bersih- bersih ruangan. “Sekretaris itu berhenti atas keinginannya. Dan perasaan Sang Boss sangat terguncang. Oh, hidupku yang malang,” kata Ny. Jung merasa sangat lelah.

Ny. Jung kemudian menghampiri Yeon Seo, dan mempertanyakan kenapa Yeon Seo mengacaukan ruangan, kepadahal sudah ada orang yang membersihkannya setiap pagi dan malam. Dan dengan nada datar, Yeon Seo menyuruh Ny. Jung untuk kembali tidur saja, karena dia bisa mengatasi semuanya sendiri.

“Kamu memimpikan pria yang namanya tidak boleh disebut?” tanya Ny. Jung, menebak. Dan mendengar itu, Yeon Seo langsung berhenti. “Sulit kupercaya. Kupikir kamu baik2 saja selama beberapa hari,” keluh Ny. Jung. Dia merebut alat penyedot debu yang dipegang oleh Yeon Seo.
“Aku memang bermimpi, tapi ini bukan seperti itu,” balas Yeon Seo sambil melipat matras2 yang berserakan.
“Bersihkan lagi. Hingga semua debu dan penyesalanmu hilang, gunakan pengisap ini sepuasmu,” kata Ny. Jung. Dia mengembalikan alat penyedot debu yang direbutnya.
Tapi Yeon Seo tidak mau memegang alat itu, dan dengan kesal dia membalas bahwa bukan seperti itu. Lalu dia duduk dan bercerita.
“Aku memimpikan masa kecilku.”
“Masa kecil? Kapan? Kenapa?”

“Entahlah. Kenapa dia muncul dalam mimpiku? Aku sudah lupa soal dia.”
“Mungkin karena kamu kesulitan. Tidak ada yang bisa kamu andalkan,” gumam Ny. Jung. Lalu dia menepuk tangannya. “Kamu harus mencari udara segar. Kenanglah masa lalu yang indah. Jika memungkinkan, temui juga teman lama mu.”
“Audisinya sebentar lagi,” balas Yeon Seo, tidak mau.
“Itulah sebabnya kamu harus segera sadar.”
“Siapa yang tidak sadar?!” kata Yeon Seo, sedikit berteriak.
Dengan geram Ny. Jung mempertanyakan bagaimana bisa Yeon Seo berbicara seperti itu, kepadalah Yeon Seo menyiksa diri sendiri selarut ini. Lalu dia menjelaskan bahwa siapa tahu jika Yeon Seo pergi ke sana, mungkin saja secara ajaib Yeon Seo akan bisa menemukan solusi disana.
Mendengar itu, Yeon Seo pun berpikir.
Kang Woo menghubungin Yeon Seo, dan menanyakan dimana dia. Dan Yeon Seo pun menjawab bahwa dia sudah menelpon kantor, karena dia akan libur hari ini.
“Dimana kamu? Mari bicara. Aku akan menjelaskan semuanya. Soal alasan cerita itu harus tragedi, dan alasan harus kamu orangnya,” jelas Kang Woo.
“Aku berharapa bisa punya mimpi yang sama denganmu. Tapi, kamu paham. Kita tidak bisa memaksakannya. Aku akan memulai dari awal. Jadi pertimbangkan kembali tentang tarian ku,” balas Yeon Seo.
Kang Woo bertanya lagi dimana Yeon Seo, karena dia akan menyusul kesana. Tapi Yeon Seo tidak mau memberitahu, dan dia menutup telponnya.

Kang Woo menghela nafas kesal, lalu dia mau masuk kembali ke dalam gedung. Namun tiba- tiba Elena datang dan menghalanginnya terus. Jadi Kang Woo pun memberitahu bahwa dia akan melewati jalan sebelah sini agar Elena tidak menghalanginnya. Lalu dia berjalan pergi menjauhi Elena.

“Jalan yang membuatmu tampak menyedihkan? Maka, wanitamu akan melarikan diri. Dia akan merasa risi,” kata Elena, memulai pembicaraan. Tapi Kang Woo mengabaikannya.
“Kupikir kamu sangat bertekad, ternyata sebenarnya kamu ragu- ragu. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku membakar semuanya, atau menenggelamkan semuanya?” tanya Elena dengan sinis. Dan mendengar itu, Kang Woo pun mendekatinya.

“Siapa kamu? Darimana asalmu?” tanya Kang Woo sambil menatap tajam Elena.
“Kamu mudah marah,” jawab Elena sambil tersenyum.
“Hei, kamu mengenalku? Kamu tidak boleh asal mengajak bertengkar. Sadarlah,” kata Kang Woo dengan kesal. Dan Elena berjalan pergi mengabaikannya.
“Aku kemari untuk mencari tahu. Sia- sia dia merasa cemas,” gumam Elena.

Saat melihat Yeon Seo ada dihadapannya. Kim Dan menjatuhkan kertas gambar yang dipegang nya. Dikertas itu ada gambar Yeon Seo yang sedang menari, dan Seong Woo yang menontonnya menari, serta ada sebuah pelangi, dan tulisan ‘Lee Yeon Seo <3 Yoo Seong Woo.”
Kim Dan serta Yeon Seo sama- sama berjalan perlahan mendekati satu sama lain. Dan saling menatap juga.

“Kenapa kamu ada disini?” tanya Yeon Seo, heran.
“Aku ingin mencari sesuatu. Jadi, aku berdoa. Aku ingin tahu alasannya. Lalu, aku menyadarinya. Hal itu menyakitkan bagiku,” jawab Kim Dan dengan gugup.

Yeon Seo tidak mengerti dengan maksud Kim Dan, dan bertanya. Namun karena sulit untuk menjelaskan maka Kim Dan pun tidak menjawab. Dan Yeon Seo pun menjadi salah paham, sepertinya dia mengira Kim Dan tidak mau bercerita. Jadi dia menyuruh Kim Dan untuk tidak perlu menjelaskan, lalu dia berjalan pergi melewati Kim Dan, dan dia menyuruh agar Kim Dan jangan mengikutinya.
Dengan perasaan gundah, Kim Dan pun menatap Yeon Seo yang berjalan pergi.

Setelah berjalan agak jauh, Yeon Seo berhenti dan melihat ke belakang. “Dia benar- benar tidak mengikutiku?” gumam Yeon Seo. Dia tampak kecewa serta sedih.
“Baiklah. Aku juga tidak mengenal mu. Kita orang asing,” gumam Yeon Seo dengan kesal. Lalu dia lanjut berjalan.

Kim Dan memungut kertas gambarnya.

Yeon Seo menghampiri seorang Bibi yang dilihatnya. Dia menanyakan kepadanya dimana rumah berpagar biru, karena dia sudah lama tidak ke sini. Jadi dia sudah lupa jalannya.
Tapi bukannya menjawab, Bibi tersebut malah bertanya apakah Yeon Seo seorang selebritis karena wajah Yeon Seo tampak familiar. Dan Yeon Seo pun menjelaskan bahwa dia seorang balerina, dan dia pernah datang ke sini.
“Ah, kamu berkunjung beberapa tahun lalu. Kamu menari dihadapan warga desa. Serta ada anak- anak,” kata si Bibi mengingat Yeon Seo. Dan Yeon Seo pun menjelaskan bahwa dia datang ke sini untuk mencari seseorang.
Yeon Seo kemudian menceritakan detail orang yang dicarinya. Sambil kembali mengenang masa lalu nya.
Yeon Seo : “Aku bertemu dengannya saat hujan. Ada hujan saat siang selama hari pertamaku disini. Aku keluar karena suaranya seperti musik. Lalu, aku melihat dia berdiri di tepi jurang.”

Yeon Seo melompat- lompat seperti menari dijalan sambil memakai payung, karena hari sedang hujan. Dan disaat itulah, Yeon Seo bertemu dengan Seong Woo.

Kim Dan : “Aku ingin mati. Kupikir lebih baik jika aku mati. Usiaku baru 12 tahun.”
Kim Dan mengulurkan satu kakinya ke bawah tebing. Dan kemudian dia mengenang kembali saat dulu Yeon Seo berteriak memanggilnya.
“Hati- hati!” teriak Yeon Seo.
”Lalu aku bertemu denganmu.”

No comments:

Post a Comment