Wednesday, January 1, 2020

Sinopsis K- Drama : Crash Landing On You Episode 6 - part 2

3 comments

Network : tvN Netflix

Petugas memeriksa pakaian dan penampilan orang- orang dijalan. Jika pakaian yang mereka gunakan atau penampilan mereka tidak sesuai dengan ketentuan, maka mereka akan di periksa. Dan melihat itu, Se Ri merasa terkejut dan berkomentar bahwa itu seperti era 1970 –an saja. Dan Seung Jung tertawa menanggapi itu.

Kemudian tiba- tiba saja seorang petugas berdiri di depan mereka dan meghentikan mereka berdua. “Kenapa kalian tidak memakai pakaian yang pantas?” tanyanya. Dan Se Ri serta Seung Jung diam. “Tidak bisa bahasa korea?” tanyanya sambil menunjukkan bros kewarga negaraan yang dipakainya dibaju nya. “Aku bertanya, kenapa kalian tidak memakai pakaian yang pantas?” tanyanya lagi.

Seung Jung menunjuk kan kartu kewarga negaraan Inggris nya. Dan berbicara dalam bahasa Inggris. Karena tidak mengerti, petugas pun mempersilahkan mereka berdua untuk pergi, kemudian dia sendiri pun segera pergi darisana.


Dengan kagum, Se Ri memuji Seung Jung, dan berkomentar bahwa dia tidak tahu kalau baik di Utara atau di Selatan, orang- orang takut berbahasa Inggris. Dan Seung Jung tertawa. Kemudian tepat disaat itu, Jung Hyuk datang dan berdiri di depan mereka berdua.

“Dia belum selesai bertugas?” keluh Seung Jung, bertanya.
“Sedang apa disini?” tanya Se Ri kepada Jung Hyuk, mengabaikan Seung Jung.
“Aku yang harusnya bertanya. Ayo,” balas Jung Hyuk.
Se Ri pun pamit kepada Seung Jung, dan mengingatkan bahwa Seung Jung bisa menghubungi nya ke nomor yang telah di berikan nya barusan. Dan Seung Jung pun mengerti. Lalu dia memegang bahu Jung Hyuk dan memuji nya telah bekerja dengan baik. Kemudian dia pergi.
Dengan penasaran, Jung Hyuk menanyakan, nomor mana yang Se Ri berikan. Dan Se Ri menjawab bahwa itu nomor hape Jung Hyuk. Mengetahui itu, Jung Hyuk langsung protes. Dan Se Ri pun menjelaskan bahwa Seung Jung berjanji akan mengabari Ayahnya. Lalu dengan bingung dia bertanya kenapa, Seung Jung tampak sangat kesal.

“Kamu bilang aku pengawalmu yang melindungimu. Aku tidak bisa melindungimu jika tidak kelihatan,” jelas Jung Hyuk, mengeluh.
“Karena itukah kamu kesal? Karena tidak bisa melihatku?” tanya Se Ri, bingung.

“Kau harus dalam pandanganku,” jawab Jung Hyuk dengan sikap kaku.
“Bagaimana kalau aku tetap dalam pandanganmu?”
“Kanu akan aman,” kata Jung Hyuk dengan sangat yakin. “Selama kamu dalam pandanganku.”

Selama sesaat Se Ri diam dan mencerna perkataan Jung Hyuk, kemudian dia mendengus geli dan mengomentari bahwa Jung Hyuk bukanlah Avengers, jadi bagaimana bisa Jung Hyuk begitu yakin bisa selalu menang. Dan dengan bangga Jung Hyuk menjelaskan bahwa tidak ada banyak kekalahan di dalam hidup nya.
“Karena aku sudah di sini, walau tidak sempat mencoba naengmyeon Pyongyang, aku mau coba bir di dekat Sungai Taedong. Kamu tahu tempatnya?” tanya Se Ri. Dan Jung Hyuk hanya diam saja.

Direstoran. Jung Hyuk mempersilahkan Se Ri untuk memesan makanan. Dan karena sudah lama tidak makan ayam dengan bir, maka Se Ri pun memesan itu. Kemudian setelah makanan di sajikan diatas meja dengan segera Se Ri langsung meninum bir nya.
“Tidak ada yang mengejarmu,” kata Jung Hyuk, mengingatkan. Dan dengan puas, Se Ri meletakkan kembali gelas nya.
“Aku sangat kesal akhir- akhir ini. Mari kita minum yang banyak,” ajak Se Ri. Lalu dia meminum minuman nya lagi. Dan Jung Hyuk pun ikut minum.

Dengan sedih, Se Ri mengatakan bahwa ini Bir yang diminumnya disini terasa berbeda, karena hari ini dia baru saja selesai mengambil foto untuk Paspor dan sebentar lagi dia juga akan pergi. Mendengar itu, Jung Hyuk hanya diam saja dan meminum Bir nya.
Lalu tiba- tiba saja listrik padam. Dan semuanya pun menjadi gelap. Namun Se Ri heran karena semua orang tidak tampak terkejut sama sekali.


Satu persatu pelayan datang ke setiap meja dan meletakkan lilin kecil di tengah meja sebagai penerangan. Lalu tidak lama kemudian listrik pun kembali menyala. Dan Se Ri merasa pun merasa senang. Lalu saat dia tidak sengaja melihat ke luar jendela, dia melihat salju turun. Salju pertama.
“Astaga, kita dalam masalah. Ini gawat,” gumam Se Ri dengan senang. Dan Jung Hyuk tidak mengerti. “Melihat salju pertama dengan seseorang, cintamu akan terwujud. Belum dengan mitos ini?” jelas Se Ri, bertanya.
“Ini kali pertamaku mendengarnya,” jawab Jung Hyuk, baru tahu.

Se Ri kemudian tiba- tiba mendekat kan wajah nya, sehingga Jung Hyuk pun merasa terkejut. Namun tanpa menyadari itu, Se Ri berbisik pelan di dekat Jung Hyuk. Dia menceritakan bahwa pada saat salju pertama, jaringan internet di Seoul akan bermasalah, itu karena banyak orang yang ingin mengencani orang yang mereka sukai. Karena sesuai mitos, jika melihat salju pertama bersama, maka cinta akan terwujud.
“Sungguh?” tanya Jung Hyuk, tidak terlalu percaya.
“Ya,” jawab Se Ri dengan yakin. Lalu raut wajah nya berubah menjadi kecewa. “Tapi itu tidak berlaku bagi kita. Ini akan kacau.”
“Ya. Kekacauan besar.”

“Kekacauan besar? Kenapa? Apa karena kamu bersamaku? Sementara kamu seharus nya bersama tunangan mu? Sebab itukah akan kacau,” keluh Se Ri, cemburu.
“Maafkan aku, tapi apa kamu punya gangguan kejiwaan? Seperti gangguan bahagia- sedih?” tanya Jung Hyuk dengan cemas. “Sikap mu terus berubah. Aku tidak tahu apa maumu.”
“Aku bahkan tidak memahami diriku. Bagaimana bisa kamu memahamiku? Dan siklus perubahan suasana hatiku adalah kebiasaan minumku. Mari kita bersulang,” kata Se Ri dengan kembali bersemangat sedikit. Lalu dia mengatukan gelas nya ke gelas Jung Hyuk dan minum.
Sambil tersenyum Jung Hyuk pun meminum milik nya juga.
Setelah cukup lama, Se Ri mulai merasa mengantuk dan dia menyandarkan kepalanya di bahu Jung Hyuk. Dan menggunakan jari nya Jung Hyuk ingin menjauhkan kepala Se Ri dari bahu nya. Tapi itu malah membuat Se Ri terbangun.
“Kepalaku berat?”
“Sedikit,” jawab Jung Hyuk dengan gugup.

Se Ri menyentuh wajahnya sendiri dan menjelaskan betapa kecil wajah nya. Lalu dia memukul bahu Jung Hyuk dan menjelaskan betapa lebar bahu itu. Kemudian dia pun kembali bersandar di bahu Jung Hyuk. Dia meminta Jung Hyuk untuk bertahan sebentar lagi saja. Lalu dia menjelaskan bahwa kepala nya sekarang terasa berat karena dia punya banyak pikiran.
“Kenapa kamu punya banyak pikiran? Kamu akan segera pulang. Bukankah seharusnya senang?”
“Aku menyukainya. Bagian menyukainya yang membuatku sakit kepala. Karena aku menyukainya,” jawab Se Ri dengan sedih. “Kamu tidak tahu apa- apa.”
Mendengar itu, Jung Hyuk diam. Dan selama sesaat mereka terus duduk bersama seperti itu sambil menatap salju pertama di luar jendela.

Salju pertama. Banyak pasangan dan keluarga yang berjalan- jalan bersama diluar.


Didalam restoran. Chang Sik serta Su Chan menatap salju pertama diluar jendela sambil memakan ayam goreng dengan perasaan senang. Sebab mereka telah berhasil mendapatkan petunjuk tentang Se Ri, jadi sekarang mereka hanya perlu menunggu polisi untuk menganalisis rekaman itu dan melacak posisi Se Ri. Dan mereka yakin Se Ri pasti akan segera di temukan.
“Kau juga kirimkan mereka rekamannya, 'kan? Kakaknya dan kakak iparnya,” tanya Su Chan.
“Ya, kuberikan ke sekretarisnya,” jawab Chang Sik.
“Mereka akan memercayai kita, 'kan?” tanya Su Chan, memastikan. Dan Chang Sik mengiyakan. Lalu dengan bersemangat Su Chan pun mengangkat gelas nya dan mengajak Chang Sik untuk bersulang.

Namun sebelum gelas mereka berdua sempat bersentuhan, Chang Sik langsung memundurkan gelas nya. Dia menjelaskan bahwa dia memang merasa senang dan lega karena Se Ri masih hidup serta selamat. Tapi jika Se Ri kembali secepat ini, maka waktu istirahat nya akan berakhir. Dan dia jadi ragu karena itu.
“Hei, dia dari keluarga kaya. Kamu pikir keluarganya akan tinggal diam setelah mendengar suaranya?” keluh Su Chan, mengingatkan.

Dan apa yang dikatakan Su Chan benar, keluarga Se Ri tidak tinggal diam saat mengetahui bahwa Se Ri masih hidup. Khususnya Se Hyung dan Sang Ah yang sudah tahu duluan. Namun mereka berdua bukannya merasa senang saat mengetahui keluarga mereka masih hidup, kebalikkan nya mereka berdua malah tampak sangat tidak senang sama sekali.
“Manajer Oh, lakukan ini untukku. Pastikan dia ..” kata Se Hyung.
“Tentu. Kami akan memulangkannya. Kamilah ahlinya,” kata Pak Oh dengan cepat. “Kami akan lakukan yang terbaik agar dia bisa pulang dengan selamat. Aku akan..”

“Bukan,” sela Se Hyung. “Pastikan dia tetap disana. Selamanya. Kamu tidak paham?” jelas nya. Dan Pak Oh merasa sangat tidak mengerti.

Sang Ah pun memanggil Pak Oh dan menjelaskan bahwa besok dia akan mengirimkan orang ke rumah Pak Oh, jadi dia ingin Pak Oh menyiapkan KTP dan salinan buku rekening bank. Setelah Pak Oh menyelesaikan pekerjaan ini, maka mereka akan mengirimkan uang kepadanya. Dan Pak Oh merasa sangat bingung.
“Dengar baik- baik. Ini mudah. Kami ingin Se Ri tetap tinggal disana. Dengan kata lain, dia tidak boleh kembali kemari. Pastikan saja itu terjadi. Jika berhasil, kamu tidak akan perlu khawatir soal uang seumur hidup,” jelas Sang Ah dengan lebih jelas.

Cheon menjelaskan kepada Seung Jung bahwa mereka harus mencegah Se Ri untuk pulang ke Korea Selatan. Dan jika Seung Jung berhasil melakukan itu, maka Seung Jung tidak perlu mengembalikan uang yang sudah Seung Jung curi. Dan dengan begitu semuanya senang.
“Keluarga yang baik. Kenapa mereka sekejam itu?” tanya Seung Jung.
“Kita hanya perlu fokus pada hasil dari kesepakatan ini,” jelas Cheon, tidak peduli. Dan Seung Jung pun setuju, tapi mereka harus menemui Cheol Gang terlebih dahulu.

Badan Inspeksi Pyongyang. Didalam ruang introgasi Cheol Gang makan dengan lahap. Dan melihat itu, Petugas memuji nya karena dia tidak pernah melihat orang makan selahap itu di sini. Dan setelah menghabiskan makanan nya, Cheol Gang pun menyebukan sebuah ungkapan, ‘Air mata jatuh ke bawah, tapi sendok ke atas.’ Karena itulah dia bekerja keras demi bisa makan.

“Astaga, kurasa kamu tidak paham situasi yang kamu hadapi. Situasimu sangat berbahaya. Aku memeriksa daftar panggilanmu. Kau sering bicara dengan Brigadir Teknisi yang diduga kuat terlibat,” jelas Petugas.
“Begitu? Pasti ada alasan aku meneleponnya. Itu dianggap sebagai bukti?” jawab Cheol Gang dengan tenang. Dan petugas pun memukul serta memarahinya.

Petugas tahu bahwa Cheol Gang lah yang telah menyuruh truk Brigadir Teknisi untuk membunuh tiga tahanan pencuri untuk membungkam mereka bertiga.
“Direktur Hwang Tae Yong dari Badan Inspeksi,” kata Cheol Gang, menyebut namanya. Dan Tae Yong heran dari mana Cheol Gang mengetahui namanya. “Kamu tidak tahu, tapi kita lebih dekat dari dugaanmu,” jelas Cheol Gang.
“Apa? Apa maksudmu? Aku tidak pernah bertemu denganmu,” kata Tae Yong dengan bingung dan gugup. Dan Cheol Gang menyarankan supaya para penyidik yang berada di ruangan ini di suruh keluar terlebih dahulu. Tapi Tae Yong menolak itu.

“Jika itu maumu,” kata Cheol Gang dengan santai nya. “Direktur Hwang. Sebelum bergabung dengan Badan Inspeksi, putrimu menikah, 'kan? Bukankah dia dapat unit apartemen baru di dekat Sungai Potong sebagai hadiah? Apartemen 30 lantai yang harganya 100.000 dolar?” jelas nya, seperti mengancam.

Tae Yong memberikan kode supaya para bawahannya keluar dari ruangan. Dan mereka pun melakukannya. “Siapa kamu?” tanya Tae Yong mulai waspada dan merasa ngeri.
“Untuk membantumu membeli rumah untuk putrimu, aku menjual banyak barang antikku. Jika penasaran, bilang saja. Aku mencatat tanggal dan waktunya. Dan aku juga punya foto sebagai buktinya. Bukan hanya kamu. Direktur Badan Penyidikan, Direktur Badan Keamanan, dan para atasan. Hanya ada beberapa orang yang tidak ambil uang dariku. Tidak butuh banyak untuk jadi keluarga. Begitu berbagi, kamu jadi keluarga. Biarkan aku hidup juga. Kita keluarga,” jelas Cheol Gang sambil tersenyum dengan percaya diri.
Akhirnya Cheol Gang pun keluar dari gedung Badan Inspeksi.
Kolonel Senior penasaran tentang apa yang Cheol Gang katakan kepada petugas inspeksi, sehingga mereka mau melepaskan Cheol Gang. Karena setahunya sulit untuk keluar hidup- hidup darisana. Dan Cheol Gang pun menjelaskan bahwa tidak ada yang namannya makan siang gratis. Sebab itu makan siang gratis adalah yang paling mahal.

“Cheol Gang, aku bertanya. Kamu harus jawab. Kenapa menghindarinya? Tidak sopan,” tanya Kolonel Senior, penasaran. “Maksudmu, aku harus membantumu karena aku dapat uang darimu?”
“Pak. Aku, Cho Cheol Gang, yatim piatu yang berkeliaran dan meminta makanan. Aku tidak punya orang tua dan saudara. Kamulah yang membantuku sampai di sini. Kamu keluargaku,” jelas Cheol Gang. “Aku akan setia padamu. Apapun yang terjadi, keluarga harus tetap bersama hingga akhir,” katanya dengan penuh makna. Dan Kolonel Senior diam serta mencerna itu.

Lalu saat Cheol Gang telah berjalan pergi. Dia mengeluh kenapa Cheol Gang membuat perkataan itu terdengar mengerikan.


Cheol Gang menemui Cheon dan Seung Jung. Disana Seung Jung memperlihatkan foto Se Ri. Dan melihat foto itu, Cheol Gang merasa sangat terkejut dan dia pun bertanya.
Se Ri memberitahukan kepergiaan nya kepada para Ibu- Ibu. Dan mereka menebak- nebak apakah itu karena Seo Dan. Dan Se Ri membenarkan. Dia menjelaskan bahwa dia tidak ingin Jung Hyuk merasa tersiksa lagi, jadi dia pun memilih untuk mengalah.

“Astaga, tetap saja. Maksudmu, kamu rela berpisah dengannya seperti Gyeonu dan Jiknyeo?” tanya Young Ae, tidak setuju.
“Kami tidak perlu tinggal bersama untuk jatuh cinta,” jawab Se Ri dengan sikap puitis dan romantis. “Penyanyi, Choe Sam Suk, menyanyikan ini juga. Cinta terukir di hati kita. Cinta sejati harus terukir di hatimu,” jelas nya.

Dengan perhatian, Young Ae memberikan saran kepada Se Ri. Cinta jangan ukir dihati tapi di otak. Karena jika cinta diukir di hati, itu sangat menyakitkan. Namun jika cinta diukir di otak, maka Se Ri akan bisa melupakannya seiring berjalannya waktu.
Dan Ok Geum setuju. Dia dengan tulus berharap supaya Se Ri bisa bertemu dengan pria yang lebih hebat dari Jung Hyuk. Dan Se Ri pun menggangukan kepala nya.

“Ini sungguh menyedihkan. Pastikan kamu tetap sehat. Apa kita masih bisa bertemu lagi?” tanya Myeong Sun. Dan lalu Ibu lain memberikan pelukan kepada Se Ri.
“Semuanya akan lancar. Aku yakin kalian akan putus nanti. Maka, putus sekarang seratus kali lebih baik. Keputusanmu tepat. Bagus,” hibur Ibu lain.

Se Ri sedikit terkejut dan bertanya, mengapa Ibu lain sangat yakin bahwa dia dan Jung Hyuk akan putus nanti nya. Dan Ibu lain menjelaskan bahwa menurutnya sifat Se Ri dan Jung Hyuk tidak cocok serta Se Ri bukan tipe wanita yang akan disukai oleh orang tua. Jadi lebih baik putus di awal daripada bercerai nanti nya.
‘Kamu pasti salah menilaiku. Aku tersenyum kepada orang tua dan bicara dengan sopan kepada mereka,” jelas Se Ri sambil tersenyum.


“Sam Suk, kau tahu? Kamu tersenyum dengan matamu, tapi kamu membantahku. Saat kamu melakukan itu, aku mau menghajar kepalamu,” balas Ibu lain dengan jujur.
Se Ri pun menjadi marah. Dan bukannya berhenti, Ibu lain malah semakin semangat mengatai semua keburukan Se Ri menurut nya. Dengan kesal, Se Ri pun balas mengatai nya. Lalu mereka berdua pun sama-sama pulang karena tidak ingin saling melihat satu sama lain.

Dengan heran, semua orang menatap mereka berdua.

Cheol Gang menunjuk kan foto Se Ri kepada Pria penyadap dan menanyakan informasi tentang nya. Dengan jujur, dia menjelaskan kepada Pria penyadap bahwa hari ini dia mendapatkan permintaan untuk mencegah Se Ri pergi.

Flash back
“Apa statusnya di Korea Selatan?” tanya Cheol Gang, ingin tahu.
“Dia dari keluarga kaya dan hidup nyaman. Kamu hanya boleh tahu itu,” jelas Seung Jung. “Sekarang, jawab aku. Kamu kenal dia dari mana?” balas nya, bertanya.
“Dia tinggal di perumahan militer,” jawab Cheol Gang. Dan Seung Jung tahu. “Kamu juga tahu kalau dia mau pergi Kamis ini? Kudengar, dia akan pergi dengan pesawat.”
“Jangan sampai terjadi. Hentikan itu dahulu,” kata Seung Jung dengan cepat.
Flash back end

Cheol Gang setuju dengan permintaan Seung Jung, karena itu sama saja sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Dia dapat uang dan beban pikirannya menghilang. Jadi Cheol Gang ingin Pria penyadap untuk membantu nya.
“Apa rencanamu?” tanya Pria penyadap, waspada.
“Aku tahu penerbangan yang akan dinaiki tim nasional. Hanya ada satu jalan menuju Bandara Sunan, Pyongyang,” jelas Cheol Gang.


Dirumah. Saat makan malam. Se Ri memberitahu semuanya bahwa kali ini dia beneran akan pulang dan untuk merayakan perpisahan dengan indah, dia ingin mengajak mereka untuk berpiknik bersama. Dan seperti biasa Sersan Pyo bersikap sinis.
“Kapten Ri, kenapa kamu tidak menegurnya? Dia terus melantur dan terbuai mimpi karena kamu membiarkannya,” keluh Sersan Pyo.

“Kita akan libur dalam dua hari. Mau pergi? Akan kuurus izin agar kalian bisa ikut pergi.” balas Jung Hyuk. Dan semuanya setuju. Kecuali Sersan Pyo, dia beralasan bahwa dia memiliki banyak sekali pekerjaan walaupun sedang libur.

Pada hari H. Sersan Pyo tetap ikut berpinik dan mereka membawa banyak sekali barang- barang. Namun Jung Hyuk tidak ada bersama dengan mereka.
“Apa dia pergi menyiapkan pernikahannya?” gumam Se Ri. Cemburu.

Sesampainya di tepi sungai. Se Ri sangat bahagia melihat seekor babi kecil yang sangat imut disana. Tapi semuanya langsung menjadi horor, saat dia mengetahui bahwa babi itu akan dipotong sebagai hadiah perpisahan untuk nya. Dan dia pun mengeluhkan bahwa dia tidak akan bisa memakan itu.
“Benar. Kami tak bisa mendinginkan atau membekukan makanan. Saat kami piknik, kami bawa babi dan masak babi panggang di tempat,” jelas Ju Meok.
“Tidak, aku tak bisa makan itu. Kami sering bertatapan. Tak mungkin aku bisa memakannya,” keluh Se Ri.

“Saat pertama kemari, katamu kamu selalu makan daging tiga kali sehari. Kenapa bersikap tidak bersalah?” tanya Sersan Pyo, heran.
“Benar. Ya, itu memang benar. Tapi aku tidak pernah makan hewan yang kulihat. Aku tidak bisa makan dia,” jelas Se Ri. Tegas.



Pada akhirnya. Babi itupun tidak jadi dipotong. Dan Se Ri duduk menenami nya sambil tersenyum menatap ke arah semuanya yang sedang berusaha menangkap ikan di sungai. Melihat tingkah lucu mereka semua yang mulai bertengkar dan bermain air serta tertawa setelah berhasil menangkap ikan disana. Itu membuat Se Ri bahagia dan tertawa.

Bahkan bukan hanya ikan saja yang mereka tangkap. Tapi mereka juga menangkap kepiting- kepiting kecil yang terkubur di dalam lumpur.
Kemudian setelah semuanya siap, mereka pun mulai makan bersama dengan gembira. Dan Se Ri memuji betapa enaknya makanan buatan mereka, lalu dia makan dengan sangat lahap.
“Karena ini hari terakhirmu di sini, kami sudah siapkan upacara perpisahan,” jelas Ju Meok.
“Sungguh? Sudah saatnya. Dimana?” tanya Se Ri sambil melihat ke sekeliling. Dan semuanya merasa bingung. “Kukira kalian akan berikan hadiah. Aku berikan hadiah sebelumnya,” jelas Se Ri.

“Bukan hadiah. Kamerad Pyo menulis puisi perpisahan,” jelas Ju Meok dan Sersan Pyo merasa bangga. Tapi Se Ri menolak untuk mendengar kan nya dan lebih memilih untuk membaca langsung jika sempat.
Namun Sersan Pyo mengabaikan Se Ri dan mulai membacakan puisi nya.

Puisi Perpisahan untuk Sang Wanita
Saat kau memalu paku, dinding terpaku
Saat angin bertiup, kesemek terjatuh
Semua berseru memuji. Sementara Se Ri tidak terlalu tertarik.

Tapi wanita ini melakukan apa pun yang dia inginkan
Dia tak mati saat kami tembak
Saat kami kecam, dia tak dendam
Astaga. Dia sungguh merepotkan
Dengan kesal. Se Ri menyuruh Sersan Pyo untuk diam. Tapi dia masih mendengarkan juga.
Tapi karena kau akan pergi,
tolonglah lakukan ini.
Jaga dirimu. Jangan sampai terluka
Hiduplah dengan bahagia
Jangan lupakan kami
Jika kau ketahuan,
jangan sampai kau memberi tahu namaku.
Se Ri mulai merasa terharu. Tapi kemudian dia menjadi kesal kembali. “Namamu yang pertama kuungkap. Camkan itu,” ancam nya. Dan karena telah selesai membaca, Sersan Pyo pun duduk kembali ditempat nya.

Suasana mendadak menjadi hening dan sedih. Eun Dong pun kemudian meminta Se Ri untuk menyanyikan sebuah lagu bagi mereka. Dan dengan sikap narsis, Se Ri menjelaskan bahwa saat dia menyanyi, mereka akan jadi lebih sulit untuk melupakan nya.


Lalu Se Ri pun mulai bernyanyi untuk mereka. Dan tepat disaat itu, Jung Hyuk datang serta mendengarkan nyanyian nya. Tampaknya Se Ri menyadari itu, jadi dia pun menatap ke arah Jung Hyuk sambil bernyanyi dengan pelan untuk mereka semua.
Saat angin dingin bertiup
Ketahuilah aku telah pergi
Semilir angin dingin membawa rinduku terhadapmu
Saat dedaunan gugur
Ketahuilah aku telah pergi
Dedaunan gugur akan membawa kenangan kita bersama

Saat angin dingin bertiup
Kau akan sendirian
Walau begitu, janganlah memikirkan diriku lagi
Suatu ketika
Tatapan hangatmu
Membuat hatiku berdebar-debar

Dini hari. Se Ri menanyakan, apakah Jung Hyuk beneran tidak ingin mengantarkan nya atau menemani nya ke bandara. Dan dengan tegas Jung Hyuk menjawab bahwa mereka sudah harus berpisah di sini.

“Mungkin kau tidak merasa, tapi kurasa aku akan merindukanmu. Terkadang aku akan mengingatmu. Tidak. Aku akan memikirkanmu. Tapi kita tidak bisa menanyakan kabar satu sama lain. Itu agak menyedihkan,” jelas Se Ri dengan sedih.
“Begitu kau pergi dari sini, semoga kau melupakan tempat ini dan aku, semoga kau melupakan tempat ini dan aku, dan tetap jaga kesehatan. Anggap saja kau bermimpi buruk,” balas Jung Hyuk dengan kaku. Dia juga tampak seperti sedih.

Jung Hyuk kemudian mengulurkan tangannya. Dan Se Ri meminta bisakah mereka berpelukan daripada berjabat tangan. Tapi Jung Hyuk hanya diam saja tanpa bergeming. Dan dengan sedih Se Ri pun menyalami tangan Jung Hyuk yang terulur padanya.

Pria penyadap merasa sedih mendengar itu. Dan dia menangis. Tapi kemudian dia menghubungin Cheol Gang dan melaporkan padanya.

Dalam perjalanan. Letnan Park menyadari bahwa sebuah truk besar mengikuti mereka dan melaju cepat ke arah mereka. Saat Se Ri menyadari hal itu juga, dia pun  merasa panik. Tapi dengan tenang dan lihai, Letnan Park terus menghindari truk tersebut.
Namun tiba- tiba sebuah truk besar lain muncul di depan mereka.



Jung Hyuk menaiki motor dan melaju di jalanan kecil. Dia mengeluarkan pistol nya dan menembak ban truk besar tersebut. Dan karena itu, maka Jung Hyuk pun menjadi target tembakan. Lalu Jung Hyuk pun oleng dan terjatuh dari motornya.

Se Ri kaget melihat itu. Tapi tiba- tiba dia terantuk ke depan karena truk besar itu menabrak mereka dari belakang. Dengan cepat, Letnan Park menghentikan mobil dan menyuruh Se Ri untuk cepat keluar dan pergi. Namun dari arah depan truk besar lain melaju ke arah mereka. Dan Se Ri pun merasa panik.


 

Jung Hyuk melaju kencang dengan motornya. Lalu dia dengan sengaja menjatuhkan motonya didepan truk besar itu. Setelah itu, dia menembak itu sehingga terjadilah ledakan.
Se Ri terkejut melihat itu. Dia segera keluar dari mobil dan memeriksa kondisi Jung Hyuk. Namun dengan perhatian, Jung Hyuk bertanya duluan, apakah Se Ri terluka. Dan Se Ri langsung menjawab dengan cepat bahwa dia baik- baik saja.


Supir truk keluar dan ingin menembak. Dan melihat itu, Jung Hyuk langsung memeluk dan melindungi Se Ri, sehingga Jung Hyuk lah yang tertembak.
Supir truk lalu menembak kaki Letnan Park.

Se Ri kaget dan panik. Dia menahan tubuh Jung Hyuk yang terjatuh. Dan menggunakan kekuatan terakhirnya Jung Hyuk menembak supir truk tersebut.

“Jung Hyuk,” panggil Se Ri, panik. “Tidak. Sadarlah,” pintanya sambil menangis dan memeluk Jung Hyuk yang sudah tidak sadarkan diri lagi.

Sebelum keberangkatan Se Ri ke bandara :
Jung Hyuk meminta pertolongan Letnan Park untuk mengemudi dan mengantarkan Se Ri besok. Sementara dia sendiri, dia akan mengikuti mereka secara diam- diam. Karena dia harus bersiap untuk skenario terburuk.
“Ini perlindungan dua lapis?” tanya Letnan Park.
“Berpiniklah tanpa ku. Aku harus bersiap,” jelas Jung Hyuk.

Jung Hyuk memperbaiki motor nya. Dia mengganti pegas motor nya dengan pegas untuk balapan. Rekan nya merasa penasaran dan ingin tahu, tapi Jung Hyuk tidak menjelaskan.

Jung Hyuk memeriksa senjata dan meminta perendam suara juga. Lalu setelah itu dia memasukkan semua nya ke dalam tas. Kemudian dia menandatangi form peminjaman.

“Kapten Ri. Semua baik- baik saja?” tanya rekannya.
“Semoga saja begitu,” balas Jung Hyuk.

Jung Hyuk terus mengamati Se Ri dan mengikuti nya secara diam- diam. “Aku sudah janji padanya, selama dalam pandanganku, aku akan melindungi nya. Apapun yang terjadi.”

3 comments: