Sunday, July 15, 2018

Sinopsis Lakorn : My Cinderella Girl Episode 01-5/5

0 comments


Sinopsis Lakorn : My Cinderella Girl Episode 01-5/5
Images by : Channel 3
Phu sudah tersadar dari pingsan-nya. Tepat saat itu Wat kembali. Dan Wat memberitahu kalau dia baru saja mengantar Prim pulang, ke rumah ayah Phu, Khun Pree. Touch mencoba positif, mungkin saja Prim benar-benar keponakan Khun Pree.
Phu tertawa karena hal itu tidak mungkin. Dia mengenal semua saudara ayahnya. Touch mengingatkan kalau Phu hampir tidak pernah bicara dengan Khun Pree. Phu tetap pada pendiriannya, Prim tidak mungkin keponakan ayahnya. Dia yakin kalau Prim dkk adalah kelompok penipu. Dan dia akan membuktikannya!
New York
Khun Pat dan Vicky sudah tiba di New York dan bertemu dengan Vee dan ayahnya. Khun Pat bukannya berusaha menyelesaikan masalah, tetapi dia malah membahas restoran ayah Vee yang kabarnya bangrut. Dia juga mengejek ayah Vee yang pintar karena menyuruh Vee ‘membantu’ nya mengumpulkan uang.
“Hey! Kau pikir aku akan menghancurkan masa depan anakku hanya untuk mendapatkan uang darimu?” marah ayah Vee. “Tidak heran kenapa anakmu (Pong) sangat buruk!”
“Aku juga tidak heran kenapa putrimu tidak tahu malu!” balas Khun Pat menghina.
Ayah Vee tentu emosi mendengar hal itu. Dia hendak memukul Khun Pat, tetapi Pong bangkit dan berteriak menyuruh ayah Vee untuk tidak berani menyentuh ibunya. Vee juga meminta ayahnya untuk tidak melakukan hal tersebut.
Khun Pat mengeluarkan sebuah amplop tebal dari tas-nya. Isi amplop itu adalah 1 juta baht. Dia memberikan uang itu, dan selanjutnya, jangan pernah mencampuri hidup keluarga mereka lagi. Ayah Vee menolak uang itu, dan dia juga tidak mau berhubungan dengan keluarga Khun Pat lagi.
“Aku akan menganggap hal ini sebagai nasib anakku yang tidak beruntung,” marah ayah Vee dan segera menyeret Vee untuk pergi.
Di luar, Ayah Vee memarahi Vee karena sudah mau berhubungan dengan Pong. Dan lihat sekarang, Vee hanya di pandang rendah oleh mereka. Vee menangis dan menjawab kalau dia mencintai Pong. Ayah Vee marah, dia menangis mendengar jawaban putrinya.
“Hanya memikirkan kau menjadi wanita murahan, hatiku sudah hancur berkeping-keping. Dan kau masih mau bertingkah bodoh seperti ini?!!” marah ayah Vee dan pergi.
Vee menunduk dan menangis. Dia meminta maaf atas kesalahannya.
Pong mengenggam tangan Khun Pat dan berterimakasih atas bantuan ibunya itu. Dia sangat mencintai ibunya. Khun Pat meminta Pong untuk melakukan hal yang benar dan jangan membuat masalah lagi. Pong mengerti, dia bahkan berjanji hanya akan melakukan hal baik mulai sekarang dan akan membahagiakan Khun Pat. Khun Pat senang mendengarnya.
Vicky tiba-tiba berkata kalau dia merasa kasihan dengan Vee. Khun Pat tidak suka mendengarnya, baginya Vee hanyalah wanita murahan.
“Vicky, ingatlah hal ini. Di dunia ini banyak orang miskin yang ingin hidup nyaman dan tidak mau bekerja keras. Kita akan bertemu orang-orang seperti itu sepanjang hidup kita. Jika kita tidak kuat, kita akan dikalahkan oleh mereka. Mengerti?!” marah Khun Pat.
Vicky hanya bisa diam dan tidak membantah. Tiba-tiba, dia menerima telepon dari Phu yang meminta bantuan.
Phu menerima informasi pekerja di mall Khun Pat dari Vicky. Dan dia mendapati ada foto Prim dkk di daftar mantan pekerja mall (untuk mengingatkan, waktu itu Phu pernah melihat pertengkaran Prim dkk dengan Angie dkk di basement mall, dan dari sana dia tahu kalau Prim dkk bekerja di mall Khun Pat).
Phu kemudian menelpon Vicky dan memberitahu kalau dia sudah menerima email-nya dan berterimakasih atas bantuannya. Vicky balas bertanya, kenapa Phu menginginkan informasi pekerja tersebut? Phu memberitahu kalau dia bertemu mereka di Phuket dan dia akan menceritakannya nanti ke Vicky.
Phu menemui Wat dan memberitahu kalau dia akan mulai menyelidiki Prim dkk. Sendiri.
Rita sedang membuang sampah. Tiba-tiba, Wat datang dan meminta tolong pada Rita. Dia memberitahu kalau dia dkk nya sedang di kejar dan di tembak oleh seseorang. Rita panik dan segera membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Wat dkk masuk. Saat hendak menutup pintu gerbang, Rita baru teringat sesuatu.
Rita dengan panik masuk ke dalam rumah dan naik ke lantai dua. Dia membangunkan Prim dan Boot yang sedang tidur di lantai. Dia memberitahukan kalau Wat, pemilik hotel Mook Talay, sedang di sini. Prim langsung bangkit dan berteriak kaget. Dia memarahi Rita karena mengizinkan mereka masuk. Rita meminta maaf. Prim segera menginstruksikan Rita untuk memblock Wat agar tidak masuk ke dalam rumah. Rita segera berlari turun.
Prim berusaha membangunkan Boot. Tetapi, Boot tidak mau terbangun juga hingga Prim terpaksa menyeretnya. Boot terbangun ketika dia tertabrak pintu. Prim memberitahu kalau Wat ada di sini dan mereka harus segera membereskan barang-barang. Prim dan Boot segera merapikan ruang keluarga (tempat mereka tidur) dan menyembunyikan matras, bantal, kipas dll di lantai tiga. Mereka juga mandi dan sikat gigi secara bersamaan.


Rita menyampaikan kepada Wat untuk menunggu Prim turun dulu. Phu merasa curiga mendengarnya. Dia memberitahu kalau teman mereka, Touch, sedang terluka parah. Dan untuk menyakinkan, Phu menuangkan saus ke mulut Touch. Setelah itu, Touch keluar dari mobil dengan memegang dadanya, dan kemudian menumpahkan saus di mulutnya ke lantai, seolah-olah dia muntah darah.
Phu dan Wat segera meminta izin masuk karena kondisi Wat. Rita terlalu panik melihat darah (yang sebenarnya adalah saus) tercecer di lantai hingga tidak menyadari Phu, Wat dan Touch masuk ke dalam rumah.

Saat Rita sudah tersadar, dia segera mengejar mereka. Dia menghalangi mereka untuk naik ke lantai 2. Tiba-tiba, Prim yang sudah berberes, turun dari lantai dua, dan bertanya apa yang terjadi? Rita memberitahu kalau Wat dkk sedang di kejar orang. Prim bertanya alasan mereka di kejar orang? Wat berbohong kalau mereka di kejar oleh geng dua pria yang kemarin mencoba menculik Prim dkk. Mereka menghajar Touch dan untungnya mereka berhasil kabur. Dan mereka dalam situasi bahaya sekarang. Prim menyarankan untuk melapor ke polisi. Wat beralasan kalau orang yang mengejar mereka itu gang mafia, dan percuma melapor ke polisi.

Wat kemudian lanjut berkata kalau untungnya ayahnya kenal beberapa orang di bidang itu, dan mungkin bisa menolong mereka. Tetapi, untuk keamanan, dia ingin meminta izin untuk tinggal di rumah Prim selama satu hari. Prim dan Rita jelas terkejut.
“Tempat ini tidak mengizinkan orang asing masuk,” ujar Boot yang tiba-tiba muncul dari lantai atas.

Wat sampai menghela nafas kesal melihat Boot. Rita membela Wat yang bukan orang asing dan sudah menolong mereka kemarin. Boot memarahi Rita. Wat malah memuji Rita yang sangat manis. Boot mengusir mereka untuk pergi ke hotel Wat saja, kan hotelnya besar. Wat menjelaskan kalau dia takut orang-orang itu akan menyerang hotelnya.
“Dan kau tidak takut mereka akan menyerang rumah ini?” tanya Boot balik.
“Itu karena mereka tidak tahu bahwa kami di sini,” jelas Wat.
Wat kemudian memohon pada Prim utnuk mengizinkannya. Prim dalam posisi dilema. Dia berusaha menolak dengan alasan kalau pamannya akan marah jika dia membawa pria menginap. Phu angkat suara, dia memberitahu kalau Wat mengenal Khun Pree dan karena itu, dia menyuruh Wat untuk menelpon Khun Pree dan meminta izin menginap. Prim panik dan berteriak agar mereka tidak menelpon pamannya karena pamannya sekarang berada di dalam hutan. Phu menyuruh Wat untuk mencobanya dulu.
Wat sudah hendak menelpon Khun Pree (yang tentu nya pura-pura). Prim yang tidak punya pilihan, akhirnya mengizinkan mereka untuk menginap di rumahnya. Boot tidak setuju tetapi tidak bisa membantah.
Prim membawa Wat dkk untuk tinggal di kamar tamu di belakang rumah. Wat berterimakasih untuk tumpangan Prim. Wat kemudian bertanya, apa hanya Prim dkk yang tinggal di rumah ini?
“Ya. Hanya kami bertiga. Tetapi, disini banyak kamera pengintai dan juga alarm keamanan,” jawab Boot.
Wat menjawab pada Boot kalau dia hanya bertanya dan tidak punya rencana jahat seperti yang Boot pikirkan. Boot makin kesal dengan Wat. Prim segera menjelaskan mengenai rumah ini, bahwa ada pengurus rumah yang datang setiap pagi untuk membersihkan. Dan pengurus taman yang datang setiap seminggu sekali. Dan juga untuk makanan, mereka menyiapkannya sendiri.
Phu kemudian bertanya dimana rumah Prim sebenarnya? Apa di sekitar kawasan Charoen Rat, tempat mereka pertama bertemu? Kalau iya, dia ingin mampir. Prim segera membantah. Phu jadi penasaran dan bertanya dimana? Boot dan Rita jadi gugup. Prim juga gugup dan akhirnya beralasan kalau dia tidak suka orang lain tau kehidupan pribadinya.
“Oh… Khun Prim. Kami hanya ingin berkunjung nanti. Bukannya membawa polisi untuk menangkapmu,” ujar Phu seolah bercanda.
Prim jadi takut. Boot dan Rita memberi tanda untuk tidak memberitahu.
“Rumahku jauh sekali,” jawab Prim.
“Jauh? Khun Prim. Aku sudah berkeliling untuk bermain music (Prim mengira Phu adalah pekerja yang memainkan piano di hotel Wat) di setiap provinsi, setiap area dan setiap kawasan di Thailand. Tidak ada tempat yang aku tidak tahu,”ujar Phu.
“Rumahku… sangat sulit untuk di kunjungi.”
“Sulit? Kenapa? Apa mobil tidak bisa ke sana?”
“Itu… itu… rumahku tidak di Thailand,” bohong Prim. Boot dan Rita juga ikutan kaget mendengar kebohongan Prim yang berlebihan. “Aku tinggal… di kota…. Prancis!”
Phu pura-pura terkejut. Wat juga berakting terkejut. Phu bertanya lagi di provinsi mana Prim tinggal. Prim gugup dan asal menjawab kalau dia tinggal di Paris. Boot dan Rita sampai melotot mendengar jawaban absurd tersebut.
“Itu berarti keluargamu pasti kaya! Sangat kaya! Jadi, aku harus menabung untuk pergi mengunjungimu,” ujar Phu berpura-pura antusias.
Prim yang sudah capek di tanya ini itu, segera pamit keluar dan menyuruh mereka untuk bersantai.
Saat Prim dkk sudah pergi, Phu dkk langsung memasang wajah serius. Phu menyuruh Wat untuk lanjut ke rencana B. Wat tersenyum.
Boot menggerutu karena kebohongan Prim yang berlebihan kalau mereka datang dari Paris. Prim meminta maaf, dia tidak bermaksud berbohong sampai segitunya. Boot mengerti tetapi dia merasa kalau Prim akan menemui masalah yang lebih serius mulai dari sekarang.
“Pertama, coba pikirkan bagaimana kita akan menjamu mereka? Sekarang ini, kulkas kita sudah hampir kosong,” beritahu Boot.
“Bahkan jika uang kita bertiga di gabung, itu hanya tersisa beberapa ribu baht,” lanjut Rita.

Prim jadi pusing. Saat itu, Wat menghampirinya. Dia mengajak mereka untuk keluar dan makan bersama, dan dia yang akan traktir. Prim dan Rita jelas senang mendengarnya dan setuju. Tetapi, Boot menolak.
“Aku pikir, kenapa kita tidak menukar dari membeli makanan di restoran, menjadi belanja bahan segar dan masak sendiri. Itu lebih enak,” saran Boot.
Prim setuju dengan ide brilian Boot. Dia meminta Wat untuk tunggu sebentar sementara mereka pergi mengambil tas. Wat bersedia.
Saat Prim dkk sudah masuk ke dalam. Wat memberi tanda ‘oke’ pada Phu dan Touch yang diam-diam mengawasi. Touch masih ragu dan bertanya apa Phu yakin mau masuk ke dalam kediaman utama? Bukankah tadi Boot sudah bilang kalau disini banyak kamera dan alarm keamanan?
“Aku rasa mereka bohong. Ibu selalu bilang kalau ayah tidak takut pada apapun,” jawab Phu.

Prim dkk sudah siap dan hendak masuk ke mobil Wat. Tetapi, Boot menghalangi. Dia menyarankan Prim untuk tetap di rumah sementara dia dan Rita yang pergi bersama Wat. Wat jelas terkejut karena hal itu di luar rencana.
“Kenapa?” tanya Prim heran.
“Hanya untuk berjaga jika Phu dan Touch memerlukan sesuatu. Jadi, harus ada seseorang yang menjaga mereka,” jelas Boot.
“Tapi…,” ujar Wat.
“Ngapa?! kau bisa mati kalau Prim nggak ikut?” tanya Boot ketus.
Rita menyarankan kalau dia saja yang jaga rumah. Boot tidak setuju karena Rita itu yang paling lemah, jika ada sesuatu, Rita pasti nggak akan selamat. Boot memaksa Prim untuk masuk ke dalam rumah. Setelah itu, dia langsung masuk ke mobil bersama Rita. Wat jelas kesal. Dia secara diam-diam mengirim pesan pada Phu memberitahu kalau Prim tidak jadi ikut. Tetapi, sayangnya, Phu tidak melihat pesannya.

Prim membereskan matras, bantal, guling, kipas yang tadi di lempar begitu saja di lantai 3. Dia memasukkan semua itu ke dalam kamar. Phu kebetulan melihatnya dan saat Prim keluar kamar, dia segera bersembunyi.
Phu kemudian tidak sengaja menyenggol gagang pel dan menimbulkan suara. Prim segera mengecek ke sumber suara, tetapi tidak ada orang. Dia mengira kalau gagang pel terjatuh karena terkena angin. Untungnya, dia tidak melihat Phu yang bersembunyi.

Phu melihat ada tangga ke atas lagi. Jadi, dia segera saja mau ke atas, tetapi, hal itu membuat alarm keamanan yang di pasang di dekat tangga menuju ke atas berbunyi. Prim datang untuk melihatnya dan terkejut melihat Phu. Phu pun juga terkejut.

No comments:

Post a Comment