Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 5 - part 5


Network : Channel 3



Dirumah. Didekat kolam renang. Nai berdiri sambil memandangin jendela kamar Nok. Lalu saat dia tidak melihat Nok, dia berjalan pelan dipinggir kolam renang sambil merenung kan tentang pertanyaan Khae yang menanyakan apa dia mencintai Nok dan apa dia merasa sakit ketika Nok menangis.

Lalu Nai mengingat tentang perkataan sedih Nok yang mengatakan bahwa dia tidak ingin kehilangan air matanya untuk wanita seperti Khae. Dan Nai mengingat saat dimana Nok menangis sendirian di dalam mobil.


Keesokan harinya. Sebelum mulai sarapan, Wat menanyakan keadaan Nai kepada Phai. Dan Phai menjawab bahwa Nai sedang demam dan mungkin itu karena hujan kemarin. Lalu mendengar itu, Wat menyuruh agar Phai memberitahu Nai untuk tidak perlu pergi ke kantor hari ini.

Nok yang kebetulan berada disana, dia mendengar semua itu dan tampak khawatir kepada Nai. Lalu dengan segera dia pergi ke kamar Nai.



Nok mengetuk pintu kamar Nai, namun tidak ada jawaban, jadi dia masuk begitu saja. Lalu Nok melihat Nai yang sedang tertidur. Dan Nok pun mendekati Nai serta memanggilnya, sehiinggan Nai terbangun, tapi Nai tampak sangat lemah dan tidak sehat. Kemudian dengan penuh perhatian, Nok meletakan tangannya diatas dahi Nai untuk memeriksa suhu tubuh Nai.

“Kamu sakit. Panas mu sangat tinggi. Hari ini kamu istirahat ya, kamu tidak perlu pergi bekerja,” kata Nok dengan perhatian.

“Aku sudah minum obat dan akan segera membaik,” balas Nai. Dan walaupun Nok menasehati nya, tapi Nai tetap bersikeras untuk pergi, karena hari ini mereka memiliki pertemuan penting dengan S.J.



Karena Nai bersikeras untuk tetap pergi, maka Nok pun setuju. Namun Nok tidak membiarkan Nai untuk menyetir hari ini. Dan bahkan dengan penuh perhatian, Nok membuka kan pintu penumpang untuk Nai. Tapi Nai menolak.

“Jika kamu begitu, aku akan menyuruh bibi Phai dan Aff, Aey untuk menyeret mu dan menguncimu dikamar. Serta mengikatmu di tempat tidur, memberi makan dan obat setiap 4 jam tanpa izin untuk turun dari tempat tidur semenit pun. Dengan kondisimu sekarang, kamu pasti tidak akan bisa melawan balik,” ancam Nok.


Lalu setelah mengatakan itu, Nok mendorong dan memaksa Nai untuk masuk ke dalam mobil. Kemudian Nok memasukan tas nya ke dalam mobil juga dan memasangkan sabuk pengaman kepada Nai. Lalu ketika ingin berbalik, tanpa sengaja, wajah Nok dan Nai saling berdekatan. Dan untuk sesaat, mereka berdua saling terdiam sambil berpadangan.

Namun saat tersadar, Nok langsung mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil. Dan karena terlalu terburu- buru, kepala Nok pun terantuk atap mobil. Lalu dengan perhatian Nai memeriksa apa kepala Nok baik- baik saja.



“Ini hanya game,” gumam Nok, mengingatkan dirinya sendiri. Lalu dia masuk ke dalam mobil dan menyetir. Dan melihat sikap Nok yang seperti itu, Nai tersenyum kecil. Serta selama perjalanan Nai selalu memandangin Nok.


Aku tidak pernah mengira hatiku akan meleleh untuk seseorang

Aku tidak tahu kapan pikiran ku berubah

Bagaimana pun aku menahan hatiku

Itu masih membuatku bergetar, ketika kita saling berdekatan

Jangan lakukan ini. Jangan menjadi baik kepadaku. Itu membuatku takut

Takut bahwa perasaan ku akan semakin lebih dalam setiap harinya

Sampai aku tidak bisa melangkah mundur tepat waktu

Lebih waktu berlalu, lebih aku takut pada hatiku



Dirumah. Pat sedang mengupas buah apel. Dan kebetulan disaat itu, Wes pulang. Jadi dengan perhatian Pat menawarkan apel yang telah dikupas nya kepada Wes. Tapi dengan sikap serius, Wes mengajak Pat untuk membicarakan tentang Penny.

“Mengapa? Apa dia melaporkan kepadamu?” tanya Pat dengan kesal.

“Dia tidak melaporkan apapun kepadaku. Tapi aku melihatnya dengan mata ku sendiri saat direstoran hari itu,” jawab Wes.

“Jadi kamu mengerti itu, kan? Aku tidak bisa menerima dia.”

“Mom! Penny adalah seorang model.”



“Tidak bisakah kamu melihat nya? Bagaimana cara dia berpakaian serta bersikap, dia terlihat seperti seorang wanita gampangan. Aku tidak tahu berapa banyak pria yang dilewatinya sebelum dia mencapai kamu,” kata Pat dengan marah.

“Aku tidak peduli tentang masa lalu. Aku hanya ingin dia untuk memulai yang baru,” balas Wes.

“Jangan jadi bodoh. Hah!! Wanita seperti itu hanya akan membuat kamu gagal,” kata Pat dengan sangat marah sambil memukul meja dan berdiri.

“Aku mencintai Penny. Aku ingin kamu untuk memberinya kesempatan.”

“Tidak. Aku tidak akan pernah menerima wanita kelas rendah itu pastinya! Kamu harus putus dengannya!”

Mendengar itu, Wes malas untuk membalas lagi dan ingin pergi dari rumah, tapi Pat menahan Wes dan melarangnya untuk keluar. Jadi karena itu, Wes pun naik ke kamarnya yang berada dilantai atas.



Dikantor. Setiap orang bersiap untuk menyambut kedatangan perusahaan S.J. Lalu disaat itu sebuah mobil hitam datang dan berhenti di depan mereka.

“Bukankah itu wakil ketua Khun Somjintana?” tanya Nai ketika melihat seorang pria di dalam mobil. Lalu si Pria turun dari mobil itu.

Pria tersebut tersenyum dan memanggil nama Nai, lalu dia berjalan melewati Nai dan mendekati Nok. Kemudian kepada Nok, dia memperkenalkan dirinya.




“Aku Wutta. Bertindak untuk ketua S.J. Polymer. Orang yang akan menggantikan tempat Khun Somjintana, Ibuku,” kata Wutta memperkenalkan dirinya. Lalu dia mengulurkan tangan nya kepada  Nok.

Namun sebelum Nok sempat menyalamin tangan Wutta. Dengan cepat, Nai mendekat dan menyalamin tangan Wutta. Lalu dengan sikap sopan, Nai memperkenalkan dirinya pada Wutta.
“Halo. Aku Luckanai. Wakil ketua dari Green Dream,” kata Nai. Dan hal itu membuat Nok merasa keheranan dengan sikap Nai.



Wutta mengabaikan Nai. Dia berbicara kepada Nok bahwa dia telah membaca kontrak pembelian dan ada beberapa point yang masih tidak dimengertinya, jadi dia menanyakan apa Nok bisa tolong menyediakan beberapa informasi untuknya.

Dan sebelum Nok sempat menjawab, Nai langsung memotong dan menjawab pertanyaan Wutta. Dia mengatakan bahwa dialah yang bertugas pada masalah ini, jadi jika Wutta memiliki banyak pertanyaan, maka Wutta bisa bertanya langsung kepadanya, sehingga Wutta bisa membuat keputusan lebih cepat daripada bertanya kepada asistennya, yaitu Nok.

“Kelihatannya Khun Luckanai begitu possessive kepada asistennya ini,” kata Wutta mengatai sikap Nai sambil tersenyum.

“Pengalaman mengajariku. Beberapa hal lebih baik dilindungin daripada memperbaikinya,” balas Nai sambil tersenyum juga.

“Jika kamu bisa,” balas Wutta. Dan berdua, mereka saling bertatapan dengan tajam. Sehingga melihat itu, Nok pun menjadi heran ada apa dengan mereka berdua.



Diruangan kantor. Ketika Nai sedang merapikan map data miliknya, Nok datang mendekat dan menanyakan apa Nai serta Wutta saling mengenal. Dan Nai membalas kenapa Nok menanyakan itu.

“Karena kelihatannya, kalian berdua saling kenal,” kata Nok.

“Kami berasal dari universitas yang sama,” balas Nai. Dan ketika Nok ingin bertanya lagi, Nai langsung memotong dan mengatakan bahwa dia telah merevisi data yang ada, lalu dia menanyakan apa Nok mau mengeceknya. Dan karena itu, maka Nok pun tidak bisa bertanya lagi.



Lalu karena Nok melihat, kondisi Nai yang tampak tidak sehat, maka Nok menyentuh dahi serta leher Nai. “Kamu sudah minum obat, tapi mengapa demam mu belum turun juga. Akankah kamu bisa mengikuti rapat? Apa tenggorokan mu sakit ? Apa kamu merasa pusing?” tanya Nok dengan cemas.

“Aku tidak merasa pusing. Tapi sekarang hatiku terasa sedikit bergetar,” balas Nai sambil menatap Nok. Dan mendengar itu, Nok pun menurunkan tangannya. Tapi dengan segera, Nai menahan tangan Nok.



Nai memegang tangan Nok dan dengan tulus, dia mengucapkan terima kasih kepada Nok. Dan dengan gugup, Nok pun pamit untuk mengantarkan dokumen yang ada kepada Ayahnya.

“Ya,” kata Nai. Namun dia tidak melepaskan tangan Nok.

“Aku tidak bisa pergi jika… kamu,” kata Nok sambil menatap tangan Nai yang memegangnya. Lalu menyadari itu, Nai pun melepaskan tangan Nok. Dan setelah itu Nok pun berjalan pergi sambil tersenyum senang. Begitu juga dengan Nai, dia tersenyum memperhatikan Nok.



Nai memasuki ruang rapat. Dan melihat kedatangannya, Wutta tersenyum dengan sinis. “Akhirnya kamu hanyalah laki- laki miskin yang di campakan oleh seorang gadis,” kata Wutta.

“Tapi tidak berbeda dari kamu. Itu lebih baik bahwa aku bisa menghadapi kekalahan dan kemenangan,” balas Nai.

“Apa kamu pikir, kamu bisa mengalahkan aku? Luckanai!”

“Khun Wutta harusnya berpikir sedikit. Sekarang, aku adalah Wakil ketua dari Green Dream. Bukan teman sekelas dari universitas seperti sebelumnya,” balas Nai dengan tegas.


Wutta ternyata mengetahui tentang hubungan antara Khae dan Nai sebelumnya. Dan dia menggunakan itu untuk mengancam Nai. Dia mengatakan kepada Nai bahwa dia telah melihat berita tentang Thawat dan Khae. Lalu Wutta menanyakan apa yang akan Thawat rasakan, ketika mengetahui bahwa wanita yang ingin dinikahinya ternyata pernah berhubungan dengan  bawahan kepercayaannya.


Dan Nai membalas bahwa kini masalah bisnis adalah yang terutama. Lalu Nai menanyakan balik kepada Wutta, bagaimana perasaan Wat, ketika Wat mengetahui bahwa rekan bisnis yang ingin bergabung dengannya melewati batas masalah pribadi. Serta tentang perasaan Ibu Wutta (Somjintana) yang telah menghubungin Green Dream berulang kali, ketika nantinya Somjintana mengetahui bahwa Anaknya sendiri membuat kesepakatan ini batal.


Mendengar ancaman Nai itu, maka Wutta pun terdiam dan tidak bisa mengatakan apapun lagi. Lalu tepat di saat itu, Nok datang. Begitu juga dengan Wat. Dan dengan sikap biasa yang tenang, Nai memperkenalkan Wutta dengan Wat.

“Kami menghargai bahwa Green Dream dan S.J bisa bekerja sama,” kata Wat sambil menyalamin tangan Wutta.

“Ibuku dan aku sangat menghargai visi dari Green Dream untuk masyarakat. Ini yang membuat kami  ingin bekerja sama dengan Green Dream,” balas Wutta dengan sopan sambil menatap ke arah Nok sesudah itu.

Dan melihat itu, Nai tampak tidak senang.



Diapatermen. Pen sedang bersiap- siap untuk berangkat bekerja. Lalu tepat disaat itu, bel apatermennya berbunyi. Dan setelah mengintip siapa yang datang, barulah Pen membuka kan pintu apatermennya. Yang ternyata itu adalah Wes.

Lalu dengan sikap menggoda, Pen menanyakan tentang pakaian yang dikenakannya kini. Dan dengan mesra, Wes mendorong Pen ke sofa. Tapi Pen menolak, karena dia harus pergi bekerja. Lalu dengan sikap manja, Pen mengeluh bahwa ada suatu acara yang ingin dia hadiri, tapi dia tidak memiliki perhiasan yang bagus.



“Jadi, bagaimana kalau kita pergi ke toko perhiasan yang sering dikunjungin Ibuku?” tanya Wes. Dan dengan Pen langsung setuju.

“Malam ini aku akan memberimu hadiah,” balas Pen sambil bersikap menggoda.

Tapi tiba- tiba saja, Wes mendapatkan telpon yang mengabarkan bahwa kini Ibunya sedang sakit, jadi dia pun terpaksa harus pergi. Namun Pen tidak terima dan marah kepada Wes, karena Wes telah berjanji kepadanya.

“Penny! Ibuku sakit ,” kata Wes.

“Ibumu tidak sakit. Dia hanya berbohong untuk mendapatkan perhatianmu agar pulang ke rumah. Kamu bilang kamu akan membantuku kan. Apa kamu lupa?” balas Pen.



“Biarkan aku pulang dan menemui Ibuku. Dan kemudian aku akan buru-buru kembali kepadamu,” pinta Wes.

“Aku tidak akan membiarkan kamu pergi,” balas Pen.

Dan tepat disaat itu hape Wes kembali berbunyi, jadi Wes meminta agar Pen mengerti akan alasannya. Tapi Pen tidak mau mengerti, karena dia tidak bodoh. Namun Wes tetap mau pulang dan menemui Ibunya serta dia berjanji bahwa dia pasti akan kembali kepada Pen. Tapi Pen marah.

Lalu Wes memegang tangan Pen dan meminta Pen untuk sabar selama sehari saja. Dan Wes berjanji bahwa dia pasti akan membuat Ibunya mengerti tentang hubungan mereka berdua.


“Jika kamu pergi, kamu tidak akan memiliki hari itu,” balas Pen.

Dan kemudian hape Wes kembali berbunyi. Jadi dengan segera, Wes pun pergi meninggalkan Pen. Dan dengan kesal Pen pun berteriak. “Wanita Tua!”



Ketika rapat telah selesai, Nok menawarkan diri untuk mengantarkan Wutta keluar. Tapi sebelum Nok keluar, Nai menahan tangan Nok dan mengatakan bahwa lebih baik dia yang mengantarkan Wutta keluar.

“Nai bisakah aku berbicara denganmu?” tanya Wat. Dan karena itu, maka akhirnya Nok lah yang pergi mengantarkan Nok keluar. Sementara Nai terpaksa kembali duduk ditempatnya.


Dengan sikap gelisah, Nai terus melihat ke arah Nok yang telah pergi. Dan menyadari hal itu, maka Wat pun menjadi heran. Namun Nai segera menutupi sikap cemasnya itu dan berusaha untuk fokus.


Sambil berjalan bersama. Wutta memuji Nok yang cepat tanggap, walaupun Nok baru lulus. Dan Wutta mengatakan bahwa jika dia bisa bekerja sama dengan Nok, maka pasti akan lebih mudah.

“Aku punya banyak pekerjaan untuk ditanganin. Sebenarnya kamu harus bekerja sama dengan Khun Nai langsung. Aku tahu bahwa kalian adalah teman,” kata Nok.

“Universitas yang sama tapi beda jurusan,” balas Wutta.

“Beda juruan? Dan bagaimana kalian saling mengenal satu sama lain?”

“Sebut saja... Saingan.”

“Saingan dalam olahraga, pelajaran, atau wanita? Biasanya pria bersaing dalam hal beberapa hal. Itu benarkan? Aku pergi sekolah keluar negri jadi aku tidak tahu banyak tentang masalah bosku.”



“Jika aku memberitahumu, akankah kamu memberiku hadiah atau tidak?”

“Kamu akan mendapatkan pertemanan dalam pekerjaan antara Green Dream dan S.J. Menurutku ini cukup berharga,” balas Nok.



Namun sebelum Wutta sempat bercerita, Nai datang dan memotong. Nai memberitahu Nok bahwa Wat ingin menemui Nok diruangan nya. Jadi karena itu, maka Nok pun pergi meninggalkan mereka berdua.

“Apa kamu pikir bahwa kamu bisa menutup mulutku tentang kamu dan Khae?” tanya Wutta dengan nada menantang.



“Apakah kamu akan menceritakan tentang Khae yang memilih ku dibanding kamu.  Atau tentang kamu yang dikirim keluar negri untuk menghindari seorang gadis yang kamu hamili,” balas Nai. Lalu Wutta ingin membalas, tapi Nai langsung memotong. “Sebelum mengancam yang lain! Kamu harus memikirkan dengan baik, apa kamu cukup bersih dan jelas, agar hal ini tidak menjadi bumerang.,” kata Nai.

“Kamu ingin menyatakan perang denganku?”

“Tidak. Perang tidak akan terjadi, ketika tidak ada yang memprovokasi pihak lain. Selain melakukan perang, lebih baik bila kita mengembangkan bisnis kita. Jika kamu permain sesuai dengan aturan, aku juga akan melakukannya,” tegas Nai.


Dan sambil tersenyum sinis, Wutta menatap tajam kepada Nai.

1 Comments

Previous Post Next Post