Monday, December 24, 2018

Sinopsis Lakorn : Khun Chai Puttipat Episode 2 - part 1

1 comments



Khun Chai Puttipat (2013) Episode 2 - Part 1

Network : Channel 3


Dirumah sakit. Tiga orang perawat sedang memainkan permainan Miss Kecantikan, dan melihat itu Chai Pat langsung mengomentari mereka, sudah bagus bisa menjadi perawat, tapi mereka malah ingin menjadi Miss Kecantikan.

“Miss Kencantikan bisa berpakaian cantik, mendapat banyak uang, dan populer di kota,” jelas si Perawat.

“Wanita yang mengenakan pakaian terbuka, menunjukan tubuh mereka untuk mendapatkan penonton, dan kritik. Apa bagus nya?” balas Chai Pat dengan serius.



Yodsawin dengan segera langsung menengahi mereka dan menyuruh para perawat itu untuk kembali bekerja. Kemudian dia menasehati Chai Pat agar tidak terlalu pesimis begitu, karena banyak kota yang mengadakan kontes ini, dan ini hal yang menarik di dunia.

“Yodsawin. Pikirkan tentang pakaian yang kamu kenakan sebelum kamu bicara,” kata Chai Pat dengan serius. Menurutnya tugas seorang perawat adalah untuk menyelamatkan nyawa pasien dan merawat mereka. Dan Perawat lebih berguna daripada Miss Kecantikan.



Marathee bertepuk tangan, dan mengatakan bahwa dia setuju dengan Chai Pat. Lalu dengan sikap berlagak baik, dia menasehati para perawat yang lain bahwa apa yang Chai Pat katakan benar, pekerjaan perawat lebih baik daripada Kontes Miss Kecantikan.

Kemudian sambil memegang tangan Chai Pat. Marathee memuji dirinya sendiri, dia mengatakan bahwa seorang perawat seputih malaikat yang bekerja dengan seorang dokter adalah pasangan yang cocok. “Benarkan, P’ Chai Pat?”


Chai Pat melepaskan tangan Marathee yang memegangnya, lalu tanpa menjawab, Chai Pat berjalan pergi. Dan Yodsawin pun mendekati Marathee, “Seputih malaikat?” sindirnya sambil tersenyum.



Keempat saudara Chai Pat, mereka mengintip Chai Pat yang sedang sangat serius sekali bekerja diruang membaca. Dan kemudian sebagai alasan untuk bisa masuk ke dalam, Chai Ruj membawa kan teh untuk Chai Pat.


Lalu setelah itu, Chai Pee masuk ke dalam dan mengajak Chai Ruj berbicara. “P’Chai Ruj! P’Chai Ruj! Sabtu depan, bisakah kamu menemanin ku untuk melihat Kontes Kecantikan?”

“Sabtu depan kah, Chai Pee?” tanya Chai Ruj sambil melirik ke arah Chai Pat yang masih fokus bekerja. “Aku… aku tidak bisa pergi. Aku.. aku punya janji dengan Rasa,” jawab Chai Ruj dengan nada keras, sengaja agar Chai Pat dengar.



Namun walaupun Chai Ruj dan Chai Pee telah sengaja berbicara dengan keras, tapi Chai Pat tetap sibuk mengerjakan tugasnya. Dan mereka berdua pun kehabisan akal harus gimana lagi. Lalu Chai Pee pun menjentikan jarinya sebagai tanda agar yang lain masuk.


Chai Yai yang menyadari itu masuk dan ikut mengobrol bersama mereka. Dengan sengaja, Chai Pee bertanya dengan nada keras kepada Chai Yai, apa bisa sabtu depan Chai Yai menemanin nya untuk melihat acara Kontes Miss Kecantikan, karena dia tidak ingin pergi sendirian.

Dan dengan gugup, Chai Yai terbatuk kecil, lalu sambil melirik ke arah Chai Pat, Chai Pee memberikan tanda agar Chai Yai segera menjawab.

“Aku… aku sibuk. Aku punya janji. Mengapa kamu tidak mengajak Chai Lek?” jawab Chai Yai sambil membaca jawaban yang telah tertulis di tangannya.



Chai Lek pun masuk dan berkata dengan keras bahwa dia ingin pergi, dia ingin pergi, tapi sayang nya tidak bisa. “Aku dengar disana banyak gadis cantik. Tapi aku… harus… pergi ke kota sebelah Kamis ini. Oh, sayangnya!” kata Chai Lek sambil melirik ke arah Chai Pat.

Tapi Chai Pat sama sekali tidak tampak tertarik atau bereaksi mendengar pembicaraan mereka. Sehingga mereka pun menjadi kebingungan. Lalu secara persamaan mereka mengatakan dengan sangat keras.

“Mengapa kamu tidak mengajak Chai Pat?!!”

“Oh. Itu benar!!” kata Chai Pee dengan semangat.



Chai Pee lalu mendekati meja Chai Pat. Dia mengajak Chai Pat untuk tolong pergi bersama nya. Dan sebelum Chai Pat sempat menolak, Chai Pee langsung menjelaskan bahwa dia tahu kalau Chai Pat free sabtu ini, jadi Chai Pat harus menemaninnya. Kecuali jika Chai Pat tidak merasa kasihan padanya.

“Aku tidak punya siapapun. Aku merasa seperti aku sendirian di dunia ini,” kata Chai Pee dengan wajah yang dibuat tampak memelas.

“Maaf, Chai Pee. Pergi dan ajak teman mu saja. Aku tidak tertarik kontes semacam in,” balas Chai Pat.


“Kamu kejam. P’Chai Pat begitu kejam! Aku punya saudara tapi aku merasa seperti tidak punya saudara. Aku benar- benar merasa kecewa padamu! Kita saudara, tapi itu tidak artinya untuk mu? Apa aku perlu meminta temanku? Dikatakan bahwa darah lebih kental daripada air!” kata Chai Pee dengan suara besar. Dia sengaja mengeluh dan mengambek, agar Chai Pat mau ikut dengan nya.

“Tunggu! Apa kamu baik- baik saja, Chai Pee? Ini bukanlah masalah besar,” balas Chai Pat. Tetap tidak mau ikut.



Chai Pee lalu memberikan kode dengan matanya kepada ketiga saudaranya. Dan menyadari itu, Chai Yai berdiri. “Chai Pee. Aku pikir Chai Pat memikirkan perasaan Marathee,” kata Chai Yai menasehati Chai Pee sambil memandang ke arah Chai Pat.

“Itu benar. Seorang dokter dijodohkan dengan seorang perawat. Kamu tidak di perbolehkan melihat wanita lain, kan?” tambah Chai Ruj yang ikut berpura- pura setuju dengan Chai Pat.

“Oh. Itu benar. P’Chai Pat takut Marathee akan marah. Mereka saling mencintai” tambah Chai Lek juga.


Cara itu berhasil. Chai Pat menyangkal dengan keras. Dia bukanlah tunangan Marathee. Dia tidak mencintai ataupun memiliki perasaan untuk Marathee. Dan Chai Pee menanyakan, kalau begitu, kenapa Chai Pat tidak berani ikut melihat Kontes Kencantikan bersama dengannya.

“Mengapa aku tidak bisa melakukan itu? Okay. Aku akan ikut denganmu!! Puas?” kata Chai Pat yang terpancing dengan akting mereka semua.


“PUAS !! YAY !!!” teriak mereka berempat secara bersamaan, lalu mereka segera keluar dari ruangan membaca itu. Sementara itu, Chai Pat menjadi kebingungan sendiri.


Diberanda. Keaw memikirkan tentang Ayahnya, dan tentang uang celengan yang telah dikumpulkannya, serta tentang tawaran Guru Boot agar dia mengikuti Kontes Kecantikan itu. Sehingga dengan begitu, dia bisa membawa Ayah nya ke Bangkok.

Ayah datang dan memanggil Keaw. Dia mengatakan bila Keaw tidak mau, maka jangan lakukan itu. Dan Keaw menlap air matanya, lalu berbalik menghadap Ayah nya.



“Aku tidak bisa seperti itu, yah. Aku telah berjanji kepada Guru Boot. Dan Guru Boot telah memberitahu temannya untuk menjagaku,” jelas Keaw.

“Tapi kamu tidak perlu memaksa dirimu sendiri. Dan kamu harus mengenakan pakaian yang terbuka,” balas Ayah.

“Tapi aku memerlukan uang.”

“Aku memberikanmu kesulitan.”

Keaw mendekati Ayah dan menjelaskan bahwa dia tidak merasa kesulitan, karena dia bisa pergi ke Bangkok serta mengenakan pakaian yang cantik, jadi itu pasti akan menyenangkan. Tapi Ayah merasa khawatir.



“Ayah, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Ingorn adalah pemilik dari Ingorn Tailor Shop. Dia yang akan mengurus segalanya untukku. Contohnya, akomodasi, makanan, pakaian, dan dia akan mengajarkan ku banyak hal,” jelas Keaw.

“Dia akan membantu mu, tapi apa dia tidak menginginkan apapun?” tanya Ayah.

“Tidak, yah. Aku akan membantu dia. Tidak peduli apa yang diperintahkannya, aku akan melakukan segalanya. Jika aku meraih juara satu, aku akan memberitahu orang bahwa aku mengenakan pakaian dari tokonya. Jadi orang akan berbelanja ditokonya,” jelas Keaw.


Ayah ragu apa Ingorn bisa dipercayai. Dan dengan yakin, Keaw mengatakan bisa, karena Ingorn adalah teman baik dari Guru Boot. Tapi Ayah tetap saja ragu, karena menurutnya walau situasi mereka sedang buruk, tapi ini bukan caranya.

“Ayah. Aku tidak bisa menyerah. Aku akan melakukan yang terbaik. Aku akan mencoba untuk meraih peringkat pertama. Jadi, kamu akan bisa di operasi dan sakit di kepala mu akan menghilang,” jelas Keaw. Lalu dia menyadarkan kepalanya di bahu Ayah.


Keesokan harinya. Keaw berangkat ke kota Bangkok. Dia menaiki kereta, lalu menaiki bus, dan becak. Dia mengikuti semua petunjuk yang tertulis di kertas yang dimilki nya. Dan sesampainya dia didepan rumah Ingorn, karena perjalanan yang sangat panjang, Keaw tiba- tiba merasa pusing dan  pingsan.



Didalam rumah. Saat Keaw mulai sedikit tersadar, dia melihat banyak wanita yang mengelilinginnya. Dua orang wanita memuji diri Keaw, mereka mengatakan bahwa Keaw memiliki mata cantik serta kulit yang indah. Sementara seorang wanita yang lain, dia menghina Keaw, dia mengatakan bahwa Keaw merupakan gadis penyakitan, jadi tidak layak untuk berjalan diatas panggung Kontes.



“Apa kamu baik- baik saja? Apa kamu lapar? Minumlah dulu ya,” kata seorang wanita penjaga rumah yang membuka kan pintu gerbang untuk Keaw tadi.

Keaw bangkit dan duduk, lalu dia meminum air yang diberikan kepadanya. Dan tepat disaat itu, Ingorn pulang.

Ingorn begitu senang saat melihat Keaw, tapi saat melihat betapa pucatnya Keaw, dia langsung menanyakan apa Keaw sedang sakit. “Jangan sakit. Hanya ada sisa beberapa hari lagi. Jangan sakit ya! Jangan sampai terluka! Jika tidak, Ingorn Tailor Shop ku akan terkena masalah besar,” kata Ingorn dengan cemas.

“Aku baik- baik saja. Cuma mabuk kendaraan saja,” kata Keaw dengan lemas.


Wanita yang menghina tadi, dia kembali menghina Keaw ketika mengetahui bahwa Keaw mabuk kendaraan. Dan wanita si penjaga rumah menanyakan, apa Keaw begitu karena lapar. Lalu sambil memegang perutnya, Keaw membenarkan bahwa dia belum ada makan sejak tadi pagi.


Sambil berjalan, Marathee terus mengandeng tangan Chai Pat. Dan karena merasa tidak nyaman, Chai Pat pun melepaskan tangan Marathee yang memegangnya. Kemudian Chai Pat menasehati Marathee bahwa sebagai orang yang digaji untuk melayanin, Marathee harus memiliki kontrol diri dan sikap yang baik. Dan Yodsawin tertawa mendengar itu.

“P’Chai Pat. Kamu bagus dalam mengomel ya. Kamu terlihat seperti Pria tua,” kata Marathee sambil tersenyum manja.

“Aku mengajarimu. Karena aku ingin kamu menjadi orang yang baik dan orang lain menghormati kamu,” balas Chai Pat dengan serius.



“Aku suka mendengar omelan mu. Aku tidak capek sama sekali. Oh ya, P’Chai Pat, ini kan sudah siang, bisakah aku menumpang mobilmu? Tolong antarkan aku ke tempat Taewaporm. Ayahku bilang dia punya sesuatu yang ingin di konsul kan dengan mu,” kata Marathee sambil memegang tangan Chai Pat.

“Aku akan menelpon dia. Aku tidak bisa mengantar mu hari ini. Maaf. Aku buru- buru,” balas Chai Pat, kemudian dia melepaskan tangan Marathee dan berjalan pergi.



Setelah Chai Pat pergi. Marathee menanyai dengan sinis, mengapa Yodsawin tertawa. Dan Yodsawin beralasan bahwa dia melihat kupu- kupu terbang tadi, jadi dia tertawa. Lalu dengan kebingungan, Marathee bertanya apa lucunya.

“Biasanya kupu- kupu akan melarikan diri, jika kita mengejar mereka. Tapi jika kita berdiam diri, maka kupu- kupu yang akan datang ke kita dengan sendirinya. Itu begitu lucu!” jelas Yodsawin sambil tersenyum, lalu pergi.



Marathee mengikuti Yodsawin dan membalas perkataan Yodsawin tadi padanya. “Kupu- kupu tidak akan bisa melarikan diri dari kita. Jika kita menguncinya di bingkai,” kata Marathee.

“Tapi itu adalah kupu- kupu mati,” balas Yodsawin.

“Aku tidak peduli, jika kupu- kupunya mati! Aku hanya ingin menjadi pemiliknya.”

“Jadi, kamu tidak mencintai kupu- kupu itu. Jika kamu mencintainya, kamu akan membiarkan kupu-kupu itu hidup dan lepas. Tapi kamu malah ingin membunuh kupu- kupu itu.”



Marathee menjadi kesal. Dan dengan tenang Yodsawin menjelaskan bahwa dia mencintai alam, jadi peraturan yang menentang hukum alam, itu tidak cantik. Tapi Marathee tetap pada pendiriannya, dia tidak peduli, asalkan dia tetap cantik dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan Yodsawin tersenyum mendengar itu.



Keaw melakukan pengukuran tubuh, pemeriksaan gigi, tangan serta kaki, kuku, dan rambut. Dan semuanya sangat sempurna. Mengetahui itu, Ingorn tersenyum puas.



Malam hari. Ingorn menyuruh agar Keaw tidur bersama dengan wanita yang menghina tadi (Wanita itu adalah anak Ingorn, namanyan Nun).

“Apa kamu ingin gadis kampungan ini tinggal denganku?” teriak Nun, menolak.

“Nun. Kamu punya tempat tidur besar. Keaw akan tinggal dengan kita selama beberapa hari,” balas Ingorn. Tapi Nun tetap tidak mau membiarkan Keaw tinggal sekamar dengannya.

Nun mengatakan mengapa Ingorn tidak menyuruh Keaw tidur di kamar Mali (penjaga rumah). Dan Ingorn memarahi Nun, karena Keaw akan mengikuti Kontes kecantikan menwakili toko mereka, jadi mana mungkin Keaw tidur dikamar pelayan. Tapi Nun tidak peduli.


“Khun Ingorn. Aku bisa tidur dimanapun. Aku sudah senang, aku bisa punya tempat tinggal. Kamu juga bisa meminta ku melakukan pekerjaan rumah. Aku ingin membantu mu,” jelas Keaw menengahi mereka.

“Benarkah? Itu bagus. Pergi dan setrika kan bajuku,” balas Nun dengan senang.

Ingorn langsung memarahi Nun, dan menjelaskan kepada Keaw bahwa Keaw tidak boleh melakukan itu, karena sekarang Keaw adalah tamu di rumah ini. Jadi Keaw tidak perlu melakukan apapun. Yang perlu Keaw lakukan adalah mengikuti Kontes Kencantikan itu.




“Nun!! Bawa Keaw ke kamar. Jangan keras kepala. Lakukan apa yang ku katakan,” kata Ingorn dengan tegas. Dan Nun memandang Keaw dengan marah. Sementara Keaw sendiri, dia tampak tidak enak hati karena telah menyusahkan.

1 comment: