Saturday, September 14, 2019

Sinopsis C-Drama : Walk Into Your Memory Episode 03

1 comments

Sinopsis C-Drama : Walk Into Your Memory Episode 03
Images by : Tencent


Manager Ma Meng Lu (aku panggil Meng Lu, mulai dari sekarang ya) hampir saja terjatuh jika Gong Chen (Kepala koki – mulai sekarang aku panggil Gong Chen) tidak tiba di saat yang tepat dan menangkapnya. Mereka saling bertatapan. Gong Chen memanggil nama Meng Lu dengan penuh penekanan, dan Meng Lu balas memanggil namanya. Gong Chen tidak tahan lagi dan memberitahu kalau Meng Lu menginjak kakinya. Meng Lu baru tersadar dan langsung berdiri. Dengan malu, dia meminta maaf dan langsung masuk ke dalam resto.
--

Sebelum mulai memasak, Gong Chen mencicipi makanan yang sudah di buat oleh para koki dan memberikan masukannya, mengenai apa yang harus di ubah. Setelah itu, Gong Chen memberikan nasehat. Memasak itu sama dengan belajar menjadi orang baik, harus menggunakan hati, harus belajar dan harus menggunakan waktu untuk memasak pelan-pelan.
“Perlombaan penerimaan murid, hanya menerima satu orang, dimenangkan dengan kemampuan kalian sendiri. Semuanya berusahalah dengan jujur dan baik, mengerti?” jelas Gong Chen.
Setelah itu, Gong Chen mempersilahkan mereka untuk mencobai makanan rekan mereka masing-masing.
--

Hao Qian tiba di kantor. Meng Lu yang melihat kedatangan Hao Qian, langsung menghampirinya dan melapor kalau semua makanan dan acara sudah di persiapkan dengan baik. Saking baiknya, mungkin pengantin ingin menikah lagi. Hao Qian memperingati Meng Lu untuk tidak lupa mengingatkan petugas di aula untuk melepaskan kata ‘Xi’ setelah pesta pernikahan selesai. Meng Lu mengiyakan. Dan Hao Qian langsung pergi.
--
Hao Qian menemui An Ning. Dia memberitahu kalau kontrak mereka bisa di tandatangani dua hari ini, dan mulai bulan depan gaji An Ning akan di naikkan. Jadi, malam ini, An Ning harus menjalankan kewajiban An Ning sesuai kontrak. Dengan semangat, An Ning menyuruh Hao Qian untuk tenang saja, dia akan menyelesaikan misinya.
“Malam hari tidak boleh berpakaian terlalu berlebihan,” peringati Hao Qian.
“Berlebihan?”
“Jika memang tidak bisa, berpakaian saja seperti ini,” ujar Hao Qian, tersenyum sinis.
An Ning curiga, dia melihat memory Hao Qian dan ingat saat pertemuan mereka pertama di tempat parkir (episode 01), Hao Qian menyebut penampilan An Ning seperti mentimun.
“Mulai dari sekarang tidak boleh menertawakan seleraku, juga tidak boleh meragukan kecantikanku. Yang paling penting jangan asal memberiku julukan,” peringati An Ning.
Hao Qian langsung gugup karena pikirannya ketahuan. “Memberi julukan? Aku tidak seperti itu. Kamu pasti salah lihat kan?” bantah Hao Qian.
“Tidak mengaku. Kuperingatkan kamu, jika kamu memperlakukanku tidak adil lagi, aku akan menyebarkan semua masalahmu,” ancam An Ning.
“Kamu jangan sembarangan. Dalam kontrak kamu harus merahasiakannya, kamu lupa?” ingati Hao Qian.
“Kalau begitu batalkan saja perjanjiannya.”
“Jika kamu berani menyebarkannya, aku juga akan menyebarkan rahasiamu,” ancam Hao Qian balik.
“Katakanlah, palingan aku hanya ganti pekerjaan saja, bukannya aku belum pernah mengganti pekerjaan,” jawab An Ning santai, tidak merasa takut sama sekali. “Jadi, lain kali lebih sungkanlah padaku. Mengerti? Aku tidak berani jamin, aku bisa menjaga mulutku.”
Hao Qian kesal karena dirinya di ancam oleh orang seperti An Ning.
Saat Hao Qian mau masuk ke ruangannya, dia tanpa sengaja mendengar gosip para cleaning service mengenai An Ning. Ternyata, salah satu cleaning service itu, sepupunya satu klub tari dengan ibu An Ning. Dan semua sudah tahu kalau An Ning sudah di blokir dari semua situs perjodohan. Menurut gosip, An Ning itu suka perempuan.
Hao Qian kaget mendengar gosip itu. Dia tampaknya percaya dengan gosip tersebut.
--
Restoran Long Teng kedatangan dua orang tamu pria yang mempunyai kartu VIP Hotel. Saat memesan makanan, pelayan menjelaskan kalau hotel mereka mempunyai peraturan, setiap tamu VIP setiap harinya hanya bisa memesan satu makanan yang di masak khusus oleh Kepala Koki, Gong Chen. Masalahnya, kedua tamu itu ingin memesan dua makanan (mereka kan datang berdua dan hanya memiliki satu kartu VIP), dan terus memaksa.
Meng Lu yang adalah manager tata ruang makan, segera datang menangani masalah ini. Mereka tetap meminta di masakan dua makanan : Ikan Asam Manis dan Daging Dong Po. Meng Lu bukannya berusaha, malah meminta mereka menunggu makanan di hidangkan.
Setelah menjauh, Meng Lu ngedumel kalau kedua tamu itu jelas ingin membuat masalah. Dia menyuruh pelayan untuk menyampaikan pesanan kedua tamu itu pada Gong Chen dan bilang saja kalau itu pesanan untuk dua meja yang berbeda.
--


Gong Chen yang berada di dapur, mendapat laporan kalau ada 2 tamu VIP yang memesan masakan buatan Gong Chen. Gong Chen pun mulai memasak. Saat dia memasak, para koki lain berkumpul untuk melihatnya memasak dan juga mendengarkan penjelasan Gong Chen. Kenapa mereka sampai melihatnya memasak? Karena kemampuan Gong Chen di dunia memasak adalah tingkat teratas. Untuk bisa melihatnya memasak secara langsung adalah hal yang sangat di tunggu.
Dan akhirnya, kedua hidangan pun jadi dan di hidangkan.
Baru juga mencoba segigit, kedua tamu itu malah langsung marah. Mereka bilang kalau kalau makanan di hotel sangat tidak bisa di makan dan masih berani di jual mahal. Mereka juga menyebut kalau Long Teng adalah hotel gelap yang hanya berusaha menipu uang para tamu. Teriakan kedua tamu tersebut, tentu menarik perhatian para tamu lain yang sedang makan.
Tidak hanya itu, kedua tamu itu berteriak agar di panggilkan Kepala Koki agar menghadap mereka. Meng Lu langsung memberi tanda pada pramusaji untuk memanggil Gong Chen. Pramusaji itu langsung pergi ke dapur dan memberitahu Gong Chen kalau tamu VIP bilang makanannya terasa aneh dan sekarang sedang membuat keributan.
Gong Chen langsung ke ruang makan, menemui para tamu.
Para tamu yang baru menunggu sebentar, mengomel karena Gong Chen datang sangat lama menemui mereka. Dia bahkan mengejek Long Teng yang bilang memperkerjakan koki mahal, yan di juluki koki Dewa dan bahkan membuat ketentuan kalau tamu VIP hanya boleh memesan satu masakan dari kepala Koki perhari-nya. Dan ternyata, makana yang mereka pesan tidak enak. Masih lebih enak makanan di tepi jalan. Meng Lu berusaha menenangkan kedua tamu tersebut.
Gong Chen akhirnya tiba di ruang makan dengan di ikuti oleh koki lainnya. Gong Chen langsung bertanya dimana letak masalah masakannya? Masakannya belum pernah di kembalikan sebelumnya!

Dan Gong Chen tambah marah saat tahu kalau kedua masakan untuk tamu VIP sebenarnya hanya untuk satu tamu VIP. Dia merasa seperti sudah di tipu oleh Meng Lu. Meng Lu gugup dan berkata kalau bukan itu yang penting sekarang. Gong Cheng semakin kesal karena Meng Lu tidak mengerti dengan aturan yang mereka buat dan malah melanggarnya. Dia bahkan menyebut kedua tamu itu yang datang hanya untuk membuat keributan. Meng Lu yang malah emosi dan memarahi Gong Chen. Jadinya malah mereka berdua yang berdebat.
Hao Qian kebetulan datang dan melihat keributan tersebut.
An Ning yang sudah tidak tahan, maju dan menatap salah satu mata tamu itu. Dia melihat memory tamu tersebut.
Flashback
Tamu itu pergi menemui seorang pria. Dan pria itu menjanjikan kalau perusahaan pria itu, Perusahaan Yi An, akan menjadi rekan kerja dengan grup L selamanya.
End

An Ning mendengus kesal setelah tahu yang sebenarnya. Apa pria itu mengira setelah menghancurkan nama baik Long Teng, menjelekkan nama baik Kepala Koki, maka grup L akan benar-benar bekerja sama dengan mereka? Dia tahu kalau setelah membuat masalah ini, maka perusahaan Yi An akan bisa bekerja sama dengan grup L, itu kesepatakan mereka.
Hao Qian yang mendengar perkataan An Ning jelas terkejut.
Kedua tamu itu juga terkejut. Tapi, mereka masih terus berusaha sok tenang. Mereka balik memfitnah An Ning yang mengada-ada.
Hao Qian terpaksa turun tangan. Dia memperkenalkan dirinya sebagai penanggung jawab hotel Long Teng. Dan ada masalah apapun, silahkan di sampaikan langsung padanya. Dia akan menyelesaikan masalah ini dengan adil. Gong Cheng adalah koki yang di undangnya secara khusus untuk bekerja di sini, jadi dia tidak meragukan kemampuan Gong Chen sama sekali. Dan untuk menyelesaikan masalah ini, Hao Qian meminta Gong Chen untuk memasak lagi dua masakan yang sama dan bagikan ke semua tamu hotel yang sedang makan sekarang untuk di nilai. Jika para tamu lain menilai masakan enak, maka indra kedua tamu ini yang bermasalah dan tidak cocok dengan masakan hotel Long Teng mereka. Kedua tamu itu tentu jadi takut.


Tidak menunggu lama, Gong Chen segera memasak masakan yang sama dan menghindangkannya kepada semua tamu yang ada. Semua tamu langsung memuji masakan Gong Chen yang lezat.
Hao Qian langsung menatap kedua tamu itu dan menuntut penjelasan mereka. Dia bahkan memerintahkan Meng Lu untuk menelpon polisi juga.
Ming Jun jadi penasaran dengan apa yang An Ning katakan pada kedua pria itu hingga mereka berdua tampak ketakutan. An Ning hanya menjawab kalau Ming Jun tidak perlu tahu karena tidak akan mengerti juga.
Hao Qian terus memperhatikan An Ning. Dia merasa kalau kemampuan An Ning akan sangat berguna jika di pergunakan untuk bisnis.
--

Jam pulang kantor,
Hao Qian sudah menunggu An Ning di depan hotel dengan mobilnya. Dia akan membawa An Ning untuk ke pertemuan teman-teman SMA-nya dan An Ning harus melihat memory teman-temannya itu. Saat melihat Hao Qian, An Ning hendak naik ke kursi penumpang di depan, tapi Hao Qian menyuruhnya untuk duduk di kursi belakang.
Saat dalam perjalanan, Hao Qian menanyakan gaya berbusana An Ning. Apa gaya berbusana An Ning itu meniru semacam makanan atau merupakan kebiasaan? An Ning jelas kesal karena tahu kalau Hao Qian tidak suka dengan gaya berpakaiannya yang nge-jreng. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Hao Qian. Hao Qian berkata kalau sulit baginya untuk berkomunikasi dengan An Ning.
“Nanti saat kamu di sana, kurangi bicara, dengarkan dengan baik saja,” peringati Hao Qian.
“Oh, iya. Tunggu sebentar. Bagaimana kamu akan memperkenalkanku? Asisten? Sekretaris? Atau pacar?” tanya An Ning, penasaran.
Hao Qian kaget mendengar yang terakhir. Dia menyuruh An Ning tenang saja, dia sudah mempersiapkannya.
--

Mereka tiba di restoran yang cukup besar dan masuk ke dalam ruangan VIP yang telah di pesan. Melihat Hao Qian bersama An Ning, teman-temannya langsung menanyakan siapa An Ning? Hao Qian memperkenalkan An Ning sebagai asistennya yang akan membantunya membawakan mobil nanti. An Ning hendak memperkenalkan diri, tapi Hao Qian malah memotong ucapannya dan mengajak teman-temannya untuk mulai makan.
An Ning sendiri duduk di sofa yang ada di pojok dan tidak di ajak makan. Dari tempat duduknya, An Ning hanya bisa meneguk ludah melihat makanan enak yang terhidang di meja makan. Dia juga mengelus perutnya yang kelaparan.

Teman-teman Hao Qian membahas mengenai saat Hao Qian yang tiba-tiba pindah SMA. Mereka menanyakan apakah kasus saat itu sudah terpecahkan? Hao Qian menjawab belum. Kasus itu sudah sangat lama, dan jika ingin di pecahkan sekarang pun, akan sangat sulit. Teman-temannya merasa prihatin karena kasus itu adalah penculikan yang hampir membunuh Hao Qian. Jika di pikirkan sekarang, tetap saja mengerikan. Untung saja tidak ada masalah lagi. Keputusan Hao Qian untuk keluar negeri saat itu adalah keputusan yang tepat.
Hao Qian menatap An Ning, memberi tanda agar An Ning mulai melihat memory teman-temannya tersebut.

Saat itu, salah seorang teman Hao Qian datang terlambat. Temannya itu, Du Kai, tampak sangat terkejut saat melihat Hao Qian yang hadir juga. Dan An Ning melihat ingatan Du Kai.
Flashback


Du Kai dalam perjalanan pulang sekolah dan melewati pinggiran hutan. Dan dia melihat Hao Qian yang terbaring di tanah dengan kepala terluka. Du Kai sangat terkejut hingga menjatuhkan buku di tangannya.
Du Kai segera pergi ke telepon umum dan menelpon polisi.
--
Beberapa hari setelahnya, Du Kai mendengar gosip di sekolah mengenai Hao Qian yang di culik orang dan hampir terbunuh.
“Di culik?” tanya Du Kai terkejut, karna yang di lihatnya saat itu, tidak tampak seperti Hao Qian di culik.
Temannya tidak mendengar ucapan Du Kai, dan malah bercerita kalau orang tua Hao Qian sedang mengurus kepindahan Hao Qian. Mereka dengar Hao Qian akan di kirim ke luar negeri.
End

Pertemuan selesai. Sebelum pulang, An Ning langsung bertanya pada mereka semua, apakah dia boleh membawa pulang sisa makanan? Hao Qian yang mendengar pertanyaan An Ning langsung berkata kalau An Ning hanya bercanda. Hao Qian jelas malu, masa An Ning yang ada asistennya meminta makanan sisa, tengsin lah dia.
“Aku tidak bercanda. Setiap hari makanan adalah hasil dari kerja keras. Kalian makan seperti ini, sungguh sangat boros. Apakah tidak boleh dibungkus?” tanya An Ning lagi.
“Bukankah sudah makan malam? Tidak perlu seperti itu,” ujar Hao Qian, berusaha menghentikan.
An Ning tetap bersikeras. Hao Qian kesal dan berkata tidak perlu. Dia bahkan menyuruh teman-temannya untuk pulang. An Ning tambah kesal dan berteriak memanggil pelayan untuk membungkus makanannya!
--
An Ning berjalan pulang dengan marah. Hao Qian mengikutinya dari belakang dan berusaha menjelaskan kalau dia terbiasa makan dengan wanita.
“Umur masih muda, tapi penyakitmu banyak,” gerutu An Ning. “Kalau begitu katakan lebih awal padaku. Aku dari jam 10 pagi lapar sampai sekarang. Jadi aku tidak bisa melihat dengan jelas, kamu jangan tanya padaku.”
“Hanya kurang makan sekali saja, bukankah juga sudah dibungkus?”
“Kamu jadi orang tidak boleh seperti ini. Apakah didunia ini hanya kamu seorang? Kamu harus berpikir untuk orang lain juga. Untuk apa kamu hidup begitu egois? Aku bungkus ini semua, apa salahnya? Kamu tahu seberapa banyak anak yang kelaparan di dunia ini? Apakah karena kamu kaya jadi kamu bisa boros seperti itu?” marah An Ning.


Pas sekali saat itu, sebuah truk melintas dan di dekat sana ada genangan air. An Ning langsung bersembunyi di belakang Hao Qian untuk melindungi dirinya daripada cipatran air. Dan byuuuur… air itu jadinya menciprat tubuh Hao Qian. Tidak hanya itu, karena An Ning memegangnya, Hao Qian jadi mual-mual. An Ning tersenyum melihat hal tersebut.
--
An Ning membelikan tissue untuk Hao Qian. Dan Hao Qian memperingati An Ning untuk mendekatinya. An Ning malah menggoda Hao Qian dengan berkata kalau untungnya celana dalam Hao Qian tidak basah. Hao Qian jelas kesal.

Dan saat itu, perhatian An Ning teralihkan pada seorang anak kecil yang sedang bermain kembang api bersama ayahnya. An Ning tersenyum lembut melihat hal itu.
Flashback
An Ning saat kecil juga bermain kembang api bersama ayahnya. Dan ternyata, An Ning buta saat kecil.
“An Ning, ayah tahu sekarang kamu tidak bisa lihat. Ayah beritahukan padamu kembang api sangat cantik, seperti sebuah permata yang bersinar. Suatu hari nanti, aku percaya An Ning kami pasti bisa melihat. Menyenangkan kan? Apakah bisa mendengarkan suaranya?”
End

“Gambaran ini, sungguh menyentuh. Dulu, aku juga punya pengalaman seperti ini. Pemandangan malam, kembang api, ayah dan juga,” ujar An Ning dengan sendu. Hao Qian tampak terpukau melihat An Ning yang berbicara seperti itu. “Tang Hu Lu. Tang Hu Lu yang asam dan manis dan juga semangkuk mie pangsit daging sapi, pakai daun sop, kemudian beberapa tetes penyedap atau dilengkapi dengan semangkuk pangsit 3 rasa. Sambil melihat kembang api, sambil makan pangsit yang masih panas. Begitu menggigitnya, rasa dagingnya melumer di mulut dan juga hotpot Chong Qing, rasa pedasnya, ditambah lagi dengan dua tusuk ginjal panggang. Sungguh ingin makan tahu busuk goreng. Malam ini kita pergi makan cemilan malam saja, aku yang traktir,” bayangkan An Ning dengan semangat, dan membuat Hao Qian sampai kehabisan kata-kata.
Hao Qian menolak untuk pergi makan dengan An Ning. Dia tidak bisa makan dengan wanita.
--

An Ning sudah pulang dan sedang makan dengan lahap. Ibu mengomelinya yang pulang larut dan bahkan tidak makan. An Ning menjawab kalau dia kan kerja. Eh, ibu tiba-tiba memberitahu kalau dia menyimpan buku tabungannya di kotak besi kecil yang ada di lemari pakaian di kamarnya. An Ning bingung, ngapain ibu memberitahu hal seperti itu padanya?
“Sekarang banyak yang mencuri buku tabungan untuk nikah. Aku takut kamu tidak bisa menemukannya saat butuh. Jangan sampai tertunda jika ingin menikah,” ujar ibu.
“Tenang saja. Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang diam-diam,” tenangkan An Ning.
Ibu jadi kesal karena An Ning tidak tahu maksudnya. Kalau An Ning mencuri uangnya utuk nikah, itu adalah hal bagus baginya. Karena artinya, An Ning akhirnya menikah. Ibu kemudian membahas mengenai An Ning yang tidak punya pacar, tapi kenapa Xia Tian juga tidak punya pacar?
“Dia berbeda denganku. Dia, pada dasarnya tidak percaya dengan cinta. Masalah ini lebih parah dari aku. Aku, masih percaya dengan cinta,” jelas An Ning.
“Kamu tidak perlu menertawakan orang lain, masih percaya dengan cinta? Itu hanya teorinya saja, tidak ada tindakan sedikitpun. Lagipula, pernikahan bukan tujuan utama, melahirkan anaklah yang paling penting. Negara sudah membebaskan anak kedua. Kamu ini apa, satu anakpun tidak ada,” omel ibu.
“Aku ini masih masa muda.”
--
Hao Qian di rumahnya teringat gossip tadi pagi yang di dengarnya. Dia curiga kalau An Ning benar-benar menyukai wanita.


Hao Qian bahkan mulai berkhayal. Dia akan membawakan wanita cantik untuk An Ning, agar An Ning mau membantunya menjaga rahasia. Jika An Ning tidak suka, dia bisa membantu mencari wanita lain. An Ning mulai menilai dan memutuskan kalau dia lebih memilih Hao Qian. Dan terpaksa Hao Qian menggunakan pakaian wanita dan memakai wig rambut panjang. An Ning sampai mual melihatnya.
Hahahha. Hao Qian merasa geli dengan khayalannya sendiri.
--
An Ning sebelum tidur memikirkan Hao Qian. Meskipun dia bisa melihat ingatan Hao Qian, tapi dia tetap tidak bisa menebak pemikiran Hao Qian. Sebenarnya, Hao Qian adalah orang seperti apa?
--
Esok hari,
Hari ini akan di lakukan perlombaan untuk menjadi murid Gong Chen. Perlombaan akan di bagi menjadi 3 tahap. Tahap pertama adalah untuk menguji pemahaman mereka dalam menghiasi piring.

Semua mulai memasak. Sementara An Ning, dia berpikir dulu sebelum memasak.
Hao Qian juga datang untuk melihat perlombaan. Para koki pada sibuk mengukir bentuk dari sayur-sayur. Sementara An Ning, berbeda. Dia tidak mengukir dari sayur melainkan membuat hiasan dari cairan seperti karamel.
Dan pemenang dalam tahap pertama adalah An Ning.
Tahap kedua, semua orang akan memasak sesuka hati. Baru juga mulai masak, semua sudah minder dengan An Ning yang memasak masakan instana.
Hidangan di sajikan. Gong Chen mulai mencicipi dan pemenangnya adalah Yi Ming Jun! hidangan An Nin memang enak, tapi masakan Yi Ming Jun yang walaupun sering di restoran lain, tapi baginya itu yang terenak.
Tahap ketiga, mereka akan membuat masakan yang sama. Membuat masakan kentang.
Dan yang menilai masakan ketiga adalah para tamu. Mereka menggunakan sistem voting.
Dan pemenangnya adalah An Ning! Karena An Ning memenangkan 2 dari 3 perlombaan, maka An Ning terpilih menjadi murid Gong Chen. Gong Chen tersenyum dan memberitahu kalau upacara penerimaan murid baru akan di adakan beberapa hari lagi.
--

Kakek An Ning memberitahu ibu An Ning kalau ada acara perjodohan yang di selenggarakan yang sangat cocok dengan An Ning. Ibu ternyata sudah tahu dan memberitahu kakek kalau acara itu di selenggerakan oleh situs perjodohan yang sudah memblokir An Ning agar tidak bisa mendaftar lagi.
Ibu kemudian jadi teringat saat dulu ibunya panik melihat dia yang belum menikah saat itu. Dulu, dia tidak mengerti. Tapi sekarang setelah mengalaminya dia mengerti. Ibu An Ning menggerutu karena punya anak seperti An Ning.
Kakek langsung memarahi ibu karena bicara seperti itu. Saat kita berbelanja membeli sayur juga kita harus memilih yang baik. Jadi memilih pria juga harus hati-hati. Tidak boleh asal pilih satu langsung menikah. Ibu malah membalas kalau pria pun seperti itu dalam memilih wanita. Tapi An Ning malah memiliki emosi yang jelek begitu.
--

Min Er sedang berada di arena kuda. Dia tampak kagum melihat seorang pria yang bisa menunggangi kuda dengan lihai-nya.

Dan pria yang dilihat Min Er itu adalah Hao Qian. Hao Qian menyapa paman Bai dengan ramah. Paman Bai membahas mengenai tn. Wang yang telah meninggalkan grup Long Teng dan bergabung dengan tn. L.
“Bisnis seperti medan perang. Yang memiliki keuntungan yang lebih besar, mereka punya hak untuk memilih rekan kerja mereka,” ujar Hao Qian.
“Aku juga dengar kamu sekarang sudah menghentikan semua proyek kerjasama dengan mereka.”
“Saat Long Teng memilih rekan untuk bekerja sama, yang dipentingkan tidak hanya kemampuan, tetapi juga kepercayaan dan ketulusannya. Oh, iya. Paman Bai, proyek wisatamu...”
“Hari ini, kita bersantai dulu, tidak bahas pekerjaan,” ujar Paman Bai, menghentikan ucapan Hao Qian.
--
Ming Jun bersiap pulang. Saat itu, dia mendapat telepon dari anak buahnya kalau dia sudah mencari semua informasi mengenai Xia Tian dan alamat syuting terbarunya. Ming Jun tampak senang.
--
Hao Qian sudah selesai berkuda. Dan dia teringat dengan kemampuan An Ning. Dia merencanakan sesuatu. Untuk sesaat dia merasa ragu, akankah An Ning setuju atau tidak? Tapi, dia yakin kalau An Ning akan setuju.
--

An Ning sudah mau pulang, tapi dia menerima telepon dari Hao Qian kalau dia sudah menunggu di depan pintu hotel. An Ning tampak kesal karena Hao Qian memberikan perintah seperti itu dan langsung mematikan telepon.
An Ning masuk ke dalam mobil Hao Qian dan bertanya, teman apa lagi yang akan di temui? Hao Qian tidak menjawab.
--
Hao Qian membawa An Ning ke mall. An Ning jelas heran karena di bawa ke mall, ada apa?
“Apakah kamu punya niat khusus terhadap buah atau sayur?” tanya Hao Qian.
An Ning tersinggung mendengarnya. Apa maksud pertanyaan Hao Qian? Hao Qian memandang gaya berpakaian An Ning dan berkata kalau dia hanya takut gaya berbusana An Ning menakuti orang lain.

Dan dengan terpaksa, An Ning mencoba baju-baju di toko baju yang Hao Qian pilih. Hao Qian memilih An Ning untuk memakai baju dress hitam yang cantik. An Ning awalnya hanya memilih asal dan terkejut karena Hao Qian ternyata ingin membeli dress itu.
Bersambung




1 comment: