Sunday, June 30, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 09-3

0 comments

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 09-3
Images by : TvN
Part 2 : The Sky Turning Inside Out, Rising Land
Para menteri berkumpul (tanpa Taealha dan kepala suku Saenyeok) membahas mengenai gosal Neanthal.
“Namun, bisa dimengerti. Kita membuat mereka sakit, membakar, mengejar sampai mati, dan membasmi spesies mereka.”
“Kita punya pilihan?”
“Entah dengan Neanthal, tapi Igutu mungkin merasa tak adil.”
“Kenapa begitu? Neanthal dan Igutu adalah monster.”
“Tak benar. Saat aku muda, pelayanku Igutu. Dia tak jahat.”
“Maksudmu, kau tinggal bersama Igutu?”
“Dahulu, itu biasa. Namun, sebelum Darah Atturad. Igutu dibantai juga karena kita takut mereka membantu Neanthal.”
“Namun, apa kau ingat? Ada rumor Aramun Haesulla adalah Igutu.”
“Maksudmu, Jiwa Gunung Puncak Putih? Igutu adalah makhluk keramat? Itu gila.”
“Tunggu. Namun, itu masuk akal, 'kan? Mereka bilang Aramun punya dua suara dan itu karena Aramun juga berdarah Neanthal. Juga, kudengar bunga kamperfuli diletakkan di atas jasad mereka.”
“Cukup sudah omong kosongnya! Tagon Niruha sedang berdoa agar gosal pergi saat ini.”
--
Esok hari, di Kuil Agung.
Tagon masih terus berdoa sementara para klan Asa telah berhenti.
Asa Ron berjalan mendekati Tagon, dan Tagon memalingkan wajahnya.
“Aku yakin kau sadar akulah yang merencanakan semua ini. Warga Arthdal akan menaruh boneka tanah liat di depan rumah untuk menenangkan Neanthal dan Igutu. Kau akan menanggung beban ini seumur hidupmu.”
“Karena itu Kuil Agung bahkan menjual boneka tanah liat?”
“Apa dayaku? Ramalan dan doa... tak memberiku kekayaan. Asalkan aku berkuasa atas hati rakyat, kau akan selalu ada di bawahku. Untuk hancurkan hierarki, kau harus bunuh tiap orang di Arthdal dan menjadi raja dari reruntuhan yang tersisa. Namun, kau tak bisa. Mihol benar tentangmu. Kau terlalu mengharapkan kecintaan dan kesetiaan rakyat,” ejek Asa Ron.
“Ini belum berakhir, Asa Ron Niruha. Apa kau tahu aku bisa senekat apa untuk menang?” tanya Tagon, penuh amarah.
“Aku tak tahu, tapi penasaran.”
--
Asa Yon menemui Asa Ron dan memuji Asa Ron mengenai Jamur Laughing Gym dan bulu burung pemakan serangga tersebut. Asa Mot juga senang, tapi kapan Asa Ron menyiapkan mengenai harimau itu? Asa Ron yang awalnya tersenyum, jadi terdiam pucat, bukankah harimau itu Asa Yon dan Asa Mot yang menyiapkannya?
Asa Yon dan Asa Mot bingung, itu bukan perbuatan mereka. Mata Asa Ron langsung melebar. Neanthal masih ada.
--

Di tengah hutan, seorang pria sedang menumbuk bunga berwarna merah dan memakaikannya ke bibirnya yang berwarna biru.
--

Myung Jin dan Harim sedang menjaga Nunbyeol yang masih belum sadar. Tampaknya, Nunbyeol bukanlah anak mereka, karena Myungjing berkata kalau saat dia membawa Nunbyeol dia hanya melihat kegelapan, dan hendak membuat dosa, tapi ternyata Nunbyeol ramah dan baik.
Nunbyeol sadar dan tampak ketakutan dan langsung memeluk ibunya. Nunbyeol tiba-tiba berkata kalau dia melihat mereka.
“Saat aku di pasar mencari Suku Wahan, kulihat Neanthal. Itu mereka. Aku tahu bedanya,” beritahu Nunbyeol.
Harim dan Myungjin jelas terkejut.
--

Pria itu selesai mewarnai warna bibirnya. Dia adalah Rottip dan masih ada seorang lagi temannya, yang juga seorang Neanthal. Mereka berdua adalah anak yang di selamatkan Asa Hon dan Ragaz. Mereka juga tahu mengenai anak Asa Hon yang adalah kembar (baca episode 01, dan akhirnya mereka muncul kembali! Yeay!)

Chae-eun dan Mubaek lewat di dekat sana. Chae-eun bertanya alasan Mubaek menyelematkan Eunseom waktu itu sebelum tahu kalau Eunseom adalah putra Asa Hon, dan hanya tahu kalau Eunseom adalah Igutu. Apa yang Mubaek rencanakan?
“Aku akan perbaiki segalanya,” jawab Mubaek.
“Tagon sungguh membunuh Sanung Niruha? Itu sebabnya kau begini?”
“Chaeeun, keluargamu tak akan celaka karena ini.”
“Bukan itu yang kutanya. Aku juga mau menemukan Eunseom. Putra Asa Hon begitu menderita, itu terlalu kejam. Namun, berontak melawan Tagon Niruha, itu hal yang berbeda. Dari yang kutahu, kau harus bisa bohong, berlagak menangis, jadi jahat, bahkan membuang harga diri. Itu… bukan dirimu.”
Mubaek tidak menjawab dan hanya terus berjalan pergi.
Rottip dan rekannya mendengar pembicaraan mereka tersebut.
--
Anak buah Taealha memberikan laporan mengenai jamur Laughing Gym yang di keringkan dan di tumbuk kemudian di taburi ke air. Dan karena itu, itu membuat warga menjadi gila beberapa saat, namun setelah beberapa hari akan kembali menjadi normal. Dan mengenai burung itu, bulunya di cabut dan dilumuri racun katak, membuat bulu baru yang tumbuh menjadi warna biru. Tampaknya semua sudah di rencakan sejak lama.
Taealha benar-benar marah, kepada Asa Ron.
“Berapa banyak trik rahasianya? Bagaimana reaksi Suku Hae atas insiden itu? Masukkan itu di laporan berikutnya,” perintah Taealha.
--

Taealha masuk ke ruangan Tagon, dan ruangan itu sangat berantakan. Jelas, karena Tagon merasa sangat marah.
“Kenapa tak membagi deritamu padaku? Bagaimana kau bisa baik-baik saja saat dipermalukan begitu? Asa Ron merencanakan semua. Dia bubuhi air dengan jamur...”
“Percuma mengetahui caranya.”
“Ayo bunuh semua yang kerasukan gosal. Semua perbuatan Asa Ron akan jadi tak berguna.
“Itu juga percuma. Mengetahui aku tak berdaya membuatku kesal. Walau aku tahu muslihatnya atau bunuh pihak terlibat, rakyat Serikat akan kembali menemui Asa Ron di kuil,” ujar Tagon, penuh amarah. “Penghalang besarnya adalah dewa itu. Apa aku tak akan bisa melampaui mereka? Apa aku akan selalu di bawah Klan Asa?  Apa pun yang kulakukan! Padahal mereka bukan keturunan langsung Asa Sin. Keturunan tak langsung! Mereka juga beogeumbari (anak haram)!”
“Tagon, tenanglah. Ini belum berakhir. Tak ada yang tak bisa diubah atau mengakhirinya bagi kita. Ini berakhir saat kita bilang... ini berakhir,” tenangkan Taealha. “Jadi, tenanglah. Tahan amarahmu.”
“Bukan hanya Asa Ron. Mubaek. Dia menemui Asa Sakan. Dia pasti punya rencana.”
“Jadi, Mubaek di pihak Asa Ron?” khawatir Taealha.
“Aku tak tahu, tapi dia bohong padaku. Aku yakin itu.”
“Tagon, ini masalah. Separuh Pasukan Daekan setia pada Mubaek. Jangan biarkan dia. Selidiki apa rencananya,” perintah Taealha.
“Aku tahu. Dengan cara mudah.”
“Dan sederhana,” sambung Taealha.
--

Mubaek menemui Yeolson. Yeolson berlutut di depan Mubaek. Mubaek bertanya mengenai asal usul suku Wahan pada Yeolson karena Yeolson adalah kepala suku, tapi bagaimana bisa Yeolson berkata tidak tahu apapun? Yeolson menjelaskan kalau garis keturunan suku Wahan berlanjut secara matrilineal (dari pihak ibu). Dia hanya tahu kalau dahulu Serigala Putih Besar turun ke Tebing Hitam Besar, itulah awalnya.
Mubaek langsung bertanya, dimana kepala suku Wahan? Yeolson menjawab, dia sudah meninggal di bunuh orang-orang mubaek.
“Dia pasti punya penerus, pewaris kekuatannya. Dia juga tewas? Kau tak mau bilang?”
“Kenapa kau tanya?” tanya Yeolson balik. “Katakan alasannya, atau tak kujawab walau aku harus mati.”

“Aku tak berniat menyakiti dia. Kumulai dengan menyelamatkan sukumu, lalu dunia. Itu kebenarannya,” yakinkan Mubaek dengan tulus.
--
Saat malam, Tanya dan Saya kembali ke luar. Saya masih merasa penasaran kemana Saya malam itu? Apa sekarang mereka akan ke sana?
Saat itu Rottip dan temannya melewati Tanya dan Saya. Dan mereka seperti merasakan sesuatu. Tapi, mereka mengabaikannya dan berjalan pergi.
Yang tidak di sadari, Saya juga merasa aneh dengan mereka.
--
Mubaek sedang berjalan sendirian di hutan dan berpikir.
“Jika Serigala Putih Besar itu adalah Asa Sin... Jika darah sucinya dibawa melalui garis keturunannya...”
Dan Mubaek teringat jawaban Yeolson kalau penerusnya adalah Tanya, putrinya.
“Dia calon kepala suku kami.”


Saat itu, Mubaek merasakan sesuatu dan mendongak ke atas. Dia mulai waspada dan benar, Yangcha tiba-tiba muncul dan menyerang mubaek. Mereka saling bertarungd an Mubaek berhasil menyudutkan Yanghca. Tapi, saat itu Tagon muncul dan mengarahkan pedangnya ke leher Mubaek. Mubaek jelas terkejut.
--
Lagi-lagi, Saya mewarnai wajahnya dan menyuruh Tanya menunggu karena kali ini dia sepertinya akan butuh waktu lebih lama. Tanya mengiyakan.
--
Mubaek di ikat dan Tagon langsung menanyainya. Dia ingin tahu alasan Mubaek menipunya.
“Jangan bilang kau tak melakukannya. Juga jangan balas bertanya. Jangan bilang aku keliru atau kau tak mengerti. Kenapa? Kau yang kukenal tak begitu.”
Dan Mubaek akhirnya mengakui kalau dia menipu Tagon. Dan Mubaek mulai berpikir apa yang harus di lakukannya sekarang? sama seperti yang Chaeeun katakan? Menangis dan memohon?
“Bagus. Inilah Mubaek yang kukenal. Mubaek, aku tak akan bergeming dan membiarkanmu jadi musuhku. Kau terlalu berarti bagiku, juga terlalu kuat untuk itu. Kita teruskan. Lantas, kenapa kau menipuku? Jika kau tak mau aku kehilangan rekan berharga, jawablah dengan jujur. Kau tak mau jawab?”
“Apa kau membunuh... Sanung Niruha?” tanya Mubaek, balik. “Di sini? Jika ya, penggal aku tanpa menjawab. Kau membunuhnya?”
“Itukah sebabnya? Kau pasti lihat lukanya,” tebak Tagon. “Itu kecelakaan. Dujeumsaeng itu sangat cepat. Kau melawannya, pasti tahu. Kami bertiga bergumul. Sayangnya… pedangku mengenai lehernya. Sekalipun itu kecelakaan, sekalipun ayah tewas di tangan dujeumsaeng itu, faktanya aku tak bisa melindunginya. Jadi, sama saja aku membunuhnya. Itu yang sungguh terjadi hari itu. Walau kau tak percaya, atau bahkan tak bisa percaya, berlagak saja. Di kehidupan nanti, kau bisa memintaku bertanggung jawab,” jelas Tagon, berbohong.
“Aku akan percaya. Aku sungguh percaya,” ujar Mubaek. “Kini, bisa buka ikatanku?”
“Dan membiarkanmu membunuhku?” ujar Tagon.
--
Tanya berjalan mencari tahu kemana Saya pergi.
--
Tagon sudah melepaskan ikatan pada Mubaek.
“Kini, giliranmu. Kenapa kau menemui Asa Sakan? Kau bisa jujur. Mau berkomplot menentangku?” tanya Tagon.
Dan Mubaek mulai berpikir, haruskah dia membuat Tagon berada di pihaknya? “Aku mau memastikan yang kulihat di Iark.”
“Apa yang kau lihat?”
“Senjata yang bisa menggulingkan Asa Ron,” beritahu Mubaek dan membuat Tagon terkejut. “Sanung Niruha selalu kesal pada Klan Asa. Aku mau membantu. Namun, aku kembali dan mengetahui ayahmu telah tewas. Karena mencurigaimu, aku tak bisa cerita tentang itu.”
“Apa maksudmu? Apa tepatnya yang kau lihat?” tanya Tagon, tidak sabaran. “Senjata untuk menggulingkan Asa Ron?”
“Klan Asa tak bisa kalah dengan senjata, kekayaan, atau temuan Suku Hae. Namun, garis keturunan Asa Sin telah lama terputus, dan yang tersisa di Klan Asa adalah keturunan tak langsung. Aku curiga Asa Sin pergi… ke Iark. Keturunannya diteruskan kepada Suku Wahan,” jelas Mubaek
--




 Tanya melihat ada seseorang yang masuk ke dalam gua tersebut, jadi Tanya secara diam-diam juga ikut masuk ke dalam gua Ggachi. Di sana sedang ada pertemuan dan mereka berdandan seperti suku Wahan (ada Chaeeun dan Nunbyeol juga). dan saat itu, seseorang membawa bendera dengan gambar totem yang di gambarkan Choseol (di episode 04). Dia teringat kalau ibu Choseol menyuruhnya menemukan totem dengan simbol itu dan menyimpannya. Dia juga ingat saat Choseol menyuruhnya untuk menjadi kepala suku dan ucapannya :  Betapa pun kau menyangkal panggilanmu, sekalipun kau melupakannya, hal itu tak akan pernah melupakanmu.”
Saat itu, seseorang tiba-tiba muncul dan membekap mulut Tanya dari belakang.
--

“Penerus kepala suku Wahan. Penerus itu mungkin keturunan langsung Asa Sin,” beritahu Mubaek pada Tagon.
--

Yang membekap mulut Tanya adalah Saya. Saya marah karena Tanya tidak menurutinya. Apa ini adalah perintah Taealha? Tanya membantah dan dengan gugup menjawab kalau dia penasaran. Tidak ada alasan lain.
Saya menatapnya tajam. Dan untunglah, dia kemudian tersenyum dan berkata kalau dia tahu Tanya jujur.
“Maafkan aku,” ujar Tanya.
“Tak perlu. Kau memang mau kuajak kemari,” ujar Saya.
“Tempat apa ini?”
Tapi, Saya memberi tanda agar Tanya diam.
--
Tagon terkejut mendengar nama kepala suku Wahan, yang mungkin adalah keturunan langsung Asa Sin adalah Tanya. Dan itu mengingatkan Tagon mengenai suku Wahan yang bisa berbahasa sama seperti mereka. Dan juga saat Tanya mengutuk Moogwang.
--
Tanya masih berada di gua dan heran karena Saya dan orang-orang di sana melakukan seperti ritual doa.
“Aramun Haesulla! Kau datang kepada kami dalam wujud Igutu, menjadi pengiring Asa Sin dan naik bersama angin...,” ujar Saya dalam hati.
“Apakah Aramun... seorang Igutu?” tanya Tanya. Dia mendengar suara hati Saya.
Saya terkejut.
--
“Jika Tanya keturunan langsung Asa Sin, kemampuan cenayang dewa adalah miliknya,” ujar Mubaek pada Tagon.
Tagon terkejut.
-Bersambung-


No comments:

Post a Comment