Sunday, July 7, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 11-2

0 comments

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 11-2
Images by : TvN
Part 2 : The Sky Turning Inside Out, Rising Land

Para pekerja membicarakan penyakit Sateunik. Jika memang penyakit darah, maka Sateunik tidak akan mampu menggali tiga sampai empat ember lumpur. Dan hanya akan menyia-nyiakan makanan mereka semua. Dan kemudian mati.
Olmadae berkata kalau setidaknya penyakit itu tidak lah menular. Salah seorang berkata kalau dia berharap jika itu menular jadi mereka semua dapat mati.
“Pikirmu Syoreujagin akan biarkan kita mati? Dia hanya punya kita.”
“Di Gitbadak, separuh budak tewas karena wabah. Yang tahu ada wabah jadi takut turun. Hanya Syoreujagin yang turun. Dia gali mayat, coba menyelamatkan mereka. "Ini bisa jadi berapa permata? Kalian tak boleh mati!" Dia keranjingan permata.”
Dan Eunseom memikirkan semua perkataan mereka tersebut. Saat itu, Ipsaeng menghampiri Eunseom. Dia memperlihatkan permata yang di simpannya dan menawarkannya pada Eunseom. Permata ini tidak berguna di sini tapi berguna di Arthdal jika mereka sudah keluar. Jadi, dia meminta roti Eunseom dan berjanji akan membayarnya 10 kali lipat saat keluar. Dan Eunseom langsung memberikannya.
Beberapa pekerja langsung menyuruh Eunseom agar jangan mau di tipu oleh suku Ago. Tapi, Eunseom hanyalah diam menatap permata itu. Dia bergumam kalau ini menarik. Dia berkata dalam hatinya, kalau ini pasti adalah penyakit. Dia terkurung dan tidak berdaya, anehnya dia merasa tertarik menyusun strategi bebas.
--
Pasukan Daekan berlarian di pasar menuju bengkel penyepuhan. Mereka menuju kediaman Momyeonjing. Mereka mendapat laporan kalau Momyeongjin adalah Ketua dari Jiwa Gunung Puncak Putih. Dan mereka mendapati di tempat Momyeonjing ada ruang rahasia tersembunyi di balik batu. Dan di dalamnya mereka menemukan surat-surat dengan lambang totem itu.
--
Gilseon melapor kalau mereka sudah berhasil menangkap tetua Jiwa Gunung Puncak Putih karena mendapatkan laporan dan mereka menemukan buktinya. Tagon lebih bingung lagi karena laporannya datang bukan dari Kuil Agung, tapi dari Istana.

Tagon segera menemui Momyeongjing yang telah di ikat di sebuah ruangan. Dia mulai menanyai Momyeongjin, tapi Momyeonjng tidak tahu apapun apalagi mengenai dirinya yang adalah Igutu. Momyeonjin sendiri teringat mengenai ucapan Saya kalau dia akan mempertemukannya dengan Tagon.
“Sekitar setahun lalu, ada pemuda ikut pertemuan kami. Dia sangat setia. Dia tampaknya sangat tersentuh pada fakta bahwa kepala suku kami, Asa Sin, mengirim Igutu sebagai utusan. Dia yang bunuh pendeta itu.”
“Dia lakukan itu sendirian?”
“Ya, benar. Dia mulai menghasutku. Katanya, ini saatnya Jiwa Gunung Putih mengungkapkan diri. Aku menolak. Dia tawari pertemuan denganmu, Niruha. Kurasa inilah yang dia maksud.”
“Siapa dia?”
“Katanya dia Penulis di Suku Hae, tapi kurasa dia bohong.”
“Sangat mudah bagiku merenggut lidahmu saat ini juga,” ancam Tagon.
“Itulah katanya. Dia ingin kukatakan ini padamu. Kekuasaan Asa Ron palsu, bergantung pada keyakinan rakyat. Namun, kekuasaan Tagon Niruha sangat nyata. Jika kau pakai kekuatan itu...”
“Itu akan mengubah apa? Asa Ron ada di posisinya karena rakyat tak tahu dia keturunan palsu.”
“Dia bilang padaku keturunan sejati Asa Sin telah muncul. Dan… dia bilang kau juga tahu tentang itu.”
Tagon terkejut. Berarti itu adalah orang yang di kenalnya. Saya.
--
Tanpa membuang waktu, Tagon langsung pergi ke kediaman Saya. Dia menggeledah dan mendapati pakaian wanita. Dia sadar kalau Saya telah menyamar menjadi wanita pada malam itu, untuk mengelabui penjaga. Dia sangat marah karena Saya melakukan semua ini.
Dan seolah sadar kalau Tagon akan menemuinya, Saya langsung menemuinya langsung. Dia tidak takut lagi pada Tagon. Tagon langsung bertanya alasan Saya melakukannya. Tapi, saya menyuruhnya untuk segera melakukannya sekarang juga, atau semuanya akan terlambat.
Tagon mengeluarkan pedangnya, dan melihat itu, Saya langsung mengucapkan nama Tanya. Tagon tidak tahu dimana Tanya sekarang. Tagon sadar kalau Saya pasti telah menyembuyikan Tanya. Dimana?
--
Tanya masih saja menangis karena senang kalau Eunseom masih belum mati. Kemudian, dia mulai memikirkan mengenai dirinya yang bisa mendengar suara pikiran Chae-eun.
--

Tagon berteriak marah menyuruh Saya membawa Tanya ke hadapannya sekarang. Saya tidak mau memberitahu.
“Diam. Kau pikir kau bisa apa? Kau bukan siapa-siapa!” teriak Tagon, penuh amarah.
“Lalu, apa rencana Ayah? Jika kaki Taealha dipotong dan dibunuh, arwahnya akan merangkak ke keabadian setelah mati. Apa rencana Ayah? Haruskah kuberi tahu? Ayah akan cegah situasi memburuk dengan menghabisi Jiwa Gunung Puncak Putih mendahului Asa Ron. Lalu Ayah coba berunding dengannya. Sampai kapan Ayah mau ulangi pertarungan yang sama? Bekerjalah dengan kami.”
“Anggaplah ayah kerja sama dengan Jiwa Gunung Putih. Lalu apa yang terjadi?” tanya Tagon balik.
“Kami membuka diri pada dunia. "Keturunan Asa Sin ada di Arthdal. Tolak kebohongan, ikuti kebenaran. Habisi keturunan palsu dan kembalikan Kuil Agung ke keturunan Asa Sin." Lalu Ayah serang Kuil Agung bersama Pasukan Daekan. Lalu, Ayah akan jadi raja, dan aku akan jadi penerus Ayah. Tanya, Pendeta Tinggi baru, akan mengakui itu. Dan terakhir, ungkap darah kita ke seluruh dunia.”
“Kau sudah gila.”
“Lalu kenapa aku dibiarkan hidup? Kenapa? Ayah sangat malu sebagai Igutu hingga membunuh mereka semua. Apa Ayah ingin seorang tetap hidup? Karena Ayah, aku dikurung tanpa tahu alasanku sembunyi dan tak boleh bertemu siapa pun! Aku makan, baca, pakai semua yang Ayah berikan padaku. Seperti hewan! Aku menyadari jati diriku dalam gua gelap itu sendirian.”
“Jadi, kau sebut dirimu sebagai Igutu? Kau bangga bahwa kau Igutu?”
“Aku tetap hidup karena aku bangga. Tagon, seorang Igutu, adalah pahlawan Arthdal. Jiwa Gunung Putih menyatakan Aramun Haesulla adalah Igutu, dan dia dibunuh keturunan tak  langsungnya. Ya. Aku sembunyi dalam gelap hanya karena aku adalah Igutu. Namun, aku akan menuju cahaya saat Tagon tiba. Itu alasannya menyelamatkanku meski aku Igutu. Namun, sayangnya, aku salah.”
“Kau tumbuh besar dengan nyaman  walau hanya Igutu,” ujar Tagon. “Saat berumur tujuh tahun, ayahnya ayah mencekik ayah. Ayah dicekik oleh ayah sendiri. Itulah kehidupan seorang Igutu.”
“Kita bisa bunuh mereka lebih dahulu. Kita bunuh siapa pun yang membenci Igutu. Dengan begitu, Igutu akan ditakuti, tak lagi dianggap kesialan.”
“Ya, kita akan ditakuti. Namun, mereka yang ingin kau bunuh itu termasuk seluruh Pasukan Daekan, Suku Saenyeok, dan setiap orang dalam Serikat! Mereka tak mau punya raja seorang Igutu!” marah Tagon.
“Sudah tanya mereka?  Kenapa Ayah tahu padahal belum bertanya? Mereka tak pernah membayangkan atau terpikirkan hal itu. Bagaimana Ayah tahu mereka tak ingin rajanya seorang Igutu?”
“Lantas, kau tahu? Kau tahu apa pikiran rakyat Serikat jika rajanya Igutu?” tanya Tagon balik.
Saya menghela nafas. Dia menunjukkan ornamen Aramun Haesulla yang berbentuk koin. Bagian depan adalah bunga kamperfuli, simbol kedamaian dan bagian belakang, Palu Angin, simbol hukuman. Untuk hidup atau mati.
“Ayah tahu sisi yang muncul jika kulempar ini? Aku tak tahu, tak ada yang tahu. Namun, Airuju akan memilih bagian depan atau belakang. Aku pilih bertaruh pada ini daripada hidup seperti Ayah.”
“Ayah tak akan menyerahkan nasib kepada dewa,” ujar Tagon.
“Ya, tentu. Namun, Ayah harus memilih antara aku dan rakyat Serikat yang sangat Ayah puja. Ini saat Ayah memilih,” ujar Saya dengan tegas.
Saya hendak keluar, tapi Tagon segera mengeluarkan pedangnya, dia tidak akan membiarkan Saya pergi begitu saja. Saya segera mengeluarkan racun bichwisan, jika Tagon maju selangkah saja, dia akan langsung meminum racun itu. Tagon bertanya tidak percaya kalau Saya sanggup untuk bunuh diri.
“Sudah kubilang aku siap mati saat kemari,” ujar Saya dan melempar koin di tangannya kemudian keluar.
Setelah Saya keluar, Tagon menatap koin yang di lembar oleh Saya.
--

Ibu Chae-eun menemukan buku dengan lambang Jiwa Puncak Gunung Putih. Dia terkejut karena putrinya ternyata berhubungan dengan Jiwa Puncak Gunung Putih. Dia juga memberitahu Chae-eun kalau Momyeongjin sudah di tangkap. Chae-eun berusaha menjelaskan.
Tapi, Harim masuk dan memberitahu kalau Neanthal sudah datang kemari. Mereka datang untuk meminta Nunbyeol ikut dengan mereka. Akan tetapi, Nunbyeol menolak pergi. Chae-eun jelas kaget.
“Pergilah ke Alseom bersama Nunbyeol. Kalian sulit di temukan di sana,” perintah Harim.
--

Tagon akhirnya pergi kembali menemui Momyeonjing dan memberitahu kalau dia akan bekerja sama dengan Jiwa Puncak Gunung Putih. Tampaknya, pemuda itu juga sudah siap. Bagaimana dengan Momyeonjing? Apa siap? Mau melakukan ini?
--
Saya pergi ke gua Ggachi.

Saat dia masuk, semua pengikut sudah berkumpul dan tampak cemas dengan berita penangkapan Momyeonjing. Saya maju hingga ke depan mereka semua. Dan di tengah keruruman itu, ada Tagon yang menutupi dirinya dengan jubah hitam.

Saya keluar dan bertanya bagaimana caranya Tagon bisa tahu mengenai gua ini? dan Tagon menjawab kalau Momyeonjing lah yang memberitahunya. Saya tidak percaya kalau Momyeonjing akan memberitahu mengenai gua ini walaupun di siksa. Dan benar, Momyeonjing memberitahu Tagon karena Tagon berkata bahwa dia siap bergabung. Dengan satu syarat, dia menyuruh Saya tidak mengungkapkan jati diri mereka yang adalah Igutu hngga mereka benar-benar yakin. Dia memberikan koin yang di lemparkan Saya tadi, menunjukkan bunga kamperfuli bukan palu angin (jika palu angin, maka Tagon akan membunuh Saya).
“Akan kuturuti ayah,” ujar Saya.

Moogwang ternyata ada di sana dan mengintai dari atas. Dia terkejut saat mendengar Saya memanggil Tagon dengan sebutan ayah. Anehnya, Tagon tiba-tiba berujuar : “Aku minta maaf.”

Usai bicara dengan Tagon, Saya pun beranjak pergi ke tempat dia menyembunyikan Tanya. Dia tidak sadar kalau Moogwang dan seorang lagi mengikutinya.
--
Tagon kembali ke kediamannya. Di depannya telah ada semua pasukan Daekan.
--
Saya terus berjalan dengan santai menuju tempat dia menyembunyikan Tanya.
Tanya sendiri sadar kalau dia mendengar suara pikiran orang. Apa sunguh dia punya kemampuan cenayang dewa?
Saat itu, dia merasa kalau tempatnya berada dan api lilin seolah bergetar. Tanya sampai shock hingga memalingkan wajah. Dan semua kembali normal.

Saya tiba dan masuk ke dalam memanggil Tanya. Tapi, saat Saya masuk, Tanya malah menghilang. Saya segera keluar lagi dan orang-orang yang mengikutinya menduga kalau Tanya pasti sudah pergi lagi.
--

Tagon mengumumkan kalau target mereka adalah Kuil Agung. Karena itu mereka harus menyiapkan Pasukan Daekan dan siap berperang kapanpun. Dan juga siapkan 50 geun belerang dan madu, dan saat dia memerintahkan, segera bakar seluruh gua Ggachi. Termasuk orang-orang di dalam gua tersebut. jangan tersisa satu jasad pun.
Dan untuk Gilseon, dia memerintahkan agar mencari tawanan yang bisa mereka kirim ke Kuil Agung. Dia mau orang yang bisa menyanyi.
Saat itu, Moogwang datang dan melapor kalau Tanya menghilang. Tapi, dia sudah memerintahkan Hongsul untuk berjaga di sana.
Tagon segera memerintahkan Bakryangpung untuk membuat gambar Tanya dan menyebarkannya untuk mencarinya. Mengenai wajah Tanya, tanyakan pada Moogwang. Gadis itu sudah mengutuk Moogwang.
Mubaek sadar kalau gadis yang di cari Tagon adalah Tanya.
“Jika ada yang halangi kau mencarinya, bunuh saja,” perintah Tagon. “Siapapun mereka.”
Moogwang terkejut, menyadari kalau itu termasuk Saya, putranya.
--

Saya kembali masuk ke dalam tempat persembunyian tersebut dan kesal karena Tanya menghilang. Tapi, Tanya tiba-tiba keluar dari persembunyiannya dan memberitanda agar Syaa diam. Ada orang di luar. Dia juga tidak tahu, tapi merasakan ada orang.
Saya tidak percaya karena dia tidak melihat seorang pun tadi saat mencari Saya.
“Aku punya berita baik. Ayahku mau bergabung.”
“Tagon Niruha?”
“Jiwa Gunung Putih akan menyingkirkan penipu dan mengembalikan Kuil Agung ke pemilik sah. Itu kau, Tanya. Tanya Niruha, Pendeta Tinggi.”
“Aku keturunan Serigala Putih Besar, tapi bagaimana kau tahu bahwa dia sungguh Asa Sin?” tanya Tanya, ragu. “Apa orang akan percaya?”
“Untuk bisa diakui, kau harus punya lonceng bintang Asa Sin. Kau mungkin tahu apa itu?”
“Lonceng bintang?”
“Saat Asa Sin meninggalkan Arthdal, dia sembunyikan di Kuil Agung.”
“Aku baru dengar tentang keduanya. Jadi, bagaimana bisa…”
“Ya, tentu. Tak apa. Itu tak diperlukan selama ayahku bersamamu. Tunggu saja aku di sini.”
“Jadi... Jika aku menjadi Pendeta Tinggi... apa aku akan berkuasa?”
“Ya.”
“Aku bisa selamatkan suku Wahan dari perbudakan?”
“Tentu.”
“Bahkan yang sudah dijual jauh?”
“Katakan saja dan mereka akan segera dibawa padamu,” jawab Saya dan keluar.



No comments:

Post a Comment