Thursday, October 17, 2019

Sinopsis C- Drama : Arsenal Military Academy Episode 5 - part 1

0 comments


Sinopsis C- Drama : Arsenal Military Academy Episode 5 – part 1
Network : iQyi Netflix


Mendengar perkataan Sato yang tidak menyenang kan kepada wanitanya. Ting Bai pun merasa marah, dan ingin memberi pelajaran kepadanya. Namun Man Ting memegang lengannya untuk menghentikan nya.
“Ting Bai akan melindungi ku. Jangan khawatir,” kata Man Ting sambil tersenyum. Dan melihat betapa percaya dirinya Man Ting, maka Sato pun memberikan tanda pamit, kemudian dia pergi dari sana.


Setelah Sato pergi, Ting Bai memegang tangan Man Ting. Namun Man Ting langsung memukul tangannya, dan duduk kembali. Lalu Ting Bai pun ikut duduk di sebelahnya, dia mengingatkan Man Ting untuk berhati- hati saat keluar, bahkan lebih baik jika Man Ting hanya tinggal di rumah saja, dan dia akan mengirim kan lebih banyak pengawal untuk melindungin Man Ting.
“Jangan dengarkan dia. Jika dia benar- benar ingin menyakitiku, dia tidak akan mengatakan nya dengan lantang. Sekarang juga, Jepang sedang berkuasa, tidak ada yang berani bertarung melawan mereka kecuali kamu. Kamu harus hati- hati,” kata Man Ting, perhatian. Dan mendengar itu, Ting Bai tersenyum senang.

Dengan penuh percaya diri Ting Bai mengatakan bahwa dia akan bertarung mereka semua, jika memang harus, dan dia tidak akan pernah membungkuk kepada Jepang. Mendengar itu, Man Ting tertawa.
Man Ting mengomentari kalau sikap Ting Bai seperti anak kecil, dan dia menanyakan kenapa Ting Bai bisa seperti ini sekarang. Dan Ting Bai dengan serius mengatakan bahwa dia bukan anak kecil, lalu dia mengelus kepala Man Ting dengan lembut, dan menyuruhnya untuk menjaga diri dengan baik- baik.
Dengan kesal, karena tidak suka kepala nya di elus- elus, maka Man Ting pun memukul tangan Ting Bai. Lalu dia berjalan pergi darisana.
“Jangan lupa berdansa dengan ku nanti,” teriak Ting Bai.
“Lihat nanti saja!”

Di dalam kamar mandi. Xie Xiang merasa sangat kebingungan, karena Jun Shan masih berdiri di depan kamar mandi untuk menunggu nya. Dia meminta tolong kepada seseorang di sana untuk memberitahu Jun Shan agar jangan menunggu nya, karena dia akan sangat lama. Dan orang tersebut pun menyampaikan nya kepada Jun Shan.
Namun kemudian orang tersebut kembali dan memberitahu bahwa Jun Shan menjawab tidak apa- apa bila Xie Xiang lama, dia akan tetap menunggu, dan membawa Xie Xiang ke ruangan make- up nanti nya.
Mendengar itu, Xie Xiang pun berterima kasih kepada orang tersebut. kemudian dia mulai kebingungan lagi harus bagaimana.
Dalam perjalanan pulang. Asisten Sato menanyakan kepada Sato, apakah mereka harus memberikan pelajaran kepada Ting Bai. Dan Sato menjawab tidak perlu, sebab keluarga Shen telah menjalani bisnis di Shunyuan selama beberapa generasi, sehingga Ting Bai memiliki banyak koneksi, karena itu mereka tidak boleh macam- macam untuk saat ini.

“Lalu kita bisa mulai dengan orang- orang yang terkait dengannya. Jelas dia sangat peduli dengan wanita tadi,” saran si Asisten.
“Bertindaklah dengan hati- hati. Jangan membuat kehebohan besar. Jika militer ikut campur, keuntungan tidak akan menjadi mili kita sepenuh nya,” balas Sato, menyetujui saran tersebut.
Ting Bai menemanin orang- orang penting mengobrol. Kemudian salah satu dari orang penting tersebut, memperkenalkan Putri nya kepada Ting Bai. Dan dengan sopan, Ting Bai pun tersenyum kepada nya.


Putri orang penting tersebut, Bai, dia menceritakan bahwa dia mengingat saat Festival Musim Semi tahun lalu, Ting Bai pernah berkunjung ke tempat nya dan membawakan nya hadiah mantel bulu putih, yang diberikan nya kepada Ibunya. Karena dia menginginkan bulu hidup. Lalu tahun berikut nya, Ting bai benar- benar datang dan memberikan satu kepada nya. Namun karena takut bulu tersebut akan menjadi dingin, maka dia pun meletakkan nya dikandang, di samping kompor, dan menutupi nya dengan kapas tebal. Tapi kemudian, bulu itu mati.
Mendengar itu, awalnya Ting Bai tampak tidak ingat. Tapi kemudian dia tertawa, dan mengatakan bahwa jika memang Bai menyukai bulu itu, maka dia pun akan menyuruh orang nya untuk mengirimkan yang lain kepada Bai.


“Benarkah?” tanya Bai dengan senang. Lalu dia mengatakan bahwa dia baru saja pulang setelah bersekolah di luar negri, jadi dia belum mengenal siapapun atau mempunyai teman. Jadi dia meminta Ting Bai untuk menari bersamanya, dengan begitu mereka bisa menjadi teman dan dia bisa menerima hadiah dari Ting Bai nantinya.
Dengan ragu, Ting Bai hanya tersenyum dan diam saja. Namun karena Bai terus mendesak nya, serta Ayah Bai terus memberikan dorongan kepadanya. Maka dia pun tidak enak untuk menolak.

“Aku tidak tahu kalau aku boleh mendapatkan kehormatan ini untuk mengundang Anda untuk berdansa?” kata Ting Bai sambil mengulurkan tangan nya.
Dan dengan senang, Bai pun memegang tangan Ting Bai. “Tentu saja,” jawab nya.
Ting Bai serta Bai menari bersama di lantai dansa.
Man Ting berdiri di pinggir lantai dansa, dan memperhatikan Ting Bai yang sedang menari bersama dengan Bai.
Dua penggosip dan Nona Du, mereka kembali menggosipi dan menyindir Man Ting lagi. Mereka mengatakan bahwa hanya putri walikota, yaitu Bai, yang bisa menandingin Nona Du dalam hal mendapatkan Ting Bai. Sementara seseorang lagi yang hanya merupakan seorang rakyat jelata tidak sebanding dengan mereka.
Mendengar sindiran yang di tujukan untuk dirinya, Man Ting hanya diam saja, dan tidak menanggapin.

Xie Xiang mengintip untuk memeriksa apakah Jun Shan masih berada di depan kamar mandi, dan hasilnya iya. Melihat itu, Xie Xiang pun kembali masuk ke dalam.


“Nona Qu, apakah aku boleh mendapat kehormatan mengundang mu untuk berdansa?” tanya Yan Zhen sambil tersenyum manis kepada Man Ting. Mendengar itu, kedua penggosip serta Nona Du, menatap mereka dengan terkejut.


Dengan heran, Man Ting diam saja. Dan Yan Zhen pun mengulurkan tangan nya sambil memberikan kode. Mengerti akan maksud Yan Zhen, maka Man Ting pun memegang tangan Yan Zhen. Dan melihat itu, kedua penggosip serta Nona Du, mereka tampak iri.
Lagu berakhir. Dan Ting Bai pun mempersilahkan Bai untuk berjalan duluan kembali ke tempat duduk. Lalu dia ingin kembali juga. Namun pas disaat itu, Man Ting serta Yan Zhen berdiri di dekat nya, dan bersiap menari untuk lagu berikut nya. Melihat itu, Ting Bai tampak cemburu, tapi dia menahannya, dan pergi dari lantai dansa.


Yan Zhen serta Man Ting menari dengan sangat baik dan selaras. Mereka menari sambil mengobrol. Yan Zhen menanyakan, apakah Man Ting cemburu pada Ting Bai. Dan Man Ting menjawab tidak. Yan Zhen bertanya lagi, apakah Man Ting pernah menyukai seseorang. Dan Man Ting menjawab tidak, lalu dia bertanya balik. Dan Yan Zhen menjawab bahwa dia sama seperti ManTing.
Ting Bai berdiri dan memperhatikan mereka berdua dari jauh.

Yan Zhen kemudian memberitahu bahwa karena dia telah menolong Man Ting saat ini, maka dia berharap Man Ting tidak menganggu nya lagi. Dan Man Ting menanya kan, kenapa dia harus menganggu Yan Zhen, dan menurut nya ini belum berakhir.
“Kamu sangat kecil hati,” komentar Yan Zhen. Dan Man Ting membenarkan.

Lagu berakhir. Dan semua orang bertepuk tangan untuk tarian indah Yan Zhen serta Man Ting yang sangat memikat tersebut.
Xie Xiang mengintip sekali lagi. Kemudian dia keluar dari kamar mandi sambil berjalan dengan pelan- pelan supaya tidak menimbulkan suara. Tapi sialnya, Jun Shan malah menyadari itu, dan memanggil nya.
Dengan buru- buru, Xie Xiang pun langsung berlari pergi darisana. Dan dengan kebingungan, Jun Shan berlari menyusul nya.


Karena saking buru- buru nya, maka Xie Xiang pun tidak sengaja menabrak pelayan pembawa minuman. Dan memecahkan gelas. Lalu tepat disaat itu, dia juga tidak sengaja saling bertatapan mata dengan Yan Zhen yang berada di hall. Dan melihat Yan Zhen berada disana, Xie Xiang pun merasa semakin panik, dan langsung berlari pergi darisana.


Mendengar suara gelas pecah, maka Yan Zhen pun berbalik untuk melihat ada apa. Dan tepat disaat itu, mata nya bertatapan dengan Xie Xiang. Melihat Xie Xiang, dia merasa heran. Kemudian, saat Jun Shan lewat, dia pun semakin merasa heran.
Dalam perjalanan pulang. Zong Tang mengatakan bahwa dia ada mendengar, Jun Shan bersekolah di Akmil Liehuo juga. Dan Yan Zhen dengan malas mengatakan bahwa dia mendengar nya, karena seharian ini orang- orang terus membicarakan tentang keluarga Shen, satunya penguasa patriotik, dan satunya lagi adalah petugas yang bersemangat.
Zong Tang kemudian menanyakan, bagaimana hubungan Yan Zhen dengan Jun Shan. Dan Yan Zhen menjawab kalau dirinya tidak dekat dengan Jun Shan.

“Ingat, jaga jarak darinya. Keluarga Shen telah melewati batas. Jika mereka terus seperti ini, mereka akan mendapat masalah cepat atau lambat,” jelas Zong Tang, menasehati.
“Ayah, apakah masih ada orang baik dimata mu?” tanya Yan Zhen, sedikit sinis.
“Aku tidak peduli dengan orang lain. Tapi kamu adalah anakku. Tentu aku peduli padamu. Tidak apa- apa untuk membuat kesalahan kecil, tapi kamu harus tahu, apa yang benar dan salah,” balas Zong Tang.

Yan Zhen mengomentari bahwa Zong Tang terlalu banyak memikirkan tentang diri sendiri, jadi Zong Tang tidak seharusnya mengatakan tentang hal yang benar dan salah. Namun Zong Tang juga tidak perlu khawatir, karena dia tidak tertarik dalam masalah itu.

Sesampainya dirumah. Supir yang menyetir mobil barusan, dia menasehati Yan Zhen untuk jangan berbicara dengan sikap seperti itu pada Zong Tang lagi. Dia menjelaskan bahwa akhir- akhir ini Zong Tang sedang kesal, karena Jepang mengirimkan lebih banyak pasukan ke Feng’an, dan meskipun Zong Tang adalah wakil gurbenur Feng’an, tapi Zong Tang tidak memiliki pasukan atau uang ditangan nya. Bahkan orang- orang yang Zong Tang sukai, semuanya memiliki niat jahat, begitu juga dengan orang- orang diatas Zong Tang. Lalu Militer juga berantakan. Dan para siswa selalu meluncurkan pawai dan petisi. Sehingga karena itu Zong Tang belum dapat tidur nyenyak. Jadi dia berharap supaya Yan Zhen tidak membuat Zong Tang tambah kesal.

“Tuan Zhao, siapa yang mengajari mu mengatakan ini? Cukup berkelas,” tanya Yan Zhen, tidak percaya.
“Tidak ada. Semakin banyak kamu melihat, semakin kamu mengerti. Kehidupan Tuan Gu tidaklah mudah. Mohon perhatiannya,” balas Zhao, lalu dia pamit.

Tapi Yan Zhen dengan cepat, memanggil Zhao dan menghentikannya. Dia meminta Zhao untuk menyelidiki sesuatu bagi nya. Selidiki apakah ada orang bernama Xie di pesta malam ini yang  berusia sekitar delapan belas tahun. Dan Zhao pun mengiyakan.


Di bar. Xiao Yu membuatkan mie untuk Shun Ting supaya tidak kelaparan. Lalu dia menjahitkan jas Shun Ting yang sedikit robek. Dan kemudian dia memberitahu Shun Ting untuk mencoba setelan jas yang telah di buatkan nya, jika tidak sesuai nantinya, maka dia akan memperbaikinya.
Dan sambil makan, Shun Ting menjawab bahwa itu tidak perlu, karena dia tidak akan punya kesempatan untuk memakai setelan jas tersebut.

“Hari ketujuh adalah ulang tahun Nian Qing. Apakah kamu akan melihat nya dalam penampilan seperti ini ? Waktu berlalu begitu cepat. Dua puluh tahun berlalu dalam sekejap mata,” kata Xiao Yu, mengenang.
Dan mendengar itu, Shun Ting pun menjadi tidak selera makan. Tanpa menghabiskan makanan nya atau mengambil jas nya, dia pamit dan pergi darisana.

Melihat itu, Xiao Yu menatap sedih pada Shun Ting. Lalu tanpa sengaja, jarinya tertusuk oleh jarum yang sedang di pegang nya.

Didalam kamar asrama. Yan Zhen memikirkan tentang Xie Xiang yang dilihat nya di pesta. Serta tentang sikap aneh Liang Chen, yang di kenalnya. Sikap aneh Liang Chen yang membawa tank top wanita, dan tidak ingin membuka baju di depan orang.

Dilapangan menembak. Liang Chen berlatih menembak target dengan di dampingin oleh Huang Song yang mengajar kan nya. Lalu setelah selesai, Huang Song bertepuk tangan dan memuji Liang Chen yang memiliki banyak ke majuan. Dan Liang Chen menjawab bahwa itu karena dia tidak ini selalu berada di peringkat terbawah.
Liang Chen kemudian menghela nafas, dan memberitahu bahwa peluru yang di milikinya sudah habis. Dan dengan baik hati, Huang Song menawarkan peluru miliknya. Mendengar itu, Liang Chen merasa senang dan berterima kasih.

Liang Chen lalu membahas mengenai tentang pelatihan lapangan yang akan segera dilaksanakan, dia mendengar itu dari temannya yang bekerja di bar. Dan dia merasa khawatir, sebab dia tidak punya pengalaman.
Dengan perhatian, Huang Song menyuruh Liang Chen untuk tidak perlu khawatir. Karena ada dirinya. Jika Liang Chen mengikutinya, maka Liang Chen pasti akan aman disana. Mendengar itu, Liang Chen hanya tersenyum, lalu mengajak Huang Song untuk pergi.


Tepat disaat mereka berdua mau pergi, Yan Zhen datang. Dan dengan sengaja, dia menabrak dada Liang Chen. Lalu dia meminta maaf dan beralasan bahwa dia sedang terburu-buru. Namun kemudian, dia mengomentari betapa berotot nya dada Liang Chen terasa, kepadahal tubuh Liang Chen kurus.

Mendengar itu, Huang Song merasa penasaran dan ingin menyentuh dada Liang Chen. Tapi Yan Zhen langsung menghalangi nya, dan mencubit dadanya. Dengan heran, Huang Song pun bertanya kenapa dia tidak boleh menyentuh dada Liang Chen, padahal mereka sama-sama pria. Namun Yan Zhen tidak menjawab, dan terus mencubit nya.
Dengan malas, Liang Chen pun mengabaikan mereka berdua, dan pergi darisana.

Man Ting ingin pergi keluar untuk bekerja. Tapi para pengawal yang di kirimkan oleh Ting Bai menghalangin nya supaya tidak pergi keluar. Dan Man Ting pun mengeluh.
“Tuan Shen telah memerintahkan kami untuk melindungimu. Kamu bisa keluar hanya jika kamu memberitahu kami tujuan mu, dan aku akan memberitahu Tuan Shen. Kami akan mengantarmu kesana, setelah semuanya siap,” jelas si pengawal.

“Kamu mengatakan hal yang sama kemarin, dan kamu membiarkan ku menunggu sepanjang hari,” balas Man Ting.
“Ada pawai di tempat itu. Itu tidak aman.”
“Bagaimana dengan hari sebelum kemarin?”
“Ada juga pawai.”
Man Ting mengeluhkan bagaimana bisa selalu ada pawai setiap hari di tempat yang ingin dikunjunginnya. Dan si Pengawal menjawab dengan asal, dia mengatakan kalau suasana hati anak muda yang melakukan pawai mungkin tidak stabil, dan mungkin juga karena cuaca yang sedang cerah.

Dengan kesal, Man Ting protes, dan menanyakan, kapan situasi akan stabil. Dan si Pengawal menjawab bahwa menurutnya tidak ada hari yang cukup aman.
“Maka aku tidak bisa keluar selamanya?” tanya Man Ting kesal.
“Kamu sebaiknya tidak keluar. Jika kamu bersikeras untuk keluar, beritahu kami tujuan mu. Dan kami akan membuat beberapa pengaturan untuk memastikan keamanan mu,” jelas si Pengawal, sama seperti sebelumnya.

Dengan kesal, Man Ting ingin menendang nya. Tapi Ast. Manajer menahannya supaya bersabar, dan masuk kembali ke dalam kamar saja.
Didalam kamar. Man Ting mengeluhkan, kapan syuting mereka bisa selesai, jika terus begini. Dan Manajer menjawab bahwa tidak ada yang dapat mereka lakukan, sebab pembuatan film ini di danai oleh Shunyuan COC, jadi tanpa izin Ting Bai, tidak ada yang bisa memulai syuting.

Dengan lelah, Man Ting pun berpikir. Lalu dia mendapatkan ide tempat yang cocok untuk syuting. Dengan bersemangat, dia menyuruh Manajer untuk memberitahu itu pada Direktur Li, dan segera berkemas. Dan kedua manajer nya langsung mengiyakan, dan melakukan nya.
“Hm, kamu pikir aku tidak bisa keluar dari sini? Bodoh!” gumam Man Ting dengan bangga kepada dirinya sendiri.


Pelatihan lapangan di mulai. Dalam perjalanan, Liang Chen mengingat perkataan Zhong Xin. Dalam pelatihan lapangan militer pertama ini, Zhong Xin berharap semuanya bisa serius, dan mereka akan melawan tentara profesional yang sudah mengalami perang. Jadi kecerobohan apapun akan membuat mereka gagal. Hanya orang yang menghargai setiap latihan dengan baik yang bisa selamat dari perang sesungguh nya.
Selama perjalanan, Yan Zhen terus memperhatikan Liang Chen.

No comments:

Post a Comment