Sunday, September 15, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 15-1

0 comments

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 15-1
Images by : TvN

Part 3 : Arth, The Prelude to All Legends
Tagon mulai berubah. Dia merasa pergorbanan dan usaha yang telah di lakukannya selama ini percuma. Dan dengan kekuatan Igutu-nya, Tagon mulai membunuh semua orang yang ada di sana. Total orang yang harus di bunuhnya adalah 27 orang.
Arthdal Chronicles
Taealha di cekik dengan kuat oleh pelayan barunya, yang adalah utusan dari Asa Ron.

Saya menghalangi seorang pelayan pria yang hendak masuk menemui Tanya. Tapi, pria itu menolak apa yang Saya katakan.

Dalam keadaan tercekik, Taealha melihat senjata barunya yang terletak di meja. Dengan kakinya, dia menendang lemari hingga terjatuh ke belakang dan berhasil lepas dari jeratan. Taealha segera meraih pisau yang ada di meja dan menyerang pembunuh tersebut.
Saya menyadari kalau pelayan pria klan Asa itu sangat mencurigakan karena berani menentang perintahnya. Pria itu mengeluarkan sebuah bubuk dari kotak yang ada di tangannya dan meniupkannya ke wajah Saya. Begitu menghirup bubuk itu, Saya mulai kesulitan bernafas dan kesakitan. Saya terjatuh ke lantai.


Pria tersebut segera mengeluarkan sabit yang di sembunyikannya di balik bajunya dan masuk ke dalam ruangan Tanya. Saat dia masuk, ruangan itu kosong dan tidak ada siapapun. Pria itu mengira Tanya sudah kabur, tapi ternyata Tanya bersembunyi di balik kursi. Mengira kalau pria itu tertipu, Tanya keluar dari persembunyiannya dan hendak kabur keluar. Sialnya, pria itu tidak benar-benar tertipu. Dia muncul di hadapan Tanya dan mengarahkan sabitnya ke arah Tanya.
Tanya ketakutan. Dia memohon agar tidak di bunuh. Dia berteriak meminta tolong pada siapapun yang ada di luar. Pria itu dengan dingin berkata tidak ada satupun yang memihak Tanya di kuil Agung.
--
Asa Ron berhasil kabur dari Tagon. Dia sangat ketakutan karena rencana-nya telah gagal. Dia tidak menduga sama sekali kalau Tagon adalah Igutu. Ternyata, dia masih menyembunyikan kartu AS-nya. Beberapa pria Lidah Hitam. Dia memberi perintah pada pria-pria itu untuk segera membunuh Tagon sekarang juga. Tidak akan ada sidang.
--

Tagon sudah membunuh 26 orang. Tersisa 1 orang yang belum di bunuh, Asa Ron. Mata Tagon juga berubah. Tidak ada lagi kepedulian. Hanya ada kekejaman di sana.
--
Taealha bertarung melawan pelayan yang hendak membunuhnya. Untunglah kemampuan pedang Taealha lebih bagus dari pelaayn tersebut hingga dia berhasil membunuh pelayan tersebut. Setelah itu, Taealha berteriak memanggil Haetuak.
--

Senjata sabit sudah akan menyerang Tanya. Tapi, di saat itu, Saya masuk dan mencengkeram erat tangan pria tersebut. Walau terkena racun dan terluka parah, Syaa memaksakan diri untuk membunuh pria tersebut. Pria itu mati. Saya terjatuh dengan penuh kesakitan akibat racun. Tanya ketakutan. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dia ingat bahwa tidak ada yang memihaknya di kuil Agung.
Tanya kemudian melihat tirai yang dapat di jadikannya tali untuk ke bawah. Dia pun mulai menyatukan kedua tirai itu menjadi tali panjang dan melemparkannya turun ke bawa.
Saat itu, para penyerang yang di utus oleh Asa Ron, datang ke ruangan tersebut. Mereka melihat tubuh yang bersimbah darah dan ada tirai yang di ikat untuk turun ke bawah.
Kedua penyerang tersebut segera menemui Asa Yon dan memberitahu kalau Anak-anak Shahati telah mati. Asa Yon tampak marah karena rencana telah gagal. Dia menanyakan, dimana Laba-laba Biru? Pengawal itu menjawab kalau Laba-laba Biru di temani Asa Mot ke Istana Serikat untuk menyelidiki. Mereka juga akan mencari Tanya.
“Bagaimana caranya? Kalian dari Gunung Puncak Putih. Memang tahu wajahnya?” marah Asa Yon. “Geledah Kuil Agung bersama para pendeta. Jika melihat Tanya, langsung bunuh dia!”
--

Dan ternyata, Tanya tidak lah kabur ke bawah. Dia yang berpura-pura terbaring di tanah sebagai mayat. Dia juga menyembunyikan mayat Saya dan mayat anak Shahati ke dalam lemari. Tanya meminta Saya untuk tetap bertahan. Saya menyuruh Tanya untuk segera pergi dan jangan cemaskan dirinya.
Tanya bingung harus melakukan apa. Dia memikirkan sesuatu. Dan dia mengambil sabit milik anak Shahati.
Tanya keluar dari sana. Dia berpura-pura menjadi salah satu dari anak Shahati.
--

Haetuak datang dan kaget melihat mayat pelayan baru tersebut. Taealha memeriksa tubuh pelayan tersebut dan menemukan tanda Shahati. Haetuak kaget, untuk apa Shahati ada di Arthdal? Taealha sudah panik dan memberitahu Haetuak kalau ini adalah kudeta. Beritahu pasukan Daekan dan pengawal kalau Kudeta telah terjadi.

Haetuak masih bingung. Dia malah menduga kalau kudeta ini di lakukan oleh Yeobi. Taealha memarahi Haetuak yang bodoh. Anak-anak Shahati di sini, itu artinya semua adalah perbuatan Asa Ron!
Taealha juga bergegas keluar dengan membawa pedangnya. Tagon dalam bahaya karena pergi ke makam Sanung sendirian.
Dengan menaiki kuda, Taealha menuju tempat Tagon.
--
Para pasukan Daekan sedang berpesta minum merayakan Tagon yang akan segera melakukan gohamsani. Para pasukan yang ada di sana adalah Mugwang, Kitoha dan Barkyangpung. (Btw, aku baru sadar kalau yang jadi Mugwang ternyata adalah pemeran dokter Lee Yoo Joon di Doctor John. Astaga, peran mereka sangat berbeda karakternya. Di sini, karakternya sebagai Mugwang sangat menyebalkan, tapi di Doctor John, perannya sebagai Lee Yoo Joon cukup baik). Kitoha kemudian teringat kalau dulu Barkyangpung pernah menjalani pelatihan sebagai Pendeta dan di keluarkan saat pelatihan. Barkyangpung malu dan membantah hal tersebut.

Saat itu, seorang pria menghindakangkan seguci arak untuk mereka. Dia berkata kalau arak itu adalah khusus untuk para pemimpin Pasukan Daekan dan gratis. Mereka bertiga senang dan tidak curiga sama sekali. Saat itu, pria itu mengatakan sesuatu yang menarik perhatian Bakyrangpung, karena caranya bicara seolah dari Suku Gunung Putih. Pria itu langsung membantah dan berkata kalau dia berasal dari suku Garamal.
Kitoha dan Mugwang masih belum curiga dan menyuruh Barkyangpung untuk tidak bicara berlebihan. Barkyangpung berkata kalau dia hanya tidak suka dengan Suku Gunung Putih karena dia berasal dari suku minoritas. Kitoha menyuruh mereka untuk bersalaman sebagai tanda berdamai.
Saat mereka bersalaman, Barkyangpung menyadari sesuatu. Jari kelingking pria itu seperti telah lama berlatih menggunakan Belati Sabit. Perkataan Barkyangpung menarik perhatian Kitoha dan Mugwang. Mereka menyadari kalau pria itu pengkhianat. Mereka segera memecahkan guci arak itu dan ternyata di dalmanya ada ular berbisa.

Pria itu segera mengeluarkan belati yang di sembunyikannya dan menebas leher Kitoha. Kitoha sekarat. Mugwang segera menyerang pria tersebut. Dan karena kerja sama antara Mugwang dan Barkyangpung, mereka berhasil membunuh pria tersebut. Dan hal itu juga membuat mereka sadar kalau pasukan Daekan hendak di habisi.
Mugwang berteriak menyuruh Barkyangpung untuk memanggil ahli obat untuk menyembuhhkan Kitoha, sementara dia akan ke divisi militer!
--

Mungtae sedang berlatih sendirian menggunakan senjata-nya. Dia terus teringat saat dia mengkhianati teman sesukunya dan kabar kalau mereka yang di khianatinya akan di bawa kembali ke Arthdal.
Gilseon melihatnya berlatih dan bertanya kenapa Mungtae berlatih begitu keras? Padahal besok Mungtae harus pergi ke Puncak Gunung Putih bersama suku Wahan lainnya mendampingi Tanya.
Mungtae memberi hormat pada Gilseon dan menjawab pertanyaan Gilseon kalau dia ingin menjadi kuat agar tidak bisa di sakiti orang lain. Gilseon memuji Mungtae yang sudah kuat dan sedikit berlatih pun akan cukup. Mungtae berbakat.
“Namun, di Arthdal, kau hanya bisa lebih kuat jika memihak yang berkuasa. Kau baru tak bisa disakiti,” ujar Gilseon.
Saat itu, So Dang dan Pyeong Mi menghampiri Gilseon. Mungtae segera pamit pergi.
--
Mugwang memacu kuda-nya menuju ke markas Pasukan Daekan.
--

Haetuak datang ke Diviei Militer dan memberitahu mengenai kudeta yang terjadi ada Yangcha dan pasukan lainnya. Intinya, Tanya juga dalam bahaya. Mungtae kebetulan ada di sana dan mendengar apa yang mereka katakan.
--
Gilseon berteriak marah mendengar laporan So Dang dan Pyeong Mi. Dia bahkan memaki mereka sebagai pengkhianat. So Dang menyuruh Gilseon untuk mendengarkan mereka dulu. Mereka sudah di perintahkan Asa Ron untuk membunuh Gilseon terlebih dahulu. Jika mereka penkhianat, tidak mungkin mereka memberitahu masalah ini pada Gilseon.
“Gilseon! Jika Tagon Niruha mati, Asa Ron yang memimpin. Dan kau akan tamat, Bodoh. Tapi jika Tagon Niruha selamat dan balas menyerang, maka kita akan dibunuh.”
“Jadi, apa saran kalian?”
“Aku mau kita semua hidup. Kita semua berteman sejak kecil. Letakkan pisaumu lebih dahulu. Ayo cari cara agar kita bisa selamat. Tunggu saja, ya? Kita tunggu dan lihat siapa yang unggul. Itu cara kita bisa selamat,” saran So Dang dan Pyeon Mi.
Untungnya, Gilseon mau mendengarkan saran mereka.
--
Tagon masih mencari Asa Ron. Tapi, beberapa Lidah Hitam tiba-tiba muncul dan mengepung Tagon. Ada 3 orang. Tagon tersudut.
--

Taealha juga mengedarai kudanya dan di serang oleh pengawal Suku Gunug Putih. Taealha sampai terjatuh dari atas kuda-nya. Dia juga terkena beberapa tebasan pedang. Walaupun begitu, Taealha tidak menyerah. Dia malah menyeringai karena akhirnya semua menjadi seperti ini. Dia akan membunuh mereka semua!
--
Tagon berusaha keras membunuh semua para Lidah Hitam yang mengepungnya.
--

Barkryangpung membawa Kitoha ke pada Harim. Dia memohon agar Kitoha di selematkan.
--
Mugwang tiba di markas pasukan Daekan dan memberitahu kalau Perang telah di mulai.
--
Yangcha memacu kudanya menuju ke Kuil Agung.
--

Sodang, Pyeonmi dan Gilseon mendapat laporan kalau Pasukan Daekan telah bergerak membawa senjata. Mendengar laporan tersebut, mereka sadar kalau rencana Asa Ron telah gagal. Mereka segera menuju Kuil Agung. Mereka akan memihak pada Tagon.
--
Mungtae sendiri sudah berlari menuju Kuil Agung begitu mendengar kalau Tanya dalam bahaya.
--

Tagon dan Taealha masih bertarung melawan musuh mereka. Dan mereka berdua, berhasil mengalahkan semuanya.

Tidak hanya itu, mereka akhirnya saling bertemu. Keduanya langsung berpelukan penuh kelegaan karena mereka berdua ternyata masih hidup. Tagon sendiri tampak cukup terguncang karena banyaknya orang yang telah dibunuh. Dia memberitahu Taealha kalau dia sudah membunuh semua menteri. Semua sudah berakhir, Taealha.
“Aku mengerti,” ujar Taealha, menangis. “Kurasa kita kini tak akan disukai warga. Kita harus habisi yang masih hidup juga.”
“Itu tak penting lagi.”
“Kau tahu, itu tak pernah penting bagiku.”


No comments:

Post a Comment