Sunday, July 15, 2018

Sinopsis K-Drama : Ms. Hɑmmurɑβi Episode 10-2

0 comments


Sinopsis K-Drama : Ms. Hɑmmurɑβi Episode 10-2
Images by : JTBC
Sidang di mulai,
Pengacara dari pihak perusahaan (tergugat) menjelaskan kalau pemecatan Nn. Kim di lakukan karena perusahaan sedang mengalami krisis sehingga harus melakukan pengurangan pegawai. Dan juga, Nn. Kim layak di berhentikan dan pemecatannya sudah sangat adil.
Hakim Han bertanya, apa benar perusahaan mengatur ulang perusahaan dengan membubarkan Tim Periklanan Satu, tim yang memiliki masalah pelecehan seksual. Pengacara membenarkan, hal itu karena setelah insiden itu media sosial mulai ribut dan memboikot barang-barang perusahaan. Dan banyak juga perusahaan klien yang membatalkan kontrak, karena itu perusahaan tidak punya pilihan lain selain membubarkan tim tersebut.
Nn. Kim hanya bisa diam mendengarkan. O Reum mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah.
Sidang selesai.
O Reum masuk ke ruangan dengan perusahaan meluap-luap. Menurutnya hal ini sangat tidak adil, kenapa perusahaan sangat melindungi pelaku tetapi melawan korban seperti itu?! Ba Reun memintanya untuk tenang, karena itu mereka harus buktikan siapa yang benar dan siapa yang salah di pengadilan.
O Reum tidak bisa menahan amarahnya. Dia membanting berkasnya dengan keras ke meja dan berteriak ‘Bajingan! Dasar bajingan tengik!’. Saat itu, pas sekali Bo Wang lewat dan hendak mengetuk pintu, tetapi mendengar teriakan O Reum, dia jadi kaget dan mengurungkan niatnya. Dia bahkan bergumam bahwa dia lah yang bajingan.
Sidang lanjutan,
O Reum meminta izin kepada Hakim Han untuk mengajukan pertanyaan. Hakim Han mengizinkan tetapi dia mewanti-wanti O Reum untuk tidak menggunakan emosi-nya.
“Adakah anggota Tim Periklanan Satu yang dipindahkan ke departemen lain setelah tim dibubarkan?” tanya O Reum.
“Ya, beberapa dipindahkan,” jawab pengacara.
“Berapa?”
“Totalnya sembilan.”
“Lalu berapa banyak pegawai di Tim Periklanan Satu?”
“Ada 11 pegawai,” beritahu pengacara.
“Itu termasuk Pak Yim Gwang Gyu, pelaku pelecehan seksual.”
“Ya, itu benar. Dia tidak bisa kembali bekerja karena kalah sidang.”
“Artinya, penggugat, Nn. Kim Da In, satu-satunya pegawai yang dipecat,” tanya O Reum memastikan.
“Ada satu orang lagi, Yang Mulia,” ujar Nn. Kim tiba-tiba memberitahu.
“Apakah magang, yang juga korban pelecehan seksual, dipekerjakan?”
“Saya rasa tidak, Yang Mulia.”
“Kenapa?”
“Departemen SDM-lah yang berhak mempekerjakan pegawai. Mungkin dia kurang kompeten.”
Nn. Kim membalas sindirian pengacara, apa pelaku Im Kwang Gyu di pekerjakan lagi karena dia luar biasa kompeten? Dan Nn. Kim memberitahukan kalau Tn. Im mendapat pekerjaan lagi di anak perusahaan ini. Dan mereka mendapat proyek pekerjaan yang dulu di kerjakan oleh tim-nya. Pengacara membantah. O Reum tidak mendengarkan dan membalas kalau begitu perusahaan hanya memecat 2 orang yang merupakan korban. Apa itu bisa di sebut adil? Hakim Han memandanginya dan berdehem kecil memberi tanda.
Pengacara menjawab kalau dia tidak tahu karena itu keputusan dari bagian SDM perusahaan. Nn. Kim menimpali kalau alasan pemecatannya hanya satu : karena dia mengatakan kebenaran. O Reum memandang iba pada Nn. Kim. Pengacara menegaskan kalau tuduhan Nn. Kim tidak berdasar. O Reum hendak membantah tetapi Hakim Han segera mengakhiri sidang. Dia meminta pengacara untuk memasukkan bukti bahwa pemecatan Nn. Kim memang adil.
Sidang selesai.
O Reum berjalan kembali ke ruangan bersama dengan Hakim Han dan Ba Reun. Hakim Han menegurnya karena tadi tidak bisa menjaga emosi. O Reum meminta maaf. Hakim Han bertanya apa O Reum harus pergi ke pengadilan Seoul lagi? O Reum mengangguk.
Ba Reun memberitahu kalau mereka akhirnya akan memangil (untuk sidang, bukan kasus Nn. Kim Da In tetapi kasus lain) pengacara Ko Doo Hwan. O Reum ingat kalau pengacara Ko adalah pengacara Tn. Yim (baca kembali episode 03) yang waktu terakhir istri Tn. Yim mau menuntutnya karena perlakuan tidak senonoh. Ba Reun membenarkan dan karena itu dia akan di periksa di kejaksaan.
Pengacara Ko tiba di pengadilan dan sudah banyak wartawan yang menunggu untuk meliput. O Reum kebetulan melihatnya. Tetapi, pengacara Ko tidak mau membuka suara apapun.
O Reum tiba di pengadilan Seoul. Dan dia berpas-pasan dengan hakim wanita yang biasa mewawancarainya. Hakim itu pindah ke tempat lain dan membawa barang-barangnya, dia melihat O Reum dengan tatapan penuh amarah. Dan sekarang O Reum di wawancarai oleh hakim pria.
“Astaga. Maaf merepotkan, Hakim Park. Anda tidak perlu datang lagi. Hakim Gam akan ditahan dan didakwa akhir pekan ini,” beritahu hakim tersebut.
“Anda jaksa baru yang ditugaskan di kasus ini?” tanya O Reum.
“Ya. Kurasa jaksa muda itu membuat kesalahan karena terlalu ambisius. Dia berusaha membesar-besarkan masalah. Pola pikirnya kuno.”
“Dia dipindahkan ke mana?”
“Entahlah. Mungkin tempat yang bagus. Jangheung atau Haenam, ya?”
O Reum terdiam mendengarnya.
Sidang kembali untuk kasus Nn. Kim.

Pengacara perusahaan memberitahu kalau alasan pemecatan Nn. Kim karena perilaku yang tidak pantas. Pengacara memberitahu kalau Nn. Kim ketahuan pacaran dengan manajer tim lain dan manajer tersebut sudah menikah. Nn. Kim berusaha menjelaskan kalau manajer itu bilang dia sudah bercerai, makanya mereka pacaran, tetapi, ketika dia tahu kebenarannya, dia segera memutuskan hubungan dengan manajer tersebut.
Pengacara menegaskan walau begitu Nn. Kim telah melanggar peraturan dan etika yang di tetapkan perusahaan. O Reum bertanya dengan emosi, apakah itu sebabnya salah satu eksekutif melakukan pelecehan seksual? Hakim Han berbisik dan memanggilnya. Tanda agar O Reum tidak melibatkan perasaannya.
“Penggugat (Nn. Kim) dikenal suka mengucapkan kata-kata tidak patut dan memakai busana tidak sopan ke kantor. Itu membuat banyak koleganya tidak nyaman. Selain itu, nilainya terendah dalam evaluasi performa terbaru. Serikat pekerja tidak menolak pemecatannya,” jelas pengacara.
Nn. Kim menghela nafas kesal. Dia kemudian memberitahu kalau Tn. Yim dekat dengan manajemen dan eksekutif pekerja. Dan juga saat sidang dulu (saat Nn. Kim menjadi saksi), saat Tn. Yim di nyatakan bersalah, dia sempat mengancamnya. Dan tidak lama setelah itu, dia di pecat. O Reum terlihat emosi mendengar hal tersebut.
Hakim Han mengambil alih jalannya sidang, dia meminta pengacara untuk memasukkan aturan HRD dan regulasi penilaian hasil kerja. Pengacara mengerti.
Sidang selesai.
O Reum di ruangan dan mengomel kesal, emangnya orang yang membuka aib orang lain, tidak punya kesalahan? Dia merasa tidak adil, karena yang bersalah tidak mendapat hukuman.  
“Orang yang bersalah malah tidak dihukum. Mudah sekali hidup sebagai penjahat. Dunia ini penuh persekongkolan. Mereka aman selama mereka berpaling dan bungkam,” gerutu O Reum dengan penuh amarah.
“Tenanglah.”
“Mana bisa tenang setelah melihat ini?” marah O Reum.
“Kamu hakim. Jangan asal menyimpulkan,” marah Ba Reun balik.
O Reum terdiam. Dia memandang patung simbol pengadilan : seorang wanita yang memegang timbangan dengan mata tertutup. “Kini aku mengerti alasannya menutup matanya. Agar adil? Salah. Dia menutup matanya agar tidak melihat kebusukan manusia. Jika tidak, dia sudah menebas mereka.”
Ba Reun berusaha menenangkannya, dia paham perasaan O Reum. O Reum tidak percaya, apa yang Ba Reun pahami? O Reum menunjukan artikel yang di bukanya dari komputernya, ‘Pengacara Ko Doo Hwan Dibebaskan.’ Ba Reun terdiam. Ba Reun kemudian mendapat notifikasi pemberitahuan di komputernya mengenai Hakim Sung yang di pindahkan ke Pengadilan Tinggi Seoul karena adanya posisi kosong. Dia memberitahukan hal ini pada O Reum. Dan O Reum terkejut.
Hakim Sung menerima telepon dari rekannya dan tertawa bahagia. Hakim Hong dan hakim pembantu Sung yang lain, masuk ke dalam ruangan Hakim Sung dan memberikan selamat kepada Hakim Sung yang bisa bekerja di Pengadilan Tinggi. Hakim Sung mengabaikan mereka dan sibuk menerima telepon.
Selesai berteleponan, Hakim Sung menyuruh kedua hakim pembantunya untuk duduk. Dia mulai berceramah panjang lebar.  
“Hakim Hong. Hubungan kita berawal dengan buruk karena kesalahpahaman. Karena aku akan pergi, kuharap tidak ada lagi dendam. Segalanya pasti berlalu. Tapi mereka yang pergi selalu kembali. Aku yakin kita akan berjumpa lagi,” ujar Hakim Sung kepada Hakim Hong dengan sinis.
Hakim Hong hanya bisa diam.

Hakim Kwon, Hakim Bae dan Hakim Woo menemui Hakim Sung dan memberikan ucapan selamat. Hakim Sung dengan sombong berkata kalau ini semua berkat kalian. Dia mengucapkannya dengan banmal. Setelah itu dia langsung pergi. Jelas saja ketiga hakim itu kesal dengan sikap sombong Hakim Sung. Hakim Bae bahkan berkata kalau Hakim Sung boleh senang sekarang, tapi, hal itu pasti tidak akan bertahan lama.
Sek. Lee pulang dan pergi ke parkiran. Dia melihat mobil Bo Wang yang lecet. Bo Wang kebetulan melihatnya, dan dia segera menghampirinya. Bo Wang meminta maaf atas ucapannya tempo hari.
“Keluargaku tidak terlihat kaya. Saat wanita muda punya mobil sepertiku, itu berarti dia bekerja di bar atau kekasih pria kaya. Itu sudah jelas,” ujar Sek. Lee. “Aku tidak marah. Aku tahu Anda lugas. Tapi justru itu Anda membosankan. Bisa-bisanya Anda cepat menghakimi? mobil Lebih lagi, Anda memutuskan untuk tidak peduli. Ini bukan zaman dahulu. Perbaiki  Anda. Anda naik ini saat kencan? Wanita yang bekerja di bar tidak akan suka.”
“Do Yeon,” hentikan Bo Wang. Berusaha memberitahu kalau bukan itu maksud perkataannya waktu itu.
Tetapi, Sek. Lee mengabaikannya dan masuk ke dalam mobil merahnya. Bo Wang hanya bisa menghela nafas.
O Reum di ruangan berjalan mondar-mandir. Dia memikirkan cara untuk menolong Nn. Kim agar bisa menang dalam persidangan. Ba Reun memberitahu kalau tidak ada yang salah dalam pemecatan Nn. Kim karena semuanya sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku. O Reum kesal. Dan pada akhirnya, O Reum berencana untuk melakukan segala cara menyelamatkan Nn. Kim bahkan jika dia harus membuat berita kasus ini di siarkan di berita. Agar perusahaan itu hancur karena pemberitaan pemecatan tidak adil. Ba Reun tidak setuju mendengarnya. Dia mengingatkan kalau itu namanya bukan keadilan. O Reum tidak peduli, sekarang dia hanya ingin membalas dendam. Dunia tidak memerlukan yang namanya keadilan. Dia hanya ingin mata ganti mata, gigi ganti gigi.
Ba Reun kecewa mendengarnya. Dia dengan tegas menyuruh O Reum untuk melepaskan jubah hakimnya jika ingin membalas dendam. O Reum membalas Ba Reun yang munafik. Dia menunjuk lukisan yang Ba Reun pajang, lukisan dengan gambar banyak orang yang seperti meraih sesuatu.
“Lihat itu. Kamu membenci manusia. Kenapa kamu berlagak suci? Kamu bilang manusia itu naif dan serakah,” ujar O Reum penuh amarah.
“Aku tidak ingin menjadi seperti mereka. Mungkin ada manusia yang hina, tapi aku tidak mau meniru mereka. Itulah alasanku. Mungkin aku tidak bisa mengubah dunia. Tapi setidaknya aku ingin menjaga prinsip,” tegas Ba Reun.
O Reum menatapnya.
O Reum berjalan pulang. Dia kemudian menerima telepon dari Yong Jun yang mengajak bertemu.
O Reum bersama Yong Jun minum-minum di sebuah bar. Yong Jun dapat menebak kalau O Reum pasti punya masalah. Dia memberitahu O Reum kalau ingin mengubah dunia, maka O Reum harus mempunyai kekuasaan terlebih dahulu. Dia menawarkan dirinya pada O Reum. Jika O Reum ingin mengubah dirinya, maka manfaatkan lah dia. Dia adalah anak orang kaya yang bisa mendapatkan apapun tanpa berusaha. O Reum bertanya apa yang bisa dapatkan dengan memanfaatkan Yong Jun?
“Contohnya, menegakkan keadilan atau membalas dendam. Contoh lebih sepele, kamu bisa memailitkan perusahaan yang membela pelaku pelecehan atau menerbitkan rangkaian berita tentang ketua majelis hakim yang melanggar hak asasi hakim wanita,” ujar Yong Jun.
O Reum menatapnya. Dari mana Yong Jun bisa tahu apa yang dia inginkan?
“Itulah kekuasaan,” jawab Yong Jun.
“Kenapa kamu menyarankan untuk memanfaatkanmu?”
“Manusia tidak pernah bertindak demi kepentingan orang lain. Mereka hanya bertindak demi kepentingan pihak mereka. Manfaatkan aku jika itu bisa membuatmu di sisiku selamanya.”
O Reum terkejut mendengarnya. Yong Jun menyuruhnya untuk tidak menjawab sekarang, O Reum bisa memikirkannya pelan-pelan.
Esok hari,
Rapat antara O Reum, Ba Reun dan Hakim Han membahas kasus Nn. Kim. Hakim Han memberitahu kalau tidak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka tidak punya dasar hukum yang bisa menghukum perusahaan tersebut. O Reum marah mendengarnya. Hakim Han menegaskan kalau tidak ada pilihan, mereka harus mematuhi hukum karena mereka adalah hakim.
O Reum mengerjakan kasus dengan emosi. Dia terus melihat kasus dan tidak konsen. Dia juga mengetik dengan kasar. Ba Reun menghampirinya dan menegurnya. Dia menyuruh O Reum untuk istirahat. O Reum menolak, dia masih punya banyak pekerjaan. O Reum dalam kondisi tidak stabil.
Ba Reun menegang bahu O Reum dan memintanya untuk berhenti (marah pada dirinya).
O Reum menangis meluapkan emosi yang sudah di tahannya selama beberapa hari ini, “Seandainya tahu begini, aku tidak akan mau menjadi hakim. Dunia ini sangat kacau balau. Seandainya tahu aku tidak berdaya sebagai hakim, aku tidak akan giat belajar,” sesal O Reum.

No comments:

Post a Comment