Tuesday, June 18, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 06-3

1 comments

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 06-3

Images by : TvN
Part 1 : The Children of Prophecy
Mubaek menebak kalau mungkin Asa Ron yang memindahkan suku Wahan. Dujeumsaeng itu pasti masih ada di Arthdal. Dan Tagon merencanakan pengkhianatan. Jadi, apa yang harus di lakukannya?
Dia kemudian teringat ucapan Asa Sakan kalau pria yang membunuh ayahnya sendiri akan melawan benda langit dan memastikan dunia tidak berakhir. Apa hal itu merujuk pada Tagon?
Flashback

Kitoha menemui Mubaek dan memberitahu kalau sepertinya pria yang mengedarai kuda di Iark (Eunseom) adalah orang yang membunuh Sanung Niruha. Mubaek jadi makin bingung, kuda yang di kendarai oleh Eunseom adalah Kanmoreu dan ada kemungkinan kalau Eunseom adalah Aramun Haesulla.
End
Semua teka-teki itu terus berputar di dalam kepala Mubaek, menunggu untuk di pecahkan. Dan juga Asa Sakan mengatakan ada 3 benda langit, : Pedang, Lonceng dan Cermin. Dimana ketiga benda yang di maksud tersebut?
--

Seseorang berpakaian jubah putih, menggunakan benda menyerupai cermin bulat, dan mengarahkan cahaya bulan dengan cermin itu ke wajah Tanya yang tertidur. Karena cahaya itu, Tanya membuka matanya. Dia terkesiap melihat sosok di hadapannya. Sosok berjubah putih itu tidak di perlihatkan jelas wajahnya, tapi dia memberi tanda dengan jarinya agar Tanya tidak berisik.

“Eunseom?” gumam Tanya.



Pria itu kembali mengarakan telunjuknya ke mulutnya, menyuruhnya untuk diam. Tanya memperhatikannya dan melihat sosok itu mengenakan kalung hitam. Tidak hanya itu, di rambut pria itu ada jepitan. Kemudian, pria itu menunjuk ke arah salah satu benteng api. Saat Tanya menoleh ke benteng itu, pria itu langsung menghilang.

Tanya terkesiap karena mimpinya tersebut dan membuat Yeolson terbangun.
“Ayah, Eunseom tadi di sini. Dia pakai kalung dan gelang dari Batu Keras,” beritahu Tanya. “Aku serius. Aku sungguh melihatnya. Eunseom ada di sini. Dia datang untuk menyelamatkan kita. Dia tadi di sini.”
“Tanya. Kedengarannya kau… akhirnya… bermimpi,” ujar Yeolson. “Akhirnya. Kau bermimpi. Namun, kenapa?  Kenapa sekarang?”
“Mimpi?” gumam Tanya. “Semua percuma sekarang,” ujar Tanya tampak tidak menyukainya.
Tapi, matanya kemudian melihat sesuatu di tanah.
--

Yeobi pergi menemui Eunseom di dalam sebuah gua. Begitu masuk, Eunseom yang menutupi dirinya dengan pakaian hitam, langsung bertanya dimana Mihol?
“Dia mau bertemu denganmu. Ikuti aku. Kau akan temui dia,” ujar Yeobi. “Tidak ada perangkap. Kami amat butuh senjatanya,” lanjutnya tanpa menoleh (karena Eunseom melarangnya menoleh).
“Jalan lebih dulu,” setuju Eunseom.
--


Asa Ron bersama Asa Mot menemui Danbyeok. Mereka membahas mengenai kematian Sanung Niruha. Asa Ron masih belum tahu kalau Danbyeok sudah tidak mempercayai Mihol dan mengira kalau Danbyeok masihlah memihak pada Mihol. Saat itu, seorang pengawal masuk dan melapor kalau pasukan Daekan bersenjata lengkap menuju ke benteng Api. Asa Ron langsung kaget.
--
Eunseom mengikuti Yeobi dan bertanya mau kemana mereka? Yeobi menjawab : “Benteng api.”
--

Asa Ron bersama pasukan Danbyeok tiba di Benteng Api. Mihol yang melihat kedatangan mereka merasa heran. Asa Ron segera memberitahu kalau pasukan Daekan-nya Tagon sedang menuju kemari. Mihol langsung bisa menebak kalau pasukan Daekan hendak menyerang untuk merebut kembali suku Wahan. Suku Wahan yang ada di sana, jelas bingung dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Bawa mereka ke Pilgyeonggwan. Sekarang!” perintah Mihol. “Halangi gerbang.”

Suku Wahan jelas menjerit ketakutan karena akan di bawa ke tempat asing lagi. Mereka kan sebelumnya berada di halaman, sekarang mereka di bawa ke dalam gedung. Mihol langsung menyuruh pelayannya untuk mengurung semua suku Wahan di dalam gudang.

Pasukan Daekan tiba dan mulai berusaha mendobrak gerbang benteng api. Perperangan langsung pecah begitu benteng berhasil di dobrak. Sekarang ke empat kubu saling berhadapan : Asa Ron, Mihol, Danbyeok dan Tagon.
Mihol berusaha tenang dan bertanya ada urusan apa mereka kemari? Ini adalah benteng api, daerah tempat tinggalnya!
“Karena ditangkap Pasukan Daekan di Iark, dujeumsaeng itu milik kami. Kami mau bawa suku Wahan kembali,” jawab Tagon dengan tenang.
“Jangan beri alasan konyol, Tagon,” Asa Ron angkat bicara. “Bukan karena itu kau kemari. Kami bawa mereka kemari untuk menangkap dujeumsaeng yang membunuh Sanung Niruha. Kau takut dujeumsaeng itu akan tertangkap. Maka itu kau kemari. Apa aku salah? Kau kemari karena takut akan kebenaran. Apa aku salah?”
“Kebenaran?” ulang Tagon. Danbyeok langsung menatapnya. “"Kebenaran," katamu? Kebenaran harus diungkap. Namun, aku tak percaya kau untuk mengungkapnya, Mihol.”
“Apa? Kenapa? Kenapa, Tagon?” tanya Mihol, tidak menduga jawaban Tagon.
“Karena kau mau membunuhku sehari sebelum Sidang Keramat,” jawab Tagon, membuat semuanya terkejut. “Kau coba menjebakku dengan menangkap dujeumsaeng itu.”
“Aku? Aku mencoba membunuhmu?”
“Kau minta Taealha untuk membunuhku. Bichwisan (racun tanpa warna, bau dan rasa) Tanpa bau, rasa, atau warna. Kau tahu, 'kan?”
Danbyeok yang mendengar itu jelas semakin tidak percaya dengan Mihol yang telah mencoba membunuh kakaknya, Tagon. Mihol masih berpura-pura tidak mengerti maksud Tagon. Sementara Danbyeok yakin kalau pasti bukan ayahnya yang memerintahkan hal tersebut. Dia jadi semakin yakin kalau Mihol telah berkomplot dengan Asa Ron, bahkan sebelum sidang keramat di laksanakan.
“Tagon. Tak penting ada kesalahpahaman apa atau apa masalah antara kau dan Mihol. Kau melanggar prinsip dasar Serikat dengan bawa Pasukan Daekan ke Benteng Api. Pemimpin Serikat tewas. Maka, ini otoritasku, Asa Ron, kepala Suku Gunung Puncak Putih dan Pendeta Tinggi. Kini, kuperintahkan Tagon ditangkap!” ujar Asa Ron. “Tagon, menyerah saja. Kami sudah panggil penjaga dari seluruh Arthdal, dan mereka sedang kemari. Pasukan Daekan mungkin berani, tapi kalian kalah jumlah. Tolong bekerja sama!” lanjutnya.
Mihol tersenyum senang. Dan Asa Ron segera memerintahkan pasukan Danbyeok untuk menangkap Tagon. (Jadi, kini pasukan Danbyeok itu pengawal yang bertugas menjaga kentetraman Arthdal, sementara pasukan Daekan milik Tagon adalah pasukan khusus yang di perintahkan untuk memberantas pemberontak di luar Arthdal). Sayangnya, semua pasukan Danbyeok hanya diam. Asa Ron jadi kesal dan menyuruh Danbyeok untuk segera memerintah anak buahnya itu untuk menangkap Tagon.
“Mihol. Putrimu, Taealha, menghilang pagi itu di hari Sidang Keramat. Apa yang kau lakukan? Kau ikuti perintah siapa?” tanya Danbyeok.
“Apa maksudmu? Kuikuti perintah Sanung…”
“Tidak! Ayahku tak mungkin beri perintah itu. Jika Tagon tewas sebelum sidang itu, yang paling diuntungkan adalah yang menyudutkannya. Asa Ron, Pendeta Tinggi. Penjaga, hunus pedang!” perintah Danbyeok. “Kuperintahkan tangkap Asa Ron Niruha dan Mihol, kepala suku Hae, untuk mengungkap kebenaran!”


Tagon tersenyum puas karena semua berjalan sesuai rencananya. Mihol dan Asa Ron sudah tersudut. Tapi, Mihol tiba-tiba tertawa dan melihat ke atas, di atas ada Hae Heulrib.
“Bulan purnama ada di langit. Namun, kebetulan tertutup awan gelap di langit malam. Ini Benteng Api. Ini rumahku,” ujar Mihol dan mengadahkan tangan ke atas. Pas saat itu, Heulrib memotong rantai sehingga semua api penerangan yang ada langsung padam dan terjadi kegelapan.
Semua gempar. Tidak bisa melihat apa yang terjadi. Dan pintu gerbang pun langsung di tutup dengan besik dari luar.
Suara ribut-ribut diluar itu, terdengar hingga ke dalam gudang dimana suku Wahan terkurung. Salah satu pengawal jadi penasaran dengan yang terjadi, dan malah mengintip keluar pintu. Dalsae melihat adanya kesempatan segera menyerang dan merebut pisau serta menghunuskannya ke pengawal itu hingga tewas. Semua suku Wahan langsung senang apalagi dengan pisau itu, Dalsae memotong tali yang mengikat mereka semua.
“Ayah Yeolson, sekarang apa?” tanya Dalsae. “Ayo bunuh minimal satu. Mari mati bertarung.”
“Bertarung dalam nama Wahan,” timpal yang lain.
Yeolson terdiam sesaat. “Tidak. Wahan... sudah tak ada lagi. Kubuat keputusan bijak terakhir. Buksoe dari Wahan. Mungtae dari Wahan. Agaji dari Wahan. Semua warga Wahan. Mulai saat ini, kubebaskan semua nama kalian yang terikat dengan Wahan. Kini, kita mandiri. Kita putuskan sendiri dan hidup mandiri. Beberapa akan mati. Beberapa akan hidup. Mari berhenti berharap kita akan bertemu setelah mati. Berharaplah kita akan bertemu lagi semasa hidup. Jangan pernah bertekad untuk mati bersama lagi. Pergilah. Kini, pergilah,” putuskan Yeolson.
Semua menangis mendengar keputusan Yeolson. Arti dari keputusan Yeolson adalah mereka akan berusaha hidup sendiri walau itu artinya mereka akan tercerai berai bersama dengan yang lain.
Dalsae berdiri sambil menangis. Mungtae dan Buksoe serta yang lain mulai berdiri satu-persatu. Mereka mendengarkan keputusan terakhir Yeolson. Mereka berjalan keluar dari gudang, berpisah satu sama lain. Yeolson masih ada di dalam gudang dan memberi tanda agar Tanya juga pergi.
--
Yeobi dan Eunseom tiba di dekat Benteng Api dengan obor di tangan Yeobi. Saat itu, mereka mendengar suara orang-orang berteriak di dalam Benteng Api yang mencari obor. Yeobi sadar sesuatu yang buruk telah terjadi.
Pasukan di dalam Benteng Api, tidak bisa mengenali satu sama lain karena kegelapan tersebut. Dalsae dan yang lain memanfaatkan moment tersebut untuk memukul mereka dan kabur dari dalam Benteng Api. Tapi, tentu saja sangat sulit karena mereka saling bertabrakan satu sama lain.

Di tengah kekacauan tersebut, Tanya melihat sebuah pintu, sehingga dia memutuskan untuk masuk ke dalam pintu tersebut. Begitu masuk, Tanya segera menutup pintu dengan rapat. Ruangan itu seperti ruangan belajar. Banyak kertas dan tulisan yang asing bagi Tanya. Tanya segera masuk lebih dalam dan menemukan tangga menuju ke atas.


Tanya menatap tangga itu dan menatap liontin batu keras yang ada di genggamannya. Liontin itu dia temukan di tanah. Dan dia ingat kalau liontin batu itu adalah yang di kenakan sosok yang di lihatnya. Dia juga teringat sosok itu menunjuk ke arah atas menara. Hal itu membuat Tanya yakin kalau semua bukanlah mimpi.
Dengan cepat, Tanya menaiki tangga tersebut. Tangga itu sangatlah tinggi.
--
Dalsae berhasil kabur dari para pengawal di lapangan dengan Buksoe yang terluka. Mereka menemukan pijakan untuk keluar dari dalam benteng. Sebelum kabur, Buksoe sempat bertanya bagaimana dengan Mungtae dan Teodae? Dalsae tidak bisa menjawab dan menyuruh Buksoe untuk cepat manjat saja.



Mereka berhasil memanjati benteng dan keluar. Diluar, mereka beruntung karena bertemu dengan Eunseom dan Yeobi. Sialnya, Yangcha melihat mereka. Yeobi panik melihat Yangcha yang adalah pasukan Daekan tapi kenapa bisa berada di Benteng Api.
--


Di atas tangga itu, ada sebuah pintu. Dengan hati-hati, Tanya masuk ke dalam-nya. Di dalam, ada sebuah tempat tidur, permainan catur batu hitam putih dan sebuah meja. Dan… sesuatu yang terlihat di mimpi Eunseom!
“Semalam mimpinya sama, tentang dikurung. Aku dikurung dalam tempat yang dikelilingi bebatuan. Tergantung di dinding, ada kulit yang disamak dengan lukisan aneh. Lembaran kayu dijahit menyatu, digulung menjadi silinder,” Tanya teringat cerita mimpi Eunseom (baca di episode 02).
“Aku ada di mimpi-nya Eunseom,” ujar Tanya dalam hati.
--

Yeobi berpas-pasan dengan Mubaek saat kabur. Begitu melihat Mubaek, Yeobi langsung memberitahu kalau dujeumsaeng pembunuh Sanung ada di sana. Mubaek langsung pergi sesuai arah yang di tunjukkan Yeobi.
--

Eunseom menyuruh Dalsae untuk kabur bersama Buksoe, sementara dia yang akan menghadapi Yangcha. Yangcha segera menyerang dengan rantainya. Sementara Dalsae langsung kabur dengan Buksoe (mereka ragu kabur, tapi Eunseom berteriak menyuruh mereka cepat kabur).

Eunseom mengeluarkan pedang kecilnya dan mengenggamnya dengan erat.
--


Tanya melihat ke sekeliling ruangan. Di ruangan itu terdapat cermin. Tanya terkejut melihat wajahnya di cermin (dia belum pernah melihat cermin sebelumnya). Dan saat berjalan mundur, dia menginjak sebuah bel. Tanya mengambil bel itu.
Bel itu berdentang.
--
Mubaek masih berlari menuju ke Benteng Api sambil mengingat perkataan Asa Sakan.
Sekitar dua dekade lalu, tiga benda ini muncul bersama di dunia. Apa tiga benda langit itu?


Lonceng untuk bergema di seluruh dunia (Tanya sedang memegang lonceng dan suaranya lonceng itu terus berdentng) ;

Pedang untuk membunuh dunia (Eunseom sedang mengenggam erat pedang/pisau kecilnya dan tatapan matanya siap menyerang) ;

dan Cermin untuk menerangi dunia (Seseorang membuka tirai yang berada di belakang Tanya. Orang itu memiliki wajah sama persis seperti Eunseom. Dia adalah pria yang menemui Tanya. Dia adalah Saya)
Tiga benda ini akan mengakhiri dunia.

-Bersambung-
Epilog
20 tahun yang lalu,

Saat Yeolson sedang di luar, dia melihat sebuah komet biru : “Kenapa komet itu harus muncul sekarang? Bagaimana jika dia melahirkan hari ini?” khawatir Yeolson.
Dan benar saja, terdengar suara tangis bayi dari rumahnya.
--
Di Arthdal, Ragaz juga melihat komet biru tersebut. Dan dia bisa mendengar suara tangisan bayi dari kejauhan. Dengan kencang, Ragaz berlari ke gua-nya.


Di sana, Asa Hon baru saja melahirkan. Ragaz melihat bayinya dan Asa Hon. Dia merangkak perlahan mendekati bayi itu. Asa Hon melihatnya dan tersenyum.

Ragaz menyentuh bayinya. Tidak hanya satu. Tapi dua. Bayi kembar (Eunseom dan Saya)
Eunseom : di besarkan Asa Hon dan di bawa ke Iark.
Saya : yang di temukan Tagon di hutan (baca episode 01 part 2) dan dia minta Taealha untuk membesarkannya.

Dan berakhirlah Part 1 dari Arthdal Chronicles : The Children of Prophecy (Anak-anak Nubuat). Episode selanjutnya, kita akan masuk dalam Part 2 dari Arthdal Chronicles 😊



1 comment: