Sinopsis C- Drama : Go Ahead Episode 12

 

Original Network : Hunan Tv, iQiyi, Mango TV

Mei 2019

Pagi hari. Jian Jian memeriksa gigi nya yang terasa sakit didepan cermin.


Kemudian Jian Jian membuat sarapan roti panggang sendiri. Namun sebelum roti panggang nya jadi, dia memakan timun terlebih dahulu. Tapi karena gigi nya sedang sakit, maka diapun agak kesulitan.


Tepat disaat itu, Mingyue menelpon. Dengan cerewet, dia memberitahu Jian Jian bahwa dia baru saja pulang dinas dan sekarang dia mau mengambil mobil barunya, kemudian dia akan pergi menjemput seseorang di bandara. Lalu dia menjelaskan, bila gigi Jian Jian masih terasa sakit, maka besok dia akan mengantarkan Jian Jian ke dokter gigi. Tapi Jian Jian langsung menolak.


Jika kamu memakai pemanggang, ingat awasi. Jangan lupa, pelontar otomatis nya rusak, kata Mingyue, menasehati dengan khawatir.

Oh, jawab Jian Jian dengan panik. Lalu dia berlari ke dapur.


Setelah selesai bersiap- siap, Jian Jian mengambil permennya dan pergi.


Didalam bus. Jian Jian bertemu dengan pencopet. Dan ketika dia melihat si pencopet ingin beraksi, dia dengan sengaja menyenggol si pencopet. Lalu dia meminta maaf.


Setelah sampai ditempat tujuan, Jian Jian langsung keluar dari bus sambil tersenyum kecil. Ternyata barusan dia ada menempel kata- kata dibelakang punggung si pencopet. Aku adalah pencuri”.

Seseorang mengikuti Jian Jian secara diam- diam.

Jian Jian berhasil menang dalam kompetisi memahat. Jadi Li Haichao pun memberikan diskon 85% di toko mie nya.

Dengan cerewet, Bibi Qian menanyai Li Haichao, sudah berapa kali Jian Jian menang lomba dan berapa hadiahnya kali ini. Dan saat mengetahui kalau hadiahnya cukup besar, dia memuji Jian Jian. Tapi lalu dia mengatakan kalau pekerjaan seperti ini tidak stabil, jadi lebih baik menjadi pegawai sipil. Dan mendengar itu, Li Haichao hanya tersenyum saja untuk menanggapi nya.


Bibi Qian kemudian membahas tentang Ling Xiao dan Ziqiu yang belum pulang- pulang juga dari luar negri. Lalu dia menyarankan Li Haichao untuk menikah kembali. Dan mendengar itu, Li Haichao dengan sopan menyuruh Bibi Qian untuk duduk dulu. Lalu dia berniat untuk masuk ke dalam dapur.

“Paman Li, ponselmu berbunyi,” panggil Karyawan Li yang berjaga di kasir sambil memberikan ponsel Li Haichao.

Ternyata yang menelpon adalah Ling Heping. Dia menelpon untuk mengabari bahwa hari ini Ling Xiao akan pulang. Dan mengetahui itu, Li Haichao sangat senang. Karena ini sudah 9 tahun, Ling Xiao belum pernah pulang.



Mingyue datang menjemput Ling Xiao dibandara. Dengan bangga, dia menceritakan tentang mobil barunya. Tapi Ling Xiao hampir saja salah naik ke  mobil milik orang lain. Sehingga dia menjadi agak canggung dan malu.


Dalam perjalanan. Ling Xiao memuji mobil baru Mingyue. Dan Mingyue merasa senang. Lalu ponsel Ling Xiao bergetar, tapi Ling Xiao tidak mau mengangkatnya, jadi diapun bertanya. Dan Ling Xiao menjawab bahwa itu hanya penganggu. Lalu dia memandang pemandang ke luar.

“Selama ini banyak perubahan,” komentar Ling Xiao.

“Benar. Jembatan dan jalan direnovasi, dan rumah juga. Kota juga meluas. Kamu pergi begitu lama, mungkin jalan lupa juga sudah lupa,” balas Mingyue. Dan Ling Xiao hanya diam saja. “Tapi tidak masalah, kamu punya waktu untuk mengenali nya. Akhir pekan aku bawa kamu jalan- jalan,” katanya, menyemangati dengan maksud tertentu.

“Tidak perlu,” tolak Ling Xiao. “Kamu membantuku menyewa rumah, itu sudah sangat membantu. Terima kasih banyak. Nanti aku traktir kamu.”

“Kita teman lama, tidak perlu sungkan. Tapi, makan juga boleh,”balas Mingyue dengan sikap malu- malu yang tidak terlalu kentara.

Mingyue kemudian menceritakan bahwa hasil pahat Jian Jian hari ini akan di pamerkan, dan dia menanyai, apakah Ling Xiao mau ke sana. Dan Ling Xiao menolak, sebab dia sudah ada rencana lain, jadi dia mau pulang dulu. Dan Mingyue pun mengerti.

Lalu sebelum Mingyue sempat berbicara lagi, Ling Xiao mengatakan bahwa dia ingin tidur. Jadi Mingyue pun diam dan berhenti bicara. Namun dia masih tersenyum senang.


Ditempat pameran. Ketika Jian Jian ingin melihat karya milik temannya yang berhasil menang juga, dia agak kesulitan. Karena disana ada banyak orang, jadi diapun berjinjit dibelakang orang lain untuk melihat. Disaat itu, tanpa sengaja dia terdorong ke belakang.

Ling Xiao memakan mie buatan Li Haichao dengan sangat lahap. Dan Li Haichao merasa sangat senang melihat itu.

“Kamu sudah dewasa,” puji Li Haichao dengan perasaan sayang. “Dalam sekejap, kamu sudah jadi orang dewasa. Kenapa hari- hari berlalu begitu cepat? Beberapa tahun ini, kamu dan Ziqiu tidak disini, aku sering berdiri di meja kasir, melihat ke pintu. Aku selalu merasa, kalian bertiga akan masuk seperti saat masih kecil,” katanya, mengenang penuh kerinduan dan perasaan sedih.

“Kali ini aku pulang, aku tidak akan pergi lagi,” kata Ling Xiao, memberitahu. “Kalian semua disini, aku tidak mungkin seumur hidup diluar. Dan sebelum pulang, aku sudah dapat pekerjaan,” jelasnya.


Mengetahui itu, Li Haichao merasa sangat senang dan bersemangat. Dia langsung menelpon Jian Jian. Tapi sebelum dia sempat berbicara, dia dikejutkan oleh Jian Jian. Karena ternyata sekarang Jian Jian sedang berada di kantor polisi.


Dikantor polisi. Ziqiu menutupi wajahnya dan berusaha menghindari tatapan Jian Jian. Dia dituduh telah melakukan pelecahan kepada Jian Jian, karena ketika Jian Jian hampir saja terjatuh, dia tidak sengaja menyentuh dada Jian Jian.

“Ini dia. Dia bahkan memerasnya dua kali,” kata Jian Jian kepada polisi dengan emosi.

“Aku tidak meremas dadamu. Aku kira itu perut,” balas Ziqiu, membela diri.


“Jika perut boleh kamu peras?” bentak Jian Jian, marah.

“Aku dulu…” Sebelum Ziqiu sempat menjelaskan, Jian Jian terus mengomel dan mengeluh kepada polisi. Dan Ziqiu merasa stress. “Aku sungguh tidak meremas nya. Saat dia kecil, perutnya berlemak, aku sering …”

“Kenapa aku kenal suaramu?” tanya Jian Jian, curiga.

“Kamu salah dengar,” balas Ziqiu, sambil tetap menyembunyikan wajahnya.


Dengan kuat, Jian Jian menarik Ziqiu untuk melihat wajahnya. Dan ketika dia melihat wajahnya, dia merasa terkejut.


Dengan canggung. Ziqiu dan Jian Jian berdiri didepan kantor polisi. Lalu selagi mereka mengobrol, Ling Xiao datang dan berlari melewati mereka.




Ketika menyadari ada yang aneh, Ling Xiao langsung berhenti berlari dan kembali ke depan pintu masuk. “Li Jian Jian,” panggilnya.

Melihat nya, Jian Jian serta Ziqiu sama- sama merasa terkejut. Karena ini sangat kebetulan sekali.


Ditaman. Suasana terasa sangat canggung sekali, Jian Jian duduk ditengah, dan Ling Xiao duduk disebelah kanannya, serta Ziqiu duduk disebelah kirinya. Dan mereka bertiga sama- sama saling diam.

Saat Jian Jian berniat untuk berbicara, Ling Xiao dan Ziqiu tiba- tiba juga mulai berbicara secara bersamaan. Dan itu terjadi sebanyak dua kali, jadi Jian Jian pun langsung terdiam dan mundur ke belakang dengan canggung.

“Aku tidak beritahu demi memberi kejutan,” kata Ziqiu, menjelaskan duluan.

“Kebetulan. Aku juga,” balas Ling Xiao.


“Hehe… tidak masalah. Ini semua kejutan,” komentar Jian Jian.

Kemudian suasana kembali menjadi canggung, karena tidak ada yang satupun yang berbicara lagi. Kwak… kwak… kwak… *Suara Gagak*


Karena tidak tahan lagi, Jian Jian pun pamit pergi. Dia beralasan bahwa dia sedang ada urusan. Dia ingin membeli pemanggang roti yang baru. Jadi karena itu, diapun pergi duluan.

Setelah Jian Jian pergi, Ziqiu dan Ling Xiao mulai mengobrol dengan sikap canggung dan ketus terhadap satu sama lain.


“Ibumu minta kamu kembali?” tanya Ziqiu.

“Ayahmu minta kamu kembali?” balas Ling Xiao. Pukulan +1 untuk Ziqiu.

“Sudah begitu lama, kamu masih tidak bisa berbincang. Aduh, dasar,” keluh Ziqiu. “Sia- sia aku rindu padamu.”

“Benarkah? Kenapa tidak kelihatan? Biasa kamu sibuk sampai tidak kirim pesan,” balas Ling Xiao, tidak percaya.


“Kamu juga tidak kirim pesan,” balas Ziqiu, tidak mau kalah.

“Aku tidak merindukanmu,” tegas Ling Xiao. Pukulan +2 untuk Ziqiu.

“Aku jijik melihat laut bersamamu,” keluh Ziqiu.

“Aku juga,” balas Ling Xiao.


Ling Xiao kemudian menanyai, apakah Ziqiu ingin pulang bersamanya. Dan Ziqiu menolak, serta dia mengingatkan Ling Xiao untuk jangan memberitahu Li Haichao dulu, karena dia mau memberikan kejutan. Dan Ling Xiao mengerti serta pamit. Lalu dia pergi duluan.

Sementara Ziqiu duduk ditaman dan menikmati udara indah disana.


Jian Jian berjalan pulang dengan perasaan bingung, terkejut, sedih, dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Intinya dia merasa ada ketidak nyamanan didalam hatinya.

 Makan malam. Jian Jian tidak pulang dengan alasan sedang ada pekeriaan. Jadi Ling Xiao pun makan malam bersama dengan Ling Heping dan Li Haichao saja. Dan mereka makan dengan gembira.

“Baguslah kamu sudah pulang,” komentar Li Haichao. Lalu dia menghela nafas sedih, “Sekarang tersisa Ziqiu.”

“Tenang saja, Ayah Li. Mungkin suatu hari, dia memberimu kejutan,” kata Ling Xiao, menenangkan Li Haichao.


Diluar restoran. Ziqiu memperhatikan semua kebahagiaan itu dengan perasaan rindu dan sedikit iri kepada Ling Xiao. Lalu ketika karyawan Li datang, dia pun langsung pergi darisana.


Ketika Zhuang Bei sedang berjongkok untuk melepaskan tali sepatunya yang lepas, penanya tidak sengaja terjatuh. Tepat disaat itu, Tang Can lewat dan tidak sengaja terinjak pena tersebut. Lalu diapun terjatuh. Dan Zhuang Bei langsung menangkapnya.


“Sepertinya aku pernah melihat mu,” kata Zhuang Bei sambil menatap wajah Tang Can dengan serius.

“Aku juga,” jawab Tang Can sambil tersenyum malu- malu.


Tepat disaat itu, dua anak kecil lewat. “Jangan lihat,” kata si pria kecil, menutup mata teman wanita nya.


Mendengar itu, Zhuang Bei langsung menarik Tang Can berdiri dan meminta maaf. Lalu diapun langsung berlari masuk ke dalam lift.

Melihat itu, Tang Can merasa canggung. Lalu ketika kedua anak kecil tersebut telah pergi, dia tersenyum dan memungut pena Zhuang Bei yang ketinggalan di lantai.

Saat Mingyue sedang membersihkan rumah, tiba- tiba Ling Xiao menelpon. Dan dia merasa sangat senang sekali. Setelah itu, dia berbaring dengan bahagia disofa.


Tepat disaat itu, Tang Can pulang. “Oh, Ibu,” panggilnya. “Tadi dipintu lift, aku bertemu seorang pria.”

“Hari ini aku juga bertemu satu,” balas Mingyue.

“Ini berbeda,” balas Tang Can dengan bersemangat. “Tuhan bersaksi. Moment ku itu sudah terjadi.”

“Bisakah kamu bicara dengan baik?” balas Mingyue, tidak mengerti.

Dengan senang, Mingyue menceritakan pertemuannya dengan Zhuang Bei, yang terjadi seperti didalam drama. Lalu dia mencium pena milik Zhuang Bei. Namun sayangnya, dia tidak tahu siapa nama Zhuang Bei, karena dia tidak sempat bertanya. Tapi dia yakin kalau Zhuang Bei pasti tinggal di apatermen yang sama seperti mereka.


“Oh,” respon Mingyue dengan datar. “Bajumu dan Li Jian Jian selama seminggu sudah dicuci, jemurlah,” perintahnya.

“Responmu hanya ini?” keluh Tang Can, kecewa.



Tepat disaat itu, Jian Jian pulang. Dia merasa sangat tidak bersemangat dan ingin memakan permen, tapi Mingyue langsung menghentikannya. Sedangkan Tang Can membela Jian Jian. Dan dengan nakal, Jian Jian pun memakan permennya dengan berani.

“Tang Can!” bentak Mingyue. “Kamu manjakan dia. Giginya sudah hitam,” teriaknya, memarahi. “Besok aku bawa kamu ke Dokter Gigi, cabut semua gigimu,” tegasnya. Dan Jian Jian langsung menjulurkan lidahnya.

“Lihat. Sedikit pun tidak sakit. Jika sakit, aku makan obat penghilang sakit,” jelas Jian Jian dengan bangga.

Melihat tingkah mereka berdua, Tang Can tersenyum geli.

Jian Jian kemudian menceritakan bahwa barusan didepan pintu, dia bertemu dengan senior mereka dulu, Zhuang Bei. Mendengar itu, dengan heran, Tang Can bertanya, kenapa dia tidak pernah dengar nama itu.

Jian Jian kemudian menceritakan bahwa barusan didepan pintu, dia bertemu dengan senior mereka dulu, Zhuang Bei. Mendengar itu, dengan heran, Tang Can bertanya, kenapa dia tidak pernah dengar nama itu.

“Saat itu kamu peduli pada orang lain?” sindir Jian Jian.


“Oh, Ibu,” kata Tang Can dengan sikap berlebihan sambil memeluk Mingyue. “Aku lapar. Malam ini kita makan apa?”

“Tanah,” jawab Mingyue, dingin. Lalu dia menunjuk Jian Jian dan Tang Can dengan tegas. “Jemur baju,” perintahnya. Lalu dia pergi.

“Jemur baju,” perintah Jian Jian. Lalu dengan cepat, diapergi juga.

“Oh, Tuhan,” keluh Tang Can sambil berbaring lemas.

Didalam kamar. Jian Jian mengingat- ingat kembali kenangannya bersama dengan Ling Xiao dan Ziqiu, ketika mereka bertiga masih kecil dulu.

Flash back

Li Haichao membawa Jian Jian, Ling Xiao, dan Ziqiu, liburan ke pertanian di kampung. Disana dia menceritakan sebuah cerita kepada mereka bertiga. Didalam satu lahan, ada tanaman kacang, jagung, dan labu. Mereka bertiga adalah tiga teman baik.



Akar Kacang membuat nitrogen. Dan Nitrogen itu berguna untuk membuat Jagung tumbuh tinggi. Jika Jagung bisa tumbuh tinggi, maka Kacang juga bisa ikut tumbuh dengan melingkar disekitarnya. Sedangkan Labu, bisa berteman dengan mereka berdua, karena Labu memiliki daun yang sangat besar. Dia melindungi mereka berdua dari angin dan hujan. Karena itulah mereka menjadi teman baik.

Setelah selesai bercerita, Li Haichao bertanya, “Menurut kalian, mereka bertiga seperti apa?”

“Kami bertiga,” jawab Ling Xiao. Dan Li Haichao tertawa membenarkan.

“Ayah, kenapa ada telur ditanah?” tanya Jian Jian, merasa bingung dan ragu.

“Bodoh. Inipun tidak tahu. Telurnya dari ayam,” kata Ziqiu, menjawab.

“Dua orang bodoh. Maksud Ayah Li adalah sebuah jenis zat,” balas Ling Xiao, menjawab.

“Benar,” kata Li Haichao, setuju. “Bukan telur ayam,” ejeknya sambil tertawa bercanda.

Flash back end

Mengingat itu, Jian Jian merasa sulit untuk tidur.


Disamping sungai. Ziqiu berniat untuk mengirimkan pesan kepada Jian Jian, tapi apapun yang dia ketik, terasa agak canggung. Jadi diapun terus menghapus dan mengubah katanya berkali- kali.

Setelah itu, dia meminum sekaleng bir dan diam merenung.

Li Haichao menyarankan Ling Xiao untuk sementara tidur dikamar Ziqiu saja, karena kamar itu sering dia bersihkan. Lalu besok, jika senggang, Ling Xiao baru membersihkan kamar sendiri saja. Dan Ling Xiao mengerti. Lalu dia membantu Li Haichao untuk menyimpan pakaian yang sudah dilipat, karena dia tahu bahu Li Haichao sering sakit.


“Ayah Li, kamarku itu tidak perlu dibersihkan. Aku minta temanku sewa satu rumah,” kata Ling Xiao, memberitahu. “Didepan rumah Jian Jian,” jelasnya dengan agak gugup.

“Oh, baik. Aku sudah tenang,” kata Li Haichao, mengerti. “Hari ini kamu sudah beritahu dia?” tanyannya, kemudian.

“Belum sempat,” jawab Ling Xiao.


Ling Xiao menyadari kalau Jian Jian sudah banyak berubah dan dewasa. Jadi pantas saja bila Jian Jian merasa canggung. Dan Li Haichao mengerti, karena dirinya sendiri sudah tua juga. Lalu dia menanyai, apakah Ling Xiao sudah punya pacar. Dan Ling Xiao menjawab belum, karena tidak sempat.

Melihat reaksi Ling Xiao yang tampak tidak mau membahas tentang masalah hubungan, Li Haichao pun mengalihkan pembicaraan. Lalu dia pamit untuk tidur duluan.

“Ayah Li,” panggil Ling Xiao. “Aku boleh lihat kamar Jian Jian?” tanyanya, meminta izin.

“Boleh. Lihat saja. Aku tidur dulu,” balas Li Haichao.


Ling Xiao masuk ke dalam kamar Jian Jian dan melihat- lihat isi kamarnya sambil tersenyum senang.



Pagi hari. Li Haichao memasakkan kepiting besar dan sup Wonton kesukaan Ling Xiao. Melihat itu, Ling Heping mengomentari betapa perhatiannya Li Haichao kepada Ling Xiao. Kemudian dia menyarankan Ling Xiao untuk tinggal sementara dikamar Ziqiu, karena kamarnya belum sempat dia bersihkan.

“Ayah, tidak perlu. Aku sudah mau pindah,” kata Ling Xiao, dengan agak tidak enak. Dan Ling Heping merasa terkejut.

“Dia sudah bilang, dia akan pindah ke seberang rumah Xiao Jian,” kata Li Haichao, membantu menjelaskan. Dan Ling Heping mengerti serta setuju.

Tanpa sarapan, Li Haichao pamit pergi duluan. Dan Ling Xiao serta Ling Heping pun langsung bersikap canggung kepada satu sama lain sambil mengobrol dengan sikap biasa.

“Oh, kapan kamu bekerja?” tanya Ling Heping. Dan Ling Xiao menjawab hari ini. “Kenapa kamu tidak istirahat dulu dua hari?”

“Mereka ingin tanggal 13. Sudah tunda seminggu,” jawab Ling Xiao. Dan Ling Heping mengiyakan, lalu dia diam. “Tidak masalah, aku sudah pulang, kelak punya banyak waktu,” jelasnya. Dan Ling Heping merasa senang.


Di dokter gigi. Jian Jian duduk menunggu gilirannya dengan gugup. Lalu ketika sudah hampir tiba gilirannya, dia beralasan mau ke kamar mandi. Dan Mingyue yang menemaninya langsung menahannya.

Mingyue menarik Jian Jian dengan paksa. Dia membawa Jian Jian masuk ke dalam ruangan. Lalu dia sengaja menutup pintu dari luar. Dan Jian Jian merasa sangat kesal. Tapi sayangnya, dia tidak bisa melakukan apa- apa.



“Berbaringlah,” panggil Dokter.

Mendengar suara itu, Jian Jian berbalik dan menatap Dokter dengan terkejut.

1 Comments

Previous Post Next Post