Monday, October 8, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 10 - part 1

11 comments

Network : Channel 3


Thorsaeng datang mengunjungin Khae ditempat kerja, karena belakangan ini Khae tidak pernah menelpon dan melaporkan segalanya kepada dia lagi. Kepadahal Thorsaeng ingin mengetahui, apa mantan istri Wat sering datang berkunjung kerumah lagi.

Lalu saat Thorsaeng tahu bahwa Vi tidak lagi sering datang, maka itu berarti tandanya Wat telah memperjelas semuanya. Jadi menurutnya, ini adalah giliran Khae untuk memperjelas semuanya.



“Bagaimana aku belum jelasnya, hah?” tanya Khae. Dan Thorsaeng pun mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dibawa nya. Lalu saat melihat itu, Khae protes, kenapa Thorsaeng membongkar barangnya.

“Khae. Kamu telah menikah dengan Khun Wat sekarang. Jadi itu berarti, kamu tidak perlu menyimpan barang itu lagi,” kata Thorsaeng dengan tegas. Dan Khae pun terdiam.



Sesampainya dirumah, Wat menanyakan apa Khae belum pulang kepada Phai. Dan Phai pun menjawab belum, lalu dia menyarankan agar Wat menghubungin dan bertanya saja kepada Khae, karena akhir- akhir ini, Khae tampak seperti sakit.

“Aku tidak tahu ada masalah apa antara kalian berdua, tapi jika kamu membiarkanya seperti ini, akankah itu baik?” kata Phai. Dan Wat pun memikirkannya.



Dikantor. Khae sibuk menyelesaikan semua pekerjaannya, lalu saat dia melihat kotak putih yang dibawa oleh Ibunya tadi. Dia membuka kotak tersebut. Dan sambil tersenyum, dia melihat semua barang kenangannya bersama dengan Nai dulu. Lalu Khae mengingat perkataan Ibunya.

“Sejak Khun Wat telah memperjelasnya denganmu, kemudian kamu juga harus memperjelasnya.”


Tepat disaat itu, Wat menelponnya. Jadi Khae pun menutup kotak putihnya itu dan mengangkat telpon dari Wat.



Wat mengajak Khae untuk makan malam bersama, karena sejak mereka menikah, mereka belum pernah keluar untuk makan malam bersama. Serta karena selama ini, bersama kliennya dia sering makan bersama, namun dengan Istrinya sendiri, dia hanya bisa melihatnya sebelum tidur. Jadi karena itu dia mau mengajak Khae untuk makan malam bersama. Dan mendengar itu Khae tersenyum senang.

“Bahkan jika aku harus memesan makanan cepat saji dalam perjalanan pulang, aku akan melakukannya. Selama kita bisa makan malam bersama. Denganmu. Maukah kamu ikut denganku?” tanya Wat.

“Hmm.. tapi bukan makanan cepat saji. Karena aku takut bakal gemuk,” jawab Khae, setuju.

Dan mendengar itu, Wat tersenyum senang. Lalu dia mengatakan kepada Khae bahwa dia akan segera pergi menjemput Khae sekarang. Dan Khae mengiyakan.


Setelah selesai bertelponan dengan Wat. Khae langsung membuang kotak putih yang berisikan kenangan nya bersama dengan Nai ke dalam tempat sampah. Dan sambil tersenyum senang, Khae menantikan Wat yang akan menjemputnya.



Ditempat lain. Nai mengetuk pintu dan meminta maaf kepada Nok. Dia menjelaskan bahwa sebelumnya dia tidak ada maksud untuk mengambil keuntungan dari Nok. Namun Nok tidak mau mendengarkan alasan Nai sama sekali dan dia mengungkit tentang hari dimana Nai memintanya mengambilkan handuk, lalu karena itu dia jadi melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat.

“Khun Nok. Aku sudah melupakan itu. Apa kamu belum melupakan nya?” balas Nai.

“Aku belum melupakannya!” balas Nok. Lalu saat sadar, dengan cepat, Nok segera memperbaiki kalimatnya. “Tidak, tidak! Aku sudah melupakannya. Aku tidak mengingat apapun.”

“Kemudian aku akan melupakannya juga. Okay sekarang?” tanya Nai. Tapi Nok tidak menjawab lagi, karena saking malunya.


Lalu setelah agak lama, Nok pun menjadi heran, karena Nai tidak ada berbicara lagi. Maka secara pelan- pelan, Nok pun berjalan mendekati pintu untuk menguping. Dan tepat disaat itu, ternyata Nai sedang berusaha untuk masuk ke dalam kamar melalui jendela.

Dan melihat itu, Nok pun segera menahan serta mendorong agar Nai tidak bisa masuk ke dalam kamar.


“Khun Nok! Khun Nok! Tunggu! Jendela nya mengenai aku,” kata Nai.

“Jika kamu tidak mau pintu jendelanya mengenai kamu, maka keluar!” balas Nok.

“Aku tidak akan. Sampai kamu mau berbicara baik- baik padaku,” balas Nai.

Namun Nok tidak peduli dan tetap mendorong agar Nai keluar. Lalu dengan tegas Nai pun menjelaskan kepada Nok. “Kamu tahu, betapa besar aku menghargai peraturan. Aku tidak pernah melanggarnya atau mengambil kesempatan, bahkan sekalipun tidak. Kamu bisa mempercayaiku. Hari ini aku takut, kulit mu akan terbakar,” jelas Nai.


“Baiklah. Aku mempercayaimu,” balas Nok.

“Benarkah? Kemudian…” kata Nai sambil ingin masuk ke dalam kamar.

“Tapi malam ini, aku tidak ingin melihat wajahmu!!” kata Nok, lalu dia mengambil bantal dan memukuli Nai agar keluar dari dalam kamar. Bahkan Nok pun menginjak kaki Nai, sehingga karena kesakitan, maka Nai pun keluar.


“Woow, mom! Dia menendang suaminya keluar dari kamar!” kata si Anak kepada Saeng, saat melihat kejadian tersebut dari luar. Dan dengan bangga, Saeng tersenyum.

“Hey, Saeng. Spa mu begitu luar biasa?” tanya Gam.

“Hahahah… itulah aku,” kata Saeng dengan bangga.


Lalu tiba- tiba saja, Saeng mendapatkan cara agar home stay mereka bisa mendapatkan uang lebih banyak.  Dengan cara menamai tempat Spa mereka, “Spa Pua Rak Pua Long (Spa Cinta dan nafsu suami)”. Lalu dengan girang, Saeng tertawa senang memikirkan idenya itu. Namun Gam dan si anak mengingatkan Saeng agar lebih tenang.

Kemudian, Gam menanyakan mengapa Saeng tidak mengosok dirinya sendiri jika begitu. Dan Saeng membalas dengan tajam, apa satu anak tidak cukup.




Dengan terpaksa, karena Nok tidak mau membukan pintu untuknya. Maka Nai harus rela tidur diluar dengan kondisi yang berangin dan dingin.

Sementara di dalam, Nok tampak tidak tega sebenarnya. Namun dia mengeraskan hatinya. Dan tidur.



Wat mengunjungin kantor Khae sambil membawakan sebuket bunga yang sangat indah. Namun setibanya disana, yang ada hanyalah seorang wanita yang bertugas bersih- bersih. Wanita itu memberitahu Wat bahwa kini Khae sedang berada dikamar mandi dan dia menawarkan diri untuk pergi memanggil Khae.

Lalu saat Wat ingin meletakan buket bunga yang dibawanya, tanpa sengaja dia menyenggol kotak putih di atas meja Khae. Sehingga kotak itu terjatuh dan isian di dalam kotak itu keluar. Dan ketika Wat melihat apa yang berada didalam kotak tersebut, dia tampak sangat terkejut.



Ketika Khae kembali ke dalam ruangannya. Dia melihat buket bunga yang Wat tinggalkan diatas menja kerjanya. Dan melihat itu, Khae tersenyum senang. Namun ketika Khae ingin mencium bunga itu, tiba- tiba saja dia merasa mual. Lalu tanpa sengaja, dia melihat kotak putih berserta isian nya berserakan di lantai.



Kemudian disaat itu, si Wanita tadi masuk ke dalam ruangan. Dan Khae pun menanyakan kepadanya, mengapa kotak putih tersebut bisa berada disini. Lalu si Wanita menjawab bahwa dia melihat kotak itu berada di tempat sampah dalam kondisi yang masih bagus, jadi dia mengambil dan meletakan nya kembali di atas meja.

Mendengar itu, Khae langsung menjatuhkan buket bunga yang dipegangnya. Dan mengambil tasnya. Lalu dia segera berjalan keluar untuk mencari Wat.



Diluar. Wat bersandar di tembok. Disana dia mengingat tentang foto- foto mesra Nai dan Khae dulu, yang dilihatnya tadi. Serta perkataan Khae yang mengajak Nai untuk kembali bersama, karena Khae masih mencintai Nai.

Lalu tepat disaat itu, Wat melihat Khae yang keluar dari dalam gedung. Dan melihat itu, Wat segera bersembunyi dibelakang dinding agar Khae tidak melihatnya.



Khae mendekati mobil hitam milik Wat dan memeriksa dalamnya. Namun Wat tidak ada disana. Dan dengan cemas, Khae pun menghubungin Wat. Tapi dengan sengaja, Wat mematikan telpon dari Khae serta mematikan hape nya juga, kemudian dia berjalan pergi dari sana.


Sementara Khae, dia melihat ke sekeliling dengan cemas. Mencari keberadaan Wat. Namun sayangnya, dia tidak bisa menemukan dimana Wat berada, karena Wat telah pergi.



Wat pergi ke apatermen Vi. Dan melihat kedatangannya, Vi merasa terkejut juga heran. Lalu saat Wat telah menceritakan semuanya, Vi pun mengomentari Wat.

“Orang aneh. Sebelum menikah, kamu bilang ‘tidak peduli’ dengan masa lalunya. Mhmm. Sekarang kamu serius dengan kenangannya? Orang yang berkencan, bagaimanapun pasti ada menyimpan beberapa barang,” kata Vi.

“Aku mengerti, tapi jika dia tidak memikirkan apapun, kemudian mengapa menyimpan itu?” balas Wat, bertanya.

“Bertanya seperti ini. Itu berarti kamu tidak mempercayai dia 100% kan?”



Setelah selesai membuat mie instant, Vi memberikan itu kepada Wat yang belum makan malam. Kemudian dia menjelaskan bahwa sebelum menikah Wat mengatakan kalau dia akan mempercayai Khae sepenuhnya, jadi setelah menikah, Wat harus bisa melakukan itu. Karena alasan Khae setuju mmenikah dengan Wat adalah karena perkataan Wat itu.

Namun Wat tidak bisa mengerti, karena dia telah mencurahkan banyak hal untuk Khae. Namun Khae malah masih menyimpan barang- barang seperti itu, bahkan setelah Khae menikah. Sehingga itu membuat semua yang dilakukannya tampak percuma.



“Dan mengapa kamu tidak bertanya saja pada dia? Mengapa kamu lari?” tanya Vi.

“Kamu terlalu berpihak padanya,” balas Wat.

“Jika aku dipihakmu, itu yang aneh. Hanya mendengarkan masalahmu sekarang saja sudah cukup aneh. Jenis orang seperti apa yang membawa masalah tentang Istri barunya dan mengkonsultasikannya dengan mantan Istri?” balas Vi.

“Apa yang bisa ku lakukan? Selama ini aku terus bekerja. Jadi orang terdekat yang kumiliki hanyalah mantan istriku,” balas Wat dengan lemas.

“Hohohoho… kemudian aku harus bahagia? Huh?”

“Jika kamu mengerti dia, maka beritahukan padaku apa yang harus aku lakukan selanjutnya.”

“Dengarkan. Berhenti memikirkan dirimu sendiri. Dan pergi bertanya padanya secara jujur. Bukakan kesempatan untuknya menjelaskan. Jelaskan semuanya sampai akhir. Bukan mengansumsi kannya sendiri, itu tidak benar,” balas Vi dengan tegas.

“Benarkah semua itu?”



“Yang pertama dilakukan. Katakan saja semuanya. Itu sangat sederhana.”

“Aku akan mencobanya. Tapi bisakah aku makan mie nya dulu sebelum aku pergi?” tanya Wat yang akhirnya sudah lebih tenang.

“Aku membuatnya untukmu,” balas Vi sambil menggelengkan kepalanya.



Pagi hari.  Nok dan Nai sarapan bersama. Disana Saeng menyediakan sarapan roti, ham, serta sosis untuk mereka. Namun Nok meminta Saeng menyediakan makanan seperti tempo hari, karena dia menyukai itu. Dan mendengar itu, Saeng tersenyum senang, karena ternyata Nok menyukai makanan mereka.



Kemudian saat Saeng dan anaknya pergi. Nok memainkan hape nya dan menanyakan kepada Nai, apa Wat ada menghubunginnya. Dan Nai pun menjawab tidak. Lalu Nok pun  berdiri memandangin keindahan pemandangan.



Diapatermen Vi. Nim yang baru keluar dari kamar sambil terbatuk- batuk, ketika dia melihat Wat yang sedang tiduran disofa, dia pun menjadi salah paham. Tepat disaat itu, Vi yang baru keluar dari kamar dan melihat itu, dengan segera dia menyangkalnya.



Vi menepuk pelan pundak Wat dan menyuruhnya untuk bangun. Kemudian dia menanyakan kenapa Wat bisa tidur di sofa, padahal Wat berjanji untuk segera pulang setelah makan mie. Namun Wat sendiri tidak tahu, kapan dia jatuh tertidur.

“Pergi sekarang. Pergi mandi. Dan berpakaian. Cuci mukamu. Bangun. Cepat. Cepat. Pergi, pergi, pergi,” kataVi sambil mendorong Wat yang mash mengantuk.


Melihat itu, Nim tersenyum dan bergumam bahwa Wat serta Vi tampak baik bersama- sama.



Setibanya di kantor. Khae melihat mobil Wat yang terpakir disana. Lalu dia pun menghubungin Phai untuk menanyakan apa Wat telah kembali. Namun sayangnya, Wat belum pulang.

Kemudian pas disaat itu, Khae melihat Wat turun dari dalam sebuah mobil hitam. Dan melihat itu, Khae tersenyum senang serta ingin segera mendekati Wat.



Tapi dia tidak jadi, ketika dia melihat bahwa Vi keluar dari dalam mobil yang sama. Khae tampak seperti tidak senang dan cemburu.



Setelah selesai sarapan. Saeng, Gam, dan Anak mereka mengunjungin tempat dimana Nai serta Nok menginap. Disana Saeng menanyakan kemana Nai dan Nok berencana pergi hari ini. Dan Nai pun menjawab bahwa mereka berpikiran untuk pergi ke kota, karena sejak mereka berdua tiba ditempat ini, mereka belum ada pergi keluar kemanapun.

“Mmm… bulan madu memang seperti ini. Beberapa pasangan bahkan tidak pernah keluar sama sekali. Apa kamu tahu itu?” kata Saeng sambil tersenyum nakal kepada mereka berdua.

“Tapi bukan pasangan kami pastinya,” balas Nok.

Gam pun menjelaskan bahwa alasan mereka berkunjung adalah karena hari ini anak mereka (La) berulang tahun, jadi mereka mau pergi ke berdoa. Maka dari itu, jika Nai dan Nok mau pergi ke tempat lain, maka dia akan mencarikan mobil lain.

Dan mendengar itu, Nai serta Nok pun saling bertatapan.



Akhirnya, Nok dan Nai memutuskan untuk ikut bersama Saeng, Gam, dan La untuk berdoa.

Bersama mereka berjalan menuju ke vihara. Dan sambil berjalan Gam menjelaskan mengenai vihara di tempat itu. Kemudian setelah tiba disana, mereka berdoa masing- masing. Lalu ketika telah selesai, Nok menggantungkan sebuah lentera kertas miliknya.



Lalu disaat itu, Nai mendekati Nok dan menaruh sebuah bunga putih di atas kepala Nok. Dan merasakan itu, Nok pun menanyakan dimana Nai mencabut bunga itu.

“Aku tidak mencabutnya. Aku melihat itu jatuh dari pohon, tapi itu masih cantik dan itu sesuai dengan pakaian mu juga,” jelas Nai.

“Selalu pada konsep. Didalam dunia ini tidak ada yang tidak dapat digunakan kembali bagimu, kan?” balas Nok. Dan Nai tersenyum, lalu dia mengajak Nok untuk berselfie, karena Ibu mereka ingin melihat foto mereka berdua.



Kemudian Nok pun mengeluarkan hape nya. Namun sebelum akan berfoto, Nok baru tersadar bahwa apa yang tampak dilayar hape nya kini adalah kontak Wat. Jadi menyadari itu, Nok pun beralasan bahwa dia tidak sengaja terpencet. Setelah itu barulah, dia mengambil foto selfie mereka berdua.



Diruang tunggu rumah sakit. Vi tersenyum melihat foto Nai serta Nok. Kemudian  Nim yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan, dia keluar dari ruangan periksa dengan wajah yang tampak seperti bimbang. Namun saat dia mendekati Vi, dia tersenyum seperti tidak ada masalah.

“P’Nim. Lihat ini,” kata Vi sambil menunjukan foto Nai dan Nok yang di dapatnya. Lalu melihat itu, Nim pun sangat senang sekali.



Setelah mengobrol sebentar, Vi baru teringat dengan hasil pemeriksaan Nim. Dan dia pun bertanya kepada Nim tentang hasilnya. Lalu dengan sedikit gugup, Nim menjawab bahwa hasil CT Scan nya masih belum keluar, namun dokter mengatakan bahwa dia baik- baik saja, hanya infeksi tenggorokan saja.

Dan mendengar itu, Vi pun tersenyum lega, karena ternyata Nim baik- baik saja.


Didalam tempat sampah yang berada di dekat dinding ruangan pemeriksaan. Disana tampak sebuah amplop coklat yang seperti sengaja dibuang. Sepertinya itu adalah hasil CT Scan milik Nim.

11 comments:

  1. Aduh lamaaaa bgt, tp trmksh udah lanjutin. Cepetan y

    ReplyDelete
  2. Sayang ga ada gambarnya tapi tetep seruuuuuu makasih yaaaa
    Ditunggu kelanjutannya
    Jangan terlalu lama yaπŸ˜ŠπŸ™

    ReplyDelete
  3. Makasih ya minπŸ™πŸ™πŸ™ di tunggu kelanjutannya πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

    ReplyDelete
  4. Mksh y mbk.. kalau bisa berikutnya pakai gambarr ya☺

    ReplyDelete
  5. Mksh y mbk.. kalau bisa berikutnya pakai gambarr ya☺

    ReplyDelete
  6. Makasih buat kelanjutan sinopsisnya

    ReplyDelete
  7. Semangat kak πŸ’ͺ ditunggu selalu sampai the end. Jangan kelamaan kak hehehe

    ReplyDelete
  8. Extra sabar nunggu klanjutan ceritanya...semangat min

    ReplyDelete
  9. Ahhh akhirnya penantian menghasilkan jawaban...
    Ayo lanjut trs semangat semangat

    ReplyDelete