Sunday, August 19, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 2 - part 1

0 comments
Network : Channel 3

Didalam kamar mandi. Khae bercermin dan mengingat saat Nai melindunginnya dari Nok yang mau menyiramnya. Serta saat Nai datang kerumahnya dan mengatakan bahwa Nai yang dia kenal telah mati.

Dan mengingat itu semua, Khae tampak sedih.



Sebelum tidur, Nok pergi ke dapur untuk minum air. Dan dengan suasana hati yang masih senang, dia pun terus bernyanyi- nyanyi kecil. Tapi senyumnya menghilang begitu saja, ketika dia melihat kedatangan Nai.



“Aku mestinya menendang kamu keluar dari sini sesegera mungkin. Jadi kamu tidak bisa menjadi sombong lebih lama. Ingat perkataan ku ini dengan baik,” kata Nok, memperingatkan Nai.

“Ok,” balas Nai dengan singkat sambil tersenyum.



“Aku minta maaf, kamu tidak berhasil menganggu keluarga kami. Sebab hari ini, kami saling mengasihi sangat banyak,” kata Nok dengan riang.

“Yah.. aku sedih,” balas Nai. Lalu dia mengatai tarian Nok  yang terlihat lucu dan dengan usil Nai memperagakan kembali bagaimana Nok menari tadi.



Sehingga karena itu, Nok pun menjadi kesal. Nok lalu berusaha untuk menghentikan Nai yang mengolok- oloknya. Dan sambil tersenyum, Nai mengatakan bahwa dia hanya bercanda, karena tarian Nok tadi sangat mengemaskan.

Dan mendengar pujian tidak terduga dari Nai itu, maka Nok pun terdiam.


Nai kembali ke kamarnya. Dan tepat ketika itu, hapenya berbunyi. Jadi Nai pun mengangkatnya. Dan ternyata orang yang menelpon nya itu adalah Khae.



Khae duduk dan menunggu di dalam kafe. Disana dia terus melihat ke sekelilingnya, seperti sedang menantikan seseorang. Lalu Khae mengingat tentang saat dia menelpon Nai kemarin malam.



Nai menolak untuk bertemu dengan Khae, karena dia tidak mempunyai urusan apapun dengan Khae lagi. Namun sebelum Nai sempat menutup telponnya, Khae meminta agar Nai tidak mematikan telponnya.

Khae mengatakan bahwa ada satu hal yang diinginkannya dari Nai, yaitu cincin. Cincin yang dulu ingin Nai berikan kepadanya. Dan mendengar itu Nai pun bertanya, kenapa Khae menginginkan cincin itu, karena ia telah membuangnya.

Lalu Khae menjawab bahwa besok dia akan menunggu Nai di Coffe Gallery jam 8. Dan Nai menanyakan maksud Khae melakukan ini.



“Sebelumnya, sebelum kita putus. Kamu mengatakan padaku, kalau aku telah membuatmu bahagia. Kamu mengatakan bahwa kamu mau membayar ku kembali untuk cinta itu dan segala yang ku berikan padamu. Aku tau itu tidak mungkin. Tapi aku hanya ingin menyimpan kenangan itu. Jadi aku ingin mendapatkan cincin itu untuk kenangan. Ini adalah permintaan terakhirku,” jelas Khae.



Ketika melihat pintu kafe terbuka dan seorang pria masuk kedalam, Khae langsung menjadi bersemangat. Namun ketika dia menatap ke atas dan melihat bahwa orang itu bukanlah Nai yang ditunggunya, Khae pun menjadi agak kecewa.

Pria yang masuk itu memberikan sebuah kantong kepada Khae. Dan dia mengatakan kepada Khae bahwa tadi ada seorang pria yang menitipkan itu kepadanya.



Khae lalu membuka kantong kecil itu. Dan didalam kantong itu, terdapat sebuah kotak cincin berwarna merah. Lalu didalam kotak itu, terdapat sebuah cincin yang sangat indah.



Khae menahan mobil Nai yang akan pergi. Dan karena itu, maka Nai pun turun dari dalam mobil. Lalu Nai mengatakan bahwa dia telah memberikan cincin yang Khae inginkan.

“Mengapa kamu tidak pernah bilang padaku, kalau paman yang kamu bicarakan itu adalah Tuan…” kata Khae dengan agak ragu menyebutkan nama Thawat.

“Jika saat itu aku memberitahumu, bisakah itu mengubah sesuatu atau apa?” balas Nai.



Khae menjelaskan bahwa saat ini dia sadar kalau uang tidak akan bisa membuatnya bahagia. Lalu Khae memegang tangan Nai,”Hanya cinta yang bisa memenuhi hidupku,” katanya.

“Kamu membuat keputusan yang tepat untuk memilih dia. Dia bahkan rela menyakiti pikiran putrinya sendiri demi kamu. Kamu harus memperlakukan Pria yang berharga ini dengan baik,” jelas Nai, lalu melepaskan tangan Khai.

Sebelum Nai masuk kembali ke dalam mobil. Khae langsung bertanya,” Bagaimana bila aku melihat kamu lebih berharga dari dia sekarang?”

“Aku tidak pantas untuk itu. Jangan lupa kalau kamu yang membuatku berpikir seperti itu sebelumnya. Urusan kita sudah lama berakhir,” balas Nai dengan tegas.


“Jika begitu mengapa kamu masih menyimpan cincin ini?” tanya Khae dengan sedih, sambil menunjukan cincin dari Nai.

“Sebagai pengingat. Untuk tidak membiarkan siapapun melakukan hal yang sama kepadaku lagi,” balas Nai. Lalu masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan Khae.


Dirumah. Didekat kolam renang, Vi sedang melakukan yoga. Dan Nok yang baru bangun, datang serta mengejutkan nya. Sehingga tanpa sengaja kepala Vi pun menjadi terantuk. Lalu Nok pun tertawa melihat itu.



Melihat Nok yang baru bangun disaat seperti ini, maka Vi pun bertanya. Dan Nok menjawab kalau bangun telat lebih baik, karena itu berarti dia tidak perlu melihat Nai.

Mendengar itu Vi pun menjelaskan bahwa jika Nok ingin dia untuk merebut tahtanya kembali, maka Nok harus membiarkan Nai tinggal disini. Tapi tentu saja, Nok tidak mau. Dan Vi pun berusaha untuk memberikan pengertian Nok.




“Ratu kecantikan itu bisa membujuk Ayahmu untuk bercerai denganku. Tidak kah kamu berpikir kalau dia juga bisa membuat Ayahmu mengusirku dari sini? Ayah peduli padamu, hanya ketika di depanmu. Dibelakang mu, dia mempercayai Khae. Paling tidak, jika Nai tetap mengikuti Ayah secara dekat. Apapun yang dilakukannya, kita bisa bertahan tepat waktu. Percaya aku,” jelas Vi.

Nok masih tidak bisa mengerti dan menerima itu, karena dia tidak bisa mempercayai Nai. Dan dengan yakin, Vi mengatakan bahwa Nai tidak akan pernah mengkhianati dia, karena dialah yang telah mengangkat Nai.



“Aku tidak salah dalam melihat game ini. Nai bisa menjaga dan menolong kamu dalam segala hal. Itu benar, sayang. Percayalah padaku,” kata Vi menyakinkan Nok. Lalu karena menerima telpon, maka Vi pun pergi.

“Menyanjung- yanjung Ibuku dengan mengatakan untuk menjaga ku? Aku akan memerasmu dengan tanganku. Lihat saja!” kata Nok dengan kesal.



Dikantor. Didalam ruangan seminar. Semua barang yang diperlukan disiapkan. Semua tamu yang akan hadir pun telah siap di data. Namun Nai sama sekali belum tiba, kepadahal pertemuan akan dimulai dalam sejam lagi.

“Tolong tenanglah. Kamu mungkin bisa pingsan. Bosku tidak pernah telat,” jelas Jomyuth, karyawan Nai, kepada seorang karyawan wanita yang tampak panik.



Dalam perjalanan ke kantor. Nai menerima telpon yang ternyata berasal dari Nok. Dalam telpon, Nok menanyakan dimana Nai berada saat ini. Dan sebelum Nai sempat menjawab, Nok langsung memotong dan bicara lagi.

“Kamu mesti pulang kerumah untuk urusan mendesak ku,” kata Nok yang sedang berada dirumah.

“Apa?” tanya Nai.

“Aku memerintahkan kamu kembali untuk mengerjakan beberapa kerjaan bagiku,” jelas Nok.

Dan Nai pun menolak untuk kembali, karena dia tidak  bisa saat ini. Tapi tanpa mau mendengarkan penjelasan Nai, Nok mengancam Nai dan lalu mematikan telponnya. Sehingga mau tidak mau, maka Nai pun memutar mobilnya dan kembali.



Nai memhubungin Jomyuth dan mengabarkan bahwa dia akan telat sekitar setengah jam. Dan mendengar itu Jomyuth menjadi cemas, karena para tamu sudah ada yang hadir dan memasuki ruangan.

Kedua karyawan wanita yang tadi mendekati Jomyuth dan menanyakan ada apa. Dan Jomyuth pun menjelaskan,” Musuh bebuyutan Khun Nai sudah kembali.”

“Siapa itu?”tanya seorang karyawan, karena tidak tahu.


Sesampainya dirumah. Ternyata alasan Nok menelpon hanyalah untuk meminta Nai mengantarkannya ke spa sepatu. Dan walaupun Nai telah menjelaskan bahwa kini dia ada pertemuan penting yang harus dihadiri. Nok tidak percaya dan tidak mau tahu.



“Kamu tidak berhak untuk berjalan menjauh dariku. Pelayan! Berhenti!” teriak Nok, ketika Nai malah berjalan mau pergi meninggalkannya. Dan mendengar itu Nai pun berhenti berjalan dan menghampiri Nok kembali.

“Aku bukan pelayanmu. Kamu tidak berhak untuk memanggilku seperti itu lagi!” tegas Nai.



“Barang yang diambil dari tempat sampah. Tidak peduli berapa banyak kamu membersihkan itu. Itu masih sampah,” balas Nok dengan kasar.

“Tapi beberapa sampah lebih berharga dan bernilai daripada barang mewah yang tidak berguna di toko,” kata Nai, membalas Nok.

Nok tidak peduli. Dia memanggil pelayan untuk membawakan barangnya dan memasukan itu kedalam bagasi mobil Nai. Dan melihat itu, Nai pun membalas bahwa dia bukanlah supir Nok.


“Tapi hari ini ‘Iya’. Kamu harus sadar, apa status mu disini,” kata Nok, lalu masuk ke dalam mobil. Dan tanpa bisa melakukan apapun, Nai menghela nafas dan kemudian masuk kedalam mobil.



Nai menyetir dan membawa Nok ke kantor. Dan menyadari itu, Nok pun langsung mengomel. Lalu Nai menjelaskan bahwa tadi dia telah memberitahu Nok kalau saat ini dia memiliki pertemuan yang penting.

Dan sebelum keluar dari mobil, Nai melemparkan kunci mobilnya kepada Nok yang duduk dibangku belakang. “Parkirkan mobilnya untukku.”

Tentu saja, Nok tidak mau dan mengomel. Tapi Nai tidak mendengarkannya lagi. Dengan buru- buru, dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam kantor.



Melihat kedatangan Nai. Setiap karyawan langsung membantu Nai untuk bersiap- siap. Mereka membantu Nai memakai dasi. Dan membantu merapikan kerah kemeja Nai. Lalu setelah itu, Nai pun masuk kedalam ruangan seminar.


“Apa kamu pernah mendengar tentang ‘Krisis limbah global’? Dan kamu percaya itu benar? Aku tidak percaya. Aku bahkan tidak percaya disana ada yang namanya sampah. Dalam dunia ini, disana hanya ada sumber daya yang berharga, yang mana berada di tempat yang salah. Dan menunggu untuk di daur ulang lagi dalam cara yang benar. Dan ini adalah Green Dream! Aku Luckanai Disathaporn. Wakil ketua dari Green Dream,” kata Nai, menyambut semua tamu yang bergabung dengan mereka.



Dan karena kata- kata yang luar biasa itu, semua orang bertepuk tangan untuk Nai. Sedangkan Nok yang mendengar itu menjadi kesal serta marah. Dan dia keluar dari ruangan seminar, lalu dengan cepat dia berjalan ke ruangan kantor Ayahnya, tapi Ayahnya tidak sedang berada disana.


Wat sedang berada direstoran bersama dengan Khae. Untuk merayakan pembukaan toko baru milik Khae. Dan disana, dengan sikap penuh perhatian Wat memegang tangan Khae. Lalu Wat memberikan sebuah hadiah special untuk Khae, yaitu sebuah cincin yang dipesankan khusus untuk Khae.

Tapi melihat itu, Khae tidak tampak senang. Malahan dia terkejut. Dia mengingat tentang pertemuan nya dengan Nai pagi tadi dan hal itu membuatnya menjadi sedih.



“Apa yang salah denganmu?” tanya Wat, melihat raut sedih Khae.

Dengan lembut Khae mengangkat tangan Wat dan menaruhnya di pipinya. “Aku begitu senang. Aku tidak pernah menduga kalau kamu begitu peduli padaku seperti ini,” kata Khae.


“Khae. Nok adalah putriku dan hatiku. Tapi kamu seperti tanganku yang lain. Yang mana aku ingin terus ku pegang. Aku janji, kita akan berpegangan tangan didalam acara pernikahan kita. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi. Biarkan aku menjelaskan dengan jelas kepada Nok,” balas Wat.

Dan Khae pun tersenyum serta mengangukan kepalanya. Lalu Wat berterima kasih serta mengucapkan ‘Aku cinta padamu’ kepada Khae dan menciumin tangan Khae.



Acara pertemuan telah selesai. Semua tamu yang hadir mulai keluar dari ruangan. Dan Nok menghampiri Nai. Dia meneriaki Nai dan menanyakan bagaimana caranya Nai mencuci pikiran kedua orang tuanya hingga bisa mendapatkan posisi seperti ini.

“Tentang mencuci pikiran, aku bukan ahlinya. Tapi mungkin kamu lebih bagus daripada aku,” balas Nai. Dan Nok pun menjadi semakin marah.

“Jangan menantangku, Luckanai. Aku akan merebut kembali posisi Wakil ketua yang mana telah kamu curi dari Ibuku!””



“Bagus. Aku juga ingin tahu, metode apa yang kamu gunakan? Sejak orang yang berkuasa untuk memecatku adalah Ayahmu, Khun Thawat! Dan dia menggunakan otaknya dalam mengatur, bukan hanya menggunakan emosi,” balas Nai.

Ketika Nai melihat ruangan telah kosong, maka Nai pun berjalan pergi meninggalkan Nok.

No comments:

Post a Comment