Saturday, October 12, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 40

1 comments

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 40
Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi

Shangyan ke kamar anak-anak KK. Dia melihat anak-anak itu tertidur dengan masih memakai headphone dan buku. Jadi, dengan perlahan dan lembut, Shangyan melepaskan barang-barang itu dan meletakkannya di meja. Setelah itu, dia keluar dari sana.

Begitu mendengar suara pintu tertutup, semua langsung bangkit dan tertawa. Ternyata, tidak ada satupun yang bisa tidur karena memikirkan pertandingan final besok. Mereka malah akhirnya menyalakan lampau dan berkumpul di meja. Mereka membicarakan mengenai pertandingan besok. One berkata walaupun dia tidak ikut bertanding dengan mereka di final, tapi dia mendoakan yang terbaik untuk mereka.
Dan untuk menyemangati diri mereka, mereka melakukan yel-yel mereka dengan menyatukan jari telunjuk. Setelah itu, mereka mulai berdiskusi mengenai taktik terbaik yang bisa mereka lakukan besok.
--

Xiaomi juga tidak bisa tidur dan pergi ke kamar Shangyan. Xiaomi memberitahu kalau sebenarnya dia berharap setelah kompetisi ini, Shangyan bisa kembali bertanding di dunia CTF. Shangyan langsung berkata kalau itu tidak mungkin. Waktu itu, di pertandingan hiburan, dia bisa mengalahkan orang-orang itu hanya karena keberuntungan. Dia sudah tua.

Shangyan kemudian lanjut bekerja lagi dengan serius. Sementara Xiaomi malah membujuk Shangyan untuk bertanding lagi. Shangyan berkata kalau dia sudah 30 tahun dan jika dia bertanding paling hanya bisa 2 tahun lagi. Tapi, jika dia melatih anak-anak KK, mereka bisa bertanding 10 tahun lagi dan itu lebih keren menurutnya.
Mereka kemudian membahas hal lainnya. Selesai berbincang, Xiaomi memilih tidur di sana menemani Shangyan yang masih bekerja.
Shangyan sendiri walau bekerja, sebenarnya dia mengingat segala perjuangan yang telah dia dan anggota KK lakukan demi bisa mencapai posisi ini.
--
Tidak hanya Xiaomi dan Shangyan yang tidak bisa tidur, tapi juga Yaya dan Tong Nian. Tong Nian malah nekat mengajak Yaya untuk pergi ke kantor KK sekarang juga. Yaya jelas ragu karena jam masih 11 malam, kalau mereka ke sana, sama saja mereka mengganggu istirahat anggota KK. Tong Nian malah menjawab kalau di dekat kantor KK ada minimarket yang buka 24 jam. Jadi mereka bisa menunggu di sana sampai pagi. Sekaligus jaga-jaga kalau mereka ketiduran dan malah jadi telat bangun, lebih baik menunggu di sana kan.
--
Esok pagi,
Xiaomi tidur di atas tempat tidur sementara Shangyan tidur di sofa. Tampaknya Shangyan juga begadang sepanjang malam. Dan dia masih juga bangun pagi. Setelah bangun, Shangyan membangunkan Xiaomi, tapi Xiaomi malah tidak mau bangun dan menutup diri dengan selimut.
Shangyan tidak berusaha lagi membangunkannya dan mulai sikat gigi. Saat itu, terdengar suara bel berbunyi. Dari CCTV yang terpasang, Shangyan bisa melihat kalau di depan pintu ada Tong Nian dan Yaya.

Tong Nian di depan pintu berusaha membuat berbagai pose dan ekspresi wajah. Yaya bingung melihat tingkah Tong Nian. Bukankah Tong Nian sudah memasang mesin pengenal wajah di pintu masuk KK. Tong Nian membenarkan, tapi dia lupa untuk mendaftarkan indentitas wajahnya sendiri. Tong Nian berusaha tetap tenang dan berkata kalau dia mencoba berbagai ekspresi, mungkin saja mesin akan mengenali ekspresinya mirip seperti salah satu anggota dan akhirnya pintu bisa di buka.

Dan untunglah Shangyan keluar. Tapi, Tong Nian malah merasa malu karena sudah membuat berbagai ekspresi wajah yang konyol. Shangyan membawa mereka masuk, sekaligus bertanya dengan heran, karena dia kan sudah bilang akan menjemput mereka nanti sore? Tong Nian menjelaskan kalau mereka sudah ada di sekitar sini sejak kemarin malam. Yaya langsung meminta izin untuk di biarkan tidur sejenak. Tong Nian yang sudah tahu segala sudut KK, langsung dengan santai membawa Yaya ke kamar tamu yang ada.

Shangyan sendiri sibuk mencoba membuat kopi dengan mesin yang Tong Nian beli. Tapi, dia sama sekali tidak bisa menggunakannya. Untungnya Tong Nian kembali dan segera membantu Shangyan. Dia bahkan menyuruh Shangyan untuk duduk saja sementara dia yang membuatkan kopi.
Tong Nian kembali membuat kopi latte. Dia membuat latte dengan bentuk hati. Shangyan jadi penasaran dan bertanya sejak kapan Tong Nian mempelajari cara membuat latte? Tong Nian menjawab tidak lama, dia mempelajarinya saat liburan musim dingin dan tidak punya hal yang di kerjakan, jadi dia belajar membuatnya.
Shangyan meminum kopi buatan Tong Nian dan memuji rasanya yang tidak buruk. Tong Nian tiba-tiba mendekat dan bertanya dengan serius. Bukankah menurut Shangyan, mereka ini di takdirkan? Shangyan malah bertanya balik, emang iya?
“Tentu saja ya!” jawab Tong Nian menggebu-gebu. “Pertama kali kita bertemu, kau kan sedang dalam mood yang jelek saat ini. Jadi, tanpa di duga kau malah pergi ke warnet sepupuku dan akhirnya kita bertemu. Kali kedua, adalah saat di Guangzhou. Kau di Guangzhou. Dan aku juga di Guangzhou. Dan kita bertemu lagi! Dan yang ketiga, adalah tadi. Aku di pintu masuk dan khawatir bagaimana caranya untuk masuk, dan kemudian kau muncul! Ini seperti Tuhan telah mengatur semuanya! Bukankah kita di takdirkan?”
Shangyan tidak menjawab malah terus minum kopi. Dan dia mengalihkan dengan bertanya apakah Tong Nian tidak merasa ngantuk? Tong Nian menjawab ngantuk dan semalaman dia menunggu di minimarket. Shangyan akhirnya menyuruh Tong Nian untuk istirahat di kamarnya, atau nantinya Tong Nian tidak ada tenaga menonton pertandingan final sore ini. Tong Nian tidak mau naik dulu, dia ingin melihat Shangyan menghabiskan kopinya dulu.
“Maka, aku mungkin tidak bisa menghabiskannya.”
“Kenapa?”
“Aku benci harus minum hati yang kau berikan padaku.”
Tong Nian tersenyum mendengar gombalan Shangyan. Mereka malah jadi bermesraan.
--
Tong Nian sudah tidur di kamar Shangyan. Dan Xiaomi tidur di sebelahnya dengan mengenakan selimut (wkwkw). Xiaomi mengira yang tidur di sebelahnya adalah Shangyan, jadi dia membangunkannya. Tong Nian mengira yang menyuruhnya bangun adalah Xiaomi, jadi dia malah menanyakan jam. Xiaomi melihat jam ponselnya dan menjawab jam 8.
Dan sedetik kemudian, mereka baru tersadar ada yang aneh. Begitu mereka saling berbalik, mereka langsung menjerit histeris karena yang dilihatnya adalah Tong Nian dan Xiaomi. Tong Nian langsung bertanya kenapa Xiaomi bisa ada di kamar Shangyan? Xiaomi balik bertanya pertanyaan yang sama, karena kan harusnya Tong Nian ada di rumah?
Shangyan masuk karena mendengar teriakan mereka dan kaget sendiri. Dia khilaf. Dia lupa kalau Xiaomi masih ada di atas tempat tidurnya dan malah menyuruh Tong Nian tidur di sana. Dia langsung meminta maaf pada mereka berdua. Tong Nian berusaha menenangkan diri dengan mencuci muka di kamar mandi. Sementara Xiaomi menanyakan mengenai Yaya.
Tong Nian menjawab dengan cepat kalau Yaya datang bersamanya dan sedang tidur di ruangan lain, jadi jangan khawatir.
Xiaomi langsung keluar dari kamar Shangyan sambil mengomeli Shangyan. Emangnya Shangyan tidak menganggap dirinya sebagai pria? Kalau Tong Nian mau tidur, Shangyan harusnya bilang padanya dan dia bisa pergi ke tempat lain. Shangyan balas mengomeli Xiaomi karena dia saja belum bertanya apa saja yang sudah Xiaomi lakukan pada pacarnya, tapi Xiaomi malah memarahinya seperti boss. Xiaomi langsung pergi keluar.

Shangyan sibuk meminta maaf pada Tong Nian karena dia lupa kalau Xiaomi ada di atas tempat tidurnya. Tong Nian untungnya berkata mau memaafkan Shangyan, tapi Shangyan jangan mengulangi kesalahan ini lagi.
Shangyan kemudian memberikan Tong Nian sikat gigi sekali pakai. Tong Nian kaget karena Shangyan mempunyai sekotak penuh sikat gigi sekali pakai. Shangyan menjelaskan kalau dia memang menyetok sebanyak itu karena sering berpergian keluar negeri. Dia malas berberes jadi tinggal membawa sikat gigi itu saja. Tong Nian menawarkan diri untuk membantu Shangyan packing barang jika Shangyan pergi keluar kota. Shangyan setuju.
Saat itu, Xiaomi masuk dengan panik menemui Shangyan. Ada masalah serius.
--

Grunt kembali mengalami sakit perut sama seperti dulu. Shangyan terlihat khawatir, tapi Grunt terus berkata kalau dia baik-baik saja. Shangyan marah karena Grunt berkata seperti itu padalah Grunt sudah minum obat tapi masih sakit. Itu namanya tidak baik-baik saja.
Shangyan akhirnya membuat keputusan. Dia menyuruh Xiaomi untuk membawa Grunt ke rumah sakit sekarang dan kemudian, mereka akan mengadakan rapat darurat. Mereka akan melakukan penukaran pemain.
Grunt menolak. Dia bahkan ingin meminum obat saja dan menyakinkan Shangyan setelah minum obat dia akan sembuh. 97 langsung melarang dan merebut botol obat dari tangan Grunt. Grunt sudah minum obat tadi. Shangyan berusaha membujuk Grunt dan menyuruhnya untuk berisitrahat.
Grunt tidak mau. Dia ingin bermain di final. Dia sampai menangis dan memohon pada Shangyan agar mengizinkannya bermain. Dia sudah sangat lama menunggu saat ini. Tiga tahun. Demi saat ini. Bahkan jika dia sakit sekarang, dia tetap bisa bermain. Dia bisa melakukannya! Dia berlatih setiap hari, setiap hari demi ini!
Shangyan sebenarnya kasihan. Tapi, semua demi kebaikan Grunt. Dia berkata kalau pertandingan hari ini entah mereka menang atau kalah, mereka sudah mendapatkan tiket untuk mengikuti Kejuaraan Dunia CTF. Jadi, Grunt harus pulih dulu sekarang. Setelah Grunt pulih, maka saat itu, Grunt pasti bisa bermain!
Grunt tetap ingin bermain. Ini demi negara mereka. Bagaimana jika mereka jadi kalah karena dia tidak bermain? Shangyan langsung balik bertanya, apakah Grunt tidak percaya pada anggota team KK lainnya? Tanpa Grunt, mereka pasti masih bisa mendapatkan juara pertama!
Grunt terus menolak. Shangyan menyuruh Xiaomi membawa Grunt ke rumah sakit segera dan yang lainnya berkumpul di ruang rapat. Grunt berusaha mengejar Shangyan dan akhirnya malah jatuh pingsan. Semua panik.

Pada akhirnya, ambulans datang untuk membawa Grunt. Shangyan menyuruh Xiaomi untuk pergi dengan Grunt ke rumah sakit. Xiaomi mengerti dan segera pergi. Shangyan bertanya pada 97, dimana Wu Bai? 97 memberitahu kalau Wu Bai dari pagi tadi sudah keluar bersama One untuk lari pagi. Shangyan memerintahkannya untuk menelpon mereka kemari, untuk rapat.
--
Semua sudah berkumpul. Dan Shangyan memerintahkan One untuk menggantikan posisi Grunt di final nanti. One jelas kaget. Dia merasa tidak percaya diri karena peringkat CTF-nya dan Grunt berbeda sangat jauh. Shangyan berkata kalau bukan One siapa lagi? Lagipula, One sudah pernah bertanding di kejuaraan nasional. Jadi, jangan bicara omong kosong lagi.
Shangyan memberitahu mereka semua kalau tadi dia sudah bilang pada Grunt bahwa hasil pertandingan hari ini tidak lah begitu penting, karena mereka sudah mendapatkan tiket untuk kejuaraan Dunia CTF. Tapi, mereka tetap harus mendapatkan juara hari ini. Tidak ada pilihan lainnya! Mereka mengerti! Shangyan segera menyuruh mereka untuk berlatih beberapa ronde lagi.
Wu Bai juga jadi tampak tegang. One bahkan bicara dengan Wu Bai, memohon pengertiannya karena dia ikut bermain. Wu Bai menyuruhnya untuk bermain seperti biasa saja dan jangan khawatir.
--

Shangyan juga tampak tegang. Tong Nian berkomentar kalau posisi pemain saat ini sama seperti saat Kejuaraan Nasional karena One menggantikan Grunt. Awalnya, mereka menggantikan One dengan Buff yang tingkatnya lebih tinggi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Tapi, sekarang One menggantikan Grunt yang posisi-nya juga tinggi, jadi, formasi sama saja dengan saat Kejuaraan Nasional. Tidak ada perubahan.
Shangyan masih mencoba optimis dengan berkata kalau posisi Buff lebih tinggi dari Grunt. Tong Nian merasa sama saja.
Saat itu, Yaya datang dengan panik. Dia ketiduran dan takut kalau Tong Nian sudah pergi. Dia tidak tahu apa yang terjadi mengenai Grunt.
Shangyan memilih keluar. Dia menyuruh Tong Nian dan Yaya untuk bicara santai saja. Dan nanti ke ruang konferensi untuk makan siang. Setelah Shangyan keluar, Tong Nian baru memberitahu Yaya kalau Grunt sakit dan tidak bisa kompetisi hingga harus di gantikan yang lain. Mendengar kabar itu, Yaya jelas kaget, kenapa Grunt harus sakit di saat seperti ini? Tong Nian membenarkan.
--
Team KK akhirnya pergi ke gedung pertandingan dengan menggunakan bus. Tong Nian juga mengenakan seragam KK. Mereka juga menyempatkan diri menonton pertandingan SP yang akhirnya berhasil meraih juara 3.
Pertandingan final di mulai.
Akhirnya hari ini tiba. Aku bisa melihat ekspresi bangga di wajahnya. Dia adalah Han Shangyan, pria-ku. Dia pasti bisa mencapai mimpinya. Karena dia sudah berusaha sangat keras. Dia sangat hebat! Aku bukannya tidak mau menerima lamarannya saat itu. Aku rasa, aku menunggu saat ini. Momen ini, dimana kami bisa merasa sangat bangga.
“Han Shangyan, mari menikah,” ajak Tong Nian dan jelas membuat Shangyan terkejut. “Entah kita kalah atau menang di kompetisi ini, aku akan selalu menemanimu. Ayo menikah.”
Shangyan begitu terkejut. Dia tersenyum kecil dan menyuruh Tong Nian melihat ke layar besar yang mereka mereka.
“Tidak masalah. Setelah kompetisi berakhir, kita akan menikah,” setuju Shangyan.
Tong Nian tersenyum penuh kebahagiaan dan menganggukan kepala.

Melihat anak-anak muda di hadapanku ini, seperti melihat diriku 10 tahun yang lalu. Di saat itu, seluruh dunia terlihat berada di bawah kakiku. Aku adalah orang yang kesepian. Dan berada di CTF, aku bisa merasa tenang. Ya, aku menyerah dulunya karena aku takut pada masa depan yang tidak jelas, takut kehilangan dan takut pengkhianatan. Dan kemudian aku sadar, aku tidaklah kuat sama sekali. Aku bersembunyi di bawah cangkangku dan menangis terus. Apa yang benar? Jika aku gagal, aku harus menyerahkan mimpiku pada yang lainnya. Mungkin hanya setelah bertemu para orang-orang lemah ini, kami bersama menjadi kuat. Jadi, aku memutuskan untuk bersama orang-orang ini dan berjuang bersama. Untuk melindungi hal ini yang lebih penting dari kebanggaan : mimpi.
Jalan ini sulit. Beberapa orang sukses, dan beberapa lagi mundur. Tapi mereka datang dan bertarung. Mereka membuat orang yang tidak percaya merasa malu. Mereka menolong yang kehilangan arah menemukan arah. Mereka selalu percaya bahwa tangan mereka sendiri mampu membuat masa depan. 10 tahun, aku tidak pernah berpikir untuk kembali ke panggung kompetisi. Aku mengira aku sudah menyerah bertarung, menyerah pada kebanggan. Tapi, hari itu aku tahu, bahkan walau sudah banyak tahun berlalu, mereka yang diam-diam mendukung, tidak pernah menyerah akan mimpi tersebut. Itu adalah memori masa muda mereka. Luar biasa tapi singkat. Kacau tapi bergairah. Masa muda kita bisa hilang, tapi siapa yang tidak punya penyesalan di masa muda mereka? Lihat anak-anak ini. Walau pada akhirnya hanya akan ada satu orang yang berdiri, mereka tetap bertarung hingga akhir. Karena mereka tidak bertarung sendirian, mereka yang berada di belakang mereka, mendukung mereka di setiap anak-anak muda pemain CTF.  Apa yang mereka bawa adalah 10 tahun perjuangan dari setiap harapan dan air mata pemain CTF.
Untuk mereka yang berjuang di dalam kompetisi ataupun di luar kompetisi, terimakasih semuanya! Dunia ini berhutang pada kalian sebuah kejuaraan!
Semua bersorak!!!
Team KK! Team China! Memenangkan pertandingan final! Sukacita berkumandang di arena.
Shangyan maju dan melemparkan bendera China kepada para anggota KK untuk mereka kibarkan.
--
Pertandingan selesai. Team SP menyambut mereka dan memberikan selamat atas kejuaraan yang mereka raih. Walau mereka dari team yang berbeda, tapi tetap mereka bahagia karena China menang.
Grunt juga datang ke arena karena kondisinya sudah lebih baik. Shangyan langsung memperingati Grunt untuk menjaga perutnya dengan baik dan jangan sampai sakit lagi di kompetisi selanjutnya. Grunt menyakinkan kalau dia pastia akan berusaha keras di  Kejuaran Dunia.
Shangyan juga mengundang semuanya untuk ke kantor KK. Dia akan mentraktir mereka semua makanan karena KK adalah tuan rumah hari ini.
Setelah itu, Shangyan mengajak Tong Nian pergi bersamanya. Mereka harus melakukan sesuatu.
Tapi, sebelum pergi, Shangyan terpikir sesuatu. Dia segera menghampiri Solo dan memintanya untuk membantunya. Dia tidak memberitahu minta bantuan apa, dan hanya meminta Solo untuk ikut dengannya ke lounge sebentar. Semua jelas penasaran dan menatap Tong Nian. Tong Nian langsung menjawab kalau dia juga tidak tahu.

Ai Qing menghampiri Wu Bai dan memberikan selamat padanya. Dia memeluk Wu Bai. Dia memberikan semangat pada Wu Bai untuk Kejuaraan Dunia nantinya. Dan Wu Bai tersenyum pada Ai Qing. Sangat lebar. Dia bahkan mengajak Ai Qing untuk minum kopi bersamanya.
--
Shangyan berjalan sangat cepat ke lounge. Solo jadi cemas, ada masalah apa? Shangyan tetap tidak menjawab. Dia membawa Solo ke ruangan kosong dan menutup pintunya dengan rapat. Setelah itu, dia menyuruh Solo untuk membuka baju. Solo jelas bingung. Eh, Shangyan malah mau membuka sendiri baju Solo karena Solo sangat lama.
Solo tidak mau dan meminta Shangyan menjelaskan dulu ada apa?
“Aku mau ke rumah Tong Nian. Tolong pinjamkan pakaianmu selama beberapa jam padaku,” pinta Shangyan.
“Ibu mertua mu menyiapkan perayaan untukmu? Okay,” ujar Solo, asal menyimpulkan.
Solo mulai membuka bajunya dan memberikannya pada Shangyan. Setelah menerima baju Solo, Shangyan malah nyuruh Solo keluar. Solo mana mau. Dia menyuruh Shangyan buka baju dan berikan padanya. Mereka kan harus barteran baju.
--
Xiaomi dan team KK penasaran karena Shangyan dan Solo tidak balik juga. Jadi, mereka mencarinya bersama dengan Tong Nian. Team SP juga ikut cari.
Dan mereka kaget juga saat melihat Shangyan dan Tong NIan tukaran baju. Tidak hanya itu, Solo bahkan memberikan jas untuk Solo kenakan. Dan mereka mulai menunjuk ke arah Tong Nian. Tong Nian melihat tatapan mereka dan menegaskan kalau dia tidak tahu apapun.
Shangyan sudah berganti baju dan mengajak Tong Nian pergi bersamanya. Mereka berpas-pasa dengan Lan Mei dan suaminya. Suaminya menangis dan mengucapkan selamat pada Shangyan. Shangyan tersenyum dan menyuruh suami Lan Mei dan Lan Mei ikut perayaan mereka nanti malam. Suami Lan Mei jelas makin bahagia.

Saat itu, dir. Xiang datang dengan seorang artis terkenal. Semua langsung heboh. Dir. Xiang berkata kalau artis itu datang untuk 97. Dia adalah fans 97 dan ingin minta tanda tangan 97. Semua jadi iri.

Xiaomi pergi keluar untuk menelpon keluarganya. Dia memberitahu mengenai kemenangan mereka. Yaya diam-diam mengikutinya dan senang karena Xiaomi tampak bahagia. Diam-diam, Yaya mendekat. Xiaomi menyadarinya dan menyuruh Yaya untuk bicara pada keluarganya. Xiaomi sebelumnya bilang pada neneknya kalau dia akan memperdengarkan suara wanita yang di sukainya.
Mendengar suara wanita, orang tua dan nenek Xiaomi langsung senang dan bertanya apakah Yaya adalah pacar Xiaomi? Yaya kaget mendengar pertanyaan itu, karena dia juga tidak tahu posisinya. Xiaomi menyuruh Yaya menjawab Ya, kalau dia adalah pacar Xiaomi.


1 comment: