Sunday, August 26, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 4 - part 1

5 comments


Network : Channel 3

Nai datang ke resepsionis untuk mengembalikan kartu tamu miliknya dan milik Nok. Serta untuk mengambil kembali tanda pengenal mereka. Dan tanpa sengaja, disaat itu Nai dan Khae bertemu. Namun tanpa menyapa Khae, Nai berjalan pergi dan mengabaikan Khae.

“Tidak kah kamu ingin menyapa ku sebagai seseorang yang menjadi teman?” tanya Khae, menghentikan Nai yang mengabaikannya.



“Kamu mengabaikan peringatanku. Lebih baik kita menjadi orang asing,” balas Nai.

“Apa kamu punya urusan disekitar sini? Khae sedang menunggu untuk rekaman acara TV jam 6. Aku sengaja datang lebih awal. Mari kita minum sesuatu,” ajak Khae.

“Aku permisi,” balas Nai, lalu mau berjalan pergi.



Khae menarik lengan Nai dan menahannya. “Aku bukannya mengabaikan peringatan mu. Tapi aku tidak bisa menerima itu. Selanjutnya, aku masih membutuhkan peringatan mu. Karena itu membuat ku menyadari bahwa kamu khawatir padaku,” kata Khae. Lalu dengan perlahan, Khae yang awalnya memegang lengan Nai, dia menurunkan pegangannya dan memegang tangan Nai dengan kedua tangan nya.

“Aku tidak khawatir padamu. Tapi aku mengkhawatirkan tentang keluargamu yang menjadi demarwan ku,” balas Nai dengan tegas. Lalu Nai mencoba untuk melepaskan tangan Khae yang memegangnya.

Tapi dengan erat, Khae tidak mau melepaskan pegangan nya. Dan lalu karena itu, tanpa sengaja kartu identitas milik Nok yang sedang dipegang oleh Nai terjatuh ke lantai.



Melihat ada sesuatu yang jatuh, Nai membungkuk untuk mengambilnya. Namun dengan cepat, Khae berhasil mengambilnya duluan. Dan ketika dia melihat, nama yang berada di kartu identitas itu, dia tampak terkejut.

Tepat di saat itu, Nok yang baru kembali langsung merampas kartu identitasnya dari tangan Khae.. “Ini jadi bernoda! Kotor!” kata Nok sambil menlap kartu identitas miliknya dan menatap tajam kepada Khae.



“Bekerja? Aku begitu terkejut. Aku pikir bahwa kamu bisanya hanya mengambil uang Ayahku,” kata Nok, menyindir.

“Tanpa Ayahmu, aku bisa hidup. Tapi Ayahmu, bagaimana bisa dia hidup tanpa ku?” balas Khae. Dan mendengar itu Nok menjadi agak kesal.

“Dia sudah hidup lama, tidak perlu bersamamu,” balas Nok.

“Aku berharap kamu melihat wajahnya ketika dia bertemu dengan ku kemarin malam. Betapa bahagiannya dia. Rencana sederhana mu, tidak akan bisa membuat dia menjauh dari ku,” balas Khae dengan santai.



Nok menjadi semakin kesal dan dia balas mengatai Khae lagi. Lalu Khae pun balas mengatai Nok lagi. Dan melihat itu, Nai pun menyela dan mengajak Nok untuk pergi makan saja, tapi Nok tidak mau makan lagi, karena melihat wajah Khae.

Lalu setelah mengatakan hal itu, Nok memengang tangan Nai dan menariknya untuk pergi dari sana. Dan dengan kesal, Khae pun tidak bisa berbuat apapun.



Sesampainya dirumah. Nai ingin naik ke lantai atas, untuk mandi dan berganti baju. Tapi Nok menghentikan Nai dan mengajak Nai untuk makan bersama. Dan mendengar ajakan itu, Nai pun menjadi agak heran.

“Kamu belum makan juga, kan?” tanya Nok, ketika Nai hanya diam saja.

“Ya. Tapi aku kira, kamu tidak mau makan,” jawab Nai.

“Sebenarnya, aku tidak mau. Yang ku mau adalah berolahraga,” balas Nok. Dan hal itu membuat Nai menjadi semakin heran.



Di dapur. Dengan cepat, Nok mengocok- ngocok telur di dalam mangkuk. Lalu dia memerintahkan agar para pelayan nya segera memasukan sayur ke dalam panci dan dia akan menuangkan telur ini nantinya. Dan para pelayan pun memasukan sayur yang ada ke dalam panci.

“Lambatnya! Berapa lama baru aku bisa makan?!” keluh Nok. Lalu dia mengambil sayuran yang ada dan mematahkan nya menggunakan tangannya, setelah itu Nok memasukan semua sayuran yang ada begitu saja ke dalam panci.

“Khun Nok! Khun Nok! Itu akan jadi berantakan,” kata bibi Phai, menghentikan Nok. Tapi Nok tidak peduli dan tetap melakukan itu.



“Itu bagus kalau berantakan. Aku ingin itu berantakan,” balas Nok sambil mematahkan sayuran yang adan menggunakan tangannya dan memasukan nya begitu saja ke dalam panci. Dan melihat itu, bibi Phai menjadi cemas.

Nai yang berada di sana juga. Dia mengatakan kepada bibi Phai agar membiarkan saja Nok melakukan itu. Dan kepada Nok, Nai mengatakan agar Nok menempatkan semua ketidaknyamanan serta kemarahan Nok pada semua sayur itu dan memasukan nya ke dalam panci.

Mendengar perkataan Nai itu. Maka bibi Phai, Aff, dan Aey. Mereka ikut melakukan apa yang sedang Nok lakukan. Dan melihat itu, Nai tertawa.



“Apa yang kamu tertawakan?” tanya Nok kepada Nai, ketika dia menyadari itu.

“Aku tertawa pada Sukiyaki di dalam panci. Itu semua berantakan,” kata Nai.

“Tapi aku pikir itu belum cukup berantakan,” balas Nok.

“Kalau lebih kacau, maka kita tidak bisa makan lagi. Sayang sekali!” balas Nai.

“Ya, kita bisa. Karena yang akan diberantakin adalah wajah mu!” kata Nok. Lalu dengan cepat, dia mengambil kocokan telur dan menaruhnya di muka Nai. Dan setelah itu Nok pun tertawa dengan keras,” Bukan Sukiyaki.”



“Baiklah! Wajahku berantakan. Kamu juga harus kotor,” balas Nai sambil mengambil kocokan telur. Namun dengan cepat, Nok berhasil menghindar dan bersembunyi di belakang bibi Phai.

Lalu bibi Phai pun menolong Nok dan meminta pada Nai agar berhenti. Tapi Nai tidak mau berhenti dan karena  bibi Phai juga tidak mau menyingkir, maka Nai pun mengoleskan kocokan telur itu di wajah bibi Phai.

Lalu setelah itu, Nok kembali berlari dan menghindar. Dan Nai pun terus mengejar Nok. Berdua mereka bermain dan bercanda bersama, berlari-larian dan bermain sambil tertawa dengan keras.


Vi bertelponan dengan temannya tentang pertemuan biasa (seperti arisan). Dan dia meminta kepada temannya agar membuat Pat duduk jauh darinya, karena dia tidak ingin terlibat lagi dengan Pat.  Sebab Pat telah melukai putrinya.

Lalu tepat disaat itu, ketika melewati ruang makan Vi mendengar suara Nok yang menanyakan pada seseorang ‘Apa ini enak?’ , ‘Makan lagi dan jangan banyak komplain’ . Dan mendengar itu, Vi pun berhenti berjalan. Lalu ketika dia melihat ke arah ruang makan dan melihat bahwa ternyata Nok sedang bersama dengan Nai. Vi pun menjadi lebih terkejut.



Dirumah sakit. Pen melakukan kunjungan dadakan untuk mengejutkan Wes. Dan disana dengan pakaian yang minim serta seksi, Pen duduk dengan kaki disilang sambil tersenyum manis kepada Wes. Dan melihat kedatangan Pen, Wes tersenyum senang.

“Apa ada yang terjadi?” tanya Wes menjalan kan tugasnya sebagai Dokter.

“Kelihatannya seperti mau flu dan sulit untuk bernafas,” jawab Pen.



Dan mendengar itu, Wes tersenyum. Namun karena sadar seorang perawatnya ada disana, maka Wes pun mengambil stetoskopnya dan mulai memeriksa Pen. Dia meminta Pen untuk berbalik dan menarik nafas dalam, lalu mengeluarkannya.

Dengan genit, Pen menatap Wes sambil tersenyum nakal. Dan melihat itu, Wes tampak mengerti dengan niat Pen yang sebenarnya. Wes lalu membuat alasan agar si perawat keluar, dia berpura- pura meminta tolong kepada perawatnya untuk pergi membelikannya pena yang baru, karena tinta pena nya sudah habis. Jadi karena itu, maka si perawat keluar dari dalam ruangan.



Lalu setelah si perawat keluar. Wes mencubit hidung Pen dengan lembut,“Pura- pura sakit!” kata Wes.

“Jika aku tidak pura- pura sakit, bagaimana bisa aku bertemu kamu? Mm… Aku hanya ingin memberitahu mu bahwa apatermen ku sudah selesai dan aku akan pindah hari ini. Jadi aku butuh seseorang untuk menolongku,” balas Pen.

“Dengan senang hati. Aku tidak punya kerjaan juga pada sore hari ini,” balas Wes.

“Tidak, kamu punya… ,” kata Pen sambil memegang tangan Wes yang sedang memegang stetoskop dan menaruhnya di dadanya, “… bekerja di apatermen ku,” kata Pen dengan genit.

Pas disaat itu, si perawat kembali. Dan melihatnya, Wes pun menjadi terkejut, lalu dengan sikap canggung Wes menerima pena baru itu dan menuliskan resep untuk Pen.



Malam hari. Ketika masuk ke dalam kamar, Nok terkejut saat melihat Ibunya yang sedang berada disana sambil mengenakan masker putih. “Mom! Kamu mengejutkan ku!” keluh Nok.

“Oh… sayang… kamu begitu sensitif,” balas Vi.

“Apa yang terjadi ?” tanya Nok.

“Aku ingin mengajak mu untuk memakai masker bersama denganku,” jawab Vi sambil memperlihatkan masker yang dibawanya.

Nok merasa curiga dan menanyakan niat asli Ibunya, karena dia tidak percaya bahwa Ibunya datang hanya untuk mengajaknya memakain masker bersama. Dan karena itu, maka Vi pun jujur.



“Aku melihat kamu membuatkan Sukiyaki untuk Nai. Apa kamu memasukan racun ke dalam itu?” tanya Vi dengan terus terang.

“Tidak sama sekali. Kecuali niat ku untuk memasak baginya,” jawab Nok.

Dan mendengar itu, Vi langsung mendekati Nok dan memegang dahi Nok, memastikan putrinya itu masih baik- baik saja.

“Mom, aku baik- baik saja,” kata Nok sambil menahan tangan Ibunya. “Mengapa? Apa itu aneh, kalau aku memalukan sesuatu yang baik untuknya?” tanya Nok.

“Sangat anehhh..” jawab Vi. Lalu dia menanyakan rencana asli Nok melakukan itu.



“Aku ingin menyerah. Seperti yang bisa kamu lihat bahwa aku cukup bagus dalam bekerja. Jadi aku tidak ingin untuk menghabiskan waktu ku untuk balas dendam pada seseorang. Aku sudah punya banyak musuh. Dan aku ingin mengubah musuhku menjadi temanku. Dengan begitu, ketika aku ingin melakukan sesautu, itu akan menjadi lebih mudah. Nantinya, aku benar- benar membutuh kan dia. Dan kamu juga butuh aku untuk berdamai dengannya. Itu bagus kan?” jelas Nok.

Dan dengan agak bingung, Vi menganggukan kepalanya. “Itu bagus…  Atau tidak?”


Wes mengantarkan Pen pulang ke rumah Nok. Disana ketika telah tiba di depan rumah, Wes membuka kan pintu mobil untuk Pen turun. Lalu Pen menggandeng tangan Wes dengan mesra. Dan karena sudah malam, maka Pen yakin bahwa setiap orang pasti telah tidur,  jadi tidak ada seorang pun yang akan melihat mereka.



Pas disaat itu, Phai membuka pintu rumah dan keluar. Dan melihat itu, Wes dengan sopan langsung memberikan hormat dan menyapa Phai. Namun Pen malah bersikap tidak sopan dan kasar.

“Tidak perlu menghormati dia. Dia bibi Phai, dia adalah pelayan rumahku,” kata Pen. Dan mendengar itu, Phai menjadi terkejut, lalu dia menatap tidak percaya kepada Pen.

“Aku harus tetap menghormatinya. Karena dia lebih tua daripadaku,” balas Wes.



Pen memberitahukan kepada Phai (Ibunya) bahwa saat ini dia pulang ke rumah untuk mengambil barang- barangnya, dikarenakan apatermen miliknya telah selesai. Lalu Pen menanyakan apa bibi Phai bisa membantu menyiapkan barangnya.

“Ya,” balas Phai.

“Kemudian aku akan menunggu kamu di sini,” kata Wes.

Dengan segera, Phai berniat untuk pergi ke belakang dan membantu Pen untuk mengambil barang- barang milik Pen. Tapi Pen menahan Phai dan memberikan kode kepada Phai agar mereka masuk ke dalam rumah. Lalu dengan agak keheranan, maka Phai pun masuk ke dalam rumah.



Sepertinya Pen berencana pergi ke kamar belakang miliknya, melalui dalam rumah besar Nok. Karena dia malu, kalau harus pergi ke  kamar belakang, langsung melalui halaman.

Didalam kamar. Pen meminta maaf kepada Ibunya karena telah menyebut Ibunya sebagai pelayan. Dan Phai pun membalas bahwa Pen tidak salah, karena benar dia adalah seorang pelayan.

Sebagai permintaan maaf nya, Pen memberikan kartu kunci apatermennya. Sehingga Ibunya bisa datang ke sana, ketika Ibu ingin bertemu dengannya. Atau jika Ibunya berubah pikiran untuk tinggal bersama dengannya disana.

Dan Phai pun menerima kartu itu. “Aku akan mengunjunginmu disana.”

“Tolong secepatnnya ya. Aku ingin menunjukan kamarku,” balas Pen.



Setelah selesai. Wes membantu mengangkatkan barang- barang milik Pen ke dalam mobilnya. Dan tanpa sengaja, Wat yang kebetulan terbangun serta sedang keluar dari kamar, dia melihat itu.



Pagi hari. Wat menanyakan kepada Phai apa Pen ada pulang tadi malam. Dan Phai membenarkan hal itu, dia mengatakan kepada Wat bahwa apatermen milik Pen telah selesai, jadi Pen akan pindah ke sana.

Mendengar hal itu, Nok menjadi cemas kalau Phai juga akan pindah ke sana. Lalu saat Phai menjelaskan bahwa dia akan tetap tinggal disini, Nok pun menjadi lega. “Aku berjanji, aku akan menjaga kamu,” kata Nok denga senang sambil tersenyum.



“Bagaimana tentang Pria yang bersama dengan Pen kemarin malam? Siapa dia?” tanya Wat.

“Oh… aku kira dia adalah pacar barunya. Dia punya sikap yang baik dan sopan. Jika dia bersama dengannya, aku akan senang,” jawab Phai. Dan mendengar itu, Wat menjadi heran.

“Ada apa, pa? Mengapa kamu terlihat begitu serius?” tanya Nok melihat sikap aneh Ayahnya.

“Tidak ada. Aku hanya sedang memikirkan posisi mana yang bagus untukmu di perusahaan?” balas Wat.

“Bolehkah aku memilih sendiri?” tanya Nok sambil tersenyum manis penuh arti.



Melalui telpon, Nai menjelaskan kepada Vi bahwa penyebab Nok bertingkah aneh adalah karena Nok bertemu dengan Khae kemarin, sehingga karena itulah makanya Nok melonggarkan dirinya. Namun hal itu semakin membuat Vi merasa itu aneh, karena Nok tidak membuat masalah akhir- akhir ini.

“Aku sudah memberitahu mu bahwa Nok hanya melonggarkan dirinya untuk sesaat saja. Ketika dia selesai, dia akan membenci ku seperti biasanya,” jelas Nai.


Dengan panik, Jomyuth menghampiri Nai dan memberitahukan bahwa Nok telah datang. Dan saat ini Nok sedang mengambil alih ruangan Nai. Mendengar hal itu, Nai pun tersenyum.

“Tidak kah kamu mendengar itu? Tidak lebih dari satu hari! Moment ketenangan ku terlalu singkat,” kata Nai sambil tersenyum sangat lebar.




Didalam ruangan Nai. Nok memberikan arahan kepada pihak properti untuk meletakan meja nya dimana. Dan ketika melihat Nai tiba, Nok melihat jam tangannya,” Kamu telat 20 menit 45 detik,” kata Nok.

Nai pun menjelaskan bahwa tadi dia sedang berhenti sebentar di Franchise mereka yang berada di Distrik Bangpli. Lalu ketika dia balik ke sini, Nok malah sedang mengambil alih ruangan kerjanya.



“Ada apa sih? Aku hanya mendesign ulang sedikit,” kata Nok.

“Kamu bilang bahwa kamu tidak ingin menjadi wakil ketua,” balas Nai.

“Ya, aku tidak mau. Dan aku tidak dalam posisi itu juga,” jelas Nok.

“Tidak? Lalu mengapa kamu mengambil alih ruang kerja ku.”

“Siapa yang bilang itu? Lihat, meja kerja mu masih disana,” kata Nok sambil menunjuk meja milik Nai. Lalu melanjutkan,” Aku hanya ingin berbagi ruang denganmu sebagai asisten wakil ketua,” jelas Nok. Dan mendengar itu, Nai menjadi terdiam.


Wat menjelaskan kepada Nai bahwa sebenarnya dia berencana untuk membentuk bagian baru seperti manajemen sosial media untuk menempatkan Nok disana. Karena Nok sangat bagus dalam membuat video. Tapi Nok tidak menolak dan meminta menjadikan nya seorang asisten.

“Apa alasannya dalam melakukan itu?” tanya Nai.

“Dia bilang, dia belum siap, dia takut melakukan sesuatu yang salah,” jawab Wat.



Lalu teringat tentang masalah Pen dan Wes. Wat pun menanyakan dengan serius kepada Nai, apa Nok masih berhubungan dengan Wes. Dan Nai pun menjawab bahwa dia pikir tidak lagi.

“Apa ada yang kamu takutkan?” tanya Nai.

“Kemari malam. Penny kembali untuk mengambil barangnya, pindah ke apatermennya yang baru. Apa kamu tahu siapa orang yang menolong nya?” balas Wat.



Di dalam ruangan kerja. Nai heran saat mendengar suara Nok yang sibuk tertawa. Dan Nai pun memperhatikan Nok, lalu ketika Nok melihat ke arahnya, dengan cepat Nai mengambil map yang ada dimejanya dan berpura- pura sedang membaca dokuemen.



“Hmm.. Hm... ,” kata Nok sambil memperhatikan Nai.

“Mengapa?” tanya Nai dengan sikap seperti sedang sibuk.

“Map yang kamu pegang terbalik,” kata Nok sambil menunjuk.

“Hanya cover luar nya yang terbalik, di dalam nya tidak. Jomyuth, kamu begitu ceroboh,” kata Nai. Lalu dia pura- pura membetulkan dokumen yang memang terbalik. Dan kembali bekerja.



Nok menerima telpon dari seseorang dan setelah itu dia keluar dari dalam ruangan. Dan melihat itu, dengan cepat Nai pergi ke meja Nok. Lalu dia membuka laptop Nok dan memeriksa apa yang sedang Nok lihat. Dan ternyata Nok sedang melihat akun FB nya saja.

Tepat disaat itu, Nok kembali ke dalam ruangan. Lalu karena melihat Nai berada di mejanya dan sedang menyentuh laptopnya, maka Nok menanyakan apa yang sedang Nai lakukan. Dan Nai menjawab bahwa dia sedang mendownload kan file informasi tentang proyek didalam perusahaan daur ulang, karena dia dengar kalau Nok mau mempelajari tentang itu.

“Ya. Aku butuh itu. Tapi mengapa kamu tidak mendownload kan nya ketika aku masih disini?” tanya Nok, heran.

“Aku tidak memikirkan itu. Aku hanya melakukannya langsung, ketika aku teringat,” balas Nai.



Dengan cepat, Nai mendownload kan file yang dikatakannya untuk Nok. Lalu dia Minimize layar browser Nok. Jadi ketika Nok mendekat untuk melihat, maka Nok pun tidak akan mencurigai nya.

Dengan semangat, Nok lalu memberitahu Nai bahwa karena ini adalah hari pertamanya bekerja disini, maka dia membelikan  Ayam goreng untuk setiap orang. Lalu Nok membuka penutup tempat ayam goreng dan memberikan itu kepada Nai.

“Aku ingin menyelesaikan download ku dulu. Aku akan makan nanti,” kata Nai sambil duduk dikursi Nok.

“Kamu bisa melakukan nya, ketika kamu sedang mendownload. Aku takut Ayam goreng nya bakal keburu dingin,” balas Nok dengan sedikit memaksa Nai.

Lalu karena itu, maka Nai pun mau mengambil ayam goreng itu. Tapi sebelum sempat terambil olehnya, Nok langsung menahannya. “Kamu mau aku makan itu atau tidak?” tanay Nai.




“Jika kamu menggunakan tanganmu mengambil ayam gorengnya, maka saat kamu mengetik, keyboard laptopku bakal kotor,” balas Nok. Dan karena itu, maka Nai pun memutuskan untuk tidak makan dulu. Atau jika memang Nok memaksa, maka Nok bisa menyuapinya, sehingga tangannya tidak akan kotor.

Dengan terpaksa, Nok mengambil Ayam goreng itu dan menyuapi Nai. Dan sambil memengang tangan Nok, Nai pun mengigit Ayah goreng tersebut.


“Gigit yang besar, aku capek menyuapi kamu,” keluh Nok, ketika Nai hanya mengigit sedikit saja.
Tepat disaat itu, Sudjai masuk ke dalam ruangan. Dan dia menjadi terkejut, ketika melihat Nok yang sedang menyuapi Nai. Lalu sebelum Nai serta Nok sadar, dia langsung keluar dari dalam ruangan.

Sudjai mengabarkan di grup Line tentang kemesraan Nok serta Nai.




Sudjai : Menyuapi satu sama lain dengan tangan. Aku begitu terkejut.

Karyawan lain : P’Jomyuth, kamu butuh melakukan hal yang sama seperti Khun Nok. Jati kamu tidak akan di pecat.

Jomyuth : T.T (emoticon) lebih aku berpikir, lebih aku terluka. Menjadi sekretaris dari wakil ketua untuk waktu yang lama, posisi wakil asistan malah baru muncul, bagaimana bisa?

Karyawan lain : Kemudian rumor di pantai itu nyata?

Sudjai : Lebih dari kenyataan. Joomyuth adalah saksi nya.

Jomyuth : Apa ini alasan untuk memaksaku resign? ‘Oh… Nooo (Emoticon)

“Pripraw mengundang Muanchanok ke dalam grup”



Membaca notifikasi bahwa Nok telah di tambahkan ke dalam Grup. Membuat semua orang langsung terkejut. Dan orang yang berada satu ruangan dengan Praw, mereka langsung memarahi Praw.

“Aku minta maaf. Khun Nok menyuruh ku untuk mengundangnya ke dalam grup chat. Aku tidak tahu bagaimana menolaknya,” kata Praw dengan menyesal serta sedih juga.

Tiba- tiba saja muncul notifikasi dari Nok yang menyapa mereka. Dan melihat chat itu, mereka semua langsung terkejut dan menyimppan hape mereka, lalu mereka kembali bekerja lagi.



Diruang ganti. Khae berdandan dengan cantik mengenakan sebuah gaun hitam. Dan Wat juga berada disana, dia memakai setelan jas hitam, kemeja putih, serta dasi kupu- kupu.

“Bagaimana perasaan mu setelah melihat wawancara Khun Nok dan Khun Nai?” tanya Khae.

“Apa kamu terkejut bahwa mereka tidak bertengkar ketika wawancara?” balas Wat sambil tersenyum.
“Ya. Hanya dalam wawancara?”

“Ini nyata. Mereka tiba- tiba tidak bertengkar lagi. Aku sangat lega. Mungkin Nok sudah semakin dewasa dan lebih mengerti tentang apa yang terjadi,” balas Wat, menjelaskan. Dan dia juga yakin suatu saat Nok bisa menerima hubungan mereka.


Khae tampak tidak senang, tapi dia tidak menunjukan itu. Dia berbalik dan menghadap ke arah cermin. Lalu dia menanyakan tentang penampilannya. Dan Wat memuji bahwa Khae terlihat cantik memakan setiap dress.

“Tapi kamu kekurangan sesuatu…” kata Wat. Dan mendengar itu, Khae pun terkejut, lalu dia melihat gaun yang dipakainya.


Dan disaat itulah, Wat mendekat. Lalu dengan perlahan dia memakaikan sebuah kalung berlian yang sangat cantik di leher Khae.
“Kapan kamu membeli nya?” tanya Khae sambil tersenyum senang.
“Itu bukan intinya. Intinya adalah apa kamu suka itu atau tidak?” tanya Wat sambil tersenyum.

“Terima kasih ya,” kata Khae sambil balas tersenyum. Lalu setelah itu dia mencium pipi Wat.

5 comments:

  1. Min ditunggu lanjutannya..😄

    ReplyDelete
  2. Semangat kak,lanjut terus karena ditunggu selalu kelanjutannya sampai the end yah kak ☺

    ReplyDelete
  3. Ayo min semangat.. Kami tunggu lanjutannya... Trimakasih

    ReplyDelete
  4. Min..nonton yg lengkap engsub dmn sih?bagi linknya please..

    ReplyDelete