Sunday, July 28, 2019

Sinopsis K- Drama : Class Of Lies Episode 4 - part 4

0 comments

Sinopsis K- Drama : Class Of Lies Episode 4 – part 4
Network : OCN

Won Suk mengomel tentang cara Tae Seok memperhatikan klien, karena Tae Seok memberikan seorang gadis cantik yang masih tampak sangat muda untuk melayani si klien di sky box (ruangan VIP bioskop).
“Hei, kamu punya foto lain yang menunjukkan wajahnya? Wajahnya tidak terlihat,” kata Moo Hyuk, memperhatikan foto itu.
“Perbesar saja,” balas Won Suk. Dan terlihatlah wajah si klien.

Moo Hyuk sangat terkejut saat mengetahui bahwa si klien adalah Wakil Manajer Yang dari kejaksaan. Dan Moo Hyuk pun teringat kalau Do Jin pernah menyebutkan nama tersebut, ketika menyerahkan kasus Han Su kepadanya.
“Dasar bedebah,” gerutu Moo Hyuk.
“Ada apa? Kamu mengenalnya?” tanya Won Suk.
“Aku sangat mengenalnya. Wakil Manajer Yang Sang Bae. Dia bedebah yang bekerja dengan Lee Do Jin untuk menghancurkan hidupku. Aku tidak pernah menduga ini,” jelas Moo Hyuk dengan kesal.
So Hyun datang ke rumah Moo Hyuk. Melihat itu dari kamera interkom, Moo Hyuk menyuruh Won Suk untuk memperbesar suara, karena dia ingin mendengar apa yang So Hyun mau katakan.

“Pak Gi, kamu bisa melihatku? Tolong izinkan aku masuk,” pinta So Hyun. Dia menunjukan berkas siswa yang dibawanya ke kamera.
“Jadi, dia Ha So Hyun?” tebak Won Suk. “Aku harus bagaimana? Berpura-pura kamu tidak ada?” tanya nya.
“Tidak. Sepertinya dia akan menunggu semalaman. Biarkan dia masuk. Aku juga perlu menanyakan sesuatu,” jawab Moo Hyuk.
Lalu dalam sekejap, Won Suk pun membiarkan pintu agar terbuka. Dan menyadari itu, Moo Hyuk bertanya dengan kesal kenapa Won Suk membiarkan pintu terbuka begitu saja, karena mereka harus menyembunyikan semua foto yang ada.
Menyadari hal itu, Won Suk serta Moo Hyuk pun segera buru- buru dengan cepat membereskan ruangan dan menyembunyikan segalanya.

So Hyun merasa heran, kenapa Won Suk serta Moo Hyuk tampak terengah- engah. Dan mereka beralasan bahwa mereka baru saja berolahraga dirumah.
“Omong-omong, siapa pria ini?” tanya So Hyun.

“Aku teman serumahnya,” jawab Won Suk langsung. “Kita teman. Kami sebaya,” jelas Won Suk. Dan So Hyun tertawa kecil, dia bergumam bahwa itu tidak mungkin. Mendengar itu, Won Suk merasa kesal.
“Aku hanya bergumam,” kata So Hyun dengan gugup.

Moo Hyuk memberikan tatapan agar Won Suk bersabar. Kemudian dia menanyakan tujuan kedatangan So Hyun. Dan So Hyun menjelaskan bahwa meskipun dia tidak bisa memberikan akses berkas siswa kepada Moo Hyuk, tapi mereka bisa melihat salinannya bersama. Mendengar itu, Won Suk langsung duduk dengan santai.
“Astaga. Kamu tidak hanya cantik tapi juga murah hati. Kita bertiga akan melihatnya bersama-sama malam ini?” kata Won Suk.

“Tidak. Ini berisi informasi pribadi siswa. Hanya Pak Gi dan aku yang boleh melihatnya,” balas So Hyun. “Aku sungguh minta maaf, tapi bisakah kamu meninggalkan kami?” pinta nya dengan sopan.
Won Suk merasa kesal tapi dia berusaha untuk menahan diri. Dia memberikan kode kedipan mata pada Moo Hyuk. Tapi tanpa disangka, Moo Hyuk malah menyuruhnya masuk begitu saja ke dalam kamar. Jadi Won Suk pun terpaksa pergi meninggalkan mereka berdua untuk mengobrol.
Namun sebelum Won Suk meninggalkan mereka berdua, dia mengambil kue yang dibawa oleh So Hyun.
“Sudahkah kamu berterima kasih kepadanya?” tanya Moo Hyuk.
Dan Won Suk menurut. “Terima kasih.”

Tae Ra berlatih piano. Dia bermain dengan cepat dan baik. Dia berlatih terus dan terus. Tapi menurut guru piano, Tae Ra masih kurang cepat dan ekspresif dalam bermain piano.
Setelah latihan berakhir, si guru memberitahu Ibu Tae Ra (Eun Hye) bahwa semenjak semester lalu, Tae Ra bermain semakin buruk seperti Tae Ra tidak bisa fokus. Dan Eun Hye menanyakan apa masalahnya, apa Tae Ra harus lebih sering berlatih lagi.

“Tidak. Jam latihannya sudah cukup. Menurutku, dia sudah memahami tekniknya. Tapi dalam bidang ini, latihan saja tidak cukup,” jelas si guru.
“Aku memilihmu untuk memecahkan masalah itu. Pastikan dia punya kesempatan bagaimanapun caranya. Aku bisa memberikan dukungan apa pun yang dia butuhkan,” balas Eun Hye.
“Aku akan berusaha sebaik mungkin. Aku harus mengajar lagi. Dia bisa menggunakan ruang latihan selama yang dia mau,” balas si guru. Lalu dia pergi.
Beom Jin datang ke tempat latihan piano Tae Ra dengan membawakan sebuket bunga. Dan banyak wanita yang memandang ke arahnya.

Tae Ra berlatih bermain piano lagi, diawasi oleh Eun Hye. Ketika permainan piano Tae Ra masih terdengar kurang bagus, Eun Hye akan menyuruhnya untuk mengulang dari awal. Eun Hye melatih Tae Ra dengan keras.
“Tidak bisakah kamu fokus? Kamu mau mempermalukan Ibu di depan semua orang?” kata Eun Hye, tegas. Dan Tae Ra diam.

Beom Jin datang. Melihat dia, Tae Ra tersenyum senang.
Beom Jin dengan ramah menyapa Eun Hye. Dia memberikan buket bunga yang dibawanya kepada Eun Hye. Dengan heran, Eun Hye bertanya untuk apa buket bunga tersebut. Dan Beom Jin menjawab bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Tae Ra, karena itu Eun Hye sebagai seorang Ibu pantas menerima pujian.

“Terima kasih,” kata Eun Hye, menerima buket bunga tersebut. Tampaknya dia melupakan ulang tahun Tae Ra, karena dia terkejut mendengar itu.
“Aku ingin berterima kasih karena telah memberiku teman baik. Bolehkah aku mengajak Tae Ra pergi? Sebaiknya kami mengunjungi calon universitas pilihan kami,” jelas Beom Jin, bertanya.
“Ya, pergilah. Tae Ra perlu menghilangkan stresnya. Tapi jangan pulang terlambat,” kata Eun Hye dengan ramah.

Mendengar itu dengan antusias Tae Ra langsung berdiri. Dan Beom Jin pun mengajak Tae Ra untuk segera pergi.
“Masuk ke universitas tidak sepenting menjadi istri anak itu,” gumam Eun Hye sambil tersenyum senang.

No comments:

Post a Comment