Wednesday, January 1, 2020

Sinopsis K- Drama : Crash Landing On You Episode 6 - part 1

0 comments

Network : tvN Netflix
Tokoh, Kejadian, Organisasi, dan Latar Belakang adalah Fiksi
Se Ri mengajak Jung Hyuk untuk berfoto bersama sekali saja sebagai kenang- kenangan. Namun Jung Hyuk menolak dengan alasan itu tidak perlu. Dengan perasaan kecewa Se Ri pun mengiyakan, lalu dia keluar duluan dari studio foto.

Jung Hyuk membayarkan foto Se Ri dan dia meminta kepada petugas untuk mencetak kan satu foto tambahan lagi. Dan Petugas merasa heran, karena lima foto saja sudah cukup menurut nya, satu untuk paspor, satu lagi untuk resume, biro imigrasi, Air Koryo, dan satu lagi foto esktra untuk di luar negri. Tapi Jung Hyuk tetap meminta supaya petugas mencetak kan satu foto tambahan lagi.

Saat Se Ri baru saja keluar dari studio, dia terkejut melihat Seung Jung. Dan tiba- tiba saja Seung Jung langsung menarik tangan nya.

Melihat itu, Jung Hyuk langsung mengikuti mereka berdua dan menahan pintu lift sebelum tertutup. Lalu ketika dia melihat tangan Seung Jung yang memegang tangan Se Ri, dia merasa tidak senang, dan langsung memisah kan tangan Seung Jung dari tangan Se Ri. Dan dengan kuat dia menahan Seung Jung di dinding.

“Tampaknya ada salah paham. Se Ri, siapa pria ini?” kata Seung Jung, meminta Se Ri untuk menolong nya. Dan Se Ri pun menjelaskan kepada Jung Hyuk bahwa Seung Jung adalah kenalannya.
Jung Hyuk kemudian melepaskan Seung Jung, dan dengan lega Seung Jung menghela nafas. Tapi baru sebentar saja dia bisa bernafas lega, Jung Hyuk langsung memutar lengannya ke belakang, dan dengan kesakitan dia menjerit serta menjelaskan bahwa dia menderita diskolasi bahu kronis. Tapi Jung Hyuk sama sekali tidak mau melepaskan nya.


Jung Hyuk mengambil dompet Seung Jung dan memeriksa kartu identitas nya. “Kamu warga Inggris? Kenapa ke Korea Utara?” tanya Jung Hyuk mengintrogasi.
“Bisnis. Bisnis,” jawab Seung Jung dengan cepat. “Untuk apa aku memberitahu mu?!” keluhnya kemudian. Dan dia meminta Se Ri untuk menghentikan Jung Hyuk.


“Pak … dia bukan polisi. Dia pengawal ku,” kata Se Ri memperkenalkan Jung Hyuk. Dan mendengar itu, Jung Hyuk memandang Se Ri. “Lepaskan dia, Tuan Ri. Sudah kubilang lepaskan,” kata Se Ri, memerintah.
“Dia meminta mu melepaskan ku, Tuan Ri,” pinta Seung Jung, memerintah Jung Hyuk juga. Dan Jung Hyuk diam sambil tetap menatap Se Ri.
“Begitu pengawalku kesal, dia jarang melepaskan dengan mudah. Tuan Ri nakal. Tenanglah dan lepaskan tangannya,” kata Se Ri dengan sedikit mendesis kepada Jung Hyuk.
Dan dengan kesal Jung Hyuk pun semakin menekan tangan Seung Jung ke belakang. Sehingga Seung Jung semakin kesakitan.
Keluar dari lift. Seung Jung mengeluhkan bahwa bahu nya terasa hampir mau lepas. Dan dengan tajam, Jung Hyuk menatap nya. Melihat itu, Seung Jung merasa takut dan mengalihkan pembicaraan.

“Apa ini? Aku pasti terkejut jika menemuimu di Tokyo atau New York. Tapi ini Pyongyang,” kata Seung Jung sambil tertawa keras. Tapi dia langsung berhenti saat menatap ke arah Jung Hyuk.
Kemudian Seung Jung mengulur kan tangan nya untuk memegang Se Ri, namun dengan cepat Jung Hyuk langsung menahan tangan nya supaya jangan menyentuh Se Ri. Dan mengerti akan hal itu, Seung Jung pun menarik kembali tangan nya.

Lalu Seung Jung menanyakan, kenapa Se Ri bisa datang ke sini. Dan Se Ri balas bertanya, apakah Seung Jung tidak ada mendengar apapun soal dirinya. Dan Seung Jung pun mengingat perkataan Se Hyung yang mengatakan bahwa Se Ri sudah meninggal, tapi dia berbohong kepada Se Ri dengan mengatakan bahwa dia tidak ada mendengarkan apapun lalu dia pura- pura bertanya apakah ada sesuatu yang terjadi.
“Tidak. Masalah nya …” kata Se Ri dengan gugup.
Tepat disaat itu para pria berpakaian hitam datang, dan Seung Jung pun langsung merasa panik, tapi dia menyembunyikan ketakutan nya dengan tetap bersikap tenang. Namun Jung Hyuk menyadari kelagat aneh nya itu.


“Aku harus mengurus masalah mendesak. Bisakah kita bertemu lagi di kedai kopi hotel pukul 19.00?” tanya Seung Jung. Dan Se Ri mengiyakan. Kemudian Seung Jung pun memberikan selembar uang kepada Jung Hyuk sebagai terima kasih.
Tapi Jung Hyuk tidak mau mengambil nya. Dan Seung Jung pun langsung memasuk kan itu ke saku Jung Hyuk, lalu dia pamit dan langsung masuk ke dalam lift dengan alasan bahwa dia sedang buru- buru.
“Aku terkejut bisa menemuimu di sini. Ini pasti takdir,” kata Seung Jung. Lalu pintu lift pun tertutup.

Setelah pintu lift tertutup. Jung Hyuk menghela nafas kesal. “Pengawal mu?” tanyanya.
“Aku bisa bilang apa? Aku tidak bisa bilang aku bertunangan di Utara. Dan aku juga tidak berbohong. Kamu melindungiku sekarang, Jung Hyuk,” jelas Se Ri beralasan.
“Bukan melindungi, tapi mengawasi mu,” balas Jung Hyuk dengan tegas.

Se Ri tidak terlalu peduli, karena menurut nya itu tidak berbeda. Tapi Jung Hyuk merasa itu adalah dua hal yang berbeda, karena dia bukan orang yang terus membuntuti Se Ri untuk melindungi Se Ri.
Tepat disaat itu, Petugas hotel yang mendorong troli berisikan banyak koper lewat dan hampir saja menabrak Se Ri. Namun dengan segera Jung Hyuk langsung melindungi Se Ri. Kemudian dia kembali menjelaskan kepada Se Ri bahwa dia sedang mengawasi Se Ri bukan bermaksud untuk melindungi nya.

Tepat disaat itu. Rombongan wisatawan lewat dan hampir saja menyenggol Se Ri. Namun dengan segera Jung Hyuk langsung menarik Se Ri ke samping dan melindungi nya. kemudian dia kembali mengeluhkan bahwa Se Ri bisa saja menyebut nya sebagai atasan, bukannya sebagai pengawal.
Dan Se Ri tersenyum mendengar itu.


Tepat disaat itu. Sebuah bola hampir saja mengenai Se Ri. Tapi Jung Hyuk langsung menghentikan bola itu dengan kaki nya.
“Jung Hyuk. Inilah yang dilakukan pengawal,” jelas Se Ri sambil tersenyum senang.


Ketika Seung Jung baru saja keluar dari dalam lift. Dia langsung di kejar oleh orang- orang yang dulu adalah para pengawal nya. Dan dengan segera dia pun langsung berlari kabur dari mereka sambil mengeluh kan bahwa anjing tidak pernah mengigit pemilik nya. Tapi walaupun dia mengatakan itu, semuanya percuma, karena mereka terus mengejar Seung Jung.
Seung Jung masuk ke dalam ruangan tangga darurat dan berlari sekencang mungkin lalu menipu mereka dengan berpura- pura naik tapi kemudian turun lagi dan keluar dari pintu yang berbeda dan mengunci nya. Dan saat mereka semua menyadari nya, mereka telah terlambat, karena Seung Jung telah berhasil lolos dari kejaran mereka.

“Dasar bajingan itu,” keluh Seung Jung dengan kelelahan. Kemudian dia pun masuk ke dalam kamar. Tapi baru saja dia masuk, dia langsung keluar lagi, karena Cheon mengarahkan pistol ke arah kepala nya.

Dicafe. Jung Hyuk menanyakan dengan penasaran, bagaimana Se Ri bisa mengenal Seung Jung. Dan Se Ri menjelaskan bahwa jika dia memberitahu Jung Hyuk, maka dia harus membahas sejarah keluarga nya, karena dia adalah seorang putri konglomerat. Dan Jung Hyuk tahu itu sebab Se Ri sudah sering mengatakan hal itu hingga dia pun sampai hafal.

“Bagi orang sepertiku, keluarga bermakna berbeda. Seolah-olah … menjadi putri yang baik adalah bisnis. Bahkan dengan siapa ayahku sarapan bisa menjadi urusan bisnis,” jelas Se Ri, bercerita.
“Begitukah?”
“Ya. Tidak penting aku baik atau tidak. Aku harus lebih baik dari kakakku. Dan kakakku harus lebih baik dariku. Kami tidak mungkin punya rasa persaudaraan.”

Jung Hyuk tidak mengerti dengan cerita Se Ri. Sebab dia hanya menanyakan, kenapa Se Ri bisa mengenal Seung Jung. Dan Se Ri meminta Jung Hyuk untuk mendengarkan saja kisah nya ini. Dan Jung Hyuk pun mendengarkan.
“Saat kamu muak akan kompetisi, kamu berharap kompetitormu menghilang. Kurasa kakakku seperti itu. Jadi... mereka putuskan menjodohkanku dengan pria yang tadi. Orang Korea yang tinggal di luar. Berarti kakakku ingin membuangku ke negara lain. Mengirimku jauh agar tidak perlu melihatku. Agar aku tidak merebut apa pun. Tapi aku tidak melakukannya. Tidak mungkin aku mau lakukan itu. Kedua kakakku pasti girang saat ini. Mereka kira aku sudah mati,” jelas Se Ri.
Jung Hyuk tidak percaya dan mengatai bahwa Se Ri telah bersikap bodoh. Menurutnya ini adalah masalah hidup dan mati, jadi sebagai keluarga, mereka tidak mungkin akan mengabaikan Se Ri. Dia yakin bahwa saat ini kedua saudara Se Ri sedang mengkhawatir kan Se Ri dan merasa bersalah kepada Se Ri. Walaupun Se Ri tidak akrab dan sering bertengkar dengan mereka. Jadi dia meminta Se Ri untuk tidak mengatakan hal yang kejam.
Mendengar itu, Se Ri hanya diam saja sambil menunduk kan kepala nya dengan sedih. Dan Jung Hyuk menegas kan lagi. “Mereka pasti sedang menunggu kepulangan mu.”

Seorang wanita berbaju merah menelpon Seo Dan dan menanyakan, dimana Seo Dan berada sekarang. Karena dia melihat Jung Hyuk sedang ada di hotel Pyongyang bersama dengan seorang wanita. Dan Seo Dan yang sedang berada disalon tertawa pelan dan menjelaskan bahwa dia tahu itu, bahkan dia akan datang menemui mereka berdua ke sana nanti.

Namun setelah telpon dimatikan, Seo Dan langsung tampak kesal. Dia meminta karyawan salon untuk melepaskan gulungan rambut nya karena dia harus segera pergi.

“Kamu mau kemana?” tanya Ibu.
“Aku punya janji bertemu dengan Jung Hyuk.”
Myeong Eun terkejut serta merasa senang, karena dia baru tahu kalau Jung Hyuk datang ke Pyongyang lagi. Dan tanpa menjelaskan, Seo Dan meminta Myeong Eun untuk menghubungi kedua orang tua Jung Hyuk dan mengundang mereka untuk  makan malam bersama nanti jam 9 di restoran hotel Pyongyang.  Dan Myeong Eun sangat setuju dengan itu.

Seo Dan kemudian pamit kepada Myeong Eun, karena dia mau pergi menemui Jung Hyuk duluan. Dan Myeong Eun mengiyakan. Lalu Seo Dan pun langsung pergi.
Dengan bersemangat, Myeong Eun meminta karyawan salon untuk memberikan perubahan yang menawan kepada nya. Dan si karyawan pun mengiyakan.


“Aku menyerah. Aku sudah berlutut,” pinta Seung Jung yang telah di pukuli habis- habisan sebelum nya. Mendengar itu, Cheon pun mendekati Seung Jung dan mengulurkan hp nya sambil terus memegang pistol supaya Seung Jung tidak bisa perbuat macam- macam.
“Aku sungguh minta maaf, Pak. Aku sedang introspeksi diri mengenai perbuatanku,” kata Seung Jung dengan lembut kepada Se Hyung yang berada di telpon.
“Lupakan. Tak boleh menawar,” balas Se Hyung, dingin.

Seung Jung mencoba mengajak Se Hyung untuk bernegosiasi. Dia ingin Se Hyung untuk melepaskan nya dan sebagai imbalan nya dia akan memberikan sebuah kabar yang sangat menguntungkan untuk Se Hyung. Namun Se Hyung tidak mau karena dia mengira Seung Jung mau menipu nya lagi.

Seung Jung memohon kepada Cheon untuk memberikan hp kepada nya, karena dia ingin berbicara langsung dengan Se Hyung. Dan Cheon pun memberikan nya. Lalu dengan santai Seung Jung berbicara dengan Se Hyun dan membahas tentang Se Ri yang masih hidup.
“Apa katamu?”
“Se Ri. Dia masih hidup.”

Se Hyung tidak percaya dan menyuruh Seung Jung untuk jangan berbohong. Dan dengan tegas Seung Jung menjelaskan bahwa dia serius karena dia telah melihat Se Ri secara langsung. Dengan sedikit panik, Se Hyung pun merasa tertarik dan menanyakan, dimana Seung Jung melihat Se Ri.
“Dia ada dimana?” tanya Se Hyung lagi.

Jung Hyuk membuka pintu kamar hotel, tapi sebelum mereka masuk ke dalam nya, Jung Hyuk memberikan tanda supaya Se Ri jangan bicara. Dan dengan bingung, Se Ri pun diam serta mengikuti Jung Hyuk masuk ke dalam kamar.

Saat sudah masuk ke dalam kamar, Jung Hyuk langsung memeriksa ke setiap sudut kamar dan langit- langit. Dan dia mematikan sebuah alat kecil yang ada disana satu persatu. Dan Se Ri merasa terkejut melihat semua alat yang kecil yang ditemukan oleh Jung Hyuk di dalam kamar.

“Semuanya alat penyadap ..” kata Se Ri karena merasa terkejut. Tapi dia langsung menutup mulut nya dan diam. Lalu dia mengikuti Jung Hyuk ke dalam kamar mandi untuk memeriksa.
Jung Hyuk mengambil air dan menyiram lampu di atas atap kamar mandi. Dan lampu itu pun langsung padam. “Daebak (Astaga),” gumam Se Ri terkejut karena tidak menyangka.

Setelah semua alat sudah mati, Jung Hyuk pun mempersilahkan Se Ri untuk berbicara. Dan Se Ri pun menanyakan apakah semua alat kecil itu adalah penyadap. Dan Jung Hyuk membenarkan hal itu serta menjelaskan bahwa biasa nya semua kamar di hotel memang di pasangi alat penyadap.
“Semua kamar?”
“Mungkin.”

Se Ri merasa cemas, apakah benar Jung Hyuk sudah menyingkirkan semua alat penyadap di dalam kamar. Dan Jung Hyuk langsung menjelaskan bahwa dia tinggal di dalam kamar sebelah, jadi jika ada masalah Se Ri bisa …
Sebelum Jung Hyuk selesai berbicara, Se Ri langsung menyela dan mengatakan bahwa dia akan segera menghubungi Jung Hyuk bila ada masalah. Dan Jung Hyuk langsung menjelas kan bahwa Se Ri jangan menelpon nya, kecuali situasi nya genting.
“Tunggu. Kapan aku akan menerima fotoku?” tanya Se Ri, sebelum Jung Hyuk pergi.
“Besok pagi,” jawab Jung Hyuk.
“Pasporku juga diberikan besok?”
“Paspor semua anggota diberikan sebelum keberangkatan.”
Se Ri masih merasa cemas dan khawatir, apakah dia beneran bisa melakukan ini tanpa ketahuan. Dan Jung Hyuk menjelaskan bahwa Se Ri hanya perlu untuk tidak bersikap terlalu mencolok dan tetaplah diam. Namun Se Ri malah bersikap narsis dengan mengatakan bahwa dia memang selalu mencolok dan menarik perhatian, bahkan saat dia bernafas jadi dia merasa semakin cemas.
“Kurasa kamu perlu tidur. Kamu tampaknya sudah gila,” komentar Jung Hyuk dengan lelah.
“Apa? Tidak,” sangkal Se Ri.

Se Ri tiba- tiba teringat kepada Seung Jung. Karena barusan Seung Jung mengatakan bahwa dia datang ke sini untuk urusan bisnis, jadi diapun bertanya- tanya apakah lebih baik dia pulang bersama dengan Seung Jung saja. Karena walaupun dia tidak mermpercayai Seung Jung, namun seperti kata Seung Jung barusan bahwa mungkin saja pertemuan mereka ini adalah takdir.

Mendengar kata ‘takdir’ Jung Hyuk mendengus. “Kamu pikir takdir semudah itu?”
“Aku nyaris menikah dengannya, dan bertemu lagi di sini. Itu langka.”
“Lantas misalnya … maksudku, ini hanya contoh,” kata Jung Hyuk dengan gugup. “Kamu jatuh dari langit dan aku menemukanmu. Kamu kabur, tapi berakhir di depan rumah ku.”
“Itu hanya kebetulan …”
“Apa?!” bentak Jung Hyuk, kesal. “Bukan. Ucapanmu itu bukan kebetulan.”

Se Ri tersenyum geli sedikit dan menanyakan dengan heran, kenapa Jung Hyuk begitu kompetitif untuk hal seperti ini. Dan Jung Hyuk pun langsung menjadi tenang kembali. Dengan gugup dia menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud seperti itu, tapi dia cuma menjelaskan perbedaan antara takdir dan kebetulan saja.
“Apa? Jung Hyuk, kamu ingin menjadi takdir ku?” goda Se Ri. Dan Jung Hyuk menyangkal. “Baiklah. Anggaplah kita ditakdirkan bertemu,” kata Se Ri dengan senang.
“Tidak usah diumpamakan,” balas Jung Hyuk, malu.
“Lagi pula, ini pertemuan lintas perbatasan. Bisa dibilang begitu,” jelas Se Ri dengan bangga.
“Aku bilang, tidak perlu,” teriak Jung Hyuk.

Seo Dan menghampiri meja resepsionis dan menanyakan, apakah ada tamu bernama Jung Hyuk terdaftar di sini. Dan karyawan hotel meminta maaf sebab mereka tidak bisa memberitahukan nomor kamar tamu mereka.
“Tentu saja bisa,” tegas Seo Dan. Lalu dia menelpon pemilik hotel dan menyambungkan nya kepada si karyawan. Dan kemudian dengan hormat serta sopan, si karyawan mencarikan data tamu yang Seo Dan inginkan.
“Dia memesan dua kamar,” kata si karyawan, memberitahu.


Seo Dan berdiri di depan dua kamar dengan bingung. Dia tidak tahu harus mengetuk pintu yang mana. Dan tepat disaat itu, Jung Hyuk keluar dari dalam kamar. Disusul oleh Se Ri.
“Jika hal seperti ini terjadi dua kali berturut-turut, aku seharusnya sedih, 'kan?” kata Seo Dan dengan tidak senang. Dan Jung Hyuk serta Se Ri sama- sama menunduk kan kepala.
“Pasti begitu,” jawab Se Ri.

Seo Dan mengabaikan Se Ri dan berbicara kepada Jung Hyuk. Dia menjelaskan bahwa dia datang untuk memastikan karena dia mendengar kalau Jung Hyuk berada di hotel ini. Dan Jung Hyuk menanyakan, darimana Seo Dan mengetahui nomor kamar nya. 
“Putra pemilik hotel mengejarku saat aku kuliah di Rusia,” kata Seo Dan dengan bangga.
“Begini … aku mengerti ini bisa menimbulkan kesalah pahaman. Tapi, asal kau tahu, kami tidur di kamar terpisah … “ kata Se Ri, menjelaskan. Tapi Seo Dan tidak peduli dengan itu.

Dengan canggung, Se Ri pun mempersilahkan mereka berdua untuk mengobrol. Tapi Seo Dan malah tiba- tiba menanyakan kepada Jung Hyuk, apakah Jung Hyuk masih ingin dia tetap disini. Mendengar itu, Se Ri pun semakin tambah canggung.
Tanpa mengatakan apapun Jung Hyuk mengambil kunci kamar nya dari Se Ri. Dan lalu dia masuk ke dalam kamar nya. Melihat itu, Seo Dan merasa tidak senang.

“Dia tidak akan membunuhnya, kan?” gumam Se Ri, cemas.
Didalam kamar. Jung Hyuk menanyakan, kenapa Seo Dan tidak menghubungi nya. Dan Seo Dan membalas dengan ketus bahwa seharusnya Jung Hyuk lah yang menghubungi nya. Lalu Seo Dan menanyakan apakah Jung Hyuk tahu perasaan nya saat dia mendengar kabar kalau Jung Hyuk berada di hotel bersama dengan seorang wanita. Dan Jung Hyuk meminta maaf karena telah mempermalukan Seo Dan.

Seo Dan kemudian menanyakan, apakah Jung Hyuk ada rencana malam ini, karena mereka harus makan malam bersama keluarga. Dan Jung Hyuk mengiyakan semua itu, karena dia telah berjanji untuk mengikuti semua keinginan Seo Dan, jadi dia akan bersikap kooperatif. Lalu dengan sikap kaku, Jung Hyuk menanyakan, apakah ada hal lain yang harus di lakukan nya, karena dia akan melakukan nya. Mendengar itu, Seo Dan tampak tidak senang.
“Tidak. Sampai jumpa di restoran hotel ini pukul 19.00,” kata Seo Dan dengan cepat. Lalu dia pun pergi.

Se Hyung tetap tidak mempercayai Seung Jung. Dan Seung Jung mengerti. namun kemudian Se Hyung tetap menanyakan dimana Se Ri. Dan Seung Jung tidak mau memberitahu secepat itu, sebab dia membutuhkan ini untuk bernegosiasi.
“Kamu ingin kuhabisi disana?” ancam Se Hyung.
“Jika kamu membunuhku di sini, uang mu tidak akan pernah ditemukan. Kamu tidak keberatan?” balas Seung Jung dengan berani.
Se Hyung merasa stress dan bingung. Dia menanyakan, apa yang Seung Jung mau. Dan Seung Jung menjawab bahwa dia mau setengah uang Se Hyung, jadi intinya dia hanya akan mengembalikan setengah uang Se Hyung. Dengan kesal, Se Hyung pun mengumpat.
“Aku hanya membahas adikmu sendiri. Aku tahu keberadaan adikmu yang katanya sudah meninggal. Aku yakin itu sepadan dengan uangnya,” jelas Seung Jung.
Cheon dan para anak buahnya meninggalkan Seung Jung yang masih ingin sendirian di atap. Namun dengan sikap waspada Cheon tetap meminta para anak buah nya untuk mengawasi Seung Jung, sebab mereka tidak tahu apa rencana Seung Jung.

Seo Dan naik ke atas atap. Dan terkejut saat melihat Seung Jung ada disana juga. “Permisi. Jika kamu mau melompat, gedung sebelah sana lebih tinggi daripada hotel ini. Kamu harus ke sana,” kata Seo Dan memberikan saran bunuh diri.
“Kamu kenal aku?” tanya Seung Jung. “Tampak nya begitu,” kata nya dengan bangga.


Seo Dan teringat tentang Seung Jung yang telah memberikan tumpangan padanya kemarin. Dan melihat kalau sepertinya Seo Dan sudah ingat, Seung Jung pun tertawa. Lalu dia menjelaskan bahwa dia berasal dari Inggris dan datang ke sini untuk berbisnis.
“Aku tidak tertarik dengan gaya bicaramu,” kata Seo Dan, tidak peduli.
“Kurasa pria yang kau sukai menyakitimu. Atap ini tempat yang cocok untuk meratap.”
“Tunanganku di hotel dengan wanita lain.”


“Astaga. Itu masalah besar. Kau menangkap basah dia?” tanya Seung Jung dengan bersamangat dan tertarik. “Jangan terlalu sedih karena pria itu. Jika begitu, pria itu akan menjauhimu. Tahu alasannya? Pria tidak ingin bersama seseorang yang merepotkan nya,” jelas Seung Jung.
“Lalu aku harus apa?” tanya Seo Dan, mendengarkan.
“Abaikan saja. Jika kau abaikan dia, kau tidak akan diabaikan nanti. Jika membahas hubungan romantis, posisi awalmu akan kekal,” jelas Seung Jung.

Seo Dan memperhatikan Seung Jung, dan menanyakan kenapa Seung Jung ada diatap. Dan Seung Jung menjelaskan dengan jujur bahwa dia sedang ada masalah dengan uang, karena dia sangat mencintai uang. Dia mengira uang nya sudah datang kepadanya, tapi ternyata belum dan uang itu malah melukai nya seperti ini.
Mendengar itu, Seo Dan tersenyum kecil. “Jika bicara soal uang, posisi awalmu juga penting. Uang hanya datang saat diabaikan dan direndahkan. Jika kau menempel terus dan mengikutinya, uang akan kabur darimu, menunggumu menangkapnya,” kata Seo Dan, balas memberikan saran.


Seung Jung senang karena tampaknya mereka berdua bisa saling belajar dari satu sama lain. Kemudian dengan malu, Seung Jung merapikan pakaiannya, dan mengulurkan tangannya serta memperkenalkan dirinya secara resmi. Dan Seo Dan menyambut uluran tangan Seung Jung serta memperkenalkan nama nya juga. Mereka berdua saling tersenyum.
Didalam lift. Se Ri menjelaskan bahwa barusan dia sempat khawatir kalau Jung Hyuk akan ditembak dengan sinar laser yang keluar dari mata Seo Dan. Jung Hyuk mengabaikan hal itu dan bertanya, apakah Se Ri yakin bisa sendiri.
“Tidak apa- apa. Aku sudah kenal dia. Dia memang bukan pria baik, tapi dia tidak seburuk itu.”
“Singkirkan capit saat memakan kepiting matang,” jelas Jung Hyuk.

“Kenapa kepiting?” tanya Se Ri, tidak mengerti.
“Orang ceroboh sepertimu harus berhati-hati akan segalanya. Orang yang kamu percaya bisa mengkhianatimu dengan mudah. Itu berbahaya,” jelas Jung Hyuk dengan tegas.
Se Ri mengomentari bahwa itu berbahaya. Mata Jung Hyuk memancarkan tatapan ‘Aku jatuh cinta dan khawati padamu’. Dan Se Ri pun mengingatkan Jung Hyuk untuk jangan sampai jatuh cinta padanya karena itu akan membuat nya merasa canggung.

Dengan bingung, Jung Hyuk menyentuh dahi Se Ri untuk mengecek suhu tubuh nya. “Kamu tidak demam.”
“Jangan menyentuh ku. Jangan sampai jatuh cinta padaku. Aku tidak bisa membantu mu,” jelas Se Ri.
“Aku tidak paham kenapa dia melantur,” keluh Jung Hyuk. Dan Se Ri tersenyum kecil.

Saat keluar dari lift. Dan bertemu dengan Seung Jung. Se Ri langsung berlari menghampiri nya sebelum Jung Hyuk sempat mengatakan apapun.

Seo Dan terkejut melihat make up yang dipakai oleh Ibu nya karena itu membuat Ibu tampak sangat menyeramkan. Namun dengan bangga Myeong Eun malah menjelaskan kalau ini memanglah niat nya. Sebab dia tidak ingin keluarga Jung Hyuk meremehkan nya lagi hanya karena dia seorang janda.

“Ibu,” kata Seo Dan.
“Ibu tahu dia Direktur Biro Politik Umum, tapi Ibu menguasai uang di Pyongyang. Mereka janji menikahkan putranya kepadamu demi uang, tapi malah berlarut-larut,” keluh Myeong Eun, merasa kesal. Kemudian dengan dagu terangkat dia masuk ke dalam hotel.

Saat masuk ke dalam restoran. Seo Dan terkejut melihat Seung Jung yang sedang minum bersama dengan Se Ri di sana. Tapi karena Myeong Eun memanggil nya, maka dia pun tidak terlalu memperhatikan mereka berdua lagi.
“Jadi, kau punya bisnis di sini?” tanya Se Ri.
“Tepatnya, aku sedang riset pasar. Kamu kenal Jim Rogers. Dia salah satu dari tiga investor teratas. Dia sahabatku,” jelas Seung Jung, berbohong dengan lancarnya. Dan Se Ri tahu itu, jadi dia menyuruh Seung Jung untuk jangan membuat.

Seung Jung dengan sangat percaya diri melanjutkan kebohongannya. Dia menjelaskan bahwa nilai pertanian di Utara masih belum tinggi. Seperti lautan biru terakhir di dunia. Jadi dia datang ke sini untuk melakukan riset dan melayangkan fondasi di balik layar.
“Jadi, kamu datang untuk mencari tanah?”
“Ya. Dan tambang batu bara yang kubeli di Irlandia makin menurun labanya. Biayanya besar. Jadi, aku melihat Tambang Batu Bara Aoji,” jelas Seung Jung dengan lancarnya.

“Jangan bahas Aoji. Mana uang yang kamu dapat dari menipu kakakku?” balas Se Ri, bertanya dengan tegas. Dan Seung Jung langsung menjelaskan bahwa dia bukan menipu tapi itu cuma salah paham. Tapi Se Ri tidak mau percaya.
Seung Jung mengeluarkan hp nya dan menanyakan, apakah Se Ri mau coba menelpon. Tapi baru saja dia bicara seperti itu, Seung Jung langsung mengubah kata- katanya lagi dengan beralasan bahwa mereka tidak bisa menelpon ke korea selatan.
Dan Se Ri menatap nya dengan tatapan tidak percaya.
Cheon mengawasi dari jauh. Dan secara diam- diam, dia memotret Se Ri.
Makan malam keluarga. Myeong Eun terus menyindir keluarga Jung Hyuk dengan kata sindiran yang sangat halus. “Tiap harinya dia makin menua. Sel yang dia miliki kemarin sudah hilang. Yang dia miliki sekarang akan hilang besok,” kata Myeong Eun menjelaskan tentang Seo Dan.

“Maaf?” balas Ibu Jung, tidak mengerti.
“Para pria dan wanita rupawan akan mulai layu. Menurutku, itu kerugian besar bagi negara ini,” sindir Myeong Eun dengan sedikit lebih jelas. “Pikirkanlah. Pernikahannya tertunda karena kecelakaan putra kalian. Berkabung untuk orang tuamu berakhir dalam tiga hari, tapi ini sudah tujuh tahun.”
“Ibu,” kata Seo Dan, mengingatkan. Dan Myeong Eun pun langsung diam.


“Mari kita adakan acara pernikahan pada Sabtu terakhir bulan depan,” kata Ayah Jung dengan tegas. Dan Myeong Eun langsung senang. “Akan segera kupindahkan Jeong Hyeok ke Pyongyang. Kami akan carikan apartemen di sana, dan membeli perabot. Kau tidak perlu menyiapkan.”
Myeong Eun sangat senang sekali. Tapi dia berpura- pura bersikap rendah hati dan menawarkan diri untuk membelikan perabot dan perkakas nya. Semua yang terbaik untuk putri nya.


Ibu Jung menanyakan pendapat Jung Hyuk. Dan Jung Hyuk tidak ada penolakan sama sekali, sebab ini adalah janji yang sudah dibuat, jadi dia tidak akan menolak. Dengan senang, Myeong Eun pun memesan sampanye termahal di hotel untuk merayakan semua  nya.
Namun Seo Dan tidak tampak terlalu senang. Sebab dalam pandangannya, Jung Hyuk bersikap sangat kaku dan tidak tulus, karena Jung Hyuk melakukan semua ini seolah seperti sedang menjalankan perintah.


Didalam kamar mandi. Saat Seo Dan bertemu dengan Se Ri, dia menyindir Se Ri yang mengikuti pria nya ke Pyongyang. Dan dengan ramah Se Ri menjelaskan bahwa itu bukan mengikuti, tapi mereka berdua datang bersama ke sini. Tapi Seo Dan tidak peduli dan menyindir Se Ri lagi, kali ini dia mengatai apakah Se Ri memang mudah bergaul atau nakal, karena barusan dia melihat Se Ri minuman kopi bersama dengan pria lain.
Mendengar sindiran tajam itu, Se Ri masih tersenyum dan berusaha bersikap ramah. Dan kemudian Seo Dan dengan sengaja memberitahu Se Ri bahwa dirinya dan Jung Hyuk telah menentu kan tanggal pernikahan dan mereka akan segera menikah.

“Begitu?” tanya Se Ri terkejut, tapi dia menyembunyikannya dengan baik. “Begitu rupa nya. Selamat. Andai aku bisa menghadiri pernikahan kalian, tapi aku sudah pergi saat itu.”
“Jangan khawatir. Kamu pergi dari sini saja merupakan hadiah pernikahan terbaik,” balas Seo Dan sambil tersenyum sinis.

“Menghina orang dengan senyuman merupakan keahlianku. Tapi dia mengalahkanku. Sial,” keluh Se Ri, kesal. Ketika Seo Dan telah keluar dari dalam kamar mandi.
Lalu Se Ri memandang dirinya sendiri di depan cermin dan berbicara sendiri. “Se-ri. Kamu cantik seumur hidupmu, tapi kenapa kamu tampak norak saat ini? Aku seharusnya memilih Gaya Halo, bukan Gaya Perpisahan,” keluh nya sambil merapikan rambut nya.

Seung Jung mengirimkan foto Se Ri kepada Se Hyung. Lalu dia menghubungi nya. Kemudian saat Se Ri kembali dari kamar mandi, Seung Jung memberitahu Se Hyung untuk jangan mematikan telpon. Lalu dia meletakkan hp nya di atas meja.

“Mau jalan-jalan?” tanya Se Ri. Dan Se Hyung terkejut mendengar suara nya.
“Bahkan di Pyongyang, segalanya indah saat daun gugur. Seperti Seoul,” kata Se Ri.
Dan dengan erat Seung Jung memegang hp nya. “Benar. Aku sudah selesai bicara. Kini giliranmu.”

Se Ri bingung apa yang harus di katakannya. Dan Seung Jung menanyakan, alasan kenapa Se Ri bisa sampai di sini. Se Ri pun menceritakan dengan jujur bahwa dia mengalami kecelakaan, tapi dia tidak bisa menceritakan bagaimana detailnya sekarang, yang pasti dia akan segera pulang ke Seoul. Lalu dia menanyakan, kapan Se Hyung akan pulang.
Se Hyung mendengarkan obrolan mereka. 

“Bilang pada Ayahku, aku masih hidup. Dan minta dia melanjutkan sesuai rencana. Sampaikan itu sebelum rapat pemegang saham,” kata Se Ri.
“Baiklah. Akan kusampaikan. Jangan khawatir.”
“Terima kasih.”
Se Hyung memukul pelan pintu mobil. Menahan rasa marah nya.


Ayah dan Ibu Jung Hyuk pulang duluan. Dan dengan hormat, Myeong Seok membungkuk kepada mereka. Lalu saat dia berbalik dan melihat wajah kakaknya, Myeong Sun, dia langsung melompat kaget ke belakang. Karena wajah Myeong Sun sangat menyeramkan.
“Hei, seharusnya kamu tahu wajah ini bisa menetapkan tanggal pernikahan Dan,” jelas Myeong Sun sambil tertawa senang. Kemudian dia melambai kan tangan kepada Jung Hyuk dan masuk ke dalam mobil.

Dengan senang, Myeong Seok mengucapkan selamat kepada Seo Dan karena akhirnya keinginan Seo Dan serta Myeong Sun sudah terkabul. Dan mendengar itu, Seo Dan tidak tampak terlalu senang, dia melihat ke arah Jung Hyuk dan memanggil nya.
“Aku akan menelpon mu,” kata Seo Dan, singkat. Kemudian dia masuk ke dalam mobil juga.

“Dia kenapa?” gumam Myeong Seok heran mellihat ketidak senangan Seo Dan. Lalu dia pun pamit kepada Jung Hyuk dan masuk ke dalam mobil juga.
Se Ri dan Seung Jung berjalan bersama ke arah jalan raya. Dan Jung Hyuk melihat itu.


Myeong Seok teringat sesuatu, jadi dia pun keluar dari mobil dan berbicara kepada Jung Hyuk. Dia membahas tentang pertanyaan Jung Hyuk saat itu.
Jung Hyuk tidak bisa fokus mendengarkan Myeong Seok, sebab Se Ri dan Seung Jung sudah tidak kelihatan lagi. Jadi dia pun merasa cemas.



Jung Hyuk pergi ke jalan besar sambil melihat ke sekeliling nya. Dan akhirnya dia pun melihat Se Ri dan Seung Jung yang sedang berjalan bersama- sama di sebrang jalan. Dia melihat mereka berdua tertawa dan kemudian sebuah bus berhenti di dekat mereka berdua. Sehinga menutupi pandangan Jung Hyuk. Jadi dia pun segera menyebrang. Tapi sayangnya, Se Ri dan Seung Jung sudah menghilang lagi.

No comments:

Post a Comment