Sunday, February 2, 2020

Sinopsis K-Drama : Itaewon Class Episode 01-2

1 comments

Sinopsis K-Drama : Itaewon Class Episode 01-2
Images by : JTBC
Geun Won datang ke sekolah dengan mengendarai mobil barunya seorang diri. Para siswa yang melihat dari jendela kelas, sontak berseru kagum. Semua tahu kalau Geun Won telah mendapatkan SIM dan membeli mobil hingga mengendarainya ke sekolah. Dan tentu saja, tidak ada guru yang berani memarahinya. Soo A mendengarkan semua pembicaraan para siswa tersebut.
Saat pulang, Soo A melihat pengumuman yang tertempel di mading mengenai tes penerimaan Universitas Gwangjin yang akan di buka pekan depan. Dia ingin mengikutinya.

Di sebelahnya, ada Ho Jin yang berdiri melihat pengumuman mengenai Sae Ro Yi yang di keluarkan dari sekolah.
--
Soo A pulang dan lagi-lagi, Geun Won memanggilnya. Dia memamerkan mengenai mobil barunya yang adalah edisi terbatas dan bahkan nomor plat yang di dapatkannya juga bagus : 7777. Nomor plat itu sangat susah di dapatkan, tapi dealer mobilnya membantunya mendapatkan nomor itu. Dia menawarkan tumpangan pada Soo A, dan Soo A lagi-lagi menolak.

Geun Won kesal. Dia menduga kalau Soo A bersikap seperti ini karena perusahaan Jangga berhenti menjadi sponsor panti Asuhan Gaenari. Dia menyuruh Soo A untuk tidak khawatir karena dia akan meminta ayahnya untuk mengubah keputusannya itu. Soo A langsung menegaskan kalau dia tidak perlu hal itu, toh mereka yang ada di panti tidak akan mati kelaparan hanya karna hal tersebut.
--

Malam hari,
Soo A bekerja sampingan sebagai kasir minimarket. Dan tn. Park datang menemuinya. Soo A sangat senang melihat kedatangannya. Mereka duduk berdua sambil tn. Park memakan ramen. Soo A menanyakan apa rencana tn. Park karena dia dengar tn. Park di pecat.

tn. Park meluruskan kalau dia bukan di pecat tapi resign. Dia menyuruh Soo A untuk tidak mengkhawatirkan hal-hal penting dan fokus saja untuk masuk ke universitas. Soo A akhirnya memberitahu kalau dia mendengar dari direktur panti asuhan kalau tn. Park membayarkan uang untuk kuliahnya. Soo A berkata bahwa Sae Ro Yi sangat mirip seperti tn. Park yang suka ikut campur urusan orang lain. Soo A bahkan menegaskan kalau dia tidak akan hidup seperti tn. Park dan Sae Ro Yi.

Soo A sebenarnya tidak enak menerima uang dari tn. Park. tn. Park menyuruhnya untuk menerimanya. Tapi, karna Soo A terus berkata ini itu, tn. Park menyuruhnya untuk kuliah dan menjadi sukses kemudian kembalikan uangnya 2 kali lipat. Soo A terdiam atas kebaikan tn. Park. Akhirnya, dia mau menerima uang itu dan menganggapnya sebagai pinjaman. Setelah dia sukses nanti, dia akan mengembalikan uangnya 3 kali lipat. tn. Park setuju.
--
Dir. Kang menemui Presdir Jang karena dia sudah mendengar apa yang terjadi pada tn. Park. Presdir Jang ingat bahwa tn. Park adalah mentor dari dir. Kang dan mereka berdua sangat dekat. Dir. Kang membenarkan, dan mengingatkan kalau tn. Park juga dekat dengan mendiang ayahnya dan juga dengan presdir Jang, bukan? Dan juga, Presdir Jang kan tahu kalau tn. Park orang berbakat dan berperan besar dalam…. (perusahaan Jangga?)
“Dia tak menuruti perintahku,” ujar Presdir Jang, memotong ucapan dir. Kang. “Dia anjing yang setia. Tapi apa yang terjadi saat anjing tua dan tak berguna tak mengenali majikannya?”
“Presdir Jang.”
“Aku katakan kepadamu, aku orang yang penuh otoritas. Kau tahu alasannya? Ayahmu dan aku mulai dari kedai kecil hingga bisa mendirikan Jangga dengan kerja keras. Semua keputusan yang kubuat selama ini selalu tepat. Aku menganggapmu putriku sendiri. Jadi, jangan terlalu memancingku,” peringati presdir Jang.
--
Soo A menaiki bus menuju universitas Gwangjin karena hari ini adalah hari tes. Sialnya, ketika sudah naik bus, Soo A baru sadar kalau dompetnya tertinggal dan di dalam dompet itu ada kartu ujian-nya.
--

Soo A yang kembali ke panti untuk mengambil dompet, pergi ke universitas dengan berlari. Dia berpas-pasan dengan Sae Ro Yi yang sedang lari pagi juga. Sae Ro Yi heran melihat Soo A yang berlari seperti ini padahal dia dengar hari ini Soo A tes ujian masuk. Kenapa tidak naik bus?
“Aku lupa bawa kartu tes dan kartu identitasku. Benar-benar bodoh.”
“Lalu apa rencanamu?”
“Kau sengaja bertanya? Aku sudah bilang aku mengacau.”
“Kenapa kau berlari, tidak naik bus?”
“Aku telat bila harus menunggu bus berikutnya. Tak masalah. Aku hanya perlu tiba dalam 20 menit.”
“Dua puluh menit? Jarak dari sini sekitar tiga kilometer.”


Dan karena khawatir kalau Soo A akan terlambat, Sae Ro Yi menemani Soo A berlari dan meminta Soo A mengikuti kecepatan pace berlarinya. Dia bahkan memberikan semangat pada Soo A yang sudah sangat kelelahan. Dan karena itu, Soo A berhasil tiba di tempat ujian tepat waktu.
“Oh Soo A. Semoga ujiannya berhasil. Semangat!”
“Kau tidak perlu khawatir. Aku pasti berhasil!”
Walau berkata begitu, sebenarnya, Soo A merasa sangat gugup.
--


Ujian selesai. Dan saat Soo A pulang, ternyata, Sae Ro Yi masih menunggunya. Sae Ro Yi dengan canggung bertanya ujian Soo A. Soo A menjawab oke. Sae Ro Yi kesulitan bicara dan akhirnya bertanya, apakah dia masih bisa berteman dengan Soo A?
Soo A tersenyum padanya dan menjawab : “Tentu bisa.”
--

Mereka duduk di pinggiran sungai. Soo A betanya alasan Sae Ro Yi tiba-tiba saja ingin berteman dengannya. Bukankah Sae Ro Yi membencinya?
“Entahlah. Dahulu kupikir kau gadis yang tak punya hati. Tapi aku mungkin mengerti alasan kau begitu.”
“Kenapa aku seperti itu?”
“Karena kau kacau.”
“Apa kau sungguh ingin berteman?”
“Kau tak suka dibantu orang, 'kan? Juga orang yang minta bantuan.”
Aku lebih baik dari orang itu. Ada orang yang lebih parah dariku. Aku harus hidup bersyukur. Apa kau tahu artinya simpati? Itu perasaan bodoh ketika memandang rendah orang lain dan hidup nyaman dari hal itu.”
“Bagaimana dengan ayahku? Apa dia juga punya simpati yang bodoh?”
“Dia berbeda.”
“Kenapa dia berbeda?”
“Kau tak perlu tahu,” jawab Soo A. “Omong-omong, ketika kau memukul Jang Geun-won. Kau tak menyesal? Walau Geun-won melakukan kesalahan, tak ada yang bisa hentikan dia. Guru-guru pun seperti itu. Tapi kau langsung buat kekacauan setelah pindah kemari. Itu keren,” puji Soo A. “Tapi kau berakhir dikeluarkan dari sekolah. Aku tak bisa hidup sepertimu dan ayahmu. Aku juga tak ingin seperti itu.”
“Kenapa mengungkit itu?”
“Entahlah. Aku hanya katakan itu.”

Soo A kemudian mengajak Sae Ro Yi untuk pulang. Tapi, Sae Ro Yi malah dengan malu-malu, meminta nomor ponsel Soo A dengan alasan mereka kan berteman. Soo A mau memberikan nomornya tapi memperingati Sae Ro Yi untuk tidak menyukainya. Dia memberikan nomornya karena mereka berteman.
“Kenapa tak boleh menyukaimu?”
“Laki-laki keras kepala sepertimu bisa menyulitkan. Mengerti? Kau tak boleh suka padaku.”
“Kita tak pernah tahu… apa yang akan terjadi ke depannya.”
Soo A jadi ingin mengambil kembali nomor yang sudah di berikannya pada Sae Ro Yi, tapi tentu saja Sae Ro Yi tidak mau. Dia langsung pergi, tapi kemudian berbalik dan berkata kalau Soo A cukup keren dan juga cantik. Setelah mengatakan itu, Sae Ro Yi langsung lari pergi. Soo A terdiam, entah apa yang di pikirkannya, tapi dia tersenyum senang.
--
Sae Ro Yi dengan tn. Park membersihkan toko. Mereka akan membuka kedai makanan. tn. Park tampak sangat senang dan juga bersemangat. Itu karena sudah menjadi mimpinya mempunyai bisnis sendiri. Sae Ro Yi menanyakan nama kedai mereka, dan ayahnya malah ingin memberi nama kedai Sae Ro Yi. Sae Ro Yi tentu tidak setuju.
Ayah tertawa. Mereka masih punya waktu sebelum kedai di buka. Jadi, Sae Ro Yi bisa memikirkan nama kedai yang bagus untuk mereka gunakan.
Aku dikeluarkan dari sekolah. Ayahku dipecat. Semua itu tak masalah. Hari-hariku tak berubah.

Sae Ro Yi tidak menghabiskan hari sebagaimana siswa pada umumnya di sekolah. Dia sibuk membeli barang-barang untuk kedai mereka bersama ayahnya. Mereka juga membeli sepeda motor. Terkadang, Sae Ro Yi menghabiskan waktu bersama Soo A di tepi sungai. Semua tampak bahagia.
Dengan merasakan berbagai hal, aku melewati hari demi hari.

Soo A di sekolah dan tampak berusaha untuk tidak peduli pada apa yang terjadi sekitar dan hanya fokus belajar. Geun Won masih tidak berubah dan masih membully Ho Jin.
Di malam hari, Soo A datang ke tempat Sae Ro Yi untuk makan bersama dengan Sae Ro Yi dan tn. Park.
Walau masih muda, aku pikir inilah kehidupan. Terpikir olehku beberapa hal bodoh yang dapat membuat Ayah tertawa.

Malam itu, Sae Ro Yi sudah selesai membereskan kedai dan menelpon ayahnya. tn. Park sedang menaiki motor dan mengangkat telepon dari Sae Ro Yi. Dia memberitahu kalau dia sudah membeli semua yang mereka butuhkan termasuk daging. Dia akan segera tiba di rumah. Setelah selesai bicara dengan Sae Ro Yi, tn. Park melanjutkan mengendarai motor dengan senyum yang terus tersungging.
Kejadian-nya begitu cepat, ketika tiba-tiba saja, sebuah mobil hitam menabraknya dengan begitu kencang hingga tn. Park terlempar dari atas motornya dan terjatuh terguling ke tanah.
Sae Ro Yi tidak tahu apa yang terjadi pada ayahnya, dan terus menunggu kepulangan-nya.
Selama kita hidup, semua tak akan menjadi masalah.

tn. Park masih sadarkan diri setelah tabrakan itu. Dia berujar pada dirinya sendiri kalau dia harus hidup. Tangan-nya berusaha mnggapi foto keluarganya yang terjatuh ke tanah di dekatnya. Dia berusaha keras untuk hidup demi Sae Ro Yi. Tapi, tanpa adanya bantuan dari siapapun, tn. Park menghembuskan nafas terakhirnya.
Malam itu, Ayah tak kembali.
--

Sae Ro Yi berada di pemakaman ayahnya. Tatapannya tampak kosong. Ayah yang di hormatinya telah tiada.
Flashback
Usai di keluarkan dari sekolah dan ayahnya di pecat, Sae Ro Yi menangis sesengukan dan meminta maaf pada ayahnya saat mereka berjalan keluar dari lapangan sekolah. Dia ingin tahu apa yang ayahnya pikirkan sekarang ini?
“Karena putra Ayah di keluarkan di hari pertamanya sekolah, ayah tak perlu beli seragam. Seragammu,” jawab tn. Park, masih bisa sedikit tertawa.
End

Soo A juga ada di pemakaman membantu Sae Ro Yi. Dia membujuk Sae Ro Yi yang sudah dua hari tidak makan untuk makan sedikit saja. Sae Ro Yi masih terpukul atas kepergian ayahnya. Dia menyesal karena selama ini sudah menyia-nyiakan apapun yang telah ayahnya berikan padanya.
Saat itu, dua orang detektif yang menyelidiki kasus tabrak lari tn. Park datang menemui Sae Ro Yi. Det. Oh memberitahu bahwa pelaku tabrak lari sudah menyerahkan dirinya pagi ini. Mereka menunjukan foto TKP dan juga menjelaskan kalau tersangka tabrak lari ingin memberi kompensasi atas kejadian ini.
“Kompensasi? Jadi, dia… Dia ingin aku menghitung nilai nyawa ayahku? Jadi, orang ini ingin membayar nyawa ayahku?” tanya Sae Ro Yi marah.

Saking marahnya, Sae Ro Yi sampai terjatuh terduduk. Soo A yang menemani menjelaskan pada det. Oh kalau Sae Ro Yi sudah dua hari tidak makan dan tidak punya tenaga sekarang. Jadi, dia menyarankan agar det. Oh mengujungi Sae Ro Yi nanti saja lagi. Det. Oh mengerti dan memberikan kartu namanya pada Soo A. Mereka bisa menghubunginya saat sudah tenang.

Setelah det. Oh pergi, Soo A membereskan berkas tabrak lari tn. Park yang tadi di jatuhkan oleh Sae Ro Yi. Dan saat membereskan berkas itu, salah satu foto TKP adalah foto mobil yang melakukan tabrak lari. Soo A terkejut melihat foto itu. Nomor plat mobil itu adalah 7777. Soo A ingat betul kalau itu adalah mobil Jang Geun Won.
Sae Ro Yi terkejut mendengarnya. Kemarahannya memuncak. Apa Soo A yakin kalau itu mobil Geun Won?
“Ya. Dia bilang ini edisi terbatas. Aku yakin itu nomor pelatnya,” jawab Soo A.


Sae Ro Yi bangkit berdiri. Soo A panik dan berusaha menghentikan Sae Ro Yi yang pergi keluar gedung pemakaman. Dia meminta Sae Ro Yi untuk tenang dan menyarankan agar mereka menelpon polisi dahulu. Tapi, Sae Ro Yi hanya menatapnya. Tatapan yang membuat Soo A tidak bisa menghentikannya.
--

Sae Ro Yi  pergi ke gedung sekolah walau hari sudah malam. Kelas 12 masih ada di sekolah karena kelas malam. Dan tentu saja, semua terkejut melihat kedatangan Sae Ro Yi.
Keluarga. Ayah. Sebelum aku menyadari tindakannya yang tak pernah bisa kubalas... aku sudah kehilangan dia.
Sae Ro Yi melihat kalau Geun Won tidak ada di kelas dan langsung pergi dari gedung sekolah. Saat itu, hujan sudah mulai turun
--
Rumah Sakit Gwangjin,
Geun Won ada di rumah sakit. Dia tetap duduk di taman rumah sakit dengan gips di tangan kiri-nya walau hujan turun.
Orang yang berarti segalanya bagiku. Hatiku sakit karena dia hanya memedulikanku. Dan karena itu aku bisa berjuang keras. Bagiku, Ayah adalah alasanku hidup.

Sae Ro Yi datang ke rumah sakit, berjalan di tengah hujan. Dia menemukan Geun Won yang sedang duduk santai sambil merokok di taman. Dengan marah, Sae Ro Yi berjalan menghampirinya. Geun Won begitu takut melihat kedatangan Sae Ro Yi hingga terjatuh ke tanah. Melihat reaksi ketakutan Geun Won, membuat Sae Ro Yi semakin yakin kalau Geun Won adalah pelaku tabrak lari ayahnya.

Dia menghajar Geun Won. Geun Won memohon pada Sae Ro Yi untuk bicara baik-baik. Sae Ro Yi begitu marah dan menanyakan alasan kenapa Geun Won tidak langsung menelpon rumah sakit hari itu? Kenapa orang lain yang harus di hukum menggantikan Geun Won?
Geun Won begitu ketakutan dan berteriak meminta tolong sambil merangkak di tanah. Dia memohon Sae Ro Yi untuk tenang.
“Brengsek, kenapa kau membunuh ayahku? KENAPA?!!!”
Geun Won menangis memohon maaf. Sae Ro Yi memukulinya lagi. Geun Won terus memohon meminta maaf.
“Percuma saja. Orang yang harusnya menerima maafmu sudah meninggal,” ujar Sae Ro Yi, menangis. “Kau yang membunuhnya. Kau… harus minta maaf langsung padanya. Mati saja kau, bajingan!”
Sae Ro Yi mulai memukuli Geun Won membabi buta. Dia benar-benar marah dan gelap mata. Hingga dia melhiat ada batu besar di sana. Sae Ro Yi mengambil batu itu dan siap menghantamkannya ke kepala Geun Won!



1 comment: