Monday, December 24, 2018

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 04 – 1

11 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 04 – 1
Images : Channel 3
Peat bermain basket dengan penuh emosi, dia terus menerus melempar bola basket ke arah ring. Katha, Kris dan Chaya yang melihat dari pinggir lapangan jelas merasa heran dengan Peat yang beberapa hari ini mood nya tidak bagus. Dan jelas membuat mereka khawatir. Katha mengira kalau Chaya tahu apa yang terjadi, tapi Chaya ternyata tidak tahu juga.
“Kalau Chaya saja tidak tahu, siapa yang bisa tahu,” komentar Katha.
--
Kiew pulang bersama dengan Pa. Pa menyarankan agar Kiew beristirahat, karena dia merasa kalau Kiew kurang tidur dan lelah. Kiew tidak bisa, setiap kali dia pulang, dia pasti merindukan ibunya dan ketika pergi ke rumah sakit, dia hanya bisa menjenguk sebentar karena jam besuk yang terbatas.
“Bagaimana kalau begini? Aku akan menjenguk ibumu sore ini,” ujar Pa.
Kiew tersenyum dan berterimakasih pada perhatian Pa. Pa meminta Kiew untuk tidak terlalu sungkan padanya. Dia meminta Kiew untuk bersemangat agar dapat melawan Peat. Dan dia akan membantu untuk menghajar Peat.

Pas sekali mereka lewat di samping lapangan basket dimana Peat sedang bermain. Saat melihat Kiew, Peat langsung melempar bola basketnya ke pagar pembatas lapangan. Kiew dan Pa jelas kaget, tapi mereka memilih untuk mengabaikanna. Peat tidak menyerah, dia melempar berkali-kali agar Kiew merespon tindakannya, tapi Kiew sama sekali tidak peduli.
“Aku tahu apa yang membuat Peat seperti ini,” komentar Kris. “Ini menarik. Biasanya dia tidak pernah menaruh perhatian pada siapapun.”
Chaya cemburu mendengar komentar Kris. Dia menghampiri Peat dan dengan emosi bertanya, apa masalahmu dengan wanita itu?
“Tidak ada.”
“Tapi tindakanmu menujukkan ada.”
“Tinggalkan aku sendiri,” perintah Peat. Dia kemudian duduk sendirian di pinggir lapangan.
--

Khun Nai menjaga Khun Sa di rumah sakit. Dia tampak sangat cemas dan bahkan memohon agar Khun Sa segera sadar. Tiba-tiba saja, jari jemari Khun Sa sedikit bergerak dan kemudian dia membuka matanya. Khun Nai sangat senang melihat hal itu.
“Kiew!” itu kata pertama yang di ucapkan Khun Sa saat sadar.
--
Pa sangat kesal dengan kelakukan Peat tadi, dan dia terus mengomel sepanjang jalan mengenai hal itu. Dia bahkan masih sulit percaya kalau Kiew tinggal serumah dengan orang seperti Peat. Kiew memberitahu Pa kalau dia sudah menghindari Peat sejak ibunya masuk rumah sakit.
Kris ternyata mengejar mereka. Dia meminta waktu untuk bicara pada Kiew. Kiew menolak, tetapi Kris tidak menyerah. Pa yang jadi kesal dan memarahi Kris yang sudah di bilangin.
“Jika kau mau membicarakan mengenai temanmu (Peat). Aku tidak mau bicara,” tegas Kiew.
“Bukan. Aku mau bicara mengenai kerjaan. Tapi… kau punya masalah dengan temanku? Kau dan Peat, masalah apa yang kalian miliki?”
“Aku hanya akan membicarakan kerjaan. Jika mengenai pria itu, aku tidak mau bicara.”
Kris setuju. Dia hanya akan membicarakan kerjaan.
--
“Aku mempercayakan putriku padamu juga,” ujar Khun Sa dengan terbata-bata.
“Kiew adalah putriku. Aku akan menjaganya. Kau tidak perlu khawatir, okay,” ujar Khun Nai.
“Aku ingin memberitahu putriku… siapa ayahnya. Tapi, aku takut dia akan marah dan membenciku.”
“Kiew, tidak akan pernah membencimu, Khun Sa. Aku yang akan memberitahunya. Kau tahu, aku ingin memberitahunya hingga hatiku serasa sudah mau meledak. Aku ingin bilang kalau ayahnya masih hidup dan dia berdiri di sini sekarang. Berdiri tepat di sebelahnya,” ujar Khun Nai dengan berbinar.
“Aku minta maaf.”
“Ini bukan salahmu, Sa. Aku yang salah. Aku orang yang membuat dosa ini untukmu.”
“Ini… dosa… untuk kita berdua,” tangis Khun Sa dan kemudian nafasnya menjadi tidak stabil.
Khun Nai jelas panik dan berteriak memanggil dokter. Suster dan dokter segera datang dan meminta Khun Nai untuk menunggu di luar. Mereka juga menutup tirai jendela hinggan Khun Nai tidak bisa melihat ke dalam.
--
Pa dan Kiew mendengar tawaran pekerjaan yang di tawarkan oleh Kris. Dan Pa langsung menyarankan Kiew untuk menerima pekerjaan itu karena pekerjaannya menarik dan gajinya juga lumayan. Kiew masih merasa bimbang karena dia sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan segala hal yang terkait dengan Peat.
“Peat tidak pergi ke restoranku. Kalian tidak akan saling bertemu,” ujar Kris langsung.
“Aku tertarik dengan tawaranmu. Tapi aku merasa tidak nyaman.”
“Karena?”
“Karena…,” belum sempat Kiew menjawab, ponselnya berbunyi. Dari Khun Nai, dan mendengar apa yang di sampaikan Khun Nai membuat wajah Kiew langsung memucat.
Pa bertanya apa yang terjadi? Dan Kiew langsung menjelaskan kalau kondisi ibunya tidak baik dan dia harus segera ke rumah sakit sekarang. Pa langsung menawarkan diri untuk menemani. Kris yang mendengar apa yang terjadi pada ibu Kiew, menawarkan diri untuk mengantarkan mereka.

Peat masih duduk sendirian di pinggir lapangan. Chaya dan Katha mendekatinya. Pas sekali, Katha melihat Kiew yang tampak terburu-buru bersama dengan Pa dan Kris. Peat yang seolah mendapat firasat buruk, langsung pergi mengikuti mereka.
--
Dokter keluar usai memeriksa Khun Sa dan memberikan kabar buruk. Kondisi Khun Sa mendadak kritis. Kiew baru sampai dan bertanya bagaimana kondisi ibunya? Khun Nai dengan berat hati memberitahu kalau dokter meminta mereka untuk menyiapkan diri.
Kiew langsung menangis dan masuk ke kamar rawat ibunya. Peat juga baru tiba dan melihat hal itu.
“Pembunuh!” umpat Pa begitu melihat Peat.
“Hey, bisa kau jelaskan padaku apa yang terjadi?” tanya Kris penasaran.
Peat jelas mendengar umpatan Pa, tapi dia diam saja dan tidak membalas.
“Segalanya terjadi karena temanmu,” beritahu Pa.
Peat berdiri diam di depan pintu.

Khun Sa dalam kondisi kritis meminta Kiew untuk tinggal bersama dengan Khun Nai. Kiew jelas menangis dan memohon agar ibunya tidak meninggalkannya sendirian. Peat tampak bersalah melihat hal tersebut.
“Aku tidak bisa bersamamu lebih lama lagi. Mulai dari sekarang, paman Nai akan menjaga dan merawatmu, dear. Janji padaku kalau kau akan menyanyangi dan menghormati pamanmu seperti ayahmu sendiri. Kau harus tinggal dengan paman Nai, dear. Dapatkah kau berjanji?”
Dan dengan menangis Kiew berjanji akan mengikuti perkataan ibunya. Khun Sa meminta pada Khun Nai untuk menjaga putrinya, dan Khun Nai menyanggupinya.
“Aku menyanyangimu, putriku,” ujar Khun Sa.
“Aku juga menyanyangi ibu,” tangis Kiew.
“Aku mencintaimu, Sa,” ujar Khun Nai.
Melihat itu, membuat Peat teringat saat ibunya juga dalam kondisi kritis dan mencari ayahnya, tetapi ayahnya tidak juga tiba. Dan saat ibunya mengucapkan rasa sayangnya padanya, dan sebelum dia sempat membalasnya, ibunya sudah pergi untuk selamanya.
Khun Sa dengan di kelilingi oleh orang-orang yang mencintainya, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Kiew sontak menangis menjerit di tinggal oleh ibunya. Kris dan Pa melihat dari depan pintu dengan prihatin. Kiew berbalik dan melihat Peat (mata Peat juga berkaca-kaca, lho). Peat langsung berbalik pergi, dan Kris mengejarnya. Kiew juga mengejarnya dan di ikuti oleh Peat.
“Nai Peat! Berhenti!” teriak Kiew. “Ibuku meninggal karena kau! Jika kau tidak ada, ibuku tidak akan meninggal seperti ini! Ibuku akan terus hidup dan melihatku wisuda. Ibuku akan melihatku lulus. Dan dia akan hidup lebih lama dari sekarang. Kau pembunuh! Pembunuh! Pembunuh! Nai Peat, pembunuh! Kenapa kau seperti ini?!” tangis Kiew dan terus memukuli tubuh Peat.

Peat hanya diam dan menerima semua pukulan tersebut. Tangannya terangkat, hendak memeluk Kiew. Tapi, dia sadar, dia lah penyebab tangis Kiew, dan karna itu, dia hanya berdiri diam dan membiarkan Kiew terus memukulinya. Rasa bersalah merayapi hatinya.
Dan setelah pukulan Kiew terhenti. Peat dengan menahan air matanya, pergi dari sana. Pa langsung menghampiri Kiew dan memeluknya.
Khun Nai menatap wajah Khun Sa terakhir kalinya dan teringat semua kenangan manis mereka. Dia mencium kening Khun Sa dengan penuh kasih.
--
Peat pergi ke patung Malaikat (sepertinya itu adalah kuburan ibunya Peat). Dia meluapkan perasaannya di sana.
“Aku tidak bermaksud. Ibu, kau mengerti aku kan?” ujar Peat dengan jujur.
Dia menyesali yang terjadi pada Khun Sa.

11 comments:

  1. masa kies sama peat seayah?? OMG :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku ngerasa mungkin peat bukan anak khun nai
      Inget waktu pembantunya bilang kalau khun nai dulu tidak sekamar dengan ibu peat

      Delete
  2. Mksih sinopx mbak.... Mbak kalau mau download lakorn yg sub indo di mana ya??? Maksih mbak

    ReplyDelete
  3. Mksh sinopsisnya...lanjut terus sampai terakhir.
    Kalo bisa tiap hari update.

    ReplyDelete
  4. Ahir nya hari ini datang juga...makasih zaa sll sehat...

    ReplyDelete
  5. Duuuhh nunggunya lamaaaa... akhirnya lanjut jgak... Makasih ya min...semangaat jng lama2 lnjutannya

    ReplyDelete
  6. Mau nanya min, dimana download drama ini?

    ReplyDelete
  7. Klo mau liat film nya yg sub indo dimana yak. Please yg tau infonya

    ReplyDelete