Sinopsis K-Drama : Ms. Hɑmmurɑβi Episode 05 - 2

Images by : JTBC

Esok hari,
Ba Reun memberitahu O Reum informasi yang diterimanya, nenek yang demo mengenai kematian anaknya di meja operasi, akan segera menjalani persidangan. Dan kasus itu dilimpahkan ke dept. 43, dimana itu merupakan dept. Bo Wang dan Bo Wang yang akan menjadi hakimnya. O Reum senang mendengarnya dan berkata akan datang untuk melihat jalannya sidang. Ba Reun menasehati O Reum untuk tidak ikut campur dalam kasus itu.
Persidangan di lakukan oleh Majelis Hakim Bae dengan hakim Han adalah Bo Wang. Persidangan berlangsung singkat.
“Permohonan penggugat untuk menganalisa rekam medis pasien ditolak. Mereka tak bisa memproses permohonan tersebut saat ini dikarenakan mereka tak punya waktu. Kurasa semua rumah sakit besar sangat sibuk,” beritahu Hakim Bae.
“Yang Mulia, rumah sakit itu adalah rumah sakit ketiga yang menolak permohonan kami. Kita harus mempertimbangkan pula bahwa tergugat, RS Universitas Sejin, melakukan interfensi terhadap kasus ini,” ujar pengacara.
Tetapi pihak universitas Seijin membantah hal tersebut.
“Seperti yang sudah diketahui, semua klaim tidak bisa diterima tanpa adanya bukti yang mendukung. Jika Anda ingin mengajukan klaim bahwa pihak rumah sakit melakukan kesalahan, silakan masukkan bukti Anda terlebih dahulu dengan benar. Saya akan memberikan satu kesempatan pada pihak penggugat,” putus Hakim Bae.
Dan O Reum membahas hal ini pada Ba Reun. Ba Reun merasa ada yang aneh dan tau kalau itu RS Seijin, dia berdecak karna itu memang merupakan RS besar. O Reum merasa bahwa memang ada interfensi dari RS Seijin dalam kasus ini, karna semua RS yang di datangi pengacara menolak untuk memberikan analisis dengan alasan sibuk. Dan Ba Reun sepertinya juga ingin membantu.
Ba Reun dan O Reum membagikan surat mengenai sidang kepada para hakim. Bo Wang melihat mereka dan berusaha menghindar tetapi O Reum sudah terlanjur memanggilnya. O Reum meminta bantuannya karena Bo Wang kan banyak mengenal majelis hakim. Bo Wang tersenyum canggung.



O Reum kemudian melihat hakim dengan pakaian unik karena tidak mengenakan jas. Bo Wang memberitahu kalau hakim itu adalah mediator andalan makanya tidak ada hakim yang berani protes terhadap penampilannya. O Reum segera memberikan selebaran kepada hakim tersebut. Dia kemudian melihat seorang majelis hakim yang sedang mencium wangi bunga. Bo Wang memberitahu kalau itu adalah majelsi Hakim Gam yang sentimental. O Reum memberikannya selebaran juga. Kemudian dia melihat seorang majelis hakim wanita. Bo Wang memberitahu kalau itu adalah majelis hakim Oh, hakim terbaik dari yang terbaik dan tentu tidak akan mau mendatangi sidang yang membuang waktu-nya. O Reum tidak peduli dan teteap memberikannya selebaran.
Kemudian datang Hakim Bae dan rekan-rekannya. Bo Wang segera menyapanya. Hakim Bae terlihat tidak suka melihat Bo Wang bergaul dengan O Reum dan Ba Reun, dan bahkan seperti mengancam akan memindahkan posisi Bo Wang. Bo Wang menjelaskan kalau Hakim Bae salah paham padanya, tetapi Hakim Bae tidak mau mendengarkannya. O Reum dan Ba Reun hanya bisa diam dan merasa bersalah.
Malam hari,
Hakim Sung minum-minum dengan wartawan. Dia berusaha mengambil hati mereka.
Esok hari,
O Reum membuka sebuah artikel dan terkejut. Judul artikel itu adalah : Apakah Para Hakim Mencoba untuk Membuat Serikat Kerja Sendiri? Di dalam artikel itu juga tersebar video O Reum yang menggunakan rok mini tempo hari.
Ba Reun datang dan bertanya apa mereka sudah melihat artikel tersebut?
“Isinya adalah inisiatif semua ini dipelopori oleh beberapa hakim muda radikal. Apa aku juga termasuk? Tidak. Aku tak boleh terpengaruh hal-hal seperti ini. Aku tak pernah buat masalah selama ini,” tegas Ba Reun.
Dan Bo Wang juga memberitahu ada aritkel mengenai O Reum yang ikut campur dalam kasus dept. Lain dan memperkenalkan pengacara yang dikenal kepada penggugat. Ba Reun memberitahu kalau ini mengenai nenek yang demo waktu itu. Dan juga memberitahu kalau Hakim Kepala memberitahunya kalau O Reum melanggar kode etik dan bisa terkena hukuman. O Reum mengerti, jadi itu sebabnya Ba Reun waktu itu melarangnya ikut campur dalam kasus Hakim Hong dan kasus nenek itu lagi.
“Bagaimana sebenarnya kau terlibat dalam kasus ini? Kau tak pernah mengatakan apapun. Kenapa mereka mempertanyakanmu padahal kau tak buat salah apa-apa?” tanya Bo Wang.
“Semuanya bisa jadi masalah saat kau mulai mempertanyakannya. Dan semua orang-orang berkuasa itu bisa melakukannya,” ujar Ba Reun.
“Aku harus bertanggung jawab apabila niat baikku ini jadi sebuah masalah besar. Tapi aku akan membuat Ketua Majelis Hakim Sung bertanggung jawab atas semua perlakuannya juga,” tegas O Reum.
“Ba Reun. Maaf, tapi kurasa sampai disini saja,” ujar Bo Wang tiba-tiba.
“Maksudmu?”
“Aku telah hancur karena persahabatan kita, namun ini sangat berat bagiku. Aku dekat dengan beberapa Ketua Majelis Hakim, dan mereka semua menyukaiku. Namun karena semuanya semakin serius saja, aku tak tahu harus bagaimana lagi karena aku sudah terlanjur terjebak dalam hal ini. Rasanya seperti perang,” jelas Bo Wang.
“Perang? Siapa melawan siapa?” tanya O Reum.
“Dimulai saat kau mencari tanda tangan untuk petisi untuk menuntut Ketua Majelis Hakim Sung dijatuhi sanksi, semua Ketua Majelis Hakim menjadi geram. Mereka semua mengatakan apa yang kaulakukan sudah sangat kelewatan,” jelas Bo Wang.
“Itukah sebabnya kau merasa semua ini sangat berat? Karena kau ingin disukai semua orang?” sarkasme Ba Reun.
Bo Wang terdiam. Dia menyuruh Ba Reun untuk tidak bersikap seperti itu padanya karena dia tidak ingin bertengkar dengan siapapun. Termasuk dengan Ba Reun.
Saat dia hendak keluar, dia bertemu dengan sek. Lee yang sudah berdiri sedari tadi di depan pintu.
Sek. Lee masuk dan memberitahu kalau Hakim Kepala ingin menemui O Reum.
O Reum menghadap ke Hakim Kepala. Suasana terasa tegang. Hakim Kepala memanggilnya terkait artikel yang beredar, dan mengenai O Reum yang ikut campur masalah departemen lain, adalah masalah besar. O Reum berusaha membela diri kalau dia hanya memberikan saran kepada nenek itu bukan ikut campur.
“Boleh aku bertanya? Suatu hari, Anda dan Kepala Pengadilan berada di lobi lantai 1. Anda memberi saran hukum pada orang-orang yang membutuhkannya. Apakah yang kulakukan ini berbeda dengan saat itu? Aku tak paham. Maaf, bisakah Anda menjelaskannya? ” tanya O Reum.
“Lucu sekali kau ini. Bagaimana dengan mendapatkan tanda tangan mereka yang setuju untuk menjatuhkan sanksi bagi Ketua Majelis Hakim? Tidakkan kau menunjukkan sikap pribadi tak beralasan?”
“Aku punya alasannya. Aku sudah mendengar detil kejadian yang terjadi dari Hakim Hong Eun Ji.”
“Menghakimi seseorang hanya dari cerita sepihak saja dapat melukai banyak orang. Aku mencoba untuk menghentikan hukuman displinernya karena sudah terlalu kelewatan. Tapi, jika kau terus mengabaikan peringatanku, akan sulit untuk menghentikannya,” peringati Hakim Kepala dan mempersilahkan O Reum untuk meninggalkan ruangannya.
Ba Reun kembali menemui Hakim Cho. Dia meminta bantuan Hakim Cho untuk membantu O Reum terkait artikel yang beredar. Hakim Cho tidak bisa membantu dan malah menasehati Ba Reun untuk tidak ikut campur masalah kecil seperti sekarang mengenai Hakim Hong. Ba Reun tidak setuju dan dia meninggalkan kantor Hakim Cho dengan kemarahan. Hakim Cho dapat merasakannya.
O Reum kembali ke ruangan dengan lunglai. Ba Reun bertanya, apa yang dikatakan Hakim Kepala? Melihat wajah O Reum yang murung, Ba Reun mengajaknya untuk mundur saja, mereka tidak perlu terlau ambisius.
“Apa aku terlalu ambisius? Orang-orang tak peduli dengan orang kuat di atas orang lemah. Saat teriakan lemah itu kembali menyerang, kau sebut kami menganggu dan menyebalkan. Saat kita mengangkat sebuah masalah, haruskah kita terus mengikuti zona nyaman mereka?” tanya O Reum.
“Jika mereka mengatakan demikian. ‘Kita tak menyerang siapapun. Itu hanyalah tawaran konstruktif.’ Kau harus meyakinkan mereka seperti ini. ‘Tawaran untuk keluhan pekerja, Pendidikan untuk semua jenis kelamin, Bagaimana membuat evaluasi,” ujar Ba Reun. (agak bingung dengan maksud Ba Reun ini).
“Maaf, Hakim Im. Perombakan sistematis dan argumen konstruktif memang bagus, tapi bagaimana dengan Hakim Hong yang melewati sesuatu yang tak bisa diulang lagi?”
“Kau mau balas dendam?”
“Tidak, aku mau keadilan. Bukankah itu pekerjaan kita?” tegas O Reum.
“Keadilan yang kaumaksud bisa jadi sebuah balas dendam. Kau tak memikirkannya?” tanya Ba Reun.
O Reum terdiam dan tidak bisa menjawab.
Anggota Dept. 44 hendak pergi minum bersama. Tetapi Sek. Lee dan Hakim Han tidak ikut.
Mereka berkumpul dan membicarakan mengenai artikel mengenai O Reum. Mereka menyemangati O Reum untuk bertahan. Nn. Yoon memberitahu kalau dia mendengar kabar kalau Hakim Hong meminta file kasus untuk dikirim ke rumah sakit untuk di kerjakan. O Reum khawatir mendengarnya karena Hakim Hong tidak beristirahat di rumah sakit.
O Reum dan Ba Reun bekerja dengan canggung. O Reum mencoba berbicara dengan membahas rasa kopi yang di minumnya tadi. Dia juga merasa senang karena pegawai dept mereka tadi menyemangatinya. Ba Reun meminta maaf karena selalu mengatakan apa yang tidak di sukai O Reum. O Reum merasa tidak demikian, Ba Reun sudah banyak membantunya.
Young Jung mengajak O Reum untuk makan malam bersama. Dia juga sudah membaca artikel mengenai O Reum. Dan ternyata saudarinya adalah direktur RS Seijin dan dia adalah salah satu eksekutifnya. Young Jun memberitahu kalau dia sudah menyuruh pegawainya memeriksa kasus itu dan dia bisa memastikan kalau RS Seijin tidak melakukan kesalahan apapun dan tidak bertanggung jawab atas kematian nenek tersebut. Dan juga RS Seijin berusaha menuntut nenek karena pencemaran nama baik dan menghambat bisnis.
“Kau kemari hanya mau memberitahu itu? Kau adalah pewaris NJ Group. Kau peduli dengan semua tuntutan yang terjadi dengan rumah sakitmu?”
“Aku kemari karena ini berhubungan denganmu. Pengacaraku ingin kau ikut bertanggung jawab pula. Tapi aku menghentikan mereka. Ini situasi yang kurang baik, jadi kusuruh mereka memberikan uang pada nenek itu.”
“Kau mengharapkan terima kasih dariku?” tanya O Reum sinis. “Tak usah buang-buang waktu dan urus urusanmu. Sidangnya sudah dimulai, dan kebenarannya akan terungkap. Itulah tujuan sebuah sidang,” jelas O Reum kesal.
Esok hari,
Sidang lanjutan nenek di lakukan. Dan RS Seijin mengklaim tidak punya kesalahan. Nenek tidak percaya dan berteriak. Bo Wang terlihat tidak nyaman. Pengacara menjelaskan kalau semua RS besar menolak memberikan analisis, dan hanya RS kecil yang mau memberikannya. Dan akhirnya, Hakim Bae, menolak tuntutan nenek (penggugat) karena tidak adanya cukup bukti bahwa RS Seijin melakukan kesalahan selama operasi.
O Reum dan Ba Reun merasa lemas karena nenek itu kalah sidang.
“Menurut pengacaranya, RS bersedia membayar uang damai kepada nenek itu.  Bukan karena mereka mau berdamai, tapi karena mereka hanya kasihan padanya. Bukankah itu sangat menyentuh?” beritahu O Reum.
“Berapa banyak?” tanya Ba Reun.
“20 juta won. Namun, dia takkan bisa mengajukan tuntutan apapun ataupun…  membicarakan masalah ini lagi.”
“Apa yang mereka lakukan?”
“Pengacaranya berpikir hal itu sudah sangat layak dan pantas, tapi aku menentangnya. Hal itu hanya akan membuat dendam nenek itu semakin bertambah.”
O Reum kemudian mengajak Ba Reun pergi menjenguk Hakim Hong. Hakim Hong masih terlihat lemah. Hakim Hong memberitahu kekhawatirannya, dia yakin kalau semua orang membicarakannya karena dia keguguran. Dia merasa takut karena orang-orang membicarakannya buka untuk sesuatu yang bagus. Dia takut kembali bekerja dan menemui semua orang. Dan Ba Reun melihat berkas yang di kerjakan Hakim Hong dan di sana ada foto USG bayi Hakim Hong. Hakim Hong menangis dan memberitahu sejak kedatangan Hakim Sung, banyak orang yang menelponnya dan menganggap sikapnya ketakutan dan menyebut kalau Hakim Sung bukan orang jahat. Hakim Hong merasa sangat sakit.
O Reum menangis mendengarnya. Dia meminta maaf. Ini semua adalah salahnya.


Post a Comment

Previous Post Next Post