Saturday, August 25, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 3 - part 5

1 comments


Network : Channel 3


“Penny! Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Nai, tanpa berbasa- basi, ketika dia tanpa sengaja bertemu dengan Pen.

“Aku hanya mau mengembaliki kacamata milik Khun Wongwes yang tertinggal di kamarku,” jawab Pen sambil menunjukan kacamata ditangannya.



Lalu mendengar itu, Nai pun langsung menarik Pen untuk pergi dari sana. Dan tanpa rasa malu, Pen menyuruh agar Nai tidak perlu khawatir bahwa dia akan masuk ke kamar yang salah nanti. Seperti misalnya kamar Nok.

“Sekarang, Khun Nok sedang bermimpi indah mendapatkan suami pilihan Ibunya. Dan aku tidak sekejam itu untuk membangunkan dia pada kenyataan,” kata Pen.



Ketika Pen mau pergi, Nai menarik tangan Pen dengan kuat dan menahannya. “Apa kamu yakin sebuah kaca mata yang kamu katakan milik Khun Wes ini, bisa membuat orang lain percaya bahwa Khun Wongwes datang padamu? Orang yang paling bodoh di dunia yang akan mempercayai itu,” kata Nai dengan tajam.

Karena Nai tidak percaya kepadanya, maka Pen pun menunjukan foto mesra nya yang tidur bersama dengan Wes kemarin malam. “Apa yang kamu mau aku katakan tentang ini?” tanya Pen sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Aku tidak mengira bahwa wanita tidak bernilai sepertimu ada di dunia ini,” balas Nai.



Mendengar pekartaan Nai yang mengatainya, Pen sama sekali tidak peduli. Karena dia telah mendapatkan apa yang di inginkannya. Lalu Nai pun menyebutkan tentang Phai yang telah bekerja keras untuk membesarkan Pen dan menyekolahkan Pen.

“Dan ini, apa yang kamu kembalikan pada dia?” tanya Nai untuk menyadarkan Pen.

“Aku tidak memaksa Ibuku untuk mencarikan ku seorang pria. Aku kesini untuk bekerja, tapi Wes sendiri yang datang padaku,” balas Pen, tidak merasa bersalah pada Ibunya sendiri.

Malah dengan bangga Pen mengatakan bahwa dia telah mengorbankan dirinya sendiri untuk menyaring seorang Pria bagi Nok, seperti apa yang pernah Nai katakan padanya.

Mendengar itu, Nai pun merebut hape milik Pen dengan cepat. Dan dia menghapus semua foto Pen bersama dengan Wes. “Jangan biarkan Khun Nok mengetahui tentang ini!” kata Nai memperingatkan Pen dengan tegas.


Di dalam kamarnya. Wes duduk merenung. Mengingat tentang saat indah nya ketika tidur bersama dengan Pen tadi. Serta tentang janjinya yang tidak akan meninggalkan Pen.


Lalu tepat disaat itu, pintu kamar Wes di ketuk dengan keras. Dan ketika Wes membuka pintu kamarnya, Nai langsung memukuli wajah Wes dengan keras.

Pribprao yang kebetulan berada disana, terkejut ketika melihat itu. namun tanpa mendengar lebih jauh, Pribprao pergi dari sana.



“Mengapa kamu memukul ku?!” tanya Wes, tidak mengerti.

“Kamu berbohong kepada setiap orang kalau kamu mabuk dan tidur di dalam kamar sampai pagi ini. Kepadahal sebenarnya, kamu ada bersama dengan wanita lain!” balas Nai dengan emosi. Dan Wes tidak bisa menjawab.

Nai lalu melanjutkan.” Ini adalah apa yang kamu katakan bahwa kamu menghormati seorang wanita, tidak lebih rendah dari pada yang aku lakukan.”

“Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud. Aku mabuk,” balas Wes dengan pelan.



“Tidak kah kamu tahu, ketika kamu ada dengan wanita lain karena kamu mabuk. Apa yang terjadi pada wanita lain yang kamu tinggalkan di pesta? Bahkan dia bergumam bahwa kamu adalah pria yang membuatnya bahagia, ketika hidup nya terisi dengan kesedihan,” jelas Nai denga emosi.

Wes meminta maaf dan mengatakan bahwa tidak bermaksud untuk menyakiti Nok. Dan lagian semuanya sudah terjadi, jadi dia tidak bisa melakukan apapun lagi.

“Bisa! Jika itu terjadi karena kamu mabuk, jangan memberitahunya tentang ini. Dan lupakan tentang wanita itu. Pikirkan lah, apa jenis wanita yang lebih bernilai untukmu?” kata Nai dengan tegas. Lalu pergi dari sana.



Ketika sedang berjalan- jalan santai di pinggir pantai. Tanpa sengaja Nok mendengarkan pembicaraan Pribprao yang mengatakan bahwa dia melihat Nai memukuli Wes tadi. Dan itu semua karena Nok.

“Jika pria lain berhubungan dengan pacarnya, siapa yang tidak akan marah,” komentar Sudjai.

“Jika aku tidak melihat sendiri, kalau Khun Nai memukuli Khun Wongwes tadi. Aku tidak akan percaya bahwa Khun Nok berada di kamar Khun Nai kemarin malam,” balas Pribprao.

Dan mendengar semua itu, Nok tampak terkejut.


Dengan perasaan marah, Nok berjalan menuju ke kamar Nai sambil mengingat semua perkataan Pribprao dan Sudjai yang mengatainya hanya berpura- pura benci kepada Nai, karena Ayah dan Ibu nya tidak mengizinkan hubungan mereka. Seperti Romeo dan Juliet yang saling mencintai tapi tidak bisa menunjukan itu kepada publik, karena orang tua mereka tidak setuju.

“Kemarin malam, mereka mempunyai kesempatan untuk bersama, jadi mereka… ahh,” kata Sudjai dan Pribprao dengan girang menggosipi Nok.



Sesampainya didepan kamar Nai. Dengan keras Nok mengedor pintu kamar Nai. Dan lalu ketika Nai membuka pintu baginya, Nok langsung masuk ke dalam. Lalu disana dia mengingat tentang Nai yang sedang bertelanjang dada.

Dan tanpa bicara apapun, Nok mengambil tempat sampah di kamar Nai dan membuang sampah itu kepada Nai. Sehingga karena itu, Nai pun menjadi marah,” Mengapa kamu membuang sampah ini padaku?!”

“Aku mengajarimu!! Tentang memisahkan sampah. Dan kamu juga perlu untuk mengetahui dimana tempatmu juga! Dengan begini, kamu akan sadar siapa aku dan siapa kamu!! Kamu akan sadar bagaimana pun kamu mengangkat statusmu, itu tidak akan membatu mu menjadi bernilai!!!” kata Nok dengan marah sambil menari kerah baju Nai.



Nok marah seperti itu, karena salah paham kepada Nai. Dia mengira Nai telah melakukan sesuatu yang tidak pantas kepada nya kemarin malam. Dan Nai pun mau menjelaskan bahwa tidak ada apapun yang terjadi kemarin malam. Tapi bukannya mendengarkan, Nok malah terus marah- marah dengan kasar kepada Nai.

“Bahkan walaupun kamu telah di upgrade dari sampah menjadi sesuatu yang bernilai, tapi kamu masih tetap sampah!! Sampah yang bahkan Ibumu tidak menginginkannya!!” teriak Nok dengan sangat kasar sekali.



Hingga akhirnya, Nai yang awalnya tetap diam dan menerima semua perkataan kasar serta sikap tidak sopan Nok, dia pun menjadi emosi. “Khun Nok!!! Aku pikir kamu berada di posisi yang sama sepertiku. Kamu ditinggalkan oleh orang tuamu juga.”

Nok mengangkat tangannya untuk memukul Nai lagi, tapi kali ini Nai menahannya dan tidak membiarkan Nok memukulinya.

“Lepaskan aku!!” teriak Nok dengan marah, mencoba melepaskan tangannya dari Nai.

“Perubahan kedua orang tuamu, harusnya mengajarkan kepada kamu bahwa hidup tidak lah pasti. Kamu tidak seharusnya memandang rendah orang lain. Hari ini kamu adalah bidadari, tapi dimasa depan kamu mungkin akan dipanggil sebagai Nyonya Muenchanok dengan nama keluargaku sebagai gantinya,” balas Nai.



Mendengar perkataan itu, Nok menjadi tambah emosi dan ingin memukul Nai. Tapi Nai berhasil menahan tangan Nok yang satunya lagi. Lalu dengan marah, Nok mengatakan bahwa itu tidak mungkin, karena untuk bernafas diudara yang sama dengan Nai saja, dia sudah merasa cukup mual untuk muntah.

“Apa aku terlalu rendah?! Apa kamu membenciku?! Apa aku terlalu menjijikan?!” tanya Nai dengan keras sambil menarik tangan Nok agar tubuh Nok lebih mendekat padanya.

“Ya! Aku benci kamu. Aku jijik padamu! Seluruh dunia boleh berubah, tapi perasaan ku untukmu tidak akan pernah berubah!”

“Aku akan membuat kamu melupakan perkataanmu! Aku akan menunggu hari itu, hari dimana kamu akan lupa bahwa kamu membenciku. Kamu akan memohon untuk pelukanku!” kata Nai dengan penekanan.

“Tidak  pernah!!”



“Jangan terlalu yakin. Mulutmu mengatakan tidak mau. Tapi tubuhmu tidak bisa menolak sentuhanku.”

Nok mendorong Nai dan mencoba untuk melepaskan dirinya, lalu setelah berhasil melepaskan dirinya. Nok menampar pipi Nai dengan keras.

“Aku akan menganggap ini sebagai deposit untuk memulai game kita. Selanjutnya, jika kamu menamparku, aku akan menciummu. Jangan pikir aku takut melakukannya. Aku bisa membawamu ke kamarku, jadi aku bisa menciummu sebagai hukumannya. Ini waktunya kamu untu belajar, kamu tidak lagi diatas orang lain. Khun Muanchanok!” tegas Nai.


Dan mendengar itu, Nok tampak sedikit ketakutan, jadi dia pun hanya diam saja, tanpa membalas perkataan Nai. Lalu setelah itu, Nai pun pergi dari sana, meninggalkan Nok sendirian.

“Kamu hanya sedikit mengenalku, Luckanai!” kata Nok dengan pandangan benci.



Wes mengetuk kamar Vi untuk berbicara kepada Nok. Tapi ketika membuka pintu dan melihat wajah Wes, dengan kesal Vi langsung mau menutup pintu kamarnya. Namun Wes menahan pintu kamar Vi dan memberitahukan maksudnya.

“Apa yang kamu telah lakukan pagi ini, berani nya kamu mau bicara dengan dia,” kata Vi.

“Bibi, Vi. Aku tidak bermaksud begitu. Ini di luar kendali ku. Tolong berikan aku kesempatan untuk menjelaskan,” pinta Wes.

“Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah kamu lebih memetingkan dia daripada Putriku. Aku tidak okay dengan itu,” tegas Vi. Lalu ingin menutup pintu kamarnya, tapi Wes menahannya lagi.

Tepat disaat itu, Nok datang.



Di taman. Wes meminta maaf kepada Nok yang tampak marah. Dia mengaku bahwa dia merasa bersalah dan tidak tahu harus bagaimana meminta maaf kepada Nok. Dan jika Nok ingin menyalahkannya, maka dia akan terima. Lalu karena Nok masih saja diam, maka Wes pun bertanya apa Nok marah padanya.

“Ya,” balas Nok. Lalu dia memukuli Wes berkali- kali.

“Nok! Aku minta maaf! Maaf!” kata Wes dengan kesakitan.

“Oh… Berhenti minta maaf padaku!” balas Nok sambil berhenti memukul Wes.


Nok salah paham besar, karena dia belum tahu apa yang terjadi sebenarnya antara Wes dan Pen, dimalam saat Wes meninggalkan nya sendirian. Serta tentang hal baik apa yang telah Nai lakukan untuknya.

Karena Nok mengatakan bahwa dia tidak bisa menyalahkan Wes. Sebab kemarin malam mereka berdua telah sama- sama mabuk. Dan Nok sadar bahwa tidak adil bagi Wes kalau harus menjaga nya sepanjang waktu. Lalu Nok juga mengatakan bahwa seharusnya dia bisa menjaga dirinya sendiri. Dan mendengar itu Wes menjadi bingung.


“Aku akan balas dendam padamu nanti.  Aku akan meninggalkan mu di pantai. Dan membiarkan ombak untuk membawa mu,” kata Nok.

“Jadi itu berarti … kita akan mengurus festival Full Moon bersama lagi, kan?” tanya Wes.

“Tentu saja. Kita masih belum tahu siapa yang menang. Lalu beritahu aku, siapa yang menyuruh mu mencampakan ku. Beritahu aku,” kata Nok dengan sikap manja. Dan sambil tersenyum, Wes tidak bisa menjawab.



Diapatermen nya. Khae menyiapkan makan siang untuk Wat. Dan dengan senang, Wat bertanya- tanya kapan terakhir kalinya Khae menyiapkan sesuatu seperti ini untuknya. Lalu Khae pun menjawab bahwa itu sejak Putri Wat kembali. Dan mendengar itu, Wat pun terdiam dengan raut sedih.

“Jangan pernah seperti itu lagi ya. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Khun Nok juga tidak. Kita hanya bertemu di waktu yang salah saja. Mungkin, jika kamu bertemu aku sebelum Vi, maka dia akan menjadi putriku,” kata Khae, menghibur Wat agar tidak sedih.

“Khae,” kata Wat, terharu mendengar betapa perhatiannya Khae.


“Bahkan walaupun Khun Nok sangat kejam padaku, tapi aku mengerti dia, karena Khun Vi telah meninggalkannya. Jauh di dalam, dia hanya ingin melindungin dirinya sendiri,” jelas Khae sambil tersenyum dengan penuh pengertian.

“Aku berharap Nok mendengar apa yang kamu katakan. Jadi dia akan lebih mengerti kamu,” balas Wat.



Dengan mesra dan penuh perhatian. Khae memeluk Wat dari belakang. Lalu dia mengatakan bahwa selama ini dia telah membiarkan Wat untuk menyelesaikan semuanya sendirian, tapi kini mereka akan menyelesaikan masalah ini bersama, yaitu untuk membuat Nok bisa menerima hal ini.

“Aku akan menjadi Ibunya!” kata Khae dengan lembut dan tegas.


Dikantor. Saat rapat. Nok menunjukan video hasil kerjanya.

Bring your friend back home by Green Dream. (Bawa teman mu kembali ke rumah by Green Dream). Penonton yang telah melihat video ini, mencapai 1.203.270.

Dalam pesta Full Moon yang di adakan di pantai. Pada malam hari,  setiap orang menari dan bersenang- senang. Lalu ke esokan paginya, begitu banyak sampah yang berserakan dan bahkan ada orang yang setelah minum, dia membiarkan botol minuman nya begitu saja dan pergi dari sana. Dan sampah yang di biarkan begitu saja, menjadi tambah kotor.

Sehingga area di pantai pun menjadi tidak bersih. Banyak sampah yang berserakan dimana- mana dan kuman serta binatang- binatang kecil yang tidak baik juga ada pada sampah itu.


Flash back. Video di ulang kembali ke saat dimana orang- orang berada disana. Tapi tidak seperti sebelumnya, dimana mereka meninggalkan sampah yang ada begitu saja. Kali ini mereka mengambil botol minum yang telah mereka habis kan itu dan membuangnya.

Jadi jika setiap orang mau bekerja sama untuk membersikan pantai. Dan membuang sampah pada tempatnya, maka area di pantai pun akan menjadi bersih.


Setelah video selesai di tayangkan, dengan bangga Nok berdiri di depan layar. Dan setiap orang yang berada di dalam ruangan bertepuk tangan untuknya.



Di dalam kantornya. Wat memuji hasil kerja Nok. Dan mendengar itu, dengan penuh percaya diri, Nok pun menanyakan apakah posisi wakil ketua akan menjadi miliknya.

“Aku ingin membicarakan tentang masalah ini pada mu,” kata Wat dengan serius tiba- tiba. Dan melihat itu, Nok menjadi langsung heran.

“Apa yang harus kita bicarakan?” tanya Nok dengan nada curiga. “Jangan bilang padaku bahwa pekerjaan ku belum cukup, untuk membuat ku bisa duduk di posisi wakil ketua!”



Nok masuk ke dalam ruangan kantor Nai dan mulai marah- marah. Dia menuduh Nai telah bermain kotor untuk mempertahankan posisinya. Dan Nai membalas bahwa Nok begitu pintar, pintar dalam menyalahkan orang lain, ketika Nok tidak bisa mendapatkan apa yang Nok inginkan.



Dan saat Nok masih saja tidak bisa menerima itu. Nai pun berjalan mendekati Nok dan memberikan nasihat kepada Nok bahwa hasil kerja Nok pada proyek Full Moon itu memang sangat baik, tapi hanya sukses dalam satu proyek, tidak berarti bisa membuat orang mengabaikan satu orang berharga yang telah membuat banyak proyek lebih daripada Nok.

“Kamu terlalu muda, jika kamu berpikiran seperti itu,” jelas Nai.

“Aku tidak muda! Jangan pernah menekan ku turun dengan kekuasaanmu!” balas Nok.



“Aku? Menekan mu? Nok,  jika aku tidak diminta oleh Ketua dan semua anggota komite,  maka aku sudah akan resign sejak kamu telah berada di sini,” kata Nai.

“Aku tidak percaya bahwa kamu akan resign,” balas Nok sambil mengatai Nai juga.

“Aku tidak penuh tipu daya. Aku orang yang berterus terang. Sangat sangat berterus terang. Seperti yang aku langsung katakan padamu di sana,” kata Nai sambil tersenyum menatap tubuh Nok sebentar.

Lalu dengan kesal, Nok pun mengangkat tangan nya untuk memukul Nai. Tapi Nai berhasil menahan tangan Nok. Dan karena tidak bisa memukul Nai, maka Nok mendorong Nai menjauh darinya.


“Lihat itu? Betapa berterus terangnya aku? Dan apa yang ku katakan, sebagian besar dari mereka akan menjadi kenyataan,” kata Nai sambil tersenyum kepada Nok, lalu dia pergi keluar dari dalam ruangan.

Dan dengan sangat kesal, Nok mengambil barang yang ada dimeja kerja Nai dan ingin melemparkan itu. Tapi dia tidak jadi melemparkan itu, karena Nai tidak ada disana lagi.



Nok pergi ke rumah Nenek dan menceritakan segala yang Nai katakan padanya. Dan mengetahui itu, Nenek pun menjadi ikut kesal.

“Bajingan! Dia akan kehilangan lebih dari apa yang dia lakukan padamu ratusan kali. Semua reputasi nya, uang, kehormatan, semuanya akan hilang. Dia akan kembali ke tempat dimana dia berasal, “ kata Nenek dengan nada penuh kebencian.

“Aku membenci dia! Aku akan mengingat itu kalimat itu seumur hidupku. Aku tidak akan pernah melupakan perkataan ku ini,” kata Nok.



Nok mengingat kejadian dipantai. Saat kakinya terluka, lalu Nai menggendong nya. Dan disaat itu, ketika dia mengigit bahu Nai, Nai tidak marah kepada nya, malahan Nai mengatakan bahwa asalkan dia terluka sebagai ganti agar Nok tidak sakit lagi, maka dia akan menerima itu.

Setelah itu Nok mengingat saat dia mewarnai wajah Nai. Disaat itu Nai tersenyum menatapnya.


Seperti mendapatkan ide yang bagus. Nok tersenyum dengan penuh percaya diri. “Terima kasih, nek. Karena telah membimbingku untuk membalas dendam padanya. Dengan melakukan itu, aku akan mendapatkan segala yang seharusn ya menjadi milik ku.”

Dan melihat senyum percaya diri Nok, maka Nenek pun menjadi agak heran dengan apa yang sebenarnya sedang Nok pikirkan.


Pagi hari. Nok mengatakan pada Ayahnya bahwa dia sudah sadar, walaupun dia adalah anak Wat, tapi pengalamannya dalam bekerja di Green Dream masih sangat sedikit. Dan karena itu, sulit bagi nya untuk membuat orang lain menghormatinya sebagai wakil ketua.

“Jadi aku pikir aku harus lebih memperbanyak pengalaman kerja,” kata Nok.

“Aku senang mendengar itu. Sejujurnya, sulit bagiku untuk meminta Nai mengundurkan diri. Terima kasih ya, sayang,,” balas Wat.


Wat lalu teringat bahwa sebuah acara program TV ingin mengadakan wawancara langsung besok jam 3 siang. Dan Wat ingin agar Nok yang menghadiri acara itu. Lalu mendengar itu, Nok pun menjadi heran kenapa harus dia.

“Kamu harus lihat pertanyaan yang mereka kirim kan pada ku. Itu semua tentang video clip milikmu. Siapa yang akan bisa menjawab pertanyaan itu, selain dari pada kamu?” jelas Wat sambil menunjukan data pertanyaan yang di kirim kan ke hapenya.

Dan dengan hati- hari Nok membaca semua pertanyaan yang diberikan. “Tapi ini juga ada pertanyaan yang lain juga. Semua tentang daur ulang. Pa,  barusan aku sudah bilang padamu bahwa aku hanya memiliki sedikit pengalaman,” kata Nok.



Menyadari hal itu, Wat menyaran kan agar Nok mengajak seorang karyawan di perusahaan mereka ke acara itu. Sehingga nantinya karyawan itu bisa membantu Nok untuk menjawab pertanyaan yang lain. Dan Nok setuju.

“Ok. Jadi siapa yang akan menemanin mu? Mm… aku saran kan, Sudjai, karena dia memiliki banyak pengetahuan. Atau Jomyuth, dia lucu dan banyak bicara,” kata Wat memberikan saran.

“Tapi aku mengharapkan orang yang lain,” balas Nok sambil tersenyum.



Keesokan harinya. Pada hari wawancara. Ternyata orang yang ingin Nok ajak adalah Nai. Disana dia serta Nai bersama kedua orang pembawa acara duduk bersama.

“Saya pikir bahwa setiap orang mencintai dunia kita dalam hati terdalam mereka. Dan semua yang kami lakukan ini untuk menyadarkan itu. Itu saja,” kata Nai, menjawab pertanyaan yang di tanyakan kepadanya.


Kedua orang pembawa acara itu memuji Nai. Lalu setelah itu, mereka membicarakan tentang clip video milik Nok yang sangat hebat dan telah mencapai ratusan juta penonton. “Bagaimana dengan Khun Muanchanok. Video kampanye ini sudah mencapai ratusan penonton. Jadi bagaimana perasaan mu?” tanya pembawa acara yang Pria.

“Saya sangat bangga sebagai pembuat Clip itu. Terlebih, kami akan lebih bangga, jika Clip ini akan membuat pesta Full Moon selanjutnya. Tidak ada lagi plastik, kotak foam, atau gelas di pantai lagi,” jelas Nok, menjawab.



Pembawa acara Pria memuji Nok yang memiliki sikap baik selain dari kecantikan. Lalu si Pembawa acara Wanita pun membacakan pertanyaan langsung yang dikirim dari live Chat kepada Nok.

“Khun Muanchanok, apa kamu pernah  berpikir untuk meninggalkan pria yang kamu bawa dengan kamu hari  ini? Karena dia ingin menggunakannya setelah kamu.”

“Menggunakan kembali?” kata Nai sambil tertawa dengan canggung.

“Apa ini seorang pria atau tas plastik sih?” tanya si Pembawa acara Pria acara sambil tertawa dengan bercanda.

“Tidak. Yang dia maksud adalah Pria ini,” jawab si Pembawa acara sambil menunjuk pada Nai.



“Mm… aku tidak bisa meninggalkan Pria ini pastinya,” jawab Nok sambil memegang tangan Nai. Dan merasakan itu, Nai pun melihat dengan agak sedikit terkejut. Sedangkan Nok tetap melanjutkan bicaranya, “Sesuai dengan konsep Green Dream. Semuanya tidak boleh di tinggalkan… ‘Bawa temanmu pulang denganmu’, “ jelas Nok, lalu melepaskan tangan Nai.

“ Hanya teman? Apa kamu yakin?” goda si si Pembawa acara wanita.

“Umm.. lebih baik menyebut dia harta perusahaan,” jawab Nok.

“Harta perusahaan? Atau harta pribatdi?” goda si si Pembawa acara pria.

Mendengar godaan itu, Nok tidak menjawab dan hanya tersenyum dengan lebar saja. Dan melihat senyum Nok itu, Nai pun menjadi agak heran.



Sesudah acara selesai. Nok mengajak Nai untuk makan bersama, karena sudah jam 5 sekarang. Dan mendengar ajakan itu, Nai pun menjadi heran dan bertanya, karena menurut dia itu aneh bahwa Nok mau mengajaknya untuk pergi bersama.

“Aku sudah bilang padamu berkali- kali. Kamu diajak untuk wawancara dalam TV Show untuk membantuku, jika aku melakukan sesuatu yang salah. Jadi haruskah kita pergi? jika tidak, mari pulang,” jelas Nok sambil memegang lengan Nai. Untuk menahan Nai yang terus berjalan dengan cepat.

Dengan sedikit heran, Nai pun mengiyakan ajakan Nok untuk makan bersama.


Karena tiba-tiba saja Nenek menelponnya, maka Nok pun memberikan kartu parkir nya kepada Nai dan menyuruh agar Nai ke tempat parkir duluan saja, lalu nanti dia akan menyusul. Dan Nai pun menerima itu, lalu pergi.



Nok mengangkat telepon dari Nenek. Dan dengan sedikit nada marah, Nenek menanyakan tentang apa yang terjadi di pertunjukan TV itu, karena dia melihat di TV kalau Nok itu tiba- tiba saja bersikap terlalu baik kepada Nai.

“Tolong dengarkan aku,” kata Nok, ingin menjelaskan.

“Kamu bilang pada ku kalau kamu membenci dia. Dan kamu akan mengingat perkataan itu seumur hidupmu. Tapi sekarang apa, kamu sudah lupa?” tanya Nenek.



“Dia akan membuatku melupakan perkataan ku. Nenek, dengarkan aku. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang dia katakan ini. Aku akan mengingat betapa bencinya aku. Aku hanya berpikir bahwa jika aku ingin menghukum dia dengan kata sombongnya. Maka aku harus merevisi sedikit rencanaku,” balas Nok sambil tersenyum kecil.

1 comment:

  1. Jadi gregetan sama si nok..... Cow ganteng baik hatu kek gitu dimusuhin

    ReplyDelete