Sinopsis C- Drama : Go Ahead Episode 10

 



Original Network : Hunan Tv, iQiyi, Mango TV

Ziqiu memberitahukan Li Haichao dan Ling Heping bahwa dia ingin berkuliah diluar negri. Dan mendengar itu, mereka berdua tertegun. Mereka mengira Huaguang pasti datang mencari Ziqiu lagi. Dan Ziqiu membenarkan, tapi dia juga berpikir bahwa bisa berkuliah diluar negri adalah hal yang bagus.

Bukankah kamu selalu ingin bersama Ling Xiao, kuliah di Beijing? tanya Ling Heping, heran.

Tapi kuliah diluar negri bisa lebih baik, jawab Ziqiu dengan agak tidak enak. Dulu keluarga kita tidak mampu, jadi aku tidak memikirkan itu. Lagian ini adalah hal yang bagus. Pertama, Ayah tidak perlu membiayai kuliah ku lagi dan itu bisa mengurangi bebanmu, jelasnya.

Beban apa? balas Li Haichao. Keluarga kita juga tidak terlalu sulit.


Tapi Ayah terlalu susah. Dua hari lalu Ayah sakit. Juga pinggang dan bahu Ayah, setiap hari bua mie, pinggang tidak pernah tegak, dan selalu pakai salep, jelas Ziqiu, perhatian.

Semua orang dewasa begitu, semuanya susah…” balas Li Haichao.

Aku tidak mau Ayah lelah. Dan aku sungguh ingin pergi. Biarkan aku pergi, tegas Ziqiu. Setelah lulus, aku akan pulang, janjinya.


Mendengar itu, suasana menjadi agak canggung dan tidak nyaman. Ziqiu merasa sedih, tapi dia tidak berani untuk menampakkannya dan tidak bisa mengatakannya. Li Haichao menangis dan berjalan menjauh. Ling Heping berusaha untuk meringakan suasana, tapi tidak bisa.

Baiklah. Pergilah, gumam Li Haichao dengan pelan. Lalu dia masuk ke dalam kamarnya. Dan dengan sedih, Ziqiu menangis serta melanjutkan makannya lagi.


Makanlah, jangan menangis, nanti tersedak, kata Ling Heping, berusaha menghibur Ziqiu. Ayahmu hanya tidak merelakanmu, jelasnya. Setelah keluar negri, kamu tidak bisa makan ini lagi, gumamnya.

Mendengar itu, Ziqiu semakin menangis sedih.


Jian Jian ingin membelikan hadiah sepatu untuk kedua kakaknya, tapi uangnya masih kurang 200. Dan dia ingin meminjam uang Mingyue. Mendengar itu, Mingyue menyarankan bahwa dia yang akan membelikan hadiah ulang tahun untuk Ling Xiao nantinya, sementara Jian Jian belikan saja untuk He Ziqiu sebagai hadiah masuk kuliah.

Tidak bisa. Aku harus berikan sendiri. Jika kakak ku tahu, aku akan disiksa sampai mati, kata Jian Jian, tidak setuju.

Baiklah, kata Mingyue, mengalah. Dan Jian Jian merasa sangat senang.

Jian Jian masuk secara diam- diam ke dalam rumah sambil membawa hadiah yang sudah dibelinya. Dan dia menyembunyikan hadiah itu didalam kamarnya. Lalu dia pergi ke kamar Ziqiu dan memanggil Ziqiu, tapi Ziqiu sama sekali tidak menjawab dan pintu kamarnya juga dikunci.


Kenapa masih tidur? Bangun! teriak Jian Jian, mengeluh.


Disaat itu, Li Haichao keluar dari kamar. Dan dia pamit kepada Jian Jian, karena dia mau ke toko. Mendengar itu, Ziqiu pun keluar dari kamar.

Ayah, panggil Ziqiu.

Kalian nanti beli sayur, dirumah tidak ada sayur lagi, kata Li Haichao dengan lemas. Dia tampak jelas sedang menghindari Ziqiu.



Menyadari hal itu, Jian Jian menanyai, apakah mereka berdua sedang bertengkar. Dan Li Haichao menyuruh Jian Jian untuk meminta Ziqiu saja yang menjelaskan, atau tunggu Ling Xiao pulang saja, baru dia jelaskan sekalian. Mendengar itu, Ziqiu merasa gugup.

Apa kalian membahas ulang tahun Kakak? Nanti dia pulang, kita rayakan, kata Jian Jian, berpikiran polos.

Nanti lihat lagi, balas Li Haichao. Lalu diapun pergi.


Dengan gugup, Jian Jian kemudian pura- pura menanyai Ziqiu, apakah hadiah sepatu cukup bagus. Dan Ziqiu mengiyakan dengan lemas. Lalu dia masuk kembali ke dalam kamarnya.


Ling Xiao membaca satu persatu pesan selamat ulang tahun yang keluarganya kirimkan kepadanya. Dan dia tersenyum membaca semua itu.

Lalu ketika Paman Chen muncul, Ling Xiao berhenti membaca pesan diponselnya dan memakan makanan nya.

Ibumu sudah begini, kamu masih bisa tertawa? tanya Paman Chen, agak ketus. Dua hari lagi aku pulang, aku sudah diskusi dengan Paman Xiaojin, untuk minta perawat. Setelah dia bekerja, dia akan kemari. Lagipula kamu mulai kuliah di September. Dalam waktu ini, kamu temani Ibumu, jaga Ibumu. Karena harus ada yang menjaga dia, katanya, memutuskan.

Dua hari lagi aku harus pulang, balas Ling Xiao, menolak. Aku rindu adikku, jelasnya.


Mendengar alasan itu, Paman Chen memarahi Ling Xiao. Dan Ling Xiao tidak peduli serta mengabaikannya. Paman Chen kemudian mengungkit masa lalu, dia menjelaskan bahwa Chen Ting benar, kematian Yunyun (Adik Ling Xiao) dulu adalah karena Ling Xiao. Dan bahkan setelah Yunyun meninggal, Ling Xiao sama sekali tidak ada menangis. Jadi pantas saja Chen Ting bercerai dan meninggalkan Ling Xiao.


Mendengar itu, Ling Xiao tetap diam saja. Dan ketika Paman Chen pergi, dia berhenti menguyah makanan nya.

Malam hari. Ling Xiao memperhatikan formulir pendaftaran universitas nya cukup lama. Lalu Meiying tiba- tiba mematikan lampu ruangan. Dan Ling Xiao merasa heran, kenapa Meiying belum tidur juga.



Happy BirthdayHappy BirthdayHappy BirthdayHappy Birthday, Ling Xiao gege, nyanyi Meiying sambil membawakan kue ke hadapan Ling Xiao. Kakak, buat harapan, katanya.

Aku ulang tahun tidak pernah buat harapan, gumam Ling Xiao, pelan. Karena aku tidak pernah melihat adanya mukjizat. Jadi tidak percaya adanya dewa, jelasnya.


Ada. Tapi dewa tinggal disurga sangat jauh, harus buat harapan dihati dengan keras baru terdengar, balas Meiying.

Sungguh? tanya Ling Xiao, masih tidak percaya. Tapi dia tetap mencoba. Dia menutup matanya dan berdoa.

Setelah Ling Xiao selesai membuat harapan, dia meniup lilin dikuenya. Dan Meiying bertepuk tangan. Lalu dia menyalakan lampu ruangan lagi.


Maaf, kakak. Aku telah ke toko kue, hanya tersisa sepotong kecil ini, kata Meiying. Dan Ling Xiao sama sekali tidak masalah. Kita makanlah. Aku ambil garpu, ajaknya dengan bersemangat.


Melihat sikap baik Meiying kepadanya, Ling Xiao menjadi merasa dilema dan dia memandang kembali formulir pendaftaran universitas nya. Lalu dengan sedih dan berat hati, dia menutup laptopnya.


Ketika Ling Xiao pulang, Jian Jian langsung berlari ke arahnya dan melakukan pelukan beruang. Akhirnya kamu pulang. Aku sangat merindukanmu, katanya dengan manja.

Cepat turun, panas, pinta Ling Xiao. Tapi Jian Jian menolak. Dan karena itu, Ling Xiao pun berjalan sambil mengendong Jian Jian.


Melihat itu, Li Haichao menghela nafas pasrah. Xiao Jian ini. Tidak seperti perempuan, keluhnya.



Saat makan, Li Haichao menegur sikap Jian Jian yang seperti monyet. Dan Jian Jian tidak merasa bersalah, karena dia hanya memeluk saja, sedangkan diluar sana banyak orang yang berciuman dijalanan.

Aku tidak peduli orang lain. Kamu adalah putriku, aku harus peduli, jelas Li Haichao. Dan mendengar itu, Ling Xiao tertawa. Lihat, kakakmu menertawakanmu.


Bukan menertawakan ku, dia senang melihatku, balas Jian Jian, tidak setuju. Benarkan? tanyanya sambil tersenyum manis kepada Ling Xiao.

Makan pun ribut,” tegur Ling Xiao. Dan lalu dia serta Li Haichao menertawai sikap Jian Jian.

Hm. Lebih banyak dengar aku bicara. Setelah kamu kuliah di Beijing, ingin dengan ocehanku saat makan tidak akan bisa lagi, omel Jian Jian. Dan mendengar itu, Ling Xiao berhenti tersenyum. Tapi tidak ada yang menyadari itu.



Saat Ling Xiao sedang sibuk membereskan buku- buku lamanya. Jian Jian datang dengan membawakan semangka besar. Dan ingin menyuapinya. Tapi Ling Xiao menolak. Lalu tanpa sengaja, ketika Ling Xiao menepis tangan Jian Jian, semangka itu terjatuh dan hancur terkena tangan Ling Xiao.


Tisu, tisu, kata Jian Jian dengan panik. Lalu diapun pergi untuk mencarinya. Sementara Ling Xiao terdiam dan merenung.


Malam hari. Diatas atap, Ling Xiao dan Ziqiu minum- minum bersama sambil mengobrol. Mereka saling membuat pengakuan.


Li Haichao menyuruh Jian Jian untuk memanggil Ling Xiao dan Ziqiu makan malam. Dan Jian Jian mengerti. Lalu dia membuka pintu kulkas untuk mengambil minuman, dan disaat itu, dia tersadar bahwa bir Ayahnya menghilang.

Berani menculik bir Ayah,” gumam Jian Jian, memuji.

Ling Xiao mengaku duluan. Dia akan berkuliah ke Singapura. Karena jika Ibunya keluar dari rumah sakit, maka Ibunya membutuhkan orang untuk merawatnya. Juga Meiying tidak mau mengikuti pamannya. Lalu dia sudah diterima di Universitas Singapura, jurusan medis. Jadi minggu depan dia akan pergi.


“Ibumu sudah berikan kamu pada Jian Jian, kan? Dia tidak menginginkan mu lagi, jadi untuk apa menjaga nya? Xiao Chengzi adalah adikmu, apakah Li Jian Jian bukan adikmu? Apa kamu gila?” tanya Ziqiu, emosi.

“Ziqiu, setelah aku pergi, tolong jaga Li Jian Jian,” balas Ling Xiao dengan sikap tenang.


Ziqiu langsung menghabiskan bir didalam kaleng nya. Lalu dia memukul Ling Xiao dan mengaku. Dia sama brengsek nya dengan Ling Xiao. Karena dia akan segera pergi ke Inggris. Dua hari ini dia sudah siapkan semua berkasnya, dan dia akan mengikuti Ayah kandung nya. Mengetahui itu, Ling Xiao merasa terkejut.

Kemudian mereka berdua mulai bertengkar dan saling memukul satu sama lain.



Tepat disaat itu, Jian Jian datang. Dan melihat itu, dia langsung menghentikan mereka berdua. Dan menanyai, ada apa sampai mereka berdua berkelahi. Tapi tidak ada satupun dari mereka berdua yang bisa menjelaskan.

“Katakan!” tuntut Jian Jian.

Li Haichao menghubungi Ling Heping. Lalu setelah itu, dia memberitahu Ling Xiao bahwa mereka akan membahas masalah ini, ketika Ling Heping pulang besok.

“Tidak perlu dibahas, tidak boleh pergi,” tegas Jian Jian, memutuskan. “Kamu juga tidak boleh pergi,” katanya kepada Ziqiu.



“Waktu pendaftaran sudah lewat. Kamu… kamu mau mereka mengulang?” tanya Li Haichao, membujuk Jian Jian.

“Mengulang saja,” tegas Jian Jian.

Dengan paksa, Li Haichao menarik tangan Jian Jian untuk membawanya masuk ke dalam kamar saja. Tapi Jian Jian tidak mau dan menepis tangan Li Haichao. Dia tetap tidak mengizinkan siapapun untuk pergi. Baik Ling Xiao maupun Ziqiu. Mendengar itu, Li Haichao berusaha untuk membujuk Jian Jian agar mengerti. Sementara Ling Xiao dan Ziqiu hanya bisa diam saja.



“Aku bingung. Sebenarnya, ada apa dengan keluarga kita? Orang yang tidak bertanggung jawab itu orang luar, kan?” tanya Jian Jian dengan suara keras, karena kesal. Dan Ling Xiao serta Ziqiu sama sekali tidak bisa menjawab. “Dari kecil Ayah bilang padaku, asalkan kita saling menjaga, saling membantu, itulah keluarga. Tidak peduli pendapat orang, asalkan kita tahu, sikap orang yang baik, dengan siapa sudah cukup,” protes nya.

“Itu benar. Tapi masalah tidak sederhana itu. Kamu marah- marah begini, perasaan kakak- kakakmu apa bisa baik?” balas Li Haichao, berusaha menenangkan emosi Jian Jian.




“Mereka sedih, apa aku senang?” balas Jian Jian, terluka. “Semua hal yang mereka putuskan, tidak perlu beritahu aku, juga tidak perlu persetujuanku. Hal yang mereka janjikan juga tidak perlu ditepati.”

“Maaf,” kata Ziqiu, pelan.

“Aku bilang padamu, kamu juga tidak setuju,” kata Ling Xiao, pelan.


Jian Jian sangat sedih, dia sama sekali tidak bisa mengerti. Dan Ling Xiao menjawab bahwa itu adalah Ibunya juga. Sedangkan Ziqiu hanya diam saja. Dengan marah, Jian Jian menendang kursi dan masuk ke dalam kamar. Sementara Li Haichao sama sekali tidak tahu harus bagaimana.


Jian Jian merengkuk didalam selimut dan menangis. Lalu Ling Xiao datang dan ingin membuka selimutnya. Dengan marah, Jian Jian mengusirnya untuk keluar.

Kemudian Ziqiu datang. “Aku tahu kamu marah, tapi harus tetap makan. Jangan kelaparan,” bujuknya. Tapi Jian Jian tidak mau menjawab. Lalu tanpa mengatakan apapun lagi, Ziqiu pun pergi.


Karena Jian Jian hanya diam saja, Ling Xiao pun berniat untuk pergi saja. Disaat itu, Jian Jian berhenti meringkuk. “Awalnya kita memang tidak ada hubungan, benar kan?” tanyanya. “Kamu adalah tetangga, kakak Ziqiu dititipkan disini. Kita memang bukan keluarga, benarkan?”




“Tidak,” jawab Ling Xiao sambil mengatur perasaan nya. Lalu dia berbalik dan menatap Jian Jian. “Setelah kamu dewasa, kita bersama selamanya, bagaimana?” tanyanya.

“Aku tidak percaya. Jika kalian berdua pergi, kelak kalian bukan kakakku lagi,” balas Jian Jian. Lalu dia kembali meringkuk dan menangis.

Mendengar itu, Ling Xiao merasa sedih dan menangis pelan. Lalu dia keluar dari kamar Jian Jian.


Tengah malam. Ketika Li Haichao keluar dari kamar, dia melihat Ziqiu sedang duduk meringkuk di depan pintu kamar Jian Jian.



Li Haichao memberikan segelas susu kepada Ziqiu. Lalu dia menjelaskan bahwa saat ini Jian Jian masih tidak bisa menerima semuanya, jadi Ziqiu harus menunggu dua hari lagi. Dan ini bukanlah salah Ziqiu, jadi tidak apa- apa. Sebab mereka sudah dewasa, dan suatu saat memang akan berpisah. Seperti menikah, berkerluarga, dan memiliki kehidupan sendiri.

“Aku tidak akan menikah. Aku jaga kalian seumur hidup,” tegas Ziqiu dengan yakin. Dan Li Haichao tidak tertawa, karena itu tidak mungkin. “Aku akan jaga Li Jian Jian.”

“Dia akan menikah juga,” balas Li Haichao.


“Dia tidak boleh menikah. Bagaimana jika ditindas?” protes Ziqiu. Dan Li Haichao tertawa, serta tidak mau membahas ini lagi.

Ziqiu merasa sangat khawatir, jika dia pergi, siapa yang akan melindungi Jian Jian. Dan Li Haichao juga merasakan hal yang sama untuk Ziqiu, namun inilah dunia, semakin kita besar semakin banyak beban kita. Lalu suatu hari kita akan sadar, kenapa semua beban dunia ditaruh di pundakku. Seperti orang tua, Istri, Anak. Untuk saudara, mereka memilik dunia mereka sendiri.



“Tapi dalam duniaku, sudah cukup ada kalian,” tegas Ziqiu.

“Ziqiu, jangan pikir begitu banyak. Kehidupan ini seperti lari jarak jauh, kamu harus simpan tenagamu. Simpan energimu agar kamu bisa lari lebih jauh,” balas Li Haichao, menasehati.

Dengan sedih, Ziqiu mulai menangis. Dia menanyai, apakah dirinya pergi ke Inggris, Li Haichao marah. Dan Li Haichao menjawab tidak, karena dia berharap Ziqiu memiliki masa depan yang baik. Dan dia berharap, Ziqiu bisa mempelajari apa yang Ziqiu inginkan dan melakukan apa yang Ziqiu inginkan. Lagipula Ziqiu hanya akan pergi selama beberapa tahun saja, setelah Ziqiu lulus, Ziqiu akan segera kembali. Dan Ziqiu menggangguk serta semakin menangis.



Dengan perhatian, Li Haichao memeluk Ziqiu. Dan Ziqiu juga memeluknya dengan erat. “Terima kasih.”

Keesokan harinya. Jian Jian tiba- tiba pergi ke rumah Neneknya. Dan Li Haichao terkejut, karena dia tidak tahu itu.

Saat Ling Heping pulang dan melihat wajah Ling Xiao serta Ziqiu yang memar, dia merasa heran ada apa. Ditambah Jian Jian juga tiba- tiba saja pergi ke rumah Neneknya, kepadahal Ling Xiao baru pulang semalam. Dan diapun bertanya ada apa, tapi Ling Xiao diam.

“Kamu interogasi penjahat? Cepat cuci tangan,” kata Li Haichao dengan tegas. Dan dengan patuh, Ling Heping pun masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai sarapan dan mengetahui apa yang terjadi. Ling Heping langsung menghubungi Paman Chen dan marah- marah. Setelah itu, Li Haichao menenangkan nya dan memberikan nya segelas air.

“Ling Xiao, formulir mu itu masih bisa diubah?” tanya Ling Heping.

“Sekolah medis di Singapura sudah menerimaku,” jawab Ling Xiao, pelan.



Mengetahui itu, Ling Heping kembali emosi, sebab terjadi masalah sebesar ini, tapi Ling Xiao tidak memberitahunya. Lalu dia ingin tahu, kenapa Ling Xiao ingin bersekolah medis, apakah itu karena kecelakaan Chen Ting. Dan Ling Xiao menjawab tidak.

“Kenapa sampai pukul meja?” kata Li Haichao, menenangkan Ling Heping.

“Ini karena kamu manjakan dia. Masalah sebesar ini tidak didiskusikan dengan ku,” teriak Ling Heping, marah.


Saat Ling Xiao membereskan lemari pakaiannya. Dia menemukan kotak sepatu, hadiah dari Jian Jian.


Saat Ziqiu membereskan lemari pakaiannya. Dia juga menemukan kotak sepatu yang sama, hadiah dari Jian Jian.

Untuk Ling Xiao : Kejutan. Kak, selamat ulang tahun. Selamat kamu sudah 18 tahun. Setelah badai, pasti ada pelangi. Sangat mencintaimu.

Untuk Ziqiu : Kak Ziqiu, jangan terlalu terharu! Heheh… terima cinta tulusku ini! Tahun berikutnya sudah tidak bersama lagi. Kamu tidak bisa membantuku mencuci kaos kaki lagi. Aku akan merindukanmu. Sayang kamu. Cium. Cium.


Membaca pesan tersebut, Ling Xiao dan Ziqiu sama- sama merasa sedih. Ziqiu memeluk hadiah dari Jian Jian dan menangis. Sementara Ling Xiao memakai sepatu dari Jian Jian dan berjalan berputar- putar didalam kamar.

“Aku bingung. Sebenarnya, ada apa dengan keluarga kita? Orang yang tidak bertanggung jawab itu orang luar, kan?”

“Dari kecil Ayah bilang padaku, asalkan kita saling menjaga, saling membantu, itulah keluarga. Tidak peduli pendapat orang, asalkan kita tahu, sikap orang yang baik, dengan siapa sudah cukup,”

“Mereka sedih, apa aku senang?”

“Semua hal yang mereka putuskan, tidak perlu beritahu aku, juga tidak perlu persetujuanku. Hal yang mereka janjikan juga tidak perlu ditepati.”

1 Comments

  1. Min ini masih lanjut nulisnya atau gak sih,udah beberapa kali liat link ini tapi masih gak ada lanjutannya

    ReplyDelete
Previous Post Next Post