Sinopsis C- Drama : Beautiful Reborn Flower Episode 7 part 1


Original Network : Tencent Video iQiyi Youku iQiyi
=Rahasia Lili Merah=

Qiao Man : “Kakak sudah kembali ke China, dia tidak punya siapa-siapa di sana. Kota yang asing, wajah-wajah yang asing, semuanya harus dimulai dari awal lagi.”
Qiao Man : “Pernikahan yang gagal adalah pukulan yang sangat berat baginya. Tapi hidup tidak akan menyambutmu dengan senyuman hanya karena, kamu adalah seorang wanita yang lemah yang pernah terluka karena cinta. Semuanya harus mengandalkan diri sendiri.”
Qiao Man : “Bangkit kembali dengan sikap yang selalu pantang menyerah. Saya yang jauh berada di negeri lain sama sekali tidak bisa membantu kakak, hanya sesekali menunjukkan perhatian padanya.”

Yang Lan mengikuti Jianfeng secara diam- diam dari belakang untuk mencari tahu kelemahannya. Disaat itu, dia melihat Jianfeng tidak sengaja bertemu dengan Qiao Fan dijalan dan Jianfeng tampak akrab dengan Qiao Fan. Jadi dia pun menguping pembicaraan mereka dan merekam nya.

Jianfeng merasa heran, ketika bertemu dengan Qiao Fan. Sebab setahunya Qiao Fan sudah menikah dengan orang asing di spanyol, dan dengan penasaran, dia bertanya, kenapa Qiao Fan pulang. Jika Qiao Fan tidak bahagia, dia ingin tahu kenapa dulu Qiao Fan perbuat seperti itu bila hari ini Qiao Fan akan menyesal.
“He Jianfeng, bagaimanapun kita berdua juga sudah lama tidak bertemu, kamu tidak perlu sampai mencemooh saya begitu bertemu kan?” komentar Qiao Fan dengan tenang.
“Baik. Kalau begitu kamu terserahlah,” balas Jianfeng dengan sikap malas. Lalu dia menawarkan bantuan untuk mengantarkan Qiao Fan. Dan Qiao Fan langsung menolak dengan sopan.
Yang Lan memperhatikan sikap mereka berdua dengan serius.
“Kamu jangan sentimen. Bagaimanapun kita berdua juga…” kata Jianfeng, memaksa. Lalu tiba- tiba dia terdiam sesaat. “Juga adalah teman lama,” lanjutnya.
“Teman lama tidak akan berbicara seburuk itu begitu bertemu,” balas Qiao Fan dengan raut bad mood. Dan melihat itu, Jianfeng pun mengalah dan mengakui kalau dia salah.

Jianfeng kemudian memberikan kartu namanya kepada Qiao Fan, mana tahu Qiao Fan butuh pekerjaan, maka Qiao Fan bisa datang mencarinya. Dan Qiao Fan mengambil kartu nama tersebut, lalu dia segera menyeret koper nya dan pergi darisana.
Setelah Jianfeng dan Qiao Fan berpisah. Yang Lan kembali mengikuti Jianfeng secara diam- diam.

Keesokan harinya, Yang Lan melaporkan hasil pengintaian nya kepada A Li. Dan ketika A Li tahu kalau Jianfeng tampak nya punya hubungan mesra dengan wanita, dia merasa puas. Dia menyuruh Yang Lan untuk terus mengawasi Jianfeng dan cari tahu titik penerobosan melalui Qiao Fan, supaya mereka bisa menguasai Jianfeng dengan sekali tepukan. Dan Yang Lan mengerti.


Kemudian tiba- tiba, Mo Hui datang dengan sikap panik dan melaporkan kepada A Li bahwa dipasar tiba- tiba saja muncul sejumlah produk kerajinan yang sangat mirip dengan produk kerajinan mereka, dan harga barang tiruan tersebut sangat rendah. Sehingga karena ini, banyak dealer- dealer yang menelpon untuk membatalkan pesanan. Dan dewan direksi sudah mengetahui hal ini dan sedang bergegas kemari.


“Orang-orang tua ini kenapa tahu lebih dulu daripada saya?” keluh A Li, stress. “Yang Lan, kamu pergi ke bandara dulu. Begitu pesawat Pak Lin mendarat, segera jemput dan bawa dia ke perusahaan,” perintahnya.
“Baik, Kepala Direktur,” jawab Yang Lan. Lalu dia pergi.
“Mo Hui, kamu ikut saya turun dulu untuk menguasai keadaan.”
“Baik. Baik. Baik.”
Duo dan Mao Zhi berhasil membobol ruang penyimpanan He Ping. Dan Duo ini adalah orang yang sangat pintar, dia membawa sarung tangan dan memakainya supaya dia tidak meninggalkan sidik jari nantinya. Tapi Mao Zhi adalah orang yang bodoh, karena dia tidak membawa apapun, jadi Duo pun memberikan sebelah sarung tangan nya kepada Mao Zhi.

Setelah sarung tangan dipakai, Duo memakai kacamata hitam dan melakukan akrobatik dengan sikap kaku untuk memeriksa apakah ada infamera di ruang penyimpanan He Ping. Dan melihat sikap Duo yang seperti itu, Mao Zhi merasa heran dan mengira kalau Duo sedang sakit. Dengan kesal, Duo pun menasehati Mao Zhi untuk berhati- hati.
“Saya tidak melihat apa-apa,” komentar Mao Zhi dengan sikap polos.
“Kenapa kamu tidak punya kesadaran akan keamanan sama sekali?” keluh Duo. “Sudah. Sudah. Begini, cari yang ringan, yang bernilai, yang mudah dibawa, pindahkan,” perintahnya.

Mao Zhi kemudian melihat ke sekeliling dan mengambil sebuah jam meja. Melihat itu, Duo merasa sangat capek kepada Mao Zhi. Diapun lalu memberikan contoh kepada Mao Zhi, barang apa yang bernilai, ringan, dan mudah dibawa. Dan contohnya adalah buku dunia lain.

“Bukankah itu hanya sebuah buku harian rusak? Apa bagusnya itu dicuri?” tanya Mao Zhi, tidak mengerti.
“Bukan. Ini bukan buku harian rusak,” jelas Duo dengan tegas. “Apakah kamu tahu apa yang dikejar oleh orang-orang kaya? Budaya. Pewarisan budaya. Pendidikan budaya. Kamu tidak mengerti apa pun, kamu berbicara omong kosong apa?” jelasnya. Tapi Mao Zhi masih tampak tidak mengerti, jadi diapun merasa semakin capek. “Cepat, cepat, cepat pergi. Ambil gambar. Pindahkan gambar Budaya. Apakah kamu mengerti?” perintahnya dengan kesal.
Mendengar perintah itu, Mao Zhi kembali ingin mengambil jam meja yang di lihat nya pertama kali. Dan dengan kesal, Duo pun memukuli kepala nya.


Yang Lan datang ke bandara dan menunggu kedatangan He Ping. Lalu ketika dia melihat He Ping, dia langsung menghampirinya. Namun dia merasa bingung, kenapa Qiao Man juga datang ke China. Dan sebelum Qiao Man sempat menjawab, He Ping langsung menyela dan menjelaskan kepada Yang Lan kalau Qiao Man kembali ke china karena ada urusan dan kebetulan mereka naik satu pesawat yang sama. Mendengar itu, Yang Lan tampak lega, tapi kemudian dia tampak tidak senang.
“Dia bersikeras membayar lebih untuk membuat saya duduk di sebelahnya, duduk di kursi kelas satu. Seperti anak kecil,” kata Qiao Man sambil tertawa. Dan melihat itu, He Ping tersenyum kecil.

Yang Lan mengabaikan Qiao Man dan memberitahu He Ping untuk segera mengikuti nya kembali ke kantor, karena ada rapat mendadak. Dan He Ping merasa heran, kenapa sangat tergesa-gesa seperti ini. Kepadahal pameran seni di Barcelonan berjalan dengan lancar.
“Sepertinya dealer sudah membatalkan pesanan, saya juga tidak tahu situasi selanjutnya, saya langsung datang menjemput Anda. Anda sebaiknya cepat kembali ke perusahaan,” jelas Yang Lan.
“Dealer membatalkan pesanan bukankah adalah hal yang normal?” tanya He Ping, bingung.
“Tapi kali ini dan sebelumnya…”
“Sudah. Ali itu memang menyebalkan,” sela He Ping.


He Ping kemudian menanyai, dimana Qiao Man akan tinggal. Dan mendengar itu, Qiao Man pun tersadar kalau dia belum tahu mau tinggal dimana. Dan dengan baik hati, He Ping menawarkan bantuan untuk menyediakan tempat tinggal sementara, karena Qiao Man sudah banyak membantunya saat di Barcelona. Dan Qiao Man mengiyakan dengan senang, lalu dia mengajak He Ping untuk segera jalan.
“Pak Lin, sekarang situasinya sangat mendesak, Anda tetap segera kembali ke perusahaan saja,” kata Yang Lan, menghentikan He Ping.

“Bukan. Mencari sebuah hotel memangnya bisa menghabiskan waktu berapa lama?” balas He Ping dengan sebel. “Kamu jangan lupa kalau saya belum memberitahu Kepala Direktur tentang hal buruk yang kamu lakukan di Barcelona itu,” ancamnya.
“Baiklah. Kalau begitu ayo pergi cari hotel dulu,” jawab Yang Lan. Dan He Ping puas mendengar jawaban itu. Lalu diapun bantu membawa koper Qiao Man dan pergi.
Yang Lan segera memotret He Ping dan Qiao Man dari belakang. Lalu barulah dia berjalan mengikuti mereka berdua.
He Ping menawarkan bantuan lagi, jika Qiao Man tetap ingin tinggal disini, maka dia bisa membantu Qiao Man untuk mencari satu pekerjaan. Dan Qiao Man berterima kasih atas kebaikan He Ping, tapi dia masih harus kembali ke Barcelona setelah menyelesaikan urusan serius disini, yaitu menagih hutang. Dan He Ping pun mengerti.
“Saya mengirim pesan WeChat untuk kakak saya ya, tunggu sebentar,” kata Qiao Man. Lalu dia mengirimkan pesan suara ke Qiao Fan. “Kak, saya sudah pulang ke China.”

Qiao Man : “Saya tahu Hanson ada di sini, tapi tidak menghubungi dia. Saya sudah mengetahui kepribadian anak ini. Kalau dia tahu saya datang untuk menagih hutang, dia pasti akan langsung bergegas ke sini. Lebih baik memberi satu sama lain sedikit ruang deh. Jangan cari masalah.”
Hanson datang ke kantor An Group di China dengan mengenakan pakaian seperti preman. Dan tanpa mengenalkan dirinya sendiri, dia langsung memerintah semua karyawan untuk mengirim kan laporan kinerja mereka kepadanya. Mendengar itu, semua orang menganggap Hanson sebagai pencari masalah yang datang untuk melamar pekerjaan, jadi mereka pun mengusirnya.


Dengan kesal, Hanson langsung membuang semua dokumen dimeja dan duduk diatasnya. “Baiklah. Sepertinya saya harus memperkenalkan diri saya lagi. Saya bernama Hanson, tapi kalian harus memanggil saya CEO. Ada orang yang bilang kalau temperamen saya tidak bagus. Ada juga orang yang bilang kalau saya kasar. Saya tidak menyangkalnya. Lagi pula sebelumnya saat di Barcelona saya mengandalkan tinju saya untuk mendapatkan dunia saya,” katanya dengan jujur. “Jadi, kalian ingatlah kalau saya datang untuk mengembangkan pasar China, bukan datang untuk mendapatkan impresi baik dari kalian. Mulai sekarang performa kalian akan menentukan posisi kalian di perusahaan. Siapa yang tidak berkontribusi pada perusahaan, saya akan menyuruhnya segera pergi. Singkatnya, kalian telah memasuki satu masa kelam, masa Hanson,” jelas nya dengan tegas sambil melempar kan barang yang ada di dekatnya.
Mendengar itu, semua orang terdiam dan merasa takut.

Seorang pria datang dan menyapa Hanson dengan ramah. Lalu saat dia melihat semua karyawan tampak takut, dia merasa heran dan menyuruh semuanya untuk kembali bekerja. Kemudian dia mengajak Hanson untuk ke kantor.

Duo mencoba untuk menjual buku dunia lain kepada seorang pedagang buku bekas di jalanan, dia berharap untuk mendapatkan nilai jual yang tinggi, karena dia sudah mengambilnya dengan susah payah. Namun ketika melihat isi buku tersebut, si pedagang hanya menawar kan harga 10 yuan, karena nantinya dia hanya akan menjual buku tersebut senilai 12 yuan di tempat nya. Jadi bila Duo tidak terima dengan harga penawaran nya, maka itu terserah, karena dia tidak peduli.

Duo diam dan berpikir. Dia membandingkan buku dunia lain dengan buku jualan si pedagang, lalu dia merasa geli. “Saya menganggap kamu sebagai harta berharga, hasilnya kamu hanya bernilai 10 yuan,” gumam nya. Lalu diapun setuju untuk menjual buku tersebut seharga 10 yuan, karena menyimpan buku tersebut pun percuma untuk nya.
Setelah Duo pergi, si pedagang membaca isi buku dunia lain.
Si pria membawa Hanson ke dalam kantornya. Lalu dia menjelaskan bahwa Hanson bisa beristirahat disini dulu, kemudian dia akan membawa Hanson ke kantor Hanson sendiri nantinya. Dan Hanson menolak, sebab menurutnya tidak perlu untuk membuat kantor baru untuknya.
“Kamu tidak perlu sungkan dengan saya,” kata si pria dengan ramah.
“Saya tidak sedang sungkan,” balas Hanson sambil duduk dengan santai di kursi kerja si pria. “Karena perusahaan ini diambil alih oleh saya, kalau begitu saya pikir tempat yang paling cocok untuk saya duduki adalah di sini,” jelas nya.

Melihat itu, si pria merasa tidak rela dan bertanya, dimana dia harus duduk nantinya. Dan dengan santai, Hanson mengatakan kalau kantor baru nanti nya akan diberikan kepada si pria, lalu dia ingin beberapa barang di dalam ruangan di ubah. Seperti lukisan di dinding serta kursi nya juga.
“Hanson, kamu jangan terlalu kelewatan. Meskipun kamu kembali dan menjadi bos, kamu jangan membuat saya malu,” kata si pria, kesal.
“Maaf ya. Saya terlalu lama tinggal di luar negeri, tidak mengerti apa itu memalukan atau tidak,” balas Hanson dengan santai.

“Baik. Kamu punya nyali. Saya katakan dengan jujur padamu, kamu kira yang kamu ambil alih adalah pekerjaan bagus apa? Siapa yang tidak tahu kakak ipar saya? Dia adalah orang sangat pelit yang terkenal. Kamu ingin mendapatkan sedikit keuntungan dari dia, itu tidak mungkin,” kata si pria, meremeh kan Hanson.
Mendengar itu, Hanson pun merasa tidak senang. “Saya juga katakan padamu dengan jujur, saya bekerja demi Perusahaan Anggur Yipin, dan bukan untuk keuntungan sendiri,” tegas nya. “Tolong kamu segera membereskan barang-barang yang tidak saya inginkan.”

“Baik. Akan saya lakukan. Saya juga tidak ingin di sini. Saya sama sekali tidak tertarik dengan bisnis anggur merah. Baguslah kamu datang ambil alih, jadi saya bisa berkonsentrasi mengejar impian saya di industri film,” kata si pria dengan sinis. Lalu dia langsung pergi.

Melihat sikap si pria, Hanson mulai berpikir kalau seperti nya, ini sudah waktunya untuk dia harus melakukan perubahan besar.

Qiao Man merasa tidak enak, sebab He Ping sudah membayarkan tiket pesawat nya dan sekarang He Ping malah membawanya ke hotel mahal dan ingin membayar kan nya juga. Jadi dia mengingatkan He Ping bahwa dia tidak punya uang untuk membayar hutang kepada He Ping nantinya. Dan He Ping mengerti, dan menjelaskan bahwa dia membayarkan ini secara gratis. Mendengar itu, Qiao Man pun merasa senang.
Lalu sesampainya di meja resepsionis, He Ping meminta pasport Qiao Man untuk digunakan nya saat memesan kamar. Dan ketika dia melihat nama di paspor Qiao Man, dia merasa kecewa. Sebab ternyata nama Qiao Man benar adalah Qiao Man, bukan Nan Sheng.

Kemudian setelah selesai memesan kamar, He Ping menjelaskan kalau Qiao Man bisa tinggal selama yang Qiao Man inginkan. Lalu setelah itu, dia pun pamit dan pergi.
“Bye. Bye,” kata Qiao Man dengan senang.
“Ya. Bye. Bye.”

Saat masuk ke dalam kamar, Qiao Man merasa sangat senang dan puas. Sebab kamar tersebut sangat besar dan juga luas sekali. Bahkan pemandangan di luar nya juga bagus.

Xiaozhi menelpon Qiao Man dan bertanya, apakah Hanson sudah tahu kalau Qiao Man ke China, jika belum dia bisa membantu Qiao Man untuk memberitahunya. Dan Qiao Man langsung melarang Xiaozhi untuk memberitahu Hanson, karena setelah dia menemukan Ben dan mendapatkan uang nya, dia akan segera kembai ke Barcelona.
“Dia sekarang adalah penanggung jawab dari Perusahaan Anggur Yipin dalam negeri, dia sudah sangat berbeda, oke?” kata Xiaozhi, memuji Hanson.

“Kamu sangat memujinya, kenapa kamu tidak menikah dengannya?” balas Qiao Man dengan malas.
“Kamu bicara apa? Saya tidak tertarik dengan kodok itu,” balas Xiaozhi. “Tapi, saya juga benar-benar tidak tahu bagaimana pendapatmu. Kamu bilang ada seorang pria yang tergila-gila padamu seperti itu, kamu kenapa memandang rendah dia?” tanyanya, penasaran. Dan karena Qiao Man tidak mau menjawab, maka diapun tidak memaksa.
Setelah selesai bertelponan, Qiao Man mulai merancang rencana nya dengan bersemangat. Pertama dia akan mencari Ben. Dan lalu barulah dia menemui Qiao Fan untuk memberi nya kejutan.

Para dewan direksi merasa tidak puas dengan kinerja He Ping dan meminta penjelasan dari A Li. Sebab kejadian ini bukan hanya merugikan perusahaan, tapi juga mempengaruhi rencana go pulik mereka. Karena produk baru yang di publikasi kan perusahaan di Barcelona masih belum dirilis, tapi sudah dibajak oleh orang lain.
Dengan tenang, A Li menjelaskan bahwa dia dan He Ping juga sudah berivenstasi banyak dalam pameran seni kali ini. Jadi kerugian mereka sama. Lalu untuk penjelasan, mereka harus menunggu He Ping untuk datang dulu, karena He Ping masih dalam perjalanan. Setelah He Ping tiba, barulah mereka bisa menegosiasikan solusi yang tepat supaya perusahaan bisa melewati krisis kali ini.

“Lin He Ping ini dia terlalu tidak masuk akal. Bukankah bilang kalau dia sudah turun dari pesawat?” tanya Direktur Yang, mengeluh. “Sampai sekarang masih belum muncul. Menurut saya, dia itu sengaja menunda waktu karena takut bertanggung jawab.”
“Direktur Yan, kamu sudah salah berbicara seperti ini. Kalian semua tahu He Ping biasanya adalah orang yang seperti apa. Saya percaya tidak peduli seberapa besar apa masalah yang muncul di perusahaan kali ini, He Ping pasti tidak akan lari dari tanggung jawab. Mohon kalian bersabar,” kata A Li, membela He Ping.

Tepat disaat itu, He Ping datang dan dia meminta maaf kepada semuanya, sebab dia telah membuat mereka menunggu karena urusan pribadi nya barusan. Lalu dia menanyakan, apa yang sebenar nya terjadi. Dan ketika dia tahu, dia merasa bersalah.


“Mo Hui, kamu pergilah dengan Yang Lan untuk menyelidiki siapa yang melakukan ini,” perintah He Ping. Dan Mo Hui mengiyakan.
“Tolong kalian beri saya sedikit waktu. Saya pasti akan mencari tahu hingga jelas dan memberi kalian suatu penjelasan,” kata He Ping, mencoba menenangkan para dewan.
“Sebaiknya begitu. Saya harap kamu kali ini jangan mengecewakan semua orang. Kalau tidak, saya yang pertama tidak bersedia,” kata Direktur Yan dengan tegas. Lalu rapat pun dibubarkan.

Dengan kecewa, A Li sama sekali tidak mau memandang He Ping. Dan He Ping pun merasa sangat bersalah.

Post a Comment

Previous Post Next Post