Sunday, September 16, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 6 - part 3

0 comments
Network : Channel 3


Nai bersama dengan Wutta mengunjungin kantor Wat. Disana Wutta dan Wat sibuk mengobrol, sementara Nai hanya diam saja sambil memandangin Wutta dengan tajam. Lalu menyadari hal itu, Wutta hanya tersenyum.

Kemudian Wutta mulai melihat- lihat dokumen kerja untuk kampanye. Dan ketika dia melihat data Khae yang menjadi perwakilan dari Green Dream. Dia memandang ke arah Nai, lalu kepada Wat dia memuji bahwa itu adalah pilihan yang bagus.



Diruangan kantor. Nenek membangga- banggakan Wutta kepada Nok. Dia mengatakan bahwa Wutta sangat cocok dan sempurna untuk Nok. Lalu mendengar itu, Nok tersenyum dan bertanya apa maksud Nenek, Wutta bagus dalam hal reputasi dan status. Dan Nenek membenarkan.

“Tapi Nok tidak menyukai dia, Nenek,” kata Nok.

“Hei… dia pria yang baik, siap untuk kamu pilih, mengapa kamu tidak suka?” balas Nenek dengan heran.

“Mengapa Nenek yakin bahwa dia adalah pria yang baik?”

“Aku mau mendukung siapapun, makanya aku melihat dan telah mencari tahu terlebih dahulu. Aku sangat berhati- hati.”



Dikantor. Tana menyuruh Nart untuk mencari tahu tentang hubungan Nok dan Nai, karena dia tahu bahwa Nart dan Nai cukup dekat. Dan Nart membalas bahwa dia dan Nai hanyalah sekedar kenalan biasa.

“Aku harap, aku tidak mempercayai orang yang salah,” kata Tana.

“Saya tidak pernah lupa. Anda adalah orang yang telah memberikan kesempatan untuk anak panti seperti saya,” balas Nart. Dan Tana tersenyum.

“Situasi ekonomi seperti ini. SJ butuh partner yang bisa membantunya. Green Dream bisa membantu kita,” kata Tana.



“Pria seperti Wutta adalah seseorang yang bisa mendukung kamu, bukan yang lain,” kata Nenek kepada Nok. Dan Nok meminta agar Nenek tidak bicara seperti itu serta dia membela Nai.

Mendengar Nok yang membela Nai, Nenek langsung mengatakan bahwa ketika dia memarahi Nai dulu, Nok menolong Nai dan mengatakan bahwa itu untuknya. Lalu kini Nok melakukan itu lagi. Kemudian Nenek mengeluarkan cermin miliknya dan menyuruh Nok untuk bercermin.

“Nenek memarahi dia, lalu wajahmu menunjukan betapa kamu mengkhawatirkan dia. Lihatlah!” kata Nenek dengan kesal. Dan kemudian Nok menutupi cermin itu, karena dia tidak mau bercermin.

“Aku pikir, mereka telah selesai rapatnya,” kata Nok, mengalihkan pembicaraan.



Lalu mendengar itu, Nenek pun berdiri dan menarik tangan Nok untuk mengikutinya. Dia membawa Nok menuju ke ruangan Wat. Dan kebetulan, disaat itu Wat, Nai, serta Wutta telah keluar dari dalam ruangan. Lalu disana Nenek mengajak Wutta untuk makan siang bersama dengannya dan Nok.

Dan Wutta pun langsung setuju serta dia mengajak Wat untuk ikut serta. Tapi sebelum Wat berbicara, Nenek langsung mengatakan bahwa Wat biasanya tidak punya banyak waktu karena sibuk bekerja. Dan Wat pun mengiyakan serta menolak untuk ikut makan siang bersama.



Namun sebelum Nenek membawa Nok serta Wutta pergi bersama. Nai langsung memanggil mereka, dia mengatakan kepada Nenek bahwa Nok memiliki janji temu yang harus dihadiri.

“Dengan siapa? Mungkinkah dengan kamu?” tanya Nenek dengan nada tidak senang.

“Iya, dengan ku… ” jawab Nai dengan tegas.

“Berani nya kamu sekarang?”

“… dan Tuan Pricha yang akan melakukan iklan untuk semua program Melindungin Bumi Kita,” lanjut Nai, menjelaskan. Dan Nok membenarkan itu.


Namun Nenek tidak percaya. Dengan curiga dia menanyakan kepada Nok, dimana dan kapan. Dan Nok pun kesulitan untuk menjawab. Kemudian melihat itu, Nai pun langsung menjawab. Nai menjawab dengan asal, saat melihat nama restaurant yang ada pada brosur di meja karyawannya, yaitu di Meet Café.

Tapi Nenek tidak terima dan menyuruh Nai untuk menjadwalkan ulang. Lalu kepada Nok, Nenek menanyakan mengapa orang lain lebih penting, padahal dia telah datang ke sini untuk menemui Nok. Dan Wutta membenarkan perkataan Nenek.



“Kita adalah orang yang membayar perusahaan iklan. Jadi sebagai seorang customer, menurutku mereka tidak akan mengatakan apapun,” kata Wutta pada Nai.

“Bagaimana pun mengubah pertemuan hanya karena urusan pribadi seperti ini. Aku tidak bisa melakukan itu,” balas Nai dengan tegas.

“Kamu tidak berhak mengatakan ‘iya’ atau ‘tidak’. Siapa cucuku? Dan siapa kamu?” balas Nenek dengan kata sedikit kasar.

Dan mendengar itu, Wat langsung membela Nai, dia mengatakan bahwa Nai adalah ketua yang bertugas dalam proyek ini dan Nok adalah bawahannya. Kemudian Nok membenarkan itu, dia mengatakan pada Nenek bahwa jika ketua tidak mau menjadwalkan ulang, maka dia tidak bisa melakukan apapun.



“Ini tidak begitu serius kan? Bahkan walaupun Nok karyawan diperusahaan, tapi dia tidak seperti yang lain. Kamu harus menghormati Nok sebagai anak Ketua pemilik,” kata Wutta kepada Nai.

“Aku menghormati Nok. Jadi aku tidak memberi banyak ‘hak istimewa’ untuknya. Karena jika dia memiliki ‘hak istimewa’, maka karyawan lain tidak akan menghormatinya,” balas Nai.

“Kamu tidak tahu apapun. Sebagai anak pemilik perusahaan, karyawan lain harusnya takut. Hm.. aku lupa, orang sepertimu pasti tidak mengerti,” sindir Wutta.

“Ya. Aku tidak punya orang tua pemilik perusahaan sepertimu. Pasti kamu tidak punya kesempatan untuk mengerti. Tapi aku yakin Nok tidak membutuhkan penghormatan palsu. Didepan, mereka takut. Tapi dibelakang, mereka mengigit. Aku tidak akan menjadwal ulang pertemuan ini,” balas Nai. Dan Nok langsung mengatakan bahwa dia mau mengikuti Nai.



Mendengar itu, Nenek menjadi kesal, tapi Nok berhasil membujuknya. Lalu saat Nai berjalan pergi, Nok pun juga ikut berjalan pergi, tanpa memperdulikan panggilan kesal Nenek.

Nok mengatai bahwa Nai cukup berani, karena tidak takut Nenek menyusahkan nantinya. Dan Nai membalas bahwa Nok juga sama. Lalu mendengar itu, Nok pun tersenyum. Kemudian Nok mengajak Nai untuk segera pergi ke pertemuan.



“Nok. Kamu juga tahu bahwa aku mengatakan itu untuk membantu mu agar tidak pergi dengan Wutta,” kata Nai, menghentikan langkah Nok.

“Tapi kita harus pergi, Nenek punya seseorang disini. Percayalah, Nenek akan mengecek nya,” balas Nok. Lalu Nai pun mengajak Nok ke Café yang disebutnya tadi, sehingga mereka tidak ketahuan berbohong. Dan Nok pun setuju untuk ikut kesana.

Di Meet Café. Tempat dimana kita bisa makan sambil bermain bersama dengan kucing. Disana Nok merasa lega, karena nama Café nya bukanlah ‘Meow Café’ atau jika tidak, maka Nenek pasti akan langsung tahu kebohongan mereka.

Lalu setelah itu, dengan riang, Nok mau bermain bersama seekor kucing disana, tapi kucing tersebut malah lari dari Nok. Dan melihat itu, Nai tersenyum.


Dirumah. Nenek bercerita kepada Wutta. Nenek mengatakan bahwa dia tidak mengerti mengapa Wat mau membersarkan orang seperti Nai, orang yang hanya menghabiskan beras saja, orang yang tidak tahu terima kasih dan tidak setia.

“Ini karena salah orang tua Nok karena tidak menilai orang dengan baik. untuk membiarkan orang seperti itu memegang perusahaan. Karena ini, aku ingin Wutta menjaga Nok untukku,” kata Nenek.


“Jangan khawatir. Bahkan walaupun dia mau menghentikan ku, dia tidak akan bisa. Nenek istirahat ya, kumohon,” balas Wutta dengan menyakinkan. Dan Nenek tersenyum, karena percaya.


Dengan mudah, Nai bisa bermain bersama dengan kucing. Sedangkan Nok tidak, sehingga melihat itu, Nok pun mengeluh. Dia mengatakan bahwa lebih mudah untuk mengerti anjing, karena ketika anjing melihat kita, mereka akan menghampiri.


“Apa kamu tahu bahwa kamu adalah kucing?” gumam Nai dengan suara kecil, sehingga Nok tidak bisa mendengar dengan jelas. Lalu untuk mengalihkan perhatian Nok dari itu, Nai meminta agar Nok membantu nya memberi makan kucing.




Dan dengan bantuan Nai, akhinya Nok bisa menjadi dekat dengan kucing- kucing disana. Kemudian selama Nok menjaga dan bermain bersama para kucing, Nai menfoto Nok menggunakan kamera hapenya. Lalu mereka juga berfoto berdua. 


Sesampainya dirumah. Nok bertemu dengan Vi dan dia menjelaskan bahwa bukannya dia ingin berdebat dengan Nenek tadi, tapi itu karena dia tidak menyukai Wutta. Dan sebelum Nok bercerita lebih lanjut, Vi langsung memuji tindakan Nok, karena Vi telah mengetahui semua yang terjadi dari Nai.



Lalu sebagai hadiah, Vi memberikan hadiah sebuah tas bermerk yang sangat Nok sukai. Dan menerima hadiah itu, Nok pun senang sekali. Lalu Nok memeluk Vi sambil tersenyum menatap Nai. Dan melihat itu, Nai ikut tersenyum.



Diapatermen. Pen sangat senang, ketika menerima kotak cincin dari Wes. Namun ketika Pen membuka kotak itu dan melihat betapa kecil cincin yang berada didalamnya, Pen langsung kecewa dan mengeluh, karena bila sekecil itu, dia tidak bisa memamerkan nya. Dan mendengar itu, Wes langsung kecewa, karena Pen tidak menghargai hadianya.



Kemudian karena melihat Wes kecewa. Maka Pen segera mengubah sikapnya menjadi seorang wanita yang manja. Dia meminta maaf dan meminta apa Wes bisa menukarkan cincin ini dengan yang lebih besar permatanya, karena dia mau menunjukan pada yang lain. Dan karena sikap manja Pen itu, maka Wes luluh dan setuju untuk membelikan yang baru.

Dan mendengar itu, Pen menjadi senang. Namun ketika Wes mulai menyebut tentang Ibunya (Pat), maka Pen pun menjadi agak kesal dan tidak senang.



Tepat disaat itu, sebuah pesan masuk ke hape Pen. Di pesan itu, tertulis nama pengirim adalah ‘Ibu’ dan melihat itu, Wes memberitahukan kepada Pen. Dan dengan segera Pen mengambil hape nya dan berdiri sedikit menjauh. Lalu dia membuka pesan yang diterimanya. Sore ini, aku ingin mengerti Penny lebih baik.

Membaca pesan itu, Pen tersenyum senang. Lalu dia mengatakan pada Wes bahwa saat ini Ibu nya mau bertemu dengannya. Dan lalu, Wes pun menawarkan diri untuk mengantar Pen.



Sesampainya di depan gerbang. Pen memeluk Wes dengan mesra dan mengatakan bahwa dia tidak ingin berada disisi Wes lebih lama. Dan Wes pun membalas bahwa jika Pen mengizinkan dia untuk masuk, dia mau menyapa Ibu Pen. Tapi Pen langsung mengelak, dia membalas bahwa ini sudah malam dan dia takut membangunkan orang.

Jadi karena itu, maka Wes pamit dan pergi. Dan Pen memberikan tanda hati sambil tersenyum kepada Wes yang pergi.



Tepat disaat itu, Phai yang berada di supermarket, melihat itu semua. Namun dia heran, saat melihat Pen pergi menggunakan taksi, bukannya masuk ke dalam rumah. Dan dia berusaha menghubungin Pen, tapi Pen dengan sengaja tidak mengangkatnya.



Diruang CCTV. Ketika sedang memeriksa kamera, Nart melihat kedatangan Pen. Dan disana Pen bertemu dengan Wutta, berdua mereka masuk ke dalam kamar hotel. Lalu melihat itu Nart pun mengelengkan kepalanya dengan pelan, karena melihat kelakuan kedua orang tersebut.



Setelah selesai  berhubungan badan, Wutta menunjukan sebuah gelang yang  sangat indah kepada Pen. Dan melihat itu, Pen tampak sangat senang. Tapi sebelum Pen mengambilnya, Wutta langsung menjauhkannya.

“Kamu tahu bahwa Khun Malinee (Nenek Nok) tidak menyukai Luckanai, kan?” tanya Wutta sambil menggoyangkan gelang ditangannya.

“Dia sangat membenci Nai. Ketika mereka berdua, dia akan berteriak,” jawab Pen.

“Bagaimana tentang Nok?”

“Nok juga benci dengan orang yang dirawat oleh Ibunya. Tapi mereka saling berhubungan baik. Aku jua bertanya- tanya tentang ini.”

Mendengar itu, Wutta kembali bertanya. Dan dengan rinci, Pen menceritakan segala yang diketahuinya. Dan dengan serius, Wutta mendengarkan semuanya.

No comments:

Post a Comment