Saturday, February 18, 2017

Sinopsis Drama Special : Romance Full Of Life Episode 01

0 comments

Content and Images by MBC
“Semua karakter, produk, dan organisasi hanya fiktif belaka”




Adegan dimulai dengan memperlihatkan kesibukan daerah Noryangjin. Dimulai dari stasiun kereta, pedagang jajanan kaki lima hingga tempat les. Itu semua adalah kesibukan yang di alami para muda-mudi yang ingin mengikutu test (untuk menjadi pegawai pemerintah / PNS).



“Noryangjin penuh dengan para pemuda yang mempersiapkan masa depan. Itu tempat cahaya tidak pernah padam. Pemuda yang semangat dan ambisius menyadari keinginan mereka disini. Tempat ini adalah harapan negara, suara sang narator.


Kita diperlihatkan kesibukan para muda-mudi yang sibuk mengikuti les dengan serius. “Itu semua omong kosong,” lanjut narator. Kita kemudian melihat keadaan yang sebenarnya, para muda-mudi tersebut mengikuti les dengan malas bahkan ada yang sampai tertidur.

“Tempat ini merupakan neraka tanpa jalan keluar. Disini kami bersaing sengit untuk menentukan siapa yang menang dan hanya beberapa orang beruntung yang bisa lolos. Impian dan masa muda pekerja kecil menyedihkan diambil sebagai jaminan. Itu sungguh mimpi buruk.”




Para muda-mudi yang mengikuti test melihat hasil yang di tempel papan pengumuman. Ada yang senang karena berhasil dan ada pula yang gagal. Kemudian, ada juga barisan muda-mudi yang mengantri untuk mendapatkan sebuah buku (sepertinya buku rangkuman test yang sudah pernah dilakukan) dan mereka bahkan ada yang sampai memotong antrian untuk mendapatkan buku tersebut dan buku ternyata sudah habis. Ada juga yang berebut nasi kotak di minimarket yang tinggal satu.


Di mini market tersebut, bekerja seorang pekerja sambilan yang menjadi kasir, So In Sung. Seorang wanita berpakaian kemeja putih, membayar belanjaannya yaitu pembalut. In Sung melihat pembalut tersebut dan kemudian merekomendasikan wanita tersebut pembalut lain yang merupakan produk baru tapi dengan kualitas yang bagus. Dia bahkan menjelaskan bahwa pembalut tersebut memiliki sayap yang lebih besar dengan daya perekat yang kuat. In Sung menjelaskan dengan suara keras sampai semua orang yang sedang belanja di minimarket mendengarnya termasuk dua pemuda yang sedang berebut nasi kotak. Tentu saja, wanita pembeli menjadi malu dan meminta In Sung untuk segera membungkus belanjaannya dan dia akan membayar.




In Sung pun langsung memproses pembayaran belanjaan wanita tersebut. Bahkan dia berkata kalau produk seperti ini (pembalut) harus di bungkus dengan plastik hitam (agar tidak ketahuan oleh orang lain) dan menyerahkannya kepada wanita pembeli. In Sung bahkan mengedipkan sebelah matanya. Wanita pembeli jadi merasa jengkel.

Disudut rak, seorang pria berpakaian baju garis-garis memperhatikan kinerja In Sung. Dia adalah pemilik minimarket. Boss-nya merasa kesal dengan kerja In Sung ketika melayani pembeli wanita tadi dan bertanya kalau kamu jadi dia, apa kamu akan kembali ke sini untuk belanja?



Boss kemudian memberi tanda dengan tangannya menyuruh In Sung keluar dari rak kasir. In Sung menurut dan menghampiri Boss. Boss kemudian merangkul leher In Sung dengan kasar dan berbicara dengan suara pelan. Dia kemudian mengomentari lantai minimarket yang kotor dan menusuk-nusuk dada In Sung menegurnya untuk mengepel lantai hingga mengilap. In Sung hendak menjelaskan tetapi Boss memotong perkataannya dan memarahi In Sung karena memajang produk roti madu yang populer sekaligus semua bukannya beberapa (menurutku, Boss ingin roti madu di pajang beberapa, biar para pembeli segera membeli karena mengira bahwa produk langka dan sudah mau habis, merupakan strategi marketing).

Ketika ada pelanggan yang keluar dari minimarket, Boss segera melepas In Sung dan menyapa pembeli dengan ramah dan berkata agar pembeli datang lagi. Ketika pembeli sudah pergi, Boss segera berbalik kembali dan menjewer telinga In Sung. Dia melanjutkan omelannya mengenai roti madu yang di pajang.



In Sung tidak tahan lagi dan melepan jeweran Boss. Dia marah dan menghajar Boss hingga terjatuh. In Sung kemudian memuntahkan kemarahannya pada Boss. Hidung Boss berdarah karena di pukul oleh In Sung.

Tetapi… semua itu hanya khayalan In Sung.
In Sung tetap tidak berani melawan Boss. Boss kemudian memelintir leher In Sung.
“Jika kamu sampai lulus ujian, aku akan memakan topiku. Kamu tidak punya pacar, bukan? Kamu bocah bodoh menyedihkan. Kamu terlalu menyedihkan untuk punya pacar,” ujar Boss sambil terus memiting In Sung.


Untungnya ada seseorang yang masuk datang sehingga Boss berbalik untuk menyapanya dan melepaskan pitingannya pada In Sung. Boss menyambut dengan senyuman. Namun, ketika yang masuk adalah pekerja part time-nya yang lain, senyuman di wajahnya langsung menghilang. Boss mengomeli pekerjanya yang berani datang terlambat 5menit dan dia akan memotong gajinya. Pekerja tersebut meminta maaf.

In Sung dan pekerja sudah berada di gudang penyimpanan untuk bertukar baju. In Sung mengambil jaketnya dan pekerja mengenakan jaket kerjanya. Mereka bertukar shift. Pekerja bertanya kalau In Sung akan mendapatkan gaji besok, kan? Dia meminta In Sung untuk berhati-hati. In Sung bertanya apa maksudnya.

“Mantan rekan kerjaku tidak mendapat bayaran apapun. Bulan lalu, gajiku dipotong setengah karena kesalahan kecil,” jelas sang pekerja. Tapi, In Sung yakin dia akan membayar. Boss datang dan menyuruh In Sung untuk mencuci tempat air sebelum pergi dan dia juga menegur pekerja untuk segera berganti seragam.

In Sung sudah pulang dan tengah duduk di ayunan di sebuah taman. Dia mengomel sendiri mengenai perkataan Boss-nya tadi yang bilang dia akan memakan topinya kalau In Sung sampai lulus test. In Sung berkata kalau dia pasti akan lulus dan akan menghukum Boss-nya yang jahat atas nama keadilan. Dia geram sekali.




In Sung kemudian membuka website kepolisian. Dan sebelum melihat isi website, dia berdoa dan memohon agar nomor 3846322 lulus dalam test. In Sung kemudian melihat isi website “Hasil Ujian Pegawai Negeri Polisi” dan meng-scroll dengan perlahan. Dan ternyata dia gagal lagi. Nomornya tidak tertera. In Sung menghela nafas kecewa.




Di sebuah bangunan bernama “Pass Goshiwon” (ini bangunan yang berbentuk seperti apartemen dengan ruangan yang lebih kecil. Mungkin dapat di sebut kamar asrama, juga. Ini disewakan untuk mereka yang ingin mengikuti test PNS dan butuh tempat tinggal murah. Pass sendiri artinya lulus - hab gyeong), Jo Ji Sub berjalan di koridor sambil menelpon In Sung tapi tidak di angkat. Dia tiba di ruang 301, yang merupakan kamar In Sung dan mengetuk pintunya. Dia memanggil In Sung sampai beberapa kali dan tidak ada jawaban bahkan pintu kamarnya juga terkunci. Ji Sub langsung panik dan berlari ke ruang penjaga dan meminta kunci kamar In Sung dari sang penjaga. Penjaga bingung tetapi tetap memberikan kuncinya.

“In Sung terlihat bodoh tapi dia berhati lembut. Aku selalu mengkawatirkannya,” omeli Ji Sub sambil mencari kunci kamar In Sung dari segerombol kunci yang diberikan penjaga. Pintu terbuka.

Ji Sub masuk dan melihat In Sung yang sedang menelungkupkan kepala di meja. Ji Sub langsung memarahi In Sung karena dia pikir In Sung berpikiran aneh (bunuh diri). Ji Sub kemudian menurunkan suaranya dan memberitahu kalau bukan hanya In Sung yang gagal tetapi dia sebagai teman In Sung, juga ikut gagal. Ji Sub bahkan dengan santai menasehati kalau mereka sudah gagal berulang kali dan sudah saatnya In SUng terbiasa dan dia bisa menangis sepuasnya selesai ujian.

In Sung mengangkat kepalanya dan menangis terisak-isak. Dia menangis karena dia baru saja di campakkan.

Sembilan jam sebelumnya ..




In Sung bertemu dengan pacarnya, Wang So Ra, di taman. In Sung membawakan dua buah kimbab segitiga dan sebuah susu pisang. Dia memberikan susu pisang untuk diminum So Ra tetapi So Ra hanya diam. In Sung tidak menyadari tatapan kosong So Ra. Dia terus berbicara bahwa tidak banyak susu pisang yang tersisa tapi dia menyembunyikannya satu di belakang sehingga tidak ada yang sadar dan ketika masa kadarluasa sudah lewat, dia mengambilnya. In Sung tersenyum dan mengelus pipi So Ra. Dia menawarkan susu pisang lagi tetapi So Ra tetap diam. In Sung kemudian menawari kimbab segitiga dan bahkan mempraktekan cara makannya dengan sekali suap. Dia menyakinkan So Ra bahwa walaupun makanannya sudah kadarluasa tetapi masih bisa dimakan.


“Mari putus,” ujar So Ra. In Sung tidak mendengar jelas So Ra mengulangi perkataannya lagi. In Sung yang sedang meminum susu pisang sampai terdiam mematung mendengarnya.


So Ra beranjak pergi dan In Sung mengejarnya. Sampai di jalanan, In Sung tetap memanggil So Ra. Dia menarik sedikit baju So Ra dan bertanya apa dia melakukan kesalahan. So Ra berhenti dan berbalik dengan kesal.


“Bagaimana bisa kamu makan sekarang? Apa kamu tidak marah?” tanya So Ra dengan marah.

“Ujiannya? Ini bukan pertama kali aku gagal. Tidak apa-apa. Tapi, aku pasti akan lulus lain kali. Aku merasa yakin,” jawab In Sung dengan santai.


So Ra merasa kesal dengan jawaban In Sung. “Aku sudah muak,” ujarnya. In Sung terdiam mendengarnya.


So Ra lanjut pergi. In Sung mengejarnya hingga di batas penyemberangan jalan. In Sung memanggilnya dan menarik tangannya. So Ra mengibaskan tangannya kasar. Dia berbalik dan dengan marah berkata : “Kamu pecundang.”






In Sung tidak percaya mendengar perkataan So Ra. Dia berdiri mematung. So Ra segera berlari menyeberang jalan. So Ra sudah tiba di seberang dengan ekspresi kekecewaan dan marah di wajahnya. In Sung schock dan sedih, dia mengenggam kimbab segitiga yang tinggal satu dan susu pisang di genggamannya dengan kuat. Begitu tersadar, In Sung hendak menyeberang mengejar So Ra lagi tetapi lampu untuk pejalan kaki sudah merah. Dia menangis dan berteriak putus asa memanggil nama So Ra.

Ji Sub sedang makan makanan kaleng di ruangan In Sung. Ji Sub mengomeli So Ra yang kejam dan jahat karena memutuskan In Sung hanya karena dia gagal ujian. Bahkan jika dia mau memutuskannya, etika yang benar adalah menunggu dua atau tiga hari atau setelah perjalanan terakhir bersama atau semacamnya. In Sung minum dengan sedih. Ji Sub kemudian berteriak dengan keras dan berkata mari lihat sebaik apa hidupmu akan berubah!


Di sebuah kamar, tertera tulisan di kertas yang di tempel di dinding.
“Tidurlah maka kamu akan bermimpi. Belajarlah maka mimpimu akan terwujud”



Itu adalah kamar So Ra. Dia sedang belajar untuk ujian sertifikat ilmu politik. So Ra mendengar teriakan Ji Sub bahwa putus adalah keputusan yang terbaik. So Ra mendengar dengan sedih. Dia kemudian memasang earphone-nya agar tidak mendengar teriakan Ji Sub. Ruang kamar So Ra bersebelahan dengan ruang kamar In Sung.

Ji Sub menyuruh In Sung makan agar bisa menjadi polisi. In Sung menolak. Ji Sub kemudian mengajak In Sung untuk pergi keluar tetapi In Sung juga menolak karena dia harus kerja pagi. Ji Sub membujuknya untuk ikut dan berkata itulah alasan kenapa dia diputuskan wanita seperti Wang So Ra (sambil berteriak dengan keras). In Sung makin sedih dan berkata bahwa dia memang pantas diputuskan. Ji Sub merasa menyesal dan mengajak In Sung untuk menghabiskan masa muda mereka malam ini ke Hawaii.




Dan dimana Hawaii? Tempat karaoke (noraebang). In Sung masih menangis. Ji Sub menegurnya kalau lelaki tidak boleh menangis. Ji Sub kemudian menyanyikan lagu Twice : Cheer Up! Giliran In Sung yang menyanyi, dia menyanyikan lagu Taeyang : Eyes, Nose, Lips dengan menangis dan suara yang fals. Ji Sub sampai harus menutup telinganya. Ji Sub bahkan membayangkan video klipnya adalah In Sung yang bernyanyi sambil menangis dan dibelakangnya ada bliboard So Ra yang terbakar.

“Boss-ku yang jahat benar. Aku tidak lulus ujian dan sekarang, aku juga tidak punya pacar. Benar. Aku pecundang terbesar di alam semesta,” ujar In Sung dalam hatinya.




In Sung pulang dan melihat barang-barang dikamarnya sudah diletakkan di depan pintu. Bahkan pintu kamarnya terkunci. In Sung menemui penjaga dan bertanya kenapa barang-barangnya ada di luar. Penjaga menjelaskan kalau In Sung sudah tidak membayar sewa sampai 2bulan. Dia juga sebenarnya tidak ingin membuat In Sung tertekan sampai hasilnya keluar tetapi dia harus mengikuti perintah boss-nya. Dia juga tidak bisa kehilangan pekerjaannya jadi dia tidak bisa membantu In Sung.




In Sung menghela nafas dan pergi keluar dari goshiwon dengan barang-barangnya. Kemana In Sung? Dia tidur di gudang minimarket. Hari sudah pagi dan Boss sudah datang. Dia membangunkan In Sung dan memarahinya.


Boss menjewer telingan In Sung dan menyeretnya keluar. Dia memarahi In Sung dan memecatnya. In Sung meminta bayarannya. Boss dengan tenang menjawab dengan menyebutkan kesalahan In Sung dan kerugian yang dibuat In Sung dan dia tidak ingin membayar In Sung. In Sung kekeh meminta bayarannya. In Sung marah dan memberitahu kalau In Sung adalah seorang penipu karena sering datang terlabat dan memakan makanan kadarluasa. (pekerja kasir yang mendengar perkataan boss dan hendak minuman kadarluasa kaget dan langsung menyembunyikannnya). Boss kemudian berteriak kalau harusnya In Sung bersyukur karena dia tidak menuntutya. Dia mengusir In Sung dengan kasar.





In Sung berjalan dengan barang-barangnya. Hari sudah sore dan In Sung berhenti di sebuah jembatan. Dia mengeluarkan ponselnya dan hendak menelpon So Ra tetapi menghentikan niatnya. Di jembatan ada tulisan : “Angin yang berembus sekarang berembus untukmu. Itulah harapan seseorang yang memikirkanmu.” In Sung masih berdiri di sana sampai malam. In Sung merasa sedih dengan hidupnya.


Di tempat les. Ji Sub dan In Sung sedang duduk berdua. In Sung sibuk dengan ponselnya. Dia mencari pekerjaan paruh waktu. In Sung kaget membaca sesuatu dan memperlihatkannya pada Ji Sub.
“Ini lihat! Mereka membayar 800 dolar untuk pekerjaan 3hari 2malam,” ujar In Sung.


Ji Sub dan In Sung ada di taman dan berlatih di tiang gantung. Ji Sub naik turun di tiang gantung dengan mudah tetapi In Sung kesulitan untuk mengangkat tubuhnya. In Sung bahkan tidak bisa bertahan dan terjatuh.

Ji Sub menasehati In Sung untuk melupakan melakukan pekerjaan yang memerlukan kegigihan karena dia sangat lemah. In Sung tidak bisa lari 100meter kurang dari 15detik dan bahkan tidak bisa melakukan pull-up sekalipun. Ji Sub kemudian juga menasehati In Sung untuk tidak mengikuti percobaan medis seenaknya karena tubuhnya adalah pemberian dari orang tua. (Pekerjaan yang di perlihatkan In Sung pada Ji Sub tadi adalah pekerjaan untuk menjadi anggota percobaan medis). In Sung beralasan kalau dia tidak bisa bermalasan di kamar Ji Sub selamanya.




Sebuah bola menggelinding di depan In Sung. Anak-anak memintanya untuk menendang. In Sung bersemangat dan bersiap untuk menendang. Dia gagal dan bahkan terjatuh. Ji Sub tidak percaya melihatnya dan akhirnya dia yang menendang bola. Ji Sub menegurnya yang bahkan tidak berhasil menendang bola. In Sung beralasan kalau dia tidak memakai kacamata jadi tidak melihat jelas.


Ji Sub mengomel kalau In Sung mungkin bisa lulus untuk ujian tertulis tetapi tidak untuk ujian kebugaran. Dan bagaimana In Sung bisa menangkap penjahat yang ada penjahat yang menangkap In Sung. In Sung membalas kalau Ji Sub mungkin lulus untuk ujian kebugaran tetapi tidak untuk ujian tertulis dan juga Ji Sub tidak terlihat seperti polisi tetapi penjahat. Mereka kemudian memutuskan untuk ujian tertulis terlebih dahulu. Ji Sub mengajak In Sung untuk minum kopi tetapi In Sung ingin ice cream.


Ji Sub di restoran bulbogi. Dia mengambil dua buah cone ice cream dan mengambil ice cream sendiri. Pemilik melihat dan menegur Ji Sub yang hendak keluar. Ji Sub berdalih kalau dia akan segera kembali untuk makan daging.


In Sung dan Ji Sub berjalan berdua sambil makan ice cream. Mereka berhenti ketika melihat dua orang anak kecil (cewek dan cowok) dimana yang cowok sedang menyuapi ice cream kepada anak cewek. Mereka berdua iri melihatnya.


Ji Sub dan In Sung sampai di persimpangan dan melihat ada seorang pria dengan pakaian polisi patroli di sebuah kedai. Ji sub memuji hebatnya seragam itu terlihat. In Sung juga iri dan berharap bisa segera menggunakan seragam tersebut.










Tiba-tiba dari belokkan, sebuah sepeda motor dengan dua orang yang menaiki melintas dengan kencang. Seorang wanita menggunakan dress merah berlari mengejar motor tersebut dan berteriak pencopet. In Sung melihatnya dan segera menyerahkan ice creamnya pada Ji Sub. In Sung kini sedang naik motor polisi plus mengenakan seragamnya dan mengejar penjahat tersebut. Dia tampak sangat keren. In Sung berhasil menangkap pencopet dan bahkan menjatuhkannya. In Sung mengambil tas yang di copet dan kembali ke gadis dress merah yang menangis di pinggir jalan. Dia menyerahkan tas dengan keren dan bertanya apa gadis itu terluka. Gadis itu adalah So Ra. So Ra terpesona dengan In Sung dan mengucapkan terimakasih. Dia bahkan berkata kalau In Sung bukan pencundang dan dia tidak muak dengan In Sung. So Ra bahkan mencium pipi In Sung dan menciumnya.

Dan… tentu saja itu semua hanya khayalan In Sung.

Ji Sub masih memperhatikan pria tersebut dan sadar kalau itu adalah Gong Moo. Ji Sub kemudian memanggil Gong Moo. Gong Moo berbalik dan melihat mereka. Dia berjalan mendekati mereka.

“Kamu tidak pernah berkencan dan hanya belajar, kamu lulus dan sekarang memakai seragam. Kamu keren sekali,” puji In Sung.

“Bukankah dia memang tidak mau punya pacar? Dia tidak meminjamkan catatan atau menjaga tempat untuk yang lain. Dia sangat dingin,” timpal Ji Sub.

“Kalau tidak, aku akan menjadi seperti kalian,” balas Gong Moo.


Gong Moo mendapat panggilan dan segera pergi. Dia pergi dengan gaya sombong. In Sung memuji Gong Moo yang keren pada Ji Sub. Ji Sub membalas kalau dia masih saja sombong dan brengsek.

“Kudengar Gong Moo menyewa studio selama enam bulan di daerah ini,” beritahu Ji Sub. In Sung semakin kagum karena dia saja tidak bisa membayar sewa dua bulan. Ji Sub menjawab kalau Gong Moo tidak bisa dibandingkan dengan In Sung, buktinya saja tadi dia bahkan menawarkan akan mentraktir mereka.

In Sung kemudian bertanya memastikan kalau Ji Sub tidak mau ikut percobaan medisnya. Ji Sub dengan tegas menolak.


In Sung sudah ada di rumah sakit yang melakukan percobaan medis. Banyak juga orang yang sudah mengantri. In Sung diwawancarai oleh perawat apakah dia punya penyakit.

“Hidung tersumbat dan sinusitis. Mungkin tulang belakangku juga menonjol,” ujar In Sung. Dia kemudian mendekatkan kepala ke arah perawat dan berbisik, “Tapi akhir-akhir ini, aku merasa seperti mengidap wasir. Saat sedang ke toilet, itu bukan kotoran, tapi … kamu tahu maksudku? Apa tidak masalah?” Perawat terlihat tidak nyaman mendengarnya dan menjawab tidak masalah.



Wawancara selesai dan lanjut ke pemeriksaan fisik. In Sung di ukur tingginya dan bahkan di ambil darahnya. Terakhir, dia menandatangani surat persetujuan.


In Sung dengan peserta lainnya tinggal di rumah sakit. Mereka diberitahu oleh dokter untuk minum obatnya tiga kali sehari, satu setiap habis makan, selama tiga hari kedepan. Kami akan mengambil sampel darah kalian, satu jam setelah minum obat. Kalian tidak boleh pergi selama tiga hari kedepan. Kalian tidak boleh makan apapun selain yang kami berikan.


Perawat membagikan obat. In Sung menerima dengan tersenyum dan perawat merasa terganggu. Di ujung lorong, ada dua orang asing yang mengawasi dan mencatat. Dokter kemudian bertanya apakah ada pertanyaan, In Sung mengangkat tangan dan dokter langsung berkata dia tidak menerima pertanyaan.






Dan In Sung mulai menjalani percobaan medis dan mengikuti semua sesuai dengan instruksi. Dia bahkan di suntik dengan suntikan besar.



Malamnya, In Sung menelpon ibunya dan meminta ibu untuk tidak khawatir. Ibu bertanya tentang So Ra dan In Sung menjawab kalau So Ra sedang sibuk. Ibu bertanya dimana dia dan In Sung menjawab kalau dia di perpustakaan. Orang di sebelah mendengar In Sung dengan kesal karena berisik. Perawat datang dan berkata lampu akan dimatikan. In Sung segera mematikan ponsel dan para peserta lain menyalakan lampu yang mereka bawa dan mulai belajar lagi.

In Sung memperhatikan dan berkata dalam hati : “Kami telah mengubah diri kami menjad marmot demi impian kami. Atau mungkin kami terpaksa berubah menjadi marmot untuk mempertahankan impian kami.”










Percobaan selesai. In Sung keluar dari rumah sakit dengan amplop pembayaran. In Sung menelpon So Ra tetapi tidak di angkat. In Sung kemudian membuka amplopnya dan melihat uang yang di terimanya. Matanya mendadak buram. In Sung membuka kacamata dan anehnya pandangannya malah jelas. In Sung melihat ke sekeliling dan telinganya berdengung. Dia kesakitan. Matanya seolah berwarna biru seklias. Badan In Sung menjadi kesakitan.

In Sung teringat perkataan dokter : “Kemungkinannya kecil, tapi jika ada efek samping, cepatlah datang ke rumah sakit.”

In Sung terkejut.

No comments:

Post a Comment