Thursday, October 11, 2018

Sinopsis Korean Drama : The Smile Has Left Your Eyes Episode 03-3

0 comments

Sinopsis Korean Drama : Hundred Million Stars From the Sky Episode 03-3
The Smile Has Left Your Eyes
Images by : TvN
Cho Rong memberitahu identitas Yu Ri dan hubungannya dengan Mi Yeon pada Jin Kook.
“Lim Yu Ri. 22 tahun. Dia satu SMP dengan Jeong Mi Yeon di Amerika. Jeong Mi Yeon kembali ke Korea tiga tahun lalu. Lim Yu Ri kembali dua tahun lalu. Pertemanan mereka berlanjut di Korea. Mereka bersahabat. Dia tinggal di studio band sambil bekerja paruh waktu. Hanya itu. Ada apa?”
“Hanya itu? Bukan apa-apa. Hanya penasaran,” jawab Jin Kook.
--
 Moo Young kembali ke pabrik. Dan sebelum keluar dari mobil-nya, dia memikirkan sesuatu (atau teringat sesuatu). Ada payung dengan logo Beer Festival di buka saat keluar dari kamar 1502. Dan dia berdiri dari balkon dan melihat ke bawah.
--
Yoo Jin masih membawa So Yeon dan Jin Kang berkeliling. Dan mereka melihat Moo Young yang sudah masuk kerja padahal tadi izin. Moo Young hanya mengenakan kaos dalam tanpa lengan, dari terlihat luka bakar di bahunya ternyata sampai ke bagian lengan atas.

Jin Kang terlihat cukup kaget melihat luka bakar cukup besar di tangan Moo Young. Hal itu membuatnya teringat saat Moo Young membantunya menutupi bekas luka bakarnya di depan Cho Rong, dan juga saat dia dengan sengaja memperlihatkan luka bakar itu di depan Moo Young saat mereka di restoran.
Hee Jun datang dan mengajak Jin Kang dan So Yeon untuk mencoba bir mereka.
--
Jin Kook keluar dari kantor. Dia teringat saat melihat senyuman Moo Young saat masuk ke ruang kerjanya dan melihat foto Mi Yeon yang ada Yu Ri di dalamnya. Dia juga teringat mengenai pertemuan Moo Young dan Yu Ri di café tadi.
--
Jin Kang selesai bekerja, dan dia tidak bersama dengan So Yeon. Dia hendak pulang, tetapi Moo Young memanggilnya dan menawarkannya bir stout buatan Arts Brewery. Jin Kang setuju, dan matanya tampak tidak bisa terlepas dari luka bakar di tangan Moo Young.
Jin Kang mencoba bir tersebut dan memuji rasanya sangat enak, dan karena itu dia menyukai resep Gil Hyung Joo. Moo Young memberitahu kalau itu sebenarnya resepnya. Jin Kang sedikit canggung mendengarnya dan memuji bir nya enak.
“Kamu sengaja menyuruh Nona Lim pergi? Tidak ada siapa pun di sini. Setelah semuanya pergi, kita hanya berdua,” ujar Moo Young.
“Aku juga pamit. Kamu sudah menyuruh semuanya pergi. Selamat bersenang-senang sendirian.”
“Aku sengaja berganti shift. Aku bertukar jadwal dengan Hee Jun.”
Tetapi, Jin Kang mengabaikannya dan terus berjalan ke pintu keluar.
Di luar, ternyata sedang turun hujan deras. Jin Kang dengan terpaksa meminjam payung pada Moo Young, tetapi sayangnya tidak ada payung untuk umum. Jin Kang dengan kesal meminta Moo Young meminjamkannya payung siapa saja, dia akan ke toko untuk membeli payung dan akan kembali lagi untuk mengembalikannya. Moo Young menjawab tidak ada sama sekali, dan menawarkan untuk mengantar Jin Kang.
Saat Moo Young keluar untuk mengambil mobil, Jin Kang juga ikut keluar. Dia mengambil kardus bekas dan menggunakannya menjadi payung untuk menerobos hujan.
Tiba-tiba, Moo Young menarik tangannya dan tubuh mereka berdekatan. Moo Young menatap tajam Jin Kang, dan merebut kardus di tangan Jin Kang dan melemparnya ke samping, hingga kardus basah. Setelah itu, Moo Young membawa mobilnya dan menyuruh Jin Kang untuk masuk, dia tidak akan bicara sama sekali sama Jin Kang. Moo Young terlihat kesal.
Di dalam mobil, mereka berdua saling diam. Tidak ada sepatah katapun yang terucap. Moo Young bahkan tanpa bersuara, mengambil kain di dashboard dan mengelap-kannya ke kaca jendela samping Jin Kang.
--
Seung Ah di minta oleh ibu untuk mencoba gaun pilihannya, tetapi gaun tidak mau memakainya. Dia bahkan memberitahu ibu kalau dia tidak ingin menikah dengan Woo Sang dan juga tidak ingin bertemu dengan ayah Woo Sang.
“Kenapa? Dia melarangmu?”
“Apa?”
“Teman kencanmu. Kenapa kamu terkejut? Pikirmu ibu tidak akan tahu? Kamu hebat. Pria memang begitu. Ibu menunggu lama, tapi Woo Sang tidak pernah mengungkit pernikahan. Ibu heran dengannya. Tapi berhentilah bermain-main. Jangan menghasut Woo Sang lagi. Jangan menemui pemuda itu lagi.”
“Ibu. Aku sungguh tidak mau menikah dengan Woo Sang. Aku tidak mau.”
“Dia bukan orang biasa yang bisa kamu campakkan kapan saja. Woo Sang itu menakutkan. Hebat, bukan? Dia sangat gagah.”
--
Moo Young mengantar Jin Kang ke minimarket. Dan Jin Kang langsung membeli payung. Saat dia hendak membayar payungnya, Moo Young meletakkan satu lagi payung dan menyuruh Jin Kang untuk membayarnya karena dia sudah mengantarkan Jin Kang. Jin Kang heran melihat tingkahnya.
“Kenapa kamu labil sekali? Biasanya kamu mempermainkan ku seperti anak SD. Kini kamu terkesan marah tanpa sebab. Jika ingin mengusikku, kenapa mengantarku?” protes Jin Kang.
“Tidak perlu kaku. Kamulah yang labil. Bicaralah dengan santai seperti biasa.”
“Baiklah. Kita bicara dengan santai.”
“Kamu yang pertama mengajakku bicara karena alasan pribadi, bukan?”
“Kamu benar-benar seperti bocah.”
“Menjengkelkan. Aku menyangrai biji kopi agar kamu saksikan, tapi kamu abai. Jangan kecewa, Luka. Dia memang aneh. Wanita lain tidak begini,” ujar Moo Young dan memakai kemeja lengan panjangnya. “Sebenarnya, ini caraku memikat wanita. Kamu ingin bilang bahwa kamu juga memiliki luka bakar, bukan?”
“Pikirmu itu ampuh untuk memikat wanita?”
“Tentu saja. "Kasihan. Kapan kejadiannya? Pasti sakit." Lihatlah reaksi orang yang sempurna ini.”
“Memangnya ada apa dengan luka bakar? Memiliki luka bakar itu biasa.”
“Raut wajahmu seperti berkata, "Aku tidak pernah terluka. Aku tidak rendah diri seperti harapanmu."
“Ya, aku tidak pernah terluka,” jawab Jin Kang dengan percaya diri. Tetapi di dalam hatinya dia mengasihani Moo Young.
“Syukurlah kamu tidak pernah terluka.”
Pembicaraan mereka harus terhenti karena ponsel Moo Young berbunyi. Jin Kang melihat nama Seung Ah sebagai penelpon tetapi Moo Young tidak mau mengangkatnya sama sekali. Jin Kang meminta agar Moo Young mengangkat tapi Moo Young tidak mau.
“Kenapa kamu tidak mengangkatnya?”
“Aku sedang bersama wanita lain.”
“Wanita lain? Aku? Itu jawaban paling konyol yang pernah kudengar. Aku menanyakan ini karena penasaran. Kenapa kamu melakukan itu?”
“Aku selalu mempersiapkan diri.”
“Selalu apa?”
“Mempersiapkan diri. Saat bersamamu, aku lupa berhenti. Semuanya terasa cepat berlalu. Tatapanmu terasa mengganjal. Aku kesal jika diam saja. Lihat. Aku akan kesal lagi,” ujar Moo Young dan menatap tajam pada mata Jin Kang.
Jin Kang heran mendengar perkataan Moo Young.
--
Jin Kook membuang sampah dan bertemu dengan Moo Young yang mengantar pulang Jin Kang. Dia tentu kaget karena mereka pulang bersama. Dan Moo Young menyapa Jin Kook dengan ramah.
Setelah Moo Young pergi, Jin Kook mulai menginterogasi Jin Kang yang pulang dengan Moo Young.
“Tadi aku berkunjung ke tempat pembuatan bir. Itu sangat terkenal, namanya "Arts". Kami akan mendesain untuk mereka. Dia karyawan di sana. Cukup?”
Arts? Apa posisi dia di sana?”
“Dia asisten produksi bir.”
“Jin Kang. Jangan berurusan dengannya,” pinta Jin Kook.
“Untuk apa aku berurusan dengannya? Jangan khawatir. Dia pacar Seung Ah.”
Jin Kook lebih terkejut lagi tahu kalau Seung Ah pacaran dengan Moo Young. Dan Jin Kang meminta Jin Kook untuk pura-pura tidak tahu.


No comments:

Post a Comment