Sunday, June 30, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 09-2

0 comments
Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 09-2
Images by : TvN
Part 2 : The Sky Turning Inside Out, Rising Land
Saya mengajarkan Tanya mengenai buku. Itu hal yang bisa mereka gunakan untuk mempelajari sesuatu tanpa harus bertemu orang nya langsung. Ada banyak buku di benteng api dan dia sudah membacanya berulang kali.
“Dari semua cerita itu, cerita siapa yang kau suka?” tanya Tanya.
“Cerita Tamer. Suku Hae berasal dari Remus. Tamer adalah jenderal terkenalnya. Dia mati beberapa dekade lalu, tapi dia ceritakan pengalamannya selama perang dan mengajariku cara bertarung. Kau mau lihat?” cerita Saya antusias dan menunjukan batu baduk. “Kupakai batu hitam. Kau batu putih. Ini perang antara bebatuan ini.”
“Bagaimana bisa ada perang? Kita harus saling lempar batu?”
“Ini perang versi kecil. Satu batu setara satu unit Pasukan Daekan. Mereka berkemah di sini. Kau harus bertahan. Jadi, harus berkemah di sini juga. Tamer perkenalkan 12 cara berkemah. Bisa dipakai untuk delapan fitur geografis dan enam cuaca berbeda. Itu disebut strategi militer. Namun, tentu, tak bisa gambarkan segalanya hanya dengan batu.”
“Kau pasti merasa ini menyenangkan,” ujar Tanya.
“Tentu. Saat dikurung, aku mainkan ini sendirian sambil mengingat semua hal dari buku itu, satu demi satu. Menyenangkan, 'kan?”
“Sebenarnya…,” ujar Tanya ragu dan mengingat ucapan Eunseom dulu. “Tidak. Ini tak begitu menyenangkan. Aku pasti sedang sakit.”
--
Pasukan Daekan yang di pimpin oleh Kitoha menemui Menteri Kungtung. Dia memberitahu kalau mereka akan menjaga rumah dan keluarga Menteri Kungtung mulai hari ini. Itu adalah perintah Tagon Niruha.
Menteri Kungtung berterimakasih atas niat tersebut, akan tetapi prajurit suku Bato yang akan menjaga tempat ini. Jadi, Kitoha dapat pergi.
“Mereka tak boleh kemari lagi,” balas Kitoha.
--

Dengan marah, Menteri Kungtung pergi menemui Tagon. Di sana juga ada para menteri lain.
“Pemimpin Serikatku. Terima kasih atas rumah yang kau sediakan. Namun, prajurit Suku Bato bisa menjaga…,” ujar Menteri Kungtung.
“Kembali ke tempatmu,” potong Tagon. Dan semua para penjaga Tagon langsung menatap Menteri Kungtung dengan tajam, hingga membuat Menteri Kungtung sedikit takut.
Tagon kemudian menjelaskan, “Belum lama ini, Sanung Niruha tewas dibunuh dujeumsaeng. Itu terjadi karena prajurit bersenjata bisa memasuki kastel dengan mudah. Mulai sekarang, hanya penjaga dan Pasukan Daekan yang boleh bawa senjata di Arthdal. Menjadi kepala Suku Bato tak penting lagi. Kungtung, kini kau Menteri bang Perdagangan Serikat. Sebagai Menteri Serikat, kau akan dilindungi Pasukan Daekan dan penjaga Serikat.”
Dan Taealha langsung mengucapkan terimakasih karena Tagon telah memerintahkan prajurit Daekan untuk menjaga tempat tinggalnya, di Benteng Api.
“Namun, kepala Suku Bato bersikeras memakai prajuritnya sendiri. Mungkin… kau punya motif tersembunyi?” sudutkan Taealha.
Dan semua menteri lain langsung menatap pada Menteri Kungtung, membuat Menteri Kungtung tidak bisa berkutik.
--
Ada antrian yang sangat panjang di depan kuil Agung. Mereka datang untuk memberikan persembahan. Saat Asa Ron dan Asa Mot lewatpun, semua langsung menunduk dengan hormat memberikan salam. Klan Asa benar-benar di keramatkan di Arthdal.
“Akhirnya mereka akan lihat siapa sebenarnya Tagon,” ujar Asa Ron.
“Kurasa dia merencanakan segalanya sejak awal. Namun, kita tak bisa biarkan Tagon bertindak semaunya. Asa Sakan terus minta aku membantunya. Namun, aku merasa cemas,” ujar Asa Mot.
“Lalu, kita harus bagaimana? Apa yang harus kita pakai untuk menyerangnya?”
“Aku sudah memikirkannya. Namun, Tagon tak membahayakan Serikat.”
“Dia selalu pergi berperang, tak sempat melakukan apa pun.”
“Benar. Rakyat Serikat hanya tahu tentang prestasinya. Bagaimana jika Klan Asa akhirnya…”
“Bagaimana jika kita buat prestasi terbesarnya menjadi kesalahan terbesarnya?” ujar Asa Ron.
Saat itu, Asa Yon masuk dan memberitahu kalau semuanya sudah siap. Asa Mot benar-benar bingung, apa yang sudah mereka rencanakan.
--

Saya dan Tanya pergi ke hutan lagi. Kali ini, Saya berlatih untuk menangkap burung dan berhasil. Dia berhasil menangkap seekor burung dan tampak sangat senang. Tanya tampak ragu dan memberitahu kalau burung itu adalah dia yang lemparkan batunya.
Tapi, mereka terkejut saat melihat bangkai burung tersebut. Itu adalah burung penangkap serangga, tapi kenapa warna bulunya biru? Apa ada yang mengecatnya? Saya sendiri terlihat ketakutan?
“Bukan menyepuhnya. Dia lahir dengan warna begini. Isodunyong pernah bilang : Di hari burung pemakan serangga berbeda warnanya, akan terjadi bencana,” beritahu Saya.
--

Di tengah kota, sekelompok orang tampak seperti mabuk dan berhalusinasi sambil memegang kapan dan berkata kalau Arthdal akan binasa. Mereka akan mati. Dan orang itu terus menerus mengibaskan senjatanya ke segala arah. Penjaga berhasil menjatuhkannya dan saat di periksa, dada pria itu memiliki bercak dan badannya panas.

Tidak lama, seorang wanita menjerit histeris. Seorang kakek mulutnya berbisa. Seorang pria seperti orang tidak sadar. Seorang ibu memegang pisau dan tampak seperti kesurupan. Suasana sangatlah kacau.
--

Mubaek datang menemui Tagon, dan Tagon menyambutnya dengan riang. Mubaek melapor kalau Danbyeok telah beristirahat dengan tenang (mati).
“Sudah lama sekali. Begitu banyak hal terjadi dalam waktu sesingkat ini. Kudengar kau mengejar Kanmoreu,” ujar Tagon.
Mubaek sedikit gugup mendengar hal itu, dan langsung berkata kalau dia mengira kuda itu Kanmoreu namun ternyata bukan. Tagon tampak tenang dan berkata kalau memang itu hanyalah legenda 200 tahun yang lalu. Jika Mubaek sampai kembali menaiki kuda Kanmoreu, maka Mubaek adalah Aramun.
Mubaek tampak semakin gugup. Dan Tagon malah berkata : “Menyenangkan jika itu terjadi. Kau tangkap Kanmoreu, tapi ternyata hanya kuda biasa. Namun, kau tak tahu dan menemui Asa Sakan untuk memeriksa kuda itu Kanmoreu atau bukan. Lucu, ya?”
Mubaek jadi bingung. Apakah Tagon memang tahu dia menemui Asa Sakan atau hanya sedang mengujinya? Apa Moogwang melaporkannya atau tidak? apa dia harus memberitahunya?
“Katakan sejujurnya. Apa kau jadi agak antusias?” ujar Tagon. Mubaek sudah hendak jujur, tapi Tagon memotong ucapannya. “Jadilah kepala kantor militer. Jangan menolak. Jangan bilang kau tak memikirkan itu atau terkejut atas tawaran ini. ‘Aku lahir jadi prajurit, jadi, harus berperang. Aku tak cocok membantumu memerintah negeri.’ Jangan bilang itu. Terima saja tawaranku, atau setidaknya bilang kau akan memikirkannya. Setidaknya kau bisa melakukan itu,” perintah Tagon.
“Ya, Tagon, maksudku... Niruha. Akan kupikirkan.”
“Baik, bagus. Bisa membuatmu memikirkannya, berarti aku hampir berhasil. Ke kantor militer tiap hari mulai besok. Lihat cara kerjanya. Itu bisa membantumu memutuskan.”
Saat itu, Gilseon langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan langsung meminta maaf dan kemudian permisi keluar. Tagon menyuruh Gilseon melaporkan langsung ada apa, karena tidak ada yang harus di rahasiakannya dari Mubaek.
--

Gilseon membawa Tagon ke sebuah ruangan dan menunjukkan burung biru itu. Tidak hanya itu, orang-orang menjadi gila. Tubuh mereka berbintik biru dan sangat panas. Tampaknya bukan wabah. Dan semua ini sama seperti ramalan itu kan?
Tagon terkejut, apa semua ini terjadi hari ini?
“Ada satu lagi. Kami temukan harimau mati di kaki Gunung Makchi. Tak ada luka tikaman. Hanya ada lubang sangat besar di badannya dan isi perutnya diaduk. Jantung dan hatinya hilang. Dan ada darah biru di cakarnya,” beritahu Gilseon.
“Maksudmu, pelakunya Neanthal?” tanya Tagon, terkejut.
“Semua orang takut, kabarnya bencana telah melanda Arthdal.”
Dan tanpa berpikir lama, Tagon segera memerintahkan Gilseon untuk mencari tahu apa rencana Asa Ron.
--
Semua rakyat berkumpul mencari Asa Ron. Mereka membawa semakin banyak persembahan dan memohon agar Asa Ron menyelematkan mereka karena Arthdal telah di kutuk dan mereka semua akan mati.

Di dalam, Asa Yon memberitahukan hal ini pada Asa Ron. Di sana juga ada Mihol. Asa Ron menyuruh Asa Yon untuk tenang karena dia sekarang sedang meminta petunjuk ramalan. Di depan mereka, Asa Moo sedang menarikan tarian spirit.
Tidak lama, Asa Yon keluar dan membuat pengumuman kepada semua warga.
“Warga Serikat! Pendeta Tinggi Asa Ron Niruha telah menerima ramalan. Berlututlah dan beri hormat,” perintah Asa Yon. “Dewa bilang, gosal (spirit pendendam) Neanthal dan Igutu yang kita singkirkan 20 tahun lalu telah menyerang Arthdal. Karena itu, kita cegah bencana dengan menenangkan gosal pakai boneka tanah liat. Kalian dapat satu setelah beri persembahan di kuil. Taruh di muka rumah agar gosal tenang.”
Semua terkejut mendengar mengenai Neanthal.  Dan semua langsung berbondong-bondong ingin mendapatkan boneka tanah liat tersebut.
--
Tanya menyampaikan apa yang di dengarnya mengenai Gosal kepada Saya. Saya langsung berkata kalau semua adalah omong kosong. Asa Ron yang licik pasti telah merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan ayahnya.
“Benarkah? Caranya?” tanya Tanya.
“Mereka semua dibunuh oleh ayahku. Siapa yang akan disalahkan atas gosal itu?”
--
Rapat menteri di adakan. Dan menteri tentu menuntut penjelasan Tagon. Taealha membantu dengan berkata kalau semua ini adalah omong kosong. Bagaimana mungkin golsa dapat membunuh macam dan merobek bangkainya? Ini pasti konspirasi.
Saat itu, Asa Yon datang dengan para klan Asa dan menunjukkan kertas besar.
“Ini wasiat Isodunyong, dewa Gunung Puncak Putih, yang tak pernah tidur. : Kuberikan wasiat Isodunyong. Gosal Igutu dan Neanthal yang mati di Atturad telah menyerang tanah dan udara Arthdal. Maka itu, kami ingin menenangkan dan mengembalikan gosal. Tagon, Pemimpin Serikat, bertanggung jawab telah menutupi Atturad dan Arthdal dengan darah ungu dan biru. Dia harus memperbaikinya. Kau harus ke Kuil Agung dan ikut dalam ritual Saenamsani (ritual menenangkan spirit pendendam) Isodunyong,” bacakan Asa Yon.
Tagon tampak sangat marah dengan Asa Ron kali ini.
--
Asa Ron dapat menebak kalau Tagon akan marah. Tapi, Tagon harus menyadari kalau walaupun dia pemimpin serikat, pemimpin pasukan Daekan dan cerdas serta cerdik, semua itu tidak akan cukup untuk mengalahkan klan Asa yang keramat. Mereka akan tahu siapa yang lebih di hormati oleh warga.
Mihol ada di sana dan bertanya, bagaimana cara Asa Ron mengubah warna bulu burung itu? tampaknya sepertinya, bulu burung itu di cabut dan di lumuri racun.
“Jika mau bekerja sama, sebaiknya kau jangan banyak tanya tentang Klan Asa,” perintah Asa Ron.
Mihol mengerti dan tidak bertanya lagi.
--
Asa Yon membawa Tagon yang telah di pakaikan pakaian berwarna putih pergi ke Kuil Agung dengan berjalan telanjang kaki. Di dalam, Asa Ron telah menantinya. Dan para menteri juga sudah berkumpul.


Asa Ron mendekati Tagon. Tagon tampak sangat marah dan dengan penuh rasa terpaksa, berlutut di depan Asa Ron untuk memulai ritualnya. Asa Ron memulai ritual, dan tentu semua kita tahu kalau ritual itu hanyalah akal-akalan Asa Ron untuk mempermalukan Tagon.
--

Malam hari,
Tanya dan Saya pergi ke hutan. Dan tampaknya Saya hendak melakukan sesuatu. Dia membawa banyak cat wajah dan juga cermin. Tanya kemudian bertanya, karena dia masih tidak mengerti dengan maksud Saya kalau Tagon Niruha di jebak. 
“Mereka bilang kutukan menimpa kita karena ayahku membasmi Neanthal dan menjadi Pemimpin Serikat,” ujar Saya.
“Boleh kutanya apa rencanamu?”
“Pergi ke sana dan awasi sekitar,” perintah Saya dan Tanya langsung berbalik dan menjauh untuk mengawasi. “Asa Ron mau buktikan sesuatu. Tagon bisa membunuh Neanthal yang  hidup, tapi gosal hanya bisa ditenangkan oleh Klan Asa. Dan itu dikatakan oleh seorang gyeotjjok (keturunan tidak langsung). Dia bicara pakai lidah tajamnya dan menunjukkan mereka telah melindungi kami selama 1.000 tahun.”
“Kekuatan? Bisakah hal itu jadi kekuatan seseorang?”
“Itu kekuatan yang terhebat. Bisa membuat ayah bertekuk lutut. Namun, aku dapat peluang. Berkat Asa Ron yang membawa Neanthal dan Igutu yang dahulu pergi,” ujar Saya.
Tanya bingung, dan saat dia berbalik, dia sangat terkejut melihat Saya menghias wajahnya sama seperti cara Suku Wahan.
“Kenapa ini jadi kesempatan bagimu?”
“Kenapa ini jadi kesempatanku? Kuberi tahu saat kembali,” ujar Saya dan langsung pergi.
--

Tagon masih melakukan ritualnya. Matanya menatap ke langit-langit Kuil Agung dan terlihat ada ukiran berbentuk lukisan (nggak begitu jelas, tapi seperti seorang dengan rambut panjang dan ada serigala?) Itu adalah lukisan Isodunyong.
--
Tanya masih memikirkan bagaimana caranya Saya bisa mengetahui lukisan wajah suku Wahan? Apa dia melihatnya dari mimpi?
Saat itu, Saya kembali dan sudah membersihkan wajahnya. Dia berkata urusannya sudah selesai dan mengajak Tanya untuk pulang.
“Kau tanya kenapa tindakan Asa Ron menguntungkanku. Orang memuja hal yang ditakuti,” Saya mulai menjelaskan, tapi Tanya tidak fokus karena memikirkan kemana Saya pergi setelah melukis wajah tadi. “Dahulu, kudengar ada orang melayani Neanthal. Namun, tidak lagi. Kenapa? Karena Neanthal dibantai dan tak ditakuti lagi. Namun, Asa Ron kini memanggil spirit mereka. Alhasil, mendatangkan lagi rasa takut pada Neanthal.”
“Begitu.”
“Kau mendengarkanku?”
“Sejujurnya, aku tak mengerti.”
“Dewa terhebat Arthdal akan bergerak.”
“Yang mana? Isodunyong atau Daraburu?”
“Bukan. Dewa ribuan mulut dan telinga. Rumor. Rumor akan melanda Arthdal,” jelas Saya.


No comments:

Post a Comment