Tuesday, June 27, 2017

Sinopsis Drama Korea : DUEL Episode 06 - 1

0 comments


Images by : OCN

Prolog :
Gil Ho mengikuti sebuah mobil hingga masuk ke semak-semak. Melihat tidak ada pergerakan dari mobil yang diikutinya walaupun mobil tersebut menyala, Gil Ho keluar dari mobilnya dan memeriksa mobil tersebut. Tidak ada siapapun di dalam mobil. Tiba-tiba, sebuah pistol di todongkan padanya. Itu adalah Deuk Cheon.
“Ingatlah bahwa kau bisa terpikat ketika kau mengikuti seseorang, brengsek,” ujar Deuk Cheon dan memukul pingsan Gil Ho dengan ujung pistol.
DUEL
Sung Hoon mengarahkan pistolnya pada Soo Yeon dan bertanya siapa yang mengizinkan Soo Yeon untuk berkeliaran tanpa izinnya?
“Karena tidak ada orang. Aku tidak tahu kalau aku tidak boleh berkeliaran,” jawab Soo Yeon sambil menangis. “Tapi, apa ahjussi seorang polisi? Ayak bilang mereka hanya menangkap orang-orang jahat. Kapan ayahku akan datang? Kenapa dia tidak datang melihatku?”


Sung Hoon menurunkan pistolnya dan meminta Soo Yeon untuk berhenti menangis. Soo Yeon menjawab kalau dia ingin berhenti menangis tetapi tidak bisa. Sung Hoon akhirnya mengatakan kalau Ayah Soo Yeon akan segera datang.  Dia berjalan mendekati Soo Yeon dan mengajaknya untuk turun ke bawah lagi. Soo Yeon menurutinya. Ketika berjalan, Sung Hoon melihat ke bawah dan melihat kaki Soo Yeon yang tidak mengenakan alas kaki. Hal itu membuatnya teringat dengan seorang anak kecil lelaki yang juga mengenakan pakaian rumah sakit dan tidak mengenakan alas kaki. (author lihat di tag name yang ada di baju, anak itu bermarga Lee tetapi author nggak bisa lihat huruf selanjutnya karena tidak jelas).
“Apa kau pikir kau bisa menyelamatkanku?” tanya anak lelaki tersebut dengan mata sendu.
Tiba-tiba, panggilan Soo Yeon membuat Sung Hoon kembali tersadar. Dia segera menyuruh Sung Hoon untuk turun.

Di mobil,
Sung Joon tiba-tiba mendapatkan ingatan mengenai seorang perawat dengan tag name Ryu Jung Sook. Perawat tersebut sedang hamil besar dan bahkan menuliskan catatan di buku yang berisi foto USG : Urri ddal, Mi Rae.
Deuk Cheon menyadari wajah Sung Joon yang mendadak tegang dan bertanya apa Sung Joon mendapatkan kembali ingatannya? Sung Joon menjawab kalau dia merasa dia mengenal ibu Mi Rae. Dia segera meminta izin untuk bicara sebentar lagi dengan Mi Rae.

Sung Joon keluar mobil dan mengejar Mi Rae yang hendak masuk ke dalam rumah. Dia memberitahu kalau dia ingat sesuatu. Mi Rae semangat mendengarnya dan merasa sangat penasaran.

“Tapi ada sesuatu yang aneh,” ujar Sung Joon. “Aku ingat seperti apa dia. Aku rasa saat itu dia sedang mengandungmu, ‘Mi Rae’ ditulis dalam buku catatan bersalinnya, dan aku memanggilnya Perawat Ryu,” jelas Sung Joon. Dan perkataannya itu terdengar oleh Deuk Cheon yang menyusul keluar dan oleh Gil Ho yang memarkir mobil di dekat sana.
“Lalu, maksudmu… kau sudah bertemu ibuku sebelum aku lahir?” tanya Mi Rae heran.
Deuk Cheon segera mendekat dan menyuruh mereka untuk bicara di dalam saja. Gil Ho memandang penasaran pada mereka.
Di dalam, Sung Joon bertanya heran kenapa mereka harus bicara di dalam? Deuk Cheon memberitahu kalau ada mobil terpakir di luar, dan orang yang ada di dalam mobil, dia pernah melihatnya di tempat pertandingan anjing. Dia yakin kalau pria itu adalah salah satu komplotan mereka. Tapi, dia juga heran kenapa pria itu bisa tahu mereka berada di sini padahal tidak mengikuti mereka dari tempat pertandingan itu.
“Aku harus bertanya padanya sendiri dan mencari tahunya,” ujar Deuk Cheon.

Gil Ho sendiri berada di mobil dan memandang ke arah kamar apartemen Mi Rae. Dia merasa heran karena lampu apartemen Mi Rae mati padahal tadi Mi Rae dan yang lain sudah masuk kembali ke dalam. Dia hendak keluar tetapi tepat saat itu lampu apartemen Mi Rae menyala.
Mi Rae dan Sung Joon masuk dengan terburu-buru. Mereka mengintip dari atas mobil yang mencurigakan yang dibilang Deuk Cheon. Sung Joon menyuruh Mi Rae untuk menghubungi polisi jika melihat sesuatu yang mencurigakan dan untuk jaga-jaga, tinggallah di tempat lain untuk sementara waktu. Mi Rae mengerti dan menyuruh Sung Joon untuk hati-hati juga. Sung Joon segera pamit pergi.
Di dalam mobil, Gil Ho mencari informasi Mi Rae dan kaget mengetahui Mi Rae adalah reporter. Dia berharap semoga segalanya tidak bertambah rumit.


Deuk Cheon berada di depan pintu apartemen dan mengintip dari dalam mobil tersebut. Mobil itu memiliki plat 05M 8734. Dia mengawasi dengan seksama. Sementara Sung Joon, dia keluar melewati pintu belakang apartemen dan mengawasi dari belakang. Mereka tidak menyadari kalau Gil Ho memiliki GPS yang terpasang pada Sung Joon dan mengetahui pergerakan Sung Joon yang berada di belakangnya.

Gil Ho akhirnya keluar dari mobil. Dia mengenakan sarung tangannya. Dia juga mengeluarkan ponselnya dan melihat GPS. Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah alat (dan author juga tidak tahu apa itu). Tepat saat itu, seorang penghuni apartemen kembali.

Penghuni itu membuka pintu apartemen dan Gil Ho mengikutinya. Dan tentu sjaa, dia melihat Deuk Cheon yang bersembunyi di balik pintu tersebut.


Deuk Cheon mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan pada Gil Ho. Penghuni apartemen sampai shock. Deuk Cheon melangkah keluar dan bertanya sapa Gil Ho? Gil Ho tidak menjawab. Dia menendang jatuh pistol Deuk Cheon dan mereka mulai berkelahi. Gil Ho hendak menusukkan alatnya pada Deuk Cheon (sepertinya itu alat tusuk). Sung Joon yang melihat segera berlari keluar dari bersembunyiannya dan membantu Deuk Cheon. Saat itulah dia tanpa sengaja melepaskan masker yang digunakan Gil Ho. Sung Joon mengenali muka Gil Ho, dia adalah pria yang membantu Sung Hoon saat membunuh Jin Byung Joon.

Gil Ho tidak takut wajahnya terlihat oleh Sung Joon. Dia bahkan memberitahu kalau mereka sudah pernah bertemu sebelum itu. Deuk Cheon sendiri terkapar lemah di sisi jalan akibat tendangan Gil Ho di perutnya. Sung Joon bukanlah tandingan Gil Ho karena Gil Ho dengan mudahnya menjatuhkannya dan bahkan menusukkan alat yang dibawanya ke leher Sung Joon. Deuk Cheon bangung dengan perlahan dan meraih pistolnya, dia menggunakan pistol itu untuk menembak Gil Ho tetapi pelurunya habis. Suara tembakan itu terdengar oleh Mi Rae yang berada di apartemennya. Deuk Cheon segera mengisi peluru pistolnya dan Gil Ho memanfaatkan kesempatan untuk masuk ke dalam mobil.
Deuk Cheon sudah mengisi peluru pistolnya dan mengarahkan pistol tersebut kepada Gil Ho yang melajukan mobil ke arahnya. Deuk Cheon tidak takut tertabrak dan tetap berdiri di tengah mengarahkan pistol, sementara Gil Ho juga tidak takut untuk menabrak Deuk Cheon dan mengarahkan mobil kencang ke arah Deuk Cheon. Mi Rae tiba-tiba muncul dan mendorong Deuk Cheon ke pinggir jalan.

Deuk Cheon segera bangkit kembali dan mengejar mobil Gil Ho. Ik Hong keluar dari apartemen dan dengan panik menghampiri Mi Rae yang hampir tertabrak. Mereka kemudian melihat Sung Joon yang tidak sadarkan diri di pinggir jalan.
Deuk Cheon terus mengejar mobil Gil Ho tetapi tentu saja dia tidak dapat mengejar sebuah mobil yang melaju. Gil Ho tertawa senang di dalam mobilnya.

Mi Rae dan Ik Hong berusaha menyadarkan Sung Joon. Deuk Cheon kembali ke mereka dan juga panik melihat kondisi Sung Joon. Dia memberitahu kalau Sung Joon disutikkan sesuatu tadi. Mi Rae menduga kalau Sung Joon sudah disuntikkan dengan obat bius dan menyarankan agar segera di bawa ke RS. Ik Hong juga setuju. Deuk Cheon menghentikan mereka karena mereka tidak mungkin ke RS (atau mereka akan tertangkap). Mi Rae berkata tidak ada pilihan lagi karena jika dibiarkan Sung Joon mungkin saja akan mati. Deuk Cheon terus menghentikan mereka.
“Aku tahu suatu tempat. Ayo masukkan dia ke dalam mobil,” ujar Mi Rae tiba-tiba.

Mereka semua dalam perjalanan menuju tempat yang dibicarakan Mi Rae. Dan itu adalah Klinik Medis Jinsol. Semua tentu heran melihat tempat tersebut dan Mi Rae memberitahu kalau tempat ini mendapat perintah suspensi bisnis beberapa hari lalu. Deuk Cheon tetap ragu dan bertanya apa mereka bisa mempercayai pemilik tempat itu.
“Ya,” jawab Mi Rae yakin, “dia adalah Sunnbae dari perguruan tinggiku. Dalam situasi seperti ini, dia akan menolong pasien bahkan jika aku tidak memintanya. Kita bisa percaya padanya.”
Dan tidak lama kemudian, seorang pria mengenakan jas dokter keluar dari klinik tersebut. Dia segera memerintahkan mereka untuk membawa pasien masuk ke dalam jika tidak ingin dia mati. Deuk Cheon segera menggendong Sung Joon masuk. Mi Rae memberitahu pada sunbae-nya kalau mereka tidak tahu obat apa yang disuntikkan, akan tetapi di lihat dari gejalanya, itu bukan racun tetapi semacam obat bius.

Dokter mulai memeriksa kondisi Sung Joon. Dan tiba-tiba saja, tubuh Sung Joon gemetaran hebat. Dia bertanya apa sebelumnya tubuh Sung Joon juga gemetaran? Mi Rae yang menjawab pertanyaan kalau sebelumnya dia baik-baik saja. Dokter mulai melakukan pertolongan. Dia mulai bertanya-tanya kondisi Sung Joon sebelumnya dan Deuk Cheon memberitahu kalau sebelumnya Sung Joon sering merasakan nyeri di dadanya dan kesulitan bernafas. Dokter mulai memberikan obat pertolongan pertama pada Sung Joon terlebih dahulu.


Jo Hye berada di kantor dan sedang membaca berkas kasus. Dia mulai membandingkan ekspresi pria yang melempar mayat Joo Shik di arena pertarungan anjing yang begitu dingin dan tampak berbeda dengan ekspresi Sung Joon yang dia tangkap walau mereka memiliki wajah yang sama.
“Setelah dia melakukan pembunuhan, dia bahkan tidak berkedip,” gumam Jo Hye. “Sebelumnya, dia ditangkap dengan mudah dan terlihat polos. Tapi kali ini berbeda.” Jo Hye teringat saat Deuk Cheon ngotot kalau ada satu pria lagi yang mirip seperti Sung Joon.

Bong Seok masuk ke ruangan Jo Hye. Dia memberikan kopi yang dibelinya pada Jo Hye. Tetapi, Jo Hye tidak mempedulikan perhatian Bong Seok padanya, dia malah bertanya : “Apa mungkin kembaran itu bisa identik? Punya DNA yang sama dan sidik jari yang sama?”
“Tidak, itu tidak mungkin, bahkan jika mereka memang kembar,” jawab Bong Seok.
“Benar. Itu tidak mungkin,” putus Jo Hye.
Bong Seok kemudian tertawa dan Jo Hye bertanya ada apa. Bong Seok menjawab kalau dia tidak menyangka Jo Hye bisa bertanya sesuatu yang konyol seperti itu. “Kau sangat imut,” ujar Bong Seok, kecil.
“Menurutmu, kenapa dia mengirimkan pemberitahuan dan membuatku menyaksikan pembunuhan itu?” tanya Jo Hye lagi. “Kenapa dia ingin memberitahu kita bahwa dia pembunuhnya? Itu terlalu beresiko. Seolah-olah dia benar-benar ingin tertangkap.”
“Kita kan telah melihat banyak orang aneh di saat penyelidikan. Mereka tidak pernah bertindak berdasarkan alasan yang rasional.”
“Kalau begitu, bagaimana dengan Kepala Jang?”
“Kepala Jang telah kehilangan pikirannya sekarang. Itu semua karena putrinya hilang. Tapi aku bisa memahaminya. Jika itu terjadi padaku, aku pikir aku akan melakukan semua yang ku bisa,” jawab Bong Seok. “Aku pikir kau akan salah paham, perlu diketahui aku tidak punya putri yang ku rahasiakan,” tambah Bong Seok. Tetapi, Jo Hye tidak mau mendengarkannya dan pergi keluar ruangan.


Di rumahnya, Sung Hoon bermimpi buruk. Dia bermimpi, seorang anak lelaki di bawa paksa oleh dua orang dokter ke ruang operasi. Anak tersebut memohon untuk dilepaskan tetapi tidak ada yang mau mendengarnya. Anak tersebut di ikat di sisi tempat tidur, dengan tubuh tengkurap. Anak itu terus menangis dan memohon. Baju belakangnya dibuka dan terlihat ada bekas tusukan. Bekas tusukan yang mirip yang ada ditubuh Sung Hoon. Hal itu membuat Sung Hoon terbangun dari tidurnya.
Sung Hoon turun ke lantai bawah tanah. Dia melihat Soo Yeon yang terbaring di tempat tidur.
Deuk Cheon menjagai Sung Joon yang terbaring hingga pagi. Sung Joon belum juga bangun.

Jo Hye pergi menemui Kepala Jaksa. Dia masuk dan memberi salam. Akan tetapi, Kep. Jaksa langsung melemparkan segelas kopi yang ada di mejanya ke wajah Jo Hye. Jo Hye tetap tenang dan mengucapkan kalau dia datang untuk membuat laporan. Kep. Jaksa benar-benar marah. Dia marah karena Jo Hye tidak melaporkan padanya kalau Deuk Cheon bekerjasama dengan penculik anaknya dan telah melakukan pembunuhan. Dia merasa malu karena tidak tahu apa-apa dan tetap duduk santai di kantor seperti orang bodoh. Jo Hye hanya meminta maaf. Dia beralasan kalau kepolisian terlibat dalam larinya Deuk Cheon dan dia pikir efek lanjutannya akan terlalu serius jika dia melaporkannya. Lagipula dia pikir Deuk Cheon bertindak terlalu impulsif karena putrinya diculik. Dan dia pikir dia bisa menyakinkan Deuk Cheon untuk menyerahkan diri, dia tidak menyangka kalau hal itu akan berkembang menjadi pembunuhan. Kep. Jaksa benar-benar marah dan tidak peduli dengan segala alasan Jo Hye.
“Apa kau pikir kau sampai ke posisimu ini karena kau kompeten? Kau pikir begitu?!! Kau dipromosikan lebih cepat daripada Sunbaemu, itu karena mereka semua salah pikir seperti ini.  Kau dipromosikan dengan memanjak kesalahan mereka,” marah Kep. Jaksa. “Kau tidak terkecuali. Jangan berpikir terlalu tinggi.”
Jo Hye berusaha tetap tenang. Dia mengakui kalau dia tahu semua hal itu. Akan tetapi, berikan dia waktu untuk menyelesaikan semua masalah ini. Dan setelah semuanya selesai, dia siap menerima segala hukumannya. Kep. Jaksa jelas menolak memberikan waktu lagi padanya.
“Karena selama ini, aku sudah melakukan yang terbaik. Semua yang kau lakukan, aku juga turut ikut campur tangan,” ujar Jo Hye sambil tersenyum kepada Kep. Jaksa. “Menurutku, setidaknya kau bisa memberikanku waktu.”
Kep. Jaksa jelas tahu kalau Jo Hye sedang mengancamnya sekarang tetapi Jo Hye membantah hal itu. Kep. Jaksa akhirnya mengalah dan memberikan waktu kepada Jo Hye karena Jo Hye sangat gigih dan dia juga tahu kalau Jo Hye sangat mendambakan uang seperti pengemis. Jo Hye tidak marah dihina seperti itu, sebaliknya dia berterimakasih atas waktu yang diberikan oleh Kep. Jaksa dan juga terimakasih untuk kopinya (yang disiram padanya).
Saat sudah berada diluar ruangan, wajah Jo Hye berubah. Dia terlihat marah.

Jo Hye masuk ke dalam ruangannya dan menyuruh semuanya untuk menyiapkan rapat 5menit lagi. Bong Seok sendiri heran melihat baju Jo Hye yang basah dan bernoda tetapi Jo Hye hanya menjawab tidak masalah. Soo Ho dan Hyung Shik serta Song Yi juga melihat noda tersebut dan bertanya-tanya. Jo Hye berusaha untuk tidak peduli pada tatapan mereka.
Deuk Cheon keluar dari ruangan Sung Joon dan berjumpa dengan Mi Rae yang berada di ruang tunggu. Mi Rae segera bertanya keadaan Sung Joon dan Deuk Cheon memberitahu kalau Sung Joon belum bangun. Mereka mulai berbincang santai sebentar. Perbincangan mereka akhirnya sampai hingga Mi Rae memberitahu kalau dia sudah mendengar semuanya dari Sung Joon bahwa Deuk Cheon sedang mencari putrinya. Dia menasehati Deuk Cheon untuk tetap sehat pada situasi seperti ini dan jangan biarkan dirinya goyah.
“Tapi…kenapa kau banyak membantu kami? Apa yang ingin kau ketahui tentang ibumu?” tanya Deuk Cheon.
“Aku tidak yakin apa yang ingin ku ketahui. Tapi jika aku diam saja aku merasa tidak adil. Maksudku, mereka bukan orang asing. Mereka orang tuaku yang membawaku ke dunia ini namun aku tidak tahu apapun tentang mereka,” jawab Mi Rae.
“Kau tidak tahu apapun tentang ayahmu?”
“Ya. Dari namanya, wajahnya, aku tidak tahu apapun tentang dia. Ibuku tidak pernah mengatakan apapun tentang itu  Setiap kali aku bertanya tentangnya, ibu bilang lebih baik aku tidak tahu apapun. Aku mulai berharap lebih karena Sung Joon bilang padaku, dia tahu beberapa hal tentang ibuku, tapi dia terbaring di tempat tidur sekarang. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya.”
“Kau dan aku berada dalam situasi yang sama,” ujar Deuk Cheon.  “Aku juga mengandalkan ingatannya.”
Mi Rae membenarkan. Dia juga menenangkan Deuk Cheon kalau kondisi Sung Joon sudah stabil. Deuk Cheon lega, dia tidak akan membiarkan Sung Joon mati bahkan jika dia mati, dia akan menghidupkannya kembali.
Jo Hye memulai rapat bersama semuanya. Dia menyuruh mereka untuk tidak fokus kepada korban pembunuhan yang juga termasuk anak buah Joo Shik, tetapi fokus saja kepada Jin Byung Joon dan Choi Joo Shik. Cari hubungan mereka berdua dan dengan begitu mereka bisa menemukan alasan Lee Sung Joon dan Jang Deuk Cheon membunuh mereka dan mereka juga bisa menemukan posisi mereka serta target pembunuhan ketiga.
“Tolonggg… pastikan kita bisa mengalahkan mereka,” pinta Jo Hye sambil menatap foto Deuk Cheon.
“Permisi, kenapa kau berpikir bahwa Kepala Jang itu tangan kanan atas kasus pembunuhan ini,” tanya Hyung Shik.
Jo Hye menatap tajam padanya, “Benarkah? Kalau begitu haruskah aku menyebutnya kaki tangan?”
Hyung Shik segera terdiam dan Jo Hye melanjutkan rapatnya. Dia memberikan pengarahan untuk menyelidiki jalanan sekitar arena tanding waktu itu. Dia yakin tidak mungkin bagi Deuk Cheon dan Sung Joon untuk pergi dari jalan sana dengan berjalan kaki, mereka pasti menggunakan mobil. Dan itu berarti, mereka bisa saja mempunyai kaki tangan lainnya.
“Aku tidak peduli bagaimana cara kalian melakukannya. Bagaimanapun juga tangkap mereka, untuk kepentingan kita dan Kepala Jang, kita harus mengakhiri ini sekarang. Aku sangat berharap tidak satupun dari kalian yang goyah oleh perasaan pribadimu dan sampai melupakan tugasmu.”

Gil Ho dalam mobilnya saat dia di telpon oleh Boss (pria yang ditemui di pinggir sungai waktu itu). Boss bertanya kenapa mereka belum juga melakukan pergerakan padahal sudah menemukan daftar tersebut. Gil Ho meminta maaf karena dia juga belum melihat daftar itu dan daftar itu berada di tangan Lee Sung Hoon. Boss merasa marah dengan kerja Gil Ho yang lambat. Dia memerintahkan Gil Ho untuk membawakan daftar itu padanya dan dia yang akan mengurus sisanya.
“Jika kita melakukan itu, Lee Sung Hoon akan melawan,” beritahu Gil Ho.
Boss tidak peduli dan menyuruh Gil Ho untuk membawakan daftar itu sebelum hari ini berakhir. Gil Ho mengerti.

No comments:

Post a Comment