Saturday, April 14, 2018

Sinopsis Thai-Drama : Ra Rerng Fai Episode 10 - 2

1 comments


 Company name : Citizen Kane

Dengan cemas. Trai, Nee, dan Kwan, duduk bersamaan diruang tamu sambil memperhatikan hp milik mereka masing-masing yang diletakan diatas meja. Tapi setelah sekian lama, mereka memperhatikan hp mereka, tidak terjadi apapun juga.



Hingga akhirnya, Nee mengatakan bahwa ia menyerah. Dan lalu sesudah itu, Trai pun ikut menyerah. Tepat ketika mereka bertiga menyerah dan akan pergi, tiba-tiba saja hp milik Kwan berbunyi.

Dan dengan cepat, mereka berkumpul kembali. Sayangnya, itu cuma pesan dari klien saja. Mengetahui hal itu, mereka semua langsung tampak kecewa.


“Kamu benar-benar tidak tau dimana kakakmu?” tanya Trai pada Nee.

“Aku tidak tau. Tidak perduli apapun, P’Krit tidak menculik Khun Da untuk dibunuh,” jawab Nee, membela Krit.

“Bisakah ia dipercaya? Kakakmu hampir saja membunuhku,” kata Trai, seperti memburukan tentang Krit.

“Kamu layak mendapatkan itu, kan?” balas Nee, tidak terima.



Tiba- tiba saja  Nee serta Trai mulai bertengkar. Nee tidak terima dengan ucapan Trai yang seperti bermaksud mengatakan bahwa dia (Trai) adalah orang baik sedangkan mereka adalah orang jahat (Nee dan Krit).



Trai langsung membenarkan bahwa yang ia maksud adalah Krit saja, bukan Nee. Dan menurutnya Yada berhak untuk mendapatkan orang yang lebih baik daripada Krit.




Kwan yang berada dibelakang mereka, hanya diam saja melihat dan mendengarkan mereka berdua berdebat. Tapi disaat ia, merasa bahwa suasana telah menjadi sangat buruk, maka ia pun maju untuk menenangkan mereka.

“Cinta adalah antara dua orang. Kita tidak bisa memutuskannya untuk mereka,” kata Kwan. Dan mendengar itu, Trai serta Nee langsung terdiam. Lalu dengan kesal, Nee pun pergi keluar.

Sementara Trai yang juga terdiam, hanya bisa membiarkan Nee begitu saja. Ia tampak seperti merasa bersalah.



Didapur. Ketika Krit sedang membuat kopi, Khem datang menemuinya. Ia ingin Krit untuk meminta maaf kepadanya, karena telah menghancurkan hidupnya. Karena menurut Khem, itu semua belum berakhir.


Tapi Krit sama sekali tidak mau meminta maaf, malah ia mengatakan bahwa seharusnya Khem berterima kasih kepadanya. Karena ia telah membuat Khem menjadi gadis yang kuat. Dan menurut Krit, segalanya telah berakhir.


“Dalam hidup, segala sesuatu, tidak harus selalu berakhir bahagia. Dalam beberapa cerita ada yang berakhir dipertanyakan seperti ini. Dan apa yang bisa kamu lakukan sekarang adalah melupakan aku,” tegas Krit. Lalu mau pergi dari sana sambil membawa cangkir kopinya.

Khem memegang tangan Krit dan menghentikannya. Ia meminta agar Krit berjanji untuk tidak menyakiti Yada seperti ia menyakitinya.



“Aku tidak percaya pada janji,” kata Krit, tidak mau berjanji. Lalu pergi. Dan dengan sedih serta marah, mungkin. Khem menatap Krit yang pergi begitu saja setelah menjawab seperti itu.



Dikamar. Khem serta Yada bersama-sama membereskan tempat tidur. Selama membereskan itu, Khem terus saja memperhatikan Yada. Dan lalu disaat itu, Tassana datang untuk membantu mereka.


Ketika itu, Krit juga datang menghampiri mereka, tapi bukan untuk membantu sama sekali. Melainkan untuk membawa bantalannya. Jika tidak ada bantalannya itu, ia mengaku sama sekali tidak bisa tidur.



Awalnya Yada merasa bingung dengan maksud Krit. Tapi tiba-tiba saja, Krit mengangkatnya. Dan dengan lembut Krit memberitahu,”Itu kamu. Bantalanku.”



Yada masih tidak mau dan menolak, ia terus meminta agar Krit melepaskannya, karena bagaimana bisa mereka membiarkan Khem dan Tassana tinggal bersama seperti itu.

“Kita semua sudah dewasa disini. Mereka bisa menjaga diri mereka sendiri,” jawab Krit dengan mudahnya. Tidak peduli. Dan tetap tidak mau melepaskan Yada.


Krit menurunkan Yada diatas tempat tidur, lalu menyuruhnya untuk tidur dengan tegas. Jadi karena itu, Yada pun berhenti melawan lagi. Tapi ketika Krit sedang lengah, ia buru-buru ingin kabur. Sayangnya, Krit berhasil menghentikan dan menahannya.



“Khun Krit! Khun Krit. Khem adalah wanita,” jelas Yada, meminta pengertian dari Krit.

“Tapi mereka berdua sudah pernah menghabiskan satu malam  bersama. Apa salahnya dengan menghabiskan malam yang lain bersama?”

“Bagaimana jika dia adikmu?”

“Aku tidak masalah dengan itu. Jika mereka adalah sepasang kekasih,” balas Krit.

“Tapi aku tidak. Itu tidak pantas,” kata Yada, tetap mau pergi keluar dari kamar.



Saat Yada masih mencoba untuk kabur. Maka Krit pun mengangkat Yada dan menurunkannya diatas tempat tidur. Lalu dengan lembut ia menjelaskan bahwa ia yakin Na tidak akan melakukan hal yang tidak pantas kepada Khem.

Dengan sekuat tenaga, Yada berusaha untuk melepaskan diri dari Krit yang menahannya. Tapi karena Krit lebih kuat, menahannya, maka Yada pun tidak bisa berbuat apapun.



“Jangan fokus pada orang lain. Mari fokus pada kita. Malam ini, kamu tidak sedang mabuk. Jadi jangan menggunakan itu sebagai alasan lagi,” kata Krit dengan lembut. Lalu perlahan Krit mendekatkan wajahnya pada wajah Yada.


Tapi Yada menolak Krit dan masih berusaha untuk melepaskan diri. Malah dengan sengaja, Yada lalu meraih bantal disebelahnya dan memakai itu untuk menutup wajah Krit yang berusaha mendekatinya.



Dikamarnya. Khem sama sekali tidak bisa tidur, jadi ia bangun dan lalu mendekati Tassana yang sedang tidur disofa. Dan menyadari apa yang sebenarnya Khem khawatirkan, maka Tassana menjelaskan dan memberikan pengertian pada Khem.



“Mereka adalah suami dan istri. Kita hanya orang luar. Jangan stress kan itu. Aku tau itu sulit, tapi kita harus….”

“Hal yang paling sulit bagiku sekarang adalah mencoba untuk tidak membencinya.”

“Untuk kakakmu? Hanya pikirkan urusan kita sendiri saja, maka segalannya akan baik-baik saja,”

“Tapi kamu masih bekerja dengannya. Aku tidak bisa menghidarinya begitu saja.”



“Aku akan bekerja dengan Krit tidak lama lagi. Aku mencoba untuk tidak membencinya juga. Siapa lagi yang berada dalam daftar hitam? Beritahu aku. Aku akan mengurunya untukmu,” kata Tassana, seperti untuk menenangkan Khem agar tidak terlalu khawatir.



“Kamu. Jika aku menangkap kamu masih bersekongkol dengan Krit, aku akan membunuhmu. Selamat malam ya,” balas Khem.

Dikarenakan penjelasan dan pengertian dari Tassana kepadanya, Khem pun tidak merasa khawatir lagi. Sedangkan karena jawaban tidak terduga dari Khem yang mengatakan itu, Tassana menjadi khawatir sendiri.



Ketika Yada masih saja mencoba untuk melarikan diri keluar dari kamar. Krit pun langsung menarik Yada kembali dan mendudukannya diatas pangkuannya. Lalu dengan mesra, ia pun terus mengganggu dan menggoda Yada.


Dan dengan bercanda, Yada berkata bahwa Krit jangan berharap, kalau ia akan berlari kepadanya lagi. Apa yang terjadi kemarin malam, itu adalah karena ia kasihan kepada Krit.


Mendengar perkataan Yada, walaupun itu hanya sekedar bercandaan saja. Krit langsung terdiam dan tidak bereaksi sama sekali. Lalu tiba-tiba saja, ia berkata bahwa ia akan tidur diluar saja.


Menyadari bahwa Krit tersinggung akan perkataannya, Yada pun jadi merasa bersalah. Ia memeluk Krit dari belakang dan menahannya. Lalu ia pun meminta maaf kepada Krit, karena ia tidak bermaksud seperti itu.



“Aku sudah cukup dikasihani orang. Aku ingin seseorang yang mengerti diriku. Aku ingin kamu, Yada,” kata Krit sambil berbalik dan menatap Yada.

Dengan perlahan, Krit mendekat dan mencium kening Yada. Dan ketika ciuman Krit berubah menjadi lebih lagi, Yada diam dan membiarkanya. Bahkan dengan lembut, ia membalasnya.



Pagi hari. Diruang tamu. Krit sedang melihat semua surat lama yang ia tulis untuk Ayahnya. Dan pada saat itu, Yada keluar dari kamarnya sambil membawa koper. Lalu ketika ia melihat Krit, ia pun mendekatinya.


“Apa kamu ingin membawa ini balik denganmu?”

“Tidak. Tinggalkan saja disini. Segalanya ini adalah sisi gelapku. Jadi aku akan meninggalkannya disini,” balas Krit sambil membereskan semua surat-surat itu dan memasukan nya kembali kedalam tas.



Mendengar itu, Yada menyemangati Krit. Ia berkata bahwa mulai sekarang hidup Krit akan lebih baik dan baik lagi, jika Krit mau melakukan hal yang benar. Tapi Krit membalas bahwa ini adalah bulan madu mereka, jadi ia tidak mau membahas topik yang membuat stress seperti ini.


Yada lalu melihat kearah lukisan rantai dengan borgol besar yang telah terbuka. Ia mengakui bahwa lukisan tersebut membuatnya merasa stress dan takut, setiap kali ia melihatnya.

“Bisakah kita membuang itu?” tanya Yada kepada Krit.




Teringat akan kenangan tentang Ayahnya. Krit kelihatan tidak mau membuang lukisan itu. Dan saat Yada bertanya seperti itu kepadanya. Maka Krit lalu mengambil sehelai kain putih besar dan menutupi lukisan itu.

Setelah itu ia pun berdiri diam disana.



Tassana dengan ramah, membukakan pintu mobil dan membiarkan Khem untuk masuk terlebih dahulu. Lalu sesudah itu, dengan agak tampak lesu, Tassana berjalan dan masuk ke dalam mobil juga.

“Apa ada yang salah?” tanya Khem heran dengan sikap Tassana itu.

“Tidak,” balas Tassana, singkat, sambil menggelengkan kepalanya.



Dihalaman rumah. Krit berdiam disana sambil memandangin pemandangan. Dan ketika Yada mendekatinya, ia berbalik dan tersenyum.



“Lain kali, ayo kembali lagi kesini,” kata Krit sambil memegang tangan Yada.

“Beritau aku kalau begitu,” balas Yada.

“Aku akan membawamu kesini dengan hati-hati. Haruskah kita meletakan bomb disekitar tempat ini?” canda Krit.

“Jangan bertindak kejam. Itu tidak keren.”

“Aku keren. Orang menyebutku, aku keren dan pintar.”



“Dan juga seorang pria yang bisa dicintai.”

“Mengapa tidak bilang saja kamu mencintai dia?” tanya Krit. Dan Yada pun hanya tersenyum saja.



Dengan serius, Krit memegang bahu Yada dan mengatakan Aku mencintaimu. Dan mendengar itu, Yada bukannya membalas aku mencintaimu juga, tapi hanya bilang terima kasih. Jadi mendengar itu, Krit pun tertawa dan mengatainya.




Tanpa mengatakan aku mencintaimu, Yada yang mungkin sedang merasa malu, hanya tertawa, lalu berlari pergi menjahuhi Krit. Dan tentu saja, Krit tidak membiarkan itu. Jadi ia pun mengejar Yada dan menangkapnya.

“Cepat atau aku akan menciummu,” kata Krit, meminta Yada mengatakan aku mencintaimu. Tapi dengan hanya tersenyum, Yada tetap saja diam.



Jadi Krit pun mendekatkan wajahnya untuk mencium Yada, tapi Yada tetap tidak mau mengatakan itu dan hanya diam saja sambil terus tersenyum. Dan karena Yada tetap tidak mau mengatakan itu, maka Krit pun berhenti mengganggu Yada.




“Suatu hari, aku akan membuatmu mengatakan aku mencintaimu padaku,” kata Krit dengan lembut, lalu ia pun memeluk Yada. Dan Yada pun membalas pelukan Krit itu.



Disaat Krit dan Yada kembali kehotel. Ping langsung meminta maaf dan mengaku, karena dialah yang telah memberitahu kepada Tassana bahwa Krit serta Yada sedang pergi berbulan madu.

“Ini terakhir kalinya. Jika kamu terus membuat kesalahan…” kata Krit, mengingatkan Ping.

“Ya, boss.”



Ketika Ping telah keluar, Krit berjalan menuju kearah jendela dan lalu membuka semua tirai-tirai jendela yang tertutup, agar cahaya bisa masuk kedalam. Dan lalu Yada membawakan segelas air untuk Krit. Mereka duduk bersama disofa.



“Tempat ini benar-benar tidak terlihat seperti sebuah rumah,” kata Krit, memulai pembicaraan sambil menatap kedepan.

“Kamu mungkin terbiasa menjalanin gaya hidup seperti ini,” balas Yada.

“Aku tidak suka tinggal ditempat gelap seperti ini,” kata Krit sambil tersenyum pada Yada.

“Maksudku, kamu terbiasa hidup seperti mafia. Bisakah kamu berubah?” tanya Yada.



“Aku bisa berubah,” jawab Krit dengan serius. Dan mendengar itu, Yada tersenyum senang. Tapi tiba-tiba saja, Krit melanjutkan bahwa ia bisa berubah dari hotel ke rumah.

Jika Yada ingin rumah, sebuah rumah untuk keluarga mereka, maka ia akan mecarikannya. Dan mendengar itu, Yada pun berhenti tersenyum, lalu ia pun memanggil nama Krit, berusaha untuk membuatnya serius.



“Dari sekarang, kita akan punya anak. Kita tidak bisa membiarkan anak kita hidup seperti ini. Aku ingin 4 anak. 4 adalah nomor keberuntungan,” kata Krit, serius. Tapi tidak menjawab sama sekali pertanyaan Yada.

“Kamu belum tanya ke aku, apa aku mau punya anak denganmu?” balas Yada, kembali tersenyum pada Krit.




“Jika kamu tidak mau punya anak dariku, maka anak siapa yang kamu mau? Apa kamu pernah dengan kata ini, ‘Jangan sentuh wanitaku’,” kata Krit sambil menarik Yada lebih dekat padanya.

Dengan mesra, Krit memeluk Yada dan tersenyum kepadanya. Dan dengan sama bahagianya, Yada tersenyum kepada Krit serta membiarkan Krit memeluknya.



Tepat disaat yang seperti itu, hp Yada yang berada diatas meja makan berbunyi, Jadi Yada pun melepaskan dirinya dari pelukan Krit dan lalu mengangkat telpon yang ternyata berasal dari Trai.

Lalu dengan terburu-buru, setelah berbicara dengan Trai ditelpon. Yada segera mau pergi keluar. Dan melihat itu, Krit pun bertanya, ia akan kemana.

“Kita akan bicara nanti,” kata Yada, tidak menjelaskan. Lalu pergi. Dan Krit pun menjadi bingung sendiri, ketika ia melihat itu.



Dirumah. Setelah Trai selesai berbicara dengan Yada ditelpon. Dilok pun menghampirinya, lalu sambil menepuk pelan pundak Trai, ia memujinya.

“Pergi temui Da. Lakukan seperti yang kukatakan,” perintah Dilok.

“Ayah!” balas Trai, tampak tidak mau.

“Kamu sudah berjanji kepadaku,” tegas Dilok. Dan tanpa bisa melawan, Trai pun pergi dari sana.



Ping datang dan melaporkan pada Krit bahwa menurut sumber mereka, Dilok ada membuka sebuah bisnis baru. Hanya mendengar itu saja, Krit sudah bisa menebak bahwa itu adalah skema Ponzi (modus investasi palsu). Dan Ping membenarkan.


Dikantor. Yada merasa heran, ketika melihat beberapa orang orang baru disana dan mereka sedang mengangkat barang-barang, merubah susunan peralatan didalam ruangan.


Lalu Trai yang baru datang, mendekati Yada. Ia menjelaskan kepada Yada bahwa B-Star bukanlah milik mereka lagi, karena Sharkrit telah mengambil dan menghancurkannya. Untuk detailnya, ia menyuruh agar Yada bertanya sendiri kepada Ayah mereka.



“Khun Krit telah melepaskan B-Star,” balas Yada, tampak tidak percaya.

“Antara Sharkrit dan Ayah, siapa yang kamu percaya? Dia menghancurkan bisnis dan keluarga kita. Jika kamu masih mempercayai dia, aku akan bilang satu hal. Kamu ditipu,” jelas Trai dengan serius.



Dan mengetahui itu, Yada tampak sangat marah serta menangis dengan sedih. “Apa yang harus kita lakukan padamu? Mengapa? Mengapa?!!”


Melihat reaksi Yada yang seperti itu. Trai tampak sangat bersalah, tapi ia sama sekali tidak membenarkan atau memberitahukan kebenarannya kepada Yada. Melainkan ia hanya diam saja.

1 comment:

  1. Suka suka suka😁😁😁😁😁cpt jga snpsnya. Mkasih...

    ReplyDelete