Tuesday, December 25, 2018

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 04 – 2

11 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 04 – 2
Images : Channel 3
Kris menemui Katha dan Chaya. Dia menjelaskan yang terjadi antara Peat dan Kiew. Tapi, Chaya malah beranggapan kalau Peat tidak salah, karena orang yang sudah sakit pada akhirnya tetap akan mati. Jadi, tidak bisa menyalahkan Peat.
“Tapi, apa yang Peat lakukan, membuat kondisinya semakin buruk. Bagaimanapun Peat salah!” tegas Kris.
“Kris, kau harus memihak temanmu,” tuntut Chaya.
“Aku melihat berdasarkan fakta. Jika salah, aku akan bilang salah. Jika benar, akan kubilang benar. Jika Peat tidak mengganggu Kiew awalnya, hal ini tidak akan terjadi. Chaya, kau harus memperingati Peat. Tapi, entah dia akan mendengarmu atau tidak.”
Chaya tetap berkeras kalau Peat tidak salah. Kris malas berdebat dengan Chaya, karena dia tahu, dimanat Chaya, Peat selalu benar. Katha kesal melihat mereka yang saling adu argumen dan bukannya mencemaskan Peat. Katha merasa kalau sekarang Peat pasti sudah menggila.
--
Khun Nai menanti kepulangan Peat hingga tengah malam. Saat Peat pulang, dia langsung memarahi Peat karena pulang larut, padahal dia sudah menyuruh Tee untuk memberitahu Peat mengenai pemakaman Khun Sa. Kenapa Peat tidak datang?
Peat tidak mau menjawab dan memilih untuk masuk ke kamarnya.
“Kau masih tidak menyesal?” hentikan Khun Nai. “Kau yang membuat Khun Sa meninggal.”
“Siapa yang tahu kalau akan jadi seperti ini. Aku juga tidak ingin terjadi hal ini.”
“Kau tidak berpikir sebelum bertindak! Ketika hal ini terjadi, kau bisa bertanggung jawab? Ini hidup orang.”
“Apapun yang kau pikirkan, terserah! Walau kau memarahiku, menamparku hingga mati, selingkuhanmu itu tidak akan bangkit kembali.”
“Kenapa kau sangat jahat seperti ini, Peat?!”
“Aku jahat sepertimu!”
Dan Plak!!! Khun Nai menampar Peat dengan keras. Dia memaki Peat sebagai putra durhaka.
“Ketika ibu meninggal, kau berada di ruang rapat. Tapi dengan selingkuhanmu, kau berada di dekat tempat tidurnya hingga nafas terakhirnya! Aku harus memanggilmu apa? Punya ayah sepertimu, lebih baik aku tidak punya!”
Khun Nai yang juga dalam keadaan emosi, malah mengusir Peat dari rumah dan tidak boleh kembali hingga Peat dapat sadar akan kesalahannya. Dan juga, Peat bisa berhenti memanggilnya ‘ayah’, dia akan menganggap tidak pernah punya anak seperti Peat.
“Baik. Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Terlebih jika anak perselingkuhanmu masih ada di sini!” tegas Peat. “Bahkan jika kau meninggal, aku juga tidak akan pergi ke pemakamanmu!”
Kiew melihat pertengkaran Peat dan ayahnya dari atas tangga. Peat sendiri langsung pergi begitu saja dari rumah. Khun Nai benar-benar emosi melihat kelakukan dan ucapan Peat padanya!
Di depan rumah, Peat melihat ke belakang sekali lagi. Tapi, ayahnya sama sekali tidak mengejarnya.

Flashback
Saat ibunya sudah meninggal, Khun Nai baru tiba. Dia menepuk pundak Peat untuk menenangkannya. Tapi, Peat malah marah karena Khun Nai baru tiba saat ibunya sudah pergi. Di tambah lagi, Khun Nai malah beralasan kalau tadi dia ada rapat.
“Ibu selalu bilang padaku kalau ayah tidak mencintainya, tapi aku tidak pernah menyangka kalau ayah akan sekejam ini pada ibu.”
“Aku minta maaf, Peat!”
“Untuk apa minta maaf?! Semuanya sudah terlambat!”
End

Peat menangis mengingat hal itu. Dan dengan menguatkan hatinya, dia pergi dari rumah.
Pas sekali, Chaya menelponnya. Setelah berpikir sesaat, Peat mengangkat telepon Chaya. Dan Chaya langsung menanyakan keadaannya dan bahkan menawarkan diri untuk menjemput Peat.
“Mmm,” jawab Peat.
“Tunggu sebentar, ya.”

Chaya langsung pamit pada Katha dan Kris untuk pergi menjemput Peat. Katha mau ikut tapi Chaya tidak mengizinkannya. Akhirnya, Katha tidak memaksa dan hanya meminta Chaya memberitahu Peat kalau dia khawatir.
--

Kiew masuk ke dalam kamarnya. Dia membereskan semua baju-bajunya. Taeng yang masuk ke kamar Kiew untuk mengantarkan makanan, tentu kaget melihat Kiew yang berberes. Di tambah lagi Kiew bilang akan pergi dari sini dan belum memberitahu Khun Nai mengenai niatnya itu.
Taeng segera berlari ke lantai bawah untuk melaporkan hal itu pada Khun Nai.
Khun Nai langsung naik ke atas dan bertanya apa yang Kiew lakukan?
“Aku mau pergi dari sini. Ibuku sudah tidak ada, aku tidak tahu alasanku untuk tetap di rumah ini.”
“Kau harus tinggal denganku.”
“Aku tidak mau.”
Taeng langsung merebut koper Kiew. Dia meminta Kiew untuk mendengarkan perkataan Khun Nai sendiri sebelum memutuskan pergi. Khun Nai meminta Kiew untuk jujur, apa alasan Kiew tidak mau tinggal?
“Aku tidak mau tinggal dan membiarkan dia (Peat) menghina ku lagi.”
“Tidak akan. Aku tidak akan membiarkannya. Jika kau tidak ingin melihatnya, aku akan membiarkanmu tinggal di kamar lain yang terletak di bagian berbeda rumah ini.”
“Tapi paman, kau tidak ingin dia kembali? Jika aku pergi, dia akan pulang.”
Khun Nai terdiam. Dia menarik nafas dalam. “Kiew, kau sudah berjanji pada ibumu, bukan? Kalau kau akan tinggal denganku. Dapatkah aku menagih janji itu darimu?”
Kiew terdiam.
--
Peat menunggu Chaya di lapangan. Dan begitu tiba, Chaya langsung memegang pundak Peat. Tanpa menunggu Chaya bertanya, Peat langsung memberitahu kalau ayahnya mengusirnya dari rumah. Mereka bertengkar.
“Lalu, dimana kau akan tidur malam ini?”
“Mungkin hotel. Dan kemudian baru mencari tempat baru,” jawab Peat.
“Malam ini, kenapa kau tidak tinggal di condo yang ayahku belikan? Dan besok, baru kita pikirkan langkah selanjutnya.”
Peat memikirkan tawaran Chaya dan setuju. Chaya berusaha menenangkan Peat dengan berkata kalau besok Khun Nai pasti sudah tidak marah lagi. Peat merasa itu tidak mungkin karena ini adalah pertama kalinya ayahnya mengusirnya dari rumah. Sekarang, dia sudah tidak punya siapapun lagi.
“Peat, kau masih ada aku. Aku akan selalu ada di sisimu. Aku tidak akan meninggalkanmu,” ujar Chaya.
--

Esok hari,
Kiew pergi ke makam Khun Sa. Dia melihat foto Khun Sa dan memeluknya sambil menangis sedih. Masih berat baginya melepaskan kepergian ibunya. Dan diam-diam, Peat ke sana juga dan melihat hal tersebut.
Dia hendak menghampiri Kiew, namun dia kalah cepat. Ayahnya terlebih dahulu menghampiri Kiew dan memeluknya. Melihat hal itu, timbul kembali rasa marah dan cemburu di hati Peat.
--
Peat kembali ke rumah saat rumah dalam keadaan kosong. Dia membereskan barang-barangnya dan membawanya. Termasuk kalung hadiah Khun Nai (ternyata waktu itu dia pungut lagi) dan sapu tangan Kiew (yang waktu itu dia buang ke tong sampah, ternyata di ambil lagi).


Saat dia mau pergi, dia melihat kepulangan Kiew dan Khun Nai beserta Tee dan Taeng. Peat langsung bersembunyi. Taeng membantu Kiew ke kamar. Sementara itu, Tee bertanya pada Khun Nai, apa dia harus mencari Peat?
“Tidak perlu!”
“Khun Nai, bukankah kau khawatir pada Khun Peat?”
“Jika dia sudah kehabisan uang, dia akan balik sendiri! Orang sepertinya, tidak akan bisa tahan,” ujar Khun Nai meremehkan Peat. Peat jelas kecewa mendengarnya.
“Dia putra Anda. Aku rasa, Anda harus mencarinya.”
“Dia yang bilang kalau bahkan jika aku mati, dia tidak akan kembali. Apa kau masih mau mencarinya dan membawanya kembali?”
Tee tidak tahu harus berkata apa. Dia merasa kalau mungkin bukan itu yang hendak di katakan Peat, tapi Khun Nai tidak peduli. Baginya Peat terlalu sombong, jadi dia mau lihat sejauh apa Peat bisa bertahan.
Peat benar-benar terluka mendengar ayahnya tidak mau mencarinya.
--
Peat sudah kembali ke condo. Chaya datang dan memberikan makanan untuk Peat serta pelajaran kuliah tadi. Dia juga memberitahu Peat kalau dia sudah meminta izin pada dosen kalau hari ini Peat sakit. Tapi, Peat malah tidak mau belajar lagi.
“Kenapa? Kau bertengkar lagi dengan ayahmu?”
“Aku belajar dengan giat karena aku ingin mewarisi bisnis ayahku. Tapi sekarang, aku mungkin tidak harus melakukannya lagi. Terus belajar hanya akan membuatku letih sia-sia saja!”
“Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Kenapa tidak mempelajari hal lain?”   
“Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku hanya ingin pergi ke tempat yang sangat jauh!”
Mendengar perkataan Peat yang ingin pergi ke tempat jauh, membuat senyum Chaya tersungging. Peat bisa pergi kemana saja, mau keluar kota ataupun keluar negeri, terserah, dan dia akan terus ikut dengan Peat.
“Luar negeri?” gumam Peat mendengar perkataan Chaya tersebut.
--
Khun Nai walau tampak tidak peduli pada Peat, tapi sebenarnya dia merasa sedih dengan perkataan Peat kemarin padanya. Dia juga khawatir pada Peat. Dia kemudian memutuskan untuk ke kamar Peat, dan betapa terkejutnya dia saat melihat kalau barang-barang Peat sudah tidak ada. Lemari pakaiannya juga kosong.
Khun Nai langsung panik dan menelpon Tee. Dia segera menurunkan perintah untuk mencari Peat.
--
Peat meminta Chaya memberinya waktu untuk berpikir karena masih ada sedikit masalah yang masih dia cari jawabannya.
“Masalah apa?” tanya Chaya sedikit kesal.
“Bukan masalah penting, tapi aku ingin tahu.”
Dan untuk mengalihkan Peat melihat kotak makan yang Chaya bawakan. Chaya tahu kalau Peat tidak mau memberitahunya, jadi dia tidak memaksa.
--

Tee menemui Kris dan Katha. Dia menanyakan keberadaan Peat, tapi mereka berbohong tidak tahu karena Peat sudah tidak masuk kuliah beberapa hari ini. Kris berjanji pada Tee kalau dia akan memberitahu kalau Peat sudah menghubungi mereka. Tee mengerti dan pamit pergi.
“Kenapa kau tidak bilang Peat bersama Chaya?” tanya Katha bingung. 
Flashback
Ternyata saat Chaya pergi menjemput Peat kemarin malam, Kris dan Katha diam-diam membuntutinya.
End
“Jika ayahnya mencarinya, kau pikir dia akan pulang?” tanya Kris.
“Tidak.”
“Biarkan saja dia sendiri dulu. Jika dia ingin pulang, dia akan pulang sendiri.”
Dan Kris langsung pergi. Katha bingung tapi ikut keputusan Kris saja.
--
Peat berdiri di dekat jendela dan melihat hadiah kalung ulang tahunnya itu. Dia ingat saat Khun Nai memberikannya hadiah itu dan ternyata sama seperti Kiew. Dia juga ingat saat Khun Nai bilang dia akan kembali ketika sudah kehabisan uang, jadi tidak usah di cari.
Peat sangat marah. Dia membuka jendela dan hendak membuang kalung tersebut. Namun, dia tidak bisa. Dan karena itu, dia menjerit frustasi.
--
Khun Nai berada di ruang kerjanya dan melihat fotonya semasa muda dengan Khun Sa.
Flashback
“Aku sangat mencintaimu,” ujar Khun Nai. “Maukah kau menikah denganku?”
Khun Sa sangat senang mendapatkan lamaran itu, dan setuju untuk menikah dengan Khun Nai. Khun Nai langsung menyematkan cincin di jari Khun Sa.
Setelah itu,
“Ayah ingin aku menikah dengan Panee. Jika aku tidak setuju, ayah akan menyakiti Sa,” curhat Khun Nai pada seorang pria.
“Kalau seperti itu, apa yang akan Anda lakukan?” tanya pria itu.
Setelah itu,
Khun Nai mengenakan jas, pergi ke rumah Sa. Dia mengetuk pintu dan memanggil Sa, tetapi Khun Sa tidak membukakan pintu. Khun Nai terus memohon, tapi Khun Sa tidak membukakan pintu sama sekali.
End
“Pada akhirnya, aku juga harus membiarkanmu pergi. Aku minta maaf. Karena membuat kekacauan di hidupmu,” sesal Khun Nai.
Dia kemudian melihat fotonya bersama Peat, “Aku tidak rela kehilanganmu, Peat.”  
BERSAMBUNG


11 comments: