Sinopsis K- Drama : Flower Of Evil episode 1 part 1





Sinopsis K- Drama : Flower Of Evil episode 1 part 1
Original Network : tvN

Dalam keadaan terluka dan tubuh terikat didalam kolam berenang yang berisikan air, Baek Hee Sung berusaha untuk menyelamatkan dirinya. Namun setelah cukup lama berusaha, dia kehabisan tenaga dan pingsan.



Kemudian Cha Ji Won datang. Dia menyelam ke dalam kolam berenang dan berusaha untuk mengangkat Hee sung ke atas permukaan, namun dia tidak bisa, karena tangan Hee Sung terikat erat di dalam kolam. Dan pada saat Ji Won melakukan itu, Hee Sung tersadar dan dia menatap wajah Ji Won yang menatap cemas padanya.

Hee Sung : “Haruskah kuberi tahu orang seperti apa aku ini?”
Ji Won : “Aku akan lebih mencintaimu mulai sekarang. Aku akan bersikap baik padamu. Sebelum kamu menyadarinya, semuanya akan berubah. Dalam cara yang tidak terlihat nyata.”

Karena tidak mungkin untuk menarik Hee Sung ke atas permukaan secara langsung. Ji Won pun memberikan nya nafas buatan terlebih dahulu.


Didapur. Hee Sung dan Ji Won berciuman dengan bergairah sambil mendengarkan musik romantis. Mereka berdua tampak sangat bahagia dan mesra sekali.


"Perajin logam, Baek Hee Sung"

Di dalam ruangan banyak terdapat hasil kerajinan buatan Hee Sung yang sangat bagus. Ada aksesoris dan hiasan.


Setelah cukup lama berciuman dan musik berakhir, Ji Won baru teringat bahwa dia sudah terlambat, dan dia mengomeli Hee Sung. Lalu dengan buru- buru, dia segera membereskan barang- barangnya. Dan tanpa rasa bersalah, Hee Sung membela diri, bukan dirinya yang menyalakan musik dan membuat suasana menjadi bergairah. Mendengar itu, Ji Won tidak peduli.


“Bereskan tempat ini secepat mungkin, dan pakaikan Eun Ha pakaian terbaiknya. Pakaian dengan logo yang unik,” perintah Ji Won. “Aku harus mengambil cucian kering kita,” jelas nya.

“Kenapa kamu repot-repot seperti ini untuk makan malam keluarga?” tanya Hee Sung dengan sikap malas. Dan Ji Won tersenyum, tidak menjawab.


Malam hari, dalam perjalanan, Ji Won dan Hee Sung terus berpegangan tangan. Ji Won menjelaskan bahwa dia harus memanfaatkan peluang ini untuk lebih sering bertemu dengan mertua nya. Lagipula, mereka adalah kakek dan nenek Eun Ha. Mendengar itu, Eun Ha yang duduk di belakang mengeluh bahwa Nenek menakutkan.
“Bagaimana mungkin menakutkan padahal dia nenekmu?” tanya Ji Won.
“Ibu juga takut padanya,” balas Eun Ha.

“Jangan konyol,” sangkal Ji Won.

Dirumah orang tua Hee Sung. Ji Won dan Eun Ha sama- sama bersikap gugup menghadapi Gong Mi Ja dan Baek Man Woo. Namun Hee Sung bersikap biasa saja.


“Apa kamu tidak mengajarinya sopan santun?” tanya Mi Ja, saat melihat Eun Hae bersembunyi di belakang Hee Sung dan tidak menyapa nya.

Dengan gugup, Ji Won sulit untuk menjawab. Dan Hee Sung lah yang menjawab Ibunya. “Itu karena dia ingat Ibu menutup pintu di depan kami sebelumnya.”

Mendengar itu, Ji Won dengan cepat menyentuh tangan Hee Sung untuk mengingatkannya agar jangan berbicara seperti itu. Lalu dia menyuruh Eun Ha untuk menunjukkan kepada Kakek dan Nenek apa yang sudah mereka latih sebelumnya. Dan Eun Ha menggelengkan kepalanya. Tapi Ji Won terus membujuk nya, sehingga dia pun melakukan nya.


“Nenek, Kakek, aku menyayangi kalian,” kata Eun Ha dengan pelan sambil membuat tanda hati. Dan Mi Ja serta Man Woo menatap nya dengan dingin.

“Mari masuk. Kakiku lelah,” kata Mi Ja. Lalu dia berjalan masuk duluan. Dan Man Woo mengikutinya.


Dengan sedih, Eun Ha mengadu kepada Hee Sung bahwa Nenek membencinya. Dan dengan cepat, Ji Won mengatakan tidak. Lalu dia menyemangati Eun Ha untuk terus berusaha, dan suatu hari nanti Mi Ja pasti akan merespon.

Mendengar itu, Hee Sung hanya diam saja dan tidak mengatakan apapun.



Dengan riang, Ji Won dan Eun Ha menyanyi kan lagu selamat ulang tahun untuk Hee Sung. Sedangkan Mi Ja dan Man Woo, mereka berdua hanya diam saja dan menatap mereka sekeluarga dengan dingin. Kemudian setelah Hee Sung meniup lilin ulang tahun, Eun Ha dan Ji Won memberikan nya hadiah. Dan dengan senang, Hee Sung menerima hadiah dari mereka. Sedangkan Mi Ja dan Man Woo, mereka berdua tetap diam saja tanpa bereaksi sedikit pun.

Ji Won memberikan hadiah tali jam tangan untuk Hee Sung. “Inisialmu terukir di sana,” jelas nya. Dan melihat itu, Hee Sung tersenyum serta mengucapkan terima kasih.


Ji Won kemudian membawa Eun Ha pergi dari ruang makan, karena Eun Ha ingin ke kamar mandi. Dan saat mereka pergi, Mi Ja mendengus sinis. “Kamu mengundang kami untuk pamer?” tanyanya.
“Kenapa Ibu datang?” balas Hee Sung, bertanya dengan dingin. “Ibu bisa saja membuat alasan.”
“Tidak bolehkah ibu mengucapkan selamat ulang tahun pada putra ibu?” balas Mi Ja. “Apa hidupmu terasa seperti milikmu sekarang?”

“Tidak mungkin. Hidupku tidak pernah menjadi milikku. Jadi, aku tidak tahu bagaimana rasanya,” jawab Hee Sung sambil tersenyum. Mendengar itu, Mi Ja merasa Hee Sung sedang menyindir nya,  sehingga dia merasa kesal.


Man Woo mengentakkan gelas nya dengan keras ke atas meja. Dia menghentikan Mi Ja dan Hee Sung untuk jangan berdebat lagi, karena mereka semua senasib. Bila mereka berdua tidak ingin kapal nya karam, maka jangan saling menyulitkan. Mendengar itu, Mi Ja serta Hee Sung sama- sama diam.


Kemudian tepat disaat itu, Ji Won dan Eun Ha kembali. Dengan rasa bersalah, Ji Won memberitahu Hee Sung bahwa dia ada urusan di kantor, jadi dia pamit. Lalu dia juga meminta maaf kepada Mi Ja dan Man Woo. Dengan sinis, Mi Ja menanyai, apakah Ji Won mau balas dendam padanya, karena dia tidak menyambut Ji Won tahun lalu.

“Tidak, Ibu,” kata Ji Won, menjawab dengan cepat. “Aku sangat ingin mentraktir kalian makan malam lezat hari ini …” jelas nya.


Dan sebelum Ji Won selesai berbicara, Hee Sung langsung menyela. “Dingin. Pakailah ini,” katanya dengan perhatian. Dia ingin memberikan jas nya, tapi Ji Won segera menghentikan nya untuk tidak perlu.
Ji Won berbisik pelan kepada Hee Sung, dia menanyai, apa yang harus dilakukannya, karena tampaknya dia membuat orang tua Hee Sung kesal lagi. Dan Hee Sung menenangkan nya bahwa itu tidak apa- apa. Kemudian dia membiarkan Ji Won untuk pergi.

“Aku akan pergi sekarang,” kata Ji Won, pamit. Lalu diapun segera pergi.



Setelah Ji Won pergi, Hee Sung memangku dan memeluk Eun Ha dengan lembut serta membiarkan nya untuk tidur. Lalu setelah Eun Ha tertidur, Mi Ja serta Man Woo mengomentari betapa bodohnya Ji Won dan mereka juga tidak menyangka kalau pernikahan Hee Sung dan Ji Won akan berhasil. Mendengar itu, Hee Sung tersenyum kecil.

“Ji Won dan aku memang berjodoh,” kata Hee Sung dengan bangga.

Ji Won sampai di Kantor Polisi Gangsu. Dan dengan buru- buru, dia berlari masuk ke dalam sana.


Mi Ja merasa geli mendengar perkataan Hee Sung yang terdengar seperti lelucon, dan dia tertawa dengan keras. Sebab Hee Sung adalah pria dengan masa lalu yang kotor, sedangkan Ji Won adalah polisi. Bahkan Man Woo juga menganggap perkataan Hee Sung sebagai lelucon, dan dia menanyai dengan serius, apakah mempunyai anak dengan Ji Won membuat Hee Sung merasa mempunyai ikatan yang istimewa dengan Ji Won.



“Ji Won hanya memercayai apa yang dilihatnya. Dan aku hanya memperlihatkan apa yang ingin dia lihat. Karena itu, aku bisa memahaminya,” jelas Hee Sung. “Jadi, kalian tidak perlu mengkhawatirkan kami,” katanya, menenangkan mereka berdua.

Di ruang pengamat. Ji Won memperhatikan proses introgasi seorang tersangka.



Hari ini, sekitar pukul 15.00, seorang anak ditemukan pingsan dengan cedera kepala serius di tangga darurat apartemen di Seokin-dong, Seoul. Namanya Kim In Seo. Usianya 12 tahun.

Ketika In Seo tersadar di rumah sakit, hal pertama yang di katakan nya setelah terdiam beberapa saat adalah “Pelakunya Ayah.”  Itulah kata In Seo sambil menunjuk Ayahnya sendiri. “Ayah mencoba membunuhku.”  Dan mendengar itu, dokter, polisi, dan Ibu In Seo yang berada disana, mereka semua merasa terkejut.


Flash back. In Seo menaiki satu persatu anak tangga, dan setelah dia berhasil mencapai Ayahnya, dia sudah merasa sangat kelelahan. Tapi Ayah  malah menyuruhnya untuk turun. Dan diapun mengatakan bahwa dia ingin berhenti diet hari ini, karena dia sangat lelah. Namun Ayah tidak mau tahu. Dengan kasar, Ayah mencubit perut In Seo yang berlemak.



“Kamu tidak jijik pada dirimu sendiri?” tanya Ayah. Dan mendengar itu, In Seo merasa bersalah serta meminta maaf. “In Seo. Ayah sangat marah tiap kali melihatmu. Ayah tidak percaya kamu putra ayah,” kata Ayah dengan jijik. Lalu dia menendang In Seo. Sehingga In Seo terjatuh dari tangga.

Setelah In Seo terjatuh dan terluka parah. Ayah merasa panik dan buru- buru pergi darisana, namun sebelum itu dia memastikan bahwa tidak ada CCTV di sekitarnya. Flash back end.


Ayah In Seo menyangkal dengan keras. Dia mengatakan bahwa In Seo telah berbohong. Dan Detektif Choi yang mengintrogasi Ayah tidak percaya. Sebab semua bukti mengarah kepada Ayah. Dan Ayah menjelaskan bahwa memang benar dia yang menyuruh In Seo untuk menaiki tangga, dan dialah yang menemani In Seo ditangga tersebut. Tapi apa yang In Seo katakan tidak benar.

Ketika Ayah menemani In Seo menaiki tangga, dia tiba- tiba mendapatkan telpon dari temannya. Lalu diapun menyuruh In Seo untuk pulang duluan. Dan In Seo mengiyakan dengan patuh. Kemudian Ayah pun pergi meninggalkan In Seo di tangga tersebut.

Setelah selesai menjelaskan itu, Ayah In Seo bertanya dengan sungguh- sungguh, “Detektif.. Orang tua mana yang tega melakukan itu pada anaknya?” tanyanya. “Dia putra kesayanganku.”


Mendengar itu, Detektif Choi mendekati tubuh Ayah dan mengendus bau nya. “Anda makan iga dengan soju dan bir dengan teman Anda?” tanyanya. Dan Ayah In Seo membenarkan. Lalu Detektif  Choi tersenyum.


Hee Sung membaringkan Eun Ha yang sudah tertidur di atas tempat tidur. Lalu dia mengelus rambutnya dengan lembut.


Diruang pengamat. Detektif Choi mengomentari bahwa 80 persen penyiksaan anak dilakukan oleh orang tuanya sendiri. Lalu dia menanyai pendapat Ji Won. Dan Ji Won menjawab bahwa Ayah In Seo tidak bersalah. Mendengar itu, Detektif Choi mengaku kecewa pada Ji Won.


“Bukan begitu. Lihat sandalnya,” kata Ji Won menjelaskan. “Melihat dari gaya berpakaiannya, kurasa itu bukan miliknya. Sandalnya dari restoran. Itu berarti dia bergegas begitu mendengar soal cedera putranya. Dan hanya satu kaus kakinya yang kotor. Sandal itu bahkan tidak pas untuknya, jadi, sandalnya mungkin lepas saat dia berlari. Bukankah itu membuktikan bahwa dia tidak bersalah?”

“Kamu luar biasa,” puji Detektif Choi. “Itulah masalahmu. Kamu terlalu memercayai bukti. Kamu harus melihat orangnya sebelum melihat buktinya,” komentarnya.
“Jujurlah. Kamu tidak menyadari sandalnya, bukan?” balas Ji Won.

Detektif Choi dengan serius menjelaskan bahwa pada saat dia masuk ke dalam ruang introgasi, dia mendapat kan firasat bahwa Ayah In Seo adalah orang jahat. Dan dia yakin dengan nalurinya. Mendengar itu, Ji Won merasa geli. Lalu dia menanyai pendapat Detektif Im.



“Aku atau Ji Won? Pilih satu pihak,” kata Detektif Choi juga, menanyai Detektif Im.
“Aku tidak ingin mengatakan ini. Tapi dia pernah mengatakan bahwa aku panutannya,” kata Ji Won dengan perasaan bangga sambil menertawai Detektif Choi.
“Sungguh? Kamu bilang aku panutanmu,” kata Detektif Choi, kesal. Dan mengetahui itu, Ji Won terkejut.

“Itu...” kata Detektif Im dengan gugup. “Aku mengagumi kalian berdua,” jelasnya. Dan tepat disaat itu mereka bertiga di panggil. Dan Detektif Im langsung kabur.


Di kantor. Detektif Choi menyindir Lee Woo Cheol, atasan mereka yang hanya membeli kopi untuk diri sendiri. Dan Woo Cheol mencuekkin nya sambil meminum kopi nya dengan tenang.


“Detektif Cha,” panggil Woo Cheol. “Kumpulkan pernyataan dari orang-orang dekat Kim Sang Jin (Ayah In Seo), dan periksa rekaman kamera pengawas dari lokasi kecelakaan,” perintah nya.

“Baik, Pak,” jawab Ji Won.


Detektif Choi berdiri dari tempatnya, “Detektif Choi, Kim Sang Jin... Aku akan menghajarnya agar mengaku jika perlu,” katanya dengan bersemangat.
“Periksa keberadaannya saat kecelakaan itu terjadi,” perintah Woo Cheol dengan tegas. “Secara legal, tentunya,” tambahnya, mengingatkan.

“Bapak bisa mengandalkanku,” jawab Detekti Choi, senang.

Wartawan Kim Moo Jin menemui Ibu In Seo dan mewawancarai nya. Dia menanyai, apakah Sang Jin suka menyuruh- nyuruh In Seo. Dan dengan pelan, Ibu In Seo menjawab bahwa Sang Jin terkadang memang tegas, Sang Jin cenderung tidak suka jika semua tidak berjalan sesuai rencana. "Dia terobsesi dengan rencana." Tulis Moo Jin di buku catatan nya.



Moo Jin kemudian menanyai pendapat Ibu In Seo, apakah Sang Jin orang yang kurang berempati. Dan Ibu In Seo tidak mengerti. Lalu tepat disaat itu, Ji Won dan Detektif Im datang. Jadi wawancara pun berhenti.

Diruang tunggu. Moo Jin dengan bangga memberitahu Detektif Im tentang beritanya. “Membenci Anaknya yang Obesitas. Ayah yang Memaksa Anaknya Berjalan di Tangga Kematian.” Membaca judul artikel itu, Detektif Im mengomentari sikap Moo Jin. Dan Moo Jin menjelaskan bahwa sejujur nya ini adalah kisah yang diincar nya dalam hidup nya.
“Aku memang menikmati artikel yang kamu unggah di internet,” puji Detektif Im.

“Mana yang paling kamu sukai?”

“Yang itu. Tentang pembunuhan berantai di Kota Yeonju. Aku bahkan tidak tahu kasus seperti itu terjadi di Korea,” kata Detektif Im dengan bersemangat.

“Itu mengerikan. Seluruh kota itu kacau,” gumam Moo Jin dengan suara pelan. Sehingga Detektif Im tidak mendengar nya.


Moo Jin kemudian mengalihkan pembicaraan. Dia bertanya- tanya tentang Sang Jin, dan Detektif Im pun menjawab pertanyaannya. Lalu Moo Jin menuliskan itu di buku catatan nya, tapi sialnya, tinta penanya habis. Dan Detektif Im pun meminjam kan pena milik nya.
“Suami Detektif Cha membuat ini untuk anggota timnya,” kata Detektif Im, memberitahu.
“Ini cantik,” puji Moo Jin.
“Dia perajin logam,” jelas Detektif Im.

“Perajin logam?” tanya Moo Jin seperti terkejut. “Menarik sekali.”


Ji Won mengintrogasi Ibu In Seo. Dia menanyai, apakah In Seo pernah mengeluh tentang Sang Jin, Ayahnya. Dan dengan gugup, Ibu In Seo diam. Lalu kemudian dia memegang tangan Ji Won dengan erat, dan mengatakan bahwa Putranya, In Seo, tidak pernah berbohong.



“Bagaimana dengan suami Anda? Apa dia orang yang bisa menyakiti anak Anda?” kata Ji Won, terus lanjut bertanya- tanya.
“Tidak! Beraninya Anda …” bentak Ibu In Seo, marah. “Detektif, tidak terjadi apa-apa dalam keluargaku. Kami sama sekali tidak punya masalah!” teriaknya. Lalu setelah dia selesai berteriak, Ibu In Seo bersikap takut- takut. Dan Ji Won menatap bingung padanya.
“Ini pertanyaan prosedur yang diajukan dalam situasi seperti ini, tapi adakah polis asuransi yang dibuat atas nama putra Anda?” tanya Ji Won dengan tenang.

“Ada,” jawab Ibu In Seo dengan heran. “Kenapa Anda bertanya?”


Disupermarket. Moo Jin memberitahu pendapatnya, dia yakin Sang Jin mengincar klaim asuransi In Seo. Tapi Ji Won tidak setuju, sebab polis asuransi In Seo tidak berlaku jika anak kurang dari 15 tahun. Dan juga keluarga In Seo tidak memiliki masalah keuangan. Jadi Sang Jin tidak ada motif untuk membunuh In Seo.
“Tidak perlu ada motif besar untuk pembunuhan,” kata Moo Jin, berkomentar. “Seorang pria membunuh tujuh orang hanya untuk bersenang-senang dan mengubur jasad mereka di hutan. Istri yang dikatakan telah meninggalkannya juga ditemukan di sana. Tulang-tulangnya, maksudku,” jelas nya.

“Siapa yang kamu bicarakan?” tanya Ji Won, ingin tahu.


Moo Jin mengalihkan pembicaraan. Dia bertanya, apakah suami Ji Won adalah seorang perajin logam. Dan Ji Won membenarkan. Moo Jin kemudian menjelaskan bahwa pelaku pembunuhan yang di bicarakan nya juga adalah seorang perajin logam. Dan Ji Won merasa pernah mendengar tentang kasus di suatu tempat.

“Apakah detail kasus ini sepadan dengan pena mewah itu?” tanya Moo Jin.


“Jika kuberikan secara gratis, akankah kamu mengatakan hal baik tentang itu di media sosial?” tanya Ji Won dengan senyum bisnis. Dan Moo Jin mengiyakan. Lalu Ji Won pun memberikan kartu nama milik Hee Sung. “Kalau begitu, silakan.”


Mendengar mereka berdua berbicara, Detektif Im merasa heran dan bertanya, kenapa Ji Won berbicara sangat formal kepada Moo Jin. Dan Ji Won menjawab bahwa itu karena Moo Jin lebih tua setahun darinya. Dan Detektif Im langsung memberitahu bahwa Moo Jin sebenarnya setahun lebih muda dari Ji Won. Mengetahui itu, Ji Won merasa kesal dan ingin mengomeli Moo Jin. Namun dengan cepat, Moo Jin beralasan dan pergi menghindar.

Ji Won menceritakan tentang kasus yang di tangani nya kepada Hee Sung. Dia merasa aneh pada Ibu In Seo yang terus mengatakan bahwa keluarganya sempurna, kepadahal In Seo hampir saja mati dan In Seo bahkan menuduh Sang Jin, Ayahnya sendiri, melakukan percobaan pembunuhan. Dia yakin bahwa sejauh ini Ibu In Seo seharusnya sudah merasakan tanda- tandanya, tapi kenapa Ibu In Seo bersikap tidak tahu apa- apa. Dan dia bertanya- tanya, apakah Ibu In Seo ingin menghindari kebenaran dan menutupinya.
Hee Sung yang sedang membereskan pakaian mendengarkan perkataan Ji Won dengan serius.

Setelah selesai bersiap- siap, Ji Won berniat untuk berangkat bekerja lagi. Dan Hee Sung, menanyai, apakah Ji Won hanya pulang selarut ini dan berganti pakaian. Dan Ji Won membenarkan, lalu dia teringat akan orang tua Hee Sung, dan dengan rasa bersalah, dia menanyai, apakah orang tua Hee Sung marah padanya. Dengan perhatian, Hee Sung menjawab bahwa jangan sampai ini mempengaruhi Ji Won.



“Aku tidak mengerti kenapa mereka sangat membenciku. Aku bukan tipe orang yang banyak dibenci. Kepribadianku bagus dan aku selalu tersenyum. Aku bahkan melahirkan cucu mereka. Selain itu, aku juga punya pekerjaan tetap. Apa yang tidak kumiliki?” tanya Ji Won dengan sikap percaya diri.

“Kamu dan bualanmu lagi,” canda Hee Sung.

Dengan sikap mesra, Ji Won memeluk pinggang Hee Sung. “Menyebalkan, bukan? Karena aku, hubunganmu dengan orang tuamu memburuk. Jika tahu, aku tidak akan menggodamu dahulu.”

Ji Won membalas pelukan Ji Won dan bersikap genit padanya. “Hubungi Detektif Im, dan katakan padanya kamu menemukan kasus yang lebih mendesak,” bisiknnya, menggoda.


“Apa? Astaga, hentikan,” keluh Ji Won sambil tertawa malu- malu.
“Kenapa? Temani aku lebih lama,” pinta Hee Sung dengan manja.

1 Comments

  1. Bahasanya mudah dipahami kak. Mohon ijin menggunakan link sinopsis kak 🙏

    ReplyDelete
Previous Post Next Post