Thursday, September 26, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 32

1 comments
Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 32
Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi
Shangyan pergi ke hotel Buff, tapi sayangnya Buff sudah pergi. Shangyan pun langsung menelpon Xiaomi untuk menanyakan jam berapa kereta Buff akan berangkat. Xiaomi memberitahu kalau kereta Buff akan berangkat jam 11 siang, jadi kalau Shangyan pergi sekarang ke stasiun kereta, pasti masih terkejar.
--
Shangyan tiba di stasiun kereta dan terus berusaha menelpon ponsel Buff sambil mencarinya, tapi ponsel Buff tidak aktif dan dia juga tidak bisa menemukan Buff. Jadinya, Shangyan pun berteriak keras : Bi Dong Ran! (nama China Buff).
Buff untungnya mendengar teriakan Shangyan. Dia berada di lantai atas dan melihat Shangyan yang berteriak memanggilnya. Dia pun memanggil Shangyan dan bertanya ngapain Shangyan berteriak memanggil namanya di tempat umum? Shangyan tersenyum melihatnya.
Ternyata, lantai atas adalah food court. Buff sedang santai makan ayam goreng. Buff bertanya ngapain Shangyan mencarinya? Shangyan langsung tanya apa yang akan Buff lakukan setelah kembali pulang? Mencari kerja lagi?
“Tentu saja. Aku punya istri dan seorang putra. Aku harus bertanggung jawab atas keluargaku. Jadi, kenapa kau mencariku? Langsung katakan saja.”
Shangyan malah kembali bertanya apakah Buff masih ingin berkompetisi CTF? Buff iseng balik tanya, apa Shangyan mau tanda tangan kontrak dengannya? Tanpa ragu, Shangyan membenarkan. Buff masih ragu dan bertanya alasan Shangyan ingin memperkerjakannya. Shangyan menjawab, alasannya karena record Buff.

Buff terdiam. Shangyan bertanya, apa Buff tidak ingin mendengar penawaran harganya? Buff balik tanya, menurut Shangyan dia bernilai berapa? Shangyan jujur berkata kalau Buff pernah menjadi kapten team kejuaraan nasional, tapi tidak tidak berharga. Ranking Buff di dunia adalah peringkat 4, tapi umur Buff sudah cukup tua dan maksimun dapat bertanding adalah 2 tahun lagi sebelum akhirnya pensiun. Buff membenarkan semua perkataan Shangyan. Dan kalau Shangyan sudah tahu hal itu, kenapa masih ingin tanda tangan kontrak dengannya?
“Bagaimana jika begini, untuk dua tahun, aku akan membayarmu…”
“Eit,” hentikan Buff, “Dapatkah aku bergabung dalam team utama?”
“Aku mencarimu karena ingin kau bergabung dengan team utama. Tapi, kau harus memulai sebagai alternatif (cadangan). Kau tidak bisa ikut dalam pertandingan nasional ini karena kau masih belum bekerja dengan anggota lainnya.”
“Baik, aku setuju.”

Shangyan melanjutkan penjelasannya jika Buff dapat bermain dengan baik bersama anggota lain dan performanya semakin bagus, dia berencana memasukkan Buff ke dalam team setelah pertandingan nasional dan bertanding untuk Asia Cup. Buff terkejut mendengarnya. Dia bertanya dengan serius, apa yang Shangyan katakan semuanya benar? Shangyan dengan serius berkata kalau ucapannya benar. Tapi jika performa Buff menurun, maka tentu saja dia tidak bisa melakukan rencananya.
Tanpa ragu, Buff setuju. Shangyan jadi ragu, kenapa Buff begitu mudah setuju? Tidak nego harga dulu? Buff berkata kalau itu karena dia masih ingin bertanding dan bahkan bermimpi untuk hal tersebut. Shangyan tersenyum dan berkata kalau latihan di K&K sangat berat, jangan sampai nanti Buff sakit kemudian menangis meminta agar di lepaskan ya. Karna, dia tidak akan membiarkannya.
Buff hanya meminta satu hal. Shangyan harus berjanji jika performanya bagus, dia harus bisa masuk ke dalam team utama. Dia ingin Shangyan menulis hal itu di dalam kontrak mereka.
“Tidak masalah,” ujar Shangyan.
Buff malah jadi ragu karna Shangyan begitu mudahnya setuju. Dia jadinya meminta waktu untuk berpikir sejenak dulu.
Buff merasa kalau dia bergabung sekarang dan langsung datang ke klub, bukankah akan mengguncang moral para pemain K&K? Shangyan membenarkan. Karena itu, dia ingin Buff tanda tangan kontrak dulu dan jangan datang ke kantor K&K dulu. Setelah pertandingan nasional berakhir, dia akan mengadakan rapat dengan anggota K&K membahas hal ini. Buff setuju dengan hal tersebut.

Setelah pembicaraan panjang, Shangyan mengeluarkan tag nama Buff yang waktu itu Buff berikan padanya. Dia mengembalikan tag nama itu kembali pada Buff. Mimpi Buff menjadi juara, harus Buff wujudkan sendiri. Buff menerima tag nama itu, perasaannya bercampur aduk. Dia bahagia karena akhirnya bisa sekali lagi berjuang untuk mencapai mimpinya. Dan juga tidak menyangka, bahwa Shangyan yang adalah saingannya dulu, yang membantunya sekarang.
--
Begitu kembali ke kantor, Shangyan segera menemui Xiaomi yang sedang berada di pantry bersama Grunt dan One. Shangyan meminta Xiaomi untuk mengizinkan Buff sementara tinggal di apartemen Xiaomi dan Buff akan di perkenalkan secara resmi setelah pertandingan final nasional. Xiaomi setuju saja karena dia juga sudah membayar uang sewa dan biaya internet. Sayang jika tidak ada yang menggunakan karena dia kan sekarang tinggal di sini, asrama.
Grunt dan One yang mendengar pembicaraan mereka jelas bingung.
--

Tong Nian sedang galau. Dia butuh teman curhat dan meminta Yaya mendengarkan curhatannya. Ini mengenai Shangyan yang bilang ingin menikah dengannya. Chunchun yang ada di sana mendengar yang Tong Nian katakan, dan langsung berseru kaget.
--

Shangyan ternyata juga menceritakan hal itu pada Xiaomi. Xiaomi kaget dan tidak percaya. Sekarang ini, Tong Nian sedang di tahun-tahun emasnya, jadi mana mungkin Tong Nian begitu terburu-buru ingin menikah? Shangyan menjawab kalau dia tidak tahu (ini yang waktu mereka bicara di mobil, dan Shangyan salah paham terhadap maksud ucapan Tong Nian).
Pembicaraan Shangyan dan Xiaomi ini terdengar oleh 97 yang ada di dekat sana. Dan dia pun langsung menguping.
--
Tidak hanya Chunhun yang kaget, tapi juga Yaya. Tong Nian jadi kelabakan menjelaskannya.
--

Xiaomi masih tidak percaya. Jika mereka membicarakan mengenai umur Shangyan, maka wajar kalau Shangyan cemas. Tapi, selain daripada wajah Shangyan yang tampan, Shangyan sama sekali tidak cocok menjadi seorang suami. Tapi, mampu menemukan orang yang tulus ingin menikah dengan Shangyan, dia berharap kebahagiaan Shangyan.
Shangyan protes, bagian mana dari dirinya yang tidak pantas menjadi suami?
“Boss, kau akan menikah?” tanya 97, muncul tiba-tiba dan membuat mereka kaget.
--
Yaya lebih kaget lagi karena Tong Nian dan Shangyan hanya ciuman tapi sudah mau menikah? Cepat sekali. Tong Nian berkata kalau sebenarnya dia pernah memikirkan hal itu, jika dia benar-benar menikah dengan Shangyan, dia merasa hal itu baik juga.
“Kau benar-benar telah di butakan oleh cinta,” komentar Yaya.
“Nggak. Di samping itu, aku hanya tidak ingin putus. Jika kami tidak putus, pada akhirnya kan artinya kami akan menikah kan?” balas Tong Nian.

Yaya menghela nafas. Dia meminta izin terlebih dahulu kalau dia akan memperingati Tong Nian, tapi Tong Nian tidak boleh marah. Di dalam otak Shangyan, dia hanya memikirkan kompetisi, apa Tong Nian tidak marah? Tong Nian menggelengkan kepala, tanda tidak marah. Yaya membahas lagi mengenai umur Shangyan yang jauh lebih tua sebanyak 10 tahun, apa Tong Nian tidak ingin menyelidiki sedikit lagi? Tong Nian menggelengkan kepala lagi. Yaya mengingatkan kalau Shangyan terkenal dengan temperamen buruk, apa Tong Nian tidak takut akan di marahi? Tong Nian menggeleng. Yaya tanya lagi, apa Tong Nian tidak merasa marah nantinya kalau di marahi Shangyan? Tong Nian menjawab tidak.
Tong Nian malah membahas kalau pria yang tidak punya karir, itu tidak ada bedanya dengan ikan asin. Dan juga, meskipun Shangyan jauh lebih tua darinya, tapi komunikasi mereka tidak ada penghalang sama sekali. Dan juga, mereka tidak tahu saja betapa baiknya Shangyan. Shangyan adalah orang yang hebat. Dia bisa masak dan juga pekerja keras. Sebenarnya, mereka sudah salah paham mengenai Shangyan. Shangyan itu sangat gentle.
“Habislah sudah. Aku tidak bisa bicara lagi dengannya. Orang ini sudah di mabuk cinta,” ujar Yaya pada Chunchun, menyerah bicara pada Tong Nian.
--
Shangyan menghampiri 97 dan memiting kepala-nya karena sudah berani menguping pembicaraannya dengan Xiaomi. 97 langsung memohan ampun dan berjanji tidak akan mengatakan apapun mengenai ini. Untung ada Xiaomi yang segera menarik Shangyan untuk pergi bersamanya.
Begitu Xiaomi dan Shangyan pergi, 97 langsung berteriak memberitahu semua anggota K&K kalau Boss mereka akan segera menikah. Semua kaget. 97 berkata kalau dia tidak mendengar dengan jelas, tapi sepertinya mereka membahas mengenai pernikahan dan akan tinggal bersama (hahahaha, berita yang 97 sebarkan, ngaco kali).
--

Tong Nian berulang kali menarik dan menghela nafas. Dia teringat ucapan Shangyan mengenai ibunya yang tidak menyukainya. Dan mereka yang harus pacaran diam-diam.
Yaya yang melihat Tong Nian bertingkah aneh, jelas bingung.
Tong Nian langsung curhat kalau dia ingin menikah dengan Shangyan, tapi bagaimana cara dia memberitahu ayah dan ibunya? Terutama ibunya yang membenci Shangyan. Yaya menyarankah agar Tong Nian membiarkan Shangyan datang lebih sering ke rumah dan membantu ibu Tong Nian membereskan rumah atau sesuatu seperti itu.
“Ayah dan ibuku masih berpikir kalau kami putus. Tidak ada yang memberitahu mereka kalau kami sudah pacaran lagi.”
Yaya ikut sedih mendengarnya. Dia menyuruh Tong Nian untuk melupakan sementara masalah ini, dan lebih baik mereka pergi ke apartemen Xiaomi untuk membantu beres-beres. Tong Nian kehilangan kata-kata melihat Yaya yang lebih peduli pada Xiaomi daripada dirinya.
--

Xiaomi membawa Buff ke apartemennya. Di dalam sudah ada Yaya yang membereskan rumah untuk Buff. Buff yang melihat Yaya dan perhatiannya pada Xiaomi, mengira kalau Yaya adalah istri Xiaomi. Dia memuji Yaya yang sangat baik.
Yaya dan Xiaomi kaget sekaligus malu. Xiaomi langsung meluruskan kalau Yaya bukanlah istrinya. Buff masih salah paham dan mengira kalau Xiaomi dan Yaya belum menikah. Dia langsung berjanji akan memberikan angpao yang besar untuk pernikahan mereka nantinya.

Yaya dengan malu-malu menjelaskan kalau dia adalah sahabat dari pacar Shangyan. Buff mengerti, tapi juga menggoda mereka berdua yang pasti sangat akrab. Xiaomi dan Yaya tersenyum malu-malu. Yaya langsung keluar dengan alasan ingin mencari Tong Nian yang belum kembali juga bersama Shangyan dari berbelanja.
Kemana Tong Nian?


Sedang pacaran dengan Shangyan di mobil. Shangyan menyuruh Tong Nian untuk menikmati ice cream-nya, sementara dia membawa masuk barang kebutuhan rumah ke dalam apartemen Xiaomi. Tong Nian ingin membantu, tapi Shangyan melarang. Pas sekali Yaya keluar, dan Tong Nian langsung pamer pada Yaya kalau ucapannya benar kan, Shangyan itu sangat gentle.
--
Tong Nian, Yaya, Xiaomi, Shangyan dan Buff makan bersama di dalam rumah. Buff bahkan sudah minum sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, dia mengeluarkan unek-uneknya di hati selama ini. Dia merasa kalau dulu Shangyan terlalu impulsif. Kenapa Shangyan tidak mengikuti pertandingan dunia dulu? kalau Shangyan mau pensiun, seharusnya Shangyan menuggu hingga bermain di pertandingan dunia dan memenangkan juara satu, baru kemudian pensiun! Jika saja saat itu Shangyan tidak pensiun, maka juara dunia pasti adalah China.
Akan tetapi, dia tetap berterimakasih pada Shangyan karena telah menyelamatkan hidupnya dan membuatnya dapat bertanding lagi. Baginya, Shangyan dan Xiaomi adalah penyelamatnya.
--

Dalam perjalanan pulang, karena Shangyan baru minum, maka Tong Nian menawarkan diri untuk menyetir. Dia sudah belajar mengemudi dan mendapatkan SIM. Tapi, cara Tong Nian menyetir sangat meragukan. Dia benar-benar pemula dan sangat tegang. Shangyan saja sampai takut dan memegang erat pegangan tangan yang ada di dalam mobil. Shangyan sebelumnya sudah ingin menelpon supir pengganti, tapi Tong Nian berkeras kalau dia bisa menyetir dengan baik dan meminta Shangyan untuk tidak bicara dengannya karena dia harus fokus dalam menyetir.

Akhirnya mereka tiba di kantor K&k dengan selamat. Tapi, saat mau parkir mobil Tong Nian kesulitan. Walaupun Shangyan sudah turun dari mobil dan memberikan pengarahan, Tong Nian tetap saja kesulitan memarkir dengan benar. Karena itu, Shangyan menelpon Grunt untuk datang ke basement dan memarkirkan mobil.

Grunt yang sudah datang protes karena di panggil hanya untuk memarkir mobil. Shangyan kan bisa memarkirkannya sendiri, kenapa harus menyuruhnya? Tadi itu dia sedang asyik video call dengan pacarnya. Shangyan menjawab kalau harusnya Grunt mengikuti saja apa yang di suruhnya. Dia baru saja minum alkohol, jadi tidak boleh menyetir.
Grunt pun akhirnya menyuruh Tong Nian turun dari mobil. Dan dengan cepat, Grunt langsung memarkir mobil.
Begitu turun dari mobil, Tong Nian malah berkata kalau dulu saat belajar mobil, dia sangat hebat. Instrukturnya bahkan memujinya. Tapi, kenapa hari ini begini ya? Shangyan mah hanya diam, yang penting udah selamat dari tujuan. Tong Nian tiba-tiba tertawa kecil. Kenapa? Karena dia teringat saat kedua kali bertemu Shangyan, Shangyan salah paham kalau dia adalah pacar Grunt.
Shangyan yang melihat Tong Nian tertawa, bisa tahu kalau Tong Nian mengingat saat itu. Tong Nian jadi malu dan meminta agar Shangyan tidak membahas hal itu karena tiu sangat memalukan baginya.
Grunt sudah siap memarkir mobil. Dia pamit untuk kembali ke dalam. Tapi, kemudian, dia balik lagi untuk bertanya, apa benar Shangyan dan Tong Nian akan menikah? Shangyan dan Tong Nian kaget dengan pertanyaan itu. Shangyan langsung bertanya, siapa yang bilang? 97?
Grunt malah mengira Shangyan malu. Dia bahkan berkata kalau itu adalah hal besar, jadi tidak usah di sembunyikan. Kami akan menyiapkan hadiah yang sangat besar untuk mereka!
Shangyan jadi kesal dan menyuruh Grunt untuk kembali ke dalam. Sekalian telepon kan mobil untuk mengantar Tong Nian pulang.
Setelah Grunt pergi, Tong Nian nanya dengan malu-malu, apa Shangyan sudah memikirkan mengenai pernikahan? Shangyan malah menjawab kalau Tong Nian terburu-buru ingin menikah, maka mereka bisa segera mengurusnya. Tong Nian langsung berkata kalau dia tidak terburu-buru menikah. Shangyan berkata lagi kalau gitu mereka bisa membahasnya setelah pertandingan nasional berakhir. Dan dia akan memikirkan bagaimana cara menghadapi orang tua Tong Nian. Tong Nian mengiyakan.
Saat masuk ke dalam, mereka berjumpa dengan bibi Zhao yang belum pulang. Bibi Zhao ternyata sudah mendengar kabar kalau Tong Nian dan Shangyan akan menikah. Dia mengucapkan selamat dan bahkan akan membantu Shangyan menyiapkan pernikahannya nanti. Shangyan jadi kelabakan juga. Dia langsung mengajak Tong Nian ke kamarnya.
Shangyan sudah menyuruh Grunt untuk menelpon mobil untuk Tong Nian, dan Tong Nian bisa menunggu di dalam kamarnya. Tong Nian mengiyakan. Tapi, sebenarnya banyak yang di pikirkan Tong Nian. Dia takut kalau Shangyan tidak punya cukup uang untuk pernikahan dan sekarang setiap orang malah memberikan banyak tekanan pada Shangyan, belum lagi Shangyan masih harus ‘melewati’ ayah dan ibunya. Dia takut kalau Shangyan merasa tertekan sekarang ini.
Tong Nian akhirnya membahas mengenai gosip di K&K yang tersebar kalau Shangyan dan dirinya akan menikah. Shangyan menenangkan Tong Nian untuk tidak khawatir dan terganggu dengan gossip itu. Anggota K&K memang mudah terpengaruh gosip.
Tong Nian jujur berkata kalau dia tidak peduli dengan gosip itu, tapi dia merasa khawatir pada Shangyan.
Lagi berbincang, saat itu, Grunt datang memberitahu kalau hari sudah terlalu larut dan tidak ada mobil lagi. Apa mau dia yang mengantar Tong Nian pulang? (Tong Nian pulang ke asrama, bukan ke rumahnya. Dan Shangyan sudah tanya apa boleh pulang asrama larut begini, dan Tong Nian bilang boleh).
Shangyan menjawab tidak perlu. Dia akan mencarikan taksi untuk Tong Nian.
Dan ternyata, Grunt hanyalah berbohong. Dia tersenyum senang dan bertepuk tangan dengan anggota K&K yang lainnya.
Shangyan dan Tong Nian lanjut berbincang. Tong Nian memberitahu kalau dia khawatir mengenai Shangyan yang membutuhkan banyak uang untuk klub dan pasti juga pernikahan mereka, kalau menikah sekarang. Dia tidak ingin kalau Shangyan terlalu tertekan. Dan dia berharap Shangyan tidak menyembunyikan apapun darinya dan jangan terlalu memaksakan diri?
“Apa kau ada menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Shangyan balik.
Tong Nian berkata kalau bukan itu maksudnya. Shangyan langsung mengingatkan mengenai Zheng Hui yang tinggal di rumah Tong Nian waktu itu, tapi Tong Nian tidak memberitahunya. Tong Nian menjelaskan kalau dia takut memberitahu Shangyan saat itu. Dia takut kalau Shangyan akan cemas dan marah padanya.
“Jadi, ada juga saat-saat kau tidak mengerti mengenaiku kan?” ujar Shangyan.
“Kau juga pastinya tidak mengerti diriku dengan baik. Terakhir kali, ketika aku ke rumahmu, saat kakek ada, aku tidak bisa makan mangga karna alergi mangga, tapi aku masih memakan sepiring mangga.”
“Lalu, kenapa kau memaksakan diri maka mangga saat itu?”
“Karena kau yang memotongkan mangga itu dariku. Ketika aku selesai makan sepiring mangga itu, aku sangat bahagia. Jadi aku tidak memikirkan alergi ku lagi!”
“Kau baru saja bilang kalau kau ingin kita jujur satu sama lain. jika kau tidak bilang padaku sebelumnya, gimana aku bisa tahu kalau kau tidak bisa makan mangga?!” marah Shangyan.
“Itu benar, aku tidak memberitahumu. Maka itu kesalahanku, okay! Tapi, sebagai seorang gadis, ada beberapa hal dan masalah yang tidak seharusnya perlu aku katakan padamu. Ketika kau mencintai seseorang, kau seharusnya menaruh perhatian pada mereka kan? Jika kau benar-benar mencintaiku, kau harusnya memperhatikanku. Jadi, aku merasa kau tidak memahamiku sama sekali. Jika kau memahamiku, kau akan tahu kalau aku alergi mangga dan aku suka makan strawberry. Aku tidak peduli kau punya uang atau tidak, yang aku pedulikan apakah masa depanmu bersama ku atau tidak. Aku menyukai saat-saatu kita merasa malu dan tidak banyak bicara dan aku benci saat kau berpikir terlalu berlebihan.”
“Baik! Mari kita berhenti berdebat mengenai hal ini! Jika kita terus melanjutkan ini, maka tidak ada akhirnya. Mari tenangkan diri dulu, okay!” ujar Shangyan dan memilih keluar kamar.
Tong Nian juga merasa kesal. Dia masih belum selesai bicara. Tong Nian juga sadar kalau dia pasti merasa sangat cemas karena memikirkan masalah pernikahan. Dan dia jadi sedih, karena dia sangat menyukai Shangyan, dan takut Shangyan marah. Dia ingin keluar menemui Shangyan, tapi memutuskan untuk menunggu Shangyan tenang dulu.

Di luar, Shangyan juga galau setelah mendengar semua isi hati Tong Nian. Grunt yang kebetulan keluar kamar, melihat wajah Shangyan yang muram dan jadi bingung serta takut (takut dimarahi, jadi dia memilih menghindar).
--


Setelah menenangkan dirinya, Shangyan masuk kembali ke dalam kamarnya. Dan dia mendapati Tong Nian yang sudah tertidur di atas ranjangnya. Dia menatap wajah Tong Nian. Dia membetulkan posisi tidur Tong Nian agar lebih nyaman dan bahkan memberikan bantal di kepalanya dan menyelimutinya. Dia menatap wajah Tong Nian dan membarikan kepalanya, di samping kepala Tong Nian. Shangyan mencintai Tong Nian, tapi memang benar kalau dia kurang memperhatikan Tong Nian, kurang mengenalnya.
--
Esok hari,
Shangyan terbangun duluan. Dia menatap Tong Nian yang masih tertidur. Dan diam-diam, dia mengecup sekilas bibir Tong Nian. Dia terpikir sesuatu dan langsung pergi keluar.
Dan lagi-lagi dia berpas-pasan dengan Grunt. Begitu melihat Grunt, dia langsung bertanya apa yang para gadis biasanya sukai? Grunt langsung menjawab kalau punya uang belikan lipstick, kalau tidak ada belikan makanan. Tapi, begitu tersadar kalau Shangyan ingin membelikan hadiah untuk Tong Nian, dia segera memberikan saran untuk membeli sesuatu yang manis saja. Mendengar hal itu, Shangyan langsung pergi.
--
Tong Nian terbangun. Dia kaget karena ketiduran. Dia berteriak memanggil Shangyan, tapi tidak ada jawaban. Tong Nian jadi sedih. Dia merasa kalau Shangyan benar-benar marah kemarin hingga tidak kembali.
Dengan lemas, Tong Nian pergi sikat gigi sambil mengirim pesan pada Shangyan. Tidak ada balasan.
--
Shangyan lagi ke supermarket. Dia membeli banyak strawberry dan juga cake strawberry.
Dia membawa semua belanjaan itu untuk Tong Nian. Tong Nian sudah menunggunya di sofa sambil tersenyum manis.
“Kemarin malam, aku tidak mengontrol emosiku dengan baik. Jadi, aku mau minta maaf,” ujar Shangyan. “Kau tidak marah lagi?”
Tong Nian mengiyakan. Shangyan kemudian berjanji akan berubah dan tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi. Dan tiba-tiba, Tong Nian langsung memeluknya. Shangyan kaget juga dengan pelukan Tong Nian.

1 comment: