Wednesday, July 4, 2018

Sinopsis C-Drama : MoonShine and Valentine Episode 13 - part 2

1 comments


Broadcast Network : Tencent




Saat Xiu Xian telah keluar dari ruangan Pi Pi dan menuju resepsionis, Xiao Ju yang menunggu dikursi tunggu, datang mendekat. Ia menanyakan tentang kondisi Pi Pi.

“Mari tunggu sedikit lebih lama dulu,” jawab Xiu Xian.



Xiumei datang kerumah sakit untuk meminta maaf kepada Pi Pi. Ia menjelaskan kepada Xiao Ju bahwa sebenarnya ia hanya bermain saja, tapi ia tidak menyangka kalau bisa berakhir menjadi seperti ini

“Jangan khawatir. Dia tidak akan menyalahkanmu. Pi Pi selalu seperti itu. Dia tidak pernah menyalahkan siapapun,” kata Xiao Ju dengan lemah.


Mendengar itu, Xiu Xian meminta maaf dan berjanji bahwa mereka akan lebih berhati- hati lagi dimasa depan.

“Di masa depan?” tanya Xiao Ju dengan kesal. “Apa kamu tau? Pi Pi takut pada kalian. Aku yang bilang padanya untuk santai. Aku yang meyakinkannya,” kata Xiao Ju, menyalahkan dirinya sendiri.



“Aku kira dia bisa bangun saat dicium, seperti gadis dalam dongeng. Tapi mengapa ciuman kalian malah membunuh orang?” tanya Xiao Ju kepada Xiu Xian.

Dan ditanyakan seperti itu, Xiu Xian memalingkan wajahnya. Karena ia tidak bisa menjawab nya.



Ternyata Fang Jingxue juga datang kerumah sakit, namun dia datang untuk menemui Kuan Yong. Dan melihat itu dari jauh, Xiao Ju tampak cemburu.



Fang Jingxue menangis dan lalu dia menyerahkan sebuah kertas kepada Kuan Yong. Dan tanpa mengatakan apapun, Kuan Yong menanda tanganin kertas tersebut.

Disaat itu Kuan Yong melirik kearah Xiao Ju serta Xiu Xian yang sedang menatapnya. Setelah itu ia membiarkan Fang Jingxue yang sedang sedih menangis didalam pelukannya.



Melihat Fang Jingxue serta Kuan Yong yang berpelukan. Xiao Ju tampak sangat tidak nyaman. Ia lalu meminta agar Xiu Xian menemanin nya untuk berbelanja. Dan jelas saja, Xiu Xian menjadi kebingungan.

“Beli apa?” tanya Xiu Xian.

“Makanan,” jawab Xiao Ju dengan singkat. Ia lalu berbalik dan berjalan.

“Makanan apa?” tanya Xiu Xia lagi. Mengikuti.

“Desserts,” teriak Xiao Ju dengan kesal. Dan itu membuat Xiu Xian menjadi bingung, namun ia tetap mengikuti Xiao Ju.



He Lan memakai kan lagi kalung Pearlnya dileher Pi Pi. Lalu pada saat itu, dokter (Dokter Wang) masuk kedalam ruangan. Dan melihat dia, He Lan langsung berdiri dan meminta maaf akan kejadian tadi.


“Tidak, tidak. Aku yang seharusya minta maaf. Jika kamu tidak membuat keputusan cepat, dia tidak mungkin bisa seperti sekarang,” kata Dokter sambil menahan bahu He Lan agar tidak perlu berdiri.



Dokter Wang memberitahu kalau mereka akan mengawasi Pi Pi dalam beberapa jam dan bila Pi Pi tetap baik- baik saja, maka He Lan bisa membawa Pi Pi pulang.

“Terima kasih,” kata He Lan.

“Tuan, bisakah aku bertanya, bagaimana kamu bisa membuat keputusan cepat dalam waktu seperti itu? Biasanya, hanya Dokter berpengalaman yang bisa melakukan itu,” kata Dokter Wang.


“Aku bukan dokter. Tapi aku punya pengalaman tentang sesuatu yang seperti ini sebelumnya,” jawab He Lan sambil tetap menatap kepada Pi Pi yang tertidur.

Dokter Wang dengan rendah hati menanyakan apakah He Lan bisa mengajarinya. Dan apa He Lan mau melihat file milik pasien lain yang memiliki gejala atau penyakit yang mirip seperti Pi Pi.


Awalnya He Lan menolak, namun saat Dokter Wang mengatakan kalau ada beberapa pasien yang memiliki gejala atau penyakit seperti itu. Maka He Lan pun berpikir.


Xiao Ju berdiri didekat meja resepsionis sambil memakan roti yang dibelinya. Sedangkan tidak jauh dari situ, Xiu Xian duduk dikursi tunggu, memperhatikan Xiao Ju.

“Ada apa?” tanya Kuan Yong. Datang mendekat.

“Tidak tau,” jawab Xiu Xian singkat. Lalu kembali memperhatikan Xiao Ju.



Tepat disaat itu, He Lan serta Dokter keluar dari dalam ruangan Pi Pi. Dan dengan cepat Xiao Ju langsung menghadang He Lan.

“Tuan He Lan. Aku tidak mau menyinggungmu. Tapi aku tidak mau Pi Pi terlibat masalah lagi denganmu,” kata Xiao Ju dengan tegas, memperingatkan.



“Dia sudah stabil sekarang,” kata Dokter Wang, memberitahu Xiao Ju.

“Terima kasih, dokter,” balas Xiao Ju.

“Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya,” tegas He Lan. Lalu pergi bersama dengan dokter.


Ketika mendengar Kuan Yong yang mau membicarakan tentang Fang Jingxue, maka dengan cepat Xiao Ju duduk dikursi tunggu didekat mereka. Ingin mendengarkan. Namun Kuan Yong serta Xiu Xian langsung diam.

“Lanjutkanlah. Jangan melihatku,” kata Xiao Ju kepada mereka berdua.

“Ayo pergi ketempat lain,” ajak Kuan Yong kepada Xiu Xian.

“Apa yang kamu sembunyikan dariku?” tanya Xiao Ju dengan suara keras.



“Nona Xin, lebih baik bila kamu tidak terlibat,” jelas Kuan Yong.

Mendengar itu, Xiao Ju menjadi kesal. Dengan kasar, ia memakan roti miliknya. Dan Xiu Xian yang melihat itu, jadi merasa heran.



Didalam ruangan dokter. He Lan menggunakan stetoskop yang berada diatas meja. Ia memakai itu dan mendengarkan suara jantungnya sendiri. Sedangkan Dokter Wang yang sedang sibuk membongkar file, tidak memperhatikan itu.



Saat Dokter Wang telah selesai mencari, He Lan segera melepaskan stetoskop yang dipakainya dan meletakannya kembali diatas meja.

Dokter Wang menunjukan file pasien, seperti yang dijelaskannya tadi. Dan melihat banyak nya file itu, He Lan agak merasa tidak enak untuk melihatnya. Namun Dokter Wang tidak mempermasalahkan itu dan mengizinkan He Lan untuk melihatnya.



He Lan lalu melihat file yang diberikan padanya. Dan Dokter Wang menjelaskan, “Orang ini memiliki gejala yang sama. Tapi semua langkah penyelamatan gagal.”

He Lan terdiam dan berpikir ketika mendengar itu. Ia memperhatikan dengan serius file tersebut. Dan berpikir.




Xiu Xian mendekati Xiao Ju yang berada dilorong rumah sakit, dekat pintu darurat. Disana ia merasa heran, ketika melihat Xiao Ju yang sibuk berjalan bolak- balik dengan nafas yang tersenggal- senggal, karena capek.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Xiu Xian.

“Bekerja,” jawab Xiao Ju dengan singkat.


“Bekerja? Aku ingin memberitahu mu sesuatu diperjamuan tadi,” kata Xiu Xian, mengajak Xiao Ju berbicara. Namun Xiao Ju tidak membalas dan menaiki tangga keatas.



Dikantor. Dengan bersemangat Wang Xuan memberitahu kepada Qing Tan tentang apa yang ditemukannya. Yaitu He Lan serta Qian Hua bukanlah manusia dan mereka berasal dari planet lain serta hal lainnya.

Namun mendengar itu, Qing Tan tampak tidak percaya. Dan walaupun Wang Xuan menunjukan foto yang didapatnya, Qing Tan tetap tidak percaya.



“Wang Xuan. Kamu sudah bekerja sangat keras. Aku juga tau kamu pasti sangat stress sejak Pi Pi pergi. Tapi kamu harus belajar untuk memisahkan pekerjaan dan kehidupan pribadimu,” jelas Qing Tan.




Wang Xuan tidak terima dan mau menunjukan bukti lainnya. Namun tanpa mau mendengarka lagi, Qing Tan menyuruh Wang Xuan untuk mengambil off besok dan beristirahat.

“Itu benar,” kata Wang Xuan, pelan sambil memperhatikan cek dari Qi Lin.



Dikosan. Para anggota yang sedang membuat dumpling bersama mengajak Tian Xin untuk bergabung. Jadi Tian Xin pun bergabung dengan mereka. Disana dia dikenalkan dengan semua anggota kosan.


Ketika ditanya- tanya. Tian Xin menjawab kalau ia datang kesini bukan untuk sekolah, namun untuk menemanin pacarnya. Dan seorang dari mereka ternyata mengenali Tao Jia Lin, karena mereka satu sekolah.



“Nilainya bagus. Aku dengar dia dapat surat rekomendasi dari Prof. Liao. Mungkin kalian semua tidak tau… tapi Prof. Liao tidak pernah menuliskan itu untuk siapapun. Jadi pacarnya pasti sangat bagus. Tidak buruk!” jelas orang tersebut.

Mendengar pacarnya dipuji oleh mereka, maka Tian Xin pun tersenyum.



Seseorang dari mereka lalu menanyakan berapa lama Tian Xin sudah menjalin hubungan. Dan Tian Xin menjawab bahwa ia dan Jia Lin sudah lama saling mengenal.

“Begitu manis ya. Kamu datang kesini untuknya. Pacar kami saja tidak ikut dengan kami,” kata seorang dari mereka pada Tian Xin.

“Aku tidak disini untuknya. Aku cuma membantunya mendaftarkan diri. Aku akan segera kembali,” balas Tian Xin.



“Apa kamu akan kesini lagi setelah kau kembali ke China?”

“Aku pikir, aku akan kembali,” jawab Tian Xin.

“Jadi kamu disini untuknya, ya,” kata seorang dari antara mereka. Dan mendengar itu beberapa orang yang mengerti bahasa Chinesse mulai tertawa, kecuali Tian Xin.



“Kami hanya berpikir, dia datang kesini untuk pacarnya dan menyerah akan segalanya yang ada di China,” kata gadis yang berdiri disamping Tian Xin menggunakan bahasa English kepada mereka yang tidak mengerti bahasa Chinesse.

Tian Xin tampak tidak nyaman dengan pembicaraan mereka tentang dirinya. Apalagi ketika mereka tampak seperti mengetawai dan mengejeknya.



“Sebenarnya, aku sudah memiliki gelar master. Aku lulus dari universitas yang sama. Aku belajar marketing,” kata Tian Xin menjelaskan tentang dirinya sendiri.

“Oh, jadi kamu belajar bisnis? Kamu tau, kamu punya kesempatan lebih di China. Tapi memang sulit untuk menemukan pekerjaan di China sekarang.”

“Memang tidak mudah. Tapi aku sudah mendapat tawaran dari Ogilvy.”

“Woahh.. Ogilvy. Kemudian mengapa kamu datang kesini? Itu pengorbanan yang sangat besar,” komentar gadis disebelah Tian Xin lagi. Dan kali ini Tian Xin diam, tidak bisa menjawab.



Qian Hua mencoba bergabung lagi dengan grup yang dilihatnya, namun lagi- lagi dia diabaikan. Namun dengan bantuan dari Qi Lin, ia akhinya bisa berbaur dengan mereka.

“Perkenalkan semuanya. Ini istriku. Dia calonku. Qian Hua berasal dari keluarga Tushan,” kata Qi Lin memperkenalkan Qian Hua sambil memegangin bahu Qian Hua dihapadan para orang rubah yang ada disana.


“Senang berkenalan, semuanya. Aku tinggal diselatan selama ini. Tapi aku kembali ke keluarga besar yang disini. Aku harap kalian menjagaku,” sapa Qian Hua kepada mereka semua.

Saat mereka menanyakan tentang bagaimana dirinya dan Qi Lin bisa bertemu. Maka Qian Hua pun menceritakan nya pada mereka.


“Dulu. Aku dikejar oleh manusia dan terluka oleh karena realgar. Dan Tuan Imam menyelamatkanku. Aku jatuh cinta padanya disaat itu,” kata Qian Hua menceritakan tentang pertemuan pertamanya dengan He Lan.

“Itu tidak seperti yang kami dengar. Mereka bilang putri dari keluarga Tushan jatuh cinta pada seseorang dari selatan. Seseorang yang perasaannya tidak pernah berubah pada manusia. Jadi apa Imam kiri kamu adalah rencana candanganmu?”



Mendengar perkataan tidak bersahabat dari mereka. Dengan tenang, Qian Hua mengatakan bahwa benar ia menyukai He Lan. Namun He Lan tidak mencintainya. Jadi ia mencintai secara diam- diam.


“Namun ketika aku bertemu Zhao Song. Aku akhirnya sadar, menyukai seseorang bukan hanya keputusanku. Cinta adalah antara dua orang,” jelas Qian Hua sambil menyodok bola bliar.



Mereka bertanya lagi. Bagaimana bisa Qi Lin tergoda oleh Qian Hua. Namun Qi Lin hanya diam, tidak menjawab. Dan Qian Hua pun memberikan kode agar Qi Lin menjawab sambil memberikan tongkat bliarnya.



“Bagaimana? Aku hanya tidak bisa meninggalkannya sendirian. Aku tau dia tidak menyukai ku dulu, karena aku selalu hadir diwaktu yang salah, ditempat yang salah. Perkataanku tidak di dengarkan. Aku ceroboh,” kata Qi Lin sambil menyodok bola bliar.



“Aku tidak tau bagaimana menjadi Woo pada siapapun. Aku hanya tau aku menyukainya. Ketika aku merindukannya. Aku perlu melihatnya. Aku tidak ingin melihat dia melakukan pengorbanan. Aku tidak ingin dia berpura- pura kuat di depan orang lain. Itu begitu melelahkan. Itu membuat hatiku sakit,” kata Qi Lin dengan lembut sambil menatap Qian Hua.



Dan tampaknya Qian Hua sedikit terharu ketika mendengarkan itu. Ia berdiri disana, terdiam, tidak mengikuti Qi Lin dan yang lainnya, ketika mereka pergi untuk minum.

1 comment: