Sunday, June 2, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 01-1

0 comments


Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 01-1
Images by : TvN
Part 1 : The Children of Prophecy


Di tengah sebuah hutan, di sebuah gubuk, terlihat seorang wanita yang sedang tidur bersama seorang bayi. Dalam tidurnya, wanita itu terlihat sangat gelisah. Tanpa ada yang menyadari, seekor ular putih merayap mendekati wanita dan bayi tersebut.


Wanita itu, Asa Hon, bermimpi. Mimpi seorang anak pria kecil memegang sebuah golok berwarna putih di tangannya dan tertawa. Anak itu berkata : Pria itu terkutuk. Berikan padaku!
“Tidak! Tidak, kumohon…,” gumam Asa Hon.
Ular itu membuka mulutnya dengan sangat lebar di depan bayi berbibir keunguan. Dan mata bayi itu bersinar.
“TIDAK!” teriak Asa Hon.
Arthdal Chronicles
Di zaman manusia turun dari pohon, mereka belajar memakai api dan membuat pisau tajam, menciptakan roda dan mulai meratakan jalan, dan akhirnya belajar menanam benih dan tinggal di satu tempat, tapi mereka tak punya bangsa atau raja. Homo sapiens tak punya impian dan belum mencapai puncak piramida alam yang agung. Negeri nenek moyang kita yang jaya. Tempat ini, Arth.
Di tengah hutan, sekelompok orang dengan membawa senjata pedang dan panah berlarian. Dan seolah ada binatang buas yang bergerak dengan sangat sangat cepat, satu persatu mereka mati terbunuh tercabik. Tapi, bukannya lari ketakutan, mereka malah berusaha mengejar ‘sang pembunuh’.

Dalam pengejaran itu, satu persatu mati terbunuh, hingga hanya tersisa satu orang. Orang yang tersisa tampak panik dan ketakutan. Dia mulai bergegas membuat sinyal api dengan membakar gulungan kayu, tapi gulungan kayu itu tidak mau terbakar juga. Dia semakin ketakutan.

Dan saat itulah, muncul sangat pembunuh. Pembunuh itu bahkan tanpa ragu berjalan di atas api, seolah tidak merasakan rasa terbakar. Kuku jarinya sangat runcing layaknya binatang buas.
“Negeri ini milik semua orang,” ujar sang pembunuh, dengan bahasa Neanthal.
Nafas sang korban memburu kekakutan. Dan saat itulah, sekumpulan panah di luncurkan. Sang pembunuh langsung berlari tanpa sempat membunuh ke dalam hutan. Panah yang di tembakan, malah mengenai sang korban, yang adalah rekan mereka.
Pria itu berteriak kalau tidak ada siapapun di sini. Saat itu, sekelompok rekannya yang lain tiba dan segera memberi tanda dengan terompet agar panah berhenti di tembakkan. Mereka segera menolong rekan mereka tersebut dan mencabut panah yang tertancap di bukunya.
“Sial! Hanya satu Neanthal melakukan ini pada kita!” umpat salah seorang. “Hanya satu hewan hina!”
Orang yang terluka itu memberitahu Mubaek yang adalah ketua kalau sang Neanthal (orang yang menyerangnya tadi) berlari ke arah sana. Pengejaran kembali di lakukan. Sekelompok orang mengejar seorang pria, suku Neanthal!
“Saat kapan semua mulai kacau? Ya, saat itulah awalnya,” pikir Mubaek.
--
Beberapa tahun sebelumnya,
Di tepi sebuah tebing, di adakan sebuah pertemuan di antara 2 jenis spesies manusia. Saram dan Neanthal.
“Di hari itu kulihat makhluk berdarah biru dengan bibir biru, para Neanthal, untuk kali pertama dalam hidupku.”
Pemimpin Neanthal bernama Raknruv. Di sisinya adalah seorang wanta yang bertugas sebagai penerjemah, dan penjaganya, Ragaz. Mereka menggunakan bahasa yang berbeda dari Saram, karena itu memerlukan penerjemah. Saram menggunakan bahasa Korea seperti yang kita kenal.
“Katakan Saram, apa yang kau inginkan?” ujar Raknruv.
Pemimpin Saram yang mewakili pertemuan Sanung, dengan penerjemahnya adalah Asa Hon, memberitahu apa yang di ingikannya. Sebuah kerja sama dengan Neanthal. Raknruv menolak kerjasama, karena mereka berbeda dalam segala aspek. Jadi untuk apa dia bekerjsa sama dengan Saram?
“Untuk kemakmuran yang berlimpah,” jawab Sanung.
Berlimpah? Alam menyediakan semua kebutuhan kami. Apa lagi yang kami butuhkan?”
Mubaek segera membuka dan menunjukkan apa saja yang telah bawa untuk Neanthal. Ada kacang, jelai, gandum dan hia serta bawang putih.
“Kultivasi dan agrikultura. Kekuatan hebat kalian dan keahlian kami. Lahan subur kalian, Dataran Bulan, dan kebijaksanaan peradaban Arthdal. Gabungkan kekuatan, kita akan mencapai kemakmuran yang berlimpah.”
Berlimpah? Untuk apa?”
“Untuk bangsa. Ayo membangun bangsa bersama. Lewat bangsa kita, kita akan menguasai semua makhluk hidup dan berdiri di puncak piramida. Untuk membangun bangsa, butuh pertanian berskala besar. Di negeri kalian, Dataran Bulan.”
Sayangnya, Neanthal tidak menginginkan apa yang Saram miliki. Terutama hia dan bawang putih, kami tidak memakan semua itu. Negosiasi kerja sama gagal dengan penolakan dari Neanthal.
Sanung terlihat marah dengan gagalnya negosiasi tersebut.
“Begitu saja, pimpinan Harimau pun pergi. Mereka tak butuh apapun yang kami, Saram, miliki.”
Saram kembali ke daerah mereka dan wajah bermuram durja. Dan hal itu tentu bisa di pahami oleh semua masyarakat Saram. Seorang bahkan berkata kalau itu artinya adalah perang. Tanpa Dataran Bulan, separuh warga Arthdal akan mati kelaparan. Karena Dataran Bulan adalah tempat yang subur.
“Sanung Niruha berkata dia mau mengirim hadiah untuk mencoba membujuk mereka sekali lagi,” beritahu Asa Hon. “Aku akan pergi ke Atturad untuk mengantar hadiahnya.”

Kabar itu juga sampai kepada Tagon. Tagon sendiri sedang asyik memberi makan burung yang berada di dalam kandang. Burung itu adalah burung penangkap serangga. Burung itu datang dari Gunung Puncak Putih saat fajar, dan saat senja kembali ke asalnya.
“Negosiasinya gagal,” beritahu Mubaek.
“Itu artinya, perang,” senyum Tagon.
“Benar, perang di mulai. Namun, perang berakhir sangat cepat.”
Semua petinggi Arthdal berkumpul di atas bukit.
“Hari itu, matahari terbit di utara. Setahun sekali, Neanthal berkumpul untuk merayakan bulan sabit. Festival ini biasanya berlangsung tujuh hari. Itu kesempatan emas. Kami temukan penyakit menular yang hanya menjangkiti Neanthal dan hewan. Hadiah yang ingin Sanung kirim kepada mereka adalah koleksi kain yang di taruh di kuda-kuda yang tertular penyakit. Dan Asa Hon adalah … tumbal.”

Asa Hon pergi mengantarkan hadiah kain-kain kepada Neanthal, sesuai perintah Sanung. Dan yang tidak di sadarinya, semua kain itu adalah kain yang telah tertular penyakit yang hanya menyerang Neanthal. Dan karena kain yang di bawanya, banyak Neanthal yang akhirnya meninggal karena penyakit.

Asa Hon begitu terkejut saat menyadari hal itu. Hati lembutnya tidak tega, dan dia menyelematkan bayi Neanthal yang masih bertahan. Pengawal yang mengiringinya memberitahu kalau Atturad akan segera di bakar, jadi Asa Hon harus ikut pergi bersamanya.

Dari atas bukit, Saram melemparkan panah api ke arah Atturad, dimana Festival Musim Semi Neanthal di lakukan. Api itu melahap habis Atturad dan membunuh banyak Neanthal.
“Kami buat kebakaran besar di Atturad.”
Panah-panah yang di lemparkan itu di ikat pada kaki burung pemakan serangga, dimana seperti yang di katakan Tagon, saat senja burung itu akan kembali ke puncak Gunung Putih. Dimana Neanthal berada. Kedukaan meliputi Neanthal.

Ragaz sangat marah melihat apa yang terjadi pada bangsanya. Asa Hon tidak mau ikut pergi dengan pengawalnya. Dia marah karena mereka menyerang Neanthal dengan tipuan mengerikan seperti ini. Jika Sanung tahu…
“Asa Ron Niruha (Niruha adalah gelar kehormatan) dan Sanung Niruha yang memberi perintah. Ayo, kita harus pergi sekarang!”
“Aku tidak akan pergi. Beritahu mereka, Aramun Haesulla, pendiri Serikat Arthdal, sudah tewas! Hanya tersisa orang licik yang memakai namanya,” ujar Asa Hon penuh kemarahan.
Dan saat itu Ragaz muncul dan membunuh pengawal Asa Hon.
“Kaum kalian sangat jahat!” marah Ragav. Tapi, dia juga dalam kondisi terluka parah hingga tidak sanggung berdiri. Dia pun menyelematkan seorang bayi.
“Kuatkan dirimu. Kita harus pergi dari sini!”
“Kau kalian…”
“Maafkan aku,” tangis Asa Hon. “Namun, kita harus selamatkan anak-anak. Bersama-sama!” ajak Asa Hon.
Ragaz terkejut mendengar ucapan Asa Hon, yang memilih menyelamatkan Neanthal dan mengkhianati Saram.
Para prajurit Saram, tiba di Atturda dan menghabisi semua Neanthal yang telah tidak berdaya. Dan mereka tertawa puas, menyebut Neanthal sebagai hewan buas.
“Neanthal jauh lebih kuat dan gesit daripada kami. Punya mata yang bisa melihat dalam gelap, martabat spesies terkuat, kekuatan spiritual untuk bermimpi, tapi kami, Saram, punya api, pisau, dan seni bela diri. Kami bisa berencana dan berkomplot, punya keinginan memuaskan keserakahan. Yang terutama, kami punya Tagon. Festival bulan sabit, burung penangkap serangga, api, dan penyakit menular… seluruh rencana di buat oleh bocah itu, yang bahkan belum cukup dewasa untuk di sebut pemuda.”
Walau Saram telah menang dalam perang, namun hal itu membuat mereka bertambah khawatir karena beberapa Neanthal masih selamat. Mereka yang dapat bertahan dalam perang, adalah yang paling berbahaya. Dan pemburuan Neanthal di mulai! Mereka akan menghabisi semua Neanthal.
“Walau menang, kami masih takut. Karena itu kami jadi kejam. Perangnya singkat, tapi perburuannya lama. Neanthal yang tak sakit… luar biasa kuat.”

Dan berlalulah beberapa tahun dengan pemburuan Saram terhadap Neanthal. Dan selama beberapa tahun yang berlalu itu, terlihat sebuah komet biru. Dan seorang bayi lahir saat komet biru terlihat.



No comments:

Post a Comment