Penting !!

Terimakasih untuk para readers dan viewers yang sudah berkenan untuk mampir ke blog sederhana ini.

Terkait dengan seringnya pertanyaan mengenai undangan blog dan sinopsis awal Game Sanaeha yang tidak bisa di buka, saya ingin menegaskan bahwa blog ini terbuka untuk umum. Semua readers dan viewers bebas untuk berkunjung dan membaca semua artikel maupun sinopsis di blog ini. Tidak ada undangan ataupun hal sejenisnya.

Untuk yang mencari sinopsis awal Game Sanaehe dapat di lihat di link ini : https://k-adramanov.blogspot.com/search/label/Game%20Sanaeha?&max-results=7

Ini berisi sinopsis dari awal Game Sanaeha hingga sekarang.

Blog sinopsis yang bertebaran di internet ada banyak. Dan karena itu, blog yang di pertanyakan, yang tidak bisa di akses karena perlu undangan atau semacamnya, BUKAN BLOG INI.

Blog ini bernama : SHARE ABOUT DRAMA dengan alamat domain : k-adramanov.blogspot.com

Sekian,

Happy Reading,


Owner :)

Adsense

...

Sinopsis Lakorn : My Cinderella Girl Episode 05-3/5

Sinopsis Lakorn : My Cinderella Girl Episode 05-3/5
Images by : Channel 3
Unc. Dam menceritakan masa lalu Khun Barami dan Paphon kepada Phu.
“Ketika Khun Barami dan Ibu Prim, Paphon, saling jatuh cinta, dia (Khun Barami) adalah Manager HRD di Diamond Mal. Mall dimana aku bekerja,” narasi Unc. Dam. “Khun Barami adalah lulusan luar negeri. Keluarganya juga berasal dari garis keturunan bangsawan. Sangat tampan. Keren. Semua perempuan menyukainya. Termasuk anak dari pemilik mall, Khun Patchara. Dia (Khun Patchara) terlahir dan di besarkan sebagai anak orang kaya yang selalu mendapatkan hal yang di inginkannya hingga dia menjadi sombong. Apapun yang dia inginkan, dia harus mendapatkannya. Tidak punya rasa simpati dan kejam. Tidak tahu apa itu karma. Ketika dia mengetahui hubungan Khun Barami dan Phon, Hey!!!”
“Apa yang terjadi?” tanya Phu penasaran.
Flashback
Saat itu, Phon sedang melihat desain sepatu Khun Barami untuknya, ketika Khun Pat datang ke kediaman sekaligus tokonya. Phon menyambutnya dengan ramah karena mengira kalau dia adalah pelanggan.
“Aku adalah tunangan dari Khun Barami,” beritahu Khun Pat.
Phon kaget mengetahui hal itu. Di tambah lagi, Khun Pat berkata kalau dia akan segera menjadi istri sah Khun Barami. Khun Pat juga menyebut Phon sebagai wanita simpanan.
“Tidak benar. Khun Barami mencintaiku. Dia tidak pernah berbohong padaku,” bantah Phon.
Dan Khun Pat malah menamparnya, “Aku peringati kau, jika kau tidak ingin terkena masalah, jangan menemuinya lagi!”
“Aku mencintainya.”
“Kau ingin mengetest-ku? Hmm?” tanya Khun Pat marah dan membenturkan kepala Phon ke dinding. “Kuperingati, aku bisa melakukan hal yang lebih dari ini! Berhenti menemuinya!” ujar Khun Pat dan kembali menghajar Phon.
Khun Barami tiba saat itu dan melihat apa yang dilakukan Khun Pat pada Phon. Dia menolong Phon dan memarahi Khun Pat. Tetapi, Khun Pat balas membentak Khun Barami karena masih menemui Phon. Phon bertanya pada Khun Barami, apa benar Khun Pat adalah tunangannya?  
“Khun Barami, jawab pertanyaannya. Jawah pertanyaan wanita bodoh itu jadi dia bisa tahu,” perintah Khun Pat.
“Phon, dengarkan aku dulu. Aku akan menjelaskannya padamu,” ujar Khun Barami. Tetapi, Phon terlanjur kecewa dan berlari pergi keluar.
Khun Barami mengejar Phon tetapi Khun Pat menghalanginya. Dia mengancam Khun Barami jika berani mengejar Phon, dia akan menelpon ayahnya dan menyuruh ayahnya untuk membatalkan pembayaran hutang keluarga Khun Barami. Dia menyuruh Khun Barami untuk memilih, dirinya atau Phon? Dia bisa membantu memulihkan keluarga Khun Barami sehingga ayah dan ibu Khun Barami tidak akan mencoba bunuh diri lagi karena hutang.  
Tetapi, Khun Barami memilih untuk mengejar Phon. Khun Pat berteriak marah.
“Phon! Phon! Dengarkan aku dulu. Aku … aku tidak berniat berbohong padamu!” jelas Khun Barami dan memeluk Phon yang mengusirnya pergi.
“Khun Barami berjanji pada Phon bahwa dia akan memberitahu keluarganya mengenai Phon. Dan kemudian mereka akan menikah,” cerita Unc. Dam.
Saat itu, Unc. Dam ada di sana dan mendengar janji Khun Barami pada Phon.
“Tetapi, dia tidak berhasil. Tidak ada yang menyetujui cintanya pada Phon. Tetapi, anak dari pemilik mall, dia takut kalau Phon tidak bersedia putus dengan Barami. Jadi, dia menyusun rencana untuk menghancurkan Phon. Menghancurkan segala sesuatu yang telah Phon bangun.”
Malam itu, Phon sedang membuat sepatu di rumahnya (yang sekarang rumah Prim), ketika Unc. Dam berlari ke rumahnya dan memberitahu kalau toko sepatu Phon terbakar.
Phon masuk ke dalam toko dan mengambil sketsa sepatu yang dibuatkan Khun Barami untuknya. Tetapi, saat dia hendak keluar, dia pingsan karena terlalu banyak menghirup asap. Khun Barami tiba saat itu, dan menolongnya.
Beberapa hari kemudian, Khun Barami menemui Phon. Tetapi, Phon memberitahu kalau dia sudah menjual rumahnya dan besok akan pindah. Khun Barami berusaha menghalanginya pergi tetapi Phon menyuruh Khun Barami untuk melepaskannya. Anggap mereka tidak pernah saling mencintai dan tidak usah bertemu lagi. Khun Barami menangis dengan keputusan Phon, tetapi dia tidak bisa menolak lagi. Dia tidak ingin Phon semakin terluka karena bersamanya.
Tetapi, setelah memutuskan Khun Barami. Phon baru tahu jika dia hamil.
Flashback END
“Phon baru tahu dia hamil. Jadi, dia pindah dan tinggal dengan kakak dan kakak iparnya di Phuket. Ketika dia kembali, Nang Prim sudah berusia 3 tahun,” akhiri Unc. Dam.
“Itu berarti Unc. Barami tidak tahu kalau dia punya anak lain?” tanya Phu memastikan.
Unc. Dam mengangguk membenarkan.
“Dan dia tidak pernah kembali ke sini lagi?” tanya Phu.
“Ada. Dia selalu datang di tahun pertama dan kedua setelah kepindahan Phon. Tetapi, ketika dia melihat ada penyewa yang tinggal di rumah Phon, dia mengira kalau Phon benar-benar sudah menjual rumahnya. Dan dia tidak pernah kembali lagi.”
Phu merasa kalau sebaiknya mereka memberitahu Prim mengenai hal ini, tetapi Unc. Dam tidak setuju. Dia sudah berjanji pada Phon dan tidak akan mengingkarinya. Lagipula, Unc. Dam tidak ingin jika Khun Pat tahu mengenai Prim, karena dia takut Khun Pat akan menghancurkan hidup Prim sama seperti dia menghancurkan hidup Phon.
Phu tidak bisa membantah perkataan Unc. Dam.
Phu pulang ke rumahnya. Dia memikirkan cerita Unc. Dam, apa benar Khun Pat orang yang sekejam itu? Dia juga merasa kasihan dengan Prim yang selalu mencari ayahnya padahal ayahnya ada di dekatnya.

Saat itu, Khun Nisa (ibu Phu) menelpon. Dia menelpon karena tadi Khun Pat melapor padanya kalau Phu sudah menyakiti Vicky. Tapi, dia tahu kalau Phu tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan, jadi, dia mau tahu alasan kenapa Phu memilih menyelamatkan Prim terlebih dahulu?
“Itu karena Vicky bisa berenang, tetapi Prim tidak bisa. Jadi, aku memilih menolong Prim terlebih dahulu. Itu saja,” jelas Phu.
Khun Nisa menyarankan Phu untuk menghubungi Khun Pat dan menjelaskan hal tersebut, karena sekarang ini Khun Pat sangat marah. Khun Pat mengira kalau Phu tertarik pada wanita lain daripada kepada putrinya. Phu jelas marah karena pemikiran egois Khun Pat. Phu bahkan bertanya pada ibunya, jadi dia harus menolong Vicky terlebih dahulu dan membiarkan Prim dalam bahaya hanya untuk menyenangkan Khun Pat, gitu?
Khun Nisa meminta Phu untuk tenang. Bukan itu maksudnya, hanya saja Khun Pat sering menelponnya dan membicarakan hal buruk mengenai Prim. Dan dia merasa tidak nyaman. Dia meminta Phu untuk melupakan perkataan Khun Pat.
“Ketika dia mencintai seseorang, dia mencintainya dengan berlebihan. Tetapi, ketika dia membenci seseorang, dia akan membencinya dengan kasar juga,” beritahu Khun Nisa.
“Lalu, jika Khun Pat tidak menyukai seseorang. Ibu apa kau tahu cara untuk mengubah pemikirannya tersebut?”
“Kenapa kau menanyakan hal itu? Ini… jangan bilang kalau kau ingin membuat Khun Pat menjadi suka pada anak itu, Prim?” tebak Khun Nisa.
“Tidak peduli apapun, bukankah menyukai lebih baik daripada membenci, kan?”
“Itu benar, anakku. Tapi… aku rasa… Oyy! Hal itu sangat sulit! Khun Pat sangat keras kepala. Aku sudah mengenalnya selama beberapa dekade, dari apa yang aku lihat hanya Pong dan Nu’Vicky yang bisa membuat hatinya melembut.”
Phu mengerti.
Esok hari,
Prim terbangun dan mencari Rita dan Boot, tetapi mereka tidak ada di rumah. Prim jelas heran, apa mereka sudah pergi?
Unc. Dam datang dan mengunjungi Prim. Dia mau mengembalikan tas Prim yang tertinggal di mobil Phu kemarin malam. Prim melihat kepala Unc. Dam yang terluka dan jelas merasa khawatir. Unc. Dam memberitahu kalau dia terjatuh namun tidak ada luka berarti.
Prim kemudian heran, sejak kapan Unc. Dam kenal dan dekat dengan Phu hingga Phu menitipkan tas-nya pada Unc. Dam? Unc. Dam langsung gugup dan menjawab kalau dia tidak dekat dan dia langsung pergi.

Prim jelas heran padahal dia hanya menggoda Unc. Dam, kenapa malah di anggap serius?
Prim kemudian memeriksa tas-nya. Dan di dalamnya ada surat berisi nomor telepon : Ini nomorku. Jika kau membutuhkan bantuanku, kau bisa menghubungiku. Tua Phu :)
Prim tersenyum membaca surat tersebut.
Phu pergi ke rumah sakit mengunjungi Khun Pat. Dan tidak sengaja di lobby, dia bertemu dengan Khun Barami. Mereka sama-sama naik lift dan menuju ke ruang rawat Khun Pat. Phu tidak bisa melepaskan pandangannya dari Khun Barami.
Vicky sedang berada di depan kamar rawat dan berbicara dengan suster. Khun Barami dan Phu jelas heran, apa ada masalah? Vicky menjelaskan kalau suster itu di tugaskan untuk merawat Khun Pat, tetapi karena tidak berhati-hati, dia membuat Khun Pat marah. Dan karena itu Khun Pat memanggil Direktur Suster dan menyuruhnya untuk memecat suster tersebut.

Khun Barami mengeluh karena Khun Pat terlalu berlebihan. Dia hendak masuk dan menegur Khun Pat. Vicky melarangnya karena ibunya sedang stress sekarang. Tetapi Khun Barami tetap ingin bicara dengan Khun Pat, karena perbuatan Khun Pat, suster itu bisa kehilangan pekerjaannya. Vicky menghalangi dan berjanji akan bicara dengan ibunya agar merubah keputusannya.
Khun Barami tidak memaksa lagi dan memilih pergi. Vicky kemudian mengajak Phu untuk masuk ke dalam.
Phu memberikan buket bunga untuk Khun Pat. Khun Pat senang melihat kedatangan Phu, hingga dia meminta Vicky memotretnya dengan Phu, jadi dia bisa mengirimkannya pada Khun Nisa.
Phu terus melihat Khun Pat dan memikirkan perkataan Unc. Dam mengenai Khun Pat yang sombong, tidak mempunyai rasa simpati dan kejam.

Rita pergi ke sebuah butik. Kemarin, dia melamar ke butik tersebut dan di beri tugas untuk mengecilkan baju. Rita sudah menyelesaikan tugasnya dan yakin bahwa dia akan di terima karena pemilik butik memuji pekerjaannya yang rapi. Tetapi, ternyata pemilik butik menyuruhnya untuk pulang dan menunggu kabar karena banyak orang yang melamar, jadi dia harus memilih terlebih dulu. Rita jelas kecewa mendengarnya. Dan lebih kecewa lagi saat pemilik butik malah menelpon klien-nya dan memberitahu kalau baju yang di minta untuk di kecilkan sudah selesai dan bisa di jemput. Rita sadar kalau dia sudah di manfaatkan.
Rita keluar dari butik tersebut dengan wajah cemberut. Dia benar-benar kesal. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi.
“Orang dengan kelakuan buruk! Penipu! Aku harap kau akan masuk neraka kalau mati!” umpat Rita begitu mengangkat telepon. “Aku sudah mengeluarkan semua amarahku, dan sekarang aku merasa lebih baik.”
“Amarahmu sangat kasar, ya,” ujar Wat yang berada di seberang telepon dengan gugup.
Rita kaget karena mendengar suara pria. Dia memeriksa yang menelpon dan ternyata itu Wat. “Aku minta maaf! Aku kira yang menelpon Boot,” jelas Rita dengan cepat.
Wat tidak mempermasalahkannya, dan bertanya kenapa Rita marah? Rita tidak mau memberitahu, dia hanya berharap kalau orang itu mendapatkan karma. Dia kemudian bertanya kenapa Wat menelponnya? Wat menjelaskan kalau dia mencoba menelpon Prim dari semalam, tetapi tidak bisa, apa ada yang terjadi?
Dan Rita pun menceritakan apa yang di alami oleh Prim kemarin.

Disclaimer : Gambar dan video artikel pada website ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini

1 Response to "Sinopsis Lakorn : My Cinderella Girl Episode 05-3/5"

Tolong Tinggalkan Komentar, Kritik, ataupun Saran untuk Perubahan yang Lebih Baik!!! ^^

Powered by Blogger.

IKLAN