Sunday, August 6, 2017

Sinopsis Drama Korea : SAVE ME Episode 01 - 1

0 comments


Images by : OCN
Episode pertama dimulai dengan memperlihatkan sebuah papan besar bertuliskan: [Selamat datang di kota yang penuh dengan semangat dan cinta, Muji]
Episode 01

Tahun 2014 - Muji-gun
Di tengan hujan deras, di sebuah jalanan, melaju sebuah mobil yang berisikan sebuah keluarga. Mobil itu melaju memasuki kota Muji. Semua yang ada di dalam mobil, tidak ada yang bersuara sama sekali.

Di sebuah tempat persekutuan,
Di adakan sebuah persekutuan yang di pimpin oleh seorang lelaki berambut putih, Baek Jung Ki (Cho Seong Ha) dengan di dampingi asistennya, Kang Eun Sil (Park Ji Young). Anggota-anggota persekutuan umumnya adalah orang-orang tua dan mereka duduk di lantai, para anggota memanggil Jung Ki dengan panggilan : Bapak Rohani.
“Jangan takut! Yang Maha Kuasa akan selalu bersama kalian. Jangan meragukan iman kalian. Yang Maha Kuasa akan jadi penyelamat kalian. Mereka yang mencintai Maha Kuasa akan dibebaskan dari penyakit dan rasa sakit melalui kekuatan mutlaknya itu,” teriak Jung Ki kepada para pendengar.
Semua-nya terus berteriak percaya kepada Jung Ki.

Di jalanan,
Mobil yang di kendarai oleh keluarga tersebut, tiba-tiba mengalami ban bocor dan membuat mobil oleng. Untunglah, sang kepala keluarga, Im Joo Ho (Jung Hae-Kyung), segera mengerem sehingga tidak terjadi kecelakaan.
Joo Ho segera keluar dari mobil untuk memeriksa ban mobil yang bocor.  Istrinya, Kim Bo Eun (Yun Yoo-Sun) juga ikut keluar dengan membawa payung dan memayungi Joo Ho. Mereka merasa sangat stress karena ban yang bocor, apalagi mereka tidak mempunyai ban cadangan.
Di tempat persekutuan,
Sebuah lelaki tua di atas kursi roda, di bawa masuk ke dalam ruang persekutuan dan di antar ke depan Jung Ki. Pria itu bernama Park Doo Young. Jung Ki segera mengenalkan Doo Young kepada para pendengar, yaitu Park Doo Young merupakan orang yang sedang sakit kanker perut tahan terakhir. Kondisinya sangat parah, hingga dokter di RS besar di Seoul menolak untuk merawatanya dan memulangkannya. Para dokter berkata kalau Park Doo Young tidak memiliki kesempatan untuk bertahan hidup. Para pendengar yang mendengar kisah Doo Young, merasa sangat kasihan.
“Bagi seorang pasien yang ketakutan karena kematian, mereka mengatakan tidak bisa mengobatinya,  dan dia tidak akan bisa bertahan dari kanker, lalu memulangkannya. Apa menurut kalian, mereka melakukan hal yang benar?” tanya Jung Ki.
Para pendengar langsung menjawab dengan keras kalau hal itu tidak benar.
Di jalanan,
Joo Ho dan Bo Eun masih bingung cara mereka melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba, dari belakang, tampak dua buah motor melaju kencang. Motor itu terus melaju dan mengabaikan Joo Ho dan Bo Eun yang berdiri di pinggir jalan bersama mobilnya.



Tetapi, tiba-tiba, motor itu berputar arah dan kembali menuju ke arah Joo Ho dan Bo Eun. Joo Ho serta istrinya tentu merasa takut karena motor yang sudah melewati mereka tiba-tiba berbalik arah. Anak-anaknya, Im Sang Jin (Jang Yoo Sang) dan Im Sang Mi (Seo Ye Ji) yang berada di dalam mobil, tentu juga merasa cemas.
Pengendara motor itu memberhentikan motornya di depan mobil mereka. Joo Ho segera menyuruh istrinya, Bo Eun, untuk masuk ke dalam mobil tetapi Bo Eun tidak masuk dan hanya berdiri di belakang Joo Ho. Empat orang pengendara motor tersebut, berjalan ke arah mereka. Wajah mereka tidak terlihat karena gelap. Joo Ho segera menyuruh istrinya masuk dan menjaga anak-anak mereka yang berada di dalam.
Di tempat persekutuan,
“Namun demikian, Yang Maha Kuasa, tidak akan pernah berpaling dari pasien yang meminta bantuan padanya, dengan mengatakan dia tidak bisa di sembuhkan, dan tidak memiliki kesempatan untuk bertahan hidup. Dia tidak akan mengirimnya ke lembah kematian yang gelap,” ujar Jung Ki.
Semua pendengar langsung berteriak - teriak kalau keinginan mereka akan diwujudkan.

Di jalanan,  
Keempat orang itu mendekati Joo Ho. Mereka adalah Han Sang Hwan (TaecYeon), Seok Dong Cheol (Woo Do Hwan), Woo Jung Hoon (David Lee), Choi Man Hee (Ha Hwe Jung). Dan ternyata, mereka turun untuk menanyakan keadaan mobil Joo Ho yang sepertinya rusak. Sang Mi yang berada dalam mobilm dan tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka, membuka kaca mobil dan bertanya kepada Bo Eun, apa semuanya baik-baik saja. Bo Eun segera menjawab kalau semuanya baik-baik saja dan keempat orang itu dapat untuk membantu mereka. Saat itulah, keempat orang itu melihat wajah Sang Mi.

Mereka segera menawarkan bantuan untuk menelpon bengkel mobil terdekat untuk ke sini membantu Joo Ho. Bo Eun jelas berterimakasih pada mereka atas pertolongan mereka. Jung Hoon sendiri segera menelpon bengkel mobil dan memberitahu kalau ada sebuah mobil yang ban-nya bocor tepat di luar kota Muji. Selesai berbicara dengan pemilik bengkel, Jung Hoon memberitahu kepada Joo Ho untuk menunggu sekitar 30menit. Joo Ho dan Bo Eun berterimakasih sekali lagi. Sang Hwan segera mengajak teman-temannya untuk pergi melanjutkan perjalanan. Sebelum pergi, dia sempat melirik ke arah Sang Mi yang berada dalam mobil.
Setelah ke empat pemuda itu pergi, Sang Mi bertanya keadaan oppa-nya, Sang Jin, yang dari tadi diam saja dan terlihat tegang. Dia menggenggam tangan Sang Jin dan menyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja.

Di persekutuan,
Jung Ki mulai melakukan pengobatan kepada Park Doo Young. Dia membaringkan Doo Young di atas tempat tidur dan mulai menepuk-nepuk perut Park Doo Young sambil berdoa. Dan pada tepukan terakhir, perut Park Doo Young mengeluarkan darah padahal tidak ada luka. Para anggota persekutuan jelas kaget dan kagum melihatnya. Jung Ki langsung menunjukkan apa yang ada di tangannya, yang keluar dari perut Park Doo Young. Dia memberitahu kalau yang dipegangnya adalah potongan kanker milik roh jahat dari perut Doo Young. Semua semakin kagum dan berteriak : “Yang Maha Kuasa!”
Di bar,
Sang Hwan dan teman-temannya berkumpul di bar. Mereka mengenakan seragam SMA. Jung Hoon sibuk berbicara mengenai anak Joo Ho yang mereka lihat tadi, Sang Mi, yang sangat cantik dan menatapnya. Sang Hwan segera membantah kalau Sang Mi tadi melihatnya. Dong Cheol segera menyela mereka dan memberitahu kalau Sang Mi tadi itu menatapnya. Hanya Man Hee yang tidak ikut dalam perdebatan mereka.
Dong Cheol kemudian mengalihkan pembicaraan saat melihat poster kampanya ayah Sang Hwan, Han Yong Min (Son Byung Ho) yang tertempel di dinding bar. Dia bertanya pada Sang Hwan, apakah ayah Sang Hwan akan ikut serta lagi dalam pemilihan? Sang Hwan terlihat cuek mendengarnya. Dan Jung Hoon yang menjawab kalau ayah Sang Hwan pasti terpilih karena tidak ada kandidat lain yang memenuhi syarat sepertinya.  
Pemilik bar kemudian datang dan menghidangan minuman yang mereka pesan. Jung Hoon yang melihat kalau minuman yang di antar pemilik bar adalah teh dan bukannya bir sesuai pesanan segera protes. Pemilik bar langsung memarahi mereka, apa mereka mau ke kantor polisi lagi? Jung Hoon segera membuat alasan tetapi pemilik bar tidak peduli. Dia balas memarahi Jung Hoon untuk pergi ke tempat lain saja kalau tidak mau minuman yang dihidangkan.
Setelah pemilik bar pergi, Jung Hoon segera menggerutu kesal. Sang Hwa segera membagikan teh dan menyuruh untuk memikirkan minuman itu sebagai bir hitam saja. Mereka hendak bersulang sebelum minum, tetapi Man Hee sudah meminum habis minumannya dalam satu kali teguk dan bahkan bersendawa. Semua jadi tidak selera minum lagi.

Mobil Joo Ho sudah di derek oleh mobil bengkel yang di pesan oleh Sang Hwan, dkk. Dan mereka sudah memasuki kota Muji. Suasana kembali menjadi tegang, tidak ada satupun yang berbicara. Bo Eun akhirnya membuka suara dan meminta semuanya untuk tidak khawatir karena mulai sekarang hanya akan ada hal baik.
Mobil mereka sudah selesai di perbaiki dan Joo Ho sedang membayar biaya perbaikan. Pemilik bengkel berbasa-basi dan bertanya apa Joo Hi pindahan dari Seoul? Joo Ho terlihat tidak nyaman menjawabnya dan membenarkan. Pengantar makanan yang berada disana (dia sedang mengantarkan jajangmyeon untuk pemilik bengkel) mengomentari Joo Ho yang pindah saat cuaca tidak bagus.
“Tapi mereka mengatakan, kita akan beruntung jika pindah pada cuaca hujan begini,” lanjut pengantar makanan. Pemilik bengkel membenarkan.
Joo Ho sendiri langsung pamit pergi setelah selesai membayar. Pengantar makanan mengejarnya dan memberikan sebuah kupon jajangmyeon sebagai ucapan karena Joo Ho pindah ke kota-nya, Muji. Dia memberitahu kalau Joo Ho mengumpulkan 10tiket Jajangmyeon, dia bisa mendapatkan 1hidangan dagin babi asam manis.
Di tempat persekutuan,
Acara sudah selesai dan para anggota sekarang sedang bersenang-senang. Jo Wan Tae (Jo Jae Yun) yang memimpin acara dan menyanyikan lagu untuk acara yang mereka khusus buat untuk bapak Rohani mereka, Jung Ki.

Jung Ki sedang berada di tempat lain dan memandang sebuah pohon. Eun Sil datang dengan membawa Park Doo Young dan memberitahu Jung Ki kalau Doo Young ingin mengucapkan terimakasih pada Jung Ki.
“Bapak Rohani, terimakasih banyak telah menyelamatkan hidupku. Aku bertanya-tanya bagaimana aku harus membalas, kebaikan yang aku terima darimu hari ini. Dan saat aku datang ke sini, aku mendengar sesuatu dari Ny. Kang. Aku dengar kau akan membangun sebuah gereja. Aku akan dengan senang hati membantumu,” ujar Park Doo Young dan memberikan sebuah amplop.
“Hyung-nim, kau tahu nama pohon ini?” tanya Jung Ki sambil menatap pohon di depannya. “Kami menyebut pohon ini, ‘pohon kepercayaan’ Seperti yang kau lihat, pohon ini terlihat lemah, tua, tapi telah hidup selama lebih dari 500thn dengan cabang kokoh itu. Ini semua, berkat kebaikan Yang Maha Kuasa dan yang biasa kita kenal dengan keajaiban. Hyung-nim, aku hanya seorang hamba Yang Maha Kuasa. Jadi, kau tidak perlu berterimakasih padaku. Yang perlu kau lakukan hanyalah berdoa kepada Yang Maha Kuasa karena telah menunjukkan padamu… sebuah keajaiban hari ini,” jawab Jung Ki dan beranjak pergi.
Doo Young meresapi semua perkataan Jung Ki dengan serius. Dia kemudian memberikan amplop di tangannya pada Eun Sil. (author kira Jung Ki nggak mau nerima amplopnya, eh… ternyata tetap di ambil juga sama asistennya).
Joo Ho dan keluarga-nya tiba di rumah baru mereka. Tetapi, anehnya rumah itu terlihat sangat kumuh. Sang Mi sampai bertanya apa benar itu rumah mereka? Joo Ho terlihat bingung juga karena rumahnya seperti itu padahal alamatnya benar. Dia turun dan segera menghubungi Sung Ho, temannya yang mencarikan rumah tersebut. Tetapi, Sung Ho tidak mengangkat telponnya. Bo Eun yang ikut turun jadi curiga kalau Sung Ho telah menipu mereka tetapi Joo Ho berusaha tetap yaki kalau Sung Ho bukan orang seperti itu. Dia mencoba menghubungi Sung Ho lagi.

Di sebuah tempat, petugas polisi lalu lintas Choi mendapat laporan kalau seorang pria mabuk menyebabkan kekacauan  di depan terminal bus. Choi mengerti dan memberitahu kalau dia akan segera ke sana. Choi juga segera membangunkan atasannya, Sersan Woo Choon Gil yang sedang tidur kalau mereka mendapat laporan mengenai pria mabuk. Tetapi, Sersan Woo asyik tidur hingga petugas Choi kesal dan memarahinya.

Petugas Choi dan Sersan Woo menuju lokasi pria mabuk tersebut. Belum mereka turun untuk membawa pria mabuk tersebut, pria tersebut sudah berdiri menghadang mobil polisi mereka dan bahkan naik ke atas-nya dan kencing. Petugas Choi dan Sersan Woo tentu merasa jijik dan kesal melihat dia kencing depan di depan mereka. Sersan Woo segera keluar dari mobil dan menariknya turun.

Sang Hwan dkk dalam perjalanan pulang. Akan tetapi mereka bertemu dengan mobil polisi Woo. Sersan Woo segera menghentikan mereka dan memanggil Jung Hoon, anaknya. Dia menginterogasi Jung Hoon, apa Jung Hoon membuat masalah? Jung Hoon dengan sikap sopan menjawab kalau dia tidak membuat masalah hari ini. Sersan Woo kemudian mengomeli dan memukulnya karena tidak menelpon ibu-nya dan memberitahu kalau pulang terlambat. Dia juga menasehati Sang Hwan dan lainnya agar serius belajar karena sudah SMA. Tetapi, setelah itu, dia menyapa Sang Hwan dengan ramah dan memuji ayah Sang Hwan yang pasti akan terpilih sebagai Gubernur. Dong Cheol terlihat iri mendengarnya.

Sersan Woo masih ingin terus bicara, tetapi pria mabuk yang mereka bawa tiba-tiba bangkit dan muntah di dalam mobil. Sersan Woo jadi lemas dan mual melihatnya, dia menyuruh petugas Choi untuk segera melanjutkan perjalanan. Setelah mereka pergi, Jung Hoon tersenyum senang.
Guseonwon,
Mobil polisi Sersan Woo dan Petugas Choi memasuki tempat Jung Ki. Wan Tae yang sedang sibuk menyanyi melihat mobil polisi itu dan terlihat sedikit tegang, tetapi dia berusaha mengabaikan dan terus bernyanyi.
Sersan Woo dan petugas Choi di jamu Eun Sil di ruangan. Sersan Woo berbasa-basi dengan memuji Eun Sil yang terlihat lebih muda setiap kali mereka bertemu.
“Disini, kami memiliki mata air yang membuat kau menjadi lebih muda,” beritahu Eun Sil.
“Maksudmu, Air Kehidupan?”  tanya Sersan Woo.
“Iya. Yang Maha Kuasa telah menganugerahkannya kepada kami.”
Tidak lama kemudian, Jung Ki masuk dan menyapa mereka. Mereka mulai berbincang-bincang dan ternyata Sersan Woo datang ke sana untuk mengantarkan pria mabuk tersebut. Jung Ki berterimakasih padanya karena telah membawa jiwa yang hilang untuk kembali ke Yang Maha Kuasa lagi.
“Sejak kau datang ke Muji-gun, kota ini bersih dari orang miskin dan tunawisma. Kami yang harusnya berterimakasih,” balas Sersan Woo.
Wan Tae kemudian masuk ke dalam ruangan dengan sebuah kotak. Jung Ki bertanya kepadanya, berapa banyak sisa ekstrak tanduk rusa mereka? Eun Sil-lah yang menjawab kalau ekstrak tanduk rusa mereka sudah di bagikan kepada orang tua hari ini dan masih tersisa 20kotak lagi. Jung Ki kemudian berbicara kepada Sersan Woo dan memintamaaf karena mereka memberikan tanduk rusa sisa, dia memberikan ekstrak tanduk rusa yang ada di dalam kotak yang dibawa Wan Tae untuk Sersan Woo.
Sersan Woo tentu menolak hal itu karena mereka tidak diizinkan untuk menerima hadiah. Wan Tae angkat bicara dan memberitahu kalau itu bukan suap tetapi ucapan terimakasih karena Sersan Woo sudah menjaga kota Muji siang dan malam. Dan anggap ini sebagai hadiah dari kerabat. Sersan Woo tertawa canggung dan menerimanya.
Eun Sil kemudian bertanya kepada petugas Choi kalau dia mendengar punggung ibu Eun Sil terluka. Petugas Choi kaget karena Eun Sil bisa tahu mengenai hal itu. Eun Sil segera memberikan ekstrak tanduk rusa itu dan berujar kalau itu adalah hadiah dari Yang Maha Kuasa untuk-nya. Eun Sil terlihat canggung tetapi tidak menolak.
Mereka akhirnya berbincang-bincang dan tertawa. Wan Tae melihat mereka dengan pandangan mencurigakan.
Sang Hwan dkk pergi ke sebuah pemandian di dalam sauna. Mereka bersenang-senang.

Keluarga Joo Ho, pergi ke sauna dan menghabiskan malam disana. Sang Mi dan Sang Jin makan malam dengan ramyeon sementara Bo Eun tidak berselara makan. Joo Ho sedang berada di sudut sauna dan menelpon Sung Ho. Joo Ho sudah berhasil menelpon Sung Ho dan dengan suara memelas bertanya kalau Sung Ho tidak menipu mereka kan? Dia tahu kan kalau uang itu adalah segalanya bagi mereka. Tetapi, Sung Ho malah tidak peduli dan dengan acuh menjawab kalau dia akan membayar kembali uang Joo Ho beserta bunga. Joo Ho  jelas marah mendengarnya di tambah lagi mendengar suara ribut tempat perjudian di telpon, dia tahu kalau Sung ho menggunakan uang itu untuk berjudi. Sung Ho yang kesal di marahi Joo Ho, segera berteriak : “Aku menipu, bodoh!” dan mematikan telpon. Joo Ho berteriak frustasi dan semakin frustasi saat dia tidak bisa lagi menelpon Sung Ho. Dan Sang Mi mendengar pembicaraan dari belakang saat dia mencari ayahnya yang tidak kunjung kembali. Joo Ho terkejut melihatnya.
Sang Hwan dkk selesai mandi dan sedang menghabiskan waktu dengan memainkan mainan dan komputer yang tersedia di sauna. Terlihat kalau para anak-anak berdiri mengantri di belakang mereka karena juga ingin bermain.
Joo Ho dan Sang Mi kembali ke tempat Bo Eun dan Sang Jin. Mereka melewati Sang Hwan dkk yang sedang bermain. Jung Hoon menyadari dan memberitahu kalau gadis dari Seoul berkulit pucat yang tadi mereka lihat di jalanan ada disana. Semua langsung bangkit berdiri dan mengikuti Sang Mi. Dan anak-anak langsung merasa senang karena akhirnya bisa bermain.
Mereka mengintip dari belakang dan merasa heran karena Sang Mi dan keluarga berada di sauna. Tadi kan mereka melihat mobil Joo Ho yang membawa banyak barang pindahan.
“Apa dia diculik?” simpul Jung Hoon tiba-tiba.

Semuanya langsung memarahinya karena membuat kesimpulan bodoh. Lagipula, tidak mungkin penculik membawa orang yang diculiknya ke sauna. Tiba-tiba. Sang Mi dan Joo Ho berbalik ke arah mereka, semuanya langsung menunduk bersembuyi di balik rak. Mereka ketakutan kalau akan ketahuan mengintip. Jadi, akhirnya mereka bermain batu-gunting-kertas untuk menentukan orang yang akan memeriksa apakah mereka ketahuan mengintip lagi atau tidak. Dan Jung Hoon yang kalah dan dengan terpkas dia yang bangkit untuk melihat. Tetapi, ketika dia melihat, keluarga Sang Mi sudah tidak ada lagi. Semua jadi bingung.
Keesokan harinya,
Joo Ho pergi ke tempat pertandingan adu sapi. Dia bertanya kepada satu-persatu pemilik sapi mengenai lowongan pekerjaan tetapi tidak ada satupun yang punya. Joo Ho jadi makin terpuruk.
Saat itu, Han Yong Min, berada di sekitar sana dan sedang melakukan kampanye. Para warga mengerubunginya dan memuji-mujinya. Joo Ho sendiri cuma memandang heran mereka. Yong Min kemudian menjabat Joo Ho dan berjanji akan menyediakan tempat bagi penggangguran sehingga bisa untuk tetap hidup di kota Muji. Para pendukungnya segera membagikan selebaran kepada semua yang ada disana termasuk Joo Ho. Yong Min terus berteriak menyuruh mereka untuk memilihnya untuk ketiga kalinya. Setelah itu, dia mulai pergi melanjutkan kampanye di tempat lain.
Seorang pria berteriak memanggil Joo Ho dan bertanya apa benar Joo Ho tadi mencari-cari pekerjaan? Joo Ho membenarkan. Pria itu segera menyuruh Joo Ho mengikutinya karena dia punya sebuah pekerjaan.
Rumah perlindungan untuk orang tua,  
Jung Ki sedang mengadakan pengobatan. Dia menyentuh tubuh-tubuh orang yang sakit di depannya dan berdoa untuk kesembuhan.

Wan Tae juga tiba disana. Dia membagikan sebuah kotak (sepertinya ekstrak tanduk rusa) kepada setiap orang tua yang sudah selesai di obati. Eun Sil berada di tempat perkumpulan orang tua dan membagikan kopi. Tetapi, dia juga menuangkan sesuatu kepada setiap kopi tersebut dan para orang tua itu berterimakasih padanya.
Jung Ki sudah selesai mengobati dan melihat apa yang dilakukan para asistennya. Dia tersenyum.

Sang Hwan dkk sedang merencanakan suatu aksi balas dendam. Jung Hoon sedikit takut tetapi yang lain meyakinkannya karena mereka kan melakukannya bersama-sama. Dan balas dendam apa yang mereka lakukan? Mereka menyemprot sebuah motor dengan cat semprot. Pemilik motor, yang juga seorang siswa SMA, melihat kelakukan mereka dan berteriak. Sang Hwan dkk langsung berlari kabur dengan motor mereka. Anak itu dengan teman-temannya berteriak kalau mereka sudah menandai wajah mereka dan akan membalasnya.  
Joo Ho bekerja di sebuah peternakan sapi. Pemilik peternakan memberitahu kalau dia tidak bisa memberikan gaji yang besar pada Joo Ho dan Joo Ho tidak mempermasalahkan hal itu. Joo Ho kemudian bertanya memastikan kalau dia mendengar kalau pemilik memberikan tempat tinggal dan makanan pada para pekerja, apa dia bisa mengajak beberapa orang lagi untuk tinggal bersama? Pemilik bertanya siapa yang mau diajak?
Dan Joo Ho membawa keluarganya ke rumah baru mereka. Itu artinya, pemilik mengizinkannya. Tempat tinggal itu hanya terdiri dari satu ruangan kecil. Sang Mi melihat dan menilai kalau ruangan itu tidak terlalu buruk dan yang penting mereka bisa tetap bersama. Bo Eun merasa lega mendengarnya. Joo Ho pun demikian karena keluarganya bisa menerima hal itu.
Mereka mulai membersihkan tempat itu dan menata barang-barang mereka.
Selesai berberes, mereka makan siang bersama. Joo Ho membuka suara dan meminta maaf pada keluarganya. Dia berjanji akan bekerja dengan giat dan mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik, jadi dia minta tolong agar semuanya mau bertahan hingga saat itu tiba.
“Ayah, kapan lagi kita akan merasakan ini? Udara bagus dan airnya bersih. Kita juga makan dengan ditemani suara sapi. Aku senang karena serasa seperti sedang kemah. Benar kan, oppa?” ujar Sang Mi.
“Ya, aku juga senang,” jawab Sang Jin, tersenyum.
Suasana sedikit mencair. Mereka mulai makan dan bercengkerama dengan bahagia.
Dan ternyata, Jung Ki melihat keluarga mereka dari jauh. Eun Sil menghampirinya dan bertanya ada apa.
“Mereka terlihat sangat bahagia. Bukankah kau kadang merindukannya?” tanya Jung Ki pada Eun Sil. Eun Sil terdiam.
Mereka ternyata di sana karena menemui pemilik perternakan sapi. Pemilik juga memberikan amplop uang kepada Wan Tae. Jung Ki tersenyum melihatnya.

No comments:

Post a Comment