Sunday, June 2, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 01-2

0 comments

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 01-2
Images by : TvN
Part 1 : The Children of Prophecy


Mau lama apapun bersembunyi, akan tiba saatnya di temukan juga. Itulah yang di alami oleh Ragaz. Di temukan oleh Saram ketika dia sedang bersama bayinya. Ragaz meletakkan sesuatu di balik baju bayinya dan berujar : Sayang, ini obat adikmu. Jaga dengan baik. Di belakang tubuh Ragaz dapat sebuah tanda seperti tanda lahir gitu.
Ragaz meninggalkan bayinya di balik semak dan keluar untuk menyambut para mangsa. Terlihat dari luka di tangannya, darahnya berwarna biru. Pertengkarang berlangsung, dan walaupun sendirian, Ragaz berhasil membunuh beberap Saram. Dia benar-benar kuat.
Seorang anak Neanthal melihat hal tersebut segera berlari masuk ke dalam hutan. Dia harus memberitahu Asa Hon!
Dan kita kembali ke awal episode 01-1, dimana Asa Hon bermimpi buruk.
Di dalam mimpinya, Asa Hon melihat seorang anak pria.
“Asa Hon. Berikan bayinya padaku.”
“Tak bisa. Bayi ini sakit.”
“Dia lahir di hari Komet Biru terlihat. Dia akan bawa bencana ke dunia. Serahkan bayinya padaku.”
“Aku menolak.”
“Kalau begitu, kuambil kakaknya saja?”
“Jangan. Anak-anak ini tak bersalah.”
“Kalau begitu, akan kuambil ayah mereka. Asa Hon, ini keputusanmu. Di hari kita bertemu lagi, kau tak akan kuampuni. Lari dariku jika kau mau hidup. Lari yang jauh. Jangan kejar orang yang menyanyi.”
Asa Hon terbangun karena mimpi itu. Dia merasa sangat ketakutan. Dan ketika menyadari kalau semua hanyalah mimpi, dia semakin bingung. Apakah itu mimpi? Tapi dia adalah Saram. Dia tidak bisa bermimpi.

Dan saat dia tersadar, bayinya, EunSeom tidak ada, Asa Hon menjadi panik. Untunglah, EunSeom ada di luar bersama seorang anak Neanthal. Anak itu memberitahu kalau demam Eun Seom sudah turun. Asa Hon sangat lega mendengarnya.
Tapi, tidak lama, anak Neanthal yang tadi melihat pertarungan Ragaz dengan ksatria Saram tiba dan memberitahukannya pada Asa Hon. Mendengar hal itu, Asa Hon teringat mimpinya tadi.
“Ragaz sedang melawan mereka dengan membawa anak sulungnya.”
“Di mana mereka? Aku harus ke sana. Aku harus pergi bawa anakku,” ujar Asa Hon.
“Itu gila. Berikan bayimu padaku. Kau adalah Saram, bayi ini adalah Igutu (percampuran Saram dan Neanthal – artinya itu adalah bayi Asa Hon dan Ragaz).”
“Lalu kenapa?”
“Kau Saram, berasal dari Klan Asa. Kau bilang sukumu tak boleh mencelakai orang dari klanmu. Tanpa bayimu, kau bisa pergi tanpa terluka. Serahkan dia.”
“Kau tak tahu. Para ibu di sukuku tak melakukan itu,” tegas Asa Hon dan langsung berlari pergi menemui Ragaz.

Ragaz membunuh hampir 90% Saram yang menyerangnya. Tapi, tiba-tiba saja, seorang membawa tali dan menjeratkannya pada tangan Ragaz hingga dia tidak bisa melawan dan akhirnya di bunuh. Ragaz meninggal dengan panah menembus lehernya. Seolah tidak buas, Saram mencabik tubuhnya. Darah berwarna biru bergelimang di tanah dan pedang mereka.
“Aku bermimpi semalam. Kulihat kiamat suku kalian. Kalian akhirnya akan saling membunuh,” ujar Ragaz dengan bahasa Neanthal sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Tapi, tidak ada yang mengerti apa yang di katakan Ragaz. Salah satu hanya mengerti kalau Ragaz bicara mengenai mimpi. Mereka berhalusinasi saat tidur. Saram yang lainnya langsung menyebut mereka gila karena kan harusnya tidur ya tidur. Tidak ada yang namanya mimpi.
Mubaek kemudian bertanya siapa yang memanah Ragaz, dan muncullah Tagon. Dia yang memanah Ragaz tadi. Semua langsung memuji Tagon yang hebat bisa mengalahkan Ragaz dengan sebuah panah. Tagon berkata kalau mulai hari ini dia yang akan memimpin pemburuan ini, sesuai perintah dari ayahnya, Sanung Niruha.
“Kudengar peranmu hebat dalam menghabisi para Igutu di Arthdal. Kami merasa terhormat,” jilat Dan Byeok.
Tagon kemudian wajah prihatin melihat banyaknya korban Saram yang tewas. Dan ada satu orang Saram yang terluka dengan sangat parah namun masih hidup. Mereka memintanya untuk bertahan karena Ollimsani harus di lakukan agar bisa lebih dekat dengan para dewa. Mereka akan segera membawanya ke barak.
Orang itu sudah terluka parah dan meminta Ollimsai di lakukan saat ini juga karena dia tidak akan bertahan jika sampai ke barak. Tapi, tentu saja tidak beda. Tidak ada pendeta di mari. Tapi orang itu malah terus memohon dan meminta agar Tagon yang melakukan ritual itu padanya. (Ollimsani = Ritual pra atau pasca kematian untuk membimbing roh ke dewa).
Walaupun Tagon adalah pemimpin, Tagon tidak bisa dan tidak boleh melakukannya. Karena Tagon bukanlah pendeta dan bukan berasal dari suku Asa.
“Akan kulakukan,” ujar Tagon. Dan tanpa persetujuan yang lain, dia melakukannya.
Dia bertanya siapa dewanya? Orang itu menjawab : Aramun Haesulla (pendiri Arthdal).
“Dewa Kerukunan dan Persatuan Arthdal, Aramun Haesulla, terimalah kesatria kami. Kita mengantar saudara kita. Tolong sertai aku. Terimalah kesatria kami!”
Dan semua dengan paksaan dari Dan Byeok, akhirnya mengikuti Tagon.
“Terimalah kesatria kami. Dewa Kerukunan dan Persatuan Arthdal, Aramun Haesulla, terimalah kesatria kami. Untuk Aramun yang akan kembali dengan dua suara, bunga kamperfuli, Palu Angin, dan Kanmoreu. Kami berjanji melindungi keluarganya.”
Dan setelah doa ritual itu selesai, Tagon membunuhnya untuk menghilangkan penderitaan rasa sakitnya.
Saat dalam perjalanan pulang, Dan Byeok memuji Tagon yang seperti gambaran Aramun. Mubaek tampak tidak menyukai apa yang Dan Byeok katakan.
“Kau cerdas, berani, dan murah hati. Itu gambaran Aramun dalam dongeng yang kudengar.”
“Namun, aku tak punya bunga kamperfuli atau Kanmoreu.”
“Kamperfuli ada di selatan dan Kanmoreu hanya legenda.”
“Benar. Aramun juga legenda zaman kuno, aku hanya Tagon.”
Dan suasana jadi canggung. Tagon lanjut berjalan, dan mereka mulai mengumpulkan mayat. Saat berdua, Mubaek memperingati Dan Byeok untuk tidak mendukung Tagon. Hanya Klas Asa dari Suku Gunung Putih yang boleh melakukan Ollimsani.
“Kau pasti cemas karena dia percaya aku, bukan kau. Benar? Katanya, orang dari suku kecil mudah iri. Bisa kulihat itu,” ujar Dan Byeok.
“Lupakan saja,” ujar Mubaek, mengetahui Dan Byeok tidak mendengarkan nasihatnya.
“Aku tahu kau merasa terancam karena aku Suku Gunung Putih dan pandai bicara, tapi kau kesatria Daekan. Walau gelar itu jadi miliknya setelah pelatihannya selesai.”
Asa Hon tiba di sekitar sana dan bersembunyi melihat situasi. Saat sedang berjalan bersama 2 pengawalnya, Tagon merasakan sesuatu ada di balik semak. Dan saat mereka mendekatinya, itu adalah bayi. Bayi Ragaz.

Dua pengawal Tagon panik dan menduga itu bayi Ragaz dan hendak membunuhnya. Tapi, Tagon memeriksa bayi itu dan melihat tanda lahir di bayi itu berwarna pudar, berbeda dengan tanda lahir Ragaz. Saat dia mengiris sedikit lengan anak itu, darahnya berwarna ke-unguan.
“Ini bayi Igutu,” ujar Ragaz.
Pas sekali, Asa Hon tiba di sana dan melihat mereka. Dia segera bersembunyi.

Ragaz menggendong bayi itu, dan 2 pengawalnya langsung baik. Menurut cerita, Igutu akan mendatangkan kesialan. Dan tiba-tiba saja, Tagon langsung membunuh kedua pengawalnya tersebut hingga tewas. Asa Hon sangat terkejut melihat apa yang di lihatnya. Dia juga melihat jelas wajah Tagon dan mengenalinya.
Tagon membawa bayi itu bersamanya. Dia tidak membunuh bayi itu. Dan saat sedang berjalan itu, Tagon berhimne sebuah lagu.
“Jangan kejar orang yang menyanyi,” peringatan dari mimpinya kembali teringat oleh Asa Hon.
--
Hari sudah malam,
Anak Neunthal yang tadi memberitahu Asa Hon mengenai pertarungan Ragaz dan ksatria Saram, masuk ke dalam hutan. Dia mencari Asa Hon. Dan benar, Neunthal bisa melihat dalam kegelapan.

Dia menemukan Asa Hon yang masih hidup dan menatap sebuah pohon. Di pohon itu, tergantung Ragaz.
“Perpisahan bulan sudah di ucapkan?” ujar anak itu dan menggenggam kaki Ragaz, “Sampai jumpa, Ragaz.”
Tapi, anak itu merasa sedih. Kalimat itu harus di ucapkan sebelum Ragaz mati. Ragaz tidak akan mencapai bulan.
“Aramun Haesulla… membawa Ragaz,” ujar Asa Hon.
“Dewa pembentuk Serikat Arthdal? Aramun itu? Dia sudah mati.”
“Aku bermimpi.”
“Kau bukan Neanthal atau Igutu, tapi bisa bermimpi? Bagaimana?”

“Palu Angin… dan bunga kamperfuli. Itu Aramun Haesulla. Aramun mengancam mengambil Ragaz jika aku tak menyerahkan anak-anakku. Aku… tak bisa serahkan mereka. Karena itulah ini terjadi,” tangis Asa Hon.
“Itu hanya mimpi.”
Tidak. Di hari anakku lahir, Komet Biru muncul di langit. Di Arthdal, diyakini bahwa pembawa bencana dilahirkan di hari itu. Karena itulah Aramun mengutukku, Rottip.
“Asa Hon?” panggil Rottip, melihat Asa Hon yang melamun.
“Aku… telah dikutuk oleh Dewa Arth.”
“Tak ada yang namanya dewa. Hanya ada yang bisa kita lihat dan tidak. Sekalipun ada, untuk apa dewa mengutukmu?”
Karena sekalipun seorang Saram, aku mengkhianati kaumku, dan membantu kalian. Aku juga jatuh cinta dan melahirkan bayi Igutu.
Asa Hon teringat mimpinya, dimana anak itu, Aramun Haesulla, menyuruhnya untuk kabur yang jauh. Karena jika mereka bertemu, dia tidak akan mengampuninya lagi. Dan karena itu, dia akan pergi ke Iark. Dewa Arth tidak bisa menerapkan otoritasnya di sana. Kutukan Aramun tidak akan bisa mencapai tempat itu.
“Kau akan menuruni Tebing Hitam Besar? Hanya burung yang bisa melakukannya.”
“Kudengar ada gua yang menuju ke bawah tebing.”
“Namun, hanya ada satu dari ribuan gua.”
“Aku harus mencobanya,” tegas Asa Hon. “Terima kasih segalanya.”
Dan usai mengucapkan itu, Asa Hon langsung pergi, dengan Eun Seom, bayinya.
Aku tak peduli walau anak ini membawa bencana atau memusnahkan dunia. Jika aku mati, dia pun akan mati. Maka aku harus hidup. Akan kupastikan dia hidup.


Dan dengan tekad tersebut, Asa Hon terus berjalan menuju Tebing Hitam Besar. Mau hujan, salju, panas atau musim apapun, Asa Hon terus berjalan tanpa menyerah bahkan walau dia harus melewati aliran sungai. Hingga akhirnya, dia tiba di Tebing Hitam Besar.
Kini, dia hanya harus menemukan gua yang bisa membawanya ke bawah tebing tersebut, Iark.
“Eunseom. Eunseom. Di bawah sana adalah Iark. Dewa Arth tak bisa menerapkan otoritasnya di sana. Agar kita berdua hidup, kita harus ke sana. Aku harus menemukan gua yang menuju ke dasar tebing, tak peduli butuh berapa lama.”

No comments:

Post a Comment