Thursday, August 16, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 1 - part 1

0 comments

Network : Channel 3

 Dirumah sakit. Di dalam ruangan melahirkan. Seorang wanita merintih kesakitan. Dia menarik nafasnya berkali- kali. Berusaha untuk melahirkan bayinya.

Seorang Pria datang kerumah sakit dan ingin masuk kedalam ruangan tempat si wanita mau melahirkan. Tapi dia ditahan oleh keluarga si Wanita.

“Jangan, Nai!” tahan Ayah si wanita.

“Jangan lakukan itu, Nai!” tambah Ibu si wanita.



Didalam ruangan melahirkan. Karena saking sakitnya,  tangan si Wanita menggapai- gapai untuk mencari sesuatu yang dapat dipegangnya. Dan si Pria yang baru masuk kedalam ruangan membiarkan si Wanita memegangin lengan atasnya.

Lalu setelah perjuangan yang panjang itu. Akhirnya si Bayi berhasil dilahirkan. Dan Dokter memberikan selamat kepada si Wanita yang telah berhasil melahirkan bayi laki- laki.

“Dia sempurna, kan?” tanya si Wanita dengan suara yang terdengar kelelahan.

“Iya,” jawab Dokter.

“Bolehkah aku melihat bayi ku?” tanya si Wanita.

“Iya,” jawab Dokter.



Seorang perawat menghampiri si Wanita sambil menggendong bayi yang baru dilahirkan si Wanita. Namun sebelum si Wanita sempat melihat wajah bayinya. Si Pria berdiri menghalangin perawat itu.

“Biarkan hanya aku yang melihat dia. Hanya aku yang Ayahnya,” jelas si Pria kepada perawat itu. Lalu dia mengambil bayi itu dari tangan si Perawat dan menggendongnya.

Mendengar itu, si Wanita menjadi heran. Dia memegang tangan si Pria dan menahannya. “Tapi aku adalah Ibunya! Luckanai.”

“Ibu? Kamu mungkin sudah lupa dengan apa yang kamu katakan dan lakukan, Khun Muanchanok,” balas si Pria dengan nada tajam. Lalu pergi dari sana sambil membawa bayi si Wanita.

Dan dengan sedih, si Wanita mulai menangis.


2 tahun lalu. London, England.

Disebuah kampus. Seorang wanita berpakaian hitam, memamerkan mobil biru barunya kepada kedua orang temannya. Mobil itu dibeli untuk merayakan kelulusan nya.

Dan pada saat sedang mengobrol seperti itu, tiba- tiba saja sebuah mobil putih yang melaju kencang berhenti tepat didepan mereka.



Muanchanok (Nok) melepaskan kacamata hitam yang dipakainya. Lalu dia membuka atap mobil mewahnya. Dan setelah itu dengan sikap marah, Nok turun dari mobil dan menghampiri si Wanita berpakaian hitam itu.

“Kamu tau namaku? Aku kira kamu tidak punya otak! Mencuri tugas seseorang dan menjadikannya milikmu!” kata Nok dengan emosi. Sambil memperlihatkan sebuah map biru muda yang dibawanya.


Si Wanita berbohong. Dia mengatakan bahwa dia tidak ada mencuri tugas siapapun. Tapi Nok tidak percaya, karena terakhir kali si Wanita ada meminjam laptopnya, lalu setelah itu tugas miliknya hilang. Dan sekarang tugas yang si Wanita kumpulkan itu persis sama seperti tugas yang telah dibuatnya.

Dan dengan marah, Nok lalu melemparkan map yang dibawanya itu kepada si Wanita.

Si Wanita mengakui perbuatannya. Dia sengaja melakukan itu, karena Nok telah berani mengkritik tugas yang dibuatnya dengan begitu buruk.

“Inilah hidup! Tidak harus selalu mengikuti aturan. Terkadang, ada kecelakaan yang harus dihadapi. Sekarang biarkan aku mengendarai mobil baruku untuk merayakan kelulusan ku. Bye,” kata si Wanita tanpa tahu malu.


Nok dengan kesal kembali masuk kedalam mobilnya. Lalu melalui kaca spion, dia melihat mobil baru yang dinaiki si Wanita. Dan dengan sengaja, Nok lalu memundurkan mobilnya dan menabrak mobil si Wanita.

Dan tentu saja, hal itu membuat si Wanita menjadi terkejut serta emosi. Dia turun dari mobilnya dan memarahi Nok.

“Sorry. Inilah hidup! ! Tidak harus selalu mengikuti aturan. Terkadang, ada kecelakaan yang harus dihadapi,” kata Nok dengan santai, mengulangin perkataan si Wanita.



“Aku akan melaporkan tindakanmu! Supaya kamu dikirim pulang ke Thailand!” ancam si Wanita dengan marah.

“Aku pasti akan pulang. Karena aku sudah lulus. Tidak seperti seseorang…” kata Nok sambil mendengarkan pembicaraan mereka tadi yang telah direkamnya.

“… Malang nya. Kamu tau! Apapun yang menjadi milikku, aku tidak akan membiarkan siapapun untuk merebutnya. Bye!” lanjut Nok sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Lalu dia melajukan mobilnya dan pergi.


Dijalan. Bangga akan keberhasilannya. Nok menciumin foto keluarganya yang menjadi foto walpaper di layar hapenya.


Didalam mobil. Dalam perjalanan pulang. Dengan ceria, Nok menelpon Ayahnya dan mengingatkan tentang hari pernikahan Ayah dan Ibunya.

“Ayah jangan lupa membawa Ibu untuk makan malam di restoran favorite kita ya. Karena aku telah memesan kan tempat secara online,” jelas Nok.

“Ya. Setelah pekerjaanku selesai, aku akan menjemput Ibumu,” balas Ayah. Dan dengan senang, Nok lalu mematikan telponnya.

Selanjutnya Nok menghubungin Ibunya untuk mengingatkan dia juga.


“Aku akan mengambil selfie dan mengirimkan kamu fotonya. Jadi jangan sampai cemburu pada kami ya… Aku sedang manikure sekarang … ,” kata Ibu. Lalu dia memberikan kecupan berkali- kali untuk Nok dan setelah itu dia mematikan telponnya.




Selesai bertelponan dengan Nok. Ibu yang awalnya tersenyum langsung berubah menjadi cemberut. Dengan tajam dia menatap pada Suaminya (yaitu Ayah Nok) yang sedang duduk disebelahnya.

“Hmm.. bisakah kamu menanda tanganin nya sekarang?” kata Polisi yang sedang duduk dihadapan mereka.

Ibu mengambil pena dan mau menanda tanganin kertas yang ada dihadapannya, tapi dia ragu dan tidak jadi. “Apa kamu yakin? Nok bisa menerima ini?”

“Aku pikir … tidak,” balas Ayah dengan ragu.


Melihat keraguan mereka berdua, maka si Polisi menarik kembali kertas yang dia berikan kepada mereka. Tapi dengan cepat, Ibu dan Ayah menarik kertas itu dan lalu menanda tanganin nya.

Setelah mereka berdua telah selesai menanda tanganin kertas itu. Si Polisi memberitahukan bahwa untuk melakukan perceraian, maka mereka berdua membutuhkan dua orang saksi.



Dan mendengar itu, Ibu serta Ayah menjadi bingung. Lalu kebetulan disaat itu ada sepasang pasangan disebelah mereka yang sedang melakukan pendaftaran pernikahan.

Jadi melihat itu, maka Ibu pun memanggil mereka dan meminta tolong kepada mereka berdua. “Halo … setelah selesai mendaftarkan pernikahan kalian. Bisakah kalian menjadi saksi untuk perceraianku?” kata Ibu sambil tertawa.

Dan mendengar itu, Ayah langsung melihat kearah Ibu dengan pandangan aneh. Tidak menyangka bahwa Ibu akan melakukan hal seperti itu.



Malam hari. Ibu makan malam berdua bersama dengan Ayah. Disana Ibu mengenang 25 tahun yang lalu, ketika dia menerima lamaran Ayah direstoran ini. Dan kini dia menyesali nya.

Mendengar itu, Ayah membalas bahwa dia juga menyesal. Dia tidak bisa percaya bahwa 25 tahun yang lalu, dia pernah melamar Ibu.


Suasana antara Ibu dan Ayah mulai tidak baik. Mereka sama- sama tidak mau melanjutkan makan malam ini lagi. Dan mereka lalu memutuskan untuk berfoto selfie dulu, setelah itu berpisah.

“Berpura- puralah untuk masih menjadi pasangan. Tersenyum!” gerutu Ibu, karena Ayah sama sekali tidak tersenyum. Dan dengan terpaksa, Ayah pun tersenyum.


Tepat disaat Ayah dan Ibu sedang mau mengambil foto selfie. Nok datang dan ikut bergabung berfoto bersama mereka berdua. Dan karena terkejut, mereka berdua langsung menganga dengan mulut terbuka lebar.



Nok tersenyum senang melihat semua foto selfie mereka bertiga. Sedangkan Ibu sama Ayah yang masih terkejut, karena tidak menyangka bahwa Nok akan datang. Maka mereka pun menjadi panik.

“Eh.. berapa umur pernikahan kalian sekarang?” Tanya Nok dengan riang kepada kedua orang tuanya.

“Nok! Hari ini kami mau..” kata Ayah ingin menjelaskan.

“Yeah! 25 tahun! Sangat cepat ya! Sayang aku tidak bisa bersama kalian beberapa tahun ini. Tapi sekarang aku sudah pulang. Jadi tahun depan kita harus kesini lagi bersama- sama,” potong Nok dengan nada riang.


Melihat betapa cerianya Nok, maka Ayah serta Ibu pun menjadi kesulitan untuk menjelaskan tujuan mereka yang sebenarnya. Dan mereka pun mengiyakan perkataan Nok.

Setelah itu, untuk menghilangkan ke canggungan yang ada, maka Ayah menyarankan agar mereka memesan dessert. Dan Nok setuju.

“Permisi, tolong bawakan buku menu nya,” kata Ibu kepada pelayan.

“Itu ada disebelahmu,” kata Ayah, ketika melihat buku menu yang berada disebelah Ibu. “Jika ini ular, maka pasti kamu sudah digigit,” gerutu Ayah. Lalu dia mengambil buku menu itu dan memberikannya kepada Nok.



Pelayan datang dan memberikan buku menu kepada Ayah. Dan ketika melihat sampul buku menu yang diberikan kepadanya itu, Ayah serta Ibu pun menjadi kaget.


Ibu teringat ketika dia berada dikantor perceraian. Disana ketika dia melihat pasangan disebelahnya mendapatkan sebuah amplop yang tampak bagus, maka Ibu pun menjadi pengin dan dia lalu meminta kepada si Polisi.

Teringat akan surat perceraian mereka. Ibu serta Ayah menjadi kaget. Namun sayangnya mereka telah terlambat, karena Nok telah membaca semuanya itu.

“Apa ini?” tanya Nok.



Dengan kesal Nok berjalan cepat. Dan lalu tanpa sengaja seorang Pria menabraknya. Tapi karena melihat Ayah serta Ibunya yang datang mengejar, maka Nok tidak mempersalahkan itu dan langsung berlari pergi.

Lalu tanpa sadar, Nok masuk kedalam toilet Pria. Dan disana dia masuk kedalam salah satu bilik yang ada  dan mengunci pintunya.

Dua orang pria yang sedang buang air kecil disana menjadi malu dan salah tingkah, ketika melihat kedatangan Ibu. Dan dengan segera mereka cepat- cepat menyelesaikan buang air mereka dan keluar dari kamar mandi.



Ayah memanggil Nok dan ingin menjelaskan. Tapi Nok yang sedang sedih tidak mau mendengar kan itu.” Mengapa? Kamu berjanji padaku bahwa kamu tidak akan bercerai. Kamu dan Ibu berjanji.”

“Nok. Kami sudah jatuh cinta. Tapi sekarang kami bahkan tidak suka melihat satu sama lain. Apa tau betapa banyak kesedihan kami?” balas Ibu.

Mendengar Ibu yang berbicara seperti itu. Ayah pun menghentikannya. Dia mengingatkan Ibu tentang pertemuan penting yang Ibu harus hadiri.

“Bagaimana bisa aku pergi sejak anak ku masih berada didalam sini?” balas Ibu, tidak mau pergi.

“Nok. Jika kamu masih bertindak keras kepala. Maka aku akan masuk kedalam!” teriak Ibu kepada Nok.



“Jika kamu mau bicara dengan dia seperti ini. Maka cukup,” balas Ayah menghentikan perkataan Ibu yang tidak masuk akal.

“Mengapa? Mengapa aku tidak bisa  bicara dengan anakku?” balas Ibu. Lalu tiba- tiba hape nya berbunyi.

“Tolong pergilah. Aku mohon. Percaya aku. Aku akan bicara padanya,”  bujuk Ayah agar Ibu pergi. Dan akhirnya Ibu pun setuju untuk pergi.

Tapi sebelum keluar dari toilet Ibu berhenti dan ingin kembali lagi. Tapi melihat itu, Ayah memberikan kode agar Ibu tidak kembali dan pergi saja.

“Buat dia keluar. Dan hubungin aku. Tanganin itu!” kata Ibu mengingatkan Ayah, lalu pergi.



Setelah Ibu pergi. Ayah  berusaha untuk membujuk Nok. Dia meminta maaf kepada Nok karena tidak menepati janjinya. Dan dia menjelaskan bahwa selama ini dia dan Ibu telah berusaha yang terbaik, tapi tidak bisa.

Nok tidak mau mengerti. “Kita bertiga biasa selalu bersenang- senang bersama, kan? Apa kamu lupa itu?”

“Aku ingat. Tapi waktu tidak berhenti disitu saja. Jam kebahagiaan kita sudah berlalu,” balas Ayah dengan menyesal.

“Aku tidak berpikir begitu. Kamu telah mempertahankan itu. Pasti karena Ibu kan? Karena Ibu ingin bercerai, jadi kamu setuju,” kata Nok.

Dan Ayah terdiam, tidak bisa menjawab.


Nok memutuskan untuk berbicara kepada Ibu. Dia membuka pintu dan keluar, lalu dengan segera dia mau menemui Ibu. Tapi Ayah menahan Nok. Namun Nok tidak mau mendengarkan Ayah dan mau menemui Ibu langsung.

Seorang Pria yang kebetulan masuk kedalam kamar mandi dan melihat itu, menjadi salah paham. Dan dia pun menahan Ayah yang mau mengejar Nok.



Luckanai (Nai) datang menjemput Ibu sambil membawakan sebuket  bunga yang indah untuk Ibu. “Bunga untuk merayakan hari single mu.”

“Terima kasih banyak,” balas Ibu sambil dengan senang mencium buket bunga yang didapatkannya.


Nok yang melihat itu dari jendela gedung segera berlari turun menggunakan tangga ke lantai bawah. Tapi sayangnya, dia terlambat dan tidak berhasil mengejar Ibu.

Lalu ketika Nok melihat Tuk Tuk (kendaraan seperti becak motor). Maka dengan segera Nok naik dan meminta agar si Supir mengejar mobil Nai.

Nok hampir saja kehilangan jejak mobil Nai, karena tiba- tiba saja ada mobil yang berhenti didepan mereka. Tapi untungnya dia tetap berhasil mengejar mobil Nai yang masuk ke dalam sebuah hotel.


Lalu disana, karena belum membayar, maka si Supir pun menahan Nok. Dan karena terburu- buru, Nok pun mengeluarkan selembar kertas cek dan memberikannya kepada si Supir.

“Apa ini catatan bank? Hey!” teriak si Supir. Namun Nok telah ke buru menghilang.



Didalam hotel. Ibu serta Nai telah keburu masuk kedalam lift. Dan karena itu, maka Nok pun menjadi kehilangan jejak mereka berdua. Lalu karena itu, maka Nok menghampiri meja resepsionis.

Disana Nok beralasan bahwa saat ini dia mau bertemu dengan Ibunya, tapi dia lupa membawa handphonennya. Jadi dia tidak bisa menghubungin Ibunya dan karena itu dia meminta tolong agar pihak Resepsionis bisa memeriksakan nomor kamar Ibunya.

Dan tentu saja pihak Resepsionis tidak bisa percaya begitu saja. Lalu karena itu, maka Nok pun mengeluarkan pasport miliknya. “Lihat ini? Kami memiliki nama keluarga yang sama,” jelas Nok, meyakinkan mereka.



Nok mengetuk pintu kamar hotel dimana Ibunya berada. Dan kekita dia melihat Nai yang membuka kan pintu untuknya, maka Nok pun langsung menyerang Nai.

“Berani nya kamu membawa Ibuku ke hotel?!” teriak Nok sambil memukul- mukul Nai.

“Tunggu! Tunggu! Tunggu!” kata Nai sambil berusaha untuk menahan tangan Nok.

Tapi karena Nok tetap tidak mau berhenti, maka Nai pun menggulingkan Nok dan lalu menahan nya. Tapi Nok berhasil melepaskan dirinya dan kembali memukuli Nai berkali- kali.




“Kamu!” teriak Nai, menahan tangan Nok. Tapi tanpa disangka, Nok malah merantukan kepalanya kepada dia. Sehingga Nai pun terjatuh.

Lalu karena disaat itu Nai sedang memegang tangan Nok. Maka tanpa sengaja, Nok ikut tertarik, ketika dia terjatuh. Dan tanpa sengaja, bibir mereka saling bersentuhan.



Sadar akan hal itu, Nok langsung menjauhkan diri dan memlap bibirnya sendiri. Dan lalu dengan marah, Nok kembali memukuli Nai. Tapi Nai berhasil menahan tangan Nok. Lalu karena itu, maka Nok menggunakan giginya dan mengigit tangan Nai.

“Khun Nok!” teriak Nai dengan marah. Lalu dia menarik kedua pipi Nok dan menyuruh agar Nok berhenti bersikap keras kepala.

Mendengar itu, Nok pun teringat kepada kenangan masa kecilnya. Dulu Nai juga pernah mencubiti kedua pipinya seperti itu dan memintanya untuk berhenti bersikap keras kepala.

“Luckanai!” kata Nok, setelah mengingat itu.

“Ya. Sekarang bisakah kita berbicara? Kamu salah paham padaku,” jelas Nai.



Tapi Nok tidak mau mendengar kan. Nok menendang kaki Nai dan lalu bangkit berdiri, lalu dia berjalan pergi menuju ke kamar Nai.

Saat masuk kedalam kamar Nai dan melihat pakaian yang dipakai oleh Ibunya tadi berada diatas tempat tidur. Nok pun menjadi semakin marah kepada Nai.

“Bajingan! Bagaimana kamu bisa melakukan ini dengan Ibuku?!” teriak Nok.

“Kamu terlalu jauh,” balas Nai.

“Ayah dan Ibuku telah baik padamu. Apa ini caramu membayar mereka kembali?”

“Lihat baik- baik. Ibu mu tidak ada disini,” balas Nai dengan sikap santai.



Karena Nok masih tidak percaya, maka Nai mempersilahkan Nok untuk memeriksanya sendiri. Namun jika  Nok salah, maka Nok harus meminta maaf kepada dia dan Ibu..

Dengan emosi, Nok membuka pintu kamar mandi dan mulai memeriksa. Tapi dia tidak beehasil menemukan Ibunya dimana saja. “Dimana Ibu?” tanya Nok.

“Minta maaf. Bisakah kamu mengatakan itu? Atau aku tidak akan memberitahu dimana Ibumu,” balas Nai.

“Maaf!” kata Nok  dengan nada tidak tulus, karena terpaksa.



Disebuah kolam berenang. Sebuah pesta besar diadakan. Dan disana lah Ibu berada. Dia memakai pakaian yang cantik serta menggunakan penutup mata. Lalu para Pria bertopeng yang bertelanjang dada datang sambil membawakan cake untuk Ibu.

Dan setiap orang yang berada disana bersorak dengan gembira. Begitu juga dengan Ibu. Dia tertawa sangat keras, menantikan cake dan Prianya.



Tepat disaat itu Nok serta Nai datang. Dan karena itu, maka semua orang langsung terdiam. Sehingga Ibu pun menjadi heran,” Mengapa tiba- tiba menjadi hening? Apa kue nya sudah datang?”

“Iya,” jawab teman Ibu dengan pandangan gugup, karena melihat Nok.

Nok mengambil kue untuk Ibunya. Dan dengan bersemangat, Ibu mengucapkan harapannya. “Aku berharap bisa menemukan suami baru, tolong aku. Yang muda, besar, dan  hot,” pinta Ibu sambil tertawa, lalu meniup lilin pada kue.



Dan setelah itu, Ibu membuka penutup mata yang dipakainya. Lalu karena melihat bahwa ternyata yang ada dihadapannya adalah Nok, maka Ibu pun menjadi terkejut dan langsung terdiam.

No comments:

Post a Comment