Tuesday, June 19, 2018

Sinopsis C-Drama : MoonShine and Valentine Episode 8 - part 3

1 comments



Broadcast Network        Tencent



Jia Lin menelpon orang di Amerika, namun hasilnya tidak baik. Dan setelah selesai ia bertelponan, ia segera menelpon Tian Xin.


Pi Pi mengetikan pesan kepada Jia Lin. Ia menanyakan dimana Jia Lin berada dan menceritakan kalau ia telah keluar dari pekerjaannya. Namun Pi Pi ragu dan menghapus semua ketikannya.



Tian Xin membantu Jia Lin untuk bertelponan dengan orang di Amerika. Dan tampaknya hasilnya baik. Karena setelah Tian Xin menelpon, Jia Lin langsung mengambil kembali hpnya dan berterima kasih.



Jia Lin mulai membereskan kopernya. Lalu disaat itu, ia teringat dan bertanya apa Tian Xi akan ikut dengannya.

“Visaku belum berakhir. Aku tidak punya hal lain untuk dilakukan. Jadi aku akan pergi. Mungkin saja aku bisa membantumu,” kata Tian Xin sambil tersenyum.


Jia Lin mulai membereskan semua barangnya. Disana ada sebuah toples makanan dan Tian Xin menyarankan agar Jia Lin membawa itu. Namun Jia Lin membalas kalau ia tidak memelurkan itu.



Disaat itu Tian Xin menemukan dokumen yang berisi foto kecil Jia Lin serta sebuah surat. Dan tepat ketika itu, bel rumah berbunyi. Jadi Jia Lin pergi untuk melihat.



Ketika melihat Pi Pi yang datang dari interkom. Jia Lin dengan sengaja, menyebut nama Pi Pi dengan keras. Sehingga Tian Xin juga jadi tau. Dan karena Pi Pi bilang bahwa ada yang ingin ia bicarakan, maka Jia Lin membuka pintu.



Namun sebelum itu, Jia Lin meminta agar Tian Xin bersembunyi dulu sebentar.

“Sudah bilang ke dia?” tanya Tian Xin dengan suara kecil.

“Belum. Aku khawatir dia akan… ini waktu yang buruk. Aku akan memberitahunya, ketika aku kembali. Kamu harus bersembunyi dulu,” balas Jia Lin.



Jia Lin mengizinkan Pi Pi untuk masuk kedalam rumahnya. Namun karena disana ada Tian Xin yang sedang bersembunyi, maka Jia Lin sedikit menahan agar Pi Pi tidak masuk terlalu jauh kedalam rumahnya.



“Jia Lin… ini…” kata Pi Pi heran, saat melihat semua barang milik Jia Lin.

“Aku akan ke Amerika besok,” balas Jia Lin, memberitahu.

“Hah? Cepatnya?” balas Pi Pi agak terkejut.

“Orang pengiriman menghilangkan ijazahku. Jadi sekolah memberitahu ku kalau aku masih bisa menyerahkannya pada akhir minggu. Makanya aku kesana besok,” jelas Jia Lin.


Tepat disaat Pi Pi mau mulai bercerita. Jia Lin mendapatkan sebuah panggila telpon, jadi ia menyuruh Pi Pi untuk menunggu sebentar.



Tian Xin bersembunyi dibalik tembok. Disana ia membuka surat yang ditemukannya tadi. Dan ia membacanya.



Halo. Jia Lin yang dimasa depan.

Kamu mungkin seorang ilmuwan yang hebat sekarang. Aku selalu tau kamu bisa melakukan itu. Aku pikir kamu sangat pintar. Kamu murid yang baik dan kamu begitu berani. Kamu bisa melakukan apapun. Aku akan selalu mendukungmu. Aku akan menolongmu menjadi ilmuwan terbaik diseluruh dunia.



Pi Pi mulai bosan, menunggu Jia Lin yang sibuk bertelponan. Jadi ia iseng dan mengambil toples makanan yang dilihatnya. Ia memperhatikan toples makanan tersebut, namun Jia Lin yang melihat itu, merebutnya.

Sehingga dengan canggung. Pi Pi tidak menyentuh apapun lagi.



Jika kamu menjadi seorang ilmuwan. Akankah kamu masih bermain denganku? Kamu adalah yang terbaik di dunia. Nah, aku akan menjadi kedua yang terbaik. Atau… aku bisa menjadi asistenmu. Gimana?

[Guan Pi Pi]


Selesai membaca surat milik Pi Pi. Tian Xin menjadi tampak lemas. Ia menaruh kembali surat itu dan bersandar di dinding.



Setelah Jia Lin telah selesai bertelponan. Pi Pi langsung menceritakan kalau ia sudah berhenti dari pekerjaannya. Dan mendengar itu, Jia Lin jadi tampak bingung.



“Aku mungkin akan segera ke Amerika juga. Jadi aku harus belajar dulu. Aku mungkin akan mulai bekerja part-time juga. Jadi aku ingin mempersiapkan untuk itu. Aku tidak bermaksud memaksamu. Kita masih bisa tetap seperti ini,” kata Pi Pi.



“Pi Pi. Kamu tidak seharusnya.. aku ingin membicarakan tentang kepergianku ke Amerika dan beberapa hal lainnya. Tapi bisakah kita menunggu sampai aku kembali?” potong Jia Lin.



Sambil tersenyum, Pi Pi mengiyakan. Lalu ia menanyakan apa Jia Lin bebas malam ini. Dan Jia Lin menjawab kalau dia makan malam dengan penasihatnya.



“Baiklah. Aku akan menunggumu sampai kamu kembali saja,” kata Pi Pi dengan penuh pengertian. Lalu menawarkan diri membantu Jia Lin membereskan barangnya, tapi Jia Lin menolak dan meminta agar Pi Pi pulang saja.

Tian Xin yang mendengarkan pembicaraan itu dari balik tembok. Tampak sedih. Lalu Jia Lin datang mendekatinya.



“Aku merasa begitu bersalah sekarang,” kata Tian Xin.

“Aku pasti akan memberitahunya, ketika waktunya tepat,” balas Jia Lin.

“Janjilah padaku. Kamu harus memberitahunya ketika kamu kembali kesini. Aku tidak mau berbohong kepadanya lagi,” kata Tian Xin sambil menatap Jia Lin.

“Okay,” balas Jia Lin.



Disaat itu Tian Xin mendapatkan telpon dari Pi Pi yang mengajaknya untuk bertem dan berjalan- jalan. Namun Tian Xin menolak dengan alasan kalau dia masih disekolah dan akan pulang agak malam.



Di pinggir sungai. Pi Pi duduk disalah satu bangku yang berada disana. Ia tampak sedih, karena tidak ada satupun yang menemaninya.

Tanpa menyadarinya. Kita mulai bersembunyi dari seseorang. Mungkin kita takut terluka. Mungkin kita takut untuk melukai mereka.



Masa depan kita yang ambisius dan kewajiban kita membuat kita menyerah pada aturan kita. Kita kehilangan keberanian kita.




He Lan memperhatikan Pearl miliknya. Dan setelah itu, ia menyimpan kalung Pearl miliknya itu kedalam sebuah kotak kecil.

1 comment: