Sunday, June 30, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 09-1

0 comments
Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 09-1
Images by : TvN
Part 2 : The Sky Turning Inside Out, Rising Land

Saya bingung dengan perubahan sikap mendadak Tanya, apalagi Tanya menyebutnya ‘tuan’. Dia bertanya alasan Tanya tiba-tiba berubah. Tanya menjawab kalau dia hanya ingin hidup dan tidak mau mati. Saya tetap tidak percaya dan bertanya apakah Tanya tahu apa yang di inginkannya dan apa yang di takutinya?
“Kau ingin kebebasan dan takut terkurung atau di awasi,” jawab Tanya.
Tidak hanya itu, Tanya bahkan memberitahu Saya kalau Taealha memerintahkannya untuk terus mengawasi Saya. Tapi, dia tidak akan mematuhi perintah Taealha. Dia hanya akan melaporkan pada Taealha apa yang Saya ingin dia katakan dan laporkan.
Saya langsung memperingati Tanya untuk tidak menganggap remeh Taealha, atau Tanya akan terbunuh. Tanya menatapnya dan menjawab dengan yakin kalau dia tidak akan mati. Dia bukanlah Saenarae. Dia terus menatap Saya yang mengingatkannya akan Eunseom.
“Dan aku bukan temanmu yang sudah mati,” ujar Saya dan memalingkan wajah. “Jangan menatapku seperti itu lagi.”
Setelah itu, Saya langsung keluar dari gudang. Diluar, Saya memegang dadanya yang berdegup kencang. Sepertinya, dia mulai menyukai Tanya.
Arthdal Chronicles

Rombongan budak di berhentikan di tengah hutan untuk beristirahat. Para majikan makan dengan sangat enak sambil tertawa-tawa, sementara para budak hanya bisa menatap mereka dengan tatapan kelaparan. Salah seorang budak, berbicara dengan bahasa suku-nya, kepada para majikan. Tapi, tentu saja para majikan tidak tahu apa yang di katakan budak tersebut.
Teodae langsung menerjemahkan kalau budak itu memohon agar di beri makanan. Atau setidaknya, berikan mereka sedikit air.
Para majikan itu langsung berdiri dan menghampiri mereka. Dia berjalan ke arah Eunseom dan menyuruh Eunseom mengikuti perkataannya : “Namaku Ungu. Aku lahir dari jalang kotor yang bercinta dengan Neanthal. Aku anak monster. Yaitu, Igutu.”
Eunseom hanya menatapnya dan tidak mau mengucapkan sepatah katapun. Majikan itu tidak menyerah dan terus menerus mengulang perkataannya tersebut agar Eunseom mengikutinya. Tapi, karna Eunseom tidak mau berbicara, mereka langsung memukulnya dengan kayu secara brutal.

Setelah itu, mereka menarik Teodae dan menyuruh Teodae menerjemahkan perkataannya ini kepada para budak : “Aku adalah Saram. Kalian hanya hewan hina, dujeumsaeng, dan si brengsek itu Igutu, yang lebih hina daripada dujeumsaeng.”
Teodae dengan suara bergetar menerjemahkan semua ucapan majikan itu. Dan dengan kejam, dia berkata kalau ocehan mereka semua tidak akan pernah dia dengarkan. Kenapa? Karena ucapan sama seperti air, hanya mengalir dari tempat tinggi ke rendah. Dan sebab itu, mereka tidak boleh meminta air darinya.
Tapi, dia berteriak agar mereka mengikuti ucapannya : “Aku adalah dujeumsaeng. Apa itu dujeumsaeng? Hewan hina yang bisa berjalan pakai dua kaki, tapi tidak bisa terbang. Ayam dan kalian! Dan aku Saram!”
Dan jika semua berteriak : “Aku dujeumsaeng!” dia akan memberikan air. Tapi, tidak ada satupun yang mau berteriak. Para majikan tidak peduli jika mereka tidak mau berteriak. Toh jika sudah tiga hari, palingan mereka hanya akan meminum darah ibu mereka (maksudnya saling membunuh gitu, sepertinya).

Sementara Eunseom sudah sangat terluka parah dan hanya bisa menatap mereka semua. Dia tampak sangat tidak bertenaga.

Esok hari,
Perjalanan kembali di lanjutkan di cuaca yang sangat terik.
--
Tanya sudah di bebaskan dari hutan dan dia membersihkan ruang-ruangan. Setelah itu, dia masuk ke kamar Saya dan meminta izin untuk membersihkan cermin. Saya mengiyakan dan sedikit mengabaikan Tanya.

Tanya diam menatapnya. Saat itu, terdengar suara burung dan Saya langsung menatap keluar jendela melihat bara burung tersebut. Tanya langsung teringat cerita Eunseom mengenai mimpinya yaitu kalau dia membenci burung dalam mimpinya. Itu karena dia terkurung tapi para burung bisa terbang bebas. Dia ingin menangkap burung-burung itu, tapi dia tidak berdaya. Karena itu, dia terkadang menangis.
Mengingat mimpi tersebut, Tanya dengan perlahan bertanya pada Saya, apa Saya ingin menangkap burung tersebut?
--

Mereka pergi ke lapangan luas. Tanya mengikatkan batu pada sebuah kain panjang dan mulai bersiul memanggil burung. Saya tentu takjub apalagi Saya berkata kalau dia bisa memanggil sekitar 15 spesies burung. Bukan hanya itu, dia semakin takjub saat Tanya bisa menangkap burung (menjatuhkan) hanya dengan batu dan kain panjang, bukan panah.

Tanya kemudian menghampiri burung yang sudah di tangkapnya dan berdoa karena burung itu telah mati rela tertangkap demi kemajuan mereka. Saya sedikit tidak percaya karena itu seperti omong kosong, tapi tetap saja dia terkesan.


Melihat kalau Saya sepertinya tertarik dengan caranya menangkap burung, Tanya langsung menawari diri untuk mengajarkan Saya menangkap burung dengan kain dan batu. Setelah beberapa kali latihan, Saya akhirnya mampu melakukannya. Saya tertawa sangat bahagia karena hal itu. Begiitu pula, Tanya.

Setelah itu, mereka mulai membuat api dan memanggang burung yang tadi mereka tangkap. Saya mengeluh kalau dia tidak bisa memakan burung, dan Tanya langsung mengupas dan memberikan daging burung pada Saya. Saya mencobanya dan terkesan dengan daging burung.
“Aku yakin banyak hewan lezat di sini. Kenapa tempat ini jadi seperti ini?” tanya Tanya.
Seperti ini? Bisa kau jelaskan?”
“Maksudku… Ada terlalu banyak makanan, semua rumah sangat besar. Terlalu banyak orang juga.”
“Aku yakin dahulu sama seperti tempat asalmu. Konon jadi seperti ini setelah Aramun Haesulla membentuk Serikat.”
“Omong-omong, Serikat? Apa tepatnya itu?” tanya Tanya, lagi.
“Aku ragu kau paham konsepnya, tapi Serikat adalah…”
--
Tanya sudah kembali bekerja di benteng. Dan dia teringat penjelasan Saya mengenai serikat. Saat rapat, para ketua suku berkumpul dan di sanalah pemimpin serikat akan di bentuk. Aramun Haesulla membentuk Serikat. Mengingat nama Aramun, Tanya jadi teringat saat ibu Eunseom menyebut nama Eunseom dengan Aramun (episode 01). Mungkinkah Aramun itu?
“Ada lebih dari 300 suku. Yang terbesar adalah Suku Saenyeok. Suku Gunung Putih yang kedua. Tagon dan Sanung dari Suku Saenyeok. Asa Ron dari Suku Gunung Putih. Aku harus tahu semuanya dahulu. Itu awalnya,” tekad Tanya.
--
Malam hari telah tiba,
Para majikan itu masih terus menyuruh Eunseom mengikuti perkatannya. Tapi, Eunseom malah meludahinya. Dia tidak berbicara sama sekali. Dan ya lagi, mereka memukuli Eunseom dengan brutal.

Para budak lain hanya bisa menundukkan kepala, tidak berani menatap. Majika mulai mendekati para budak dan menyebarkan air ke tanah. Membuat semua semakin haus. Bahkan satu persatu budak akhirnya berkata : “Aku adalah dujeumsaeng.” Teodae sendiri sudah tampak sangat goyah.

Bangs**! Walau para budak sudah mengatakan kalimat itu, mereka malah melempar air tidak ke dalam mulut mereka tapi ke batu, hingga mereka harus menjilat. (Aku menanti kebangkitan Eunseom atau siapapun dan memunashkan mereka!)

Teodae benar-benar tergoda dan merangkak ke arah majikan. Dalsae menghentikannya. Jika mereka melakukannya, bagaimana dengan Eunseom? Eunseom mau menyelamatkan mereka, walaupun dirinya sendiri masih cedera dan akhirnya menjadi seperti itu.

Teodae menatap ke arah Eunseom yang tidak berdaya. Dia jatuh terduduk dan menangis. Dalsae pun menangis.
--
Chae-eun panik dan memberitahu pada Harim dan Mubaek kalau para suku wahan itu menghilang. Dan Nunbyeol sendiri dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Mereka pergi saat Nunbyeol keluar ambil obat. Dia mencari mereka di pergunungan, merasa ini salahnya,” sesal Chae-eun.
“Aku tahu dia masih muda, tapi kenapa dia membiarkan itu?”marah Mubaek.
“Itu salahku. Kuminta Nunbyeol mengawasi mereka dan menemui ahli obat,” ujar Chae-eun.
“Kita harus bagaimana?” tanya Harim.
--

Para budak kembali melanjutkan perjalanan. Dan kali ini, mereka di pukuli jika berjalan lambat. Saat itu, Teodae terjatuh dan menemukan sebuah kayu dengan ujung yang tajam. Teodae mengambil kayu tersebut. Dia lanjut berjalan sambil menatap Eunseom yang ada di sebelahnya dengan tatapan kebencian. Dalsae melihat tatapannya.
--
Mubaek menemui Moogwang dan memarahinya karena telah menjual suku Wahan. Dia mau tahu Moogwang menjualnya kemana!
“Gilseon bilang menjual mereka pada Syoreujagin atau siapalah. Kami sudah dibayar.”
“Syoreujagin? Baiklah,” ujar Mubaek dan beranjak pergi.

“Apa kau ke Gunung Puncak Putih?” tanya Moogwang, menghentikan langkah Mubaek. Saat itu, Yeonbal kebetulan lewat dan langsung menguping. “Kau ke sana, ya? Kau ke sana, benar? Kau menemui Asa Sakan? Ternyata benar. Kenapa kau ke sana? Apa rencanamu? Kau mau bekerja sama dengan Asa Ron? Karena dia, Tagon jadi…”
“Bukan seperti itu.”
“Mubaek. Jika kau berpikir mau mengkhianati Tagon, sebaiknya hentikan. Bahkan aku pun bisa merasakannya. Tagon pasti akan tahu.”
--

Dan Yeonbal langsung menemui Tagon dan hendak melaporkan apa yang di dengarnya tadi. Dia merasa kalau Mubaek menjadi sedikit aneh setelah kembali dari Iark.
--
Mubaek menemui Seucheon dan memberitahu mengenai Syoreujagin dari Doldambul yang membeli suku Wahan.
“Syoreujagin dari Doldambul? Astaga. Mungkin sudah terlambat. Mayoritas orang memang benci Igutu. Namun, si berengsek Syoreujagin sangat benci mereka. Astaga. Dia pasti sudah mencelakai Eunseom,” panik Seucheon.
“Pergi selidikilah,” perintah Mubaek.
--
Malam hari,
Para budak kembali berisitirahat. Dan para majikan mempermainkan mereka semua yang ingin minum. Teodae benar-benar sudah kehilangan pikiran, maksudnya dalam keadaan antara sadar dan sadar.
“Aku dujeumsaeng. Aku adalah hewan. Apa sulitnya? Apa salahnya menjadi hewan? Ada Igutu yang lebih hina daripada hewan. Ayo bilang saja kita adalah hewan dan Eunseom jauh lebih hina daripada…,” ujar Teodae.
“Jangan bicara begitu tentangnya,” marah Dalsae.
“Kau… meninggalkan kami. Bukan hanya Mungtae, kau juga meninggalkanku. Namun… kau tak meninggalkan Eunseom?”
Dalsae menunduk dan menangis. Dia marah tapi juga merasa sangat bersalah hingga tidak tahu harus berbuat apa.
Dalsae langsung menghampiri Eunseom dan berusaha menyadarkannya. Teodae diam-diam meraih kayu tajam yang di temukannya tadi. Saat semua orang sudah tertidur termasuk Dalsae. Teodae dengan perlahan, berjalan menemui Eunseom dengan membawa kayu tajam tersebut.

Dia mengarahkan kayu tersebut ke arah leher Eunseom. Tapi, dia tidak sanggup untuk membunuh Eunseom sama sekali. Eunseom terbangun dan menatapnya. Mata Teodae berkaca-kaca dan dengan suara pelan, dia meminta Eunseom untuk mengatakan sama seperti yang di minta oleh para brengsek itu.
“Kau bisa melakukannya jika kulakukan? Silakan lakukanlah. Namun... Aku tak bisa. Kau tahu itu. Namaku adalah seperti mantra, yang diucapkan ibuku dan Tanya. Hanya itu yang kumiliki, jadi, aku tak bisa merelakan namaku,” ujar Eunseom.
Mata Teodae semakin berkaca dan dia tertawa, “Baiklah. Baguslah, dasar angkuh. Kau pikir kau lebih baik daripada kami? Kau tak peduli pada apa yang aku dan Dalsae alami, ya? Kau hanya peduli tentang nama yang sangat kau banggakan, ya? Baiklah. Bagus untukmu, Berengsek.”
Dan dia menjauhkan kayu tajam itu dari Eunseom dan kemudian… menusukkan kayu tersebut ke lehernya sendiri. Darah menciprat ke wajah Eunseom. Teodae membunuh dirinya sendiri di depan Eunseom

Eunseom menjerit histeris melihat hal tersebut. dia tidak bisa berbuah apapun karena tubuhnya di ikatkan di pohon. Teriakan histeris Eunseom tersebut, membangunkan semua orang. Dalsae sangat shock.
(astaga, aku merinding!)

No comments:

Post a Comment