Wednesday, June 28, 2017

Sinopsis Drama Korea : DUEL Episode 07 - 1

0 comments


Images by : OCN

Prolog :
Seorang pria dalam perjalanan pulang dari kantornya. Ketika dia hendak masuk ke dalam mobilnya, dari sebuah tempat yang gelap, seseorang menyapanya. Orang tersebut berjalan mendekat ke arah pria, dan terlihat kalau dia adalah Sung Hoon. Pria itu terkejut melihat orang yang ada di depannya. Itu mengingatkannya dengan orang yang berwajah mirip sepertinya yang di ikat di ruang operasi. Pria itu mundur dengan ketakutan.
“Kenapa semua orang melihatku seperti itu?” tanya Sung Hoon sinis. “Seolah-olah kalian melihat hantu.”
“Tidak. Ini tidak mungkin. Bagaimana mungkin…,” pria itu tetap tidak percaya melihat orang di depannya.
“Apa kau menikmati hidupmu dengan ginjal yang kau curi itu?” tanya Sung Hoon mendekati pria itu. Dia memegang palu di tangannya, “Sudah 24tahun. Aku rasa itu lebih dari cukup. Sudah waktunya bagimu untuk mengembalikannya.”
Pria itu memohon agar tidak dibunuh. Sung Hoon tidak mendengarkannya dan mengayunkan palu ke kepala pria itu.
DUEL
Tahun 1993
Seorang dokter berwajah mirip Sung Joon dan Sung Hoon, Lee Yong Sup, dan seorang perawat, Ryu Jung Sook sedang melakukan sebuah operasi. Mereka membedah tubuh Choi Joo Shik dan melakukan sesuatu.

Operasi selesai dilakukan. Perawat Jung Sook, membawa kembali tubuh Joo Shik ke ruangannya. Dia mengantar tubuh itu dengan di kawal oleh dua orang pria berpakaian hitam. Tubuh Joo Shik yang berada di ranjang juga di ikat dengan kuat hingga tidak dapat bergerak.

Joo Shik berada satu ruangan dengan seorang pria, Park Dong Seul. Tubuh Dong Seul juga di ikat dengan kuat ke ranjang. Dong Seul bangun saat melihat perawat Ryu mengantar Joo Shik kembali dari ruang operasi. Dia memanggil perawat Ryu dan memohon agar di izinkan untuk bertemu dengan dr. Lee. Perawat Ryu hanya menjawab kalau dr. Lee akan segera datang. Dia juga hendak menyuntikkan sesuatu ke tubuh Dong Seul dan Dong Seul memberontak. Dia tahu kalau Joo Shik baru di operasi untuk mengangkat tumor dan sebaiknya Joo Shik yang di suntik, bukan dia. Para pengawal yang ada bersama perawat Ryu, hendak memukulkan tongkat pada Dong Seul agar diam tetapi perawat Ryu menghentikannya. Perawat Ryu berusaha menjelaskan kalau suntikan itu adalah injeksi tetapi Dong Seul tetap menolak. Dia berteriak agar dr. Lee dibawa menemuinya.
“Kalian tahu jika aku akan mati. Kenapa kalian pura-pura tidak tahu?” teriak Dong Seul.
“Kau tidak akan menunggu lama. Jika kau menunggunya sebentar lagi…” ujar perawat Ryu.
Tetapi, belum selesai perawat Ryu menjawab, terdengar tawa Joo Shik. Dia sudah sadar dari obat bius operasi. “Kenapa kau bertindak sok baik begitu?lagipula kau tidak ada bedanya dari Lee Yong Sup. Dia tidak perlu menunggu lama?!! Tidak akan lama sampai kami mati! Kita tidak akan bisa meninggalkan tempat ini sampai kita mati. Bukan begitu?”
Perawat Ryu tidak menjawab pertanyaan Joo Shik. Dia hanya menyuruh Dong Seul untuk menerima suntikannya atau dia akan berada dalam bahaya. Dong Seul memberontak tetapi perawat Ryu tidak peduli dan segera menyuntiknya.
Perawat Ryu keluar dengan wajah cemas. Dan terlihat kalau ruangan Joo Shik serta Dong Seul, dikunci menggunakan gembok dari luar.

Setelah perawat Ryu dan pengawal pergi, Jin Byung Joon yang dari tadi bersembunyi di sebuah ruangan keluar. Dia mendekati ruangan Dong Seul dan Joo Shik. Dia mengintip dari kaca pintu dan berteriak memanggil Park Dong Seul. Byung Joon terlihat terkejut melihat Dong Seul yang berada di dalam dan dalam keadaan terikat di ranjang.
“Apa yang terjadi? Bukankah tes klinisnya telah berakhir 6bulan yang lalu?” tanya Byung Joon dari luar kamar.
“Apa kau sungguh tidak tahu?!” marah Joo Shik, “Kau yang bilang ini dengan kami. Kau bilang semuanya akan selesai dalam 6bulan. Lihatlah kami! Kami tidak diperlakukan seperti manusia. Kami tikus percobaan!”
“Hyung! Tolong keluarkan aku dari sini. Kau yang membawaku ke sini,” mohon Dong Seul. “Jika kau tidak menyelamatkanku, aku akan mati disini.”
Byung Joon belum sempat menjawab karena dr. Lee tiba-tiba muncul di belakangnya. Byung Joon segera pura-pura tersasar. dr. Lee memandangnya tajam dan bertanya apa yang dia lakukan disini? Byung Joon meminta maaf dan beralasan kalau dia tersasar. Dia segera mengalihkan perhatian dr. Lee dengan menyerahkan nama pendonor sel telur, Kim Hye Jin, yang diinginkan dr. Lee. Wanita itu masih berumur 20tahun. dr. Lee mengajaknya untuk ke ruangannya, di lantai atas.

Hari Rabu, jam 22:00
Byung Joon membuat pingsan seluruh penjaga. Dia masuk ke ruang pengamanan dan mengambil kunci. Setelah itu, dia menggunakan kunci itu untuk membuka gembok ruangan Joo Shik dan Dong Seul. Dia mengeluarkan mereka dari sana.
Mereka sudah berhasil bebas. Tetapi, mereka tidak segera kabur dari rumah sakit karena mereka bertiga memiliki rencana lain. Byung Joon bahkan memberitahu kalau dia sudah menerima uangnya dan mereka harus menjalankan rencana dengan sempurna. Dan dia juga menghapus rekaman Joo Shik serta Dong Seul dari rekaman CCTV. Apa yang hendak mereka lakukan? Mereka hendak mengambil organ-organ dr. Lee dan menjualnya. Kebetulan hari itu, semua peneliti sedang pergi dan hanya tinggal dr. Lee.
Mereka segera menuju ruangan dr. Lee dengan menggunakan tangga darurat. Namun tidak disangka, mereka malah bertemu dengan perawat Ryu. Perawat Ryu jelas berusaha kabur dan melaporkan mereka yang bebas tetapi Joo Shik menahannya. Dia memerintahkan agar Byung Joon dan Dong Seul segera pergi.
“Kau seharusnya membantuku ketika aku memintamu untuk menyelamatkanku, maka ini tidak akan terjadi,” ujar Joo Shik pada perawat Ryu.

Perawat Ryu meraba kantong baju perawatnya dan dia ternyata membawa sebuah cutter. Dia segera menggunakan cutter itu untuk melawan Joo Shik dan cutter tersebut mengenai telinga Joo Shik. Setelah itu, perawat Ryu berlari menuruni tangga. Joo Shik berusaha mengejarnya tetapi perawat Ryu sudah masuk dan mengunci pintu tangga. Joo Shik berteriak marah dan kesakitan karena luka robek di telinganya.
Joo Shik akhirnya menyerah mengejar perawat Ryu dan pergi menemui yang lain. Byung Joon dan Dong Seul sedang mengawasi ruangan dr. Lee. Byung Joon bertanya kepada Joo Shik kemana perawat Ryu tetapi Joo Shik tidak menjawab dan malah bertanya balik mengenai dr. Lee. Dong Seul memberitahu kalau mereka belum menangkap dr. Lee tetapi mereka tidak boleh gagal atau mereka tidak akan bisa keluar dari sini.
Dr. Lee akhirnya keluar dari ruangannya. Byung Joon yang sudah bersiap dengan saputangan yang dibubuhi obat bius, segera berlari menghampiri dr. Lee dan meletakkan saputangan tersebut ke hidup dr. Lee. Dr. Lee berusaha melawan tetapi pada akhirnya dia kehilangan kesadaran.

Saat dia sadar, dia sudah berada di dalam ruangan operasi dengan mulut terlakban dan tubuh terikat. Byung Joon, Dong Seul dan Joo Shik memandangnya dingin.
“Jangan pikir kami tidak adil. Kau tidak pernah memperlakukan kami seperti manusia, kan? Kau pernah memberitahu kami, ini semua untuk menyelamatkan kehidupan masyarakat, jadi kami harus menghadapinya. Itulah yang akan kami lakukan. Kami akan mengambil organ-organ dalam tubuhmu dan memberikannya kepada orang-orang yang membutuhkan,” beritahu Dong Seul.
dr. Lee memberontak tetapi tidak ada yang pedul padanya. Byung Joon memulai operasi padanya. Dia menyuntikkan anestesi pada dr. Lee dan perlahan dr. Lee kehilangan kesadarannya.

Operasi dr. Lee sudah hampir selesai. Organ terakhir yang mereka keluarkan dari tubuh dr. Lee adalah ginjal. Dong Seul menyuruh Joo Shik untuk memegang ginjal tersebut dengan sangat hati-hati. Jangan sampai rusak. Joo Shik jelas penasaran, memang ginjal itu akan diberikan pada siapa?
“Untukku,” jawab Dong Seul. “Ginjal itu milikku,” senyumnya.
Aghassi di antar menuju peti yang menyimpan tubuh dr. Lee. Dia terkejut melihat tubuh dr. Lee yang ada di dalam sana.
Sung Joon tersadar. Dia segera bangkit dan bertanya panik pada Mi Rae yang ada di sebelahnya apa dia berada di rumah sakit? Mi Rae menenangkannya dan memberitahu kalau itu tempat orang yang dikenalnya. Dia juga memberitahu kalau Sung Joon sudah berada disini 1hari sejak malam itu. Dia juga bertanya bagaimana perasaan Sung Joon sekarang. Dan Sung Joon memberitahu kalau kepalanya terasa sedikit sakit. Dia juga bertanya dimana Deuk Cheon?
“Kita harus keluar dulu. Disini terlalu berbahaya. Mereka sudah tahu keberadaan kita,” jawab Mi Rae. “Ada GPS yang dipasang di dalam tanganmu. Begitulah cara mereka menemukan keberadaan kita.”

Di tempat Deuk Cheon,
Dia mengikat Gil Ho. Dia juga menggunakan ponsel Gil Ho untuk menelpon Lee Sung Hoon. Sung Hoon yang belum tahu situasi Gil Ho, bertanya dengan santai, apa dia sudah tahu berada dimana mereka?
“Ini aku, brengsek,” jawab Deuk Cheon.
“Siapa ini? Jang Deuk Cheon?” tanya Sung Hoon santai.
Deuk Cheon membenarkan. Dia mulai mengancam Sung Hoon untuk memberitahu dimana putrinya atau dia akan menembak kepala Gi Ho. Sung Hoon hanya menjawab kalau Soo Yeon baik-baik saja. Deuk Cheon tentu tidak percaya dan mengancam akan mulai menembak Gil Ho. Tetapi, Sung Hoon tidak peduli dan menyuruh Deuk Cheon untuk membunuh Gil Ho sekarang saja. Deuk Cheon dan Gil Ho sama-sama terkejut mendengarnya.
“Kau harusnya mengancamku dengan sesuatu yang berharga juga,” beritahu Sung Hoon, “seperti Soo Yeon. Lagipula, aku mulai frustasi karena brengsek itu. Syukurlah. Jang Deuk Cheon, apa kau tidak ingin melihat Soo Yeon? Apa kau ingin aku tunjukkan dimana Soo Yeon?” tawar Sung Hoon.
Deuk Cheon yang merasa kesal dengan jawaban Sung Hoon, menghajar Gil Ho. Dia akhirnya bertanya apa yang sebenarnya Sung Hoon inginkan darinya.
“Mudah. Jika kau ingin bertemu Soo Yeon, lepaskan dia dan lakukan apa yang ku katakan. Dengan begitu kau bisa bertemu dengan Soo Yeon.”
Deuk Cheon yang sudah benar-benar frustasi, akhirnya melepaskan Gil Ho yang susah payah dia tangkap. Dia juga mengikuti apa yang di inginkan Sung Hoon. Dia harus bersedia di bius jika ingin bertemu dengan Soo Yeon.

Mi Rae dan Sung Joon sudah berada di tempat Ik Hong. Sung Joon masih khawatir jika di bagian tubuh yang lain masih terpasang GPS tetapi Mi Rae menenangkannya. Dia menyakinkan kalau mereka sudah memeriksa seluruh tubuh Sung Joon dan tidak ada apa-apa lagi. Ik Hong juga menyakinkannya. Mi Rae kemudian menyuruh Sung Joon untuk sementara waktu tinggal di tempat ini saja karena sudah tidak mungkin lagi di rumahnya. Rumahnya dan klinik sudah diketahui oleh mereka. Ik Hong tentu kaget karena dia awalnya tidak di beritahu tetapi melihat wajah Mi Rae yang memelas padanya, dia terpaksa menyetujui. Sung Joon juga khawatir dengan Deuk Cheon yang menghilang, dia meminjam ponsel Mi Rae untuk menghubunginya tetapi nomor Deuk Cheon tidak aktif. Dia memutuskan untuk kembali ke klinik, karena mana tau saja Deuk Cheon kembali ke sana tetapi ketika dia berdiri, kepalanya mendadak sangat sakit. Mi Rae meminta Sung Joon untuk istirahat saja dan juga tidak aman baginya untuk kembali ke klinik, lebih baik mereka menunggu hingga besok dan jika Deuk Cheon tidak juga menghubungi mereka, mereka baru pikirkan cara lain. Sung Joon tetap merasa khawatir pada Deuk Cheon.
Dimana Deuk Cheon?



Dia sudah sadar dari obat biusnya. Sekarang, dia terikat di kursi dan berada di sebuah ruangan tertutup. Deuk Cheon melihat ke sekeliling dan ada sebuah kaca disana yang mengarah ke arah Soo Yeon. Soo Yeon berada di depannya dan sedang tertawa menonton TV. Deuk Cheon benar-benar bahagia melihat putrinya, tetapi dia tidak bisa bergerak karena terikat. Dia berusaha menyeret kursi-nya sekuat tenaga mendekat ke arah kaca dan terus meminta agar Soo Yeon melihat ke arahnya. Dia ada di sini.

Sung Hoon turun ke ruang bawah tanah. Dia menyalakan speaker di ruangan Deuk Cheon sehingga Deuk Cheon bisa mendengar pembicaraannya dengan Soo Yeon. Deuk Cheon merasa marah melihat Sung Hoon duduk di dekat Soo Yeon. Soo Yeon sendiri tidak tahu kalau ayahnya ada disana karena ruangan ayahnya, ditutupi dengan kaca satu arah berwarna hitam.
Sung Hoon memberitahu pada Soo Yeon kalau ayahnya memberikan hadiah pada Soo Yeon. Soo Yeon tentu senang mendengarnya karena itu berarti ayahnya ada disini tetapi Sung Hoon memberitahu kalau ayah Deuk Cheon tadi saat Soo Yeon sedang tidur dan sekarang sudah pergi. Soo Yeon merasa sedih karena tidak dibangunkan karena dia juga ingin melihat wajah ayahnya. Sung Hoon menenangkannya karena ayah Soo Yeon akan segera kembali. Tapi, dia juga tidak tahu kapan ayah Soo Yeon akan kembali.
“Jika ayahmu setuju untuk membantuku, dia bisa kembali ke sini besok,” ujar Sung Hoon sambil menatap ke kaca hitam yang mengarah ke ruangan Deuk Cheo.
“Kalau begitu, katakan padanya untuk membantu Ahjussi. Tolong katakan padanya, aku ingin dia untuk membantu Ahjussi,” pinta Soo Yeon.
Sung Hoon tersenyum mendengarnya. Dia segera menyematkan hadiah yang dia bilang ditinggalkan oleh Deuk Cheon, yaitu jepit rambut.
“Apa kau ingin melihat-lihat di cermin untuk melihat apa itu terlihat cantik atau tidak?” tanya Sung Hoon.
Soo Yeon membenarkan. Dia melihat ke sekeliling dan melihat cermin disana yaitu kaca yang mengarah ke ruangan Deuk Cheon. Deuk Cheon senang melihat Soo Yeon menatap ke arahnya walaupun Soo Yeon tidak menyadari dia ada di sana.
Dan Sung Hoon dengan kejamnya, menggunakan remot menutup kaca di ruangan Deuk Cheon dengan gorden. Deuk Cheon jelas merasa sedih tidak melihat putrinya. Dia membenturkan kepalanya berulang kali ke cermin agar cermin bisa pecah tetapi hal itu malah membuat kursinya terjatuh.
Tidak lama kemudian, Gil Ho dan Sung Hoon masuk menemuinya.  Sung Hoon bertanya perasaan Deuk Cheon setelah melihat Soo Yeon. Deuk Cheon tidak menjawab pertanyaan tersebut sebaliknya dia memohon agar Sung Hoon membebaskan Soo Yeon dan dia akan melakukan apapun. Bahkan jika dia di minta mati, dia akan segera membunuh dirinya sendiri sekarang juga. Dia benar-benar sudah putus asa.
“Kalau begitu, bunuh seseorang untukku,” perintah Sung Hoon.
Deuk Cheon terkejut mendengarnya. Sung Hoon mengejek ekspresi Deuk Cheon tersebut padahal hal itu lebih mudah daripada disuruh bunuh diri. Deuk Cheon terdiam.

Sung Joon tertidur. Mi Rae masih terjaga dan membaca berkas peninggalan ibunya dengan lebih seksama. Itu merupakan berkas mengenai hasil percobaan pasien dan dia menyadari kalau di dalam berkas para pasien dibuat seolah-olah sudah mati padahal mereka masih hidup. Dan dia juga teringat kemarahan Joo Shik padanya saat tahu dia adalah putri Ryu Jung Sook.
“Apakah ini … percobaan ilegal?” simpul Mi Rae.
Tepat saat itu, Ik Hong menghampirinya dan meminta maaf karena tempatnya agak berantakan. Dia juga memberitahu kalau dia sudah menyiapkan bantal dan selimut baru untuk Mi Rae gunakan dikamarnya dan dia sendiri akan tidur di sofa. Mi Rae berterimakashi dan meminta maaf karena sudah menyulitkan Ik Hong. Ik Hong tidak masalah dan malah menyuruh Mi Rae untuk meminta bantuannya jika ada masalah apapun karena dia selalu ada di sisinya.
Mereka mulai minum - minum juga dan mulai membahas mengenai Sung Joon. Ik Hong bertanya apa Mi Rae sudah memberitahu Sung Joon mengenai foto itu? Mi Rae memberitahu belum karena dia masih butuh sedikit waktu untuk menyelidiki semuanya. Ik Hong bertanya penasaran kenapa bisa ada seseorang yang mirip dengan seseorang dari 24tahun yang lalu? Apa mungkin dia anaknya? Atau doppleganger? Reinkarnasi? Atau manusia kloning? Atau dia abadi? Tetapi, Mi Rae tidak bisa menjawabnya karena dia sendiri juga belum yakin.
Mi Rae berada di kamar Ik Hong. Dan dia mulai membuat berbagai kesimpulan di laptopnya dari berbagai kejadian yang telah dilihat dan didengarnya.
Kemungkinan Pertama : Lee Sung Joon adalah manusia kloningan dari orang yang berada di foto itu.
Kemungkinan Kedua : Pria itu (Sung Hoon) juga manusia kloningan sama seperti Lee Sung Joon.
Kemungkinan Ketiga :  Lee Sung Joon dan pria itu punya kerusakan organ karena kecacatan dalam mengkloning.
Kemungkinan Keempat : Pria di foto itu dibunuh oleh Choi Joo Shik, dan organ-organ tubuhnya secara paksa di transplantasikan kepada orang lain.
Kemungkinan Terakhir : Tujan pria itu adalah… untuk menemukan organ yang sudah di transplantasikan (?)
“Tapi itu aneh. Mereka harus punya gen yang sama, sehingga tubuhnya mungkin tidak akan menolak organ tersebut. Tapi, organ itu telah ditransplantasikan kepada orang lain. Apa tidak sulit untuk mentransplantasikan lagi kembali ke dalam tubunya? Terlebih lagi… bukan hanya satu organ, dia ingin mentransplantasikan semua organ-organ itu (?)?” Mi Rae mencoba menganalisis. Tetapi, semakin dia menduga, semakin bingung dan mencurigakan semuanya.


No comments:

Post a Comment