Monday, July 16, 2018

Recap K-Drama : Ms. Hɑmmurɑβi Episode 12

0 comments


Recap K-Drama : Ms. Hɑmmurɑβi Episode 12
Images by : JTBC
Di episode kali ini, Hakim Han membuat masalah saat pertemuan dengan Hakim Agung dan Ketua Majelis Hakim yang lain. Seperti biasa Hakim Agung meminta saran dari pada Ketua Majelis Hakim mengenai perubahan yang ingin dilakukan. Hakim Kwon menyarankan untuk membelikan kasur lipat yang akan di letakkan di sudut kantor, karena Hakim Pembantu-nya sangat sering lembur. Tetapi, Hakim Han tidak setuju. Menurutnya, pekerjaan hakim yang terlalu banyak harus di bagi ke hakim yang tidak menerima terlalu banyak kasus agar para hakim tidak usah kerja lembur. Namun, perkataan itu menjadi bumerang bagi Hakim Han, karena akhirnya departemen Hakim Han di suruh membantu mengurus kasus Hakim Kwon. Hakim Han biasanya mengurus kasus perdata tetapi kini dia juga harus mengurus kasus pidana milik Hakim Kwon. Kasus yang di berikan memang tidak sulit, hanya mengenai kasus orang mabuk yang membuat masalah. Tetapi, kasus itu terlalu banyak. Ba Reun juga jadi kesal dengan Hakim Han karena sudah sembarang bicara dan menambah beban kasus mereka yang sudah menumpuk.

Hakim Han dan tim-nya mengurus kasus 2 orang pria tua yang suka mabuk-mabukkan dan menimbulkan masalah. Dan karena itu mereka di tuntut atas tuduhan mengganggu, pencurian dan ketidaknyamanan. Ba Reun dengan Hakim Han sempat beradu pendapat, menurut Hakim Han dia akan mengurangi hukuman dengan alasan tidak mampu menilai. Hal ini di dasarkan karena pelaku juga lanjut usia, tetapi Ba Reun tidak setuju. Dia ingin hukum yang sesuai karena Ba Reun juga tidak suka dengan orang mabuk yang selalu mengacau.

Salah satu terdakwa, memiliki saksi seorang bisu. Orang bisu itu memberitahu kalau kakek (terdakwa) itu orang yang baik walau sering mabuk. Kakek itu selalu mengantarkan telur untuk kalangan difabel dan juga kakek itu tidak pernah mengalami kecelakaan motor. Dia meminta Hakim Han untuk memaafkan kakek tersebut. Hakim Han mengerti dan menjawab akan memutuskan dengan bijak. Kakek itu sendiri merasa tidak masalah dihukum jika memang di nilai bersalah, tetapi dia harus pulang untuk mengurus anjing, ayam dan kambing-nya di gunung dan menjual mereka. Dia takut binatang-binatangnya akan kelaparan. Dan juga kakek sudah menyampaikan hal ini kepada penyidik, tetapi tidak ada yang mau mendengarkannya.

Seorang kakek lain juga menjalani persidangan dan jaksa memaksa agar kakek itu di hukum karena sudah membuat tindak pidana sebanyak 26 kali. Dia meminta hukum yang adil.
Ba Reun sendiri masih tetap pada pendirian, kedua kakek tersebut harus di adili sesuai hukum yang berlaku. O Reum masih ragu, karena dia sendiri ingin hukum yang tajam ke atas dan tumpul ke bawah. Dan karena itu, O Reum dan Ba Reun pergi ke lingkungan tempat tinggal terdakwa dan menyelidiki.
Setelah perdebatan panjang dan pemikiran panjang, Hakim Han, O Reum dan Ba Reun mencapai kesepakatan.
Terdakwa pertama, yang punya peliharaan di gunung dan tidak pernah terlibat kecelakaan ataupun masalah di bebaskan dengan masa percobaan. Hakim Han menasehatinya untuk tidak mabuk-mabukkan lagi. Terdakwa mengerti dan berterimakasih banyak atas belas kasihan hakim.
Terdakwa kedua, yang di tuntut jaksa dan sudah menjalani tuntutan tindak pidana sebanyak 26 kali, di jatuhi hukuman tiga tahun dan enam bulan penjara (tuntutan awal jaksa adalah 5 tahun). Kakek itu menangis bahagia mendengarnya dan berterimakasih atas putusan itu karena awalnya dia mengira akan di tuntut seumur hidup. Dia tersenyum dengan tulus dan berterimakasih.
Saat persidangan sudah selesai, Hakim Han kembali mengadakan makan malam team. Saat itu, TV di restoran menyiarkan kasus korupsi yang dilakukan Pimpinan Kim Jung Soo sebesar 10 juta dolar dan dihukum selama 5 tahun penjara. Dan hal itu bahkan masih di anggap terlalu berat oleh para kolongmerat. Asosiasi kolongmerat bahkan hendak mengajukan banding. Ba Reun terhenyak mendengarnya, seorang pria yang melakukan korupsi berjuta dollar hanya dihukum selama 5 tahun dan masih protes, sementara seorang kakek tua yang hanya mabuk dan membuat kekacauan, dijatuhi hukuman sama. Ba Reun untuk pertama kalinya, merasa kalau hal ini sangat tidak adil.

Ba Reun minum sampai mabuk. Setelah, itu dia muntah-muntah di kamar mandi. Dia menangis histeris atas keputusan yang telah di ambilnya terhadap kakek tersebut. Dan O Reum mendampinginya.

Hubungan Bo Wang dan sek. Lee semakin dekat. Sek. Lee memberitahu kalau dia berasal dari desa, dan karena dia benci tinggal di desa, dia pindah ke Seoul. Tetapi, biaya hidup Seoul sangat berat hingga dia harus bekerja siang dan malam. Dia memberitahu kalau dia memang bekerja di bar tetapi sebagai pelayan bukan penghibur. Dan saat dia sedang pekerja paruh waktu itulah, dia bertemu dengan professor-nya tersebut. Profesor yang tahu kalau dia suka membaca puisi dan menulis. Profesor itu juga penulis tetapi tidak terkenal. Sek. Lee suka mendengarkan kisah profesor itu. Profesor itu bilang, bahwa kisah hidup kita tidak perlu terkenal, tapi cukup satu orang saja yang dapat mengerti kisah kita, sudah cukup.

Bo Wang juga sudah menyatakan perasaannya pada Sek. Lee. Dan sek. Lee adalah yang pertama mencium Bo Wang. Mereka mulai berpacaran. Dan Bo Wang juga sudah terang-terangan menggoda sek. Lee di kantor.

Masalahnya, dua hakim penggosip, menggosipi sek. Lee sebagai wanita tidak benar dan sengaja menggoda Bo Wang karena Bo Wang kaya. Bo Wang jelas marah dan menghajar kedua hakim tersebut. Hakim Bae lewat saat itu dan menegur sikap Bo Wang yang sudah tidak beretika karena menghajar hakim lain di lingkungan pengadilan.


No comments:

Post a Comment