Sunday, June 24, 2018

Sinopsis K-Drama : Ms. Hɑmmurɑβi Episode 03 - 2

2 comments
Images by : JTBC
O Reum pamit pulang duluan dan membawa beberapa berkas yang akan di kerjakannya di rumah, sementara Ba Reun memilih untuk bekerja lembur. Saat pulang dan hendak masuk lift, O Reum sedikit ketakutan. Sepertinya, trauma saat menjadi pekerja paruh waktu saat itu masih menghantuinya. Tiba-tiba Ba Reun muncul dan menekan tombol lift sepertinya dia merasa khawatir dengan O Reum sehingga dia buru-buru mengejar O Reum. O Reum menyadari hal itu, dia dapat melihat keringat Ba Reun yang mengalir deras karena berlari mengejarnya. Dan Ba Reun bahkan belum melepaskan bidal di jari jempolnya.
Esok hari,
Sidang lanjutan untuk kasus tn. Yim akan dilakukan. Bo Wang datang mengunjungi mereka lagi dan berkata akan datang untuk menonton jalannya sidang. O Reum menyindir Bo Wang yang pasti sangat pintar hingga punya banyak waktu luang sementara dia harus bekerja lembur setiap hari. Dia bahkan meminta tips dari Bo Wang. Dan Bo Wang malah membual kalau dia itu lulusan teknik elektro dan membuat sebuah robot bernama Alphango yang bisa membuat putusan. Ba Reun menyindir Bo Wang yang berbohong dengan cara kekanak-kanakan. Bo Wang balas mengomeli Ba Reun yang mengganggu ceritanya padahal O Reum hampir percaya tadi. Bo Wang bahkan memberitahu kalau pegawai dept mereka, Kim Dong Hoon, sampai hari ini masih mempercayai ceritanya itu. Tetapi Ba Reun dengan tegas mengusirnya pergi dan tidak mengganggu.
Dan setelah Bo Wang keluar, Ba Reun memberitahu kalau Bo Wang memiliki kasur lipat di kantornya, jadi kantor ini sama saja dengan tempat tinggalnya. Bahkan saat masih kuliah, Bo Wang selalu menginap di laboratorium.
Persidangan di mulai.
Kali ini tergugat di minta maju dan memberikan keterangan. Tetapi anehnya, pengacara nya seolah tidak membela nya. Kasus ini di mulai saat pacar pegawai magang tersebut menggunggah ke akun media sosial chat yang dikirimkan tn. Yim pada pegawai tersebut. Dan karena itu tn. Yim di pecat.
Para hakim heran termasuk Bo Wang yang melihat jalannya sidang merasa aneh melihat sikap pengacara tergugat yang seolah memojokkan tergugat. Dia bertanya dengan ogah-ogahan. Ba Reun saja dapat merasa seolah pengacara ingin menekankan kalau tn. Yim di pecat hanya karena chat yang di sebarkan tersebu, seolah-olah pengacara tersebut ingin tn. Yim yang memenangkan kasus.
Selanjutnya, pengacara tn. Yim maju dan berbicara dengan keras di depan wajah peg. Magang. Dia meminta agar pegawai itu menjawab dengan jujur semua pertanyaannya karena ini semua menyangkut hidup seorang kepala keluarga. Hakim Han menegurnya, ini bukan drama, pertanyaan dapat di ajukan dari tempat duduk pengacara dan tidak perlu menghampiri tergugat. Pengacara dengan malu kembali ke tempat duduknya.
Pengacara bertanya kalau bukankah pekerja di periklanan mereka sering harus minum dan menerima lelucon kasar? Bukankah tn. Yim sudah pernah mengatakannya? Pegawai tersebut membenarkan. Dan pengacara semakin memojokkannya. Pegawai memberitahu kalau tn. Yim selalu mengiriminya pesan tidak sopan seperti itu setiap malam. Pengacara menanyakan buktinya. Tetapi, pegawai memberitahu kalau pesan - pesan sebelumnya sudah dia hapus langsung saat menerima pesan itu karena merasa jijik. Pengacara berteriak menyebut tergugat sudah berbohong dan bisa masuk penjara.
Hakim Han menegur pengacara yang menuduh tergugat seolah dia penjahat, posisi tergugat saat ini masih dalam kategori saksi. Pengacara tertawa dan meminta maaf. Dia beralasan kalau dia hanya terbawa suasana dan merasa sedih.
Tn. Yim kemudian menundukkan kepala dan meminta maaf berulang kali. Dia memberitahu kalau dia khilaf.

Selanjutnya pegawai wanita yang bekerja bersama tn. Yim di panggil dan diminta keterangan. Wanita pertama, bekerja sebagai asisten manajer, memberi keterangan kalau tn. Yim memberikan banyak kontribusi untuk perusahaan. Bahkan iklan tn. Yim yang bernuansa seksual menjadi terkenal. Dan karena itu tn. Yim selalu bercanda dalam konten dewasa bersama para pegawai. Dan mereka sadar kalau itu hanya candaan, lagipula untuk bertahan di masyarakat yang berpusat pada pria, dia merasa wanita harus agar berkompromi. Pernyataanya seolah menyudutkan pegawai magang tersebut yang membesar-besarkan masalah chat. Dan selama sidang kita dapat melihat kalau para pegawai wanita dan pria yang datang sidang memberikan dukungan kepada tn. Yim.
Di tambah lagi, selama pernyataan saksi yang semuanya membela tn. Yim, pengacara tergugat seolah tidak peduli dan tidak mengajukan pertanyaan. Pegawai magang sampai menangis sedih karena tidak ada yang berada di pihaknya.
Saksi-saksi lain merasa kalau pegawai magang itu hanya sulit berbaur dan sensitif. Juga selalu mencari perhatian. Pegawai magang itu menangis keras karena tidak ada yang berusaha membantunya.
O Reum melihat hal itu dan teringat saat dulu SMA dia mengikuti kursus, dan gurunya selalu memegang-megang tubuhnya tetapi saat itu dia tidak berdaya dan tidak bisa melawan. Dia terlalu takut saat itu.
Seorang pegawai wanita berbaju merah muda, terlihat berulang kali melihat ke arah pegawai magang dan merasa kasihan. Tetapi, pada akhirnya, pernyataan pegawai itu hanya memojokkan pegawai magang.
Pengacara tn. Yim terus meminta agar hakim menghentikan sidang. Ba Reun tentu heran karena tergugat bahkan belum menyampaikan pembelaan. Hakim Han akhirnya memutuskan karena sudah tidak ada lagi pertanyaan, dia menutup sidang. Keluarga tn. Yim sangat senang mendengarnya. Pegawai berbaju pink itu terlihat menunjukkan wajah bersalah. Sementara pegawai magang menangis semakin keras. Ba Reun dan O Reum sendiri kaget melihat keputusan Hakim Han.
Hakim Han melanjutkan perkataannya kalau mereka akan memperpanjang sidang satu hari lagi. O Reum dan Ba Reun lega mendengar hal tersebut. Sementara pengacara tn. Yim protes. Apa lagi yang mau di tanyakan?
“Hakim harus meninjau berkas dan berdiskusi. Putusan di sampaikan berikutnya. Sidang di tutup hari ini. Silahkan bubar. Terimakasih,” putus Hakim Han.
Saat dalam perjalanan kembali, Hakim Han bercerita kalau dia adalah penggemar bisbol profesional dan pertandingan-pertandingan yang mirip judi. Dan saat dia merasa penasaran terhadap hasil suatu pertandingan, dia akan menontonnya lagi dan melakukan analisa. Mungkin kebiasaan itu di perolehnya karena profesinya. Dia juga tahu jika dia mengakhiri sidang, O Reum pasti akan memukulnya.
“Peduli dengan kasus itu bagus, tapi jangan sampai terlihat,” nasihat Hakim Han pada O Reum. “Beri jarak. Atur ekspresimu.”
O Reum dan Ba Reun senang dengan keputusan Hakim Han yang menambah hari sidang.
Bo Wang datang menemui mereka dan protes mengenai jalannya sidang. Dia merasa sidang tadi telah di rekayasa dan merasa semua orang keterlaluan. Sek. Lee masuk untuk memberikan berkas pada O Reum dan Bo Wang jadi canggung. Dia bahkan jadi lebih memperhatikan lekuk tubuh sek. Lee. Dan saat ketahuan, dia segera mengalihkan pandangannya dan berbicara omong kosong. Dan pada akhirnya, dia meminta maaf pada sek. Lee.
Ba Reun merasa aneh, kenapa perusahaan seolah-olah membela tn. Yim. Seharusnya mereka tidak perlu memecat tn. Yim jika pada akhirnya mereka akan memaafkan dan membelanya. O Reum setuju, kenapa perusahaan mempersulit keadaan ini?

O Reum tiba-tiba bertanya, siapa orang yang punya kuasa atas perusahaan periklanan? Dan sek. Lee angkat bicara, dia memberitahukan kalau perusahaan komestik yang sering tampil di iklan tv adalah perusahaan tergugat.  
“Perusahaan komestika peduli dengan konsumen wanita,” simpul O Reum.
“Melaporkan pelecehan seksual di jejaring sosial itu perkara besar. Telusurilah pelecehan seksual dalam iklan,” saran sek. Lee. “Kurasa pacar pegawai magang itu murka dan mengunggah sesuatu pada awal kasus.”
Dan O Reum segera memeriksa akun medsos pacar pegawai magang itu dan menemukan kalau pacarnya meng-upload banyak sekali chat tn. Yim. Dan karena hal itu, para wanita mengamuk dan perusahaan berpura-pura kalah sidang pertama dan menerima untuk melakukan pemecatan pada tn. Yim. Dan setelah kasus mereda, perusahaan mendukung tn. Yim melakukan banding agar tidak di pecat.
O Reum kemudian bertanya, darimana sek. Lee bisa mengetahui hal ini? Sek. Lee berkata kalau dia menyelidiki karena tidak percaya dengan pernyataan saksi. Bo Wang melihatnya dengan tatapan kagum dan memuji sek. Lee yang sangat keren.

Hakim Han dan tim melakukan rapat. O Reum dan Ba Reun menyampaikan spekulasi mereka bahwa sepertinya ada persengkokolan. Hakim Han mengerti dan sekarang mereka punya bukti pesan yang tersebar di medsos. Akan tetapi, sulit untuk menunjukkan kebersalahan tn. Yim. Ba Reun memberikan ide untuk memanggil saksi dengan wewenang mereka. Hakim Han merasa kalau itu sulit untuk memanggil saksi yang pernah bersaksi kembali ke pengadilan.
“Saat Anda mencurigai kemenangan yang curang, bukankah Anda ingin pertandingan ulang?” tanya O Reum.
“Alih-alih memanggil semuanya, bagaimana jika memanggil satu saja?” tawar Ba Reun.
“Saksi nomor empat,” pinta O Reum.
Saksi nomor empat adalah pegawai yang memakai baju warna pink dan terus menerus melihat ke arah pegawai magang. Dan akhirnya, Hakim Han menyetujui memanggil kembali saksi itu. Tetapi, dia meminta mereka untuk menyiapkan semuanya dengan matang.
Di rumah,
Hakim Han memiliki 2 orang putri yang masih bersekolah. Salah seorang putrinya memberitahu kalau terkadang saat sedang berganti baju olahraga, guru olahraga mereka bisa masuk ke dalam dan melihat mereka berganti. Guru itu sudah tua dan suka berbicara dengan siswi yang berdada besar. Hakim Han tentu marah mendengarnya tetapi putrinya malah menganggap kalau mungkin guru itu tidak sengaja. Hakim Han berkata dia akan pergi ke sekolah dan melaporkan hal ini agar guru tersebut di pecat. Istrinya mengingatkan kalau hari ini Hakim Han ada jadwal sidang, biar dia saja yang ke sekolah dan membicarakan hal ini.
Istri-nya kemudian menegur anaknya satu lagi yang memakai rok dengan sangat pendek. Putrinya menggerutu kalau dia merasa panas.
Hakim Han terlihat tidak nyaman. Dia mungkin takut jika kedua putrinya menjadi korban pelecehan seksual.
Sidang sudah di mulai,
Para hakim mulai bertanya kepada saksi mengenai pegawai magang dan tn. Yim tapi saksi selalu menjawab : ‘Entahlah. Tidak tahu.’ O Reum kemudian meminta saksi untuk melihat chat yang dikirimkan tn. Yim kepada pegawai magang, tetapi saksi menolak. Tetapi, O Reum terus menampilkannya dan meminta saksi untuk melihat layar walau saksi bersikeras tidak mau. O Reum tentu heran, karena di salah satu pertanyaan, saksi menjawab ya kalau pesan yang dikirimkan tn. Yim kepada pegawai magang adalah pesan lelucon biasa.

Ba Reun kemudian bertanya sebelum menjadi pegawai tetap, saksi juga pernah menjadi pegawai magang 2 tahun lalu kan? Saksi membenarkan. Ba Reun kemudian bertanya kedekatan pegawai tetap itu dengan pegawai magang dan dapat menyimpulkan kalau saksi dekat dengan korban. Saksi berusaha membantah.
Ba Reun bertanya, saksi dekat dengan korban dan jika mereka asumsikan seluruh pegawai membantu tn. Yim, bagaimana perasaan korban? Siapa orang yang bisa membantunya tanpa berpaling? Saksi merasa tidak nyaman dan menjawab ‘entahlah.’
O Reum memberitahu kalau saksi sudah menjalani sumpah, tetapi jika di saat interogasi saksi meralat pernyataannya mungkin karena baru mengingat hal penting, dia tidak akan dihukum. O Reum berkata kalau semua orang pasti pernah salah, karena itu pengadilan memberikan kesempatan untuk memperbaikinya, sebelum terlambat.
Pengacara tiba-tiba bangkit berdiri dan berteriak kalau tim satu (tim dalam perusahaan) adalah tim solid yang berpusat pada penggugat, dan tergugat hanyalah orang luar pengganggu keluarga. Dan ada juga rumor kalau tn. Yim di fitnah oleh saingannya sebelum di promosikan. Dia meminta persetujuan saksi.
“Sehangat keluarga? Keluarga Anda pasti bahagia,” saksi mulai membuka suara karena tidak tahan dengan pernyataan pengacara. “Keluarga saya tidak pernah berhenti bertengkar.”
“Anda tidak pernah merasa dilecehkan oleh lelucon penggugat, bukan? Asisten manajer juga wanita seperti Anda, tapi dia bisa tertawa,” ujar pengacara.
“Wanita seperti saya? Dia mengincar posisi eksekutif wanita pertama. Dia juga menepuk bokong pegawai pria baru.”
“Anda memaraf petisi untuk menolong penggugat. Kenapa tiba-tiba Anda menyerang?” marah pengacara.

“Saya memang memaraf petisi. Kesaksian saya juga mendukung manajer saat pendisiplinan pegawai. Tapi Anda keterlaluan. Sekretaris Anda datang ke kantor dan mengatakan ini pekan lalu. ‘Kalian harus mendukung manajer untuk menolongnya. Jika dia dipecat, kalian juga segera dipecat. Buat magang itu seperti orang gila. Dia hanya magang. Pegawai tetap tidak perlu peduli terhadapnya.’ Saya malu mengakuinya, tapi mulanya saya terbujuk. Saya telanjur mendiamkan banyak hal agar bisa bekerja di sini. Tapi saya menonton film di rumah pekan lalu. Lalu ada dialog ini. ‘Kita tidak punya uang, tapi kita punya harga diri. Jangan hidup memalukan.’ Lalu saya menangis sepanjang film. Selama ini hidup saya memalukan,” jelas saksi. “Yang Mulia, bisakah Anda memeriksa ini?” pinta saksi dan menyerahkan ponselnya. “Dua tahun lalu, saya juga magang. Ini pesan yang penggugat kirimkan kepada saya. ‘Maukah kamu mencium dada berbuluku?’ Saya ingin bekerja di perusahaan besar dengan segala cara. Jadi, saya diamkan. Mayoritas magang wanita mengalami hal serupa. ‘Sulitkah menciumku sekali saja? Ayolah.Tampaknya dia lebih sopan di depan pegawai tetap. Dia pasti takut dengan serikat pekerja. Tapi di depan magang tanpa pelindung… Saat tim kami pergi ke karaoke, dia mendesak untuk menari dengan saya. Bahkan dia memegang bokong saya diam-diam. Saya akan menuntut Anda atas pelecehan seksual.”
Putri tn. Yim yang melihat chat pesan yang di tampilkan di layar menangis tidak percaya melihat kelakuan ayahnya. Pegawai magang menangis karena ada yang jujur dan membela-nya.
Pengacara tn. Yim langsung berteriak kalau mereka bisa menuntut saksi atas tuduhan palsu. Hakim Han menyuruhnya untuk duduk dan tidak usah berteriak. Pengacara kesal dan berkata kalau perempuan itu sungguh merepotkan, mereka lebih mengedepankan perasaan daripada logika. Semua wanita yang ada di ruang sidang menatap tidak suka padanya karena perkataannya itu.
Istri tn. Yim bangkit dan bersuara kalau dia juga mau mengajukan tuntutan. Putrinya panik dan mencoba menghentikannya.
“Menyentuh seseorang tanpa izin itu pelecehan seksual, bukan? ‘Hanya aku yang bisa menolong suamimu karena aku punya koneksi dalam lingkup politik dan hukum, Anggaplah aku sandaranmu. Jika suamimu dipecat, bisakah putrimu menyelesaikan kuliahnya?’ Kamu juga memaksa untuk bertemu di restoran Jepang. Kamu memaksaku minum-minum dan menyebutku terlalu cantik untuk suamiku. Kamu bilang menerima kasus ini dengan harga murah hanya karena aku tipemu. Saya tidak pernah mengatakannya. Kamu terus menyentuh bahu dan tanganku. Bahkan kamu sengaja menumpahkan minuman untuk menyentuh dadaku. Aku bertahan agar suamiku bisa tetap bekerja. Tapi kenapa kamu terus meminta nomor putriku?” marah istri tn. Yim.
Tn. Yim marah mendengar hal itu dan memukul pengacara. Mereka terlibat perkelahian. Hakim Han memberi tanda untuk membiarkan mereka bertengkar dan tidak usah di lerai.
Pegawai magang menangis dan memeluk saksi. Dia berterimakasih atas pernyataan saksi.
Hakim Han dan yang lain berdiskusi mengenai keputusan. Dan Hakim Han telah memutuskan.
Hakim Han membacakan hasil putusan : Sebelum mengumumkan putusan, saya ingin sampaikan sesuatu. Bagi pegawai, pemecatan itu bagaikan hukuman mati. Itu berdampak besar bagi keluarganya. Namun, korban pelecehan seksual juga menderita. Pelecehan seksual tanpa henti dengan memanfaatkan kekuasaan menghancurkan harga diri korban. Itu menyiksa kejiwaan korban dan bekerja pun terasa bagai mimpi buruk. Pelaku pelecehan seksual itu tidak bisa dibiarkan bekerja di tempat yang sama dengan korban. Lalu, tidaklah pantas membandingkan penderitaan pelaku dan korban. Penderitaan pelaku disebabkan oleh perilakunya sendiri. Dari segi mana pun, pemecatan penggugat dibenarkan. Akan saya umumkan putusannya. Tuntutan penggugat dibatalkan. Biaya sidang akan ditanggung oleh penggugat.
Tn. Yim menangis mendengar putusan tersebut termasuk keluarganya.
Sidang selesai. Ba Reun memandang lama jubah hakim-nya sebelum menyimpannya. O Reum mengajak Ba Reun untuk kerja sambilan bersamanya di pasar akhir pekan ini.
Hakim Han pulang larut malam. Dia berusaha berjalan tanpa menimbulkan suara dan diam-diam masuk ke dalam kamar dan bertukar pakaian tanpa bersuara. Tapi, ternyata istrinya sadar dan menegurnya yang selalu pulang pagi seperti tukang antar koran. Hakim Han hanya bisa terdiam takut.
Pagi hari, mereka duduk bersama dan menonto tv. Terlihat kalau Hakim Han takut pada istrinya. Dan istrinya terus menekankan kalau kepala keluarga itu jangan sampai di penjara. Tetapi dia juga tidak suka kalau suaminya mendapat uang karena membela para penjahat atau menerima suap. Hakim Han tersenyum dan menjawab ya.
O Reum dan Ba Reun bekerja sambilan untuk mempromosikan hanbok. Dan mereka mendapatkan banyak konsumen untuk ahjumma. Ahjumma senang dan meminjamkan mereka baju hanbok suami istri. Setelah itu mereka pergi menemui ahjuma ahjuma teman O Reum dan semua ahjuma itu berterimakasih pada O Reum dan Ba Reun yang sudah mau membantu mereka membawa para turis datang ke pasar datang ke pasar dengan memakai hanbok.
Selesai bekerja, mereka berjalan bersama. Mereka berbicara santai. Dan O Reum meminta maaf, dia mengakui dia tidak berhasil menjaga jarak dari kasus yang di tanganinya.
“Kamu ingat yang kukatakan tentang guru pianoku yang lama di klub buku? Hingga hari ini, aku tidak lupa perbuatannya sedikit pun. Dia menggerayang muridnya yang masih muda. Kukira aku sudah tidak apa-apa, tapi ternyata itu masih membekas. Di sekolah, bersentuhan pundak dengan lelaki saja aku merinding.”
“Begitu. Menangani kasus ini pasti berat bagimu. Kamu memahami korban. Bagaimana kamu bisa melakukannya di kereta saat hari pertama bekerja?”
“Aku tidak sendirian. Ada orang-orang. Orang yang bisa membantu dan tidak akan berpaling. Sepertimu. Aku makin bertekad untuk menjadi seperti itu. Orang yang bisa membantu dan tidak akan berpaling. Orang seperti itu. Orang yang luar biasa.”
Nn. Lee, polisi yang menjaga jalannya sidang, sedang berpesta bersama teman-temannya di sebuah cafe. Mereka bercerita mengenai kasus pegawai magang tersebut dan merasa puas dengan keputusan hakim. Nn. Lee bahkan memberitahu kalau hukum sungguh bisa melindungi masyarakat dan ada dia yang akan melindungi peradilan.

Nn. Lee pulang dari cafe sendirian dan melewati lorong gelap. Seorang pria berdiri di sana dan mencegatnya. Nn. Lee balik menantangnya tapi saat melihat 2 orang pria muncul dan menggodanya, dia menjadi takut. Tepat saat itu, sekelompok pria yang baru selesai menonton pertandingan bisbol keluar dari samping pintu cafe, Nn. Lee langsung mendekati mereka dan merangkul tangan para pria itu untuk keluar dari gang. Para pria yang mencegatnya segera bubar. Nn. Lee sangat lega dapat keluar dari gang itu walau dengan bantuan orang yang tidak di kenalnya.

2 comments:

  1. Akhir ada juga yg bwt sinopsis "Miss Hammurabi" lanjut ep 4-11 ny hehehe :D, tpy kok ada 1 Paragraf yg di ulang 2x sich :(, sebenarnyaa ini drama sinopsis ada brapa PART?? Ada yg 3, ada yg 4 ada juga 2 kok beda2 sich :/, coba di cek dulu mungkin saat menulis sinopsis ada Paragraf yg di ulang2 jdi part ny banyak dehhh :) makasih :) di tunggu sinopsis2 selanjutnyaaa ;) #JanganLama2 ;) SEMANGATTT!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak udah mau mampir ke blog sederhana ini. Itu mengenai 1 paragraf terulang 2 kali karena ada kesalahan di setting html blog dan sudah di perbaiki. Kemudian 1 sinopsis di bagi part tergantung durasinya. Untuk episode 2, durasinya 1 jam 30 menit makanya di bagi jadi 4 part, dan untuk episode selanjutnya durasi sekitar 1 jam 5-10 menit dan di bagi jadi 3 part.

      Untuk update, akan di atur di sela-sela waktu kerja dan quality time. Silahkan follow blog ini untuk dapat info update..

      Terimakasih untuk kritik nya ya mbak ^^

      Delete