Wednesday, July 18, 2018

Sinopsis C-Drama : MoonShine and Valentine Episode 17 - part 2

0 comments

Broadcast Network        Tencent




Pi Pi menghadiri kelas pagi sendirian. Dan setiap orang yang melihatnya menjadi heran, namun tidak ada yang bertanya atau mengatakan apapun. Lalu dalam perjalan pulang, Pi Pi berjalan dengan langkah pelan dan seperti tidak bersemangat.



Pi Pi mendekati He Lan yang sedang tertidur disofa. Ia ingin memegang He Lan, namun tidak jadi. Dan tanpa membangunkan He Lan, Pi Pi naik keatas dan masuk kedalam kamar.



Pi Pi membereskan semua barangnya kedalam koper. Lalu saat mengingat akan lukisan itu, Pi Pi menjadi murung sendiri.



Pi Pi turun sambil membawa kopernya. Lalu kembali kedalam ruang tamu, tempat dimana He Lan sedang tertidur. Ia kesana untuk mengambil buku- buku miliknya yang ada diatas meja. Tapi tanpa sengaja, buku yang dibawanya terjatuh, sehingga menimbulkan suara keras dan membangunkan He Lan yang tertidur.



“Apa yang kamu lakukan?” tanya He Lan.

“Tidak ada. Aku mau pulang,” balas Pi Pi.

“Mengapa tiba- tiba kamu mau pergi?” tanya He Lan, lagi.

“Tidak ada. Aku mau pulang saja tiba- tiba,” balas Pi Pi.

“Mengapa kamu tidak menunggu sampai malam. Jadi aku bisa mengantarmu?”

“Tidak perlu. Aku pergi sekarang.”



Disaat He Lan memanggil- manggil namanya, Pi Pi mengabaikan itu. Ia berjalan keluar dan menutup pintu, lalu pergi.



Sesampainya dirumah. Ibu Pi Pi menanyakan apakah Pi Pi ada mendapatkan bayaran, lalu ia pun mengatakan kalau ia ingin meminjam uang Pi Pi.

“Untuk apa?” tanya Pi Pi, curiga.

“Untuk membeli produk kesehatan. Aku sudah beli beberapa, tapi aku mau beli lagi untuk menghasilkan lebih lagi,” kata Ibu dengan bersemangat.

“Darimana kamu mendapatkan uang untuk membeli itu?” balas Pi Pi.



Dengan ragu, awalnya Ibu mengelak, tidak mau menjawab darimana ia mendapatkan uang untuk membeli produk itu selama ini. Tapi akhirnya karena Pi Pi mengancam ingin memberitahu Ayah, maka Ibu pun jujur.

“Aku… uh… itu… Jia Lin memberikan itu padaku,” kata Ibu, mengaku.

“Jia Lin? Kamu minta uang padanya?” tanya Pi Pi terkejut.

“Aku tidak! Dia menginvest kan padaku,” kata Ibu langsung.

“Berapa banyak yang kamu pinjam?” tanya Pi Pi dengan tegas.



“1.000,” jawab Ibu.

“1.000?” balas Pi Pi.

“Dua. 1.000 dua kali.”

“2.000?”

“Amerika dollar.”

“Apa?” teriak Pi Pi, terkejut. Dan dengan cepat Ibu, meminta agar Pi Pi mengecilkan suaranya. Karena ia tidak mau Ayah tau.



Pi Pi dengan cepat pergi dari rumah. Dijalan, dengan pusing, Pi Pi memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mengembalikan uang Jia Lin. Dan tepat ketika itu seseorang menawarkan sebuah pekerjaan dengan bayaran besar kepadanya.


Pi Pi masuk kedalam bar dan memohon kepada manajer agar menerimanya, karena ia benar- benar membutuhkan pekerjaan saat ini.

“Manager, tolong. Aku bisa melakukan apapun. Aku tidak takut pekerjaan yang keras!” pinta Pi Pi. Dan karena ada dua jenis lowongan yaitu penari atau pelayan bar, maka Pi Pi memilih menjadi penari, karena bayaran lebih besar.



Sayangnya, Pi Pi tidak diterima sebagai penari, karena tariannya yang begitu buruk. Jadi akhirnya, Pi Pi pun menjadi pelayan.

Dengan memakai pelayan yang agak minim, Pi Pi memulai pekerjaannya. Ia membersihkan meja dan mengantarkan minuman- minuman bagi para tamu yang memesan.



Tepat disaat itu, Pi Pi melihat kedatangan He Lan. Tapi dengan sengaja Pi Pi mengabaikan He Lan dan berpura- pura tidak melihatnya.

He Lan ingin menghampiri Pi Pi, namun tepat disaat itu Qian Hua menghubunginnya.



Qian Hua memberitahu kepada He Lan kalau dia sudah bertemu dengan Putri Zhao Yang dan mendapatkan informasi yang mereka cari. Tepat disaat Qian Hua sedang bertelponan, Qi Lin masuk kedalam kamar dan mendengarkan.


“Sebenarnya aku telah berhutang, jadi aku harus mengembalikannya pada utara… Banyak yang terjadi selama waktu ini… jangan pikirkan, aku harus kembali… disana ada beberapa hal yang ingin kuceritakan padamu… baik, sampai jumpa,” kata Qian Hua. Dan Qi Lin mendengarkan.



Pi Pi menghampiri He Lan yang telah selesai bertelponan. Dan menyuruh He Lan untuk pergi, “Aku pikir kamu tidak suka aroma rokok.”

“Aku datang untuk membantumu,” balas He Lan.

“Aku bisa mengurus masalahku sendiri,” balas Pi Pi.

“Masalahmu adalah masalah ku,” kata He Lan.

“Masalahku atau masalah Hui Yan? Kamu harus pergi,” kata Pi Pi , lalu pergi.



Suara pintu yang ditutup dengan keras oleh Qi Lin membuat Qian Hua terkejut. Tanpa berbasa- basi Qi Lin bertanya apa barusan yang dihubungin oleh Qian Hua itu adalah He Lan dan Qian Hua membenarkan.



“Kamu datang diwaktu yang tepat. Aku punya sesuatu yang mau ku beritahukan. Itu mungkin terlihat tiba- tib…,” kata Qian Hua dengan gugup. Tapi segera dipotong oleh Qi Lin.

“Kemudian jangan bilang,” potong Qi Lin.

“Zhao Song, aku harus mengatak…” kata Qian Hua.

“Aku bilang, jangan katakan,” potong Qi Lin.

“Tidak, aku benar- benar harus…” kata Qian Hua.

“Aku bilang, jangan katakan!” potong Qi Lin lagi dengan tegas.



Qi Lin mendekati Qian Hua dengan cepat dan lalu dengan kekuatannya, ia membuat Qian Hua tertidur. Setelah itu dengan lembut, ia membaringkan Qian Hua dan membelai wajahnya dengan lembut.



“Selama bertahun- tahun ini. Ku pikir yang paling kuinginkan… adalah posisi yang berkuasa. Tapi sekarang aku tau, kamu adalah apa yang paling kuinginin. Terserah itu kamu atau posisi berkuasa. Jika aku tidak bisa memilikimu, He Lan Jing Ting juga tidak bisa,” kata Qi Lin pada Qian Huan yang tertidur.



Qi Lin dengan kasar membuka pakaiannya dan menciumin Qian Hua. Dan pada saat itu Pearl milik Qi Lin bersinar terang.



Dipagi hari saat terbangun. Qian Hua tampak sedih, ia lalu berkata,” Apa kamu tau apa yang ingin ku beritahu padamu?”



“Itu tidak lagi penting,” balas Qi Lin. Dan dengan pedih, Qian Hua menutup matanya.

No comments:

Post a Comment