Sunday, August 19, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 2 - part 2

0 comments

Network : Channel 3




Penny melakukan rekaman untuk sebuah iklan. Dan selama melakukan perekaman, dengan genit Pen terus mengedipkan matanya dengan sengaja kepada si Produser. Dan melihat sikap genit Pen, istri si Produser menjadi tidak senang.


Lalu dengan sengaja, ketika acara rekaman telah selesai. Istri si Produser menyadung kaki Pen, hingga Pen hampir terjatuh. Dan Pen yang tidak terima akan hal itu pun marah. Dia mengambil air dan menyiram punggung si Produser.

“Lebih waspadalah,” kata Pen dengan gaya seolah- olah tidak bersalah.


Dan dengan marah Istri si Produser menyerang Pen, lalu karena melihat si Produser dan para staf berdatangan. Maka Pen pun sengaja menjatuhkan dirinya sendiri. Dan lalu Pen bersikap seolah- olah dia telah dibully oleh Istri si Produser.



Pen mengatakan bahwa dia tidak sengaja menumpahkan kopi dan dia telah meminta maaf juga, tapi Istri si Produser tidak bisa menerimanya. Dan mendengar kebohongan itu, Istri si Produser pun marah dan mau menyerang Pen lagi.

Tapi si Produser menahan dan memarahi Istrinya itu.


Diruangan istrirahat. Pen bertukar baju, karena baju nya yang kotor sedang dicuci. Dan disana Pen mengucapkan terima kasih kepada staf yang telah menolongnya. Lalu setelah si staf pergi, kepribadian Pen langsung berubah.

“Kamu tidak kenal aku. Bitch!” kata Pen dengan kesal.


Lalu tiba- tiba hape Pen berbunyi. Dan orang yang menelpon Pen itu mengabarkan bahwa apatermen Pen belum siap dan mengetahui hal itu Pen pun marah. Lalu setelah telpon dimatikan, Pen tiba- tiba terpikir suatu ide yang menarik untuk dilakukan.



Nok mengadukan semua yang terjadi kepada Nenek. Dan Nenek yang memang membenci Nai, juga tidak suka ketika mendengar bahwa Nai telah menjadi seorang Wakil ketua.

“Luckanai yang membawa Ibu ke pesta waktu itu. Jika dia berniat baik, maka dia seharusnya memperingatkan Ibumu dan tidak seharusnya setuju dengan Ibumu seperti itu,” kata Nenek yang membuat Nok menjadi semakin panas.



Nok lalu menanyakan tentang siapa Ayah dan Ibu Nai. Dan mengapa kedua orang tua Nai meninggalkan Nai untuk mengacaukan orang lain. “Apa dia berasal dari salah satu kerabat kita? Ketika aku bertanya, Ibu tidak pernah memberitahuku.”

“Ibu Luckanai adalah… hanya wanita tanpa nama. Kamu hanya harus tahu bahwa Luckanai tidak berhubungan darah dengan siapapun dari kita. Hanya saja dulu Ibunya tinggal denganku,” jelas Nenek.


“Dan sekarang, dimana dia? Atau dia sudah mati? Hingga Ibu kemudian mengangkatnya,” kata Nok dengan nada kesal.

“Mati atau tidak sama saja. Ibunya pergi begitu saja! Sekarang yang lebih penting. Pikirkan tentang Ibu dan Ayahmu yang begitu bergantung kepadanya seperti ini. Kamu tidak bisa tetap dia. Kamu harus cari cara untuk menghentikannya. Jangan biarkan dia mengambil milik kita,” balas Nenek.



Pen pulang ke rumah diantarkan oleh si Produser. Dan melihat betapa besarnya rumah milik Pen (rumah milik Nok), si Produser menjadi kagum akan Pen. Lalu si Produser mengingatkan Pen untuk membawanya ke apatermen Pen, jika apatermen milik Pen telah selesai direnovasi.

“Tentu saja. Aku tidak pernah melupakan siapapun yang baik dan mau memberikanku sebuah kesempatan,” kata Pen dengan sikap genit. Dan si Produser pun ingin mencium Pen sebagai kompensasi.



Tapi mereka tidak jadi berciuman. Karena tepat disaat itu Phai yang baru selesai belanja, tiba dirumah. Dan melihat itu, Pen pun menjadi tidak enak dan menolak untuk berciuman. Lalu tanpa mengetahui siapa Phai, si Produser menyuruh Phai untuk mengangkatkan barang milik Pen, karena si Produser berpikir bahwa Phai adalah pelayan.



Dengan tajam. Phai menatap pada putrinya itu. Dan dengan panik, Pen meminta Ibu untuk tolong mengangkatkan barangnya dulu. Jadi Ibu pun melakukannya, lalu setelah si Produser pergi, Pen merebut kembali kopernya dan menyeretnya sendiri.



Phai serta Pen mulai bertengkar lagi. Pen mengatai Ibunya yang tidak pernah peduli padanya. Bahkan ketika dia mencoba untuk melepaskan status anak pelayan, Ibunya malah marah kepadanya.

“Ini salahmu untuk tidak bisa menerima siapa kamu. Kamu berbohong setiap waktu, bahkan kepada dirimu sendiri. Hidupmu penuh kebohongan dan ketidak nyataan seperti ini,” balas Ibu dengan keras.



Ketika melihat Nai diruang tamu. Pen dengan manja mengejutkan dan menggelitiki Nai dari belakang. Tapi Nai sama sekali tidak merasa geli. Dan Nai lalu menanyakan apa Pen kembali untuk bertemu Phai.

Dan Pen pun menjelaskan apa yang terjadi pada apatermennya. Lalu Pen kembali ingin menggelitik Nai, tapi Nai tidak tertarik dan berjalan pergi.


Lalu tiba- tiba saja, Pen berteriak karena dia merasa seperti ada serangga yang menggiti punggungnya. Pen dengan sengaja melakukan itu. Dan Nai pun menjadi kebingungan, harus melakukan apa, karena dia tidak mungkin menyentuh punggung Pen.



Tepat disaat itu, Nok yang baru pulang dan melihat itu, langsung mengatai mereka berdua. “Jika kamu ingin melakukan hal itu, maka lakukanlah ditempat yang pantas. Di tempat pelayan!” kata Nok dengan kasar, lalu pergi.

Dan mendengar itu, Nai hanya tersenyum. Lalu melihat senyuman Nai, Pen menjadi heran.



Didapur. Pen menceritakan tentang Nai kepada Ibunya. Dia mengatakan apa yang dilihatnya tadi, yaitu bahwa Nai tampak penuh ambisi juga sama seperti dirinya. Nai bersikap sombong padanya dan berambisi untuk mendapatkan Nok.

Mendengar itu, Phai langsung memukuli anaknya itu dan menasihatkannya untuk tidak berbicara buruk tentang Nai, karena Nai tidak pernah berpikir seperti apa yang Pen katakan.


“Jika dia tidak memikirkan itu, kemudian tidak seharusnya dia melihat pada Nok seperti itu,” kata Pen dengan sinis, ketika Ibu telah keluar dari dapur.



Dikolam renang. Nai melihat kearah kamar Nok. Dan melalui jendela, Nai melihat Nok yang sedang mengeringkan rambutnya. Lalu melihat itu, maka Nai memalingkan mukanya dan pergi dari sana.


Nok yang menyadari hal itu, langsung mengatai yang buruk tentang Nai. “Berjalan seperti pemilik rumah. Berniat untuk mengambil alih, kan! Tapi apapun yang adalah milikku, kamu tidak akan pernah mendapatkannya. Tunggu dan lihat saja besok.”



Pagi hari. Seperti biasa. Suasana antara Vi dan Wat kurang baik. Vi menyindiri Wat yang berpacaran diam- diam dikantor. Dan Wat pun membalasnya. Lalu karena harus menghadiri rapat, maka Wat pun mengajak Nai untuk segera berangkat.

Dan karena Phai mengatakan bahwa pintu kamar Nok masih terkunci, maka mereka semua mengira bahwa Nok masih tidur.



Lalu ketika Wat serta Nai telah pergi, dua orang pelayan baru memberitahukan kepada Vi bahwa sedari tadi pagi Nok sudah bangun dan pergi ke kantor. Dan mendengar itu, Vi pun menjadi cemas dengan apa yang akan Nok lakukan.

Vi mencoba untuk menghubungin Wat, tapi Wat yang sudah sampai dikantor dan akan melakukan rapat, dengan sengaja mematikan telpon dari Vi.



Setelah semua orang siap dan akan memulai rapat. Nok datang dan menyapa mereka semua. Dan melihat itu Ayah pun menjadi agak terkejut.

“Jangan takut. Kejutanku belum selesai,” kata Nok menangkan mereka semua yang ada didalam ruangan. Lalu Nok memberi salam dan memperkenalkan dirinya. Dan Nok mengatakan bahwa dia kesini untuk mengambil posisi milik Nai yang adalah anak angkat dari keluarganya.

“Nok,” kata Ayah, mencoba untuk menghentikan Nok.


Namun Nok menghindari Ayah dan mendekati Nai. “Sekarang. Aku kesini untuk mengambil kembali pekerjaanku. Berdiri dari posisiku,” kata Nok.

Dan mendengar itu, semua yang hadir dirapat protes, karena baru diberitahu hal ini. Serta karena Nok masih baru saja tamat dan tidak pernah  bekerja.


“Aku pernah menjadi magang dan bekerja disebuah perusahaan di London selama liburan semesterku,” kata Nok. Lalu ketika ada yang bertanya jenis pekerjaan apa yang Nok lakukan. Nok malah menjawab,”Aku tamat dengan gelar di Design.”

Untuk menenangkan situasi, Wat meminta izin kepada semua yang berada didalam ruangan. Lalu dia memegang tangan Nok dan mengajaknya untuk berbicara diluar. Tapi Nok tidak mau.



Nai berdiri dan membantu Nok berbicara. Dia mengatakan bahwa saat ini dia sedang mencari orang baru yang bisa membantunya menginput proyek nya yang baru dan karena kebetulan Nok tertarik, maka Nok bisa membantunya.

“Orang dalam yang ingin sukses dalam bisnis keluarga pasti lebih baik dari pada orang luar,” kata Nok menyindir Nai.


“Aku berharap setiap orang bisa memberikan Khun Muanchanok kesempatan untuk membuktikan apa yang telah dia siapkan,” kata Nai. Dan dengan penuh percaya diri, Nok membalas bahwa ia pasti bisa.

Lalu dengan tajam, mereka berdua saling bertatapan.



Didalam ruangan kantor Nai. Vi tidak percaya bahwa Nok akan perbuat demikian. Namun bagi Nai itu tidak masalah, karena Nok telah melakukan hal yang benar, sebab perusahaan ini memang milik Nok.

“Benar. Tapi dia tidak memiliki pengetahuan. Dia tidak pernah datang bekerja disini, mengapa tiba- tiba dia mengambil alih proyek penuh. Dan apa proyek nya itu?” tanya Vi.



Diruang rapat. Nok terkejut ketika mengetahui bahwa proyek yang harus ditanganinnya adalah ‘Pelatihan tentang pemilahan sampah’.  Dan Jomyuth pun menjelaskan bahwa perusahaan mereka akan mengirimkan beberapa orang untuk melatih masyarakat. Bagian dari proyek sosial, itu akan menciptakan jaringan untuk meneruskan limbah dari masyarakat.

Mendengar semua penjelasan itu, Nok menjadi agak tidak bersemangat, tapi dia tidak menunjukannya.



Vi tertawa mengetahui proyek apa yang harus Nok kerjakan. Dia mengatai Nok yang mau menjebak Nai, tapi akhirnya malah dia yang terjebak dalam rencana nya sendiri. “Percaya aku. Tidak akan lama. Dia akan keluar,” kata Vi.

“Jika Khun Nok mau mengalahkanku. Dia tidak akan menyerah begitu mudah,” balas Nai.


“Eh.. Nai. Biar aku tanya. Kamu pergi untuk mengawasi Nok ketika dia belajar di England selama  3 tahun. Apa dia punya pacar?” tanya Vi.

“Apa yang ku tahu, dia tidak berkencan dengan siapapun,” jawab Nai.

“Lihat! Karena dia tidak memiliki pacar, maka otaknya seperti itu. Ini adalah waktu yang tepat untuk aku menjadi Ibu yang baik.”

“Apa yang akan kamu lakukan?”


“Mencari kan seorang pacar untuk putriku,” kata Vi sambi tersenyum penuh rencana. Dan Nai pun terdiam.

No comments:

Post a Comment