Sunday, January 5, 2020

Sinopsis K-Drama : Chocolate Episode 12-1

2 comments

Sinopsis K-Drama : Chocolate Episode 12-1
Images by : JTBC
SELURUH KARAKTER, TEMPAT, PERUSAHAAN, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI ADALAH FIKSI

Cha Young mengemudikan mobil Kang dan membawa Kang menuju Wando. Kang berterimakasih atas bantuan Cha Young. Selama perjalanan, hanya ada kesunyian di antara mereka, di tengah gelap dan sepinya malam.
Dan setelah perjalanan 6 jam, mereka memasuki kawasan Wando.

Semakin mendekati Wando, semakin Kang teringat dengan kenangannya dengan paman Dong Gu. Paman yang selalu menghibur dan menyukai ibunya. Paman yang mungkin saja bisa menjadi ayah-nya, tapi tidak terjadi karena dia dan Su Hui pindah ke Seoul. Paman yang paling di sukainya.

Flashback
Musim Panas 1992,
Kang yang sudah keluar dari rumah sakit (karena jatuh ke laut bersama Jun), menemui paman Dong Gu di dermaga. Mata Dong Gu terlihat bengkak, dan Kang tahu itu karena paman Dong Gu menangis semalaman karena mereka akan pindah. Paman Dong Gu membantah kalau dia menangis karena dia adalah lelaki dewasa. Matanya membengkak karena di gigit kelabang saat tidur semalaman.
End
Ingatan itu membuat Kang semakin sedih.
--

tn. Lee dan Ny. Lee masuk ke dalam ruang rawat VIP Ny. Han. Dokter dan suster serta Ny. Yoon juga ada di dalam sana. Ny. Han masih belum sadarkan diri dan memakai alat bantu pernafasan. Ny. Lee dan tn. Lee menangis histeris melihat kondisi ibunya yang saat siang tadi masih baik-baik saja, kenapa sekarang jadi seperti ini?

Ny. Yoon berusaha menenangkan mereka dengan berkata kalau Ny. Han baik-baik saja, jadi jangan khawatir. Tapi, tn. Lee dan Ny. Lee tetap menangis histeris dan meminta Ny. Han untuk tidak mati dan jangan pergi. Ny. Yoon tampak kesal mendengar ucapan mereka. Tapi, dia menyembunyikan kekesalan-nya dengan sok sedih dan keluar dari kamar.
Di depan kamar, sudah ada Jun yang menunggu. Melihat Jun, Ny. Yoon langsung bertanya kenapa Jun hanya berdiri di luar saja? Wajah Jun tampak pucat. Dia menanyakan keadaan Ny. Han. Ny. Yoon hendak berbohong bahwa nenek baik-baik saja. Sayangnya, Jun adalah anak yang pintar. Dia sudah menanyakan kondisi nenek pada dokter yang merawat kalau nenek tidak akan pulih. Dokter memberitahunya bahwa apa saja bisa terjadi pada nenek mengingat kondisinya sekarang.
“Kenapa kau tak bisa menatapku? Apa ada masalah?” tanya Ny. Yoon curiga. “Dr. Choe dan para staf lain berusaha keras. Nenekmu akan segera pulih.”
“Kau menghubungi Kang?”
“Tidak, belum.”
“Bukankah sebaiknya kau hubungi dia?”
“Setelah nenekmu sadar...”
“Bagaimana jika tidak?” potong Jun.
“Kenapa kau tiba-tiba sangat memedulikan Kang? Sejak kapan kau sangat…”
“Bagaimana jika Nenek mengucapkan wasiat sebelum dia datang? "Satu-satunya keturunan sah Geosung adalah Kang. Karena itu, dia satu-satunya pewaris yang sah.",” ujar Jun.
“Apa maksudmu? Kang satu-satunya keturunan sah?” kaget Ny. Yoon dan melihat sekitar lorong yang untungnya tidak ada orang. Dia berpura-pura bodoh. “Apa maksudmu?”
“Artinya Kang dan aku mungkin memiliki nenek yang sama, tapi kakek kami tidak sama,” ujar Jun.
Ny. Yoon terdiam. Ucapan Jun membuktikan kalau Jun tahu yang sebenarnya. Kalau Jun tahu apa yang terjadi.
--

Akhirnya, Kang dan Cha Young tiba di rumah duka. Kang terdiam sesaat sebelum akhirnya keluar dari dalam mobil. Kang juga berterimakasih atas bantuan Cha Young.
Cha Young ikut keluar dari dalam mobil. Dia melepas celemek-nya yang dari kemarin masih dia gunakan. Dia pamit pada Kang kalau dia akan pulang sekarang dengan naik bus ekspress. Kang menganggukan kepala sopan.
Saat itu, Jeong-bok yang ada di depan rumah Kang, melihat Kang. Dia menyapa Kang dan memperkenalkan diri sebagai keponakan paman Dong Gu. Dia merasa terharu karena Kang mau datang ke sini pagi-pagi sebelum pemakaman, yang artinya Kang berangkat dari malam. Dia juga meminta Kang untuk bicara banmal saja dengannya karena dia 2 tahun lebih muda dari Kang.
Jeong Bok juga menjelaskan bagaimana dia bisa tahu mengenai Kang. Dia melihat foto Kang di salah satu foto teman-teman SNS-nya. Dia mengunggah foto Kang dan menulis caption kalau Kang adalah dokter luar biasa yang menyembuhkan penyakitnya. Jadi, dia memeriksa dan nama Kang terdengar sangat akrab. Dia mengenali Kang dan menghitung umur Kang dan sesuai. Karena itu, dia yakin Kang adalah Kang yang tinggal di Wando saat kecil. Dia juga tahu Kang bekerja di Geosung.

Setelah menjelaskan panjang lebar, Jeong Bok membawa Kang masuk ke dalam rumah duka.
--
Setelah berjalan cukup jauh, Cha Young baru tersadar kalau dia tidak membawa ponselnya. Dan sebaliknya, dia malah belum mengembalikan kunci mobil Kang dan membawanya. Dia segera bergegas kembali ke rumah duka.
Kang sudah masuk ke dalam rumah duka. Dia memberi penghormatan terakhir pada paman Dong Gu. Mata-nya berkaca-kaca.

Flashback
Kang berjanji pada paman Dong Gu kalau dia akan segera kembali ke Wando. Jadi, jangan terlalu sedih. Dong Gu malah memarahi Kang untuk tidak bicara omong kosong. Kenapa anak pintar seperti Kang kembali ke kampung? Lupakan saja tempat ini dan hiduplah bahagia di Seoul dengan nenek dan ibu.
“Aku tak mau pergi ke Seoul. Aku ingin tinggal di sini denganmu sampai mati,” ujar Kang, menangis. “Aku berjanji sebagai lelaki. Aku akan kembali sebelum San (anjing peliharaan-nya) berusia tiga tahun. Jadi, tolong tunggu hingga aku kembali. Aku akan kembali untuk menemuimu lagi. Jadi, tunggu sebentar.”
Paman Dong Gu jadi tidak bisa menahan air matanya. Dia memeluk Kang dengan erat dan mereka berdua menangis.
End

Kini, di depan foto mendiang paman Dong Gu, Kang hanya bisa meminta maaf karena lama sekali baru kembali. Penyesalan itu menyelimuti hati Kang.
Cha Young sudah tiba di depan rumah Kang. Tapi, dia ragu hendak masuk karena takut mengganggu Kang.
Jeong Bok membawa sekotak lusuh barang untuk Kang. Dia memberitahu bahwa paman Dong Gu ingin memberikan kota itu kepada Kang saat Kang kembali ke Wando. Jadi, bukalah.

Kang membuka kotak itu. Dan isinya adalah beraneka macam cokelat. Dia teringat paman Dong Gu dulu sering sekali memberikannya cokelat. (Sedihhhh T_T)
“Itu. Kau lihat itu? Kau menyimpannya untuk Kang dan berkata itu kesukaannya. Kau menyimpannya agar bisa memberikannya saat kembali. Aku sudah berikan kepadanya. Pasti lebih baik jika kau bisa memberikannya sendiri. Tapi kau tak bisa. Jadi, aku memberikannya mewakilimu,” ujar Jeong Bok, melihat ke arah foto Dong Gu, seolah Dong Gu ada di sana dan bisa mendengarnya.
Kang menatap foto Dong Gu. Dia tersenyum sedih. Air matanya menetes walau bibirnya tersenyum. Paman Dong Gu tidak pernah melupakannya sama sekali dan selalu menunggunya untuk kembali.
Cha Young ada di depan pintu rumah duka dan mendengar pembicaraan mereka.
--

Seon Ae ternyata kembali ke kedai kakek Ye Sol dan bahkan membantu melayani pelanggan. Kakek yang baru kembali jelas bingung karena Seon Ae ada di dalam tokonya dan melayani orang-orang. Setelah para pelanggan pergi, Seon Ae baru bicara dengan kakek. Dia tahu kalau kakek pasti baru dari rumah sakit karena membawa kantong berisi obat-obatan. Dia menegur kakek yang seharusnya mengunci pintu kedai atau pasang pengumuman jika pergi sebentar. Para pelanggan tadi banyak menunggu.
“Pak, kau sudah periksa apa kau menderita demensia?” tanya Seon Ae khawatir. Dan kakek langsung meringis marah. “Aku hanya bertanya. Aku menderita demensia. Kudengar kau tak merestui pernikahan putramu karena menantumu yatim dan lemah. Tapi dia melahirkan putri sehat dan cantik. Kau tahu betapa baik, hangat, dan perhatiannya gadis kecil itu? Sama seperti orang tua Ye-sol. Mereka sungguh saling mencintai dan menghargai.”
“Keluar! Jika kau tidak pergi, aku panggil polisi!” teriak kakek.
“Setelah beberapa lama, kau akan menyesal dan memohon maaf. Tapi saat itu sudah terlambat. Orang mengira mereka masih punya waktu. Tapi hidup sangat singkat. Sebelum terlambat, dan sebelum menantumu meninggal, sebaiknya kau merestui putra dan menantumu. Jika tidak, kau akan menyesal sepertiku,” nasehat Seon Ae.
Usai mengatakan semua itu, Seon Ae pulang ke sanatorium.
--

Begitu sampai di sanatorium, Seon Ae membawa Ye Sol ke dapur. Dia membawakan bakpao yang di tambahkan saus kacang merah dari kakek Ye Sol. Ye Sol jelas senang. Dia bahagia. Seon Ae menyuruhnya menikmati semua bakpao itu.
“Apa dia akan datang ke pernikahan orang tuaku?” tanya Ye Sol, bersemangat.
“Dia harus dapat undangan lebih dahulu. Ye-sol, kau harus mengunjunginya dan memberinya undangan.”
“Baiklah,” senyum Ye Sol.
--
Jun kembali ke sanatorium dengan perasaan yang kacau. Dia tampaknya tidak sempat pulang untuk mandi dan bertukar baju, hal itu terlihat dari wajahnya yang kacau.
Flashback
Ny. Yoon tidak takut walau Jun sudah tahu bahwa ayahnya bukanlah anak kandung dari pimpinan Geosung. Dia malah membahas kalau mendiang kakek sangat mengganggumi ayah Jun karena ayah Jun adalah putra sulungnya. Dan ayah Kang bukanlah apa-apa.
“Apa Ayah juga tahu?”
“Jadi, apa yang ingin kau lakukan?” tanya Ny. Yoon, mengintimidasi. “Haruskah kita jatuh bersama? Itukah yang kau mau? Jika itu yang kau mau, beri tahu ayahmu sendiri. Dia belum tahu apa-apa. Silakan kau pilih sendiri,” ujarnya, tersenyum mengancam. Dia tahu Jun tidak akan berani melakukannya.
End
Jun jelas semakin pening. Apalagi dia ingat ambisi ibunya yang sudah terlalu meningkat. Dia ingat saat Ny. Yoon berkata pada Ny. Han kalau dia hanya sebagai pemacu Kang. Dia ingat saat berkelahi dengan Kang di tengah hujan. Dia teringat ucapan Su Hui dulu bahwa Kang benci harus bersaing dengan Jun.
Semua hal-hal itu, menjadi beban tersendiri bagi Jun.
--
Jun dengan ragu pergi ke kantor Kang. Tapi, belum sempat dia membuka pintu, suster Nara yang kebetulan lewat setelah dari dapur, memberitahu kalau Kang tidak ada di ruangan. Kang hari ini tidak masuk kerja. Kenalannya meninggal, jadi Kang pergi ke Wando.
Pas sekali, Tae Hyun datang dan Nara langsung memberikan ponsel dan tas Cha Young yang ada di dapur. Tae Hyun berterimakasih dan bertanya dimana Cha Young? Nara memberiahu kalau Cha Young ada di Wando. Dia rasa Cha Young pergi dengan Kang. Nara tampaknya cemburu. Tae Hyun melihat kalau di sana ada Jun.

Tae Hyun mendapat telepon di ponsel Cha Young. Yang menelpon ternyata adalah Cha Young dengan telepon umum di Wando. Dia meminta Tae Hyun untuk mengirim pesan pada Kang. Tae Hyun tampak khawatir pada Cha Young, tapi Cha Young sudah mematikan telepon. Dengan suara keras, agar Jun bisa dengar, Tae Hyun bilang kalau Cha Young menyuruhnya mengirim pesan pada Kang kalau dia ada di taman dekat rumah duka dan harus menjemputnya setelah selesai.
“Kenapa dia ingin bertemu lagi? Untuk apa?” tanya Nara, curiga.
“Na-ra. Kau menyukai Dr. Lee?” tanya Tae Hyun.
“Tidak, itu tak masuk akal.”
“Baiklah. Urus saja urusanmu sendiri. Jika beri tahu kau suka, aku akan memberitahumu hal yang sangat penting.”
“Hal penting? Apa?” penasaran Nara.
“Katamu tak suka dia. Kalau begitu aku tak bisa memberitahumu karena ini rahasia besar.”
“Astaga, beri tahu aku. Beri tahu rahasianya,” mohonnya. “Sejujurnya, aku suka Dr. Lee.”
“Dr. Lee adalah yang pertama bagi Cha-young… Tidak, tunggu. Mereka cinta pertama satu sama lain. Cinta mereka berawal di Wando saat mereka masih kecil. Lalu bertemu di Rumah Sakit Geosung, lalu bertemu lagi di Yunani. Mereka selalu bertemu. Mungkin mereka memang berjodoh. Maksudku, tak ada ruang di antara mereka untuk orang sepertimu. Jadi, jangan cemburu atau iri pada kakakku. Aku akan sangat menghargai jika kau tak merasa begitu pada Cha-young,” beritahu Tae Hyun.
Tae Hyun mengatakannya dengan suara keras dan tentu saja terdengar oleh Jun. Jun berusaha tampak tidak peduli dan pergi dari sana.
--

Cha Young menunggu Kang di pinggir pantai. Ada sebuah kursi di sana, jadi Cha Young menunggu di sana. Dia tampak lelah. Dan dia juga masih memegang kunci mobil Kang.
--
Kang masih di pemakaman paman Dong Gu. Walau semua sudah beranjak pulang, Kang masih berdiri di depan makam.

“Pak Ha. Setelah sampai di surga, pastikan melamar ibuku, yang belum bisa kau lakukan. Jangan terintimidasi oleh ayahku.”
--
Seon Ae terburu-buru ke ruangan dir. Kwon. Dan walau di usir oleh dir. Kwon, Seon Ae tidak peduli dan memasak dir. Kwon ke dapur atau sup-nya akan dingin. Di dapur, ada banyak sekali makanan. Seon Ae memohon agar dir. Kwon memakannya. Mereka dulu tinggal bersama selama 1 tahun (karena menikah), tapi dia tidak tahu apa kesukaan dir. Kwon. Semua adalah salahnya. Jadi, dia memohon agar dir. Kwon memakan makanannya dan dia tidak akan muncul lagi di hadapan dir. Kwon. Tolong makanlah.
Dir. Kwon tidak mau. Dia meletakkan sumpitnya.
“Kukira aku masih punya waktu, tapi kurasa tidak,” ujar Seon Ae.
“Entah kenapa kau memberitahuku semua ini, aku tidak tertarik. Tolong minggir.”
“Katamu kau ingin makan masakanku. Jika tak makan hari ini, kau tak akan pernah bisa lagi. Jadi, tolong makanlah. Kumohon,” mohon Seon Ae dengan sangat.
“Setelah menceraikanmu, aku menikah lagi. Kami punya putra, tapi aku tak pernah memeluknya. Ibunya meninggal setelah melahirkan. Dia tinggal dengan kakek neneknya di Amerika lebih dari sepuluh tahun. "Tolong kembali ke Korea sekarang. Aku sangat merindukanmu, putraku." Aku tak pernah mengatakan itu kepadanya. Andai kau akan kembali kepadaku. Begitulah buruk dan sulitnya aku. Kau tidak kembali meski kutunggu. Dan kau baru muncul setelah sekian lama saat kau tua dan sakit. Kenapa? Kau pikir aku gampangan? Kau pikir bisa berbuat sesukamu denganku? Aku  tak tahu berapa lama sisa waktuku. Tapi selama itu, mohon biarkan aku hidup sebagai manusia biasa. Mohon menyingkir dari hidupku. Aku mohon,” jujur dir. Kwon, menumpahkan semua perasaan yang sudah di tahan-nya selama ini.
Seon Ae menangis. Dia kehilangan kata-katanya. Dir. Kwon pun menangis dan beranjak keluar dari dapur.
Kedua orang yang saling mencintai. Entah apa yang menjadi alasan Seon Ae menceraikan Dir. Kwon dulu. Dir. Kwon mencintai Seon Ae, hingga dia mengabaikan istri dan anaknya. Dia menunggu Seon Ae kembali padanya. Tapi, setelah penantian panjang Seon Ae tidak kunjung kembali. Seon Ae justru muncul ke hadapannya di saat seperti ini.

Dir Kwon kembali ke ruangannya. Dia melihat fotonya dan foto mendiang Min Seong yang di simpannya di laci. Dia menangis dan berulang kali mengucapkan permintaan maaf sambil menatap foto Min Seong. Dia merasa bersalah.
--
Kang mencari Cha Young di sekitar pinggir pantai. Dia sudah menerima pesan dari Tae Hyun.
Tae Hyun : Aku Tae-hyun, adik Cha-young. Cha-young lupa membawa ponsel dan dompetnya, jadi, dia tidak naik bus. Katanya dia akan menunggu di taman pantai dekat rumah duka. Dan dia sedang sakit sekarang. Kepalanya terbentur dan dia terluka. Dia kehilangan indra penciuman dan perasanya. Kau seorang dokter, jadi, aku ingin kau merawatnya. Kumohon.
Kang : Jika punya salinan rekam medis  dan hasil pindai MRI-nya, bisa kirimkan kepadaku?

Kang menemukan Cha Young yang tertidur di kursi dengan kepala tertunduk. Kang berdiri di hadapan Cha Young dan menatap Cha Young yang tertidur dengan memegang kunci mobilnya. Kang melepaskan jaketnya dan memasangkannya pada Cha Young yang tertidur. Hal itu membuat Cha Young jadi jatuh tertidur ke arah bahu Kang. Kang diam, tidak beranjak. Padahal, dia sedang dalam posisi berlutut dan di bawah adalah pasir berbatu kerikil. Dia membiarkan Cha Young tertidur dengan bersandar di bahunya.




2 comments:

  1. Ka aku mau riquest sinopsis queen love and war dong soalnya ga ada yng nulis..mnurut sya ceritny bagus....mnta d blz riquesnya

    ReplyDelete