Sinopsis Thai-Drama : Game Maya Episode 12 - 1



Content and Images by OneHD


Gun bersama Wit dan Jade berkumpul didalam markas. Lalu disana Jade memperlihatkan sebuah rekaman video kepada Gun, yaitu video saat Met memukul Koy, tapi yang terlihat disana hanya punggung Met bukan wajahnya. Jadi itu tidak bisa dijadikan bukti, kata Gun.

Tapi Jade berkata pada Gun,”Tapi kita bisa membawa Koy untuk mengenalinya.”

“Bukankah itu terlalu beresiko? Hanya bukti seperti ini tidak akan bisa.” Balas Gun.

Jade pun tersenyum, lalu ia memberikan sebuah flashdisk kecil yang ia temukan saat membersihkan apatermen Koy. Lalu mereka bertiga pun membukanya dan melihatnya bersama-sama.

“Radee pasti tau bahwa ia dalam bahaya. Jadi ia mengcopy dokumen2 nya.” Kata Gun.

Dikantor. Pat mengeluh kepada Prim karena para client telah banyak mengubunginnya, jadi ia ingin tau dimana Pim berada atau seseorang harus menggantikan Pim. Ketika itu Praew datang dan memberi salam pada mereka.

Lalu Prim menyuruh Pat untuk membiarkan Praew menggantikan Pim. Jadi Pat tidak terima dan marah, tapi Prim lebih marah lagi, dengan tegas Prim berkata pada Pat. Sehingga Pat terdiam.

Yang pasti Praew pun senang oleh karena hal itu.

Pim bersembunyi diam2 dan melarikan diri, tapi tiba2 Gun datang dari belakangnya. Jadi Pim pun melakukan pertahanan diri dengan mencoba memukul Gun. Dan dengan sigap Gun pun menahan Pim,”Kamu menjadi lebih baik.”

Gun lalu melepaskan Pim serta dengan serius mereka berlatih bertarung bersama-sama. Koy melihat itu semua dari jauh, tapi tanpa sengaja Pim malah mau terjatuh. Jadi Gun pun menahan badan Pim agar tidak terjatuh. Koy kaget melihat itu.

Lalu tiba2 sebuah telpon masuk, jadi Gun melepaskan badan Pim begitu saja. Sehingga Pim pun terjatuh,”Sial.”
Gun mendapat kabar dari Jade bahwa ada dua orang yang mati. Jadi Gun lalu menyuruh Koy untuk menjaga Pim. Sedangkan Pim yang mendengar itu, menyuruh Gun untuk berhati-hati.
Diapatermen. Gun, Jade, dan Wit, membahas masalah itu. Menurut Gun itu bukanlah bunuh diri, tapi Jade mengatakan bahwa dari bukti dan hasil autopsi, mereka mengatakan itu adalah kasus bunuh diri. Mende ngar itu Wit pun menjadi kesal, karena mereka tidak bisa melakukan apapun.

“Kita memiliki satu lagi. Aku yang akan menanganin mereka dengan menggunakan bukti yang Radee temukan.” Kata Gun.

Dikantor polisi, masing2 dari orang2 Win diperiksa. Yang pertama adalah Met, ketika polisi memperlihatkan sebuah video, dimana Met beserta2 orang2nya mencuri Koy.

Met tidak terlihat takut, ia malah tertawa serta mengatakan bahwa itu bukanlah dia. Tapi polisi itu segera membalas,”Korban bilang itu adalah kamu, begitu juga dua orang kamu.”

“Kemudian panggil mereka untuk bertanya. Panggil mereka.” Katanya sambil tertawa.

Yang kedua adalah karyawan Win, ketika polisi memperlihatkan bukti yang mereka dapatkan kepadanya.
“Aku bekerja di bagian ini, tapi aku tidak pernah melihat dokumen ini sebelumnya. Dokumen ini palsu. Radee adalah seorang karyawan, tapi ia tidak bekerja dibagian ini. Jadi tidak mungkin dia bisa mendapatkan dokumen ini.

Dan yang ketiga adalah Win. Disana Wit yang bertugas untuk menyelidiki Win. Jadi Wit pun bertanya,”Karyawan kamu bernama Radee, masalah apa yang dia miliki dengan kamu?”

“Dari apa yang aku tau, karyawan yang bermasalah di perusahaan kami selalu ada. Kami ingin dia keluar. Tapi sayangnya, dia malah meninggal.” Jawab Win.

Seorang pengacara yang duduk disebelah Win pun ikut bicara,”Jika kamu tidak punya pertanyaan, aku akan membawa klien ku untuk pergi.” Katanya.

Tapi sebelum Win pergi, ia menatap kearah kamera, dan mengatai mereka seperti menghina secara halus,”Aku mengira jika kamu tau orang yang berhubungan dengan almarhum? Bisakah aku mengirimkan bela sungkawa ku kepada mereka? Itu terlalu menyedihkan, dia harus mati secepat itu.”


 Jadi ketika mendengar itu, Gun pun menjadi marah dan keluar, lalu memukul Win. Tidak terima Win pun balas memukul Gun. Tapi Jade dan Wit menengahi mereka. Win pun menjadi semakin melunjak dengan berkata,”Turut berduka untuk kematian istri kamu ya.” Katanya lalu tertawa dengan keras dan pergi dari sana.
Gun pun berteriak frustasi dan kesal.

Koy mulai bicara kepada Pim yang sedang duduk merenung diluar,”Kelihatannya seperti kamu mengkhawatirkan Gun.”

Pim menyangkal. Lalu Koy mendekatinya,”Aku tidak tau, tapi bagus jika tidak. Karena kamu harus ingat, Gun hanyalah karyawan.”

“Aku tau.” Balas Pim singkat.

“Oh, satu lagi yang harus kamu ingat. P’Gun sudah punya pacar.” Kata Koy tepat disebelah Pim. Lalu ia pun masuk kedalam, meninggalkan Pim.

Bos Gun memarahi tindakan Gun itu. Dan ia menarik Gun keluar dari kasus ini dan bukan hanya ini, tapi juga tentang menjaga Khun Pimdao. Gun menjelaskan bahwa Bosnya seharusnya tau kalau Pimdao sedang dalam bahaya sekarang.

Tapi Bos Gun, menghentikan Gun,”Kamu tidak perlu khawatir. Tim kita akan mengirim seseorang untuk mengawasi nya dari jauh. Tapi sekarang aku harus menarik kamu keluar.”

Gun tidak bisa berkata2, begitupun dengan Wit dan Jade yang berdiri dibelakangnya. Lalu dengan sedih Gun meletakkan senjatanya diatas meja.

Dikantor. Ak marah kepada Win,”Aku mengira kamu bilang bahwa kamu telah melenyapkan semua bukti?!”
Dengan penuh percaya diri Win menjawab,”Jangan khawatir Ayah. Bukti milik Radee tidak berarti apapun untuk kita. Kita memiliki saksi yang bersaksi bahwa itu adalah dokumen palsu. Lagipula, Radee telah mati sekarang.”

“Lakukan apapun yang kamu inginkan. Tapi jangan  biarkan aku atau Dear terlibat masalah! Pergi urus segala sesuatunya, secepat mungkin! Kamu mengerti?! Pergi!” kata Ak memerintah Win.

Gun pulang ketempat Pim berada. Disana ia melihat Pim tertidur disofa. Lalu Gun duduk disamping  Pim, memandangnya, membelainya lembut. Sehingga Pim terbangun. Tapi Gun langsung berdiri dan mengambil minum dikulkas.

Gun pun bertanya mengapa Pim tidur disini, jangan bilang Pim menunggunya. Tapi Pim menyangkal mengapa ia harus melakukan itu. Lalu saat ia melihat wajah Gun, Pim pun segera membantu mengkompres wajah Gun yang memar,”Lain kali hati-hati ya. Aku tidak bisa selalu merawat kamu seperti ini. Kamu harus menmperhatikan dirimu sendiri juga. Berapa kali aku telah merawat kamu? Aku membayar kamu menjadi bodyguard, jadi kamu harus nya yang menrawat aku. Mengapa jadi aku yang merawat kamu?”

Pim masih terus berbicara, sedangkan Gun diiam memperhatikannya. Lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Pim, mereka hampir saja akan berciuman. Tapi Koy datang memanggil Gun, jadi Gun terkejut. Dan mereka berdua pun menjadi canggung.

Setelah itu Gun memberitahu Pim bahwa besok ia akan mengantar Pim pulang. Sedangkan Koy melihat Pim dengan pandangan tidak suka. Lalu Koy mengejar Gun yang pergi keluar, marah dan mengomel. Jadi Gun menyuruh Koy cukup.

Koy mendekati Gun,”Hanya ini, aku tau kamu tidak mencintai P’Radee lagi! Aku benarkan?! Jawab aku!” kata Koy sambil terus mendorong Gu. Tapi Gun hanya diam, jadi Koy pun marah dan masuk kedalam.

Gun sendiri terlihat antara kesal, bingung, sedih, dan bimbang.

Besok harinya, sesampainya Gun diapatermen Pim. Gun memberikan password baru untuk Pim dan memberitahu  bahwa pekerjaan nya telah selesai. Pim pun bingung dan bertanya maksud Gun.

Tapi belum Gun menjawab, Win datang serta menjawab.”Maksudnya, dari sekarang, tidak akan ada bodyguard bernama Lieutenant Gun Jitjariya.” Lalu Win mendekati Pim dan memegangin pundak Pim,”Pekerjaan kamu sudah selesai. Dari sekarang, ini giliran ku sebagai calon nya. Pergilah.”

Gun pun pergi dari sana dengan pandangan kesal. Pim masih tidak percaya dan menanyai Win. Didalam apatermen, Pim masih tidak mempercayai penjelasan Win. Jadi Win pun berkata pada Pim,”Kamu tidak sadar, tapi kamu telah banyak berubah. Pim, bisakah aku bertanya? Kamu punya perasaan untuk dia, kan.”

Lagi2 Pim menyangkal,”Gun hanya bodyguarku. Tidak lebih.”

Win memegang tangan Pim dan meminta maaf, karena telah berpikir berlebihan. Itu semua gara2 Pim telah pergi beberapa hari, makanya ia berpikir begitu. Lalu Win mengajak Pim untuk menikah dengannya. Tapi Pim tidak bisa menjawab.

Dan dengan lembut Win bertanya, apa Pim sudah tidak sama lagi? Pim membalas ia masih sama. Jadi Win meminta nya untuk menikah dengannya. Yang akhirnya disetujui oleh Pim, walau kelihatan dari wajahnya, Pim masih bimbang.

Gun membereskan semua barang2 dari apatermennya. Dan ia pun melihat gelang milik Pim. Gun memandangnya lama sekali, merenung.

Saat Gun akan pergi, ia melihat Win yang telah menunggu nya,”Aku pikir kita perlu bicara.” Kata Win.

Diatap mereka berdua bicara, ditemanin oleh Met. Tanpa basa-basi Win bertanya,”Berapa yang kamu inginkan?”
“Uang tidak bisa membeli nyawa orang.” Balas Gun.

“Tapi mungkin untuk seseorang yang masih hidup. Kamu tidak khawatir tentang Pim? Kamu bisa menolong Pim untuk selamat. Jika kamu ingin menolong Pim, ambilah uang itu kemudian. Dan apapun bukti yang kamu miliki, berikan itu kepadaku. Kemudian Pimdao akan aman.”

“Tidak akan terjadi apapun kepada Pimdao. Tapi kamu harus membayar karma mu dipenjara.” Balas Gun sambil menatap tajam Win.

Tapi Win malah tersenyum, karena ia akan menikah dengan Pimdao,”Diakhir sisi mana yang akan kalah?” tanyanya dengan sombong kepada Gun. Lalu mereka pun pergi dari sana. Dan Gun berdiri sambil memegang gelang tangan milik Pim itu.

Orang2 suruhan Dear, memberitahu bahwa Pim telah kembali. Dan mereka menyamar sebagai tukang perbaiki. Tepat ketika itu Gun keluar dari dalam lift dan melihat mereka berdiri tepat didepan apatermen Pim. Jadi Gun menanyai mereka ada apa?

“Kamu dibilangin bahwa listrik dikamar ini  mati, jadi kami datang untuk mengecek.” Jawab salah seorang dari mereka.

Gun terlihat tidak percaya,”Berapa nomor kamarnya?”

“427.” Jawab nya lagi.

“Tapi ini 227.” Kata Gun.

“Maaf. Mungkin kami naik kelantai yang salah.” Balasnya , lalu mereka pun pergi.

Gun akan memanggil mereka, tapi tepat itu Pim membuka pintunya. Dan saat Gun berbalik lagi, dua orang itu telah menghilang. Lalu gun pun mengomeli Pim yang terlalu gampang membuka pintu untuk orang2 seperti itu.
Pim tidak terima. Gun pun mengingatkan Pim,”Aku hanya ingin memperingatkan kamu untuk tidak membuka pintu untuk siapapun lagi.”

“Ooh, aku melihat itu kamu, makanya aku buka. Cerewet.”

Gun pun akan pergi, tapi Pim menghentikan Gun dan menanyakan mengapa Gun membawa tas besar seperti itu. Gun tidak menjawab.

Didalam apatermen Pim, mereka berdua berbicara. Dan Pim bertanya apa Gun akan pindah,  tapi Gun menjawab tidak. Setelah itu Gun pamit, tapi Pim menghalanginnya.

“Aku tidak lagi berada di agen rahasia atau depatermen kepolisian. Tapi sebagai bodyguard kamu, aku dibayar secara pribadi. Tidak berhubungan dengan depatermen kepolisian. Aku masih bekerja untuk kamu, jika kamu masih ingin aku untuk itu. Tapi jika kamu tidak mau …” Jelas Gun, tapi sebelum ia selesai bicara, Pim langsung memotongnya,”Aku ingin.” Kata Pim terlihat lega mendengar itu.


Lalu mereka pun saling terdiam dan canggung.

Post a Comment

Previous Post Next Post